Skip to main content

Satu Malam di Puri Bunda

‘Aku diusir… oleh Perawat…’ celetuk istri sesaat setelah keluar dari ruang Resti, Intensif di RS Puri Bunda jumat malam tadi.

Ha ? Memangnya kenapa ? ‘Kelamaan didalam mungkin…’ jawabnya sambil tersenyum. He… ya pantes saja lah. Wong ruangan Intensif begitu…

Tapi ya wajar juga kalo kita yang namanya orangtua bakalan kangen begitu jenguk anak meski berada di ruangan Intensif sekalipun. Apalagi ini yang sejak lahir belum sempat ditimang.

Saya sendiri, merasakan hal yang sama. Apalagi yang namanya nggendong anak itu sudah seperti obat kuat, semua capek bahkan letih pikiran usai bekerja rasanya hilang entah kemana saat mulai bercanda dengan anak. Jadi ya wajarlah kalo kini kami pengen berlama-lama berada di ruang Intensif tersebut.

Akan tetapi kalo mengingat-ingat bahwa putri kita tidak sendiri di ruangan itu, ya wajar jugalah kalo para Perawat ‘mengusir’ kita dengan halus ketika sudah terlalu lama berada disitu. Bisa jadi ingin memberi kesempatan pada orang tua lainnya yang ingin menjenguk anaknya atau agar semua anak-anak yang dirawat bisa tidur dan istirahat yang cukup.

Maka ketika saya keluar ruangan lebih cepat dari biasanya, istripun kembali nyeletuk. ‘Diusir juga ya Pak ?’

Hehehe… enggak ada tuh. Mana berani mereka ngusir kalo badan saya yang segede gajah begini ? He…
Cuma karena si adik bobok terus daritadi ya saya pamit lebih awal agar tak mengganggu istirahat malamnya. Karena tadi pagi, ia menerima transfusi darah yang kedua.

Gek Ara 1

‘Adik pinter Bu, mimiknya habis…’ ungkap salah seorang perawat pada istri disela jenguk tadi. Kalo gak salah, mimik susu yang diberikan terakhir sudah masuk volume 15 ml, dengan dot pula. Wah… senangnya. Pantas saja jika berat badannya kini sudah mulai naik diatas 2 kilogram. Lebih dikitlah. Tapi itu sudah kemajuan kata mereka.

Besok pagi rencananya Gek Ara, demikian panggilan sementara yang kami beri padanya, akan menerima transfusi ketiga. Sekaligus kemungkinan pengambilan sampel darah untuk memastikan kondisinya. Apapun tindakan yang akan diambil, kami sudah percayakan sepenuhnya pada Tim di Puri Bunda. Tinggal urusan biaya yang hingga pagi tadi sudah menghabiskan dana sekitar 11 juta rupiah, kami tetap upayakan semampunya.

Sebetulnya jika memang memungkinkan, kami ingin sekali tinggal lebih lama di selasar ruang tunggu lantai tiga RS Puri Bunda ini. Akan tetapi di rumah masih ada dua anak yang pula membutuhkan perhatian kami. Jadi ya, dengan terpaksa adik kami tinggal dulu. Hanya bisa berharap ia akan mampu melewati semua tantangan ini, dan segera berkumpul dengan kami.

Baik baik ya Cantik… besok kami kesini lagi. Jenguk Adik Ara yang selalu kami kangeni. Sementara, bobok dulu ditemani panda kecil ya, sebagai tanda sayang Bapak Ibu padamu, serta simbol penjagaan kami selama di ruangan ini. We Love You…

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.