Skip to main content

Saya juga pengen jadi CALEG

Jika memiliki waktu, cobalah untuk berjalan-jalan ke seantero Kota Denpasar maupun wilayah Badung. Anda akan menemui wajah-wajah Narzis yang dalam hati mereka tentu ingin sekali dikatakan fotogenik. Kalo mereka tidak merasakan hal itu, lantas mengapa begitu pedenya memasang wajah diri sendiri dengan pose yang tak biasa pula. He… karena keharusan barangkali.

Yang unik dari pemasangan wajah-wajah fotogenik ini yaitu lokasi gak tanggung-tanggung. Di persimpangan jalan. Dimana setiap mata yang melintas, pasti dapat melihat dengan jelas. Ya, inilah mereka, perwajahan para Caleg Calon Legislatif, calon Anggota DPR yang terhormat, calon para wakil rakyat yang kabarnya berjuang keras hanya demi rakyat.

Yang gak kalah uniknya dari iklan perwajahan mereka ya perihal gelar pendidikan yang disandang. Minimal Sarjana Muda atau Strata satu (Sarjana). Namun ada juga yang gak mau kalah awal, memasang segala macam gelar yang mereka dapatkan, entah dengan menempuh pendidikan dengan mempertahankan idealismenya, atau malahan cuman bayar langsung dapat gelar. Ah, ini kan sudah rahasia umum.

Memang dari sekian banyak Caleg yang tampil dimuka masyarakat, entah bertarung di area Pusat, Propinsi ataukah Kabupaten, rata-rata adalah muka lama yang sudah dikenal lebih dulu. Entah ia tokoh masyarakat, figur yang disegani ataukah pimpinan parpol yang barangkali menyadari kalo dirinya gak mampu tampil menjadi pucuk pimpinan negeri ini, makanya milih jadi Caleg aja. Ada juga wajah-wajah baru, yang secara kebetulan saya kenal lantaran pernah menjadi salah satu rekanan kerja di proyek pemerintah.

Lucunya, orang-orang ini bisa dikatakan sangat bermasalah dari segi teladan. Baik sifat keseharian hingga hasil pekerjaan yang mereka berikan pada negara ini. Padahal bagi saya pribadi, untuk menjadi seorang Caleg, barangkali si calon haruslah menjadi teladan bagi keluarganya, teladan bagi lingkungannya, teladan bagi orang lain yang tak mengenalnya terutama teladan bagi dirinya sendiri.

Jika sudah memiliki keteladanan itu, gak bakalan ada yang gusar lantas mengajukan keberatan untuk mencoret nama si calon dari daftar jadi. Misalkan saja pernah dipidana kasus narkoba, pencurian, pemerkosaan bahkan mungkin masuk kotak black list tertentu.

Saya malah berangan-angan, kapan ya ada Caleg yang memang beneran dicalonkan oleh masyarakat sekitarnya (bukan dengan cara mencalonkan diri ataupun menawarkan diri ada parpol baru) ? Kapan ada Caleg yang saat kampanye nanti gak mengeluarkan uang sepeserpun sampai ia berhasil duduk di kursi terhormat nan empuk itu ?

Angan-angan saya ini bukannya tanpa makna. Hanya saya menginginkan figur seorang Caleg yang memang benar-benar mau melayani rakyat secara umum (gak cuma yang separpol), mau menerima dengan intu rumah yang terbuka lebar saat rakyat ingin berkeluh kesah, atau malah lantaran gak ada biaya apapun yang dikeluarkan, gak membuat si Caleg gelap mata saat pihak-pihak tertentu menawarkan Voucher jalan-jalan ke luar Negeri demi meng-Gol-kan permohonan mereka yang tak pro rakyat.

Jarang. Malah gak pernah saya lihat.

Sejauh ini yang paling sering saya temui, adalah para calon yang dengan pongahnya mengaku bersaudara dengan rakyat demi mendulang suara dukungan, berlomba-lomba menyumbang ini itu, melakukan persembahyangan di pura-pura masyarakat, atau malah berjanji ini itu pada masyarakat jika mereka memberi dukungan.

Tak hanya itu, pintu rumah terbuka lebar, siapapun boleh ikut menikmati masakan sang istri, kapanpun masyarakat mau.

Sebaliknya saat mereka sudah resmi duduk dikursi terhormat nan empuk, pintu rumah tertutup rapat digembok pula, prejani sing kenal (pura-pura gak kenal), jangankan janji-janji di mulut, yang dijanjikan usai persembahyangan bersama saja kadang tak terwujud.

Kadang menjadi Caleg bisa dikatakan seperti berjudi. Harus berani menghabiskan sejumlah harta benda demi mendapatkan dukungan terlebih dahulu. Makanya gak jarang ada calon yang sampai menjual hotel miliknya untuk dana kampanye. Jikapun tak punya, masih ada pihak-pihak yang bersedia mengorbankan milik mereka demi harapan yang dibalas saat sudah duduk nanti.

Jika memang tujuan tercapai, minimal untuk kunjungan kerja ke luar daerah, pasti bisa terwujud. Paling gak, selain akomodasi mewah, ada juga uang saku yang berlimpah. Plus gaji bulanan dan sejumlah tunjangan yang kadang diluar nalar. Tapi jika tak tercapai, yah bersiap-siap saja dari sekarang jatuh miskin. He….

Ah, seandainya saya boleh ikutan jadi Caleg…..

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.