Review Multimedia Samsung Galaxy ACE S5830

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Untuk ponsel sekelas Samsung Galaxy ACE S5830, suara yang dihasilkan dari speaker yang terletak di bagian belakang ponsel saat mendengarkan file Multimedia terasa kurang nendang jika dibandingkan dengan ponsel Nokia jadul N73 walaupun sama-sama terdengar jernih. Suara baru akan terdengar lebih baik apabila dilakukan melalui colokan headset yang disertakan dalam paket penjualannya. Ohya, Headset ini berfungsi pula sebagai antenna Radio seperti halnya ponsel lain. Terkait file Multimedia, Review kali ini masih saya bagi menjadi tiga sub bahasan yaitu Musik, Kamera dan tentu saja Video.

Musik

Dari beberapa jenis file Audio yang saya coba melalui music player bawaannya, hanya tiga format saja yang mampu dimainkan dengan baik. MP3, AAC dan Wave. Ketiga format file tersebut bisa dikatakan merupakan format umum yang biasanya digunakan untuk sebuah file audio.

Untuk menjalankannya, tidak tersedia tombol khusus menuju pemutar musik alias pengguna tetap harus mengaksesnya melalui halaman Menu atau membuatkan shortcut secara khusus di halaman Utama (HomeScreen). Ketika dijalankan, pengguna diberikan opsi pengaturan lanjutan mencakup Playlist, Equalizer atau bahkan pemutaran secara acak (Shuffle). Untuk memilih file audio mana yang akan dijalankan, pengguna diberikan tiga opsi pilihan urutan, apakah berdasarkan nama file, album atau artis. Seperti halnya ponsel pintar lainnya, file audio yang tersedia pun bisa dijadikan nada dering panggilan ponsel.

Kamera

Hampir tidak ada fitur istimewa yang disematkan dalam lensa kamera Samsung Galaxy ACE S5830 ini. Kendati sudah mencapai resolusi 5 MP ditambah autofokus dan Flash Light, hasil jepretan kameranya malah cenderung soft dan agak kabur. Hal ini jelas berbeda pendapat dengan beberapa Review ponsel yang dilansir media cetak maupun dunia maya, yang rata-rata menyanjung ketajaman hasil jepretan kamera Samsung Galaxy ACE S5830.

Besaran resolusi kamera Samsung Galaxy ACE S5830 rupanya tidak menjamin besaran resolusi video yang dapat dihasilkan. Paling besar hanya seukuran QVGA atau 320×240 pixel dengan frame rate per second hanya 15 fps.

Bandingkan dengan ponsel Nokia 6720 Classic yang saat pertama kali dilepas dahulu berada di kisaran harga 2,6 juta. Meski sama-sama beresolusi kamera 5 MP, namun secara kualitas baik jepretan kamera (Carl Zeiss Autofokus) pun dengan rekam videonya (VGA 640×480 30 fps) jauh lebih mumpuni dan memuaskan.

Jikapun pengguna merasa belum puas dengan hasil kamera yang diambil dengan menggunakan lensa milik Samsung Galaxy ACE S5830, silahkan Hunting aplikasi Kamera FX yang mampu memberikan sentuhan berbeda dalam setiap hasil yang diabadikan.

Video

Dari beberapa kali percobaan yang saya lakukan untuk memutar file Video di ponsel Samsung Galaxy ACE S5830, rupanya tidak semua format file bisa dijalankan dengan baik. Format file seperti MPG, DAT, FLV merupakan diantaranya. Sedangkan format file video 3gp dan MP4 rata-rata mampu dijalankan dengan baik meski tidak semuanya.

Untuk format file video MP4 hasil download portal YouTube misalkan. Tidak semua bisa dijalankan dengan baik malah terkadang ada juga yang tidak mau dijalankan. Agar dapat dijalankan dengan baik, pengguna wajib melakukan proses converter terlebih dahulu dengan menggunakan aplikasi Kies, semacam PC Suite-nya Samsung Galaxy ACE S5830 kemudian mentransfer hasilnya ke ponsel. Dibandingkan file aslinya, terdapat perbedaan yang mencolok disandingkan dengan hasil converternya. Paling nyata terlihat adalah resulosi Video yang dihasilkan tergolong High Definition (HD) dengan resolusi 720 pixel. Untuk itu, akan lebih baik apabila file asli yang digunakan sama-sama berkualitas HD agar hasil converternya tidak mengecewakan.

Saat file video tersebut dijalankan, layar akan secara otomatis berubah ke posisi landscape. Hal ini jelas berbeda dengan pemutaran file video lewat portal YouTube yang bisa juga dijalankan dengan tampilan Portrait. Mengingat hasil converter videonya tergolong HD, maka dibutuhkan space memory yang tidak sedikit untuk satu buah file video.

Tidak seperti pemutaran file Audio, saat file video dijalankan, tidak ada opsi pengaturan khusus yang diperuntukkan bagi pengguna. Hanya Play, Pause, Next dan Previous saja.

Review (LIVE) Wallpaper Samsung Galaxy ACE S5830

7

Category : tentang TeKnoLoGi

sih ingat dengan salah satu tulisan Review ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 yang berkaitan dengan User Interface ? kali ini saya ingin berbagi tentang (Live) Wallpaper yang digunakan di halaman Utama (HomeScreen).

Ada tiga opsi pilihan Wallpaper yang dapat digunakan sebagai latar belakang halaman Utama (HomeScreen) pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830. Hasil jepretan kamera atau editing pribadi, wallpaper Default dan Live Wallpaper. Untuk mengaksesnya bisa dilakukan dengan dua cara yaitu akses dari halaman Utama dan akses melalui Pengaturan Display.

Akses pemilihan ketiga opsi Wallpaper diatas dari halaman Utama dilakukan dengan cara menekan dan menahan halaman kosong pada area HomeScreen, kemudian pilih Wallpaper. Sedangkan cara lainnya adalah mengakses halaman Menu, kemudian masuk ke dalam Pengaturan (Setting), Display, Wallpaper.

Untuk menggunakan wallpaper hasil jepretan kamera ataupun editing pribadi, pengguna akan diarahkan pada Menu Gallery dimana bisa dipilih gambar mana yang akan diatur sebagai wallpaper nantinya. Jika pun gambar tersebut merupakan file kiriman dari ponsel lain, Samsung Galaxy ACE S5830 akan mendeteksinya dan menampilkannya dalam halaman Gallery. Tidak usah mengatur resolusi atau ukuran gambar seperti tulisan saya terdahulu terkait membuat Wallpaper untuk layar ponsel, karena sebelum gambar akan dijadikan wallpaper, pengguna dihadapkan pada satu opsi lagi, Pengaturan area gambar.

Pengaturan area gambar ini memberikan dua pilihan, apakah gambar akan dipotong (crop) secara horizontal (landscape) ataukah vertikal (portrait). Terdapat pula fitur perbesaran area gambar yang bisa digeser sesuka hati untuk mendapatkan area gambar yang sesuai dengan selera pengguna. Pengaturan ini serupa dengan langkah penerapan wallpaper pada ponsel Windows Mobile PocketPC yang biasanya diakses melalui Menu Pictures.

Terkait pemotongan diatas, hasil wallpaper yang diterapkan tentu saja akan berbeda antara yang dipotong dengan bentuk landscape dan portrait. Untuk wallpaper yang dipotong dengan bentuk landscape akan ditampilkan sebagian demi bagian, bergantung pada jumlah halaman Utama (HomeScreen yang digunakan). Jadi kalopun gambar yang digunakan adalah gambar panorama, maka bisa jadi pengguna akan menemukan gambar yang berkelanjutan ketika melakukan perpindahan halaman Utama. Sedangkan untuk wallpaper yang dipotong secara Portrait, akan menyajikan gambar yang sama di setiap pergeseran halamannya.

Untuk menggunakan wallpaper dari folder default, pengguna hanya diberikan pilihan secara terbatas, tergantung dari ketersediaan gambar yang ada. Dalam hal ini, tidak terdapat menu Pengaturan Area Gambar seperti langkah diatas.

Opsi ketiga atau terakhir adalah Live Wallpaper. Untuk yang satu ini bisa dikatakan sangat mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan. Mengagumkan lantaran gambar latar belakang yang digunakan adalah gambar bergerak layaknya animasi Flash. Jadi mengkhawatirkan lantaran ketika pengguna memutuskan untuk menggunakan Live wallpaper ini sebagai pilihan, daya batere akan menjadi sedikit lebih boros dari biasanya. Tapi, siapa yang peduli jika penampilan layar Utama jadi lebih kinclong dibuatnya ?

Secara Default, ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 telah menyertakan satu pilihan Forest Live Wallpaper dimana tampilannya bisa dilihat pada ilustrasi tulisan ini. Seandainya masih dirasa kurang, silahkan Hunting di Android Market untuk mendapatkan pilihan yang jauh lebih banyak. Beberapa yang sudah saya coba adalah versi Matrix, Nexus Google S, Shake Them All, Koi, Aquarium dan Bubble.

Uniknya, selain gambar latar yang ditampilkan dapat bergerak, pengguna juga bisa berinteraksi menggunakannya. Untuk versi Shake Them All, beberapa robot hijau Android akan berjatuhan kearah mana posisi ponsel digerakkan. Versi Bubble atau gelembung air, dapat dipecahkan ketika disentuh, Sedangkan Versi Koi malah mengingatkan saya pada HomeScreen serupa yang diadopsi Sony Ericsson Xperia pertama.

Satu saran saya, jangan perlihatkan tampilan Live Wallpaper ini pada anak-anak. Karena ketertarikan mereka pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 akan menjadi sangat besar. Jangan sampai ponsel terjatuh dan mengalami gangguan yang tidak diinginkan saat layar utama digunakan bermain oleh anak-anak. Hehehe…

Semua opsi yang ditawarkan dalam fitur atau Menu Wallpaper ini bisa dikatakan sangat menarik untuk dicoba. Mampu Memberikan satu pengalaman baru bagi setiap pengguna ponsel yang barangkali sudah mulai jenuh dengan tampilan layar ponsel yang monoton.

iPad dan iPhone Simulator ? Enggak Deh…

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Hanya gara-gara penasaran dengan pengalaman menjajal Simulator Development produk iPad dan iPhone, sayapun kembali berburu kedua aplikasi tersebut di dunia maya. Namun, seperti halnya tulisan saya terdahulu terkait iPhone Simulator yang hanya sekedar animasi, kali ini pun saya kembali menelan pil pahit. Rupanya Simulator yang dimaksudkan disini memang hanya sebuah simulator dengan sekian banyak keterbatasan.

Untuk bisa menjalankan kedua aplikasi ini pada PC, dibutuhkan aplikasi Adobe Air sebagai dasar pijakannya. Adobe Air sendiri bisa didapatkan di halaman web resmi milik Adobe secara Gratis. Untuk Simulator iPad hanya berukuran 1,289 MB saja sedangkan Simulator iPhone sedikit lebih besar sekitar 4,250 MB.

Mengingat ukuran kedua Simulator ini cukup hemat dibandingkan Simulator system operasi atau perangkat lainnya, kemampuannya pun tergolong hemat dan ‘sangat menggemaskan’. Hehehe…

Simulator iPad hanya bisa digunakan pada fitur atau icon Browsernya saja. Itupun fungsi daripada browser ini tidak lebih dari hanya untuk memperlihatkan halaman web secara tampilan iPad. Tidak berlaku untuk aktiftas jari (dalam hal ini mouse) untuk mencubit, typing dan lain sebagainya. Jadi bagi yang penasaran dengan bagaimana tampilan halaman blog www.pandebaik.com dalam layar iPad, silahkan mencobanya langsung. Sayangnya, ketika layar dirotasi menjadi landscape, tampilan halaman tidak ikut berubah rotasinya. Jadi Mengingatkan saya pada video amatir artis Indonesia beberapa waktu lalu. Untuk bisa mengoperasikannya dibutuhkan koneksi internet tentu saja. Bagi saya pribadi, ketimbang dijadikan aplikasi, bukankah sebaiknya dibuatkan dalam bentuk sebuah halaman blog ? lebih mudah, lebih simple dan jelas tidak mengecewakan.

Mengecewakan dalam hal mencoba Simulator iPad, makin menjadi ketika saya mencoba Simulator iPhone. Namun untuk kali ini masih tergolong mending ketimbang animasi iPhone Simulator seperti yang saya tuliskan terdahulu. Hanya saja, untuk mencoba fitur ponsel (calling) yang ada dalam aplikasi Simulator ini, pengguna diwajibkan mendaftar dahulu pada satu layanan Ribbit. Wah, ribet banged.

Selebihnya, hampir tak ada layanan lain yang bisa digunakan seperti halnya App World dalam Simulator BlackBerry 9800 Torch Misalnya atau bahkan fitur Browser yang benar-benar mampu menampilkan Update Status berlogo BlackBerry.

Dua kali kecewa hanya lantaran penasaran ingin mencoba Simulator produk yang kabarnya paling keren sejagat ini, barangkali lebih baik saya mencoba produk aslinya saja langsung. Ada yang berminat meminjamkannya ? iPad 3G ? iPhone 4 ? atau sekalian menghibahkannya juga boleh. :p

Review Browser Samsung Galaxy ACE S5830

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada yang belum familiar dengan istilah Browser ? Browser atau yang dikenal dengan istilah Peramban merupakan aplikasi wajib yang berfungsi untuk beraktifitas atau menjelajah dunia maya. Beberapa jenis Browser yang sudah familiar dikenal belakangan ini ada Google Chrome, Mozilla FireFox, Opera, Safari dan tentu saja Internet Explorer.

Beragamnya jenis Browser yang tersedia, kemudian menciptakan fanatisme tertentu di kalangan pengguna lantaran masing-masing Browser diatas memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri yang dibanggakan atau masih dapat dimaklumi.

Pada ponsel berbasis Android 2.2 Froyo Samsung Galaxy ACE S5830 ini, kabarnya salah satu kekurangan Browser bawaan yang kerap dibicarakan dalam setiap Review baik media cetak maupun dunia maya adalah tidak didukungnya plugins Flash Player sehingga pada beberapa halaman yang menggunakan Flash sebagai salah satu konten, tidak dapat dibuka dengan sempurna. Hal ini kemudian dianggap sebagai salah satu pertimbangan penting untuk ‘tidak disarankan sebagai ponsel yang patut ditunggu berikutnya.

Kabar itu memang benar adanya. Browser bawaan tidak mendukung Flash Player bahkan plugins tersebut tidak dapat ditemukan dalam daftar Android Market.

Namun jangan khawatir. Jikapun memang Flash Player yang menjadikan pertimbangan utama Anda dalam memilih ponsel, silahkan unduh aplikasi Browser Dolphin atau SkyFire yang sudah diakui jauh lebih mumpuni dari Browser bawaan ponsel Android. Yang lebih penting lagi, kedua Browser tambahan ini sudah mendukung Flash Player loh.

Ukuran kedua aplikasi Browser tersebut rata-rata berada di range 1,5 MB. Bahkan untuk Dolphin Browser memiliki tiga varian berbeda, bergantung pada kebutuhan si Pengguna. Versi Lite, normal dan HD. Makin besar tingkatannya, makin besar pula kemampuannya. Yang artinya, makin besar pula kebutuhan memori yang dihabiskan. Positifnya, Dolphin memberikan opsi Pengaturan pada penggunanya untuk memilih, memori mana yang akan digunakan untuk menyimpan Cache dan History yang akan dijalankan. Apakah ditempatkan pada Memori Internal ataukah Eksternal ?

Meski demikian, gag usah terlalu khawatir bahwa dengan Browser bawaan ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini saja sudah lebih dari cukup kok. Beberapa halaman portal berita seperti Vivanews ataupun Detik bahkan blog www.pandebaik.com pun dapat ditampilkan dengan baik.

Saya katakan demikian, lantaran ponsel ini sudah mendukung fitur MultiTouch yang memungkinkan Pengguna melakukan permbesaran halaman (zoom) hanya dengan mencubit layar layaknya iPhone. Aktifitas ini jelas jauh mempermudah proses akses dari satu halaman web ke halaman lainnya.

Seperti halnya pada NoteBook atau PC, dalam membuka satu link ataupun alamat web, Pengguna diberikan opsi untuk memilih, Browser mana yang akan digunakan sebagai Browser Default selanjutnya. Jika Anda menginginkan sebuah browser yang powerful, arahkan saja pada Dolphin Browser.

Secara tampilan, Dolphin Browser tak jauh beda dengan Browser terkini yang ada pada NoteBook ataupun PC. Terdapat beberapa Tab (halaman baru di jendela yang sama) yang dapat digunakan secara bergantian tanpa menutup halaman lainnya. Tersedia pula opsi Mobile View apabila halaman web yang diakses terlalu rumit untuk ditampilkan. Untuk kecepatan Browsing atau jelajah masing-masing halaman web, tentu saja akan bergantung pada kecepatan koneksi yang digunakan.

Review User Interface Samsung Galaxy ACE S5830

15

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah me-Review ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 dilihat dari mata awam beberapa waktu lalu, kini giliran me-Review Antarmuka Pengguna atau yang dikenal dengan istilah User Interface. Review kali ini saya bagi dalam tiga sub pembahasan yaitu halaman Utama (HomeScreen), halaman Menu dan Taskbar.

HomeScreen

Secara default atau ketika ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 untuk pertama kali digunakan, layar halaman Utama atau HomeScreen ini akan menyajikan gambar wallpaper yang tampak memenuhi layar ditambah empat icon shortcut di sisi bawah layar. Adapun keempat icon tersebut merupakan akses menuju Telepon, Daftar Kontak, Pesan dan tentu saja Menu. Keempat icon ini akan selalu tampil dalam setiap halaman Utama atau HomeScreen dimana jumlah halaman dapat diperbanyak hingga sembilan halaman.

Dalam satu halaman Utama ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 dapat menampung setidaknya enam belas icon shortcut tambahan diluar keempat icon utama tadi. Sehingga apabila kemudian pengguna memiliki puluhan aplikasi tambahan yang diunduh dari Android Market, semuanya itu dapat ditampilkan dalam halaman Utama yang berbeda-beda. Sekedar informasi, setiap halaman dapat diakses dengan cara menggeser halaman ke kiri (menuju halaman berikutnya) dan ke kanan (untuk menuju halaman sebelumnya).

Dibandingkan ponsel Nokia ataupun BlackBerry yang berlayar sentuh, untuk melakukan pergeseran halaman pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini, tidak memerlukan kekuatan tangan atau tekanan yang kuat. Cukup sapuan halus, maka halaman Utama akan segera bergeser ke halaman lainnya.

Penambahan Shortcut pada halaman Utama berfungsi sama dengan shortcut pada layar homescreen NoteBook ataupun PC. Yaitu untuk mempermudah pengguna mengakses aplikasi atau Menu tertentu.

Untuk menambahkan puluhan icon shortcut tambahan pada layar utama, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, menekan dan menahan layar halaman Utama, kemudian memilih salah satu dari empat opsi yang ditawarkan. Widget, Shortcut, Folder dan Wallpaper. Widget berfungsi sama dengan Shortcut namun penampakannya lebih dinamis ketimbang shortcut yang hanya menampilkan gambar (icon) kecil. Misalkan saja Widget Analog Clock yang menyajikan penampakan jam bundar berisikan kedua jarum jam, untuk menunjukkan waktu sesuai yang berlaku. Ada pula Widget Dual Clock, Google Search, Android Market hingga Home Screen Tips yang akan membimbing pengguna dalam memanfaatkan area HomeScreen.

Dalam Opsi Shortcut, masih ada beberapa opsi tambahan yang ditawarkan, apakah menuju pada Aplikasi, Bookmark bahkan Pengaturan. Untuk Opsi Folder, akan memberikan pilihan Contact with Phone Number, Facebook PhoneBook atau Receive from Bluetooth. Sedangkan Opsi Wallpaper adalah pilihan untuk mengganti gambar wallpaper pada layar, meliputi HomeScreen Wallpaper (mengambil gambar dari hasil jepretan kamera), Live Wallpaper (gambar bergerak) dan Wallpaper Galery (mengambil gambar dari folder default).

Cara yang kedua untuk menambahkan Shortcut ke layar Utama adalah melalui Halaman Menu. Tekan dan tahan icon aplikasi yang diinginkan hingga halaman berpindah ke halaman Utama, kemudian letakkan icon shortcut-nya di halaman yang diinginkan.

Untuk menambah jumlah halaman Utama, tekan tombol Option yang berada disebelah kiri tombol Navigasi, lalu pilih Edit. Tambahkan seperlunya sesuai kebutuhan. Tambahan halaman Utama ini, bisa difungsikan untuk mengelompokkan icon shortcut sesuai fungsinya. Saya pribadi membaginya menjadi empat halaman, halaman Utama berisikan icon Utilities dan Pengaturan, halaman kedua berisikan icon Internet dan Bookmark, halaman ketiga berisikan icon Multimedia dan Office Application dan halaman keempat berisikan icon Games.

Jikapun sudah dirasakan tidak diperlukan lagi, icon-icon shortcut tersebut bisa dihapus dari halaman dengan cara menekan dan menahan icon tersebut kemudian geser ke gambar tempat sampah yang muncul di sisi bawah layar.

Halaman Menu

Serupa dengan Halaman Utama atau HomeScreen, dalam halaman Menu terdapat juga opsi penambahan halaman sesuai banyaknya aplikasi dan games yang dimiliki. Fungsinya pun dapat disamakan, untuk mengelompokkan kegunaan masing-masing aplikasi sehingga lebih mudah untuk dicari.

Hanya saja dalam halaman ini, tidak ada opsi untuk menambah atau menghapus icon shortcut seperti halnya layar halaman Utama. Yang ada hanyalah halaman pengaturan penempatan icon shortcutnya saja. Caranya, tekan tombol pilihan atau Option yang ada di sebelah kiri tombol navigasi lalu pilihlah Edit. Tekan dan tahan icon shortcut yang ingin dipindahkan lalu geser ke lokasi yang diinginkan. Jika sudah, pilih opsi untuk Menyimpannya.

Untuk mengakses halaman Menu ini, dapat dilakukan dengan menekan tombol Menu yang ada di setiap halaman Utama (HomeScreen) tepatnya pada icon paling kanan dari keempat icon utama yang ada. Untuk kembali ke halaman Utama (HomeScreen), pengguna tinggal menekan tombol navigasinya saja. Sekedar informasi, tombol navigasi ini berfungsi pula untuk menyalakan layar saat ponsel berada dalam kondisi idle, dan juga untuk mengakses Task Manager (dengan menekannya agak lama) yang berfungsi untuk mengatur aplikasi yang telah dbuka sebelumnya.

TaskBar

Baik dari layar halaman Utama (HomeScreen) ataupun halaman Menu, terdapat satu fitur yang sama sekali tak boleh diabaikan yaitu Taskbar. Taskbar ini posisinya berada di sisi atas layar yang berfungsi selain untuk menampilkan jam, status sinyal, daya batere dan juga koneksi jaringan, berfungsi pula sebagai halaman Notifikasi atau pemberitahuan apabila terdapat telepon masuk, sms, email ataupun pemberitahuan lainnya yang difungsikan oleh sejumlah aplikasi yang ada dalam ponsel. Selain itu, Taskbar dapat berfungsi untuk memantau seberapa jauh proses download aplikasi/games yang dilakukan melalui Android Market. Pun berfungsi sebagai shortcut Turn-On-Off pada beberapa fitur yang terdapat didalam badan ponsel seperti Wifi, Bluetooth, GPS, Profile (Silent) dan juga Auto Rotation.

Taskbar ini bisa diakses dengan menekan, menahan dan menggeser area TaskBar kearah bawah hingga memenuhi area layar. Pergeseran tangan ini serupa dengan cara menghapus icon shortcut pada layar halaman Utama, namun tidak harus digeser sampai sisi bawah layar. Cukup sapukan sedikit saja, maka area TaskBar akan turun dengan sendirinya. Demikian halnya saat menutup TaskBar, tinggal melakukan sapuan jari kearah sebaliknya. Aktifitas ini mirip dengan menurun-naikkan Rolling Door atau menarik turun tirai jendela. Apabila terdapat pemberitahuan atau Notifikasi baru, maka di pojok kiri atas akan terlihat icon (gambar) kecil yang menandakan pemberitahuan tersebut.

Review Samsung Galaxy ACE S5830

79

Category : tentang TeKnoLoGi

Sudah hampir dua Minggu ya, Samsung Galaxy ACE S5830 menemani hari-hari saya. Selama itu pula jadi jarang online dengan memanfaatkan sarana modem plus laptop milik LPSE. Koneksi XL yang dahulu saya gunakan sebagai pilihan alternatif dari IM2, berpindah tempat disematkan di slot ponsel berbasis Android ini. Hasilnya maknyus, tidak banyak keluhan yang saya dapatkan baik selama meng-explore seisi ponsel maupun beraktifitas dengannya.

Secara penampilan luar, sesungguhnya Samsung Galaxy ACE S5830 gag kalah aksi kok dibandingkan ponsel lainnya. Gorilla Glass yang menghiasi seluruh layar depan membuatnya tampil mempesona kendati menjadi rentan terkotori oleh sapuan jari. Back Cover yang rupanya terbuat dari plastik (bukan metal seperti dugaan sebelumnya), digrafir garis diagonal yang membuatnya tak licin ketika dipegang. Sayang, dalam paket penjualannya tidak disertakan back cover berwarna putih dan juga case pelindung seperti yang diperlihatkan pada video Unboxing di portal YouTube.

Bagi yang dahulunya familiar dengan ponsel berbasis Windows Mobile PocketPC, saya yakin tidak banyak hal yang harus dipelajari untuk memahami jeroan atau dalemannya Android plus User Interfacenya. Bisa dikatakan sama persis. Dari opsi Pengaturan, Task Manager, Aplikasi hingga pola pemakaiannya yang hanya membutuhkan sapuan atau sentuhan lembut, bukan ditekan layaknya layar sentuh milik BlackBerry. Namun demikian, bagi pengguna awampun jangan terlalu merasa khawatir, karena penggunaannya tak serumit Windows Mobile PocketPC. Terkait bagaimana menggunakan User Interface ini, nanti akan saya bahas secara khusus.

Secara kemampuan ketika disandingkan dengan ponsel berlayar sentuh milik Nokia atau BlackBerry, Samsung Galaxy ACE S5830 terasa jauh lebih mengasyikkan. Pengalaman serupa saya alami dahulu ketika berkesempatan mencoba layar sentuh iPhone 3GS. Sistem sentuh (touch) yang lembut cenderung berpengaruh pula pada pola pikir si pemakai, begitu kira-kira. Hehehe… tapi yang lebih mengasyikkan lagi adalah Multi Touch-nya yang sudah mendukung cubitan yang berfungsi sebagai zoom (perbesaran skala).

Seperti halnya ponsel berlayar sentuh lainnya, Samsung Galaxy ACE S5830 pun mendukung Auto Rotation sesuai dengan cara genggam pemiliknya. Hal ini masih membuat saya kebingungan ketika memegang ponsel dengan cara terbalik, pas dicari tombol navigasinya eh malah berada di sisi atas.

Di sekujur tubuh Samsung Galaxy ACE S5830, hanya terdapat tiga tombol yang tampak menonjol dari bidangnya. Tombol Navigasi di bawah layar berfungsi untuk mengembalikan halaman yang sedang aktif ke layar utama sekaligus untuk mengakses aplikasi yang digunakan sebelumnya (Multitasking). Tombol memanjang yang ada di sisi kiri ponsel berguna untuk memperbesar dan mengecilkan Volume. Sedangkan tombol yang ada di sisi kanan ponsel, berguna untuk mematikan, menyalakan sekaligus mengunci layar (ditekan sekali) dan junga untuk menyalakan dan menon-aktifkan ponsel (ditekan agak lama).

Kamera yang disematkan di belakang bodi memang sudah menjangkau resolusi 5 MP. Sayangnya, mungkin lantaran tidak menggunakan Lensa khusus seperti halnya Nokia dengan Carl Zeiss-nya, hasil jepretan tidak sebaik Nokia jadul N73 (3 MP) yang hingga kini masih saya gunakan. Padahal sudah didukung dengan Flash Light, tetap saja hasilnya Soft dan keseringan kabur. Demikian halnya dengan resolusi video yang hanya sebatas QVGA atau setara dengan 320×240 pixel 15 fps. Bandingkan dengan Nokia 6720 Classic yang dahulu saya peruntukkan bagi Mertua.

Sedari ponsel dinyalakan, secara otomatis akan langsung mengakses dunia maya tanpa bisa dihentikan secara manual. Satu-satunya cara paksa yang biasanya saya gunakan (jika memang diperlukan) adalah dengan mengaktifkan fitur Flight Mode. Namun lantaran nomor XL yang saya gunakan memang bukan untuk Voice Call atau Text Message, jadinya ya bukan satu masalah besar. Satu-satunya efek samping terkoneksinya ponsel ke dunia maya secara kontinyu hanyalah daya batere yang serupa dengan penggunaan handset BlackBerry. Hanya sehari, sudah harus di-Charge kembali. Jika kita lebih banyak beraktifitas dengan NoteBook, sambungkan saja kabel datanya (yang sudah diberikan dalam paket pembelian) ke colokan USB, aktifitas Charge akan secara otomatis dilakukan.

Terkoneksinya ponsel ke dunia maya secara otomatis ini akan memaksa penggunanya untuk mengaktifkan paket Unlimited. Untuk kartu XL yang saya gunakan, biaya paket Unlimitednya hanya berkisar 99.000 rupiah saja. Kecepatan yang didapatkan hanya sampai 384 kbps dengan batasan kuota 1 GB, dan selebihnya akan menurun pada kecepatan 128 kbps. Apabila koneksi ini masih dirasakan lambat, koneksikan saja Wifinya ke Hotspot terdekat. Kecepatan koneksi ini akan berbanding lurus dengan kecepatan akses ponsel pada halaman dunia maya yang memang mensyaratkan, seperti misalnya portal video YouTube.

Ngomong-ngomong soal Wifi dan Hotspot, berterimakasihlah pada sistem operasi Android yang disematkan dalam ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 yang sudah menggunakan versi 2.2 Froyo. Karena di versi inilah, kemampuan ponsel jadi makin bertambah maknyus berkat fitur Tethering atau Portable Hotspot-nya. Fitur ini akan sangat membantu ketika kita ingin berselancar di dunia maya dengan memanfaatkan layar NoteBook. Aktifkan fiturnya, kemudian nyalakan koneksi wifi pada NoteBook dan sambungkan. Secara default, koneksi Wireless yang terdeteksi bernama AndroidAP.

Layar sentuh yang sudah mendukung fitur MultiTouch akan sangat berguna ketika kita mengakses halaman web yang tidak mendukung tampilan Mobile. Halaman milik LPSE Badung misalnya. Ketika halaman depan diakses, saya yakin baik pengguna maupun tetangga yang melihatnya akan bergumam ‘wah, gemana browsing-nya nih ? tulisannya kecil begitu…’ tapi jangan khawatir, gunakan saja cubitan tadi. Maka dengan segera layar akan melakukan pembesaran skala (zoom) sesuai keinginan kita.

Membeli ponsel bersistem operasi Android, bisa dikatakan berBonus ratusan aplikasi Gratisan yang siap unduh. Saya pribadi sudah mencoba yang namanya games fenomenal Angry Bird, Unblock Me, Jewel dan tentu saja Sudoku. Ketersediaan aplikasi-nya pun sangat beragam. Dari AntiVirus, Office application, Kids Learning hingga yang berkaitan dengan Blog. Yang paling penting, Semuanya Free. Sayangnya satu hal yang membuat semua tawaran menarik ini menjadi mubazir adalah ketersediaan Memory Internal. Hanya 180 MB saja.

Berkaitan dengan keterbatasan Memory tersebut, lagi-lagi kita harus berterimakasih pada sistem operasi Android 2.2 Froyo yang disematkan pada ponsel Samsung Galaxy ACE S5830. Ketersediaan Opsi instalasi on SDcard (Memory External) menjadi salah satu pemecahannya. Sayangnya untuk bisa memilah aplikasi mana yang hanya boleh ditempatkan di Memory Internal, mana yang ditempatkan di Memory External, tidak disediakan opsi Manual seperti halnya yang dimiliki oleh sistem operasi Windows Mobile. Kekurangan ini tampaknya makin menguatkan Image ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 sebagai salah satu ponsel pintar. Karena dengan sendirinya akan memilah aplikasi yang berkaitan dengan kinerja ponsel ditempatkan pada Memory Internal, sedangkan yang bersifat Hura-hura dan tidak terlalu penting ditempatkan di Memory External. Mengagumkan bukan ?

Sebetulnya masih banyak hal yang bisa dikupas dalam tulisan Review kali ini. Namun semua itu kelak akan saya bagi dalam tulisan tersendiri sehingga bisa jauh lebih mendalam. Overall, ponsel Samsung Galaxy ACE S5830 ini bisa dikatakan sangat memuaskan (kecuali daya batere) untuk dimiliki. Apalagi nilai jualnya juga tergolong sangat terjangkau. Jadi, masih berpikir untuk memilih ?