Update Status FaceBook/Twitter dengan BLackBerry Torch 9800S

28

Category : tentang TeKnoLoGi

Bagaimana caranya membedakan update status via FaceBook for BLackBerry antara yang menggunakan perangkat BLackBerry dengan yang memanfaatkan aplikasi ‘update status via’ seperti yang pernah saya tulis tempo hari ? gampang kok…

Arahkan kursor mouse melalui layar pc atau laptop dan perhatikan alamat url yang dituju oleh tulisan update status via FaceBook for BLackBerry yang biasanya terdapat dibawah status orang yang bersangkutan. Kalau alamat yang dituju adalah facebook.com/mobile/?v=2254487659, itu artinya status di-update melalui perangkat BLackBerry apapun serinya. Namun apabila alamat yang dituju adalah facebook.com/apps/application.php maka bolehlah sedikit curiga dengan update status orang yang dimaksud. Update status model begini biasanya dilakukan hanya untuk gaya-gayaan saja, seperti yang pernah saya lakukan terdahulu. Sisi positifnya adalah, update status bisa dilakukan dengan model via apapun. Mau dengan iPad, iPhone 4, Android, bahkan via mesin ketik, warnet atau kamar mandi pun bisa. Tergantung kreatifitas pikiran.

Trus, kira-kira ada gak ya cara untuk update status via FaceBook for BLackBerry tanpa harus membeli atau memiliki perangkat BLackBerry yang dikenal dengan harganya yang mahal itu ? tapi gak mengundang kecurigaan siapapun ? ada kok. Gunakan saja BLackBerry Torch 9800S. Sekedar informasi bahwa yang dimaksud BLackBerry Torch 9800 itu adalah rilis terkini yang edar dengan kisaran harga 7 juta (resmi) dan 11 juta (BM). Lah, katanya tidak harus membeli atau memiliki ?

Nah, embel-embel S yang saya sematkan pada seri 9800 diatas adalah Simulator alias aplikasi pc yang biasanya digunakan untuk menguji penggunaan handset oleh para pengembang aplikasi berbasis sistem operasi handset yang dimaksud. Modalnya Cuma satu. Koneksi Internet.

Koneksi internet mutlak dibutuhkan untuk mengunduh dan menjalankan aplikasi Simulator BLackBerry Torch 9800 ini dari situs resmi milik BLackBerry, dengan besaran file 105 MB saja. Aplikasi ini fungsinya kurang lebih sama dengan aplikasi simulator BlackBerry Bold 9000 dan Storm 9500 yang pernah saya tulis terdahulu.

Dibandingkan pendahulunya, Simulator BLackBerry Torch 9800 ini tidak memerlukan aplikasi tambahan lagi untuk dapat memfungsikan web browser secara normal (seperti halnya perangkat BLackBerry secara nyata). Disamping itu, ada juga nilai tambah yaitu telah disuntikkannya secara default aplikasi FaceBook, Twitter, My Space, Yahoo Messenger dan aplikasi jejaring sosial lainnya dalam tampilan Menu yang syukurnya bisa digunakan pula dengan baik. Sayangnya yang namanya fitur BLackBerry Messenger, fitur unggulan dan layanan utama tetap tidak dapat digunakan. Hehehe… maunya…

Hebatnya, aplikasi FaceBook atau Twitter yang saya sebutkan diatas, dapat berfungsi pula layaknya ‘memiliki’ sebuah perangkat BLackBerry secara nyata. Yang saya maksudkan disini adalah untuk ‘update status’ yang dilakukan melalui Simulator BLackBerry Torch 9800 ini rupanya menyajikan alamat url yang sama (baca kembali paragraf kedua tulisan ini) dengan update status yang dilakukan melalui perangkat BLackBerry secara nyata. Ini artinya, seandainya ditelusuri oleh orang lain (melalui alamat url yang diperlihatkan dalam keterangan update status) pun update status yang dilakukan melalui aplikasi Simulator BLackBerry Torch 9800 tidak akan ketahuan bahwa sesungguhnya ‘tak satupun perangkat BLackBerry ada di tangan. Huahahahaha…

Dengan memanfaatkan Simulator BLackBerry Torch 9800 inilah, beberapa update status yang saya rilis satu minggu terakhir kelihatannya jadi makin mentereng, lantaran menyematkan update status via FaceBook for BLackBerry yang kalo diperiksa akan mengarah pada alamat url facebook.com/mobile/?v=2254487659. Surprise bukan ?

*

Saya menemukan (lebih tepatnya lagi, mendapatkan) BLackBerry Torch 9800S (simulator) ini saat Pelatihan di kantor LPSE Propinsi hari Jumat lalu, sesaat setelah mendapatkan newsletter dari pihak BLackBerry.  Melalui tulisan diatas pula, (sekali lagi) saya memohon Maaf pada Rekan-rekan yang begitu antusias meminta nomor PIN perangkat BLackBerry Torch 9800 dan juga yang begitu antusias ingin membelinya. Hihihi… *kabur ah…


Introducing BlackBerry Torch 9800

11

Category : tentang TeKnoLoGi

“Berapa sih harga Torch (BlackBerry Torch 9800) ?” tanya seorang teman beberapa waktu lalu. “4,2 jt… (asal jawab)” kataku. “ah, masa siy bisa lebih murah dari Onyx (BlackBerry Onyx 9700) ?” tambah si teman.

Wajar saja kalau teman saya itu tak percaya dengan jawaban yang diberikan, lantaran kabarnya Torch (BlackBerry Torch 9800) bakalan dilepas dengan kisaran harga 7 juta rupiah (kontrak dengan operator) dan 11 juta rupiah untuk yang versi BM (black market alias ilegal atau melalui pasar gelap). Harga yang menjulang saya rasa patut dimaklumi karena Torch memang belum edar secara luas di Indonesia. Sama halnya ketika rilis iPhone perdana beberapa tahun lalu. Tapi ngomong-ngomong sehebat apa sih Torch dibanding dengan rilis BlackBerry sebelumnya hingga harga jualnya bisa semahal itu ?

Pertama, dilihat dari masa edarnya. Torch merupakan rilis BlackBerry pertama yang mengadopsi OS (sistem operasi) terbaru yang dikembangkan oleh RIM (Research In Motion) yaitu versi 6.0. Kabarnya rilis ini memiliki segudang kelebihan dan penyempurnaan fitur dibandingkan versi sebelumnya. OS BlackBerry 6.0 ini bakalan diadopsi pula oleh handset BlackBerry yang rencananya dirilis belakangan seperti Pearl 3G 9105 misalnya.

Kedua, secara desain fisik. Torch mengadopsi bentukan ponsel sliding. Lempengan terdepan berupa layar sentuh 3,2 inchi dilengkapi dengan navigasi TrackPad, standar rilis BlackBerry masa kini yang bakalan langsung mengingatkan publik pada BlackBerry Storm 9550. Lempengan kedua menyajikan thumbboard QWERTY sebagai alternatif input messaging bagi pengguna yang belum familiar dengan layar sentuhnya. Adapun fisik dari thumbboardnya sendiri mengadopsi bentukan seri Bold 9000.

Ketiga, secara Multimedia yang disematkan. Torch mengadopsi kamera 5 MP yang menjadikannya resolusi terbesar yang dimiliki oleh perangkat BlackBerry sejauh ini. Dilengkapi dengan autofokus dan juga flash light. Belum lagi resolusi video recording yang sudah lebih baik, 640×480 pixel. Untuk audionya, Torch sudah mendukung format WMA yang biasanya menjadi standar mutlak ponsel bersistem operasi Windows Mobile. Begitu juga dengan AAC yang biasanya ditemukan pada ponsel Nokia.

Keempat, selain sudah mendukung jaringan 3G triband UMTS, Torch juga dibekali dengan koneksi nirkabel Bluetooth dan WLan yang artinya pengguna dapat memanfaatkan jaringan internet saat berada pada area yang mendukung hotspot.

Kelima, dari segi kapasitas memory yang dibekali, Torch memiliki 4 GB memory internal, 512 RAM/512 ROM ditambah slot MicroSD yang dapat diexpand hingga 32 GB. Kapasitas ini termasuk yang terbesar sejauh ini dibanding seri sebelumnya. Sebagai perbandingan saja, secara memory internal untuk seri Javelin dan Onyx hanya memiliki 256 MB untuk storage, Bold dan Storm 9500 sebesar 1 GB sedangkan Storm 9550 sebesar 2 GB. Artinya, Torch memiliki spare memory yang sangat besar untuk menyimpan aplikasi yang biasanya harus ditempatkan pada memory internal.

Dari lima kelebihan diatas, memang sudah sepantasnya Torch memiliki nilai jual yang tergolong ‘wah’ untuk sebuah ponsel Smartphone. Dapat disejajarkan dengan iPhone 4 ataupun HTC SuperSonic yang mengadopsi sistem operasi Android. Namun bagi yang berkeinginan memilikinya dengan dana cekak, bisa menunggunya beberapa bulan kedepan hingga harganya turun sedikit demi sedikit hingga dianggap stabil dan rasional.


Will it Blend ?

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada beragam cara yang dilakukan oleh pihak marketing untuk memasarkan atau mempromosikan sebuah produk demi menarik perhatian calon konsumennya. Entah itu untuk membuktikan kualitas produk, estetika ataupun fungsionalnya. Belakangan cara-cara promosi yang dilakukan sudah jauh lebih modern atau malahan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yaitu dunia maya.

Will it Blend ? merupakan salah satu contoh yang paling ekstrem (dalam arti positif) demi mempromosikan produk blender melalui dunia maya. Saya katakan demikian, karena cara promosi yang dilakukan sama sekali tidak berupa spam email (yang biasanya menawarkan sejumlah besar investasi atau produk viagra dan sejenisnya) ataupun menulis spam comment pada halaman orang (blog, facebook dan sejenisnya).

Adalah Tom Dickson pendiri Blendtec mencoba memanfaatkan salah satu portal penyedia video terbesar YouTube (satu-satunya media yang digunakan) untuk memasarkan produk blender yang ia ciptakan. Dimulai dari 30 Oktober 2006, Tom merekam proses pem-blederan yang menggunakan produk yang dipasarkan dan mengunggahnya agar bisa dinikmati oleh jutaan orang dari seluruh dunia.

Yang membuatnya ekstrem adalah bahan yang nantinya akan di-blender atau dihancurkan bukanlah buah, sayur ataupun es batu seperti yang kerap dilakukan namun benda-benda aneh, baik yang ia pikirkan dan miliki ataupun kelak yang konsumen miliki dan inginkan. Terakhir yang saya ketahui adalah iPhone 4.

iPhone 4 merupakan ponsel buatan Apple yang kabarnya memiliki segudang kelebihan dibandingkan pendahulunya dengan satu kesalahan fatal terkait antena dan penurunan sinyal. Ponsel ini yang kemudian menjadi sasaran Tom Dickson untuk diblender dengan menggunakan produk miliknya.

Beberapa Rekam jejak yang pernah dilakoninya menurut catatan Wikipedia adalah kartu kredit, kaset tape, make up, pena, laser pointer, sepatu Nike, kelereng, bola golf, iPod, iPhone 3G, Vuvuzela (familiar ?) bahkan FaceBook. Untuk yang terakhir ini memang beneran ‘FaceBook’ atau buku yang ditempelkan wajah-wajah orang termasuk wajah Tom Dickson tentu saja.

Saya sendiri baru mengetahui Will it Blend ? setelah berburu beberapa video terkini terkait keberadaan iPhone 4 official video. Ada rasa heran ketika Tom memulai aksinya dalam menghancurkan satu persatu benda yang sangat familiar dengan pekerjaan maupun style gaya hidup seseorang, dan terlepas dari semua ke-ekstreman cara marketing yang dilakukan, saya salut dengan ketahanan, kekuatan penghancuran dan kualitas dari blender yang dipromosikan tersebut. Kira-kira apa lagi ya yang bakalan diblender ?


Mengenal Motorola Q CDMA

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Seperti yang pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya bahwa ponsel Motorola Q CDMA bukanlah ponsel baru keluaran terkini alias jadul. Rilisnya kurang lebih berawal pada tahun 2005 yang kalau disejajarkan dengan rilis ponsel Nokia, hampir bersamaan dengan seri 7610 dan 6630 yang diklaim sebagai ponsel pertama Nokia berkamera 1 MP, begitu pula dengan Nokia Communicator 9500 yang hanya beresolusi VGA.

Itu sebabnya untuk ukuran sebuah ponsel pintar (baca:smartphone), Motorola Q CDMA hanya menyematkan resolusi kamera yang sama dengan kemampuan ponsel berkamera saat itu yaitu sebesar 1,3 MP. Demikian pula dengan kemampuan koneksi nirkabelnya yang tidak mendukung Wifi secara built in kendati dapat ditambahkan secara opsional.

Sebagai sebuah ponsel pintar, Motorola Q CDMA sudah memenuhi satu syarat atau standar mutlak yaitu menggunakan sistem operasi sebagai basic pengoperasian ponsel. Adapun sistem operasi yang digunakan adalah Windows Mobile Smartphone 5.0. Penggunaan rilis sistem operasi tersebut makin menguatkan image bahwa ponsel Q series ini memang dirilis kisaran lima tahun lalu, karena untuk standar ponsel/pda bersistem operasi Windows Mobile rilis terkini minimal menggunakan seri 6.1 atau 6.5. Adapun kode yang digunakan, tidak lagi disebut Windows Mobile Smartphone Edition tapi Windows Mobile Standard Edition.

Sistem operasi Windows Mobile Smartphone 5.0 ini memiliki satu ciri yang dapat dikenal dengan mudah yaitu tidak mendukung layar sentuh. Pengoperasiannya murni mengandalkan keypad dan tombol navigasi. Ciri-ciri lainnya dapat dilihat secara kasat mata walaupun tanpa menyentuh langsung, yaitu dilihat dari tampilan homescreen atau layar utama yang tidak menampilkan jam pada list taskbar yang sejajar dengan simbol sinyal.

Secara bentuk dan desain, Motorola Q CDMA mengingatkan saya pada pda rilis lama seperti Audiovox Thera, 6700 ataupun O2 lama yang pernah saya miliki dahulu. Kotak tipis dan memiliki area bagian bawah yang mirip dengan desain khas Nokia tipe E71.

Kesan ponsel jadul dapat dilihat pula dari koneksi yang diselipkan pada ponsel Motorola Q CDMA, masih menggunakan infra red yang kini sudah mulai ditinggalkan. Demikian pula dengan jenis kartu memory eksternal, yang masih menggunakan tipe MiniSD. Yang lebih unik lagi, pada sisi kanan ponsel terdapat tombol navigasi yang dinamakan Jog Dial atau istilahnya TrackWheel pada ponsel BlackBerry. Tombol navigasi ini biasanya terdapat pada ponsel rilis tahun-tahun serupa seperti BlackBerry 8700 yang belum mengenal sistem navigasi TrackBall atau Sony Ericsson P series.

Menggunakan ponsel Motorola Q CDMA tidak jauh berbeda rasanya dengan penggunaan ponsel O2 XPhone iim yang secara kebetulan memiliki sistem operasi yang sama. Tidak banyak kesulitan yang saya alami dalam pengoperasiannya. Hanya saja jika disandingkan, ponsel Motorola Q CDMA memiliki kekurangan dan kelebihan terkait thumbboard QWERTY yang disandangkan. Kekurangannya tentu saja pengguna (dalam hal ini saya pribadi) diwajibkan mempelajari kembali lokasi tombol huruf dan angka yang kadang jujur saja agak membingungkan. Walaupun susunannya sama dengan keyboard pc, namun tetap saja terbentur ukuran dan fungsi shift. Sebaliknya menggunakan ponsel Motorola Q CDMA yang sudah mengadopsi thumbboard QWERTY seperti halnya ponsel Blackberry ataupun lokal yaitu, tidak ada waktu tunggu atau jeda yang diperlukan ketika memanfaatkan fitur Messaging-nya.

Terkait kapasitas phonebook yang tempo hari menjadi momok bagi saya sehingga memilih Motorola Q CDMA sebagai salah satu alternatif, rupanya bisa terjawab dengan memuaskan mengingat penggunaan sistem operasi (sebagai satu syarat mutlak sebuah ponsel pintar) yang memiliki satu kelebihan tanpa batas. Tergantung pada sisa memori internal yang ada.

Yang tak kalah menarik adalah persoalan daya tahan batere yang sempat diklaim hanya bertahan sekitar 3 jam oleh seorang Rekan. Setelah mengujinya sendiri, dengan pemakaian normal tentu saja, daya tahannya ternyata mampu mencapai tempo 2 hari. Itupun rata-rata daya yang tersisa masih sekitar 25%-nya. Tak lupa terkait harga yang tergolong murah apabila dibandingkan dengan ponsel dalam rentang harga serupa.

Artinya, untuk sebuah ponsel berjaringan CDMA, bolehlah saya merekomendasikan Motorola Q CDMA sebagai teman baru bagi yang berminat mengganti ponsel saat ini.


Motorola Q CDMA Jagoan Baru PanDe Baik

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Motorola Q sebagai ponsel berjaringan CDMA pasca kasus penuhnya memori phonebook yang tersedia dalam ponsel Nokia 6275i ditambah memori kartu Telkom Flexy. Sekedar informasi bahwa kapasitas phonebook yang disediakan oleh ponsel Nokia 6275i CDMA sebanyak 500 dengan pilihan multiple entry yang artinya bisa jadi satu nama kontak memiliki dua sampai tiga nomor telepon, alamat email, alamat web, catatan khusus atau bahkan image foto, sedangkan kartu Telkom flexy yang saya miliki hanya mampu menampung seperlimanya atau sekitar 100 kontak dengan perbandingan 1:1, yang artinya satu nama untuk satu nomor kontak.

Ternyata mau tidak mau yang namanya ‘kepenuhan kapasitas memori phonebook baik yang tersedia dalam memory ponsel maupun kartu dialami juga. Kalau tidak salah dimulai sedari awal tahun 2010. Bisa jadi lantaran saat itu saya menemukan kontak teman-teman masa sekolahan SMA yang kemudian merencanakan Reuni awal April kemarin, juga kontak Semeton Pande pasca odalan Tamblingan akhir Juni lalu. Ditambah kontak beberapa nama Rekanan yang mengajukan permohonan Termyn Pembayaran. Klop dah…

Berbekal kesulitan tersebut, saya memutuskan untuk mencari tahu tipe ponsel yang sekiranya memiliki kapasitas phonebook yang mampu menjangkau jumlah minimal 600-an atau kalopun ada ya unlimited. Sepengetahuan saya Nokia memang sudah merilis ponsel berjaringan CDMA terbaru yang memiliki kapasitas phonebook hingga jumlah 1000 dengan multiple entry yang sayangnya dipasarkan dengan harga diatas 2 juta rupiah. Alamak…

Pilihan lainnya tentu saja mencari tipe ponsel yang menggunakan sistem operasi karena sepemahaman saya, ponsel bertipe smartphone ini memiliki kapasitas phonebook shared memory yang artinya unlimited tergantung pada memory internal yang dimiliki. Sayangnya (lagi) bisa dikatakan sangat sulit mencari ponsel bersistem operasi dengan harga terjangkau (kalo bisa siy kisaran sejutaan atau malah dibawahnya).

Bersyukur beberapa bulan lalu saya sempat melihat iklan ponsel berjaringan CDMA yang ditawarkan dengan harga murah disebuah media cetak lokal. Motorola Q series. Kalo tidak salah saat itu harga baru yang ditawarkan berada pada angka 1,3 juta. Yang menjadi ketertarikan saya adalah penggunaan sistem operasi Windows Mobile yang artinya sudah memenuhi persyaratan yang saya ajukan tadi.

Motorola Q CDMA sebenarnya merupakan sebuah ponsel pintar keluaran jadul sekitaran tahun 2005 yang kemudian secara berkala dirilis kembali pada Mei 2006 dan April 2007. Ponsel yang digadang-gadangi bakalan menyaingi ketenaran Blackberry saat itu nyatanya tidak mampu menarik minat, bisa jadi lantaran form factor desain yang ‘gak ada bagus-bagusnya’ komentar seorang teman. Beberapa Informasi negatif yang saya baca dari komentar para Kaskuser, membahas secara mengkhusus tipe ponsel ini adalah daya tahan batere yang dalam sehari bisa dua kali charge dan terkait error yang dialami ketika batere mencapai titik habis.

Beruntung saya mendapatkan informasi positif dari seorang pengguna Motorola Q CDMA yang kedapatan ingin menjual kembali ponsel yang dibelinya sekitar enam bulan lalu. Soal daya tahan batere, sebetulnya dengan pemakaian normal, bisa melewati usia satu hari saja sedangkan yang dikatakan dua kali charge barangkali lantaran penggunaan ponsel sebagai modem pc secara full atau aktif terus menerus. Demikian pula dengan error yang tak pernah dialami sekalipun. Well, informasi ini sepertinya masuk akal bagi saya mengingat pengalaman saya yang tidak jauh berbeda saat menggunakan ponsel O2 XPhone iim.

Motorola Q CDMA saya tebus dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang anggaran yang saya sediakan. Hanya sebesar 875ribu saja. Tanpa pikir panjang ponsel berjaringan CDMA ini saya ambil dengan segera untuk menggantikan posisi Nokia 6275i yang sudah kewalahan dengan daftar phonebooknya.

Lantas bagaimana pengalaman dalam menggunakan ponsel Motorola Q CDMA ini ? simak ditulisan berikutnya. :p

* * *

Lantaran komitmen yang saya ambil untuk fokus pada tema ulasan keris sedari awal Agustus kemarin,  dengan terpaksa tulisan ini saya publikasikan terlebih dahulu lewat Notes FB. Jadi Mohon Maaf bagi yang sudah pernah membacanya…


DownLoad sebagian via Torrent yuk ?

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Pernah dengar kata ‘Torrent’ gak ? jujur, saya pribadi hingga akhir bulan lalu masih bingung dengan istilah ini, kendati sudah sejak lama ada satu aplikasi yang nangkring didalam laptop menggunakan kata tersebut. ‘BitTorrent’. Dalam benak saya, ada dua hal yang identik dengan kata ‘Torrent’ yaitu ilegal dan pornografi. Hal yang sama terlintas ketika saya mendengan kata ‘Crack’. Mengapa ? silahkan hunting di GooGLe dan lihat tampilan halaman yang menyajikan file atau informasi berkaitan Torrent.

Torrent secara gamblangnya merupakan sebuah metode alternatif untuk mengunduh (baca:download) file dengan cara yang berbeda dari metode yang lumrah diketahui. Umumnya untuk melakukan pengunduhan (selanjutnya saya gunakan kata DownLoad saja ya ?), pengguna tinggal menekan gambar atau tulisan/teks yang menerangkan bahwa file/aplikasi berada pada alamat tersebut. Aktifitas download akan berjalan secara otomatis (dan tidak ada pilihan/opsi lain) hingga selesai.

Ketika mendownload sebuah file/aplikasi dengan memanfaatkan Torrent, pengguna tidak serta merta mendapatkan file/aplikasi yang diinginkan saat menekan gambar atau tulisan teks menuju sebuah alamat atau link yang dimaksud, namun hanya mendapatkan satu buah file dengan ekstensi *.torrent. File Torrent ini merupakan file perantara yang didalamnya berisikan informasi terkait file/aplikasi yang diinginkan dan baru dapat diunduh dengan sempurna dengan memanfaatkan aplikasi tambahan. Salah satunya ya BitTorrent yang saya gunakan tersebut.

Lantas apa kelebihannya menggunakan Torrent ketimbang metode download yang lumrah diketahui ? dan apa maksud kata ‘sebagian’ pada judul diatas ?

Dengan Torrent, pengguna dapat memilih satu dua atau beberapa file atau juga semua yang terdapat didalam file Torrent tersebut dan mendownloadnya. Yang lain ? seumpama memang tidak diperlukan ya biarkan saja. Jadi disini pengguna dapat lebih menghemat waktu (untuk mendownload) dan biaya (jika koneksi yang digunakan mahal dan terbatas). Belum paham ?

Sebagai gambaran, katakanlah saya ingin mengunduh 3 (tiga) file audio/mp3 yang terdapat dalam sebuah album kompilasi lama ‘Live Woodstock 99’ yang ukuran totalnya mencapai 172 MB. Seumpama file tersebut diambil dengan menggunakan cara yang umum, barangkali akan memerlukan waktu hingga dua hingga tiga jam dan saya akan mendapatkan semua file audio/mp3 termasuk dari grup band yang tidak saya inginkan. Dengan bantuan Torrent, saya dapat memilih untuk mengambil 3 (tiga) file audio/mp3 dari grup band yang diinginkan saja dan meninggalkan yang lainnya. Sebagai informasi, bahwa untuk mendownload 3 (tiga) file tersebut yang hanya berukutan sebesar 13,8 MB, saya paling tidak membutuhkan waktu lima belas sampai dua puluh menit saja.

Sayangnya untuk kecepatan download-nya sendiri Torrent bisa dikatakan kalah cepat dibandingkan dengan menggunakan metode umum (yang biasanya saya alihkan pada aplikasi Internet DownLoad Manager). Dengan ukuran yang sama (13,8 MB), aplikasi IDM hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima sampai sepuluh menit. Namun apabila dibandingkan dari segi ‘pilihan’-nya secara keseluruhan dalam ukuran yang lumayan besar, jelas Torrent lebih menguntungkan. Maka dari itu Torrent saya rekomendasikan sebagai metode Download alternatif, apabila pengguna lebih membutuhkan sebagian dari keseluruhan isi file/aplikasi yang akan di-download.

Ohya, setelah beberapa hari mencoba Torrent, ada juga satu kelebihan berburu lewat Torrent dibandingkan dengan hunting file dengan cara umum dan mendownloadnya. Yaitu mampu mencari file audio/mp3 rilis lama seperti ‘Live Woodstock 99’ tadi, ‘Live Woodstock 94’, soundtrack AirHeads, Batman Forever dan Terrorvision. Semua yang saya cari (dan akhirnya didapatkan melalui Torrent) tersebut adalah koleksi yang saya miliki dalam bentuk media kaset dan tidak jua saya temukan di 4shared sekalipun.