Skip to main content

Menikmati Previlege nama Buk Alit

Ternyata meskipun saya selalu hadir setiap kali pengambilan pesanan milik istri di beberapa venue seputaran rumah ataupun kantor, yang dikenal oleh para pemilik adalah nama 'buk Alit' ketimbang nama saya sendiri. 

Warung lawar Bu Rai Kerni misalnya.
Biarpun saya baru datang, duduk sante menunggu antrean sambil main hape, tapi biasanya diberikan mendahului dari 1-2 orang lain dengan alasan sudah melakukan pesanan sebelumnya. Itupun gak perlu menyebut nama dan apa pesanannya, karena Bu Rai penjualnya hafal saya mengambil pesanannya Buk Alit lengkap dengan rinciannya. Lawar 100, Sate 20, Ares 20.
Termasuk hafal juga dengan pesanan tambahan 5 tusuk sate lilit yang biasanya dinikmati sebagai 'penyemeng sembari lanjut ke aktifitas lainnya.

Nama 'buk Alit' juga langsung disebut begitu saya turun dari kendaraan yang terlihat langsung dari si penjual Warung betutu Bu Wati atau yang dulu dikenal dengan Liku Gatsu. Tanpa perlu duduk manis mengantre, tanpa perlu menyebut nama.
'Buk Alit satu bungkus dik...'

Bahkan saat melakukan pemesanan nasi goreng pas jam makan siang di kantor lewat telepon ke nomor Mas Pur, yang disebutkan oleh yang bersangkutan pas diminta antar adalah 'owh ini suaminya Buk Alit yang di lantai 2 itu kan ?'

Duh... nama 'Buk Alit' tampaknya memang lebih beken ketimbang nama saya sendiri...
Rahajeng nyanggra penampahan Galungan ya Gaes...

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.