Skip to main content

Jalan Panjang menuju Pencairan 34 M Dana Bantuan Rumah Layak Huni Badung

Ndak nyangka.
Serius… saya ndak nyangka sama sekali.
Bahwa per Senin kemarin, usaha keras kami di Bidang Perumahan bersama tujuh tenaga kontrak yang banyak membantu proses verifikasi bantuan rumah layak huni di Kabupaten Badung, akhirnya bisa terwujud jua.
Padahal dalam tiga minggu terakhir ini, saya kelihatannya agak otoriter memaksa mereka lembur siang malam untuk bisa menyelesaikan proses ini tepat waktu. Apa daya molor seminggu.

Tapi ini prestasi buat kami.
Apalagi setelah mendapat kabar bahwa pimpinan masuk sel jeruji senin 2 oktober lalu, sempat membuat drop semua semangat yang ada. Namun keinginan besar untuk bisa menyelesaikan semuanya, jadi makin membara saat didukung oleh kepala dinas dan sekretaris utamanya terkait komunikasi antar pimpinan instansi. Yang tadinya dihandel penuh pak Kabid kami.

Proses pencairan atau tepatnya seremonial kemarin, berlangsung singkat. Gak ada yang namanya makan siang dan diskusi tanya jawab. Hanya menyampaikan kepedulian Pemerintah Kabupaten Badung serta komitmen membangun kepada masyarakatnya, sudah gitu aja.

Selain tujuh tenaga baru yang ramenya minta ampun dan direkrut awal tahun 2017 ini, saya juga mendapatkan banyak bantuan kawan pindahan dari Klungkung, yang secara pengetahuan banyak tau soal pemanfaatan dana ini. Ilmu kanuragannya tergolong mumpuni, jadi ndak heran kalo progres yang tercapai begitu pesat di awal tahun. Termasuk dua mahmud yang tergolong gencang bantuin saya untuk penugasan yang ndak mampu saya selesaikan. Pula bantuan rekan seruangan yang ndak kalah pentingnya.

Banyak cerita dan pengalaman baru yang saya dapatkan sejauh ini. Tentu melengkapi semua keluh kesah yang menghiasi 3 tahun masa pengabdian di jalan lingkungan. Baik dari sisi positifnya maupun maki-makinya. Bahkan malam pasca pencairan kemarin, masih ada kok yang marah-marah karena merasa tidak dianggap lantaran persoalan internal desa disangkutpautkan dengan hasil keputusan tim kami di Dinas.

Namun demikian, perjalanan panjang menuju pencairan dana bantuan ini masih banyak bolong-bolongnya. Saya pribadi satu dua hari ini masih terfokus ke bagaimana nanti kami bisa tampil lebih baik lagi dihadapan masyarakat dan aparat Desa. Pula proses melengkapi persyaratan administrasi dan lainnya. Lumayan berat. Tapi begitu semua ini selesai, waktu luang dan kualitas tidur jadi lebih nikmat. Saya pun kini mulai leyeh leyeh lagi saat senggang di basement kantor.

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.