Meringis dan Tertawa bareng Benny Rachmadi

6

Category : tentang SKetSa

Melanjutkan aksi kartun opini oleh Benny Rachmadi dari duo Benny & Mice dalam buku ke 2, Dari Presiden ke Presiden, petikaian Indonesia dengan Malaysia berkaitan dengan Ambalat pun tak luput menjadi perhatiannya. Wajah Pihak Indonesia yang sangar ditimpali dengan wajah ‘minta perdamaian’ dari pihak Malaysia benar-benar mengena apalagi  dibalik ‘perdamaian’ itu secara diam-diam Malaysia mengambil alih Ambalat dan berhasil…

Kebijakan 2

Kebijakan pemberlakuan penggunaan bahan bakar Pertamax bagi kendaraan pribadi yang tempo hari membuat saya terbengong-bengong pun ada disitu.  Demikian pula dengan tingkah polah para tim sukses yang tidak membayar pesanan baju kaos mereka lantaran kalah dalam pemilu 2009 lalu. Ironis memang…

Tampaknya karya kreatif kartun opini oleh Benny Rachmadi ini gak Cuma membuat saya meringis tapi juga tertawa seakan mengejek diri ita sendiri. Apalagi kalo bukan soal GENGSI rakyat kita yang tidak mau dikatakan miskin oleh orang lain. Walaupun kondisi keuangan tidak mencukupi, minimal yang namanya penampilan dan gaya harus tetap nomor satu. Momen Lebaran paling sering menjadi contoh, Mudik dengan gaya sejuta dan saat balik lagi ke kota ? huahahaha… Adaaa aja nih Mas Benny

gengsi dan Teknologi

Termasuk menurunnya kualitas jaringan telekomunikasi mencakup koneksi internet ditengah persaingan (baca:penurunan) harga yang dilakukan oleh para operator. Mentang-mentang murah. Hehehe…

Meringis bareng Benny Rachmadi

5

Category : tentang SKetSa

Tampaknya yang namanya kreatifitas berkarya ga’cuma dilakukan saat bareng saja, Benny Rachmadi dari duo Benny & Mice, kali ini tampil solo dalam buku kumpulan kartunnya, Dari Presiden ke Presiden buku ke 2. Isinya ya coretan karya Beliau yang dimuat dalam Harian dan Mingguan Kontan edisi 1998 hingga 2009.

Seperti halnya komik strip Benny & Mice pula kartun opini milik Jawa Pos, apa yang disampaikan lebih banyak menyentil kebijakan-tingkah polah pejabat dan Negara ini hingga tak jarang kita sendiri meringis saat mencermatinya satu persatu.

Salah satu yang paling mengena adalah kebijakan kenaikan BBM pada awal kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005 lalu, yang sempat memicu berbagai demonstrasi di negeri ini bahkan memenjarakan salah satu rekan saya Gendo Suardana setelah divonis bersalah lantaran membakar gambar eSBeYe sebagai bentuk kekecewaan rakyat saat itu.

Tingkah PoLah Presiden

Kecelenya tokoh yang sama akan ‘penipuan’ temuan paling fenomenal Blue Energy dan Supertoy pun tak luput dari coretannya. Demikian pula dengan ngototnya Ibu Mega pada pemilu 2009 lalu mengajukan keberatan kepada MK dan berharap masih akan ada pemilu satu putaran lagi.

Tadi saya sempat mengatakan kalo buku ini merupakan kompulan kartun opini hingga tahun 2009, ini dibuktikan dengan coretan yang mengungkapkan kekecewaan fans sebuah klub sepakbola asing Manchester United yang gak jadi datang bertanding ke Indonesia gara-gara Bom yang meledakkan dua hotel besar di ibukota Jakarta, yang notabene selain menjadi satu simbol Amerika selaku sasaran pengeboman, dikabarkan para squad MU tersebut bakalan menginap ditempat yang sama.

TeRoRisme

Gak Cuma itu saja kok, masih banyak coretan kartun yang dilahirkan oleh seorang Benny Rachmadi dari duo Benny & Mice, mungkin nanti saya lanjutkan lagi.

Mohon Tas-nya dibuka Mas

15

Category : tentang KeseHaRian

Sebenarnya cerita ini sudah lama terjadi, tepatnya pasca pengeboman hotel JW Marriot yang akhirnya membuyarkan semua impian para fans fanatik Manchester United (MU), karena sedianya mereka bakalan bertandang ke negeri ini atas bantuan sebuah operator telekomunikasi.

Dua kali, baca : dua kali, dalam selang waktu seminggu saya mengalami kejadian dengan alur yang sedikit berbeda, namun intinya tetap sama. Dicurigai sebagai Teroris…

Kali pertama saat sepulang dari Bali Orange Communications (BOC), saya dihubungi Mertua dan diminta tolong untuk membeli sebuah obat (krim wajah) disebuah Klinik Kecantikan daerah Tanjung Bungkak. Dengan pe-de saya melangkah masuk areal klinik setelah memarkirkan mobil diparkiran depan, tanpa peduli teriakan satpam security. Ketidakpedulian saya ternyata berdampak buruk, langkah sayapun dihentikan. Mereka bertanya ‘Bapak mau kemana ?’ saya jawab ‘mau ke klinik, nyari obat krim…’

‘Bisa tunjukkan identitas ?’ sambung mereka. ‘Maksudnya ?’ saya balik bertanya karena saat saya kemari sebelumnya tidak pernah ditanya macam-macam. ‘Mohon Tas-nya dibuka Mas…’ pinta mereka. Loh ?

Setelah menunjukkan isi tas dan identitas, barulah saya dipersilahkan memasuki Klinik. Ternyata alasan mereka sungguh konyol. Wajah saya yang katanya mirip penduduk pendatang, berkacamata hitam (padahal kacamata minus), memakai jaket hitam dan membawa ransel. ealah… dikirain Teroris toh ?

Kali kedua malah lebih konyol lagi. Kebetulan Istri minta tolong untuk melegalisir Akte Perkawinan kami untuk melengkapi syarat pengangkatan status kepegawaian ke kantor Catatan Sipil yang berada disebelah timur kantor saya. Selepas makan siang sayapun meluncur ke lokasi masih dengan seragam Hansip (hijau) dan tentu saja menggendong ransel berisikan laptop. Malas meninggalkannya di meja kantor, khawatir ada apa-apa.

Masuk areal parkir Basement beberapa mata terlihat mulai mengawasi, namun segera berlalu saat saya menyapa (dengan bahasa Bali) seorang pedagang lumpia langganan kami dikantor yang sedang melayani pembeli disitu. Begitu sampai areal tangga dan mulai naik ke lantai 3, seorang pegawai tampak tergopoh-gopoh mengejar dan mencoba menghentikan langkah saya.

‘Bapak mau kemana dan ada keperluan apa ?’ tanya orang tersebut. ‘saya mau ke lantai 3 untuk melegalisir Akte Perkawinan”. “Bisa dibuka Tas-nya Pak ?’  pinta orang itu.

DAMN ! pertanyaan yang sama, bathin saya waktu itu. Orang ini pasti mencurigai saya sebagai Teroris (lagi). Sambil ngedumel saya membuka tas ransel saya ‘Apa dikantor ini gak ada Pegawai yang bawa laptop ya ?’