Ogoh-Ogoh Gagah Dahulu dan Kini

9

Category : tentang InSPiRasi

Mengunjungi Bali belumlah lengkap jika belum menyempatkan diri untuk menonton arak-arakan Ogoh-Ogoh yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kesanga atau Malam sebelum Umat Hindu merayakan Tahun Baru Caka yang dikenalpula dengan istilah Nyepi. Sebagai sa;ah satu produk seni Budaya Bali, Ogoh-ogoh hingga kini telah banyak mengalami perkembangan. Baik dari bahan dan cara pembuatannya, hingga penokohan atau makna yang dibawakannya.

Jika pada era tahun 90an, Ogoh-ogoh yang dibuat umumnya berwujud makhluk-makhluk menyeramkan dimana rangkanya dibuat dari dari bambu lalu dibungkus dengan kertas, kain atau benang pada bagian-bagian tertentu, maka pada tahun terakhir, jelas sangat jauh berbeda. Tak hanya dari segi rangka, bahkan secara keseluruhan Ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dari bahan Gabus. Selain ringan, Kelebihannya lantaran Gabus lebih mudah dipahat dan dibuat menjadi macam-macam bentuk yang diinginkan tanpa memerlukan banyak waktu dan tenaga seperti halnya merakit bambu. Sayangnya secara finansial, penggunaan Gabus tentu jauh lebih banyak memerlukan modal ketimbang merakit bambu dan kertas.

Secara penokohan pun bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Siapa sih masyarakat Bali seputaran Kota Denpasar ataupun Sekaa Teruna Teruni yang bisa melupakan Ogoh-ogoh dengan figur Shincan tiga atau empat tahun yang lalu ? atau bahkan figur kenakalan anak-anak Negeri Tetangga Upin & Ipin ? ada juga yang mengambil figur Sangut Delem bahkan sang pedangdut ngeborpun ada.

Padahal secara makna, Ogoh-ogoh yang biasanya diarak keliling desa ini tidak lepas dari aktifitas Ritual, dalam hal ini kaitan upacara Bhutayadnya menjelang hari suci Nyepi. Ogoh-ogoh baru akan dihadirkan segera setelah usai pelaksanaan upacara. Diiringi suara gambelan –musik tradisional Bali- yang bertalu-talu ditingkah riuh rendah suara para pengarak. Semua itu mengandung makna untuk mengusir roh-roh jahat dari Desa yang bersangkutan. Maka itu sebabnya, perwujudan dari Ogoh-ogoh dibuat menyeramkan sebagai simbolisasi sifat-sifat keserakahan, ketamakan dan keangkaramurkaan.

Seiring perkembangan jaman, memang tidak salah sih jika profil ogoh-ogoh dibuat agak melenceng. Bahkan ada juga yang diselipi sindiran bagi para penguasa atau pejabat yang korup hingga yang berusaha untuk menyampaikan keluh kesah masyarakat secara vulgar. Wong roh jahat jaman edan begini tak lagi berbentuk menyeramkan, ada juga yang gagah, perlente bahkan berdasi. Hehehe…

Sayangnya Image ogoh-ogoh perlahan makin memudar seiring perilaku pengarak yang kerap bersentuhan dengan minum minuman keras atau bahkan kerap memicu perkelahian antar pengarak. Jiwa muda lebih banyak berbicara disini. Meski pada tahun lalu, Ogoh-ogoh sempat pula dilombakan oleh Walikota Denpasar untuk menarik minat wisatawan dan juga kreatifitas para generasi muda yang diharapkan tidak melulu berlaku negatif.

Sekedar Informasi, untuk tahun 2011 prosesi pengarakan ogoh-ogoh sedianya jatuh pada hari Jumat malam tanggal 4 Maret mendatang. Jadi, bagi kalian yang penasaran dan ingin menyaksikannya langsung, silahkan meluangkan waktunya dari sekarang.

(sebagian kecil dari sumber materi diatas saya ambil  dari buku Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991 dan Ilustrasi Foto saya ambil dari besutannya Pak Ian Sumantika via FaceBook)


Nurdin Halin dan Harapan Revolusi PSSI

3

Category : tentang Opini

Sepertinya nama tokoh yang satu ini bisa dikatakan sangat fenomenal gaungnya di awal tahun 2011. Nurdin Halid. Nama yang sebelumnya dikenal sebagai seorang pengusaha dan politikus negeri ini, terhitung tahun 2003, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI. Dalam menjalankan jabatannya ini, Nurdin bisa dikatakan Kontroversial, lantaran menjalankan organisasi dari balik jeruji besi.

Berdasarkan beberapa catatan, pada pertengahan tahun 2004 Nurdin Halid sempat ditahan sebagai Tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal, namun tak sampai setahun dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan. Nurdin Halid kembali menikmati jeruji besi pada Agustus 2005 setelah dinyatakan bersalah pada kasus pelanggaran kepabean impor beras dari Vietnam dan divonis selama dua tahun enam bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Baru pada Agustus 2006 Nurdin dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari Pemerintah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Status Pria 53 tahun kelahiran Watampone Sulawesi Selatan inilah yang kemudian digugat saat ia memutuskan kembali untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI Maret mendatang. Padahal dalam Statuta FIFA pasal 32 ayat 4 tertulis “The members of the executive committee… must not have been previously found guilty of criminal offence,” yang artinya Anggota Komite Eksekutif tidak boleh pernah dinyatakan bersalah atas tindakan kriminal. Sayangnya oleh PSSI, pasal tersebut dipelintir menjadi Pasal 35 ayat 4 yang berbunyi “…harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal saat kongres.”

Disamping itu, Nurdin Halid ditenggarai pula sebagai dalang dibalik penggembosan pencalonan Arifin Panigoro dan KSAD Jenderal TNI George Toisutta yang dinyatakan tidak lolos Verifikasi oleh Komite Pemilihan. Hal ini dikaitkan dengan salah satu persyaratan calon Ketua Umum PSSI yang dalam Statuta FIFA berbunyi “They shall have already been active in football” yang artinya diisyaratkan bagi calon Ketua Umum telah aktif sekurang-kurangnya lima tahun dalam Sepakbola.

Pro-Kontra pun kemudian mewarnai persiapan Kongres PSSI yang akan digelar bulan Maret mendatang di Bali. Dari yang turun kejalan, berdemo dengan yel yel ‘Turunkan Nurdin Halid’ hingga yang berupaya dengan menyanyikan karya ciptaannya melalui portal Video YouTube. Dari yang mengaku sebagai Putri Nurdin Halid satu-satunya dengan menuliskan Surat Terbuka seperti yang dipublikasikan melalui Kompasiana hingga massa yang berusaha mendukung mati-matian Pro-Nurdin Halid.

Beberapa Dugaan pun menyeruak, bahwa Nurdin Halid selain mengincar kursi Ketua Umum PSSI Periode 2011 – 2015, pun mengincar posisi Ketua Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF). Dalam situs resmi AFF, nama Nurdin Halid masuk nominasi bersama Sultan Haji Ahmad Shah (Malaysia) dan Dato Worawi Makudi (Thailand). Adapun untuk pemilihan pengurus AFF periode mendatang akan berlangsung di Kongres AFF Bangkok Thailand, 10 April 2011.

Harapan untuk melakukan perubahan Revolusi di tubuh PSSI ini, tampaknya masih memerlukan jalan yang panjang. Entah berapa demo lagi yang harus dilakukan oleh masyarakat yang menginginkan hal itu terjadi. Baik dengan penyegelan Kantor Sekretariat PSSI yang kemudian kunci pembukanya diserahkan langsung kepada Menpora Andi Malarangeng, dengan harapan agar Pemerintah mau mengintervensi PSSI atau malah membekukannya untuk sementara waktu atau dengan membuat PSSI Tandingan seperti yang dilakukan oleh massa di beberapa daerah.

Saking Fenomenalnya nama seorang Nurdin Halid, kabarnya kini ia sedang berancang-ancang untuk menuntut Menpora terkait komentar-komentar terhadap dirinya. Bahkan ia juga berani mengatakan bahwa Ilham Arief Sirajuddin, Wali Kota Makassar sebagai Pengecut. Hal ini barangkali didasari atas mundurnya PSM Makassar dari liga Indonesia dan beralih ke LPI. Tidak hanya itu, Nurdin Halidpun pernah mengatakan bahwa jangankan hanya sebagai Ketua Umum, sebagai Presiden pun ia mampu.

Tampaknya seorang Nurdin Halid dalam waktu satu dua bulan kedepan, bakalan tetap menjadi Headline News di beberapa media, karena harapan untuk melakukan perubahan Revolusi PSSI masih tetap digelorakan dengan semangat yang kian meluas.


Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang Penthouse

6

Category : tentang TeKnoLoGi

Playboy lagi, Playboy lagi. Tapi yakin deh, ini tulisan terakhir saya yang menceritakan tentang aksi heboh www.pandebaik.com selama bergelut dengan Torrentz, Playboy Magazine hingga PentHouse.

PentHouse ?

Kata terakhir yang saya sebutkan diatas, bagi yang masih belum familiar, kurang lebih bermakna sama dengan halnya Playboy Magazine. Sebuah majalah yang kabarnya dianggap sebagai kategori Pornografi dan katanya mampu merusak pikiran generasi muda bangsa Indonesia hingga sampai sel terkecil sekalipun sehingga dirasa perlu untuk dibabat habis dengan ancaman Undang-Undang.  Sayapun baru teringat dengan PentHouse ketika edisi Playboy yang terdownload sudah mencapai space 3 GB.

Dibandingkan dengan Playboy Magazine baik itu yang merupakan edisi rilis resmi USA, Argentina, Cheko, Greece, Philipina, Mexico hingga Slovenia ataupun edisi bonus tahunannya, ternyata PentHouse jauh lebih vulgar baik dari tema, isi tulisan, data pendukung hingga pose wanita telanjangnya. Hingga jujur saja saya malah jadi enegh saat berusaha menikmatinya halaman demi halaman. Bikin panas dingin…

Aura vulgarnya bahkan sudah terasa ketika pembaca membuka halaman demi halaman sedari awal. Makin menjadi ketika halaman makin dalam. Meski Tema yang diangkat beragam, namun gambar ataupun foto pendukungnya jauh lebih menantang bahkan sudah mengarah pada (maaf) hubungan seks. Berbeda jauh dengan apa yang disajikan dengan Playboy.

Kartun atau gambar sket khas majalah luarpun tergolong banyak tertampil di Playboy Magazine, lengkap dengan satu kalimat di bagian bawah gambar, yang lumayan membuat pembaca tersenyum simpul. Tidak demikian halnya dengan PentHouse. Nyaris 75 persen gambar ataupun foto yang terpampang, mampu membuat para pria normal yang membacanya (termasuk saya tentu saja) menelan ludah dan cepat-cepat membuka halaman berikutnya. Bukan bagaimana, tapi khawatir jika pikiran malah mulai keterusan mengarah ke aksi Pornografi.

Tidak hanya pada liputan utama, tapi juga tulisan pendukung dan iklan tentu saja. Lay outnya sendiri mengingatkan saya pada sebuah majalah gadget local yang kerap menurunkan liputan hal-hal konyol di seputaran kita, hanya sekedar mengingatkan betapa bodohnya manusia percaya pada hal-hal yang bisa dikatakan fenomenal. Begitu pula dengan PentHouse.

Menjual gambar atau pose wanita sexy telanjang dan terekam dalam satu eksemplar majalah barangkali tergolong ‘menarik’ untuk ukuran pria normal di Indonesia yang dikungkung oleh Undang-Undang dan Peraturan serta norma Agama. Sayangnya sepengetahuan saya, larangan itu hanya diperuntukkan bagi Playboy Indonesia saja. Barangkali jikapun kelak PentHouse berkeinginan sama dengan Playboy, ingin melebarkan sayap ke Indonesia, saya yakin bakalan bernasib sama. Dikepruk sebelum diterbitkan. Apalagi seumpama masih mempertahankan gaya liputan mereka seperti yang saya gambarkan diatas.

Padahal kalo Pemerintah dan juga para pembela Norma itu mau jeli, banyak kok tabloid esek-esek yang dijual walau secara sembunyi-sembunyi tak kalah menyajikan pose syur, cerita mesum atau bahkan iklan yang mampu menaikkan syahwat pembacanya. Tapi terlepas dari itu, Playboy Magazine (ternyata) jauh lebih sopan ketimbang PentHouse. Gag percaya ? Donlot aja via Torrentz. Hehehe…