Bersama MiRah Kembali ke RS Sanglah

6

Category : tentang Buah Hati

Beberapa persiapan untuk tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan sudah kami usahakan sedari hari kamis lalu, yang belum tinggal membeli buah dan camilan. MiRah GayatriDewi kami ajak ikut serta berbelanja ke Tiara Grosir hari jumat siang sepulang kerja. Tak nampak banyak perubahan saat itu. MiRah hanya mengeluhkan perutnya yang sakit namun tetap riang dan meminta saya (seperti biasa) menaikkannya ke kereta dorong barang belanjaan. Kami berkeliling mencari camilan, sementara ibunya sibuk di counter buah. MiRah bahkan sempat menaiki mainan Anjing yang berkeliling areal food court dan sudah berani tanpa perlu dipegang ibunya lagi. Kami pulang kerumah sambil menikmati satu cup es krim Campina yang dibagi bertiga.

MiRah muntah, beberapa saat kami tiba dirumah. Kami masih menganggapnya biasa lantaran memang cuaca yang kurang bersahabat tiga hari terakhir. Baru mulai khawatir ketika muntahnya mencapai kali ketiga, kira-kira pukul lima sore, Neneknya mulai mempertanyakan soal makanan yang dikonsumsi selama perjalanan tadi. Kami segera menghubungi dokter Widia, dokter anak yang kami percayai selama ini. Kami diminta datang pukul enam.

Setelah mendapatkan dua buah obat minum, satunya untuk mencegah mual dan lainnya antibiotik, kami meluncur pulang. Ada rasa khawatir disepanjang perjalanan karena MiRah punya history muntah seperti ini saat usianya beranjak bulan keenam. ketika kendaraan masuk ke ruas jalan Nangka, MiRah kembali muntah dalam jumlah banyak. Kami panik dan memutuskan untuk meminggirkan kendaraan. Jujur, ini pertama kalinya saya memaki orang dijalan lantaran mereka membunyikan klakson ketika kami membelokkan laju kendaraan secara mendadak.

Malamnya, kami berusaha untuk memberikan obat minum pada Mirah secara bertahap. Sesuai saran dokter anak, kami berusaha untuk tidak memaksakan MiRah meminum obat tersebut agar tidak memicu mual dan keinginan untuk muntah. Sayang, usaha kami tetap saja percuma.

MiRah muntah untuk kali yang kesebelas pada pukul empat pagi. Tubuhnya mulai terlihat lemas dan ia tak banyak bicara. Kami memutuskan untuk segera membawanya ke IRD Sanglah dan berharap mendapatkan pertolongan pertama. Banyak kekhawatiran yang ada pada kepala ketika itu. Dua yang terbesar adalah kamar perawatan yang penuh lantaran musim penyakit Demam Berdarah dan juga jarum infus. Kekhawatiran kami benar adanya. MiRah akhirnya untuk sementara ditempatkan di lorong IRD sambil menunggu kepastian adanya pasien yang keluar dari kamar perawatan. Jarum infus yang disuntikkan pada tangan kiri MiRah, tak kuasa menahan air mata kami menyaksikan tangisan MiRah yang seakan mengiba pada kami. Bisa jadi ini kali pertama MiRah yakin bahwa Bapaknya berbohong, mengatakan tidak apa-apa padanya ketika infus itu dibebatkan pada tangannya.

Atas bantuan Mertua dan famili dari keluarga Istri, pukul sebelas siang kami positif mendapatkan kamar perawatan Kelas I, yang artinya kami harus berbagi kamar dengan pasien lainnya. Tak apa, sepanjang tidak berada di lorong saja.

Beribu asa dan doa kami panjatkan untuk MiRah putri kecil kami, begitu pula semangat yang diberikan oleh puluhan teman di jejaring sosial pertemanan FaceBook, berusaha untuk menguatkan segala daya upaya yang harus kami lakukan. Keinginan untuk tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan pula odalan di kawasan Mangupura, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung harus dikorbankan saat itu juga.

Kami pun kembali menapaki selasar rumah sakit Sanglah…

Asal Mula istilah Pande (lanjutan)

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande.

Adapun tulisan ini sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Berkenaan dengan wangsa Paandie (asal kata Pande) yang akan dibahas tidak bisa terlepas dari perkembangan sekte diatas, dan di Bali khususnya karena wangsa Paandie itu sendiri merupakan salah satu bagian dari ajaran tersebut.

Adapun sumber ajaran Paandie itu berasal dari sekte Brahmana ialah salah satu sekte yang telah berkembang yang menempati urutan sangat penting diantara sekte lainnya. Pengikutnya bergelar wangsa Brahmana Paandie. Lebih jelasnya setelah Hindu jatuh ketangan Islam, istilah Brahmana tidak tampak lagi tetapi wangsanya masih ada yang sekarang disebut Pande Besi, Pande Mas dan lainnya. Tetapi keberadaannya sangat berbeda dengan yang ada di bali.

Di luar bali wangsa Paandie itu lebih berarti profesi saja, tidak ada kaitannya satu dengan lainnya. Tidak ada prasasti yang mengikat atau kewajiban moril dan rituil seperti yang ada di Bali. Di Bali Wangsa Paandie diikat dengan prasasti-prasasti dan Wimamsa-wimamsa leluhur dan secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan keluarga lainnya dibawah istilah wangsa.

Salah satu Prasasti yang sangat terkenal disebut “Pustaka Bang Tawang” sedangkan tempat penyiwiannya disebut Gedong Sinapa atau Batur Kemulan Kesuhunan Kidul. Pustaka Bang Tawang mengandung ajaran Kawikon, Kawisesan dan ajaran Tantang Raja Parana Dewa Tatwa dan Pamurtining Aksara (ilmu sastra) yang juga termuat sebagai dasar dari segala dasar ajaran sastra.

Yang terpenting tidak dimiliki oleh ajaran-ajaran sekte lainnya adalah ajaran “Aji Pande Wesi” merupakan ilmu unggulan yang dimiliki oleh aliran Wangsa Paandie. Dilihat dari prasasti dan dewa yang dipuja puji jelaslah bahwa wangsa Paandie ini dahulunya menganut sekte brahmana. Sedangkan kiblat pemujaannya berada di Kidul “kasuhunan kidul selatan” tempat berstananya Dewa Brahmana menurut Tatwa Dewa Nawa Sanga. Ajaran Pande Wesi inilah nantinya akan melahirkan istilah Aji Paandie.

Selain ilmu unggulan “Aji Pande Wesi”, Prasasti tersebut juga memuat ajaran Pemurtining Aksara (kesusastraan) seperti Aksara Dewa, Dasaksara, Pancaksara, Panca Brahma, Aksara Permuting bumi (ilmu tentang terjadinya alam semesta), Panca Bayu dan lainnya. Semua ajaran diatas kemudian dikenal sebagai “Aji Panca Bayu”.

Aji Panca Bayu merupakan bagian dari ajaran Panca Brahma Pancaksara yang berakar dari Aji Dasaksara Pamurtining, Aksara Anacaka sastra kesusastraan.
Aji Ngaran Sastra, Saka Ngaran Tiang Ngaran Pokok (ngaran = bermakna) yang secara umum mengandung pengertian yaitu Sumber dari ajaran sastra Kesusastraan. Sastra ngaran tastas, ngaran terang benderang. Astra ngaran api ngaran sinar
(dengan mengenal api orang akan mengenal terang, sebaliknya orang yang tidak mengenal sastra sama dengan buta huruf berarti hidup dalam kegelapan)

Demikian penjelasan Tatwa Aksara (filsafat aksara) yang tercantum di dalam Aji Saraswati, yang berarti tak terbatas sari patinya. Mengenai ajaran Aji Panca Bayu yang melahirkan istilah Paandie dijelaskan sebagai berikut :

Dalam ajaran Aji Panca Bayu memuat lima ajaran inti tentang Panca Cakra atau Panca Bayu yang kemudian disebut Panca Prana. Ajaran ini sangat dirahasiakan dan hanya boleh diberikan kepada penganut sekte brahmana. Panca Bayu atau Panca Cakra itu meliputi :

1. Prana Mantram : sumber dari segala sumber kekuatan cakra bertempat di Papusuhan atau pada jantung, keluar melalui hidung berfungsi sebagai hembusan
2. Apana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada pori pori seluruh tubuh, keluar menjadi air disebut Palungan (sumber air)
3. Sabana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada hati, keluar menjadi api melalui mata kanan
4. Udana Mantram : kekuatan bersumber pada ubun-ubun keluar menjadi garam (inti Baja)
5. Byana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada tiga persendian utama yaitu paha, tangan dan jari.

Cakram Mantram mengalir kepada paha menjadi kekuatan tanpa tanding, tahan api yang menyebabkan paha menjadi keras dan berfungsi sebagai landasan. Cakram Mantram mengalir ke tangan menyebabkan seluruh tangan menjadi kuat dan keras, tahan api, berfungsi sebagai palu. Cakram Mantram mengalir keseluruh jari jari tangan membuat jari menjadi tahan api, berfungsi sebagai penjepit atau sepit.

Dari ketiga sumber kekuatan inilah lalu melahirkan istilah Paandie yang kronologinya sebagai berikut :

Pa ngaran paha
An ngaran tangan
Die ngaran jeriji

Penyatuan Ketiga aksara menjadi Paandie dan selanjutnya ajaran tersebut diberi nama “Sundari Bungkah Sundari Nerus” sedangkan pustakanya disebut Pustaka Bang Tawang.

Bagi mereka yang memasuki dan memperdalam Aji Kawikon disebut Brahma Paandie, bagi mereka yang memperdalam Aji Kewisesan Satria disebut Arya Kepaandian” arya dalam bahasa jawa sama dengan Kesatria, sama dengan Gusti dalam singgih Bali. Selanjutnya bagi mereka yang menganut aliran Brahma ini disebut Wamsa Paandie atau lebih poluler disebut Wamsa Paandie, sedangkan tempat pemujaan pustakanya disebut Gedong Sinapa atau Gedong Batur Kemulan Kasuhun Kidul.

Demikian ringkasan yang dapat saya persembahkan. Semoga bermanfaat.
oleh I Wayan Putrawan, SH (Yande)

Asal Mula istilah Pande

3

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

Lantaran saking panjangnya, tulisan tersebut akan saya pecah menjadi 2 bagian. Tulisan pertama bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande, dan Tulisan kedua tentang Ajaran Aji Panca Bayu yang merupakan perkembangan dari keberadaan Sekte (aliran) diatas.

* * *

Mengapa disebut Pande?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya (Yande Putrawan) akan mengutip dari sumber yang saya miliki. Namun dikarenakan usia buku yg sangat tua menyebabkan tulisan pada covernya susah dibaca, bagi mahasiswa yang kebetulan memerlukan referensi tentu akan sulit untuk mengutip. Mohon Maaf untuk keterbatasan tersebut.

Di Indonesia pernah kita mengenal beberapa sekte antara lain Sekte Aji Saka, Sekte Markandeya, Sekte Waisnawa, Sekte Agastya, Sekte Pasupatiya, Sekte Ganadipa, Sekte Buda Mahayana, Sekte Budha Tantrayana, Sekte Bhairawa, Sekte Siwa, Sekte Bramana, Sekte Rudra, Sekte Maisora, Sekte Sambu dan masih banyak lainnya.

Diantara sekte tersebut yang lebih dikenal di indonesia adalah Sekte Sakeya atau Sekte Saka. Aliran ini masuk ke Indonesia pada tahun 75 Masehi, sehingga tahun tersebut disebut tahun Caka bernafaskan ajaran Brahma Siwa. Di Bali jelas dapat kita lihat bahwa perkembangan agama sekte itu terjadi pada jaman Kesari Warmadewa, memasuki zaman kerajaan Udayana. Pada masa ini jelas sekali terlihat ciri-ciri sekte yang berkembang di Bali.

Menurut catatan, tidak kurang dari 16 sekte yang ada, masing masing dengan ciri-cirinya antara lain :
• Aliran Pasupatinya : memuliakan matahari sebagai manifestasi Hyang Widhi, selanjutnya tata pelaksanaan persembahyangannya disebut Surya Sewana
• Aliran Ganaspatinya : memuliakan Dewa Ganesha sebagai manifestasi Hyang Widhi, dimana disetiap tempat angker atau dianggap suci ditempatkan arca Ganesha dan memuliakan Dewa Angin
• Aliran Budha Mahayana, Budha Bairawa, Budha Hinayana, Tantriisma Putih, Tantriisma Hitam : ajarannya adalah makan sepuasnya, makan darah lawar dan tuak arak. Ajaran ini paling terkenal di jamannya. Bukti-bukti ajaran yang masih ditinggalkan sampai sekarang adalah makan lawar maupun komoh dengan tambahan darah hewan.
• Ajaran Panestian : teluh, leak, terangjana disebut aliran Pengiwa.
• Ajaran Pengobatan : pengelantih sabuk dari pekakas balian disebut aliran Penengen.

Ciri ciri aliran Bairawa tersebut paling nyata sampai sekarang bisa dikenali di bali dan justru dilarang oleh pengembang Brahma Wisnu Budha. Jelaslah aliran Bairawa yang dianut oleh raja Maya Denawa yang pernah menggemparkan Bali, ditandai dengan makan lawar yaitu makanan dari daging mentah dicampur darah mentah, minum arak dan tuak dan bersenggama.

Kemudian mengamalkan ajaran Pengiwa seperti angleak, aneluh, arangjana kemudian penengen dengan mengajarkan pengentih, kekebalan, guna-guna yang menurut ajaran Weda sangat dilarang untuk dipelajari dan dikembangkan.

Justru di bali ajaran ini pernah berkuasa di jamannya raja Jaya Kesunu atau raja Jaya Pangus, dari perselisihan aliran Siwa Brahma Waisnawa dengan aliran Bairawa yang kemudian menimbulkan peperangan dibali.

Raja Maya Denawa aliran Bairawa bermarkas di Batur berperang dengan aliran Brahma Siwa Waisnawa yang bermarkas di Besakih dengan raja Jaya Pangus sebagai tokohnya.

Dalam perang besar jaman itulah yang melahirkan mitos yang amat kesohor disebut Galungan (hari raya Galungan) ditandai dengan terbunuhnya raja Maya Denawa di Bedulu di pinggiran kali Petanu.

Demikian gambaran singkat tentang sekte di bali jaman itu. Selanjutnya terus berkembang sampai jaman Prabu Udayana sekitar tahun 1001 Masehi. Di periode tahun inilah lahir paham ajaran Tri Murti dimana keseluruhan sekte yang ada di Bali telah dipersatukan menjadi satu kepercayaan disebut “Tri Murti” (Brahma, Wisnu dan Siwa) selanjutnya kita mengenal dengan Padma Tiga, cikal bakal adanya padma di bali sebagai simbol periyangan Hyang Widhi.

Sekilas tentang Pande Bangke Maong

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Tidak hanya di kawasan Danau Tamblingan, di kawasan Danau Beratan pun ditemukan benda-benda purbakala yang merupakan peralatan kerja profesi warga berupa perabot mamande seperti pangububan atau palungan pendingin. Artinya pemukiman komunitas Pande pada masa itu begitu luas wilayahnya. Di samping itu, kecerdasannya juga sangat tinggi, sehingga raja-raja di Bali mengandalkan warga Pande Tamblingan untuk memproduksi beraneka ragam senjata dan peralatan perang lainnya, seperti baju besi misalnya.

Profesionalisme dan kecerdasan warga Pande Tamblingan inilah yang membuat Kerajaan Majapahit gusar, karena merasa sulit menundukkan Bali. Adapun prajurit-prajurit kerajaan Bali saat itu telah dipersiapkan dengan senjata-senjata bertuah. Salah satu senjata bertuah dan sakti yang berhasil dibuat di Tamblingan oleh warga Pandenya adalah senjata keris yang bernama Keris Bangke Maong. Senjata keris inilah yang benar-benar ditakuti oleh Gajah Mada dan bala tentaranya. Nama keris inilah yang kelak menjadi nama warga pande yang ada di Tamblingan ini.

Kerajaan Majapahit yang berobsesi menyatukan seluruh nusantara di bawah kekuasaannya, dipimpin Mahapatih Gajah Mada berusaha keras menguasai Kerajaan Bali, dengan terlebih dahulu menghancurleburkan basis pembuatan senjata di kawasan sekitar Danau Tamblingan yang notabene Warga Pande Tamblingan sebagai pekerja profesionalnya. Strategi Gajah Mada ini masuk akal dan sangat politis. Apabila sumber pembuatan senjata telah hancur, maka kekuatan persenjataan Bali menjadi lumpuh sehingga mudah ditundukkan.

Akhirnya Majapahit menyerbu Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Salah seorang panglima yang ikut dalam invasi Majapahit ke Bali itu adalah Arya Cengceng yang mendapat tugas khusus untuk menghancurleburkan kawasan basis pembuatan senjata di Tamblingan dan usahanya itu berhasil.

Warga Pande Tamblingan meninggalkan tempat kelahirannya dengan terlebih dahulu mengamankan belasan prasasti dengan cara menanamnya di bawah tanah, termasuk benda-benda berharga lainnya, karena tidak mungkin mereka bawa mengungsi. Bahkan diperkirakan sejumlah prasasti ada yang sengaja dibuang ke Danau Tamblingan agar terjamin keamanannya, dengan harapan dapat diambil kembali manakala suasana sudah memungkinkan.

Dengan terbunuhnya sebagian terbesar Warga Pande Tamblingan, otomatis perlengkapan persenjataan perang Raja Bali ketika itu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten atau Sri Gajah Waktra kurang memadai, yang berujung pada jatuhnya Kerajaan Bali (tahun 1343).

Jatuhnya Kerajaan Bali semakin menyebabkan warga Pande Tamblingan mengungsi ke wilayah lainnya agar terbebas dari kepungan bala tentara Majapahit yang terkenal ganas. Para penguasa ketika itu berusaha keras untuk memprioritaskan warga Pande Tamblingan terlebih dahulu mengungsi, dengan harapan nantinya warga bisa kembali ke tempat asalnya mereka dengan jaminan keamanan dari penguasa, hal ini bahkan ditatahkan dalam dua buah prasasti. Akan tetapi warga Pande Tamblingan tetap tidak mau kembali, bahkan tidak sedikit yang kemudian ‘nyineb raga’ (menyembunyikan identitas) agar sama sekali tidak terdeteksi keberadaanya.

Ketika perang berakhir, Arya Cengceng beserta pengikutnya berhasil menduduki dan mengancurleburkan komunitas Pande Tamblingan. Setelah beberapa tahun, diberlakukanlah rekonsiliasi, untuk merangkul kembali dan mengambil hati warga Pande Tamblingan. Arya Cengceng didaulat untuk melakukannya, akan tetapi tetap tidak berhasil karena warga Pande Tamblingan trauma dengan masa lalu.
Oleh karena tidak berhasil melakukan rekonsiliasi meskipun memenangkan perang, Arya Cengceng ditarik dari Tamblingan dan ditempatkan di Bedahulu. Sejak ditariknya Arya Cengceng ke Bedahulu, kabarnya tidak terdengar sama sekali. Tidak ada lagi yang melanjutkan keturunan Arya Cengceng dan dianggap putung.

Keengganan warga Pande Tamblingan untuk kembali ke tanah asalnya ditindaklanjuti oleh para penguasa pada jaman tersebut dengan mengeluarkan dua prasasti untuk membujuk warga Pande Tamblingan kembali pulang, usaha ini tetap saja tidak berhasil. Prasasti pertama dikeluarkan oleh Raja Prameswara tanggal 3 tahun 1306 Saka atau 1384 Masehi yang memerintahkan Arya Cengceng agar jangan mengganggu warga Pande Tamblingan, segera meninggalkan tempat tersebut dan tinggal di Goa Gajah. Sementara warga Pande Tamblingan diminta agar kembali ke tempat asalnya dari tempat pengungsian.

Himbauan Raja Prameswara tersebut rupanya tidak mendapat respons dari warga Pande Tamblingan di pengungsian, karena khawatir himbauan itu hanyalah jebakan. Mengingat pentingnya peranan warga Pande Tamblingan, maka penguasa kembali menerbitkan prasasti pada Sasih Kedasa (sekitar bulan April) tahun 1930 dengan isi dan maksud yang sama. Hanya saja warga Pande Tamblingan tetap tidak bergeming dan memilih untuk tetap nyineb wangsa (menyembunyikan identitas).

Ada dua versi yang menjelaskan mengapa warga Pande Tamblingan disebut sebagai Pande Bangke Maong. Versi pertama menjelaskan bahwa sebagai akibat kebertuahan (keampuhan) senjata yang dibuat warga Pande tersebut, menyebabkan siapapun yang terkena senjata walau hanya tergores atau bahkan tersentuh saja, seketika itu juga orang tersebut akan mati dan beberapa saat kemudian mayatnya (bangke) akan berubah menjadi rusak, kotor dan kusam (maong). Sehingga lahirlah istilah Pande Bangke Maong.

Versi lain mengatakan bahwa Bangke Maong sesungguhnya hanyalah plesetan saja dari kata-kata Pande Bang Kemaon (Pande yang hanya berwarna merah atau bang). Sebagaimana diketahui bahwa warna merah adalah warna khas Pande sebagai simbol dari Bhatara Brahma, junjungan warga pande yang ingin menunjukkan jati diri sebagai penyembah Brahma.

Dewasa ini, warga Pande Bangke Maong ditenggarai berada di beberapa wilayah di Bali seperti di sekitar Desa Rendang (Karangasem), di Desa Semita, Srongga dan Pejeng (Gianyar), di Desa Kayu Putih (Tabanan) dan beberapa tempat lainnya.

Kendatipun masih membutuhkan kajian yang lebih detail dengan melakukan napak tilas perjalanan para leluhur Pande pada jaman dahulu, untuk sementara Pande Bangke Maong yang kini tersebar di wilayah-wilayah tersebut, dapat diyakini adalah mawiwit atau berasal dari Tamblingan. Sehingga wajar kalau mereka harus merapatkan barisan untuk mempersatukan diri menyatukan visi tentang asal dan penyebaran Pande Bangke Maong di Bali.

* * *

Tulisan diatas saya ambil dari Buku ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang disusun oleh I Made Suarsa dan diterbitkan oleh Maha Semaya Warga Pande Propinsi. Adapun sumber Pustaka yang (diperkirakan) digunakan adalah ‘Pande Tamblingan’ oleh Made Kembar Kerepun tahun 2002.

Sekilas tentang Situs Tamblingan

20

Category : tentang iLMu tamBahan

Berbicara tentang Pura Penataran Pande Tamblingan yang dahulu dikenal sebagai Pura Catur Lepus, tidak bisa lepas dari penemuan Situs Tamblingan yang berawal dari penemuan sebuah lempeng prasasti tembaga oleh Pan Niki (warga Desa Wanagiri) pada tahun 1997.

Prasasti yang berangka tahun 1306 Isaka tersebut, yang selanjutnya disebut Prasasti Tamblingan berisi perintah penguasa wilayah pada waktu itu kepada Warga Pande Besi di Tamblingan yang telah lama meninggalkan desanya, agar segera kembali ke Tamblingan untuk bekerja sebagaimana biasanya seperti dahulu. Prasasti yang hingga saat ini masih tersimpan rapi di Pura Pamulungan Agung, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terbuat dari lempengan tembaga dimana kedua sisinya berisi tatahan aksara dan bahasa Jawa Kuna.

Pada hari Wrehaspati Kliwon Ukir tanggal 26 September 2002, kembali ditemukan empat kelompok prasasti, ketika warga melakukan kegiatan meresik-resik di Pura Endek. Pura Endek adalah salah satu pura yang terdapat di tengah hutan¬ di tepi Danau Tamblingan, seperti Pura Penimbangan, Pura Sanghyang Kauh, Pura Gubug, Pura Embeng, Pura Dalem Tamblingan, Pura Pangukusan, Pura Pangukiran, dan lainnya. Prasasti itu ditemukan dalam sebuah guci buatan Vietnam dari kedalaman permukaan tanah. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Ugrasena, Raja Udayana dan Raja Suradipa.

Secara umum keempat prasasti itu mencatatkan eksistensi hebat Warga Pande Tamblingan yang berada di wilayah sekitar Danau Tamblingan. Pembuatan baju besi berkualitas tinggi yang berhasil dibuat Warga Pande Tamblingan, demikian juga pembuatan papilih mas (pande mas), papilih besi (pande besi) dan Gamelan Slonding. Deskripsi yang ada menunjukkan bahwa Warga Pande Tamblingan sangat profesional dengan profesi kepandeannya, dikagumi oleh penguasa dan ditakuti oleh musuh. Atas keistimewaan dan kecerdasan Warga Pande Tamblingan ini, maka penguasa Bali ketika itu memberikan hak istimewa kepada Warga Pande Tamblingan dan para penabuh gamelan Slonding, untuk dibebaskan dari pengenaan pajak.

Berdasarkan fakta dan data yang terdapat di daerah situs Tamblingan dan Beratan, terutama berdasarkan ukuran besar dan kecilnya peninggalan pangububan (alat untuk memanaskan besi, tembaga atau emas), maka dapat dikatakan bahwa di sekitar Danau Tamblingan merupakan komunitas Pande Besi, sementara di sekitar Danau Beratan merupakan komunitas Pande Mas. Sedangkan Pande Tusan wilayah komunitasnya adalah di Klungkung.

Berkenaan dengan profesi ini mencerminkan bahwa lempengan-lempengan prasasti yang terbuat dari tembaga adalah hasil buatan dari warga Pande Tamblingan sendiri. Di samping berupa lempengan tembaga sehingga disebut Tambra Prasasti, prasasti juga bisa dibuat dari lempengan besi atau juga dari daun-daun rontal yang disebut Ripta Prasasti.

Di daerah Bali khususnya dan Indonesia umumnya, banyak sekali terdapat situs-situs purbakala. Situs Tamblingan adalah salah satu dari sekian banyak situs tersebut. Dinamakan Situs Tamblingan, karena kawasan situs terletak di tepi Danau Tamblingan, danau seluas 110 hektar yang dikelilingi oleh Gunung Lesong, Bukit Naga Loka, Asah Munduk, Asah Gobleg dan Asah Panji. Danau Tamblingan adalah salah satu dari tiga buah kaldeira purba akibat letusan Gunung Beratan Purba, di samping Danau Beratan dan Danau Buyan.

Secara geografis situs Tamblingan berada di antara sekitar 8 derajat Lintang Selatan dan 11,5 derajat Bujur Timur dengan ketinggian 1.127 sampai dengan 1.248 meter di atas permukaan air laut. Terletak di tepi timur dan selatan Danau Tamblingan yang merupakan kaki barat laut Gunung Lesong (salah satu gugusan pegunungan seperti Gunung Batukaru, Sengayang, Pohen dan beberapa bukit seperti Bukit Batu Tapak, Bukit Pucuk, Bukit Naga Loka, Bukit Adeng dan lain-lain).

Benda-benda purbakala yang ditemukan di situs Tamblingan antara lain dolmen atau meja batu dengan panjang 32,5 centimeter, lebar 220 centimeter dan tinggi 80 centimeter sebagai meja saji tempat duduknya kepala suku. Celak Katong Lugeng Luwih yang terbuat dari batu monolit. Aneka gerabah berwarna cokelat, hitam dan merah seperti periuk, pasu, cawan, padupan, kendi. Aneka keramik seperti mangkok, cepuk, piring, tempayan, guci, dan buli-buli. Manik-manik yang terbuat dari batu akik berbentuk bulat panjang dan silindrik. Sisa-sisa hewani seperti kijang, rusa, menjangan, babi, sapi, kera dan lain-lainnya. Gacuk yakni permainan anak-anak yang terbuat dari pecahan keramik. Benda-benda logam seperti batangan besi, fragmen tombak, cincin, kaitan terbuat dari besi, perunggu dan lain-lain. Mulut perapian berupa batu berlubang. Batu landasan dan batu asahan yang merupakan alat-alat pande besi. Palungan batu sebagai bak pendingin ketika memanaskan logam. Struktur yang terbuat dari batu andesit dan bata mentah yang menunjukkan adanya pemukiman di daerah situs tersebut.

Dengan melihat penemuan-penemuan yang terdapat di situs Tamblingan, bisa dikatakan bahwa komunitas yang bermukim di wilayah sekitar Tamblingan adalah warga atau komunitas Pande, komunitas yang profesional dalam bidang pekerjaannya. Akan tetapi mengapa pada akhirnya komunitas itu meninggalkan kawasan dengan jalan menyimpan alat-alat peninggalan berupa prasasti di dalam tanah, bahkan mungkin juga menenggelamkan di Danau Tamblingan. Warganya sendiri nyineb raga (menyembunyikan identitas), bahkan tidak mau lagi kembali walau setidaknya dua raja telah memerintahkan untuk kembali.

* * *

Tulisan diatas saya ambil dari Buku ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang disusun oleh I Made Suarsa dan diterbitkan oleh Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali tahun 2009. Adapun sumber Pustaka yang (diperkirakan) digunakan dalam buku tersebut adalah ‘Situs Tamblingan’ oleh I Made Sutaba tahun 2007

Dokumentasi Pura Penataran Pande Tamblingan

19

Category : tentang PLeSiran

Berikut beberapa dokumentasi foto yang saya ambil dengan kamera pocket… Keterangan gambar saya cantumkan pula dibagian bawah gambar. Bagi yang ingin mengetahui Eedan Karya, bisa mencarinya lewat ‘Related Post’ yang ada di bagian bawah tulisan ini. Suksema.


Tampak pandangan Pura Penataran Pande Tamblingan dari arah Danau

Pura Penataran Pande Tamblingan pada area Utama

Meru Tumpang Telu/Tiga beserta Lingga Yoni

Lokasi Palung air di area Madya

Jalan akses menuju area Situs dan pemandangan dari atas menuju Pura dan Danau

Area situs yang terletak dilereng atas Pura. Tampak Pohon Besar yang digunakan untuk Media uji Keris yang dibuat oleh Leluhur di Tamblingan terdahulu

Semeton Yowana Paramartha Warga Pande