Kisah PanDe Baik di Akhir Bulan NoVember

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Ah, akhirnya sampai saya juga di akhir bulan. Saat dimana saya memutuskan untuk pindah ’rumah’ dari hosting milik Mas Egy ke Bli Hendra. Jadi juga merealisasikan janji yang sempat saya tunda.

Bulan ini pula saya mengalami banyak hal baik suka duka, pula saat dimana saya nyaris mengalami kematian akibat pingsan salah posisi. Yah, bersyukur ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada hamba-Nya ini untuk bersua dengan putri kecil dan Istri yang sangat saya sayangi.

Kemarahan yang saya alami pada bulan ini akibat ulah oknum rekan kantor yang memaksa meminta ’amplop’ pada Rekanan Pelaksana Kegiatan, cukup membuat saya tersadar bahwa sangat sulit mengubah image dan kebiasaan yang sudah kadung melekat sekian lama. Hingga saya pun memilih satu keputusan yang sempat saya ambil dan ajukan pada pimpinan saat awal pembentukan tim kerja ini. Mengundurkan diri. Rupanya saya tak mampu memaksakan diri berada pada lingkungan dimana ’uang’ begitu didewakan dibanding kinerja dan tanggung jawab kami sebagai abdi negara. Lebih baik saya menjadi ’nobody’ dibandingkan harus terlibat pada hal yang tak pernah saya lakukan.

Aktivitas lain yang saya jalani yaitu kembali menjadi salah satu anggota tim Direksi /Pengawas Kegiatan untuk dua kegiatan dengan sumber Dana Perubahan akhir tahun 2008 ini. Salah satu kegiatannya merupakan lanjutan dari kegiatan tahun lalu yaitu Penanganan Banjir dan Saluran Drainase untuk Kawasan Dewi Sri dan sekitarnya. Satu kegiatan yang berusaha saya hindari oleh sebab banyaknya permasalahan non teknis yang terjadi pada masa konstruksi dilakukan, sedangkan optimisme akan penanggulangan banjir yang terjadi di ruas jalan Dewi Sri sepertinya masih 60:40. kenapa saya katakan begitu, karena sangat sulit membendung air yang datangnya dari arah Tukad Mati, salah satu sumber air terbesar disekitar kawasan tersebut.

Atas alasan itu pula saya akhirnya jauh lebih menikmati tugas baru yang dibebankan pada saya, yaitu mempersiapkan dokumen Teknis untuk beberapa rencana kegiatan ditahun 2009 mendatang. Diantaranya survey kerusakan /kondisi ruas jalan yang dimaksud sekaligus menyusun Anggaran Biaya yang sekiranya dapat dilakukan dengan target biaya yang telah ditentukan sebelumnya.

Barangkali satu-satunya hiburan saya dibulan ini adalah meluangkan waktu bersama putri kecil kami Mirah GayatriDewi, yang seminggu belakangan ini terkena batuk tularan dari saudara-saudari kecilnya. Putri kami yang kini sudah mulai terbiasa berada pada ’baby walker’nya, plus tawanya saat saya ajak berkeliling rumah dengan motor Tiger maupun motor Vega Ibunya. Apalagi saat saya ajarkan untuk ’salam sun’ yang langsung ditanggapi dengan memasukkan tangan saya kemulutnya. Hahaha….

Thesis. Ya, satu-satunya kewajiban saya untuk bisa menyelesaikan kuliah Pasca yang nekat saya ambil setahun lalu, rupanya menyita perhatian paling besar. Ini saya katakan karena rekan-rekan kuliah lainnya saling berlomba untuk memulai dan mengakhiri semester ketiga ini dengan Ujian Seminar (tahap pertama). Jadilah saya kelimpungan menghimpun data pustaka serta berusaha mendapatkan mood ditengah tantangan dan hiburan diatas tadi. Yah, bagaimanapun mood itu yang paling sulit saya dapatkan. Apalagi dengan tampilnya ‘rumah’ baru saya ini, membuat semangat untuk nge-BLoG berkibar lagi.

Ngomongin soal BLoG, ternyata hingga hari inipun saya masih belum tertarik untuk menghiasi tampilannya dengan iklan adsense maupun afiliasi, walaupun tanda-tanda kesana sudah lebih dari enam bulan lalu saya pelajari. Barangkali karena kesibukan saya seperti yang diceritakan tadi, membuat mentoknya ide dan kemauan untuk sekedar iseng mencoba mengais dollar seperti halnya rekan BLoGGer yang lain.

Ohya, dibulan ini pula saya mulai gabung di satu komunitas baru yang bernama Facebook. Kabarnya FB dibuat awalnya untuk konsumsi komunitas sebuah universitas diluar negeri sana, yang kemudian berkembang menjadi sebuah wadah layaknya Friendster. Ajang sharing antar teman terutama bagi mereka yang saling mengenal satu dan lainnya. Hanya saja mengingat tingginya volume data yang dibaca tiap kali saya masuk ke FB hingga kuota 1GB sebulan paket Starone jadi gak terasa, aktivitas di FB-pun gak bisa saya lakukan sebebas aktivitas nge-BLoG.

Yah, akhirnya esok pagi saya sudah harus memulai hari baru lagi. Hari dimana segala kesibukan bakal menyita waktu jauh lebih banyak. Yang artinya waktu untuk menyelesaikan Thesis akan makin sempit dan tentu waktu yang diluangkan untuk keluargapun makin jarang….

> PanDe Baik diakhir bulan ini ditemani oleh lantunan tembang akustik milik Firehouse plus celoteh si kecil MiRah yang sepertinya sudah mulai meracau kata ‘Bapak’. Ah, senangnya menemanimu Nak….. <

Salam dari Pusat Kota Denpasar

MeLihat Berita Media dari sisi lain dengan AriF

3

Category : tentang KHayaLan

Terkadang saya pribadi suka miris saat membaca berita pada sebuah harian lokal yang rutin kami beli dari loper keliling. Radar BaLi.

Bukan lantaran beberapa waktu lalu saya diancam akan di UU ITE-kan gara-gara tulisan saya tentang wartawan pada Media ini, tapi lantaran saya merasakan isi dari berita-berita mereka terkait kegiatan, kinerja hingga segala sesuatu berbau Badung, dikecam habis lengkap dengan foto pendukung dan komentar dari masyarakat terkait isi berita tersebut.

Entah karena masih merasa jengkel dan dendam atas tulisan saya yang dihapus untuk amannya, isi dari pemberitaan tersebut walau saya yakin akan keakuratan faktanya, namun menurut saya pribadi, kok hanya melihat dari sudut pandang wartawan atau masyarakat saja. Tidak melihat dari sudut pandang objek penderita dalam hal ini ya tokoh utama yang diceritakan dalam berita tersebut.

Misalkan saja, foto yang diambil oleh Radar Bali kira-kira seminggu lalu, yang menampilkan seorang pegawai tertidur di Bale Bengong Kantor Gubernur di Renon. Sepertinya foto tersebut diambil diam-diam (tanpa seijin yang tertidur -ya iyalah, masa ya iya dong ?) diisi kutipan singkat dan ternyata ekor berita tersebut gak cuman selesai disitu saja tapi berlanjut hingga koran esok harinya. Dimana (kata) berita hari itu menyatakan Pak Mangku Pastika akan menindaklanjuti siapa pegawai tersebut. Gak ada yang salah memang, dan Radar Bali wajar saja merasa wajib memberitahukan hal itu pada masyarakat atas dasar kebenaran.

Namun seandainya saja sang wartawan/juru foto yang menangkap gambar tersebut bisa sedikit berimprovisasi menanyakan langsung pada si tertidur mengapa ia melakukan itu (dengan ngobrol ngalor ngidul sejenak saat ia terbangun) atau malah memantau dalam satu minggu misalnya, apakah si tertidur melakukannya tiap hari dan atas dasar apa, barangkali apa yang ditampilkan pada media cetak bisa jadi jauh lebih berbobot dan bermakna.

Maksud saya disini, bagaimana kalo si tertidur itu ternyata adalah seorang sopir dari seorang pejabat eselon yang berkunjung ke kantor Gubernur ? sambil menunggu usai acara daripada ngerumus togel, mendingan ia beristirahat karena siapa tahu sebentar lagi ia masih harus mengantarkan atasannya kelokasi lain.

Atau barangkali saja ia tertidur lantaran malam sebelumnya harus menjalani kegiatan adat, seperti ’mekemit di Pura’ atau malah berjaga di rumah kematian kerabat/tetangga dirumah, bukankah lebih baik ia beristirahat sebentar dibanding kabur dan pulang kerumah. Bagi saya beristirahat /tidur sih manusiawi aja, tapi kalo dilakukan pada jam kerja ya memang salah, yah barangkali saja itu ada alasannya.

Contoh kasus lain, perihal iring-iringan Pak Bupati yang kalo melintasi jalan umum pasti membunyikan sirene seakan kondisi daerah ini sedang genting. Bahkan pendapat masyarakat (tidak secara keseluruhan) menyatakan bahwa jelas itu sangat mengganggu dan seperti pada masa kerajaan saja. (ini jelas menyentil posisi Pak Bupati Badung lantaran historinya adalah Beliau merupakan salah satu keluarga kerajaan di masa lampau, bahkan hingga kini barangkali).

Padahal awal mula berita itu turun kalo ndak salah karena mobil patwal dokatakan sering tertinggal jauh dibelakang lantaran cepat dan gesitnya mobil Pak Pejabat, dibandingkan dengan motor sang patwal.

Tapi pernahkah ditelusuri mengapa rombongan Pak Bupati melakukan hal itu ?

Coba saja direnungkan. Seandainya saja dalam waktu sehari Beliau harus menghadiri sejumlah acara yang sudah dijadwalkan sebelumnya berdasarkan undangan dari masyarakat atau pihak tertentu. Itu artinya dalam mobilisasi mencapai lokasi acara, rombongan Pak Bupati harus berusaha sampai tepat waktu. Jarak yang sedemikian jauh harus mampu ditempuh dalam waktu singkat agar jangan sampai baik masyarakat maupun pihak yang mengundang menunggu terlalu lama, bahkan acara berlangsung tanpa kehadiran Pak Bupati. Bisa dibayangkan, kira-kira apa headline Koran esok hari apabila Pak Bupati sampai terlambat atau malah tidak dapat hadir di acara-acara tersebut ?

Bisa-bisa efeknya jauh lebih dashyat. Tapi sayangnya sekali lagi, media (pasti) menyalahkan sang peran utama atas semua keterlambatan tersebut. Jadi bagi saya apabila rombongan Bupati membunyikan sirene saat melintas dijalan umum, ya wajar saja. Wong ia dipilih oleh masyarakat dan harus memenuhi kewajibannya kepada masyarakat. Kalaupun masyarakat sampe menyentil Beliau jangan mentang-mentang seperti jaman kerajaan saja, harusnya ditelusuri sedikit, bagaimana sampai si narasumber mengatakan hal itu. Apakah ada sentimen pribadi lantaran bukan pendukungnya saat kampanye tempo hari misalnya.

Saya secara pribadi memang gak menyalahkan naiknya berita di media cetak Radar Bali terutama berkaitan dengan kinerja pegawai negeri sipil dan abdi pemerintahan dimanapun mereka berada, sangat menusuk isinya. Bahkan bisa dibilang Radar Bali sangat kritis dalam hal ini. Kenapa ?

Lantaran saya mengakui kalo image dari PNS dan jajarannya itu sendiri sudah sangat buruk dimata masyakat. Kesimpulan Ini saya ambil setelah sempat secara iseng mencari keyword ’PNS’ di Mbah Google, dan mendapatkan hasil yang sangat membuat miris hati. Tak satupun isinya yang menyajikan sisi positif dari ’PNS’. Bagaimana bisa ?

Yah, itu wajar terjadi karena ada sekian persen oknum yang masih melestarikan budaya negatif dari keseharian mereka berlanjut hingga saat kewajiban mereka harusnya dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat banyak, malah jadinya melenceng jauh. Tapi mbok ya Media bisa juga berpikir jauh lebih arif dari masyarakat dalam menyajikan isi berita mereka. Memang sih itu tugasnya Wartawan, tapi kok saya pribadi merasakan tak jauh beda dengan seorang blogger kayak saya. Yang menuliskan berita asal, semaunya saya sendiri tanpa peduli bagaimana pandangan orang lain pada sesuatu yang saya tulis dalam blog. Didukung pula dengan foto yang diambil diam-diam.

Bukankah Media cetak itu seharusnya malah menaikkan tulisan yang jauh lebih berbobot, bermakna dan tentu data yang akurat dan tepat. Tidak hanya sekedar comot sana comot sini, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan bahan berita lantas mempublikasikannya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Yah, saya hanya berharap Media Radar Bali bisa kembali seperti saat mereka tampil pada awal kelahirannya, kritis (beneran kritis) dan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat yang membacanya. Semoga.

> PanDe Baik saat menulis posting ini berada disebuah bale bengong dekat kantor istri, sambil menunggu jam pulang –yang masih merupakan jam kerja secara resmi- dan berharap-harap cemas, jangan-jangan aktivitas ini ditangkap oleh kamera Radar Bali dan naik cetak esok hari. Makanya begitu selesai, saya langsung cabut dari tempat itu. Hahahaha….. <

Salam dari Lapangan Lumintang Kota Denpasar

MiRah GayatRiDewi MaLaikat KeCiLku

2

Category : tentang Buah Hati

Seperti yang pernah aku ungkapkan tentang putri kecilku MiRah GayatRiDewi pada posting beberapa waktu lalu, keberadaannya adalah anugerah bagi kami, aku dan Istriku.

Mungkin lantaran ia hadir setelah kami menunggu lama akan seorang buah hati, buah cinta kami berdua saat mengikat janji Desember tiga tahun lalu.

Kini MiRah GayatRiDewi sudah berusia delapan bulan, satu usia dimana ia mulai belajar berjalan, duduk tegak serta ikut mengoceh saat kami berbicara. MiRah juga mulai menampakkan kenakalannya saat kami ajak bepergian baik pulang kampung hingga berbelanja ataupun sekedar berjalan-jalan ke tempat keramaian.

Jujur, saat hari kerja dan kuliah aku hanya bisa menemaninya sebentar saja, pagi hari saat bangun tidur sambil menunggu waktunya ia mandi, sore pulang kerja usai menyetrika jikapun masih sempat aku ajak ia duduk diteras menyaksikan kakak-kakaknya bermain dihalaman, dan malam hari saat ia terjaga dari tidurnya untuk pipis sebentar lalu tertidur lagi.

Mungkin hal itu pula yang menyebabkan aku begitu mendewakan hari libur atau akhir pekan. Seakan lupa dengan kewajibanku menyelesaikan Thesis yang hingga kini belum jua kulanjutkan, seakan lupa kalau diluaran masih banyak kewajiban aku sebagai seorang pegawai negeri sipil dalam kapasitas sebagai pengawas kegiatan-kegiatan Dinas. Aku malah lebih memilih tinggal dirumah agar bisa meihat ia tumbuh kembang dengan segala kelucuannya itu.

Saat aku mencintai seseorang (termasuk Istriku) dengan hati yang tulus, aku jarang sekali mengungkapkannya dalam bentuk kata. Padahal kata orang bijak seharusnyalah kata-kata itu diucapkan dengan keras agar orang lain dan juga orang yang kita cintai tahu akan perasaan kita yang sebenarnya. Paling sering aku ungkapkan lewat kreativitas yang bisa aku persembahkan.

Sama halnya dengan MiRah. Apalagi aku yakin ia belum mengerti ucapanku atau bisikanku bahwa aku menyayanginya, sehingga ungkapan kasih sayangku lebih banyak aku ungkapkan lewat foto dan terkadang tulisan pada posting BLoG ini. Hingga dalam waktu delapan bulan usianya ini pula, ia memiliki banyak koleksi foto dalam berbagai momen dan ekspresi. Seperti halnya sang Ibu (Istriku) dan juga salah seorang keponakan kami, Ngurah Bagus yang menjadi pengobat rindu akan buah hati saat MiRah belum hadir ditengah kami.

Tak jarang, dari sekian banyak foto, aku lantas memilihkannya beberapa yang aku anggap pas untuk dicetak dan diperbesar untuk dipajang diruang keluarga dan ruang tamu. Agar orang lain tahu bahwa ada malaikat kecil dirumah kami ini.

Tapi yang namanya kreativitas tetap tak bisa aku bendung, masih ada satu keinginan untuk membuat satu sketsa si kecil dalam bentuk kartun karikatur. Hanya saja menyadari keterbatasan yang aku miliki, maka foto-foto itu pula yang menjadi sasaran terlebih dahulu, di cropping, filter dan diberi efek tertentu, dicoba-coba untuk melahirkan satu sudut pandang baru akan kelucuan sikecil putri kami.

Maka jadilah dua puluh foto si kecil yang aku oprek dan diberikan sentuhan grafis sebisa kemampuanku saja. aku kerjakan disela kesibukan kantor dan tentu saja aku cetak kembali agar bisa mejadi kenangan baginya kelak saat ia beranjak remaja nanti.

Yah, anak adalah anugerah yang patut dibanggakan seperti kataku tempo hari…. dan aku sangat menikmati saat-saat indah bersamanya.

> PanDe Baik saat menulis posting ini ditemani alunan instrumen musik degung yang mengaransemen ulang lagu-lagu Bali tempo dulu, angkatannya Yong Sagita, Ketut Bimbo dan Alit Adiari. Ada juga si Sarinem Terikasem, Bayu KW dan beberapa tembang anak-anak. Sangat merdu sehingga putri kamipun bisa tertidur dengan lelap bersama Ibunya….. <

Salam dari Pusat Kota Denpasar

Tim Pengendalian Intern ; Tantangan dan Penyimpangan

6

Category : tentang PeKerJaan

Tiga bulan terakhir, aku kembali menjadi bagian dari satu tim yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan pada kegiatan-kegiatan fisik baik sedang berjalan hingga akhir penyelesaiannya. Istilah kerennya, jadi anggota dari Tim Monitoring atau Pengendalian Intern.

Tugasnya dari melakukan monitoring pada sisi administrasi, kelengkapan dokumen, Tetek bengek yang berkaitan dengan pelaksanaan fisik proyek seperti gambar rencana, as built (setelah dilaksanakan), struktur organisasi di lapangan, foto, laporan-laporan maupun buku direksi dan lain sebagainya. Jauh lebih penting daripada itu, tugas dari Tim, tentu menilai dan memantau kemajuan pekerjaan sesuai dengan prosentase yang diajukan, apakah sudah sesuai spesifikasi perencanaan dan pelaksanaan atau tidak.

Untuk memantau kemajuan pekerjaanpun tak hanya dari volume pekerjaan atau prosentase dari pekerjaan keseluruhan, tapi juga mutu pekerjaan terutama pada item penting dalam sebuah proyek konstruksi, meliputi kualitas beton, mortar hingga permukaan jalan. Yang paling gampang dari semua itu adalah menilai secara Visual, penampilan dari masing-masing item pekerjaan tersebut.

Apabila kemudian ditemukan suatu penyimpangan baik secara volume atau dimensi pekerjaan, ini patut ditindaklanjuti dengan pencarian solusi kemana dibawa selisih volume atau dimensi tersebut, karena tolok ukur tetap berpegang teguh pada volume Perencanaan. Kalaupun memang dalam kondisi terpaksa, harus ada alasan yang logis dan jelas, misalkan saja faktor kondisi lapangan yang tidak memungkinkan.

Sejauh ini, penyimpangan secara visual yang paling sering kami temui. Untuk dapat mengetahui bahwa satu pekerjaan menyimpang secara visual atau tidak, diperlukan pemahaman terhadap item pekerjaan tersebut baik dari cara pengerjaan hingga finishingnya. Hal inilah yang kerap menjadi bahan topik pada media cetak, yang menyebutkan beberapa kerusakan dengan istilah berbeda dengan pemahaman secara teknis yang kami miliki.

Balik pada Tim, tahun ini beranggotakan 9 orang terbagi menjadi 3 grup. Peningkatan dari tahun lalu yang hanya memiliki anggota 3 orang saja. Saya hanyalah salah satu diantaranya yang masih dipercaya hingga kini. Dalam pelaksanaannya, hanya 6 orang saja yang efektif bergerak secara aktif, sehingga Tim dirombak menjadi hanya 2 grup yang menjalankan tugas secara bergiliran.

Wewenang utama Tim yang turun tiap kali pengajuan kemajuan pekerjaan adalah menentukan apakah Berita Acara Pemeriksaan dapat dikeluarkan secara cepat atau tidak. Ini kembali bergantung pada pihak Rekanan maupun Direksi Pengawas Proyek bersangkutan, menindaklanjuti catatan atau temuan yang direkomendasikan oleh Tim setelah pemeriksaan. Semakin cepat tanggapannya, semakin cepat proses keluarnya BAP tersebut.

BAP inilah yang kemudian akan menjadi dasar pengajuan biaya Konstruksi yang telah dikerjakan oleh Rekanan sesuai volume yang diajukan dan dikerjakan. Istilahnya pengajuan Termyn.

Sayang, yang namanya nafsu manusia tak pernah puas adanya. Padahal untuk menurunkan Tim, sudah dibekali dengan uang makan dan premium sesuai jumlah anggota. Namun tetap saja yang namanya ketidakpuasan, apalagi Tim memiliki wewenang untuk menghambat sesuatu yang sebetulnya tak menjadi masalah, maka jadilah ada pungli-pungli yang dilancarkan untuk mendapatkan istilah ‘win win solution’. Satu pembenaran sepihak bagi mereka yang menganggap bahwa tak ada artinya memperbaiki citra PNS yang sudah rusak.

Sungguh sangat mengecewakan. Rasanya percuma membangun image sejak setahun lalu, namun dirusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab hanya demi memuaskan keinginan mereka dan mengorbankan Tim keseluruhan.

Gaya KuLiah anak Pasca

5

Category : tentang KuLiah

Yang namanya anak kuliah biasanya diidentikkan dengan laki-laki yang berpakaian rapi, biasanya kemeja (kecuali anak Teknik) plus celana kain dan tentu sepatu, entah kets ataupun resmi. Begitu pula dengan yang wanita dewasa (dijamin kalo udah kuliah usianya udah diatas 17 taun), pakaian sopan dengan sepatu hak atau wanita usai tamat bangku sma ya tetep cuek pake sepatu kets. Ohya, biasanya wangi parfumpun semerbak campur aduk saat berada di ruang kuliah (lagi-lagi kecuali Anak Teknik –he… pengalaman pribadi).

Makin tinggi jenjang pendidikannya, biasanya diikuti pula dengan pola berpenampilan yang mencerminkan kedewasaan. Tapi ini ternyata tidak berlaku pada suasana kuliah di Program Pasca Sarjana Teknik Sipil Udayana. Bagaimana bisa saya katakan begitu ?

Kalo mau dilihat pada posting-posting terdahulu, yang laki-laki (baca: bapak-bapak dengan perut ndut) tetap berpenampilan rapih dengan kemeja yang dimasukkan plus celana kain atau malah dibiarkan gombrong plus celana jeans. Sepatu entah pake kets ataupun nuansa resmi, yang penting tetep rapi dan kesannya menghormati nuansa kuliah.

Yang wanita ? hmm.. hmm.. hmm.. penampilan gaul, tak jarang pake baju yang sempit sesak dan berlengan gantung (mungkin baju adiknya yang dipake berhubung sudah disetrika 🙂 ), celana jeans ala Britney yang menampilkan pemandangan c* secara akurat dan jelas, atau malah gaya baju hamil padahal waktu itu masih gadis (belum nikah), eh ternyata beneran hamil.

Ada juga yang pake pakaian berkesan mengundang mata memandang secara terpaksa atau tidak. Wong diundang kan harus ngeliatin. He… Satu hal yang pasti yaitu SendaL yang tak kalah gaul nan cantik. Menampakkan betis mulus para wanita sehingga tak heran jika para laki-laki (baca: Bapak-Bapak yang rajin mengupdate koleksi 3gp) berlomba-lomba duduk dibarisan belakang, dengan alasan ‘nyari setrum’. Huehehe… biar gak ngantuk.


Hmm.. SendaL. Saya malah agak surprise waktu menyadari, eh ternyata makhluk yang bernama wanita itu tetep dengan cueknya make sendal selama perkuliahan dari sejak semester awal hingga kini. Apakah akan tetap mereka lakoni hingga ujian seminar sampe wisuda kali ya ?

Terlepas dari gaya anak kuliah di Program Pasca Sarjana, asumsi saya rata-rata dalam hatinya barangkali berpikir, ’yang penting isi otaknya’, tapi jangan sampe melupakan penampilan. Hehehe….

Snif.. Snif.. Aku Mencium Bau keTidakBeresan

Category : tentang KuLiah

Perasaan aneh ini muncul begitu saja, saat presentasi tugas kelompok pada mata kuliah Manajemen Resiko. Wajar sih, lantaran pengalaman pribadi beberapa waktu lalu saat satu kelompok bareng ’the Master of Puppets eh Master of Technology’ Bang Esa Gustafelaser yang rada aneh dan ‘out of my mind’.

Kini bersatu dengan sang ‘Master of Architechture’ seorang Dosen Pengajar dilingkungan Undiknas yang dikenal Te O Pe saat perkuliahan sedari semester awal.

Kalo Bang Esa itu boleh dibilang MasTer dalam bidang Teknologi namun minim Pengalaman Lapangan (still banyak omong, padahal rata-rata isinya malah keluar jalur), sedangkan kawannya Bapak Antriksa, Bapak Luar Angkasa ini gaptek di bidang Teknologi tapi aseli Te O Pe kalo ngomongin pengalaman. Apalagi kalo berkaitan dengan Proyek Rumah Sakit Puri Raharja. Sayangnya si Bapak juga banyak omong, rada menjelimet sampe-sampe ngak ngerti apa yang diomongin. Nah lo…. ini pendapat saya pribadi loh ya. Jujur malah.

Bau ketidakberesan muncul saat kedua maskot dari kelas Ganjil (baca: kelas yang berisikan orang-orang dengan perilaku penuh keganjilan) melakukan presentasi ’Identifikasi Resiko pada Perencanaan Jalan Tol’ yang melintasi kabupaten di Bali.

Ternyata dugaan saya benar adanya. Selain redaksinya aneh, karena bukan mengungkapkan kemungkinan permasalahan yang terjadi tapi hanya inti pekerjaan alias poin-poin pentingnya saja, jelas menimbulkan banyak pertanyaan ’loh emang ada yang salah dengan poin tersebut ?’

Yang bikin tambah rame suasana kelas, ya identifikasi resiko yang diungkap adalah rata-rata yang dapat terjadi pada tahap pelaksanaan proyek. Padahal judul topik sudah jelas yaitu Perencanaan. Maka jadilah satu pertanyaan saat dikatakan ’resiko suara mesin yang bising’. Emang mesin apaan ? mesin laptop apa mesin printer ?

Ahahaha…. ada-ada aja kedua maskot kami ini, beneran bikin ger-ger-an kuliah selasa lalu…..