Bermain Api… Indikasi, Curiga atau Kenyataan ?

8

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Apa yang Anda rasakan ketika satu hari orang yang Anda cintai sepenuh hati, tiba-tiba mengindikasikan Anda ada main dengan perempuan lain yang merupakan rekan kantor ? Marah ? Sedih ? atau Bingung ?

Adapun Alasan utama yang memicu hal tersebut adalah karena Anda ketika berada dalam situasi yang membutuhkan informasi seputar tempat kerja, hampir dapat dipastikan (sepengetahuannya) akan menghubungi nomor ponsel perempuan yang ia curigai. Padahal Anda sama sekali tak memiliki pikiran sejauh itu ? Apa yang akan Anda lakukan ? Marah ? memutuskan untuk tidak menghubungi yang bersangkutan didepan orang yang Anda cintai ? atau makin bingung ?

Cukup lama memang saya tidak berkeluh kesah tentang hal-hal yang bersifat (sangat) pribadi di blog ini. Pertimbangannya tentu saja karena blog ini memiliki pengunjung yang memiliki beragam kepentingan dan barangkali tidak akan memiliki waktu luang untuk membaca, memahami dan menjawab hal tersebut. Tapi yah, karena ini merupakan media pribadi milik saya satu-satunya, maka disinilah semuanya tumpah.

Kadang saya bingung dengan sifat wanita. Mungkin itu sebabnya saya dapat dikatakan kurang romantis. Bingung karena ternyata mereka punya pemikiran yang sudah sedemikian jauh, padahal jujur saja pikiran saya tidak sampai sejauh itu.

Dengan kesibukan pekerjaan kantor, dari  survey, membuat dokumen, gambar dan peta, pemeriksaan pekerjaan, berpanas-panas dilapangan hingga ke hal-hal yang membutuhkan  konsentrasi pikiran jauh lebih dalam seperti instalasi Debian untuk persiapan Pelatihan Tim LPSE yang terakhir saya lakukan, jujur saja belum pernah terlintas satu pikiran untuk bermain api dengan perempuan lain.

Memang saya akui, jika laki-laki umumnya memang suka memancing sedikit di air keruh. Suka bermain api kecil dan secara tak sadar mampu membesar dengan sendirinya dan membakar semua cita yang sudah dirintis sejak awal. Demikian pula lingkungan kerja kami. PNS merupakan oknum urutan pertama yang memiliki kecenderungan untuk bermain seperti itu. Tapi bukankah ‘tidak semua’ PNS seperti itu ? sama halnya dengan membolos kerja, ‘tidak semua’ PNS memiliki mental bobrok begitu.

Sangat menyakitkan ketika wanita yang begitu saya puja dan cintai tiba-tiba mengindikasikan saya sejauh itu dan rata-rata rekan kaumnya mengamini kecurigaan tersebut. Kalo sudah begitu, lebih baik saya diam saja. Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang paling saya benci. Diindikasikan ada main dengan perempuan rekan sekantor. Padahal saya berani mempertaruhkan kepala dan reputasi saya untuk membuktikan bahwa itu tidak benar. Tapi memang, Gak salah jika Istri saya bersikap demikian, karena orang lainpun saya yakin akan punya pemikiran yang sama.

Hal yang kemudian memecah konsentrasi kerja dan mood untuk ng-BLoG…

Minggu Pagi di Jembatan Bangkung

7

Category : tentang Buah Hati, tentang HoBBy PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami berangkat dari rumah Minggu kemarin, langit Kota Denpasar terlihat mendung berawan dan lalu lintas tidak begitu ramai disepanjang perjalanan. Setelah tertunda lama, akhirnya jadi juga kami mewujudkan angan mengajak kedua orang tua untuk melihat secara langsung jembatan paling fenomenal yang berada di Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Jembatan Bangkung. Keinginan ini sempat terbersit kembali ketika minggu lalu saya bersama rekan kantor memeriksa pengadaan bahan di seputaran Pelaga Kecamatan Petang. MiRah tentu saja kami ajak serta.

Disepanjang perjalanan suara kecil MiRah tidak banyak terdengar lantaran ia dengan segera tertidur begitu kendaraan memasuki daerah Desa Sibang. Topik pembicaraanpun berubah menjadi topik pekerjaan kami dan masa lalu kedua orang tua. Perjalanan makin terasa panjang setelah Ibunya MiRah dan kedua ortu tertidur sementara saya hanya ditemani lantunan musisi idola, Iwan Fals. Melewati Sangeh yang kini tak lagi bisa ditemui makhluk monyetnya dipinggiran jalan rupanya tak membuat MiRah tersadar dari tidurnya, perjalanan belum juga usai.

Satu persatu desa kami lewati, sebuah momen yang biasanya saya manfaatkan untuk menghafalkan ruas jalan sambil melihat peta jalan kabupaten yang tersimpan dalam format pdf didalam ponsel Nokia. Hal yang dahulu kerap saya lakukan saat traveling berdua bersama istri didampingi PDA jadul.

Hawa mulai terasa sejuk ketika kendaraan memasuki daerah Petang, langit Badung Utara sudah terlihat makin benderang dari sebelumnya. Seakan matahari menyambut kami dengan sinarnya yang cerah. Tawa kecil MiRah sudah mendominasi, sambil sesekali bertanya pada kami apa yang dilihatnya menarik disepanjang perjalanan. ’itu apa Bu ?’ ’itu apa Kek ?’

Matahari mulai terik saat kami sampai di Jembatan Bangkung. Suasana tidak seramai hari libur biasanya, hanya terlihat beberapa orang yang tampak menikmati pemandangan dari arah jembatan. Kami menepi diujung akhir dan mulai menikmati kemegahan konstruksinya. Satu persatu kendaraan yang tampak melewati kawasan jembatan memilih ikut menepi sembari beristirahat sejenak dibeberapa warung sekitar. Dinginnya hawa membuat kami betah berlama-lama.

Setelah mengambil beberapa foto bersama berlatarkan jembatan, yang sedianya akan kami cetak dan sebarkan melalui jejaring sosial FaceBook agar diketahui oleh keluarga kakak di Kanada, kami memilih dengan segera untuk kembali pulang ke Denpasar. Hal ini kami putuskan setelah melihat situasi, dimana Jembatan Bangkung menjadi titik awal massa yang akan berkampanye, mengusung paket cabup bernomor urut satu. Ketimbang terjebak macet nantinya.

MiRah tampak senang ketika perjalanan meluncur kembali pulang, bisa jadi lantaran kendaraan tampak basah kuyup diguyur hujan. ia langsung beraksi membersihkan jendela menirukan wiper yang bergerak bolak balik, satu kesenangan terakhir yang ia dapatkan ketika kami pulang kampung hari jumat lalu. Sambil bernyanyi satu persatu gending rare yang kami ajarkan dengan suaranya yang masih belepotan.

’peteng uyan ujan bayes megudugan… katak ongkang pade giyang ye medande… kuk kek, kek kung kek ong… kuk kek kek kung kek ong…”

Made Nik ilig Otong ibi Ande

Category : tentang Buah Hati

Hampir setiap malam sebelum tidur putri kami meminta Kakek Neneknya untuk mendampinginya, sekedar mendongeng, bercerita tentang ’i pepet dan busuan’ (mirip cerita Bawang Putih dan Bawang Merah) hingga cerita tentang kecerdikan binatang kancil menghadapi monyet. Saking seringnya Mirah meminta, improvisasi kedua orang tua kami itu makin berkembang ke ranah keseharian. Menyelipkan nama kami (bapak ibunya MiRah) sebagai salah dua tokoh cerita. Harapannya tentu saja, MiRah mampu melafalkan namanya sendiri beserta nama kedua orangtuanya.

Pagi hari ketika MiRah terjaga dari tidur, saya yang kerap ditugasi untuk menunggui MiRah iseng bertanya perihal isi cerita yang disampaikan malam sebelumnya. Dari binatang apa yang terlibat didalamnya, bagaimana aksi sang monyet sampai ke cerita improvisasi, siapa nama Bapak dan Ibunya MiRah. Dengan suaranya yang cepat, MiRah ternyata mampu menyebutkan namanya sendiri, nama saya (bapaknya) dan nama istri (ibunya) dengan baik. Hanya saja terkadang diikuti dengan tambahan akhiran yang panjang. ’Ande Utu MiYah Ayati Ewi wi wi wi wi….’

Tergelitik dengan kemampuan menghafalnya MiRah, disela waktu mainnya saya lantas mencoba memperkenalkannya dengan nama kakek dan neneknya. Satu persatu dan diulang agar MiRah dapat menghafalkannya dengan baik. Tinggal diberi clue (petunjuk) nama depan, MiRahpun dengan sigap dapat menyebutkannya dihadapan kakek neneknya.

’Ande Etut A’ka’ (Pande Ketut Arka) dan ’Ande Made Cudi a’sih’ (Pande Made Sudiarsih).

Ohya, apakah saya pernah mengatakan kalo MiRah itu tergolong jahil untuk anak seusianya ?

Satu kali ketika kami mengajak MiRah kerumah kakek neneknya di Canggu, iseng kami tanyakan pada MiRah hasil ’pelajaran’ yang kami berikan padanya. Hasilnya sungguh tak disangka, MiRah malah menjawabnya dengan cara diplesetkan.

’siapa nama kakek ? Ketut…’ tanya saya sambil memberi clue nama depan, eh MiRah menjawabnya ’Etut A’ka Wibawa wa wa wa…’ (nama kakek disambung dengan nama bapaknya MiRah). Tawa kamipun meledak… belum lagi usai ibunya MiRah tertawa, langsung saya sambung dengan ’trus nama Nenek ? Made…’

’Made Nik ilig Otong ibi Andeeeeee….’ teriaknya lantang. Kamipun makin tak tahan untuk tertawa. Sekedar informasi, apa yang dikatakan MiRah tadi itu adalah sepotong lirik lagu anak-anak Bali ’Made Cenik’ yang ia sukai

”Made Cenik lilig montor ibi sanje… Montor Badung ke Gianyar… Gedebeg’e muat Batu…”