Bermain Api… Indikasi, Curiga atau Kenyataan ?

9

Category : Cinta, tentang DiRi SenDiri

Apa yang Anda rasakan ketika satu hari orang yang Anda cintai sepenuh hati, tiba-tiba mengindikasikan Anda ada main dengan perempuan lain yang merupakan rekan kantor ? Marah ? Sedih ? atau Bingung ?

Adapun Alasan utama yang memicu hal tersebut adalah karena Anda ketika berada dalam situasi yang membutuhkan informasi seputar tempat kerja, hampir dapat dipastikan (sepengetahuannya) akan menghubungi nomor ponsel perempuan yang ia curigai. Padahal Anda sama sekali tak memiliki pikiran sejauh itu ? Apa yang akan Anda lakukan ? Marah ? memutuskan untuk tidak menghubungi yang bersangkutan didepan orang yang Anda cintai ? atau makin bingung ?

Cukup lama memang saya tidak berkeluh kesah tentang hal-hal yang bersifat (sangat) pribadi di blog ini. Pertimbangannya tentu saja karena blog ini memiliki pengunjung yang memiliki beragam kepentingan dan barangkali tidak akan memiliki waktu luang untuk membaca, memahami dan menjawab hal tersebut. Tapi yah, karena ini merupakan media pribadi milik saya satu-satunya, maka disinilah semuanya tumpah.

Kadang saya bingung dengan sifat wanita. Mungkin itu sebabnya saya dapat dikatakan kurang romantis. Bingung karena ternyata mereka punya pemikiran yang sudah sedemikian jauh, padahal jujur saja pikiran saya tidak sampai sejauh itu.

Dengan kesibukan pekerjaan kantor, dari  survey, membuat dokumen, gambar dan peta, pemeriksaan pekerjaan, berpanas-panas dilapangan hingga ke hal-hal yang membutuhkan  konsentrasi pikiran jauh lebih dalam seperti instalasi Debian untuk persiapan Pelatihan Tim LPSE yang terakhir saya lakukan, jujur saja belum pernah terlintas satu pikiran untuk bermain api dengan perempuan lain.

Memang saya akui, jika laki-laki umumnya memang suka memancing sedikit di air keruh. Suka bermain api kecil dan secara tak sadar mampu membesar dengan sendirinya dan membakar semua cita yang sudah dirintis sejak awal. Demikian pula lingkungan kerja kami. PNS merupakan oknum urutan pertama yang memiliki kecenderungan untuk bermain seperti itu. Tapi bukankah ‘tidak semua’ PNS seperti itu ? sama halnya dengan membolos kerja, ‘tidak semua’ PNS memiliki mental bobrok begitu.

Sangat menyakitkan ketika wanita yang begitu saya puja dan cintai tiba-tiba mengindikasikan saya sejauh itu dan rata-rata rekan kaumnya mengamini kecurigaan tersebut. Kalo sudah begitu, lebih baik saya diam saja. Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang paling saya benci. Diindikasikan ada main dengan perempuan rekan sekantor. Padahal saya berani mempertaruhkan kepala dan reputasi saya untuk membuktikan bahwa itu tidak benar. Tapi memang, Gak salah jika Istri saya bersikap demikian, karena orang lainpun saya yakin akan punya pemikiran yang sama.

Hal yang kemudian memecah konsentrasi kerja dan mood untuk ng-BLoG…

Minggu Pagi di Jembatan Bangkung

7

Category : tentang Buah Hati, tentang PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami berangkat dari rumah Minggu kemarin, langit Kota Denpasar terlihat mendung berawan dan lalu lintas tidak begitu ramai disepanjang perjalanan. Setelah tertunda lama, akhirnya jadi juga kami mewujudkan angan mengajak kedua orang tua untuk melihat secara langsung jembatan paling fenomenal yang berada di Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Jembatan Bangkung. Keinginan ini sempat terbersit kembali ketika minggu lalu saya bersama rekan kantor memeriksa pengadaan bahan di seputaran Pelaga Kecamatan Petang. MiRah tentu saja kami ajak serta.

Disepanjang perjalanan suara kecil MiRah tidak banyak terdengar lantaran ia dengan segera tertidur begitu kendaraan memasuki daerah Desa Sibang. Topik pembicaraanpun berubah menjadi topik pekerjaan kami dan masa lalu kedua orang tua. Perjalanan makin terasa panjang setelah Ibunya MiRah dan kedua ortu tertidur sementara saya hanya ditemani lantunan musisi idola, Iwan Fals. Melewati Sangeh yang kini tak lagi bisa ditemui makhluk monyetnya dipinggiran jalan rupanya tak membuat MiRah tersadar dari tidurnya, perjalanan belum juga usai.

Satu persatu desa kami lewati, sebuah momen yang biasanya saya manfaatkan untuk menghafalkan ruas jalan sambil melihat peta jalan kabupaten yang tersimpan dalam format pdf didalam ponsel Nokia. Hal yang dahulu kerap saya lakukan saat traveling berdua bersama istri didampingi PDA jadul.

Hawa mulai terasa sejuk ketika kendaraan memasuki daerah Petang, langit Badung Utara sudah terlihat makin benderang dari sebelumnya. Seakan matahari menyambut kami dengan sinarnya yang cerah. Tawa kecil MiRah sudah mendominasi, sambil sesekali bertanya pada kami apa yang dilihatnya menarik disepanjang perjalanan. ’itu apa Bu ?’ ’itu apa Kek ?’

Matahari mulai terik saat kami sampai di Jembatan Bangkung. Suasana tidak seramai hari libur biasanya, hanya terlihat beberapa orang yang tampak menikmati pemandangan dari arah jembatan. Kami menepi diujung akhir dan mulai menikmati kemegahan konstruksinya. Satu persatu kendaraan yang tampak melewati kawasan jembatan memilih ikut menepi sembari beristirahat sejenak dibeberapa warung sekitar. Dinginnya hawa membuat kami betah berlama-lama.

Setelah mengambil beberapa foto bersama berlatarkan jembatan, yang sedianya akan kami cetak dan sebarkan melalui jejaring sosial FaceBook agar diketahui oleh keluarga kakak di Kanada, kami memilih dengan segera untuk kembali pulang ke Denpasar. Hal ini kami putuskan setelah melihat situasi, dimana Jembatan Bangkung menjadi titik awal massa yang akan berkampanye, mengusung paket cabup bernomor urut satu. Ketimbang terjebak macet nantinya.

MiRah tampak senang ketika perjalanan meluncur kembali pulang, bisa jadi lantaran kendaraan tampak basah kuyup diguyur hujan. ia langsung beraksi membersihkan jendela menirukan wiper yang bergerak bolak balik, satu kesenangan terakhir yang ia dapatkan ketika kami pulang kampung hari jumat lalu. Sambil bernyanyi satu persatu gending rare yang kami ajarkan dengan suaranya yang masih belepotan.

’peteng uyan ujan bayes megudugan… katak ongkang pade giyang ye medande… kuk kek, kek kung kek ong… kuk kek kek kung kek ong…”

Made Nik ilig Otong ibi Ande

1

Category : tentang Buah Hati

Hampir setiap malam sebelum tidur putri kami meminta Kakek Neneknya untuk mendampinginya, sekedar mendongeng, bercerita tentang ’i pepet dan busuan’ (mirip cerita Bawang Putih dan Bawang Merah) hingga cerita tentang kecerdikan binatang kancil menghadapi monyet. Saking seringnya Mirah meminta, improvisasi kedua orang tua kami itu makin berkembang ke ranah keseharian. Menyelipkan nama kami (bapak ibunya MiRah) sebagai salah dua tokoh cerita. Harapannya tentu saja, MiRah mampu melafalkan namanya sendiri beserta nama kedua orangtuanya.

Pagi hari ketika MiRah terjaga dari tidur, saya yang kerap ditugasi untuk menunggui MiRah iseng bertanya perihal isi cerita yang disampaikan malam sebelumnya. Dari binatang apa yang terlibat didalamnya, bagaimana aksi sang monyet sampai ke cerita improvisasi, siapa nama Bapak dan Ibunya MiRah. Dengan suaranya yang cepat, MiRah ternyata mampu menyebutkan namanya sendiri, nama saya (bapaknya) dan nama istri (ibunya) dengan baik. Hanya saja terkadang diikuti dengan tambahan akhiran yang panjang. ’Ande Utu MiYah Ayati Ewi wi wi wi wi….’

Tergelitik dengan kemampuan menghafalnya MiRah, disela waktu mainnya saya lantas mencoba memperkenalkannya dengan nama kakek dan neneknya. Satu persatu dan diulang agar MiRah dapat menghafalkannya dengan baik. Tinggal diberi clue (petunjuk) nama depan, MiRahpun dengan sigap dapat menyebutkannya dihadapan kakek neneknya.

’Ande Etut A’ka’ (Pande Ketut Arka) dan ’Ande Made Cudi a’sih’ (Pande Made Sudiarsih).

Ohya, apakah saya pernah mengatakan kalo MiRah itu tergolong jahil untuk anak seusianya ?

Satu kali ketika kami mengajak MiRah kerumah kakek neneknya di Canggu, iseng kami tanyakan pada MiRah hasil ’pelajaran’ yang kami berikan padanya. Hasilnya sungguh tak disangka, MiRah malah menjawabnya dengan cara diplesetkan.

’siapa nama kakek ? Ketut…’ tanya saya sambil memberi clue nama depan, eh MiRah menjawabnya ’Etut A’ka Wibawa wa wa wa…’ (nama kakek disambung dengan nama bapaknya MiRah). Tawa kamipun meledak… belum lagi usai ibunya MiRah tertawa, langsung saya sambung dengan ’trus nama Nenek ? Made…’

’Made Nik ilig Otong ibi Andeeeeee….’ teriaknya lantang. Kamipun makin tak tahan untuk tertawa. Sekedar informasi, apa yang dikatakan MiRah tadi itu adalah sepotong lirik lagu anak-anak Bali ’Made Cenik’ yang ia sukai

”Made Cenik lilig montor ibi sanje… Montor Badung ke Gianyar… Gedebeg’e muat Batu…”

MiRah dan PanTai Segara

6

Category : tentang Buah Hati

‘antai yuk pak ?’ pinta MiRah satu pagi. ’ha ? Pantai ?’ tanya saya balik. MiRah pun menganggukkan kepalanya yang bulat. ’beyenang yuk pak…’ tambahnya.

Kadang untuk memahami permintaan atau kata-kata MiRah, saya memerlukan waktu atau banyak kosa kata untuk ditanyakan balik jika tidak ingin ia marah-marah. Kata yang kurang lebih punya lafal yang mirip dengan yang ia katakan. Jika berkali-kali saya salah menerjemahkan, bisa ditebak kelakuannyapun mulai berubah. Dari tadinya manis dan tertawa kecil, menjadi menghentak berteriak. Kalo sudah begitu sayapun memanggil penerjemah paling handal sedunia yang mengerti dan memahami MiRah, ibunya. Hehehe…

Sejauh ini baru kali kedua kami mengajak MiRah ke Pantai. Yang pertama kalo tidak salah saat usianya menginjak bulan 13 (tiga belas), hampir setahun lalu. Itupun gara-gara MiRah belum bisa berjalan menapak dengan kakinya sendiri. Dari satu sumber yang dapat dipercaya, pantai bisa jadi satu alternatif untuk memicu hal tersebut. Percaya atau tidak, malam masih dihari yang sama, MiRah nyatanya memulai aktifitas menapakkan kakinya satu demi satu di lantai.

Pantai Segara yang berlokasi disebelah utara Pantai Sindhu, tepatnya dari perempatan Mac Donalds Sanur meluncur lurus kearah timur, merupakan pilihan kami sejak awal. Bisa jadi lantaran diujung jalan terdapat pos Balawista yang menyediakan 2 (dua) buah kamar mandi untuk membilas badan usai berendam.

Dadakan, kami mengajak MiRah kembali hari sabtu pagi kemarin untuk menikmati lengketnya pasir putih dan tenangnya air pantai. Jika saat pertama lalu MiRah masih takut menjejakkan kakinya di pasir, kali ini sudah tidak lagi. Yang mengasyikkan malahan saat pertama kalinya ia kami ajak berendam di pinggir air pantai. Dari teriakan histeris takut air hingga kemudian larut bermain bareng kakeknya yang ikut serta, MiRah rupanya sangat menikmati hari sabtu pagi itu.

Matahari yang seakan terburu-buru naik kelangit, membuat kami mulai merasakan panas sengatnya dan memutuskan untuk pamit. Sayang, MiRah kali ini tidak mau beranjak dari air. ’ndak mau puyang Pak…’ pintanya berkali-kali. Waaah… kami jadi cekikikan mendengarnya.

Memperkenalkan Budaya Bali pada si kecil MiRah

8

Category : tentang Buah Hati

Sejak putri kecil kami MiRah masih berada dalam kandungan ibunya, sebetulnya ia sudah kami perkenalkan dengan budaya Bali. Jika buku-buku panduan menyarankan untuk memperdengarkan musik klasik (Mozart, Vivaldi dll) sepanjang ibunya berada dirumah hingga tidur, kami mengambil opsi lain dengan memperdengarkan musik tradisional seperti rindik, jegog, angklung hingga milik tetangga seberang lautan, kecapi dan degung.

Keputusan ini kami ambil setelah mencoba berkali-kali memutarkan musik klasik namun yang kami rasakan malah ketidaknyamanan perasaan selama (berusaha untuk ikut) menikmatinya. Maka kamipun sedikit berkompromi agar apa yang kami berikan pada si kecil dalam kandungan dapat pula kami nikmati sambil beraktifitas.

Kebiasaan memperdengarkan musik ini akhirnya terus kami lanjutkan hingga kelahiran MiRah dan tumbuh kembangnya. Dari sekian banyak yang kami putar setiap harinya. Yang kemudian kerap disukai oleh Mirah sebagai pengantar tidurnya adalah Kecapi dan Degung.

Ketika MiRah sudah mulai mampu memahami indahnya musik tradisional ini, keinginannya makin bertambah dengan meminta saya untuk memutarkan gambelan Bali dari Tabuh Telu, Semarandana hingga tabuh klasik yang kerap digunakan untuk mengiringi upacara persembahyangan.

Kegemarannya akan gambelan tradisonal Bali makin menjadi ketika kami memutuskan untuk memperkenalkannya dengan video Tari Bali. Dari yang familiar bagi kami hingga yang dahulu kami sukai saat usia sekolah. Efeknya bisa ditebak, MiRah makin keranjingan menyaksikan layar video ketimbang menikmati sinetron seperti halnya anak-anak lainnya.

Hobi mengumpulkan videocd tembang anak-anak Bali sebelum kami menikah, rupanya baru dapat dirasakan saat ini. Keping vcd Bali Family yang dahulu saya simpan mulai saya tayangkan pula sebagai salah satu menu tambahan hiburan bagi MiRah. hasilnya, MiRah sangat menyukai dan mulai mampu melafalkan satu persatu tembang anak-anak Bali yang ada didalamnya. ’Mejangeran’, ’Putri Cening Ayu’, ’Sekar Emas’, ’Ratu Anom’, hingga ’Dadong Dauh’ dan Made Cenik’pun bisa ia nyanyikan kendati sedang berada diluar rumah.

Untuk mendukung kegemarannya tersebut, beberapa video yang ia sukai, kami ubah format filenya agar mampu ditonton pula lewat layar ponsel, yang kemudian saya suntikkan kedalam ponsel pribadi dan yang dibawa istri. Jadilah saat berada dalam perjalanan yang kadang mulai membosankan bagi MiRah, ia dapat pula bernyanyi sambil menonton video yang ia sukai pada layar ponsel.

Upaya memperkenalkan budaya Bali kepada MiRah sejak kecil merupakan satu cara terbaik yang dapat kami lakukan, agar nantinya keturunan kami tak lantas melupakan akar budayanya ditengah serbuan arus kecanggihan teknologi informasi dan budaya asing.

Hujan Sehari Mangu Praja Mandala

2

Category : tentang PeKerJaan

Dingin yang menyengat sekejur tubuh belum jua hilang kendati sudah berusaha untuk dipanaskan dengan cara berlari menaiki tangga 3 (tiga) lantai menuju ruangan kerja. Satu pagi di Mangu Praja Mandala, Pusat Pemerintah Daerah Kabupaten Badung.

Guyuran hujan seminggu terakhir, seakan ingin menumpahkan persediaan air yang terkumpul selama setahun terakhir. Air menggenangi dak didepan koridor lantai 3 (tiga) tempatku berdiri sambil membayangkan ide paling aneh yang pernah terpikirkan sebulan terakhir.

Menikmati panorama yang terhampar dari atas, disebuah balkon salah satu ruangan kerja kami, masih menampakkan kesepian jalan dikawasan Mangu Praja Mandala. Lahan Hijau masih terpampang luas sejauh mata memandang. Memandang takjub pada suasana yang tercipta pagi ini, sejuknya hawa Bedugul mulai terlintas dikepala.

Pekerjaan tidak lagi menjadi satu momok setiap harinya, karena kenyamanan yang dirasakan siap melahap waktu dengan cepat.