Genjer Genjer neng ledokan pating keleler

8

Category : tentang Opini

Kalimat diatas merupakan baris pertama dari sebuah lagu jaman dahulu kala negeri ini yang menjadi saksi sejarah atas sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September atau G30S PKI. Sayang, dalam perkembangannya lagu Genjer-genjer malahan di black list (baca:dilarang putar dan dinyanyikan) oleh Pemerintah Orde Baru karena dianggap mampu menggelorakan bahaya laten komunis di negeri ini. Ada yang gak tau dengan lagu Genjer-genjer ini ?

GenJer2

Genjer-genjer menurut beberapa sumber digubah oleh Mohammad Arief seorang pemimpin lembaga musik dan dinyanyikan untuk pertama kalinya saat rombongan para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia (Lembaga Kebudayaan Rakyat-Lekra, Lembaga Kebudayaan Nasional-LKN dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia-Lesbumi) menyinggahi kota banyuwangi jawa timur dalam perjalanan mereka untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali.

Lagu ini sesungguhnya mengisahkan tentang tumbuhan Genjer (limnocharis flava), tumbuhan pengganggu disawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, digunakan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang di negeri ini. Simak saja barisan lirik lagu ‘Genjer-genjer’ dibawah ini :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih

Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

didjejer-djejer diunting pada didasar

didjejer-djejer diunting pada didasar

emake djebeng tuku gendjer wadahi etas

gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

setengah mateng dientas digawe iwak

setengah mateng dientas digawe iwak

sega sa piring sambel penjel ndok ngamben

gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

yang artinya :

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan

Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan

Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer

ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer

Dapat sebakul dipilih yang muda-muda

Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ditata berjajar diikat dijajakan

Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas

Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak

setengah matang ditiriskan dijadikan lauk

setengah matang ditiriskan dijadikan lauk

nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin

Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Ketika peristiwa G30S terjadi, lirik lagu Genjer-genjer kemudian diplesetkan sebagai berikut :

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler

Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral

Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh

Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa

Dijejer ditaleni dan dipelosoro

Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo

Jendral Jendral maju terus dipateni

Lantaran keisengan inilah lagu genjer-genjer pada masa Pemerintahan Orde Baru kemudian dibredel dan siapapun yang kedapatan menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu saja dengan tuduhan Komunis. Sebagai tambahan informasi, kendati saat ini jaman sudah banyak berubah namun masih ada sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan lagu ini diperdengarkan kembali, seperti halnya yang terjadi di Radio Solo 14 September 2009 lalu. Bagi yang belum tahu bagaimana lagu Genjer-genjer yang dimaksud, bisa langsung meluncur ke portal video YouTube untuk mendapatkan versi yang dinyanyikan oleh alm. Bing Slamet. Alamatnya disini.

Secara pribadi saya berpendapat, sudah saatnya kita lebih berpikir jernih dalam menghargai satu karya anak bangsa di masa lalu, kendati hingga saat ini mereka masih disebut sebagai Komunis. Ketimbang lagu ini tetap di-black list dan dilarang diperdengarkan atas alasan ‘khawatir membangkitkan paham komunisme, saya malah jauh lebih khawatir apabila lagu yang merakyat ini di-klaim oleh tetangga kita sebagai budaya mereka. Hehehe… apakah kita akan melakukan protes dan demo jika itu sampai terjadi ?

Ngomong-ngomong soal lagu Genjer-genjer, setelah saya dengarkan berulang kali bahkan sempat saya jadikan RingTone ponsel, irama pada awal lagu ini kok mirip-mirip dengan lagu ‘Tak Gendong’ karya Mbah Surip ya ? atau malah jauh lebih mirip dengan salah satu lagu favorit saya sepanjang masa ‘Wakil Rakyat’ karya Iwan Fals. Hmmm… bagaimana pendapat Anda ?

*Referensi :

Rohman Hidayat Yuliawan (sendaljepit.wordpress.com)

Andi Eko (The Information Gateway)

Tempo Interaktif

PanDe Baik dan HP Compaq Presario CQ40

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Kesan pertama yang dapat saya gambarkan begitu melihat sosok laptop pengganti Acer saya terdahulu adalah ‘modelnya jadul banget, mirip laptop lama merk Toshiba milik atasan saya terdahulu. Kalo ga’salah ingat pas awal pembuatan blog ini diawalinya ya dengan laptop Toshiba milik atasan saya itu loh. Hehehe… Kenapa saya katakan jadul, karena pada area bawah keyboardnya ada lapisan metal berwarna silver sedangkan area keyboard dan frame layarnya berwarna hitam.
HP inside
HP Compaq Presario CQ40, kurang lebih demikian seri laptop yang saya ketahui dari label yang terdapat pada lapisan metal pada bagian dalam laptop, yang ternyata setelah hunting di Mbah Google malahan memiliki beragam macam nomor seri lagi yang berbeda. Perbedaan nomor seri pada laptop CQ40 ini disebabkan oleh perbedaan prosesor yang digunakan, besaran kapasitas penyimpanan maupun jenis kartu grafis yang digunakan. Adapun nomor seri yang dimaksudkan pada laptop yang kini saya gunakan adalah 416AU.

Untuk lebih jelasnya berikut spesifikasi laptop seperti yang tertera pada box pembelian. Prosesor AMD Turion X2 Dual Core 2,2 GHz, kartu grafis Ati Radeon HD 3200, hard disk 320 GB, memory DDR 2 GB (aslinya Cuma 1 GB), DVD+RW double layer, Wifi, webcam, card reader built in dan layar 14”. Sayangnya minus Bluetooth. Ketiadaan koneksi nirkabel yang dahulu biasa saya gunakan untuk mentransfer data, lagu dan foto dari-ke ponsel, saya akali dengan menggunakan dongle eksternal bluetooth yang bentuknya kecil sehingga ga’terlalu mengganggu pemandangan.
HP BT
Dibandingkan Acer 4520 laptop pertama saya terdahulu, tidak banyak tombol yang disediakan oleh Compaq pada bodi baik disekitar permukaan keyboard maupun sisi samping, yang ada hanyalah tombol Power dan Wifi. Ini agak menyulitkan saya untuk mengatur volume audio yang dimainkan mengingat ketiadaan pengatur volume audio seperti halnya Acer.

Rumitnya penggunaan shortcut tombol pada keyboard juga lumayan menyulitkan saya mengakses fungsi-fungsi tertentu pada laptop. Untuk pengaturan volume sebenarnya sudah ada namun tidak dapat berfungsi dengan baik, demikian pula dengan pengaturan tingkat kecerahan (brightness) layar. Barangkali memerlukan aplikasi khusus untuk dapat menggunakannya.

Yang tak kalah mengejutkan adalah colokan power yang disediakan tidak tergolong standar Indonesia, masih berstandar Internasional. Untuk itu saya musti mencarikan colokan converter agar bisa digunakan pada colokan listrik dirumah. Ada dua buah colokan power yang disediakan, namun hanya satu yang dapat digunakan. Ini terkait dengan voltase yang dimiliki oleh masing-masing colokan.

Untuk performa jujur saja blom sempat saya coba dengan membuka data peta berukuran besar ataupun menjelajah peta dunia, namun ada beberapa fitur baru yang saya lihat mulai digunakan oleh laptop masa kini termasuk Compaq yang saya miliki ini. Diantaranya tombol on/off touchpad, berguna apabila kita lebih familiar dengan mouse ketimbang touchpad, sehingga fitur ini bisa di-nonaktifkan.

Selama kurang lebih seminggu pemakaian laptop HP Compaq Presario CQ40 416AU ini bisa dikatakan belum banyak yang saya lakukan untuk mencari tahu seberapa besar manfaat yang diberikan dibandingkan laptop Acer saya terdahulu. Paling-paling hanya untuk terkoneksi internet, donlot Youtube (seperti biasa) dan chat via webcam mumpung koneksi dah unlimited. Mungkin lain kali bisa saya lanjutkan lagi.

Bye ACER 4520, Welcome HP Compaq Presario CQ40

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Tepat dua tahun… umur laptop pertama yang saya miliki. Mengambil Acer seri 4520 edisi kedua kalo ga’salah, bisa dilihat dari ciri chasing luarnya yang udah full berwarna hitam mengkilap dan lapisan dalam baik frame layar maupum keyboardnya sudah berwarna putih nyaris krem. Boleh dikatakan laptop ini sangat berjasa bagi kelangsungan proses perkuliahan saya selama dua tahun tersebut hingga menyelesaikan tugas terakhir bernama Tesis. That’s great…

Sayang, disaat saya begitu merasakan ketergantungan pada benda bernama laptop, Acer yang saya miliki tersebut mulai menunjukkan ketidakberesannya. Pertama, loading start windows yang cukup lama, kendati item pada proses startup sudah saya pangkas menyisakan fitur Bluetooth, Antivirus dan driver pendukung laptop saja. Proses loading baru benar-benar bisa dikatakan berhasil apabila item Wireless Connection sudah berhasil ditampilkan di pojok kanan bawah. Jika tidak, maka apapun yang dilakukan (sambil menunggu proses loading selesai) tidak akan dapat berjalan dengan baik. Contohnya saja menjalankan aplikasi Winamp atau koneksi internet yang secara otomatis bakalan hang dan mengakibatkan tampilan layar bergetar ga;mampu dikendalikan.

Penyakit kedua dialami ketika modem eksternal dicolokkan ke port USB biasanya akan menampilkan kotak dialog di pojok kanan bawah bertuliskan ‘USB not recognized’ yang artinya modem musti dicabut dan dicolok ulang dan berulang kali hingga berhasil. Penyakit ketiga sekaligus terakhir adalah dvdrom tidak dapat dideteksi oleh laptop kendati sudah di booting ulang.

Berdasarkan ketiga keluhan diatas saya menyerahkan laptop kepada Technic Computer, tempat dimana saya membelinya dahulu selama kurang lebih dua hari untuk diperiksa, yang akhirnya menjawab semua keluhan saya. Kerusakan terjadi akibat gangguan pada mainboard laptop. Mereka memberikan tiga opsi kepada saya untuk dipilih.

Pertama, mainboard diakali dan biasanya bisa berhasil dengan garansi sebulan, namun tidak menutup kemungkinan masalah yang sama akan timbul kembali. Kedua, me-replace mainboard dengan biaya sebesar 2,5 juta rupiah (nyaris seharga laptop baru) dengan masa garansi 2-6 bulan. Ketiga, dibandingkan ribet soal perbaikan, mereka menyarankan saya untuk menjual laptop dan mengambil baru. Hmmm… jujur saja ini adalah pilihan yang teramat sulit bagi saya yang memiliki dana cekak dan amat sangat terbatas. Bukankah pertimbangan utama saya untuk menyelesaikan studi S2 lebih awal lantaran terkendala biaya ?

Bersyukur Istri mampu memberikan pertimbangan yang sangat baik kepada saya secara pribadi. Ini setelah pentolan Technic Computer menyarankan kepada saya untuk mengambil opsi ketiga plus tambahan beberapa kemudahan. Saya bisa mendapatkan laptop yang saya inginkan kendati laptop Acer tersebut belum terjual. Waaahh… tawaran menarik tentu saja.

Untuk pilihan berikutnya banyak rekan yang menyarankan ‘jangan mengambil Acer lagi deh. Bukan apa-apa, karena mereka memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan yang saya alami. Bermasalah pada mainboardnya. Hey ada apa dengan Acer ? bathin saya… istri pun demikian, sekalian saja mengambil yang ‘terpercaya’ walaupun sedikit lebih mahal, toh masih ada sedikit persediaan dana yang bisa digunakan. Masih tak kalah, pentolan Technic computerpun memberikan daftar list laptop yang ‘layak untuk dijadikan sebagai hak milik. Pertimbangannya tentu saja kartu grafis tambahan agar lebih memudahkan pekerjaan saya yang hampir selalu bersinggungan dengan aplikasi grafis seperti AutoCad dan juga Photoshop.

Maka jadilah saya memilih HP Compaq Presario CQ 40 sebagai ‘the next notebook menggantikan Acer 4520 terdahulu. Laptop ini memiliki spesifikasi yang gak jauh beda dengan laptop Acer sebelumnya yaitu prosesor AMD Turion X2 2,2 GHz dan kartu grafis Ati Radeon HD 3200 plus kapasitas penyimpanan (hard disk) sebesar 320 GB. Sudah lebih dari cukup saya kira.
Bye HP Compaq
Untuk bagaimana gambaran kesan pertama saya menggunakan laptop baru ini, saya ceritakan dalam tulisan terpisah selanjutnya. Hehehe…

Bikin sendiri Screenshot-mu

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Pada beberapa tulisan saya sebelumnya yang membahas tentang aplikasi baik pada ponsel, pda maupun pc rata-rata menggunakan screenshot dari aplikasi terkait sebagai gambar ilustrasi pelengkap tulisan. Ini saya lakukan untuk lebih meyakinkan pembaca bahwa ‘saya telah melakukannya’ dan bukan mengambil atau copy paste dari orang lain. Demikian pula dengan isi Tesis saya keseluruhan, yang sebagian besar gambar yang ditampilkan sebagai ilustrasinya merupakan karya sendiri. Mau tahu bagaimana caranya ?

Untuk membuat tampilan screenshot pada PC, tinggal menekan tombol “ PrtSc “ atau kependekan dari Print Screen yang ada pada keyboard sisi atas, tepatnya diantara tombol “F12” dan “Pause”. Menekan tombol tersebut sama halnya dengan melakukan perintah ‘copy’ atau menekan shortcut tombol keyboard “Ctrl+C” pada aplikasi berbasis Windows. Jadi gak akan menimbulkan reaksi apa-apa.
PRTSc
Agar lebih meyakinkan silahkan membuka aplikasi pengolah gambar seperti Paint yang ada secara default pada folder Accessories Start Menu PC, pilih pilihan ‘paste’ atau langsung menekan shortcut tombol keyboard “Ctrl+V”. Tadaaa… pada layar akan ditampilkan fotocopi-an tampilan layar PC pada saat penekanan tombol “PrtSc” dilakukan. Lakukan editing yang dianggap perlu dan simpan.

Untuk membuat tampilan screenshot pada layar ponsel khususnya Nokia yang telah menggunakan sistem operasi Symbian 60 3rd Edition, dapat menggunakan bantuan aplikasi Screenshot buatan Antony Pranata. Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengambil gambar yang sedang aktif pada layar ponsel dengan memanfaatkan atau menekan tombol kamera yang biasanya berada pada sisi kanan ponsel. File akan tersimpan pada folder khusus (Screenshot) yang dapat diatur apakah ditempatkan pada memori internal atau eksternal ponsel.

Hanya saja sejauh yang saya coba, aplikasi ini tidak dapat digunakan pada ponsel yang tidak memiliki tombol kamera secara khusus seperti halnya Nokia seri E71. Kendati seri tersebut mengadopsi OS yang sama. Ini disebabkan oleh tombol yang digunakan untuk mengeksekusi kamera pada seri tersebut adalah tombol joystick navigasi-nya.

Untuk membuat tampilan screenshot pada layar ponsel atau pda yang telah menggunakan sistem operasi Windows Mobile, entah itu yang tergolong Smartphone (tanpa layar sentuh) atau Pocket PC (yang berlayar sentuh), dapat menggunakan aplikasi My Mobiler yang terintegrasi pada PC. Aplikasi ini akan secara otomatis berjalan ketika kabel data pada handset disambungkan dengan PC.

Tampilan yang sedang aktif pada layar ponsel/pda dapat diambil dengan menekan shortcut tombol keyboard “Ctrl+S” untuk mengcopy kedalam daftar clipboard (seperti halnya tombol “PrtSc” diatas) atau langsung dijadikan dalam bentuk file dengan menekan shortcut tombol keyboard “Ctrl+F”.

Bagi yang ingin mencobanya silahkan mengunduh (download) langsung dari alamat berikut ini :

My Mobiler untuk ponsel/pda Windows Mobile
Screenshot v.3.01 untuk Nokia Symbian 3rd Edition

Jahili Temanmu dengan Face Warp

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa bulan lalu saya menemukan dan mencoba sebuah aplikasi untuk ponsel yang unik, namun baru sekarang sempat dibagi. He… Mohon dimaklumi. Nama aplikasi tersebut adalah Face Warp.

Fungsinya kurang lebih untuk menjahili foto atau gambar wajah seseorang baik yang sudah tersedia pada ponsel maupun dengan menjepretnya langsung melalui aplikasi ini. Tingkat kejahilannya sama persis dengan kelakukan saya sejak satu dua tahun terakhir yang kerap melakukan editing pada foto-foto mejeng rekan di kantor yang diambil saat survey turun ke lapangan dengan memanfaatkan kamera milik kantor. Hihihi… Saya sendiri melakukan kejahilan tersebut melalui jasa perangkat lunak ACDSee pada PC.

Kini ternyata ada cara yang lebih mudah dan murah. Hehehe…

Aplikasi Face Warp mengubah wajah orang dengan efek distorsi dan bulge (meminjam istilah perangkat lunak ACDSee) sehingga menyebabkan wajah yang sudah terlihat ganteng atau cantik pada foto atau gambar jepretan kamera menjadi aneh dan sangat pantas untuk ditertawakan. Tapi mohon diingat, ini Cuma untuk lucu-lucuan loh, jangan sampe karena kejahilan ini lantas menimbulkan pertengkaran hebat. Hehehe…
Face Warp
Dari setiap aksi jahil ini aplikasi face warp memberikan 16 alternatif perubahan wajah dari sebutan UpNose, Insect, Professor, Happy Fool dsb. Untuk masing-masing foto alternatif perubahan wajahpun dapat disimpan pada folder yang dapat ditentukan oleh pengguna. Ohya, untuk besaran file yang dihasilkan kurang lebih sekitar 22,8 Kb atau seukuran VGA (640×480 pixel). Uniknya aplikasi ini dapat menangkap wajah obyek yang dimaksud, dimanapun posisi wajah si obyek penderita berada. Jadi ga’asal njeplak gitu aja.

Sayangnya pada ponsel Nokia, tidak semua seri dapat menjalankan aplikasi ini, kendati file aplikasi yang dimaksud merupakan aplikasi dalam format Java. Adapun aplikasi ini berhasil saya jalankan pada seri N73 yang notabene memiliki sistem operasi Symbian 60 3rd Edition. Sebaliknya tidak dapat dijalankan pada seri 6275i CDMA yang sebetulnya sudah mendukung Java. Entah kenapa…

Bagi yang ingin mencobanya dan tak sabar untuk melakukan aksi jahil menjahili ini, silahkan mengunduhnya (download) dari alamat berikut ini :

FaceWarp.jar 147 Kb

MoRange kini dalam tampilan Baru

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa waktu lalu saat laptop pertama yang saya miliki mengalami sedikit gangguan dan diputuskan untuk diinapkan sementara waktu (agar fokus perbaikan bisa jauh lebih baik), praktis aktifitas rutin yang biasanya saya lakukan berkaitan dengan dunia maya terhenti seketika. Kendati tidak sepenuhnya namun bisa dikatakan ada rasa hampa yang saya alami sepanjang waktu tersebut.

Solusi paling pertama yang bisa saya ambil adalah mengoptimalkan penggunaan ponsel sebagai sarana pengganti sementara mengingat solusi kedua yang saya rencanakan yaitu beraktifitas melalui Warnet tidak bisa saya lakukan setiap saat seperti halnya dahulu. Maka Morange kembali saya aktifkan baik pada ponsel cdma milik saya maupun gsm milik Istri. Sayangnya ada satu gangguan yang lumayan membuat saya kebingungan yaitu tidak berfungsinya fitur Push Email seperti yang dahulu pernah saya paparkan dalam tulisan BLoG ini.

Setelah dilakukan pengecekan melalui browser Opera Mini versi 3.0, sayapun bisa mengetahui bahwa dalam beberapa account email saya terdapat rata-rata sekitar 100-200an email yang belum dibaca (forward melalui fitur POP3). Ini bisa dimaklumi lantaran tiga hari setelah dan sebelum gangguan pada laptop terjadi, saya ga’sempat melakukan aktifitas cek email melalui Microsoft Outlook seperti sebelumnya. Berangkat dari permasalahan tersebut, saya bisa memaklumi apabila aplikasi MoRange yang saya miliki tidak mampu melaksanakan fungsi Push Emailnya dengan baik, sehingga saya mencoba hunting beberapa aplikasi berbasis Java yang dapat memberikan bantuan fitur Push Email secara Gratis.

Sambil melakukan aktifitas “Trial and Error” pada sejumlah aplikasi yang saya temukan via Getjar, secara iseng saya melakukan kunjungan ke web site resmi MoRange dan mendapati kabar menarik bahwa MoRange merilis versi terbaru mereka yaitu MoRange 5.1. Setelah melakukan pengunduhan (download) file aplikasi MoRange yang dimaksud, sayapun mengeksekusinya pada ponsel gsm milik Istri, Nokia N73. Hasilnya sangat mengagumkan.

Aplikasi MoRange terdahulu secara otomatis di-Replace oleh versi terbaru tanpa menghilangkan data akun email yang tercatat sebelumnya. MoRange kini ditampilkan dengan interface yang jauh lebih fresh sedikit mengingatkan saya pada user interface ponsel iPhone maupun Windows Mobile versi HTC. Ini bisa dilihat dari taskbar atas dan bawah, lingkaran kecil sebagai tanda proses loading, dan juga pop up pilihan yang ditampilkan apabila pengguna ingin menghapus email yang telah dibaca.

MoRange 1

Kembali pada permasalahan MoRange dalam versi sebelumnya yang mengalami disfungsi push email (cieeehh bahasanya nok) tidak lagi saya temui dalam versi baru ini. Buktinya MoRange langsung merespon fitur Push Email seperti biasanya, menarik ratusan jumlah email yang belum dibaca kedalam ponsel dalam waktu beberapa menit. Tinggallah saya yang kelabakan membacanya satu persatu. Hehehe…

Seperti halnya perubahan versi MoRange dari III ke V yang menambahkan satu games versi MoRange yaitu Ocean Age, dalam versi terbarunya ini MoRange sepertinya mencoba memperkenal kembali seri kedua games tersebut yaitu Orange WAR Age 2, bagi yang menyukai permainan games via ponsel barangkali bisa mencobanya. Selain itu ada juga beberapa penambahan fitur yang diusung pada versi terbaru yaitu Backup Contact (daftar teman yang dimiliki) dan Buy Your Friend yang mengingatkan saya pada kontroversial Facebook beberapa waktu lalu.

MoRange 2

Sayangnya ada beberapa perubahan yang dilakukan dari versi sebelumnya yaitu apabila pengguna melakukan Login pada aplikasi ini, layar tidak akan merespon pergerakan cursor (navigasi ponsel) hingga aktifitas Login berhasil dilakukan. Ini tentu saja berbeda dengan versi sebelumnya dimana pengguna sambil menunggu proses Login selesai, masih bisa melihat-lihat isi Morange secara offline termasuk membaca email yang telah diterima sebelumnya.

Bagi yang masih menggunakan MoRange V dan penasaran ingin mencoba versi terbarunya 5.1, dapat mengunduh (download) dari alamat dibawah ini. Ohya, ternyata aplikasi MoRange ada juga yang diperuntukkan bagi ponsel/pda berbasis sistem operasi Windows Mobile loh…

> MoRange untuk ponsel yang mendukung Java
> MoRange untuk Windows MobiLe

PanDe Baik menyayangkan aksi Buaya pongah menginjak cicak

1

Category : tentang Opini, tentang PeKerJaan

Satu bulan terakhir media cetak maupun televisi tak ketinggalan dunia maya dipenuhi cerita heroik perlawanan cicak melawan buaya, satu perumpamaan yang dicetuskan oleh seorang petinggi negeri ini ketika merasa posisinya tersudutkan (atas dasar  tindakan penyadapan telepon si buaya) oleh anak didiknya sendiri dalam hal ini adalah si cicak.  Saya pribadi memang tidak terlalu mengikuti alur cerita yang dilakoni hingga lembaga dimana si petinggi yang mengatakan diri mereka adalah buaya telah menetapkan orang-orang yang berada di pihak cicak sebagai tersangka atas tindakannya yang menyalahi wewenang. Hmm… saya kok sepertinya mencium satu ketidakberesan dari keputusan itu…

Sebagai seorang oknum Pegawai Negeri Sipil yang kerap dicurigai oleh masyarakat sekitar, jangankan melongok pada lembaga sekelas dan sebesar itu… di kelas saya sebagai staf saja perseteruan dan konflik seperti diatas kerap terjadi kok. Yah, tulisan saya kali ini cukup sebagai perumpamaan sajalah.

Dalam skala besar, cicak dan buaya adalah dua pihak yang memiliki kewenangan berbeda berupaya saling mengontrol namun satu tujuan berada dalam satu payung negara. Dalam skala kecil bisa saya gambarkan bahwa ada dua peran yang berbeda pula dalam melakukan pemeriksaan hasil kemajuan pekerjaan fisik pada satu payung dinas atau instansi, berdasarkan kebijakan terakhir. Satunya bernama Tim Penilai atau Pengendali, satunya lagi Direksi teknis selaku pengawas Kegiatan secara langsung.

Konflik antara dua peran tersebut seharusnya tidak terjadi berhubung masih berada dalam satu payung kedinasan dan memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan pekerjaan fisik yang berkualitas. Sayangnya tidak semua oknum yang terlibat didalamnya memiliki visi dan misi yang sama untuk mewujudkan tujuan yang saya katakan tadi.

Katakanlah jika oknum tersebut berada di pihak Tim Penilai atau Pengendali, merasa dirinya memiliki wewenang dalam mengambil keputusan apakah kemajuan satu pekerjaan fisik bisa diterima atau tidak untuk ditindaklanjuti ketahap pembayaran, si oknum lantas memanfaatkan atau menyalahgunakan wewenang yang ia miliki untuk meminta sejumlah materi kepada Rekanan jika tidak ingin dihambat.

Berangkat dari tudingan diatas yang kerap diarahkan pada seluruh anggota Tim Penilai atau Pengendali, saya sebagai salah satunya merasa tidak keberatan apabila telepon yang kami gunakan disadap oleh lembaga lain (dan baru belakangan diketahui) untuk membuktikan apakah tudingan tersebut benar atau tidak. Mengapa ? Jika saya merasa bahwa saya memang tidak pernah melakukan satu hal yang menyimpang dari wewenang, mengapa harus takut dan marah ? Justru momen seperti ini akan saya gunakan untuk membuktikan apakah saya merupakan salah satu oknum yang menyalahgunakan wewenang yang diberikan atau tidak.

Sayangnya ya lagi-lagi gak semua oknum memiliki pemikiran yang sama, ada juga yang marah-marah dan balik menuding yang bukan-bukan kearah pihak lain hanya untuk sekedar mengatakan kepada publik ‘saya ini bersih loh…

Tinggallah kini publik yang kebingungan… bagaimana mungkin negeri ini akan terbebas dari korupsi jika para petingginya (yang berwenang untuk itu) masih saling menjatuhkan satu sama lain dan melepas ‘tersangka’ yang sebenarnya…

Kemanakah kalian wahai Wakil Rakyat ?

1

Category : tentang Opini

Tergelitik menonton tayangan layar televisi yang menampilkan seremonial pelantikan para anggota dewan kita yang terhormat, sangat jauh dari apa yang negeri ini miliki. Pada saat pengambilan sumpah tersebut jelas-jelas mereka diharapkan tetap berpegang teguh pada undang-undang yang berlaku dan tetap menyuarakan aspirasi rakyat yang  mereka wakili namun kenyataannya tak seindah impian…

Belum lagi lima tahun berlalu, belum lagi usai masa jabatan mereka, hari ini sudah bisa kita lihat bagaimana perilaku sesungguhnya. Saat bencana menerpa Situ Gintung begitu banyak para wakil rakyat melalui parpol mereka dengan sigap mendirikan tenda bantuan, berkoar menyampaikan sumbangan dan lain sebagainya… Kini ketika gempa melanda negeri ini kembali atau banjir diberbagai daerah, tak satupun dari mereka yang mau menampakkan hidungnya. Apa sebab ? karena kini mereka sudah ‘jadi’ tidak lagi berstatus dicalonkan lagi…

DPR

Sungguh kasihan nasibmu kawan… Jika dahulu tragedi Situ Gintung orang berlomba menengok, menjalankan misi kemanusiaan dan berlomba menjadi yang pertama, kini ketika tragedi kembali hadir tak seorangpun mau membantu…

Saya jadi teringat pada masa lalu, masa dimana salah seorang warga kami begitu berambisi untuk menjadi seorang anggota dewan. Dari baju kaos, stiker hingga spanduk bertuliskan inisial namanya disebarluaskan begitu mencolok. Ketika dilingkungan kami mengadakan satu acara yang melibatkan warga secara masal, si rekan dengan pongahnya berkoar mengatakan jika ia telah menyumbangkan sekian ratus nasi bungkus agar warga tak kelaparan saat acara berlangsung hingga selesai. Kata-kata itu terus terdengar ditelinga kami hingga acara selesai. Haruskan sedemikian seriusnya ?

Tingkah laku sebaliknya si rekan lakukan ketika ia tak masuk dalam daftar jadi ‘bakal calon salah satu parpol. Ia tak lagi loyal, ia tak lagi berkoar, bahkan cenderung mengibarkan bendera putih pertanda golput untuk mengungkapkan rasa kekecewaannya. Hilang sudah segala image yang ia ciptakan jauh sebelumnya…

Andaikan saja masyarakat kita beneran pintar, tidak hanya senang dan tertawa-tawa ketika dianggap sudah pintar oleh para politisi dan petinggi, mungkin ini semua bisa menjadi pembelajaran untuk lima tahun yang akan datang, haruskan kita memilih mereka lagi ? atau karena sudah tidak ada pilihan lain lagi ?