Welcome Kodak EasyShare C1013

26

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi saat saya diberikan kuasa penuh untuk memilih dan membeli kamera digital baru baik yang nantinya akan dipakai oleh kerabat, rekan kerja ataupun keperluan pribadi. Menggunakan Baterai AA sebagai pasokan daya utama. Mengapa ?

Okelah, orang boleh bilang kalo kini jamannya sudah beralih ke penggunaan Baterai Lithium sehingga penampilan fisik sebuah kamera digital tak lagi gendut, malah sering dijadikan jargon penjualan ‘slim and elegant….’. Namun masalah akan muncul saat batere berada di titik sekarat penghabisan sedangkan momen masih banyak yang harus diabadikan.

Dalam sekali charge sebuah batere Lithium secara defaultnya diklaim mampu mengambil gambar hingga 400 kali dengan pemakaian standar. Tanpa permainan zoom dan lampu kilat. Tidak juga termasuk dengan mengaktifkan fitur terkini yang dimiliki oleh sebuah kamera. Memang saya akui, sangat jarang orang mengambil gambar hingga ratusan kali dalam sekali event atau kejadian, tidak demikian dengan saya.

Untuk event terakhir yang saya lalui ternyata dalam sehari (upacara puncak pernikahan) saya mampu menghabiskan 900an gambar dari sebuah kamera terbaru yang saya miliki. Kenapa bisa sampai sebanyak itu, ada alasannya kok. Nanti saya ceritakan. Balik ke topik, bagaimana seumpama saya menggunakan sebuah kamera yang menggunaka batere lithium sebagai pasokan daya utama ? minimal saya harus mempersiapkan satu biji batere lagi sebagai cadangan. Harganya yang cukup mahal mungkin bakalan terkesan mubazir apabila sebaliknya saya dilain hari hanya menggunakan kamera hanya untuk sesekali saja.  Bagaimana pula seandainya pada lokasi event atau daerah yang saya kunjungi tidak ada pasokan listrik ? nah, inilah alasannya kenapa saya memilih yang menggunakan batere AA. Karena tipe batere ini tidak sulit diperoleh dimanapun saya berada.

Dalam sekali event saya biasanya cukup menyiapkan dua pasang batere charge utama yang sudah siap pakai. Energizer 2450mAh sudah lebih dari cukup. Kalopun kurang saya bisa menggunakan batere Alkaline biasa atau menyediakan cadangan beberapa pasang batere Sanyo 900mAh.

Pertimbangan Kedua sekaligus terakhir adalah bentuk yang kompak, kecil sehingga mudah diselipkan di saku baju. Memang sekali waktu saya memimpikan memiliki sebuah kamera semi SLR yang memiliki kemampuan zoom optical hingga 12 sampai 20 kali, cukup sebagai bekal saat pindah kantor ke Puspem kelak. Bisa digunakan untuk mencari obyek gadis yang mandi di sungai hanya dari balkon kantor. Hwahahaha… Namun lagi-lagi bodi kamera yang menjadi kendala.

Kenapa saya mensyaratkan berbodi kompak ? Selain agar mudah diselipkan ke saku baju sehingga saya gak lagi membawa tas besar khusus untuk membawa kamera dan orang lainpun ga’bakalan tahu kalo saya sedang membawa kamera, agar bisa digunakan oleh siapapun entah itu Istri, Mertua hingga yang tumben-tumbenan menggunakan kamera digital sekalipun. Sangat tidak nyaman apabila dalam sebuah event secara seratus persen kamera kita genggam sendirian. Ada saatnya seorang tukang poto amatiran  seperti saya ini ingin sekali difoto dan ikutan tampil dalam event tersebut. Hehehe… atau saat kita berhalangan untuk mengabadikan momen tertentu masih bisa diwakilkan oleh orang lain. Sangat sulit untuk mengontrol sakit perut yang mendadak bukan ?

Kodak C1013

Maka kendati sedikit gembul ketimbang kamera digital saya yang terdahulu, Kodak EasyShare C1013 menjadi pilihan kedua saya setelah Konica Minolta X31 disarankan untuk beristirahat… Kasian juga selama kurang lebih empat setegah tahun ikut saya kemana-mana.

Dengan berbekal tambahan Memori SD card sebesar 4GB mampu mengabadikan sebanyak 1990 buah gambar dengan resolusi 10 MP atau 3789 buah gambar dengan resolusi 5 MP.  Sudah lebih dari cukup untuk sebuah event bukan ?

Menggapai Kamera Digital

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu alasan utama ketika pertama kali memutuskan untuk membeli dan memiliki sendiri sebuah kamera digital adalah ingin mengabadikan foto keluarga sebanyak mungkin, agar kelak saat satu persatu pergi saya tak lagi menyesalinya.

Ya, ini memang satu pengalaman pribadi ketika kematian seorang sepupu sebaya di akhir tahun 2003 lalu sangat sulit mencari foto kenangan kami secara bersama, hingga untuk foto yang ditampilkan saat itu pada bade jenazah merupakan foto lima tahun sebelumnya, saat adik saya tersebut masih kurus-kurusnya.

Maka tak heran begitu pertama kali saya memiliki sebuah kamera digital, hampir setiap anggota keluarga saya abadikan dalam gambar kamera dalam berbagai pose termasuk pose candid. Hehehe…

Ngomongin kamera digital sebetulnya dahulu sebelumnya saya pernah memiliki sebuah kamera web Aiptek berbentuk sebuah kotak pena yang dapat diselipkan di kantong. Saya beli kisaran awal tahun 2001 dengan harga sekitar 700 ribuan. Mahal banget !!! Kemampuannya masih terbatas saat itu. Dengan mengandalkan sebuah viewfinder dan sebuah layar monochrome yang hanya mampu menampilkan angka digital sebagai tanda banyaknya gambar sisa yang dapat diambil total sekitar 60-an gambar dengan resolusi QVGA (240×320 pixel). Sangat keren saat itu. He… Sayangnya kemudian saya kehilangan kabel data hingga gak bisa memindahkan data yang ada didalamnya. Bodoh…

my KAMDiG

Kamera digital pertama Konica Minolta X31 saya beli sekitar 1,7 juta di awal tahun 2005 lalu. Resolusinya sudah lumayan besar untuk ukuran saat itu. 3 MP, dengan 3x optical zoom tanpa memory internal. Bentuknya yang kompak kecil tipis tanpa lensa yang menyembul keluar bodi yang tak lebih besar dari genggaman tangan saya, membuat orang lain tak mengetahui kalo saya saat itu sedang mengantongi sebuah kamera digital di saku baju dan secara diam-diam mengambil gambar mereka.

Selama kurang lebih empat setengah tahun kamera tersebut menemani kemanapun saya bepergian. Dari kamera tersebut saya mendapatkan ratusan bahkan ribuan foto keluarga, foto Istri yang saat gadis dahulu ga’pernah memiliki arsip foto sendiri juga putri kecil kami yang kini keseringan nangkring di album Facebook. Sayangnya ada satu kekurangan dari kamera ini yang sangat memberatkan. Lampu kilat (flash) yang lemah apabila digunakan pada malam hari. Kalaupun dipaksakan, gambar akan terlihat sangat buram. Walau bisa diakali dengan mengambil fokus pada area terang trus dialihkan ke area gelap yang diinginkan, tetap saja kurang memuaskan hasilnya.

Beberapa hari sebelum upacara pernikahan kakak ipar berlangsung, kamera Konica ini mulai ngadat. Gak mampu membaca memori eksternal kendati sudah diganti dengan kartu memori yang lain. Lantaran kamera ini gak mampu membaca kartu dengan kapasitas yang lebih besar dari 256 MB dan dibeberapa toko tak jua saya temukan kartu dengan kapasitas tersebut, maka dengan terpaksa kamera ini saya istirahatkan dahulu sementara. Sayapun berancang-ancang hunting kamera baru.

Pilihan pertama jatuh pada Nikon L10 yang enam bulan lalu sempat saya borong 3  biji untuk digunakan sebagai kamera kantor. Resolusinya cukup besar untuk saat ini yaitu 5 MP. Sayangnya pas dicari, seri ini tak lagi dirilis alias out of stock. Lantaran budget begitu mepet, sebagian lainnya dialokasikan ke biaya kuliah, untuk kamera digital baru yang saya caripun cukup yang murah namun punya fitur ga’jauh beda dengan Nikon. Tentang merk tetap berusaha mencari yang sudah mapan.

Pilihan kedua jatuh pada Kodak easyshare C1013 yang ditawarkan dengan harga Rp. 999.000 kosongan. Resolusinya sudah mencapai 10 MP, cukuplah pikir saya, soale untuk foto sehari-hari ya ga’perlu hingga sebesar itu, paling banter ya 3 MP lah. Apalagi upacara pernikahan yang dimaksud sudah cukup dekat dan Mertua berkeinginan meminjam kamera digital untuk dibawa saat mengambil calon penganten perempuan. Jadilah Kodak yang saya beli sebagai kamera digital kedua, langsung berpindah tangan tanpa sempat digunakan lebih jauh. Hehehe…

Mau tahu bagaimana hasilnya ? he… nanti deh saya ceritakan lagi.

PanDe Baik merambah YouTube

4

Category : tentang KHayaLan

Mungkin karena saking pengen tau atw malah karena merasa mubazir dengan paket koneksi unlimited Starone yang saya gunakan, dua minggu terakhir ini saya mulai mencoba-coba ikutan beberapa akun yang sebelumnya jarang saya masuki. Salah satu diantaranya adalah YouTube.

Portal berbagi video yang beberapa waktu lalu kabarnya sudah dibeli oleh pihak Google tanpa mengubah namanya ini, sebelumnya hanya saya kunjungi untuk mencari beberapa file video yang saya perlukan namun tak pernah sekalipun menontonnya langsung. Ini disebabkan oleh kecepatan koneksi yang membutuhkan waktu lama untuk streaming-nya sehingga aktifitas mampir ke YouTube hanyalah untuk meng-copy url (alamat) video yang dicari untuk kemudian di-paste-kan pada kolom aplikasi YouTube Downloader, sebuah perangkat lunak yang mampu mengunduh file video yang kita inginkan hanya dengan mengandalkan url (alamat) video yang dimaksud.

Keinginan ini sebetulnya sempat muncul beberapa bulan sebelumnya, terutama setelah ngobrol ngalor ngidul dengan salah seorang atasan yang punya minat besar pada teknologi. Beliau bahkan sempat pula bertanya tentang cara upload video di YouTube melalui ponselnya. Sumpah, saya gak tau waktu itu.

Saya berkenalan dengan YouTube sebetulnya sudah lama, namun mulai akrab sejak saya berpindah koneksi ke StarOne dimana saat itu baru masih memberlakukan promo tarif Rp 25,- per menitnya. Seorang rekan bahkan rela membelikan pulsa senilai 100rb rupiah hanya untuk mencarikannya video ‘guitar dan bass lesson’. Bayangkan, dengan uang segitu saya bisa mengunduh berapa banyak file. Hehehe…

Aktifitas unduh mengunduh file (unduh itu bahasa indonesia-nya ‘Download’) kembali saya lakukan begitu berpindah koneksi menjadi paket Unlimited, hanya sekedar meyakinkan pada awal bulan berikutnya apakah saya membayar sesuai kesepakatan paket ataukah masih berlaku tarif biasa. He… satu percobaan yang bodoh saya pikir. Bagaimana tidak, iya kalo kelebihan sebesar 2,7 GB dianggap nol alias sesuai dengan kesepakatan paket, kalo tidak ?

Angka 2,7 GB barangkali baru mencapai 75 (tujuh puluh lima) persen dari keseluruhan video yang saya unduh dari YouTube. Bagaimana bisa sampai sebesar itu ? apalagi kalo bukan karena si Mbah Surip yang fenomenal itu, pula rentetan kematian sang bintang Michael Jackson dan sang maestro WS Rendra beberapa waktu lalu. Sementara saya masih disibukkan dengan persiapan ujian Tesis sehingga jarang bisa memantau perkembangan mereka dilayar televisi.

Setelah semuanya usai dan saya dituntut beristirahat dirumah oleh Dokter dari hari Senin lalu, maka merambahlah saya ke dunia YouTube. Mulai mencari tahu bagaimana cara meng-upload video, mengkoneksikannya dengan akun Facebook dan berhasil, mengkoneksikannya dengan akun Twitter belum jua berhasil hehehe… Sampe mendapatkan peringatan dari pihak YouTube bahwa dalam salah satu video yang saya upload, terdapat konten yang merupakan hak cipta Sony Music Entertainment. Ya wajar saja, karena dalam video (kumpulan foto) tersebut meng-include-kan audio ‘Jangan Takut Gelap’ karya Sheila on 7 dan Tasya.

Tasya ? ya, penyanyi anak-anak sepuluh tahun lalu ini merupakan salah satu favorit saya apabila sudah berhadapan dengan anak-anak. Termasuk MiRah GayatriDewi, putri kecil kami tentunya. Karya kerja bareng Sheila itu saya jadikan musik pengiring sekumpulan foto bobo-nya MiRah saat baru saja berusia 3 bulanan. Ada juga 2 (dua) buah Video versi Live-nya MiRah, beberapa saat setelah kelahirannya (video pertama Mirah) dan saat Mirah dirawat di RS Sanglah, 27 September 2008 lalu. Kalo penasaran, lihat di alamat berikut yaaa….