Welcome Kodak EasyShare C1013

26

Category : tentang TeKnoLoGi

Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi saat saya diberikan kuasa penuh untuk memilih dan membeli kamera digital baru baik yang nantinya akan dipakai oleh kerabat, rekan kerja ataupun keperluan pribadi. Menggunakan Baterai AA sebagai pasokan daya utama. Mengapa ?

Okelah, orang boleh bilang kalo kini jamannya sudah beralih ke penggunaan Baterai Lithium sehingga penampilan fisik sebuah kamera digital tak lagi gendut, malah sering dijadikan jargon penjualan ‘slim and elegant….’. Namun masalah akan muncul saat batere berada di titik sekarat penghabisan sedangkan momen masih banyak yang harus diabadikan.

Dalam sekali charge sebuah batere Lithium secara defaultnya diklaim mampu mengambil gambar hingga 400 kali dengan pemakaian standar. Tanpa permainan zoom dan lampu kilat. Tidak juga termasuk dengan mengaktifkan fitur terkini yang dimiliki oleh sebuah kamera. Memang saya akui, sangat jarang orang mengambil gambar hingga ratusan kali dalam sekali event atau kejadian, tidak demikian dengan saya.

Untuk event terakhir yang saya lalui ternyata dalam sehari (upacara puncak pernikahan) saya mampu menghabiskan 900an gambar dari sebuah kamera terbaru yang saya miliki. Kenapa bisa sampai sebanyak itu, ada alasannya kok. Nanti saya ceritakan. Balik ke topik, bagaimana seumpama saya menggunakan sebuah kamera yang menggunaka batere lithium sebagai pasokan daya utama ? minimal saya harus mempersiapkan satu biji batere lagi sebagai cadangan. Harganya yang cukup mahal mungkin bakalan terkesan mubazir apabila sebaliknya saya dilain hari hanya menggunakan kamera hanya untuk sesekali saja.  Bagaimana pula seandainya pada lokasi event atau daerah yang saya kunjungi tidak ada pasokan listrik ? nah, inilah alasannya kenapa saya memilih yang menggunakan batere AA. Karena tipe batere ini tidak sulit diperoleh dimanapun saya berada.

Dalam sekali event saya biasanya cukup menyiapkan dua pasang batere charge utama yang sudah siap pakai. Energizer 2450mAh sudah lebih dari cukup. Kalopun kurang saya bisa menggunakan batere Alkaline biasa atau menyediakan cadangan beberapa pasang batere Sanyo 900mAh.

Pertimbangan Kedua sekaligus terakhir adalah bentuk yang kompak, kecil sehingga mudah diselipkan di saku baju. Memang sekali waktu saya memimpikan memiliki sebuah kamera semi SLR yang memiliki kemampuan zoom optical hingga 12 sampai 20 kali, cukup sebagai bekal saat pindah kantor ke Puspem kelak. Bisa digunakan untuk mencari obyek gadis yang mandi di sungai hanya dari balkon kantor. Hwahahaha… Namun lagi-lagi bodi kamera yang menjadi kendala.

Kenapa saya mensyaratkan berbodi kompak ? Selain agar mudah diselipkan ke saku baju sehingga saya gak lagi membawa tas besar khusus untuk membawa kamera dan orang lainpun ga’bakalan tahu kalo saya sedang membawa kamera, agar bisa digunakan oleh siapapun entah itu Istri, Mertua hingga yang tumben-tumbenan menggunakan kamera digital sekalipun. Sangat tidak nyaman apabila dalam sebuah event secara seratus persen kamera kita genggam sendirian. Ada saatnya seorang tukang poto amatiran  seperti saya ini ingin sekali difoto dan ikutan tampil dalam event tersebut. Hehehe… atau saat kita berhalangan untuk mengabadikan momen tertentu masih bisa diwakilkan oleh orang lain. Sangat sulit untuk mengontrol sakit perut yang mendadak bukan ?

Kodak C1013

Maka kendati sedikit gembul ketimbang kamera digital saya yang terdahulu, Kodak EasyShare C1013 menjadi pilihan kedua saya setelah Konica Minolta X31 disarankan untuk beristirahat… Kasian juga selama kurang lebih empat setegah tahun ikut saya kemana-mana.

Dengan berbekal tambahan Memori SD card sebesar 4GB mampu mengabadikan sebanyak 1990 buah gambar dengan resolusi 10 MP atau 3789 buah gambar dengan resolusi 5 MP.  Sudah lebih dari cukup untuk sebuah event bukan ?

Menggapai Kamera Digital

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Salah satu alasan utama ketika pertama kali memutuskan untuk membeli dan memiliki sendiri sebuah kamera digital adalah ingin mengabadikan foto keluarga sebanyak mungkin, agar kelak saat satu persatu pergi saya tak lagi menyesalinya.

Ya, ini memang satu pengalaman pribadi ketika kematian seorang sepupu sebaya di akhir tahun 2003 lalu sangat sulit mencari foto kenangan kami secara bersama, hingga untuk foto yang ditampilkan saat itu pada bade jenazah merupakan foto lima tahun sebelumnya, saat adik saya tersebut masih kurus-kurusnya.

Maka tak heran begitu pertama kali saya memiliki sebuah kamera digital, hampir setiap anggota keluarga saya abadikan dalam gambar kamera dalam berbagai pose termasuk pose candid. Hehehe…

Ngomongin kamera digital sebetulnya dahulu sebelumnya saya pernah memiliki sebuah kamera web Aiptek berbentuk sebuah kotak pena yang dapat diselipkan di kantong. Saya beli kisaran awal tahun 2001 dengan harga sekitar 700 ribuan. Mahal banget !!! Kemampuannya masih terbatas saat itu. Dengan mengandalkan sebuah viewfinder dan sebuah layar monochrome yang hanya mampu menampilkan angka digital sebagai tanda banyaknya gambar sisa yang dapat diambil total sekitar 60-an gambar dengan resolusi QVGA (240×320 pixel). Sangat keren saat itu. He… Sayangnya kemudian saya kehilangan kabel data hingga gak bisa memindahkan data yang ada didalamnya. Bodoh…

my KAMDiG

Kamera digital pertama Konica Minolta X31 saya beli sekitar 1,7 juta di awal tahun 2005 lalu. Resolusinya sudah lumayan besar untuk ukuran saat itu. 3 MP, dengan 3x optical zoom tanpa memory internal. Bentuknya yang kompak kecil tipis tanpa lensa yang menyembul keluar bodi yang tak lebih besar dari genggaman tangan saya, membuat orang lain tak mengetahui kalo saya saat itu sedang mengantongi sebuah kamera digital di saku baju dan secara diam-diam mengambil gambar mereka.

Selama kurang lebih empat setengah tahun kamera tersebut menemani kemanapun saya bepergian. Dari kamera tersebut saya mendapatkan ratusan bahkan ribuan foto keluarga, foto Istri yang saat gadis dahulu ga’pernah memiliki arsip foto sendiri juga putri kecil kami yang kini keseringan nangkring di album Facebook. Sayangnya ada satu kekurangan dari kamera ini yang sangat memberatkan. Lampu kilat (flash) yang lemah apabila digunakan pada malam hari. Kalaupun dipaksakan, gambar akan terlihat sangat buram. Walau bisa diakali dengan mengambil fokus pada area terang trus dialihkan ke area gelap yang diinginkan, tetap saja kurang memuaskan hasilnya.

Beberapa hari sebelum upacara pernikahan kakak ipar berlangsung, kamera Konica ini mulai ngadat. Gak mampu membaca memori eksternal kendati sudah diganti dengan kartu memori yang lain. Lantaran kamera ini gak mampu membaca kartu dengan kapasitas yang lebih besar dari 256 MB dan dibeberapa toko tak jua saya temukan kartu dengan kapasitas tersebut, maka dengan terpaksa kamera ini saya istirahatkan dahulu sementara. Sayapun berancang-ancang hunting kamera baru.

Pilihan pertama jatuh pada Nikon L10 yang enam bulan lalu sempat saya borong 3  biji untuk digunakan sebagai kamera kantor. Resolusinya cukup besar untuk saat ini yaitu 5 MP. Sayangnya pas dicari, seri ini tak lagi dirilis alias out of stock. Lantaran budget begitu mepet, sebagian lainnya dialokasikan ke biaya kuliah, untuk kamera digital baru yang saya caripun cukup yang murah namun punya fitur ga’jauh beda dengan Nikon. Tentang merk tetap berusaha mencari yang sudah mapan.

Pilihan kedua jatuh pada Kodak easyshare C1013 yang ditawarkan dengan harga Rp. 999.000 kosongan. Resolusinya sudah mencapai 10 MP, cukuplah pikir saya, soale untuk foto sehari-hari ya ga’perlu hingga sebesar itu, paling banter ya 3 MP lah. Apalagi upacara pernikahan yang dimaksud sudah cukup dekat dan Mertua berkeinginan meminjam kamera digital untuk dibawa saat mengambil calon penganten perempuan. Jadilah Kodak yang saya beli sebagai kamera digital kedua, langsung berpindah tangan tanpa sempat digunakan lebih jauh. Hehehe…

Mau tahu bagaimana hasilnya ? he… nanti deh saya ceritakan lagi.

PanDe Baik merambah YouTube

4

Category : tentang KHayaLan

Mungkin karena saking pengen tau atw malah karena merasa mubazir dengan paket koneksi unlimited Starone yang saya gunakan, dua minggu terakhir ini saya mulai mencoba-coba ikutan beberapa akun yang sebelumnya jarang saya masuki. Salah satu diantaranya adalah YouTube.

Portal berbagi video yang beberapa waktu lalu kabarnya sudah dibeli oleh pihak Google tanpa mengubah namanya ini, sebelumnya hanya saya kunjungi untuk mencari beberapa file video yang saya perlukan namun tak pernah sekalipun menontonnya langsung. Ini disebabkan oleh kecepatan koneksi yang membutuhkan waktu lama untuk streaming-nya sehingga aktifitas mampir ke YouTube hanyalah untuk meng-copy url (alamat) video yang dicari untuk kemudian di-paste-kan pada kolom aplikasi YouTube Downloader, sebuah perangkat lunak yang mampu mengunduh file video yang kita inginkan hanya dengan mengandalkan url (alamat) video yang dimaksud.

Keinginan ini sebetulnya sempat muncul beberapa bulan sebelumnya, terutama setelah ngobrol ngalor ngidul dengan salah seorang atasan yang punya minat besar pada teknologi. Beliau bahkan sempat pula bertanya tentang cara upload video di YouTube melalui ponselnya. Sumpah, saya gak tau waktu itu.

Saya berkenalan dengan YouTube sebetulnya sudah lama, namun mulai akrab sejak saya berpindah koneksi ke StarOne dimana saat itu baru masih memberlakukan promo tarif Rp 25,- per menitnya. Seorang rekan bahkan rela membelikan pulsa senilai 100rb rupiah hanya untuk mencarikannya video ‘guitar dan bass lesson’. Bayangkan, dengan uang segitu saya bisa mengunduh berapa banyak file. Hehehe…

Aktifitas unduh mengunduh file (unduh itu bahasa indonesia-nya ‘Download’) kembali saya lakukan begitu berpindah koneksi menjadi paket Unlimited, hanya sekedar meyakinkan pada awal bulan berikutnya apakah saya membayar sesuai kesepakatan paket ataukah masih berlaku tarif biasa. He… satu percobaan yang bodoh saya pikir. Bagaimana tidak, iya kalo kelebihan sebesar 2,7 GB dianggap nol alias sesuai dengan kesepakatan paket, kalo tidak ?

Angka 2,7 GB barangkali baru mencapai 75 (tujuh puluh lima) persen dari keseluruhan video yang saya unduh dari YouTube. Bagaimana bisa sampai sebesar itu ? apalagi kalo bukan karena si Mbah Surip yang fenomenal itu, pula rentetan kematian sang bintang Michael Jackson dan sang maestro WS Rendra beberapa waktu lalu. Sementara saya masih disibukkan dengan persiapan ujian Tesis sehingga jarang bisa memantau perkembangan mereka dilayar televisi.

Setelah semuanya usai dan saya dituntut beristirahat dirumah oleh Dokter dari hari Senin lalu, maka merambahlah saya ke dunia YouTube. Mulai mencari tahu bagaimana cara meng-upload video, mengkoneksikannya dengan akun Facebook dan berhasil, mengkoneksikannya dengan akun Twitter belum jua berhasil hehehe… Sampe mendapatkan peringatan dari pihak YouTube bahwa dalam salah satu video yang saya upload, terdapat konten yang merupakan hak cipta Sony Music Entertainment. Ya wajar saja, karena dalam video (kumpulan foto) tersebut meng-include-kan audio ‘Jangan Takut Gelap’ karya Sheila on 7 dan Tasya.

Tasya ? ya, penyanyi anak-anak sepuluh tahun lalu ini merupakan salah satu favorit saya apabila sudah berhadapan dengan anak-anak. Termasuk MiRah GayatriDewi, putri kecil kami tentunya. Karya kerja bareng Sheila itu saya jadikan musik pengiring sekumpulan foto bobo-nya MiRah saat baru saja berusia 3 bulanan. Ada juga 2 (dua) buah Video versi Live-nya MiRah, beberapa saat setelah kelahirannya (video pertama Mirah) dan saat Mirah dirawat di RS Sanglah, 27 September 2008 lalu. Kalo penasaran, lihat di alamat berikut yaaa….

High School Musical Magz NKOTB

6

Category : tentang KHayaLan

Ingatan saya langsung melayang ke masa lalu saat membuka lembar demi lembar majalah remaja yang membahas khusus tentang sebuah film ‘High School Musical’. Dari kuis seberapa jauh pengetahuan pembaca terhadap film tersebut, cerita, kalender hingga cerita komiknya. Walo terbayang cuma sbentar, sebelum giliran periksa di sebuah praktek dokter senin pagi kmaren, rasanya seperti pernah melihatnya.

New Kids On The Block. Ya, lima anak remaja yang tahun 90an lalu sempat booming dikalangan kami anak sekolahan, memiliki sebuah majalah yang kurang lebih memiliki kedok tujuan sama, mendekatkan diri dengan para fans mereka.  Jordan dan Jonathan Knight, Danny, Donny dan Joe Mc sapa tuh namanya ?

Saya sendiri kendati ga’pernah mampu untuk membelinya, tapi secara rutin membacanya saat jam istirahat sekolah. Ini karena salah seorang teman kelas rajin membawanya tiap kali edisi terbaru diterbitkan dan bersedia meminjamkannya serta membaca secara bergiliran atw beramai-ramai.

Dari majalah tersebut pula saya bisa mengetahui yang mana cerita rumor atau gosip yang dihembuskan demi mendapatkan popularitas yang mana pula cerita sesungguhnya. Entah sampe berapa edisi saya setia membacanya.

hsm vs nkotb

High School Musical Magazine edisi Indonesia rupanya tak mau ketinggalan. Apalagi saat ini sangat gampang ditemukan beragam majalah yang kurang lebih mengulas hal khusus berkaitan sang idola. Katakanlah Slank Magazine, OI (Orang Indonesia) atau edisi sampingan dari sebuah majalah yang sudah mapan seperti HAI.

Yah, mumpung sang idola masih digemari dan para fans-nya belum beranjak jauh, gak ada salahnya kan mencoba sedikit peruntungan ?

Terima Kasih Indosat untuk Starone Unlimited-nya

10

Category : tentang TeKnoLoGi

Bisa dikatakan bagi saya pribadi kepentingan akan sebuah koneksi internet yang memuaskan pada akhirnya merupakan kebutuhan mutlak. Hal ini berlaku setelah aktifitas nge-BLoG dan juga microblogging lainnya menjadi satu rutinitas yang saya lakukan kapanpun dimanapun saya berada.

Kalau mau berpaling kebelakang, satu-satunya koneksi yang paling berkesan bagi saya adalah Telkomnet Instant. Koneksi internet tanpa pembebanan tetek bengek administrasi dll. Tinggal gunakan dan bayar. Begitu simpel.

Sayangnya dalam hal pembayaran atas penggunaannya gak pernah sesimpel yang saya bayangkan. Bukan hanya sekali dua saya mengalami pembengkakan biaya telepon rumah hingga angka 400an ribu rupiah setiap bulannya. Merupakan satu faktor utama mengapa dimasa muda dahulu yang namanya gaji bulanan ga’pernah bisa dialokasikan kedalam bentuk tabungan. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi kegilaan saya pada sebuah koneksi internet saat itu sudah mulai memasuki tahap ‘addicted’ ketagihan. Rasanya ga’bakalan nyaman kalo ga’sempat mampir di dunia maya.

Jika saja saya tak mengetahui keberadaan internet murah Starone dari seorang rekan, barangkali saya masih harus merelakan sebagian uang gaji bulanan saya secara rutin disetorkan kepada pihak Telkom. Starone yang saat itu menawarkan tarif ‘promo’ Rp.25,- per menit tentu saja sangat menggiurkan ketimbang tarif Telkomnet Instant yang kurang lebih mematok tarif 6 (enam) kali lipatnya. Kendati promo, namun jika mengambil pemberlakuan tarif normal yang ditawarkan tetap saja jauh lebih hemat ketimbang akses Telkomnet.

Perubahan koneksi ini rupanya menarik pihak Telkom yang saat itu berkali-kali sempat menghubungi kami via telpon rumah, untuk menanyakan perihal drastisnya penurunan biaya telepon yang kami bayarkan untuk setiap bulannya. Mungkin gara-gara isu pemotongan biaya telepon oleh oknum yang melibatkan orang dalam dimana dengan kesepakatan tertentu, mereka mampu memotong biaya telepon yang tadinya barangkali mencapai angka jutaan, turun hingga ke nominal seratus ribu saja. Pernah dengar ?

Starone bisa jadi saat itu sangat menggiurkan bagi saya. Mengingat akses internet yang saya lakukan untuk satu bulannya malah lebih banyak dari sebelumnya namun hanya dikenakan biaya murah, maklum masih masa promo.  Atas saran dan masukan dari rekan-rekan Bali Blogger Community, begitu masa promo berakhir saya langsung berpindah kelain jalur, namun masih pada hati yang sama. Hehehe…

Pemakaian koneksi internet dengan perhitungan volume based akhirnya mulai saya gunakan yang diatur berupa paket kuota maksimum 1 GB untuk setiap bulannya dan ditebus dengan biaya Rp. 108.000,- sudah termasuk pajak.

Awalnya boleh dikatakan aktifitas saya sangat memenuhi standar yang saya inginkan. Koneksi Internet yang dapat dikontrol sendiri dan dengan biaya murah pula. Tapi ga’lama. Biayanya mulai membengkak ketika saya memulai aktifitas tambahan yang memanfaatkan jaringan internet dalam usaha pencarian data untuk penyusunan Tesis. Biaya yang tadinya identik dengan biaya pulsa ponsel bulanan, malah membengkak saat terdapat kelebihan pemakaian yang tidak seberapa. Lantaran sudah sesuai kesepakatan, pembengkakan biaya ini sempat saya lakoni sekitar dua-tiga kali.

Salah satu keuntungan bergaul di dunia maya adalah kerap kita dapat mengetahui satu peristiwa, berita atau kabar terkini jauh lebih dulu ketimbang koran atau di obrolan antar teman kantor. Paket Starone yang ditawarkan dalam paket Unlimited  boleh jadi hanya salah satu dari sekian banyak hal yang saya dapatkan, dan itu merupakan satu kejutan yang indah.

Maka per akhir Juni lalu, saya berpindah lagi ke jalur lain dan masih dalam hati yang sama. Kendati banyak pihak yang mencoba mematahkan pendirian saya dan menawarkan akses internet dengan frekuensi GSM yang kabarnya jauh lebih cepat dan lebih baik. Tak apa dalam hal kecepatan Starone barangkali tertinggal jauh dibanding rekan sefrekuensi apalagi GSM, toh saya tak memerlukan koneksi secepat itu.

Setidaknya saya sangat bersyukur atas semua hal itu. Minimal sudah bisa nge-BLoG, melakukan aktifitas microblogging, email, chat, update antivirus, berkelana didunia maya tanpa terikat waktu, ditinggal tidur sekalipun, bayarnya tetap sama. Soal kecepatan yang lemot, barangkali lantaran sudah terbiasa dengan  kecepatan Telkomnet Instant sejak dahulu kala, saya ga’terlalu mempermasalahkan itu.

Ohya, ada satu lagi yang membuat saya begitu bangga dengan koneksi internet Starone. Disaat banyak rekan mengeluhkan error yang terjadi pada koneksi internet mereka dua minggu terakhir, Starone tetap mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Biarpun lambat asal bisa internetan. Hahahaha…

Jadi sekali lagi, Terima Kasih Indosat untuk koneksi internet Starone Unlimitednya.

Sebuah Kisah Perjalanan Penyusunan Tesis nan Nyaris berAkhir

4

Category : tentang KuLiah

Tepatnya pada tanggal 16 September 2008 lalu pukul 11.05 siang, kisah ini dimulai dengan penuh semangat hingga melahirkan dua konsep awal yang nantinya bakalan memegang peranan paling penting dalam sebuah kisah perjalanan penyusunan Tesis “Sistem Informasi Jalan Raya Pemerintah Kabupaten Badung”. Dua konsep tersebut adalah Konsep Pendahuluan dan Konsep Sistem Informasi itu sendiri. Dalam perkembangannya Tesis ini mengalami tiga kali perubahan besar baik ditinjau dari judul yang digunakan maupun jumlah total halaman yang dimiliki.

Pada awalnya Tesis ini masih disebut sebagai ‘Konsep’ yang sedianya diselesaikan sebagai syarat mata kuliah ‘Seminar’ pada semester tiga. Saat itu isinya masih banyak yang bolong, bahkan untuk BAB III Konsep dan Kerangka Pikir dari sistem yang dimaksud belum direncanakan sama sekali. Modal nekat saja ngumpulnya. Hehehe… Adapun Judul yang saya gunakan saat itu masih sederhana, “Sistem Informasi Jalan Raya”.

Perubahan Tahap Pertama saya lakukan ketika desakan datang dari beberapa teman yang ingin maju ujian seminar pertama, namun belum memiliki keberanian untuk memulainya. Tak hanya dari teman, desakan pula datang dari dua dosen yang baru seminggu resmi berkenan menjadi Pembimbing untuk ‘Usulan Penelitian’ Tesis yang sedang saya susun. Maka pada tanggal 14 Maret 2009 lalu saya menjalani ujian seminar yang pertama, dengan mengembangkan judul menjadi “Sistem Informasi Jalan Raya Guna Mendukung e-Government”. Judul yang aneh kata dosen penguji saat itu. Ditinjau dari jumlah halaman, terdapat 57 (lima puluh tujuh) halaman yang diketik dalam format dua spasi, cukup mengundang kecurigaan salah satu dosen penguji yang mengira format dua spasi digunakan untuk mempertebal dokumen… padahal aturannya memang begitu. Hehehe…

kteBaLan Tesis

Begitu dinyatakan ‘dapat dilanjutkan’ ke tahap ‘Kelayakan Tesis’, terjadi perubahan dokumen Tahap Kedua dimana ada penambahan 2 (dua) Bab yaitu Pembahasan dan Kesimpulan plus tinjauan sistem yang sudah ada di masyarakat, cukup banyak menambah jumlah halaman hingga menjadi total 96 (sembilan puluh enam) lembar. Disini saya kembali melakukan pengembangan judul Tesis menjadi “Sistem Informasi Jalan Raya Pemerintah Daerah Kabupaten Badung Untuk Mendukung e-Government”. Lantaran sudah berani menampilkan studi kasus pada judul Tesis, mau ga’mau saya harus mengintegrasikan situasi dan kondisi dari studi kasus yang diambil kedalam setiap bahasan dalam isi dokumen. Bersyukur, apa yang saya ungkap merupakan hal yang lumrah terjadi dalam keseharian pekerjaan, sehingga jauh lebih memudahkan.

Pada tahap ini pula sistem yang dihasilkan (berperan sebagai sebuah Output dalam sebuah Kerangka Pikir Perencanaan Sistem) secara resmi saya luncurkan pada tanggal 12 Juli 2009 dengan menggunakan domain sendiri www.binamargabadung.com dan dukungan penuh dari Bali Orange Community. Waktu setelah peluncuran yang hanya berselang 3 (tiga) hari dengan jadwal Ujian Seminar ke-2, membuat saya tidak mampu memaparkan materi yang lebih baik dari yang diharapkan, hingga penilaian dari salah satu dosen penguji saat itu sangat ampuh membuat down semangat yang dahulunya pernah membara berapi-api.

Perubahan terbesar terjadi pada Tahap Ketiga, dimana dinyatakan ‘dapat dilanjutkan dengan catatan’ ke tahap ‘Ujian Tesis’ yang merupakan tahap ujian terakhir yang harus dilalui sebelum seorang mahasiswa dapat dinyatakan lulus sepenuhnya. Penambahan halaman terjadi lantaran saya menambahkan sejumlah Lampiran SK dan Inpres sesuai catatan para dosen penguji plus tambahan Pengujian dan Evaluasi atas sistem yang saya luncurkan sebulan sebelumnya.

Secara pribadi apa yang saya dapatkan selama sebulan peluncuran sangat luar biasa. Respon yang saya harapkan datang dari teman-teman cukup mampu membuat satu perubahan yang mendasar pada sistem yang diluncurkan secara online sebelumnya. Kendati hanya disosialisasikan via mailing list Bali Blogger Community, akun Facebook dan juga posting BLoG. Dari sekian banyak masukan, kritik dan saran yang diberikan memang harus saya akui, belum semua dapat saya tindaklanjuti mengingat pada batasan pembahasan yang saya berikan agar tidak sampai keluar dari jalur yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kamis 13 Agustus 2009 barangkali bisa dikatakan menjadi momen yang paling saya nantikan selama ini. Bukan hanya untuk menjalani ‘Ujian Tesis’ tahap ke-3 (tiga) yang bakalan menentukan kelulusan, namun juga menjadi titik penentu apakah saya akan dibebaskan dari pembayaran SPP semester depan atau tidak. Mengingat uang pinjaman dari sebuah Bank Pembangunan Daerah yang rencananya saya gunakan untuk biaya sekolah selama 4 (empat) semester telah mencapai titik minimum. Ugh !

Alotnya suasana ujian yang terjadi lebih disebabkan oleh pendapat “Hanya begini saja hasilnya ? Ga’perlu dijadikan sebuah Tesis, berikan saja pada seorang WebMaster dijamin jadi jauh lebih memuaskan…” kurang lebih sama dengan pendapat awam tentang sebuah gambar jadi sebuah bangunan hasil karya seorang Arsitek terkenal “gambar apaan nih ? kalo cuman segini siy, saya juga bisaaaa…apa susahnya ???”

JuduL Tesis

Atas berkat Rakhmat Tuhan  Yang Maha Kuasa juga peran besar dari 2 (dua) dosen Pembimbing plus 2 (dua) dosen Penguji yang membela pendirian saya dari penilaian rendah seorang dosen lainnya, dokumen yang pada akhirnya memiliki tebal 155 (seratus lima puluh lima) halaman dan mengalami (lagi-lagi) pengembangan judul menjadi “Sistem Informasi Jalan Raya Pemerintah Daerah Kabupaten Badung Untuk Mendukung Pengembangan e-Government” ini dinyatakan Lulus dengan sejumlah perbaikan.

Bisa nebak ga’perbaikan dalam hal apa ?

Hehehe…