Pilih Volume Based, Time Based atau Unlimited Access ? bagian 2

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang beberapa pertimbangan sebelum memutuskan untuk memilih menggunakan Volume Based, Time Based, Paket Limited atau Unlimited, berikut tulisan saya yang ke-2.

Kali ini saya tujukan bagi mereka yang tergolong pengguna Advance (Menengah), yang biasanya sudah mengenal internet dalam beberapa bulan sebelumnya dan terbiasa menggunakan serta melakukan akses internet. Minimal aktifitas internet sudah merupakan satu kebutuhan dasar untuk setiap bulannya namun masih memperhitungkan masalah biaya. Misalkan saja saya sendiri. He…

PasCa Bayar UnLimiTed

Untuk itu dapat saya sarankan agar menggunakan sistem Pasca Bayar. Masih ingat paket mana saja yang tergolong dalam sistem ini ? Yup, Limited dan Unlimited. Hanya saja yang saya tekankan disini adalah apabila perbandingan tarif yang dikenakan antara kedua paket tersebut sangat berbeda jauh.

Misalkan saja operator TelkomFlexi yang memberikan promo Paket Personal sebesar Rp. 75.000,00 untuk pemakaian akses koneksi internet sekitar  xxx jam pemakaian atau yang sebesar Rp. 200.000,00 untuk pemakaian akses koneksi internet yang menghabiskan sekitar  xxx GB data untuk setiap bulannya. Sedangkan untuk paket Unlimited ditawarkan dengan biaya sekitar Rp. 750.000,00 per bulannya.

Jika dalam sistem Pra Bayar tarif koneksi yang dikenakan cenderung flat atau tetap atau konstan, tidak demikian dengan sistem Pasca Bayar. Biasanya tarif yang dikenakan akan berbeda apabila terdapat kelebihan penggunaan dari batas paket yang ditentukan (paket Limited) atau terjadi penurunan kecepatan koneksi pada saat penggunaan sudah mencapai batas volume tertentu (Paket Unlimited).

Terkait dengan permasalahan jumlah biaya yang akan dibayarkan menjadi pertimbangan paling utama, maka yang menjadi patokan pertimbangan saya adalah besaran pemakaian untuk setiap bulannya, meliputi aktifitas rutin maupun yang tidak terduga sebelumnya. Ini bisa dilihat pada statistik yang tercatat, hitung dalam rentang waktu satu bulan. Setelah itu pada akhir/awal bulan lakukan reset statistik ke titik 0, untuk melihat perkembangannya dalam satu bulan kedepan.

Apabila penggunaan tidak lebih dari Paket Limited yang ditawarkan baik dalam ukuran waktu maupun volume data, mengapa harus memilih Paket Unlimited yang jauh lebih mahal dan dapat dipastikan tidak akan tergunakan sebagaimana mestinya ?

Sebaliknya apabila dalam rentang dua sampai tiga bulan jumlah pemakaian melebihi dari batas Paket Limited yang diberikan, silahkan berhitung kembali terkait jumlah kelebihannya untuk setiap bulan pemakaian. Apakah akan melebihi tarif koneksi Paket Unlimited atau tidak ?

Memang saya sadari, untuk dapat menghitung secara cermat dalam waktu dua sampai tiga bulan bukanlah perkara mudah. Tapi bukankah akan lebih bijaksana kita memperhitungkan biaya yang dikeluarkan untuk aktifitas yang dilakukan secara terbatas bukan ? apalagi Biaya merupakan masalah yang utama. Gak ada salahnya ‘bersakit-sakit dahulu trus bersenang-senang kemudian’ kan ?

Ohya, tulisan saya diatas tidak berlaku apabila rentang biaya yang dikenakan antara dua Paket diatas, Limited dan Unlimited berada pada jarak yang tidak terlalu jauh. Misalkan saja untuk Operator Indosat jaringan CDMA, StarOne Jagoan, memberikan Paket Limited Rp. 108.000,00 (tarif plus PPn 10%) untuk kuota volume 1 GB data yang dipakai setiap bulannya sedangkan Paket Unlimited sekitar Rp. 125.000 (sudah termasuk PPn 10 %) untuk setiap bulannya. Beda dikit, mending pilih yang Unlimited saja lah…

Saya katakan demikian, lantaran dari awal tahun 2009  kemarin biaya yang harus saya keluarkan selalu diatas Rp.140.000,00 untuk setiap bulan pemakaiannya (kartu Starone Jagoan). Itu karena saya menggunakan akses internet melebihi kuota batasan data yang ditentukan, dengan tarif tambahan sekitar Rp. 300,00 per megabytes (MB) kelebihan pemakaian. He… Kalau yang Unlimited bisa jauh lebih murah, saya kan gak bakalan memikirkan kelebihan pemakaian setiap bulannya ? Ya gak ?

Tulisan saya juga tidak berlaku bagi mereka yang tergolong Expert (Mahir) dalam menggunakan akses Internet, mampu mengumpulkan pundi-pundi Dollar atau Euro dalam waktu singkat sehingga biaya bukan lagi menjadi satu masalah besar. Tinggal pilih Paket Unlimited yang sesuai kantong, ngapain juga capek-capek baca tulisan saya dari tadi… He…

Pilih Volume Based, Time Based atau Unlimited Access ? bagian 1

12

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam tulisan saya sebelumnya telah dijelaskan pengertian dari tarif koneksi yang dikenakan oleh operator kepada publik untuk akses internet yang digunakan. Baik itu Volume Based, Time Based, Paket Limited dan Unlimited.

Nah, kali ini sebagai tulisan lanjutan, saya akan memberikan beberapa pertimbangan sebelum memutuskan untuk memilih menggunakan Volume Based, Time Based, Paket Limited atau Unlimited. Agar tulisan ini tak terlalu panjang nantinya, dengan terpaksa saya pecah menjadi 2 bagian. Silahkan dibaca.

Sebagai awal ada baiknya kita mulai berangan-angan, akan digunakan untuk apa saja akses internetnya kelak ? Silahkan list daftar kebutuhan Anda, dari yang paling penting, yang rutin bakalan diakses hingga yang rentang waktunya hanya sesekali saja.

Bagi seorang pemula sistem Pra Bayar bisa dipilih sebagai pertimbangan awal. Degan alasan barangkali saja pada satu titik waktu tertentu aktifitas internet itu bisa jadi bukan merupakan satu kebutuhan yang mendasar untuk setiap bulannya. Hanya saat diperlukan saja. Masih ingat yang mana saja termasuk sistem Pra Bayar dalam tulisan saya sebelumnya ? Yup, Volume Based dan Time Based.

PRa Bayar

Sepengalaman saya menggunakan kedua paket tersebut adalah bilamana aktifitas yang kelak bakalan dilakukan hanya sebatas browsing, email berkirim kabar, chatting via text, ng-blog dengan tulisan dan gambar low resolution, sesekali melakukan updating database antivirus, saya menyarankan untuk memilih paket Volume Based.

Sedangkan apabila aktifitas yang kelak bakalan dilakukan berkaitan dengan video streaming meliputi donlot video, menonton video, akses peta (map) Google Earth, Chatting dengan WebCam, hingga berkirim email dengan file sisipan yang besar plus melakukan donlot aplikasi dan hal-hal tak terduga lainnya, saya menyarankan untuk memilih paket Time Based. Kenapa ?

Karena untuk perhitungan Volume Based, seperti yang saya katakan dalam tulisan sebelumnya, cara penghitungan paket Volume Based adalah berdasarkan jumlah volume data yang dihabiskan, mencakup download dan upload (send and receive) dimana semakin besar data yang digunakan, maka semakin banyak pula yang harus kita bayar.

Makanya seperti yang saya katakan diatas, jika aktifitas yang kelak dilakukan merupakan aktifitas akses internet golongan pemula (ringan), aktifitas tersebut tidak akan membutuhkan volume data yang besar setiap jam penggunaannya.

Kalo dulu pernah saya hitung, untuk satu-dua jam pemakaian setiap harinya saya bisa menghabiskan 2 MB sampai 5 MB dengan penggunaan ringan seperti yang saya sebutkan diatas. Itupun tidak sepenuhnya saya gunakan, tapi sempat saya tinggal pergi untuk melakukan aktifitas lainnya.  Jadi bisa dikatakan dengan penggunaan akses internet kategori ringan, tarif volume based akan jauh lebih leluasa, ketimbang Time Based.

Sebagai contoh saya berikan satu ilustrasi berikut ini. Untuk mendownload satu album MP3 (ost Godfather part I) yang berukuran 50 MB saya memerlukan waktu download kurang dari satu jam. Apabila saya menggunakan tarif koneksi Volume Base, untuk aktifitas tersebut dengan menggunakan kartu IM3/Starone  Indosat bisa dikenakan biaya sekitar Rp. 50.000,00 karena tarif data yang dikenakan adalah sebesar Rp. 1,00 per kilobytesnya (Kb) atau Rp. 1.000,00 per megabytesnya (MB).  Bandingkan apabila saya menggunakan tarif koneksi Time Based, hanya dikenakan biaya kurang dari Rp. 4.500,00.

Ilustrasi kedua, untuk sebuah aktifitas chatting selama dua jam saya hanya menghabiskan volume sebesar 2 MB saja. Apabila saya menggunakan tarif koneksi Volume Base, untuk aktifitas tersebut dengan menggunakan kartu yang sama bisa dikenakan biaya sekitar Rp. 2.000,00 sedangkan apabila saya menggunakan tarif koneksi Time Based, dikenakan biaya sekitar Rp. 9.000,00.

Bisa dimengerti kan ?

He… Sedangkan bagi pengguna yang sudah mencapai tahap Advance (menengah) saya lanjutkan pada bagian ke-2 yaaa…

Apa itu Volume Based, Time Based dan Unlimited Access ?

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Bagi mereka yang baru mengenal dunia Internet, saya yakin ada satu hal yang selalu terbayang di benak sebelum memutuskan melanjutkan niat untuk belajar internet. Masalah biaya.

Pemakaian akses koneksi internet sebenarnya gak jauh beda dengan pemakaian ponsel. Ada yang sifatnya bayar dulu baru pakai atau yang dikenal dengan istilah Pra Bayar, dan ada juga yang sifatnya pakai dulu, bayarnya belakangan atau yang dikenal dengan istilah Pasca Bayar.

Untuk yang Pra Bayar, ada dua cara penghitungan tarif koneksi yaitu Volume Based dan Times Based. Secara default pada saat awal aktivasi biasanya tarif koneksi yang dikenakan adalah Volume Based. Pada beberapa operator jenis ini akan berlaku saat melakukan koneksi internet dengan menggunakan ponsel. Sebaliknya saat melakukan koneksi internet dengan menggunakan PC (ponsel dapat digunakan sebagai modem), tarif koneksi Time Based baru dapat diberlakukan.

Untuk yang Pasca Bayar, ada dua paket yang biasanya ditawarkan oleh para operator yaitu paket limited dan unlimited. Paket limited biasanya menggunakan batasan tertentu, bisa dengan volume maksimum atau waktu maksimum yang diperbolehkan untuk sejumlah biaya yang telah ditentukan.  Sedangkan unlimited tentu saja seperti arti katanya ya akses tak terbatas untuk sejumlah biaya yang telah ditentukan sebelumnya.

Yang dinamakan Volume Based adalah cara penghitungan tarif koneksi berdasarkan jumlah volume pemakaian data selama koneksi internet berlangsung. Hitungannya biasanya dikenakan per kilobytes (Kb) penggunaan.

Yang dinamakan Time Based adalah cara penghitungan tarif koneksi berdasarkan lamanya waktu pemakaian selama koneksi internet berlangsung. Hitungannya biasanya dikenakan per menit penggunaan.

Biasanya untuk akses internet dengan menggunakan ponsel, jumlah volume dan waktu yang digunakan bisa dilihat pada “LOG” item Durasi dan Jumlah Pemakaian Data Internet. Sedangkan untuk akses internet dengan menggunakan modem dapat dilihat pada statistik yang disertakan pada aplikasi bawaan modem tersebut.

Volume Statistic

Para operator mengenakan tarif yang berbeda-beda antar satu dengan lainnya. Sepengetahuan saya yang pernah dipakai selama ini, untuk jaringan GSM bisa dikatakan hanya Indosat dan Axis yang memberikan tarif murah untuk koneksi internet yang digunakan oleh publik. Kalo ndak salah untuk Indosat memberlakukan tarif flat Rp. 1,00 untuk per kilobyte (Kb) data yang digunakan atau Rp. 75,00 untuk per menit  atau Rp. 4.500,00 untuk per jam penggunaan sedangkan Axis memberikan Rp. 0,10 untuk per kilobyte (Kb) data yang digunakan (entah ini diberlakukan hanya saat promo atau dalam batas jangka waktu tertentu).

Pada jaringan CDMA bisa dikatakan Indosat pula yang mampu memberikan tarif murah untuk koneksi internet yang digunakan oleh publik. Lewat kartu mereka Starone Jagoan, mengenakan tarif yang sama dengan tarif pada jaringan GSM mereka. Sebagai perbandingan lain, operator TelkomFlexy mengenakan biaya sekitar Rp. 3,00 untuk per kilobyte (Kb) data yang digunakan atau Rp. 225,00 untuk per menit atau sekitar Rp. 13.500,00 per jam penggunaan.

Lantas kira-kira mana yang sebaiknya dipilih dan digunakan untuk mendukung aktivitas belajar internet bagi pemula ? Simak di tulisan saya selanjutnya

Aktifkan GPRS ponsel-mu

17

Category : tentang TeKnoLoGi

Yang namanya Internet setahun belakangan ini agaknya sudah mulai jadi topik yang lumrah. Bisa jadi lantaran demam BLackBerry hingga iming-iming berbagai ponsel yang mengiklankan diri ‘bisa Facebook-an loh…’

Makanya sempet surprised juga saat orang-orang yang ada disekitar saya pada getol menanyakan bagaimana caranya internetan pake ponsel. Dari yang memakai jenis ponsel lima ratus ribuan kaya’ Nokia 2600 classic hingga ke ponsel mewah macam Nokia E71 atw E90. Alasan mereka beragam, rata-ratanya sih ‘biar ga mati gaya…’ he… kaya’ iklan operator aja…

Ada juga yang nekat pengen mencoba ponsel China mereka, ga puas kalo cuman bisa nonton teve katanya. Dari brand Gvon, MyG, GStar sampe ke yang terakhir bertanya, kalo ndak salah Swahoo.

Biar ga bingung, berikut saya buatkan list Setting GPRS untuk tiga operator yang berhasil saya aktifkan. Mohon maaf jika operator yang lainnya belum ada dalam daftar. He… Maklum, belum pernah ada yang meminta langsung soale, khawatir data yang saya berikan ga’akurat… Sedangkan untuk TelKomFLexy siy biasanya bisa langsung terkoneksi tanpa melakukan Pengaturan lagi…

OPERATOR : IM3 Telkomsel XL

Aktivasi

:  
GPRS 62xxxxxx ke 6616
 
Connection Name :
IM3-gprs
TselGPRS
XL-GPRS
Data Bearer :
GPRS
GPRS
GPRS
Access Point Name (APN) :
www.indosat-m3.net
telkomsel
www.xlgprs.net
Username :
gprs
wap
xlgprs
Prompt Password :
No
Off
Password :
im3
wap123
proxl
Authentication :
Normal
Normal
Proxy address :
010.019.019.019
10.1.89.130
202.152.240.050
Homepage :
http://wap.indosat-m3.com
http://wap.telkomsel.com/
http://wap.lifeinhand.com/
http://wap.m3-access.com
Connection Security :
Off
Off
Session Mode :
Permanent
Temporary
Proxy port number :
9201
8000
8080
GPRS Connection :
When Needed
Login Type :
Automatic

Sesuai daftar diatas, yang musti diperhatikan adalah untuk Operator Simpati, pengguna wajib melakukan aktivasi GPRS yang bisa dilakukan via SmS. Tinggal ketik GPRS spasi nomor dengan awalan 62 tanpa angka 0, kirim ke 6616. Contoh :

GPRS 6281338xxxxxx

Setelah itu tunggu balasan pemberitahuan aktivasinya ‘telah diaktifkan’. Biasanya datang pada sms yang kedua (yang pertama itu pemberitahuan untuk menunggu), dalam waktu 5 (lima) menit saja (walopun dalam teorinya diminta menunggu 1×24 jam).

Untuk alamat Homepage, sebenarnya bisa digunakan alamat tertentu sesuai alamat yang paling sering diakses. Misalnya http://www.google.co.id/ atau http://www.facebook.com atau malahan ke http://www.pandebaik.com/ Hwahahahaha….

Ohya, satu lagi tips untuk spesial Ponsel China. Pengaturan GPRS diatas, biasanya dilakukan di dua tempat, yaitu Pengaturan WAP dan Pengaturan Profil. Berbeda dengan ponsel Nokia atau Sony Ericsson, yang berada disatu tempat. Sayangnya seperti yang pernah saya ungkap dalam tulisan sebelumnya, tidak semua ponsel China mampu melakukan akses Internet dengan baik. Ada yang hanya mampu mendukung format WAP (belum HTML) atau masih berupa tulisan text saja, Ada juga yang mengacu ke text China, meskipun alamat yang diakses sudah berekstensi *.go.id

Oke deh, semoga info diatas bisa berguna buat rekan-rekan. Seandainya ada keluhan yang belum terpecahkan, silahkan sampaikan kepada saya atau langsung cari di Mbah GooGle ya… jangan ke Mbah Surip. Hehehe…

5 alasan Mengapa Tidak Membeli Ponsel China

14

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih menyambung tulisan saya sebelumnya tentang 5 (lima) alasan mengapa pantas membeli ponsel China, kali ini sebagai pelengkap pertimbangan sebelum memutuskan untuk benar-benar membeli ponsel China, saya menurunkan tulisan tentang 5 (lima) alasan mengapa tidak membeli ponsel China. Silahkan simak berikut ini :
China 2
1. Kamera kerap tidak sesuai spec
Alasan pertama ini ditujukan bagi mereka yang menjadikan fitur kamera sebagai bahan pertimbangan setelah keberadaan TV Analog. Sudah bukan rahasia lagi kalo resolusi kamera yang tercatat pada dus box luar, seringkali tidak sesuai dengan kenyataannya. Ini

Padahal jelas-jelas tertera baik di dus box luar dan bodi belakang ponsel, resolusi kamera yang dibekali adalah 2 megapixel. Dalam kenyataannya hanya VGA alias 0,3 megapixel. Bagaimana gak kecewa, kata seorang teman. Beberapa lainnya malahan ngedumel gak jelas dan memilih mengembalikan ponsel yang baru dibelinya itu kepada sang penjual. Sekarang aja diboongin, apalagi nanti, ujar mereka. He…

2. Fitur Internet kurang memadai
Belakangan setelah demam BLackBerry melanda, memang ada beberapa seri ponsel yang sudah mengadopsi fitur internet sehingga mampu mengakses Facebook hingga membaca aplikasi Java seperti eBuddy. Sayangnya ini tidak berlaku bagi ponsel-ponsel yang beredar sebelum demam BLackBerry dimulai. Pun begitu belum semua ponsel China rilisan terkini mampu memberikan pengalaman yang sama.

Sekalipun ponsel bisa terkoneksi dengan internet, ada berbagai macam permasalahan yang kerap terjadi diantaranya koneksi yang putus nyambung, browser bawaan selalu terhubung dengan area China (sekalipun sudah mengakses google.co.id tetep aja yang nampak adalah bahasa China), atau format akses masih berupa WAP alias full text. Jelas mengganggu saat akan mengakses halaman seperti Facebook misalnya. Selain huruf yang tampak besar, penampilan icon submit ya gak ada bedanya dengan huruf teks biasa.

3. Layar Sentuh kurang responsif
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, jangan pernah membandingkan fitur dan kemampuan yang dimiliki oleh ponsel China dengan brand papan atas yang memiliki fitur dan kemampuan yang sama.

Teknologi Input Layar Sentuh misalnya. Saya bahkan sampe geregetan dan jadi gag enak hati kalo sampe kliatan menekan layar sentuh pada beberapa ponsel China yang dimiliki oleh teman-teman, lantaran saat disentuh dengan lembut ya gak ada reaksinya sama sekali. He…

4. Keypad keras dan tak biasa
Seperti kata seorang teman, ada harga ada kualitas. Demikian pula dengan media input keypad konvensional yang disediakan. Gak semua ponsel China memiliki tuts keypad selembut milik brand papan atas. Jelas sangat mengganggu, saat digunakan untuk mengetikkan pesan SmS misalnya.

Belum lagi pola grid yang dimiliki oleh rata-rata ponsel China yang gak sekonvensional ponsel jadul. Artinya kurang lebih, membutuhkan banyak pengalaman dan pembiasaan perilaku untuk dapat mengakses tombol *, 0 dan # yang berada pada barisan paling kanan.

5. Layanan Purna Jual
Alasan terakhir merupakan alasan paling lumrah. Mengingat pertumbuhan brand ponsel China bak jamur di musim penghujan, gak semua brand ponsel tersebut memiliki layanan purna jual atau yang disebut dengan Service Centre.

Walopun belum separah yang dialami RIM sebagai produsen BLackBerry, mengingat isi dan jeroan dari berbagai jenis ponsel China ini kurang lebih sama, maka untuk kerusakan atau keluhan ya bisa saja diserahkan ke layanan purna jual brand lain. Tentu saja dengan menambahkan biaya extra, lantaran bukan produk milik mereka. He…

Oke deh, segitu dulu masukan dari saya, Semoga saja apa yang saya sampaikan dalam empat tulisan terakhir bisa berguna. Salam dari Pusat Kota DenPasar.

5 alasan Mengapa Pantas Membeli Ponsel China

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Masih menyambung tulisan saya sebelumnya tentang serbuan ponsel ber-keypad QWERTY dalam rangka meramaikan pangsa ponsel yang ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’, ternyata hasil perburuan saya tersebut lebih didominasi oleh kehadiran ponsel China ketimbang brand yang sudah mapan.

Bisa dimaklumi, lantaran keberadaan ponsel China lebih banyak mendompleng (baca:plagiat) keberadaan brand ponsel papan atas terutama dari segi desain perwajahannya. Berbanding terbalik dengan fitur dan kemampuan yang ditawarkan. Walo begitu tetap saja brand ponsel China tetap disukai oleh pengguna ponsel tanah ar. Hmm… Kenapa yah ?

Seakan mencoba menjawab pertanyaan tersebut, kali ini saya ingin memberikan 5 (lima) alasan, mengapa pantas untuk membeli Ponsel China. Silahkan simak berikut ini :
China 1
1. Harga Murah
Bagi sebagian besar pengguna ponsel ditanah air bisa jadi aspek value menjadi dasar pertimbangan pertama sebelum memutuskan untuk membeli atau mengganti ponsel yang dimiliki saat ini dengan ponsel terkini. Termasuk saya salah satunya. Hwahahaha….

Ponsel China dikenal dengan harganya yang murah. Apabila dibandingkan dengan brand ponsel papan atas seperti Nokia atau Sony Ericsson pada jenjang harga yang sama, bisa jadi fitur yang ditawarkan oleh brand ponsel China jauh lebih oke. Tentu saja jangan menyamakan kualitasnya dengan ponsel brand papan atas yang memiliki fitur yang sama.

2. Desain Menawan
Siapa yang gag pengen dipandang sedkit berkelas oleh tetangga sebelah baik saat nongkrong maupun bergaul. He… Bukan rahasia lagi kalo brand ponsel China rata-rata mengadopsi perwajahan terinspirasi (lagi-lagi baca: Plagiat) dari desain ponsel papan atas macam Nokia hingga iPhone dan BLackBerry.

Tapi, siapa yang kuat kalo musti ditebus dengan tabungan gaji setaun ? Jadi berterimakasihlah pada brand ponsel China yang mampu mencontek desain briliant ternama dan cukup ditukar dengan uang gaji sebulanan. He…

Dari sekian banyak brand ponsel China yang ada barangkali hanya brand IMO yang mampu meniru desain brand papan atas secara sempurna. Katakanlah IMO B9000 yang plek banget dengan seri BLackBerry BoLD atau IMO G910 yang plek dengan Nokia E71. IMO G9 yang nyaris serupa dengan Nokia Communicator E90, IMO TV500 yang mencontek habis desain Nokia E51 dan IMO L600 serupa tak sama dengan Nokia E66 terbaru…

3. Layar Sentuh
Sekitar tiga sampai empat lalu yang namanya ponsel masih jarang mengadopsi layar sentuh sebagai media input, selain keypad konvensional yang telah tersedia. Teknologi layar sentuh lebih banyak digunakan oleh PDA (Personal Digital Assistant) yang identik dengan ponsel hign-end dengan harga mahal.

Sebaliknya kini dengan kisaran harga 1-2 juta, yang namanya teknologi layar sentuh sudah dapat dinikmati oleh sebagian besar pengguna ponsel ditanah air. Apalagi kalo teknologi tersebut didukung oleh desain wajah ponsel yang tak kalah menarik. He…

4. TV Analog
Ponsel China itu nyaris identik dengan ponsel TV. Inilah rata-rata alasan utama mengapa para pengguna ponsel ditanah air kepincut untuk ikut-ikutan memiliki, setelah barangkali diperlihatkan oleh rekan lain saat berada di area minim listrik dan tak memungkinkan untuk membawa dan menonton televisi segede gajah. Katakanlah di tengah sawah misalnya. Hehehe…

Ada juga yang lebih memilih membeli ponsel TV ketimbang ponsel mewah, padahal jelas mereka mampu untuk memilikinya. Alasannya sederhana, biar bisa nonton GP seandainya berada dalam suasana rapat warga. Hehehe…

5. Brand yang beragam
Bisa dikatakan serbuan brand ponsel China ditanah air bagaikan jamur yang tumbuh silih berganti. Begitu yang satu rontok, yang lainpun bermunculan. Pernah denger brand ‘ToCall’ ? He… itu brand terakhir yang terdaftar loh…

Fenomena ini mirip dengan serbuan motor China beberapa tahun lalu. Padahal isi dan jeroannya gak jauh beda, tapi brand yang mengusungnya beragam. Masing-masing punya trik untuk menggaet pelanggannya. Dari yang rame digunakan ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’ hingga ke ponsel ‘bling-bling’ untuk menyebutkan rilis ponsel full lampu hias disekujur bodi ponsel.

Demi mendapatkan pelanggan loyalpun antar brand malah saling berlomba untuk menawarkan harga rendah pada produk mereka.

Ngomong-ngomong soal brand ponsel China, kalo yang diatas tadi itu adalah 5 (lima) alasan mengapa pantas untuk membeli Ponsel China, simak tulisan saya berikutnya sebelum benar-benar memiliki keyakinan untuk memiliki ponsel China. He…

Perang Ponsel ber-keypad QWERTY

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, tentang imbas demam BLackBerry dan ketertarikan para pengguna ponsel ditanah air pada jejaring sosial Facebook di dunia maya atau internet, di bulan Juli ini tampaknya musti bersiap-siap lagi loh dengan perang tanding yang bakalan digelar oleh para produsen ponsel China, terutama yang bakalan bergerak dan berusaha merebut pangsa pasar ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’

Satu hal yang sepertinya mutlak diadopsi oleh para produsen ponsel lain demi memberikan iming-iming ‘bisa internetan, facebook dan chatting…’ adalah desain layaknya BLackBerry. Berlayar landscape dan ber-keypad QWERTY.

Selain NexBerry (Nexian G900) yang dibundling bareng operator XL, dan juga Nokia E series, tampaknya masih banyak yang harus disambut oleh publik, dan inilah mereka.

Nexian G911, merupakan ponsel penerus seri sebelumnya yang dibundling bareng operator Indosat. Fiturnya masih sama, dual GSM, dilengkapi aplikasi (baca:shorcut) Facebook, eBuddy namun memiliki desain wajah yang sedikit berbeda ketimbang pendahulunya, G900. Harga penawaran masih tetap sama yaitu Rp. 999.000,00. Gak tau deh apakah seri ini bakalan melonjak juga dari harga resmi tersebut…

ZTE-W N61 XIANG menggunakan sistem operasi Windows Mobile Pocket PC 6.1 yang tentu saja ber-layar sentuh. Sudah mengadopsi kamera 3,2 MP, resolusi standar saat ini. Satu hal yang patut disayangkan adalah layar yang landscape, bakalan menyulitkan pengguna dalam mencari aplikasi yang dapat ditampilkan dengan baik.

Motorola Karma QA1 berkonstruksi slider dan mengadopsi kamera 2 MP plus navigasi A-GPS, punya perwajahan unik. Mengingatkan saya pada MP4 Player rilisan China
ZTE M LG
LG GW550 masih menggunakan Windows Mobile 6.1 Standar, desain keypad navigasinya mirip Nokia E Series dan keypad QWERTY yang mirip banget dengan BLackBerry. Hmm… minim inovasi rupanya.

IMO B9000, punya wajah plek banget dengan BLackBerry BOLD. Lengkap dengan Trackball yang menyertainya. Layarnya jauh lebih baik ketimbang seri Nexberry, standar ponsel masa kini. Sayangnya kamera yang diadopsi masih belum menjangkau ukuran megapixel.

IMO G910 malah punya wajah plek dengan Nokia seri E71. He… Tampaknya ponsel China satu ini masih keranjingan menjadi plagiat brand ponsel papan atas.

HT Mobile G30 ponsel dengan dual GSM memiliki keypad QWERTY yang mirip dengan BLackBerry, namun konstruksi keypad navigasinya masih mencerminkan kesan ponsel China

Mixcon S900 bahkan mengklaim rilis mereka sebagai MixconBerry lantaran kemiripan desainnya dengan BLackBerry BoLD.

Samsung series secara serentak menggebrak dengan barisan ponsel mereka yang rata-rata memang ber-keypad QWERTY untuk berbagai tujuan pangsa pasar dari menengah kebawah dan keatas. Terhitung ada Samsung A177, Samsung i637, Samsung Impression yang memiliki slider ke samping, Samsung A257 Magnet dan Samsung Propel Pro dengan slider biasa.

Moto Q series, ponsel rilis lama yang kembali dihadapkan kepada publik ini sebenarnya sudah mengadopsi sistem operasi Windows Mobile 6.1 versi smartphone alias tanpa layar sentuh. Punya bodi tipis mirip seri Razr plus segudang fitur yang oke dibanding ponsel China.
SamS M HTC
Sedangkan untuk jajaran kelas atas, tak ketinggalan brand HTC ikut-ikutan latah dengan merilis seri HTC Snap yang mirip banget dengan BlackBerry Javelin.

Seakan menjawab semua tantangan para produsen ponsel diatas, tampaknya BLackBerry-pun seakan tak mau kalah. Kabar terakhir mereka bakalan merilis seri teranyar yakni BLackBerry Tour. Seri ini memiliki desain yang merupakan perpaduan dua seri sebelumnya sehingga menjadikannya lebih mirip BOLD dalam bodi ramping Javelin. He… Penasaran ? Tunggu saja rilis resmi mereka nanti.

Demam BLackBerry menuju Facebook dan Chatting

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Tampaknya demam BLackBerry bagi pengguna ponsel ditanah air benar-benar memiliki efek yang sangat membuat takjub para produsen ponsel lainnya.

Katakanlah beberapa waktu lalu sebuah brand ponsel lokal merilis ponsel ber-keypad QWERTY dibundling bareng operator XL, Nexian G900 yang laris manis bahkan memberikan lonjakan harga dari harga resminya. Dibanding BLackBerry, NexBerry ini punya wajah mirip tapi jangan membandingkan fitur yang dimiliki. He… Bagai Bumi dan Langit. Setidaknya pengguna ponsel ditanah air bisa sedikit bergaya dengan merogoh kocek yang hanya sedikit ketimbang membeli BLackBerry aseli.

Tak kalah menarik, brand papan atas Nokia pun sempat merasakan imbasnya. Rilis ponsel berkonsep slider communicator E75 pun nyaris tak terdengar gaungnya. Padahal secara fitur jelas tak kalah dibanding BLackBerry.
FB 1
Iming-iming ‘bisa Facebook dan Chatting’ benar-benar menyihir sebagian besar para pengguna ponsel, dari yang dulunya gaptek hingga tak peduli dengan keberadaan internet. Katakanlah Mertua saya. He…

Di usianya yang nyaris berkepala 6 ini kemarin dengan antusias bertanya tentang apa itu Facebook dan apakah ponsel miliknya bisa digunakan untuk mengakses internet. Wah wah wah… Lagi-lagi saya jadi ingat dengan seorang pensiunan Dokter di Cirebon sana, yang hingga kini masih aktif menjadi seorang BLoGGer bahkan telah merambah ke ranah Facebook. Bareng IstriNda pula. He…

Bahkan beberapa teman kantor yang dahulunya merasakan betapa butanya mereka dengan makhluk bernama internet, kini sudah menjadi kebiasaan untuk mengakses internet via ponsel mereka. Tak harus dengan BLackberry tentu saja, kata mereka. Wah… Gaya banget deh…

Memang, berawal dari Demam BLackBerry, komunitas jejaring Sosial macam Facebook menjadi makin naik daun ketimbang komunitas lainnya seperti Friendster, Myspace atau Hi5.

Ketertarikan pengguna ponsel ditanah air akan fitur internetpun seakan mulai dijawab oleh beberapa produsen ponsel lainnya, yang sudah berancang-ancang berusaha merebut pasar yang kini diduduki oleh sang raja, BLackBerry.

Sang pencuri start Nexberry sudah menunjukkan taringnya. Bagaimana dengan yang lainnya ? Simak tulisan saya berikutnya.