Ponsel ILegaL marak, Konsumen Resah. Siapa yang Salah ?

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Tergelitik membaca berita di media Denpost dan Balipost terkait pengaduan masyarakat perihal ponsel Blackberry ilegal, yang tidak diberikan kartu garansi dan hanya memiliki masa pengembalian (seumpama ada kerusakan) hanya satu minggu dari pembelian. Sebenarnya siapa sih yang salah, bathin saya ?

Kalo kita jeli melihat iklan strip yang tampil di kolom media, ada beberapa jenis ponsel yang diperjualbelikan bila ditinjau dari segi garansi yang diberikan. Ponsel baru gres dengan garansi penuh satu hingga dua tahun dan waktu Replacement ditetapkan dalam hitungan bulanan. Ponsel second masih garansi, ponsel second tanpa garansi dan ponsel baru tapi garansi toko.

Harga yang ditawarkanpun jelas beda. Ponsel resmi biasanya menduduki harga paling mahal jika ponsel tersebut sudah resmi memasuki pasaran Indonesia. Sebaliknya, jika hingga hari ini belum juga dijual resmi, ponsel tersebut biasanya dijual dengan harga tinggi dengan embel-embel ‘unlock’. Katakan saja yang trend belakangan, iPhone. Kalopun mau dilihat kebelakang, barangkali ada yang masih ingat saat ponsel Nokia seri 9500 Communicator baru dirilis, harga indent bisa mencapai angka 15 juta perbijinya.

Bagi konsumen yang menganggap uang bukan masalah, barangkali harga berapapun yang ditawarkan untuk ponsel baru, pasti diambil. Bisa jadi atas dasar prestise antar teman dan kolega yang harus dijaga. Sebaliknya bagi konsumen yang masih memikirkan ‘gaji bulan depan kok lama yaaa…’ seperti saya, harga miring adalah segalanya. Apalagi miringnya jauh, wah langsung disabet deh. Terlepas embel-embel yang ngikut dibelakangnya.

Nah, disinilah letak kesalahannya. Si penjual gak bilang apa-apa perihal status ponsel yang dijual, entah itu barang ilegal (black market atau istilahnya BM), atau malah second. Dibutuhkan pula kejelian si konsumen untuk mengetahui terlebih dulu seluk beluk ponsel yang bakalan dibeli. Apalagi jika ponsel tersebut sekelas smartphone macam iPhone atau Blackberry.

Minimal pengetahuan paling dasar yang harus dicari adalah ‘apakah ponsel tersebut sudah resmi dijual di Indonesia ?’ dan ‘berapa harga jual yang ditawarkan ?’

Entah dengan jalan searching di web, bertanya pada dealer resmi (jika ada) atau mungkin teman yang mengerti dan tahu, sebelum meluncur ke penjual.

Setelah itu adalah tugas konsumen mencermati ponsel yang telah dibelinya untuk mengetahui apakah ponsel yang ia beli itu beneran resmi ataukah ilegal dalam balutan garansi resmi. Nah ini yang kadang sulit dilakukan oleh konsumen awam.

Bukan apa-apa, karena belakangan berhembus kabar bahwa ada beberapa ponsel merek terkenal yang didaur ulang kembali atau istilahnya ‘refurbished’, barang lama yang diperbaharui dengan mengganti chasing, memalsukan box dan kartu garansinya sekaligus. Hingga segel hologramnyapun bisa diganti. Bahkan ada juga ponsel China yang berusaha membuat tampilan awal ponsel semirip mungkin dengan ponsel Nokia seri N terbaru. Baru ketahuan setelah melakukan pengecekan menu lebih dalam atau dengan menginstalasi software pihak ketiga. Satu hal yang jarang bahkan tak mungkin dilakukan oleh mereka yang awam dengan ponsel bertipe smartphone.

Cara pengecekan tentu saja melalui web atau internet dengan mengakses alamat tertentu untuk melihat keaslian produk (nomor IMEI), hingga keaslian batere (nomor batere) pun ada. Masalahnya, gak semua konsumen paham akan hal ini.

Terlepas dari lolosnya ponsel-ponsel BM dan ilegal masuk ke pasar Indonesia adalah kesalahan Pemerintah, minimal untuk mengatasi keresahan para konsumen yang bakalan melakukan transaksi pembelian ponsel terbaru, sepertinya hanya itu saja yang bisa saya rekomendasikan.

Intinya jangan tergiur dengan harga miring. Apalagi begitu diberitahukan kalau jangka waktu replacement (penggantian baru) hanya dalam hitungan hari. Jangan sampe kita sebagai konsumen hanya mau menerima apa adanya. Konsumen berhak tahu, Konsumen berhak memilih.

He… Ini sama saja halnya dengan maraknya CaLeg yang menawarkan berbagai macam program gak jelas. Masih resah mau milih siapa ?

> PanDe Baik mengakui, jika dahulu pernah mengalami hal yang sama dengan kondisi diatas. Membeli PDA T-Mobile di Handphone Shop seharga 3 Juta pada tahun 2005. Harga yang miring memang. Tapi T-Mobile di Indonesia ? Sejak kapan ? Saya malah baru tahu dikibuli setelah ingin meng-upgrade OS WM 2003 ke WM 5.0. Baru tahu kalo T-Mobile yang saya miliki ini sebenarnya adalah pasaran Jerman, dan bukan Indonesia. Syukur banget bisa terjual akhirnya. <

Ingin kenyamanan dalam memakai ponsel anda ? Belilah ponsel yang bergaransi resmi. Lama memang dan bukan tak mungkin kita bakalan kehilangan trend (contohnya iPhone), tapi setidaknya kita sebagai konsumen gak dirugikan. Itu aja.


antara Facebook dan ngeBLoG

15

Category : tentang InSPiRasi

Pertama, apa yang bakalan saya tulis bukanlah mengisahkan awal mula lahirnya Facebook apalagi BLoG. Karena memang saya gak punya pengetahuan soal itu dan karena sudah ada rekan BLoGGer BaLi yang memaparkannya jauh lebih dulu. Untuk awal mula Facebook, bisa dilihat di BloGnya Hendra WS, sang mentor saya perihal hosting menghosting. Sedang awal mula BLoG, yah, search sendiri di mbah Google aja. Dijamin dapet. Hehehe…

Sebetulnya bisa dikatakan, saya itu tergolong baru untuk mengenal Facebook sebagai sebuah sarana berbagi kabar dengan rekan-rekan yang ingin mengenal saya maupun yang ingin saya kenal.

Kalo sebelumnya yang saya tau komunitas berbagi itu adalah Friendster, itupun setelah diundang oleh seorang rekan sekaligus senior saya di kuliahan terdahulu, bli Made Subrata mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur tahun 97an kalo ndak salah ya De ? Desu, gitu ID BeLiau ini tampil di FS saat itu.

Perkenalan saya dengan FS ini gak lama, karena memang jujur aja, saya gak ngerti dan aneh aja ngliat foto diri sebegitu narsisnya dengan pede nampang dan diliatin orang lain. At last, tanpa pikir panjang, account di FS saya hapus dengan segera. He…

After that, saya sempat gabung di milis komunitas BaLi BLoGGer yang merupakan ajang ngumpul secara online anak-anak BLoGGer BaLi atas undangan sang jendralnya sendiri Om AnTon Muhajir. Orang ini pula yang mengenalkan saya pada komunitas Facebook saat sang calon Presiden Amerika Serikat, Obama, yang waktu itu memanfaatkan Facebook sebagai salah satu tempat kampanye. Sempat kehilangan mood bahkan, saat mencoba mendaftarkan account, karena yang terbayang paling pertama ya ‘gak jauh beda dengan FS’.

Gabung di milis BaLi BLoGGer pulalah yang membuat saya sedikit demi sedikit mulai familiar dengan Facebook. Yang membuat aktifitas saya dalam keseharian saat nge-net jadi bertambah satu lagi, yaitu mengelola account Facebook.

Memang, memasuki dunia Facebook pada awalnya memerlukan mood yang tinggi. Karena selain dibutuhkan pengertian akan isi Facebook itu sendiri, untuk koneksi juga menjadi kendala. Apalagi kalo bukan terkait dengan ‘Volume Based’ 1 GB yang ditebus setiap bulannya sebesar 108 ribu rupiah.

Yah, begitu memasuki dunia Facebook, mata harus tetap memantau volume data yang dihabiskan. Bukannya gimana, tapi sejam bisa menghabiskan volume 15 MB, hanya untuk bertukar kabar ? Suatu hal yang mengagumkan mengingat aktifitas nge-BLoG saya sebelumnya hanya menghabiskan tak sampai 5 MB untuk setiap jam nge-net plus chat via YM tentunya. Tapi okelah. Semua itu untuk pembelajaran.

Dengan laju aktifitas sebagai Facebooker (sebutan bagi mereka yang punya account di facebook) yang gak begitu menarik, sempat terbersit keinginan untuk menyudahi account seperti yang saya lakukan pada FS terdahulu. Yah, barangkali karena pada dasarnya saya emang gak terlalu hobi untuk bernarsis-ria, menampilkan foto diri begitu pedenya di tampilan dunia maya, apalagi diliatin oleh banyak orang. Wuiiihhh….

Namun berhubung saya yang kini sudah lepas (out) dari milis BaLi BLoGGer lantaran tersandung satu dua hal yang tak ternyata tak asyik lagi, mau tak mau cuman Facebook-lah satu-satunya sarana bagi saya agar tetap terhubung dengan rekan BLoGGer BaLi. Terutama para Jendralnya. Om Anton dan tentu saja Hendra sang mentor, plus Dokter Cock yang membidani kelahiran BLoG saya ini. Maka, saya putuskan Facebook tetap saya pantau meski tak setiap hari. Berbeda dengan aktifitas utama BLoG yang memang tetap asyik saya jalani selama hampir tiga tahun ini.

Hasrat untuk tetap mempertahankan account di Facebookpun jadi makin besar begitu melihat beberapa rekan masa sekolah dan kuliah dahulu ternyata aktif di komunitas ini. Ya, disinilah saya bisa bersua lagi dengan sobat paling oke saat masa SMA dahulu, Agus Suadnyana. Termasuk sobat yang udah kayak sodara saat masa-masa kuliah di Arsitektur, Putra Wiarsa dan istrinya pula. Awesome ! Tak lupa teman saya sedari SD hingga kuliah, yang tempo hari mengundurkan diri dari kuliah Pasca Sarjana, Kusuma Dewi.

Bahkan tak Cuma itu. Saya juga akhirnya bisa sua brother yang umurnya cuman beda sehari, tapi bodi sama-sama guede, Budi Windhu. Yang akhirnya mengantarkan saya pada rekan-rekan kuliah yang lainnya, termasuk sobat saya Ary Karuna, seorang rekan kerja beberapa saat terakhir sebelum saya membelokkan arah menjadi PNS. Yah, sobat saya ini termasuk paling spesial, berhubung akhirnya saya mengetahui bahwa ia-lah yang menjadi rival terbesar saya dalam merebut hati gadis pujaan saya selama masa kuliah, yang kini telah menjadi Istrinya. He…

Tak lupa terakhir kemarin, saya menemukan makhluk aneh yang setahu saya punya hobi mengoleksi gambar, video dan apa saja yang ada gadis cantiknya. Hingga menempelkannya pada pintu juga dinding kamarnya. Edan ! Makhluk ini pula yang mengenalkan pada saya, betapa asyiknya dunia komputer itu. Terutama saat-saat kami tukeran software, baik hasil hunting hingga mengoleksinya dari majalah CHIP. Ya, Vidy. Punya nama RianDy NoVianto. Nama aselinya yang samar-samar saya ingat dikepala.

Walaupun saya begitu gembira bisa bersua dengan banyak rekan dan sobat terbaik saya, sebaliknya saya begitu tak tertarik apabila mendapatkan invitation dari rekan lain, baik itu nge-games bareng, ikutan satu petisi atu sekedar tantangan apalah. Termasuk beberapa kiriman makanan (digital-tentu saja tak bisa dimakan. Cukup gelek gelek gen) yang hingga kini tak juga saya mengerti apa maksudnya.

Maka saat saya mendapatkan kiriman, undangan hingga ikutan quiz, semua itu saya terima saja trus saya lewatkan. Gak dilanjutin hingga beres. Huahahahaha….

Terkait kerisihan saya akan sifat narsis para Facebooker, hingga hari inipun saya masih belum mampu menampilkan wajah aneh saya pada fitur album foto di Facebook. Cukuplah isinya foto putri kami, MiRah GayatriDewi dan beberapa gambar iseng sekedar untuk berbagi saja.

Khusus untuk foto profile, saya pilihkan yang khusus yaitu wajah Preman saya lengkap dengan badge penjahat. Sayang saya tak secanggih rekan lain untuk menampilkan wajah ndeso saya dalam balutan penjahat kelas berat. Maka jadilah wajah dalam profile saya itu malahan mirip penjahat kampungan yang kerjanya nyuri celana dalam wanita. Huahahaha….

psst… terakhir malahan saya bisa sua dengan barisan dosen muda Fakultas Teknik yang kini rata-rata sudah menyandang gelas Master dan Doktor. al. Gung Yana, Yudantini, Acwin dan juga Diasana. Wah wah wah… siiiipp dah.

> Bagi rekan yang kenal dengan PanDe Baik lewat BLoG ini dan belum mengetahui kalo saya juga ikutan mundukung aktifitas ‘Narsisme’ via Facebook, silahkan search ‘pandebaik’. Yah, barangkali saja ada diantara rekan-rekan yang pengen tahu seperti apa sih wajah preman kampung sang pemilik BLoG ndeso gak penting ini ??? He… Silahkan dilanjuti…. <


the PoWer of ‘KarTu Nama’

3

Category : tentang Opini

‘Silahkan diambil kartu namanya, Pak…’

Ujar petugas fotocopy di daerah timur kota Denpasar kepada saya seraya memperlihatkan setumpuk kecil kartu nama dengan ikatan gelang karet. Ada rasa penasaran ‘emang ini siapa sih Pak ?’ tanya saya…

‘Katanya sih orang ini (pemilik kartu nama) Calon Anggota DPD Dapil Bali.’

‘Trus, kok bisa fotocopy ini yang mengedarkannya ?’

‘Yah, tempo hari ada orang yang menitipkannya disini, meminta untuk diberikan pada setiap orang yang fotocopy kesini.’

Oooohhh….. I See…. Ngerti dah saya sekarang. Jadi ceritanya si Tokoh pemilik kartu nama menitipkan pada tim suksesnya untuk menyebarkan kartu namanya pada masyarakat, tapi malah dititipkan kepada petugas fotocopy untuk diberikan pada setiap orang yang mampir kesitu. Hmmm… Mirip dengan cara pengedaran lembaran promosi pengobatan pake ilmu-ilmu itu di persimpangan jalan.

Saya jadi nyengir sendiri dan berandai-andai.

Sebenarnya orang ini siapa sih ? Katanya mencalonkan diri menjadi anggota DPD Dapil Bali. Nomor urut 1 lagi. Tapi kok cara penyebaran informasi akan citra dirinya dilakukan dengan cara ngawur ? Apa untungnya coba, bagi saya selaku pemilih nantinya ?

Orangnya belum tentu saya ketahui, siapa, apa dan bagaimana latar belakang, visi misi, kredibilitasnya dan apa yang telah ia lakukan minimal untuk kota Denpasar ini, dsb. Orang tersebut juga gak bakalan tahu bahkan barangkali takkan mau tahu, apa keluhan saya, inspirasi saya atau keluh kesah saya. Wong caranya ‘memohon doa restu’ aja begitu kok. Menitipkan pangkat dua.

Padahal kalo seandainya saya dalam posisi ‘BeLiau’ itu, barangkali langkah yang saya ambil selain khayalan saya tempo hari perihal persiapan sebelum memutuskan untuk jadi CaLeg, tentu saja untuk mengantisipasi gamangnya calon pemilih akan figur saya misalnya, harus ada satu terobosan yang mampu menggetarkan hati para pmilih.

Khayalan saya misalkan saja dalam setiap kartu nama yang saya edarkan disertakan form kosong dibaliknya untuk mengetahui keluh kesah, aspirasi ataupun keinginan masyarakat selaku pemilih, sekaligus mencantumkan identitas si pemilih.

Kartu itu nantinya bisa dikirimkan kembali via Pos tanpa perangko misalnya. Tentu saja saya terlebih dahulu akan bekerja sama dengan pihak Pos, untuk mengantarkan kartu-kartu yang terkumpul, setelah hasil pemilu kelak diumumkan.

Tujuannya agar saat saya positif terpilih, minimal saya mengetahui siapa saja yang mendukung saya dan inspirasi apa saja yang harus dipanggul menuju Senayan. Hehehe…. Jadi gak kepupungan lagi, menyerap aspirasi rakyat dengan menghabiskan uang rakyat kelak. Yah namanya juga khayalan…

Ngomongin power of ‘Kartu Nama’, saya jadi teringat waktu jelang akhir millenium lalu, diberikan sebuah kartu nama oleh seorang keluarga yang memiliki sebuah museum seni di daerah Ubud Gianyar, sambil mengatakan bahwa kartu nama tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu jika saya ingin berkunjung ke Museum tanpa konfirmasi dan birokrasi yang berbelit.

Berselang dua tiga tahun setelahnya, saya secara kebetulan mendapatkan pekerjaan sebagai Arsitek Freelance di daerah Ubud. Saya teringat dengan kartu nama tersebut dan berkeinginan untuk mencoba memastikan apakah yang dikatakan oleh Bapak itu benar atau tidak. Maka saya memperlihatkan Kartu Nama BeLiau kepada pihak Security di depan Museum Seni yang dimaksud sambil mengatakan saya ingin melihat-lihat disekitar Museum.

Tanpa banyak pertanyaan, saya dipersilahkan masuk sambil diberitahu bahwa sang pemilik sedang tidak berada ditempat.

Barangkali benar apa kata seorang Kolektor kartu (kartu nama, kartu undangan dsb) yang pernah dimuat di Intisari jaman dulu, bahwa Kartu Nama sebetulnya punya kekuatan yang sama dengan ijin atau restu si pemilik, atas segala fasilitas yang disediakan atau diberikan kepada penerima kartu nama.

Nah, kalo keadaannya bahwa kartu nama punya wewenang sedashyat itu, lantas bagaimana dengan kartu nama para CaLeg dan Calon DPD yang kini banyak beredar dimasyarakat ? Apakah itu bisa menjadi satu jaminan pada masyarakat yang kelak memilihnya akan semua janji yang mereka ucapkan ?

Atau barangkali hanya untuk memperkenalkan diri, tanpa mau tahu apa yang diinginkan oleh para pemilih, sehingga jalan yang diambil untuk menyebarkan kartu nama tersebut dilakukan dengan cara menitip ? Bah !

> Saya malahan jadi berkhayal, kira-kira kelak Kartu Nama ‘PanDe Baik’ yang akan diedarkan bakalan punya power apa aja yah ? <

* Power of LoVe ajah. Hehehe….


ayooo membaca

5

Category : tentang InSPiRasi

Suatu kali Istri saya pernah bertanya perihal rutinitas membeli majalah bekas ataupun tabloid ponsel tiap bulannya. ‘Apakah isi dari semua majalah ataupun tabloid itu sudah habis dibaca dan diingat ?’

He… pertanyaan yang dilontarkan oleh Istri saya ini, bukan lagi hal baru yang saya dengar dari orang terdekat. Malah pertanyaan yang sama, beberapa kali dalam hidup saya dipertanyakan demi melihat kegemaran saya membeli majalah tabloid baru atau bekas lantas mengoleksi artikel-artikel didalamnya. Ya, beberapa tahun belakangan ini saya malahan jadi rajin mengoleksi isi dari artikel-artikel yang saya anggap menarik untuk dibaca berulang kali, apabila saya perlukan.

Membaca. Ya, hobi ini agaknya yang paling menarik bagi saya pribadi. Bisa saya lakukan kapan saja, dimana saja, dengan media apapun. Jika dirumah, intensitas membaca saya lakukan paling banyak saat duduk santai atau berbaring dilantai. He… kebiasaan yang sangat buruk, kata orang. Malam sebelum tidur atau malah pagi saat ‘bertapa’ di kamar mandi. He….

Jika melihat jauh kebelakang, barangkali ada enam fase atau tahapan terkait hobi membaca dan membeli majalah, tabloid hingga buku ini. Pertama saat bersekolah dasar, saya berlangganan majalah Bobo, dan melahap Donal Bebek hasil pinjaman dari adik sepupu. Favorit saya pada masa ini tentu saja serial komiknya Pak Janggut ‘Monster Danau Kabut’ yang beberapa minggu terakhir saya dapatkan kembali dalam bentuk e-Book. Juga Deni si Manusia Ikan. Diluar itu saya keranjingan membaca komik Smurf dan Steven Sterk.

Kedua saat usia remaja SMA, tingginya minat saya musik membuat saya terkena racun sobat terdekat yang waktu itu berlangganan HAI dan juga Ananda. Kedua majalah ini secara kebetulan punya orientasi sama, yaitu mengulas artis musik dari boy band macamnya NKOTB hingga Metalnya Sepultura dan tentu saja Metallica. Pada masa ini saya sudah mulai berkenalan dengan Perpustakaan Daerah, yang secara kebetulan mereka juga menyajikan komik Asterik & Obelix dan tentu saja Tintin.

Ketiga saat kuliah, minat saya perlahan berpindah pada majalah yang mengulas PC dan software. Tentu saja jauh beda dengan beberapa rekan seangkatan saya yang begitu memuja ‘ASRI’ sebagai bahan bacaan bulanan mereka. Pada masa ini pula saya akhirnya nekat mencoba otak-atik memperbaiki komputer milik teman, tentu saja hanya sebatas softwarenya saja. Itupun dengan pembelajaran otodidak saja.

Fase keempat saya alami saat usai kuliah, mulai bekerja dan akhirnya mampu memiliki uang jerih payah sendiri. Masa ini bacaan saya makin melebar dan berkembang pada majalah dewasa macam Popular. He…. Dapat dimaklumi, karena waktu itu saya baru saja mengenal ‘pacar pertama’ yang tentu saja seperti memiliki PC baru, menarik minat saya untuk mengoprek isinya lebih jauh. Akan halnya yang dilakukan oleh majalah Popular dengan menampilkan ‘the goddess’ versi mereka. Lumayan membuat mata dan sekujur tubuh menjadi menegang dan kaku. Huahauahauahaa……

Kelima, saya alami saat teknologi ponsel plus PC begitu booming di negeri ini, membuat saya selalu tertarik dengan majalah Digicom, Info Komputer, CHIP dan beberapa majalah sejenis lainnya. Tak lupa tabloid Pulsa dan tentu saja SmS saya lahap satu persatu. Apalagi saat fase ini didukung pula oleh tercapainya keinginan terpendam saya untuk memiliki sebuah PDA Pocket PC, usai racun yang disemburkan oleh majalah dan tabloid tersebut masuk kedalam jantung saya….

Setelah menikah dan puas dengan beberapa ponsel juga PDA yang saya miliki, intensitas ketertarikan saya mulai menurun. Istilahnya cooling down. Maka fase keenam, boleh dikatakan fase menuju kedewasaan diri, dimana saya mulai memutuskan untuk mengambil kuliah lanjutan (pasca sarjana) yang ternyata dibarengi oleh kehamilan Istri dan akhirnya kelahiran putri kami, MiRah GayatriDewi.

Fase terakhir ini rupanya membawa banyak perubahan minat. Dimana saya lebih banyak membeli majalah, tabloid dan tentu saja buku, ya buku, yang berkisah tentang kesehatan kehamilan ibu dan bayi, serta referensi pendukung pengerjaan tugas-tugas mata kuliah saya. Apalagi BLoG telah mulai saya kenal sedikit demi sedikit.

Makanya tak heran dalam fase terakhir ini, saya memiliki begitu banyak buku kecil (saku) hingga yang tebalnya mampu meninabobokkan saya. He… Tentu saja buku-buku tebal nan besar ini tak sempat saya baca. Bukan saja lantaran buku ini berbahasa Inggris, tapi juga mata kuliahnya keberu lewat sehingga tak terpakai lagi di sesi berikutnya.

Meningkatnya minat saya akan membaca akhir-akhir ini didukung pula oleh keberadaan toko buku yang dapat dijangkau oleh isi dompet saya, yaitu Toga Mas di Museum Sidik Jari Hayam Wuruk yang kerap memberikan diskon setiap pembelian, dan juga Gramedia Hero yang memiliki cukup banyak koleksi buku murah.

Membaca itu gak ada ruginya kok. Apalagi kalo isi bacaannya itu memang mampu mencerahkan isi kepala kita yang kian hari kian dicemari oleh maraknya video mesum dalam format 3gp, rm, wmv de el el besutan sutradara nakal nan amatiran. Katakanlah misalnya pada majalah CHIP edisi awal tahun 2002 yang mengetengahkan topik ‘Internet dalam Kokpit mobil’ yang ternyata baru saja pertengahan tahun 2008 lalu mulai digalakkan di Jakarta sana. Mobil yang ada fitur wifi-nya, dengan tarif lima ribu rupiah setiap kilometer jalan yang dilaluinya. Ternyata butuh waktu enam tahun agar teknologi tersebut beneran dapat tergunakan didalam masyarakat.

Tak hanya dalam bentuk fisik cetak yang saya sukai, baca dan koleksi. Digitalpun saya kumpulkan. Bahkan di Toga Mas, saya malah menemukan CHIP Edisi Spesial yang memberikan format digital majalah mereka sedari tahun 2002 hingga 2008. Lumayanlah untuk dibaca saat senggang. Tak lupa edisi yang memberikan bonus cd Wikipedia berbahasa Indonesia. Senangnya bukan main. Selain isi dan topik yang diberikan masih bisa saya gunakan paling tidak dalam jangka waktu lima tahun kedepan, kedua edisi tersebut malahan saya dapatkan dengan harga miring. Ha… sangat menggiurkan bagi saya yang berkantong tipis setiap bulannya.

Terlepas dari segala kegemaran saya akan membaca berbagai hal menarik sedari dahulu, setidaknya itu semua mampu memberikan ide ataupun inspirasi saat merencanakan sesuatu atau malahan sebagai bahan dan referensi isi BLoG ini. Suatu hal yang berharga bagi seorang BLoGGer agar jangan sampai kehabisan ide tulisan, mentok hingga hitungan minggu, trus menjadikannya malas ngapa-ngapain termasuk blogwalking. He….

Salam dari PuSat KoTa Denpasar

> PanDe Baik mengajak Rekan dan kerabatnya, siapapun mereka, berapapun usianya, apapun pekerjaannya untuk ikut dalam gerakan ayoooo membaca seperti yang telah dicanangkan oleh Pemerintah beberapa waktu lalu. Gak ada ruginya kok. ? <


Tarif IM3 25 per Detik ? GILA !

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Pada awalnya saya memilih IM3 atas dasar sekedar mengakses internet dan email lewat PDA O2 Atom yang kabarnya punya tarif dasar paling murah yaitu 1 rupiah per kilobytes pemakaian. Ya, sayapun merasakannya beberapa bulan belakangan ini.

Dengan aktifitas pemakaian sekedar mengecek email pada jam-jam kerja ataupun tempat dimana tidak memungkinkan saya membuka laptop dan mengakses internet via modem Speed Up Starone, untuk sebulan pemakaian biaya yang saya habiskan tak sampai 10 ribu rupiah. Ini konsekuensinya tentu saja pulsa yang terus bertambah karena masa tenggang yang diberikan setiap kali pengisian pulsa sangatlah singkat. Kisaran dua tiga minggu. Bukan tiga puluh hari seperti yang dipromosikan saat saya memutuskan menggunakan IM3.

By the way, pulsa yang makin bertambah, membuat saya iseng-iseng menguji, seberapa murahnya tarif nelpon IM3 yang katanya ‘paliiiing murah’. Tentu saja tarif ‘paliiiing murah’ tadi saya yakini hanya ke sesama operator saja. But, bagaimana jika kita nelpon ke operator lain ?

Hunting ke web resmi milik IM3, disana saya menemukan tarif dasar untuk panggilan ke operator lain adalah sebagai berikut :
> Rp 25/detik untuk 2 menit pertama
> Rp 0,1/detik untuk 3 menit berikutnya (s.d menit ke 5)
> Skema berulang tiap 5 menit
Syarat & Ketentuan:
> Tarif minimum untuk setiap satu panggilan adalah per 10 detik atau Rp 250
> Satuan untuk penghitungan bonus Rp 0.1 adalah per 10 detik
> Mulai berlaku 17 Februari 2009

Ada yang kurang jelas ?

Nah, berikut saya mencoba melakukan panggilan ke nomor operator lain, yaitu Telkomsel. Saya melakukannya pada tanggal 18 Februari, sekitar jam 11 siang didaerah Abiansemal. Dengan saldo awal pulsa saya adalah 35.840 rupiah, setelah panggilan berlangsung selama 95 detik, saldo berkurang drastis menjadi 33.460 rupiah. –Shock- tentu saja.

Setelah saya hitung selisihnya dibagi durasi, ternyata beneran tarifnya 25 rupiah per detik untuk satu setengah menit pertama. He… iklannya gak bohong ternyata.

Ohya, saya bukanlah orang yang termasuk ngobrol lama tiap kali panggilan. Artinya saya pun harus bersiap-siap kehabisan pulsa dalam sekejap, jika tiap kali melakukan panggilan ke nomor lain dengan menggunakan nomor IM3. Fiuh….

Ngomong-ngomong, kenapa para operator masih gak mau memberikan tarif yang flat hingga hari ini yah ? apa karena bau promosi yang membodohi masyarakat ?

Katakanlah kalo kita mau hitung-hitungan, untuk tarif dasar IM3 diatas tadi, secara flat kira-kira berkisar 10,06 rupiah per detiknya. Artinya, bagi penelepon seperti saya ini, IM3 mengambil keuntungan sebesar 15 rupiah perdetiknya untuk panggilan sepanjang 2 menit tiap kali nelpon. Merugikan konsumen ? jelas. Menguntungkan Operator ? Tentu saja….

> PanDe Baik akhirnya kembali menggunakan TelkomFlexy (berhubung cuman punya dua nomor itu aja-Flexy dan IM3) sebagai sarana panggilan kemana saja, baik sesama operator maupun operator lain. Karena berdasarkan informasi resminya, Flexy mengenakan tarif flat 780 rupiah per menitnya untuk panggilan ke operator lain. Jauh lebih murah untuk panggilan singkat tiap kali nelponnya. But, untuk internetan ya tetep aja makenya IM3 <

Walaupun saya tahu kalo TelkomFLexy itu ‘bukan telpon biasa…’ Huehehehehe….


MenggeLitiknya Benny & MiCe

3

Category : tentang InSPiRasi

Lagi-lagi Benny & MiCe.

Rupanya kartun strip kita satu ini belum terasa memuaskan, jika belum melahap semua buku yang diterbitkan berisikan kumpulan ide yang konyol nan menggelitik nurani. Bisa dikatakan apa yang digambarkan oleh kartun strip Benny & MiCe -yang akhirnya menjadi satu trademark koran Kompas tiap hari minggu- merupakan gambaran diri kita sendiri sehari-harinya.

Bagaimana tidak ? Dalam setiap buku yang mereka bagi menjadi berbagai topik pilihan, dijamin ada saja satu dua gambaran yang beneran mencerminkan diri kita sendiri.

Katakanlah saat saya menikmati ‘Lost in Bali’ ada sikap pedagang di Legian yang kadang acuh pada orang lokal yang berkunjung ke los toko mereka akan sangat berbeda dibanding jika yang masuk ke los tokonya tersebut turis luar negeri. Pada ‘100 tokoh paling berpengaruh di Jakarta’ malahan sosok sang pegawai negeri benar-benar menggambarkan siapa saya sebenarnya.

Trus, pada ‘Talk about Hape’ dan juga ‘Jakarta Atas Bawah’, satu gambaran perihal orang yang begitu bangganya memiliki hape keren, laptop keren tapi sepatunya masih robek-robek, malah kesannya makin menyindir saya saja. He…. Bahkan tak hanya itu, laptop yang keren buat dijinjingpun hanya dipakai untuk bermain Solitaire padahal sedang berada pada area free hotspot. Ealah….

Kini, saya beruntung bisa menikmati satu edisi buku mereka ‘Jakarta Luar Dalem’.

Isinya rata-rata mampu membuat saya minimal mengembangkan senyum, atau malah tertawa cekikikan di pojokan. Apalagi saat bablasnya mereka saat menanggapi trend yang berkembang disekitarnya. Saat orang ber-piercing gembok, mereka malahan menggunakan sangkar burung sebagai piercing di telinga. Atau saat flash disk jadi hiasan yang menggantung leher, mereka malah menggantungkan hard disk dengan ukuran Gygabyte. Huahahuahauahahaha…. Apalagi ada kata-kata uniknya pula…. ‘Lewat lo semua…’ atau ‘Putus lo semua…’

Gambaran diatas tentu saja membuat saya geli sendiri, lantaran langsung mengingatkan betapa noraknya saya saat jaman kuliah dahulu. Saat dikritik oleh dosen pembimbing asistensi tugas untuk lebih kreatif mendesain garis pinggir pada sebuah kertas gambar untuk mata kuliah Perancangan, saya kebablasan hingga menggambarkan seekor tikus menggerogoti pinggiran kertas gambar. Tentu saja itu menjadi bahan tertawaan dosen dan juga teman kuliah.

Saat stiker mulai trend ditempel secara acak dan ngawur di helm, saya dengan pedenya menjalin berbagai artikel majalah untuk kemudian ditempelkan dengan plester bening, full menutupi helm, tanpa ada ruang kosong sedikitpun. Makanya sangat wajar jika sampe di bangku kuliahpun saya belum pernah jalan dengan makhluk yang berkelamin Cewek. Huahahuahauahahaha….

Satu lagi. Saat selongsong tabung gambar sangat keren disandang kemana-mana (ciri khas anak Arsitek), saya malah membuatnya sendiri dengan pipa paralon dalam ukuran panjang satu setengah meter. Lengkap dengan lapis luar kulit imitasi berwarna hitam. Keren banget memang (ini jelas-jelas buanget pendapat saya pribadi). Padahal isi dalemnya paling cuman kertas berukuran A3 (dua kali A4) yang digulung beberapa lembar. Mubazir buanget dah ! Jadilah tampang saya mirip-mirip teroris. Sudah tinggi besar, masih menggendong bazooka pula. Huahauaauahahhaaa…

Okelah, stop menertawakan diri sendiri. Back to Benny & MiCe. Eeh… Ada Lagi !!! Coretan mereka tentang ‘Karyawan’ yang dateng tepat waktu biar bisa ngabsen dan dapet jatah transport makan siang, tapi jam kerjanya dipake main gim dan internetan. Dilanjutin makan siang dan ngorok setelahnya. Diakhiri dengan pulang tepat waktu. Wah Wah Wah…. Kira-kira ini nyindir siapa hayoooo…. Siapa yang kerjanya nge-BLoG dan blogwalking saat jam kerja ? Huahahuahauahahaha….

> PanDe Baik merasakan sekali manfaat daripada kumpulan komik strip Benny & MiCe yang diterbitkan dalam bentuk buku saku ini. Selain membuat hati riang, minimal saat isi dompet makin menipis diakhir bulanpun, saya masih bisa cekikikan. Lumayan membuat iri rekan-rekan seruangan kantor. He…..
Jadi gak sabaran nunggu (pinjeman dari adik sepupu) buku mereka yang laen. Huahahuahauahahaha…. <