FaceBook and Me

Category : tentang DiRi SenDiri

Ternyata sudah lama juga saya bergumul dengan waktu hanya untuk mengeloni akun FaceBook.
Setidaknya dari tulisan perpindahan domain dari pandeividuality.net ke pandebaik.com di tahun 2008 silam, terungkap perkenalan saya dengan akun FaceBook yang kalau tidak salah ingat, waktu itu untuk kali kedua saya membuat akun, dan ternyata belum banyak kawan yang bergabung ke sosial media satu ini. Mereka masih asyik dengan FriendSter kalo ndak salah.

FaceBook dalam perjalanannya banyak membantu aktifitas saya di dunia maya termasuk dalam urusan meningkatkan traffic kunjungan ke postingan Blog.
– Tahun 2009 awal, banyak menurunkan tulisan tentang Morange, aplikasi Push Email bagi ponsel Nokia, atau mereka yang belum mampu menjamah mahalnya ponsel BlackBerry jaman itu.
– Tahun 2009 akhir hingga 2010 awal, mewujudkan Reuni SMA setelah berpisah 15 tahun lamanya. Banyak kisah duka maupun suka didalamnya.
– Tahun 2010 awal bersamaan dengan Reuni SMA diatas, saya mendapat kehormatan bergabung dalam Tim melahirkan LPSE Badung bersama rekan-rekan di Bagian Pembangunan.
– Tahun 2010 pertengahan, gabung dengan Semeton Pande membentuk Yowana dan segala pernak pernik kegiatan sosialnya. Menemukan saudara dan jalan hidup yang sebenarnya.
– Tahun 2010 akhir, mengenal akun FourSquare dan gila-gilaan mengejar Badges bareng Pande Putra, adik sepupu yang mahir soal satu ini.
– Diwaktu yang sama, saya pun akhirnya mengenal Android dari seorang senior di LPSE yang membawa banyak perubahan serta mindset dalam bekerja dan beraktifitas hingga kini.

Selebihnya, FaceBook meneruskan semua kegilaan akan perangkat layar sentuh yang saya yakini bakalan menggilas keberadaan BlackBerry yang saat itu sedang Booming juga Nokia lewat seri N dan E.
Saking yakinnya, saya termasuk yang menolak untuk mengambil perangkat BlackBerry sebagai ponsel utama saat itu. Hehehe… padahal jujur saja, saat kemunculan pertama di baliho milik Indosat, saya termasuk mengidolakan seri jadul BlackBerry lantaran bentuknya yang unik, sementara kawan lain lagi booming ponsel Nokia.

FaceBook akhirnya mulai dirasa menjadi Bumerang. Penghalang banyak hal, dan ketagihan.
Saya alami pada pertengahan Tahun 2015 yang akhirnya diputuskan untuk menutup permanen akun FaceBook setelah mencoba sebelumnya selama 6 bulan pertama.
Semua aktifitas dan dunia seperti terputus begitu saja.

Berselang Dua Tahun, setelah semua aktifitas sudah dirasa menjadi lebih baik, disamping tingkat kunjungan halaman Blog yang semakin menurun, saya mencoba kembali lagi ke akun FaceBook.
Tidak sengaja mengaktifkannya kembali, kaget karena pihak FaceBook masih menyimpannya. Tidak menghapusnya secara permanen.

Maka berbekal pengalaman sewindu sebelumnya, juga pengetahuan tambahan yang saya dapatkan saat meninjau akun FaceBook beberapa kawan atas permintaan yang bersangkutan, saya mencoba untuk mawas diri sejak awal. Mengurangi fitur dan kemampuan yang ada dalam FaceBook masa kini, demi mengamankan kepala dan tetap mampu berbagi informasi laiknya dulu. Serta berharap, FaceBook tidak lagi memabukkan dan mengganggu.

Well, nyaris satu dasa warsa artinya saya mengenal dan bergabung di akun FaceBook ini.
Senang bisa kembali lagi, meski sempat antipati sebelumnya.

(Tidak Sengaja) Mengaktifkan Kembali Akun FaceBook

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang TeKnoLoGi

Sejak awal keputusan diambil, sebenarnya apa yang dikeluhkan sudah sesuai dengan harapan.
Sehingga bisa dikatakan bahwa penonaktifan akun FaceBook tahun sebelumnya, memang tepat adanya.

Namun ketika bicara soal ‘kesempatan’ sebagaimana motivasi yang rutin disampaikan mas Hendra WS lewat eMail, tampaknya saya banyak melewatkan peluang yang sedianya mampu digiring dari halaman FaceBook untuk bisa berkunjung ke halaman blog, sebagai satu-satunya potensi yang dimiliki di dunia maya. Sayang memang.

dan Ketika traffic makin menurun, terlepas dari kualitas postingan yang tidak lagi menarik perhatian netizen ataupun era yang sudah berpindah ke Vlog sementara halaman www.pandebaik.com dan saya selaku pemilik dan pengelola tampaknya tidak mampu menyesuaikan konten, belajar dari mentor Dokter Made Cock pemilik akun Twitter Blog Dokter yang telaten menjaga sumber daya yang beliau miliki, mau tidak mau terjun kembali ke akun sosial media terbesar demi mengais kembali kunjungan yang pernah ada.

Membuat akun baru tentu saja tidak sulit, demikian halnya mengingat kembali daftar teman yang pernah dimiliki lantaran mesin FaceBook akan memudahkan semua proses itu. Namun untuk menggunakan alamat email yang sama rupanya tidak disarankan oleh pihak FaceBook mengingat akun PanDe Baik pernah menggunakan sebelumnya. Eh ? Apa ?

Ternyata FaceBook tidak benar-benar menonaktifkan dan menghapus permanen akun FaceBook yang pernah kita miliki. Dengan kata lain, Facebook akan menutup buku yang kita punya dan menyimpannya sehingga ketika dibutuhkan, semua bisa kembali lagi seperti membalikkan telapak tangan.
Halah…

Jadi kaget, pas mengetahui fakta bahwa apa yang pernah disharing dalam kurun waktu bertahun-tahun lalu masih bisa dicari meskipun sebulan lalu tak tampak dalam hasil pencarian mesin Google. Edan… Ini gunanya server raksasa FaceBook.

Maka itu, akun FaceBook ‘PanDe Baik‘ tampaknya akan mulai digunakan kembali, namun sesuai tujuannya, sementara waktu dikhususkan untuk sharing konten blog demi menjaring kembali kunjungan yang dulu hilang. Sedang proses interaksi, agar tak menimbulkan kembali keluhan terdahulu, bakalan dibatasi semampunya. Termasuk opsi meng-Unfollow beberapa Akun tanpa meng-Unfriend mereka.

Kira-kira begitu.

Btw, kalian sudah temenan dengan saya di FaceBook ?

Kemajuan Teknologi berimbas jelas pada Kemajuan Status FaceBook

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Kalo boleh dibolak balik lagi halaman akun FaceBook masing-masing utamanya pada Timeline kawan yang dimiliki, dua tiga tahun sebelumnya saya yakin masih dipenuhi oleh kalimat dan gambar statis dengan berbagai tanggapan, ocehan atau makian. Jaman itu jaringan 3G dan 3,5G bisa dikatakan sudah lumayan hebat dan bermanfaat. Paket data Murah banyak ditawarkan agar pengguna lebih mudah sekadar Update Status atau Chat via BBM yang saat itu digemari berbagai kalangan.

Namun di tahun 2016 ini saya lihat sudah jauh berbeda.

Seiring dengan diperkenalkannya jaringan 4G LTE oleh beberapa operator yang didukung pula oleh vendor ponsel baik lokal maupun branded. Dari yang mahal sampai murah meriah.Kemajuan Teknologi ini tentu berimbas pada meningkatnya kuota data yang diberikan dalam paket internet yang digunakan, meski dalam rentang biaya tak jauh berbeda.

Bagi yang paham, tentu akan berimbas pada perubahan perilaku bersangkutan, baik saat melakukan surfing di dunia maya maupun sekedar update status di akun sosial media. Sedang mereka yang masih jua belum paham, bisa jadi tak terpengaruh begitu banyak.

Maka sadarkan kalian hai kawan, bahwa akhir-akhir ini Timeline kita dipenuhi oleh gambar bergerak ?

Viral video yang menyajikan teknologi berkembang di seputaran kita ? Jualan mereka sehingga lebih mudah dipahami ? Atau konten pribadi agar sanak saudara bisa tahu lebih cepat ? Mungkin inilah yang pernah dikatakan sahabat saya mas Hendra W Saputro. Bahwa dengan kemajuan yang sangat jauh meningkat di bidang jaringan, sudah saatnya kita mencoba beralih peruntungan untuk masa depan, ke model viral video yang diyakini masih belum banyak celah yang dimanfaatkan. Apalagi secara infrastruktur kelihatannya sudah mulai banyak didukung. Nah, gimana menurut kalian ?

Masih betah memilih untuk Update Status dengan kalimat dan gambar sebagaimana kebiasaan yang lalu-lalu ? Atau mulai beranjak pada share video dan gambar bergerak lainnya ? Menjual ide, menjadikannya tambang emas ?

Sampaikan ide dan pemikiran kalian dengan jalan yang jauh lebih baik.

Bukankah Gambar dapat mengungkapkan ribuan kata ?

Memantau Penghinaan terhadap Bali, Nyepi dan Hindu di akun FaceBook

Category : tentang KeseHaRian

Tempo hari sebelum hari raya Nyepi, saya masih sempat menyampaikan beberapa kalimat ungkapan hati, berkaitan dengan upaya penghinaan terhadap Bali, Nyepi maupun Hindu yang terpantau di akun FaceBook setiap kali Tahun Baru Caka datang.

Sudah biasa sebenarnya.

Lihat saja di halaman blog ini, ada beberapa tulisan yang dipublikasi dengan tema serupa. 2-4 tahun lalu.
Trus, kini masih ada ?

Tentu saja. Wong ndak semua bisa berpikiran sama kok. Dan sebagaimana pohon, tunas baru selalu bermunculan dengan kedewasaan dan pemahaman toleransi yang berbeda. Atau kalau mau, baca saja media cetak pasca Nyepi kemarin. Ada tuh beritanya.

Tapi iseng-iseng, saya mencoba memantau kembali, akun akun FaceBook mana saja yang tertangkap melakukan penghinaan ini. Dengan menggunaan kata kunci seperti (maaf) ‘Fuck Bali’, ‘Fuck Hindu’, ‘Fuck Nyepi’ atau dengan kata domestik (lagi-lagi maaf) ‘Bali Bangsat’, ‘Hindu Bangsat’, atau ‘Nyepi Bangsat’.

Ternyata dari beberapa hasil pencarian, rupanya tidak tertutup pada akun facebook di lokal domestik saja. Tapi ada juga yang dari akun FaceBook mancanegara. Dengan berbagai latar belakang alasannya. Bahkan meski tanpa melalui kata, ada juga kok akun lokal baik itu semeton Hindu dan juga umat lain, yang melakukan pelecehan akan pelaksanaan Nyepi itu sendiri.
Yuk lihat hasilnya.

Untuk

Hate Speech FB Lokal 01

Hate Speech FB Lokal 02

Hate Speech FB Lokal 03

Hate Speech FB Lokal 04

Hate Speech FB Lokal 05

Hate Speech FB Lokal 06

Hate Speech FB Lokal 07

Hate Speech FB Lokal 08

Hate Speech FB Lokal 09

Hate Speech FB Lokal 10

akan tetapi ada juga yang lewat BBM

Hate Speech BBM

makna nyepi

Hate Speech FB Makna 02

Hate Speech FB Makna 01

Hate Speech FB Makna 03

Hate Speech FB Makna 04

atau Blog

Hate Speech BloG

dan mancanegara

Hate Speech FB Manca 01

Hate Speech FB Manca 02

Hate Speech FB Manca 03

Hate Speech FB Manca 04

Hate Speech FB Manca 05

By the way, beberapa kawan yang tempo hari mempermasalahkan sempat mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Daerah bisa membuat semacam aturan atau Perda terkait Penghinaan ini. Tujuannya ya tentu menindaklanjuti ke upaya berikutnya, agar jangan sampai terulang kembali di tahun berikutnya. tapi ya… namanya juga komen di akun FaceBook. rasanya ndak akan berlanjut lah ide ide itu…

Pertemanan FaceBook itu semu semata

1

Category : tentang Opini

Terkecuali kalian punya misi tertentu selain berkawan, apalagi untuk jualan komersial, rasanya Pertemanan di jaringan sosial media dalam hal ini FaceBook, bisa dikatakan semu.

Dari 1000 kawan yang ada di akun kalian, apakah kelak bila ada pertemuan di jalan akan saling mengenal satu sama lain ? Atau sederhananya, pernah bertemu atau berteman di dunia nyata ?
Saya yakin tidak. Kecuali memang melakukan pembatasan dalam pergaulan dunia maya, khusus hanya orang-orang yang dikenal saja, bisa jadi 75% jawaban pasti iya. Kalo dengan perilaku umum ? Bisa ingat setengahnya aja sudah hebat.

Lalu dari setengah tadi, pernahkah berinteraksi sekali saja dengan mereka topik tertentu diluar ucapan ‘terima kasih ya sudah di-add’ ? Saya yakin tidak banyak. Setengah dari itu saja, sudah bersyukur. Minimal dari hari kehari, tanggapannya bisa beragam.

Nah, dari setengahnya setengah tadi, seberapa banyak pernah memberikan tanggapan, candaan atau bahkan bisa jadi makian, atas status, foto atau hal-hal yang pernah diunggah sejauh ini ? Terkecuali jika memiliki wajah eksotis, kelamin wanita atau malah berstatus single, dijamin soal Komentar, Reply atau jumlah Like bakalan tinggi. Bisa jadi mencapai 50an orang perkali unggah, itu minimal.

Pernah merasakan hal ini ? Atau bahkan berkali-kali mengalaminya ?

Ya demikianlah adanya. Sependapat atau tidak ?

Berpisah dari FaceBook, kok Bersua lagi lewat Path ?

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Yang namanya penggunaan akun media sosial kelihatannya memang gak ada habisnya.

Setelah berkomitmen meninggalkan FaceBook, Line, Chat On, Telegram dan lainnya, lha kini kok malah main Path ? Pasti ada apa-apanya nih…

Gara-gara istri dan Mas Seno SmartFren

Awalnya sih istri meminta tolong untuk didaftarkan ke akun Path agar bisa terhubung dengan kawan kawan kantornya, ia pun mempertanyakan saya ‘mosok gak punya akun Path ? Pasti punya lah…

Beda lagi dengan Mas Seno Pramudji dari SmartFren yang posting foto gathering kemarin melalui akun path Beliau, ditembuskan ke Twitter. Eh pas pengen diliat, malah diminta bikin akun Path dulu oleh sistem, gak bisa gitu aja. Ealah…

Maka jadilah saya mencoba membuat akun Path.

Path PanDe Baik 7

Tapi eh ternyata bener apa dugaan istri. Saya memang sudah pernah punya akun Path, cuma gak pernah aktif. Kalo ndak salah akun itu dibuat saat saya masih berada di bawah naungan LPSE yang menyediakan akses internet tak terbatas itu. Maka Path jadi salah satu bahan oprekan selain Google +. Cuma sayangnya saya lupa password yang digunakan. Setelah diutak atik beberapa menit, akun Path pun bisa diakses dengan baik.

Infonya sih Path ini jadi pelampiasan anak anak FaceBook yang merasa bosan akan akun jejaring sosialnya Mark Z. Ada juga yang mengatakan bahwa akun Path jadi lebih asyik karena daftar temannya masih terbatas. Benar atau tidaknya, Entah ya.

Masuk di akun Path yang gak keurus ini membuat saya belajar lebih jauh untuk menggunakan, melakukan pengaturan dan mencari teman. Rupanya ada beberapa kawan yang menyadari kehadiran saya di akun Path dan nyeletuk ‘Berpisah dari FaceBook, kok Bersua lagi lewat Path ?’ He… sorry

Meski begitu, Path gak bikin saya lupa waktu macam akun FB kemarin kok. Intensitas penggunaannya pun gak sampe seminggu sekali. Karena secara jumlah teman masih sangat terbatas, dan saya masih lebih asyik dengan blog juga twitternya. Tapi toh, gak ada salahnya juga mencoba lagi, siapa tahu bisa dijadikan bahan update blog, tulisan baru di www.pandebaik.com. hehehe…

Hari Hari tanpa FaceBook

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Membuka cerita melalui akun FaceBook adalah keharusan. Itu Dulu…

Sekarang, meski sempat agak kebingungan akan kosongnya waktu saat pagi maupun malam hari, pelan tapi pasti semua rutinitas itu sedikit demi sedikit berubah. Tidak ada lagi beban pikiran yang membuat keraguan dan kegalauan hadir setiap saatnya.

Update Status atau sekedar berkomentar nyaris bisa dilakukan tanpa pemikiran terlebih dahulu. Telaah, screening dan semacamnya. Sehingga tak heran jika cukup banyak pengguna akun FaceBook yang kemudian tersandung kasus akibat status maupun komentarnya di halaman jejaring sosial ternama itu.

Kemudahan aktifitas tersebut lambat laun menjadikan penggunanya makin bebas berekspresi tanpa menyadari akan bahaya efek yang diakibatkan meskipun tidak semua. Apalagi kalau lingkungan tak mendukung harapan dan keinginan, maka makian atau kalimat halus pun terlontar begitu saja, spontan.

FaceBook PanDe Baik

Menjadi bagian dari sistem yang bermasalah, sesungguhnya bukanlah satu tujuan pada awalnya. Demikian halnya jabatan. Semua datang tanpa diketahui, serba mendadak. Sehingga ketika semua uneg uneg yang dirasa menjadikannya sebagai beban, ditambah mudahnya semua terpublikasi sebagai ekspresi, maka tak heran jika kemudian banyak orang yang tersulut akibat tumpahnya ekspresi instant yang tertuang dalam kolom kosong mengundang akun halaman FaceBook.

Inilah yang kerap mengkhawatirkan diri mengingat secara pribadi, saya adalah sosok yang ceroboh, sembrono dan mudah tersinggung serta marah. Silahkan lihat postingan awal yang pernah saya bagikan baik di akun twitter maupun blog, berhubung akun FaceBook sudah resmi dihapus. Diantara luapan emosi itu, cukup banyak pula yang merasa tersindir bahkan bertentangan dengan nurani masing masing. Maka langkah paling aman untuk meminimalkan salah langkah tersebut adalah menghapusnya.

Tidak semua orang atau kawan yang ada dalam daftar pertemanan mampu memahami isi luapan emosi yang sesungguhnya sudah tertuju pada hidung orang orang tertentu, namun ‘menyindir satu, lima kawan lainnya merasa…’ itu sudah biasa di akun FaceBook.

Belum lagi soal silang pendapat atas berbagai cerita yang dibagi dengan kandungan maksud tertentu. Hampir selalu dikaitkan atau dicari cari kaitannya dengan kisah lalu. Yang macam begini biasanya golongan yang susah Move On. Susah memang…

Kawan di akun FaceBook bisa menjadi Lawan di dunia nyata. Ada yang begitu ? Di akun FaceBook semua serba tersembunyi, dihalangi oleh image yang mati-matian dibangun demi sebuah citra diri, tak seperti dunia nyata yang kadang begitu jelas gambarannya. Sehingga hal semacam ini makin mempersempit ruang gerak kita di dunia maya, meskipun tidak berteman sekalipun. Karena pengaturan dari pihak FaceBook memungkinkan untuk itu. Tak pelak, untuk berkomentar maupun posting hal sensitif jadi tak seasyik dulu lagi.

Ada rasa yang aneh ketika berhadapan dengan lawan bicara yang tampak asyik membuka akun FaceBooknya padahal kami sedang duduk di satu meja. Aneh karena diabaikan atau aneh karena gak lagi terlibat didalamnya.

Menghapus Akun FaceBook PanDe Baik

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Saya mengenal FaceBook, akun jejaring sosial yang fenomenal itu sekitar tahun 2008, tepatnya saat Presiden Barrack Obama memulai masa kampanye pertamanya lewat jejaring yang sama, informasi dari mailing list Bali Blogger Community saat itu.

Belum banyak yang menggunakan, saya lihat. Jadi secara manfaat dan tujuannya saat itu pun belum begitu pasti apa maunya. Baru mulai intens sekitar tahun 2009 dan 2010, tepatnya saat kesibukan baru muncul, dari keterlibatan dalam pembentukan LPSE Badung, aktifitas Yowana Paramartha Warga Pande dan rencana Reuni SMAN 6 Denpasar Angkatan 92. Dari sinilah manfaat itu mulai dirasakan.

Mendekatkan yang Jauh… sekaligus Menjauhkan yang Dekat.

Bagi yang paham betul arti pertemanan di FaceBook, saya yakin paham juga makna kalimat tadi.

Hapus FaceBook PanDe Baik 1

Sejak memiliki akun FaceBookn banyak akun pertemanan yang datang dan pergi. Baik dikenal dengan baik ataupun malah gak kenal sama sekali.

Tak terhitung berapa kali saya melakukan sweeping daftar teman yang dimiliki. Mengingat dari ratusan yang ada, tak semua mau berinteraksi, sekedar like atau comment maupun bertukar sapa dan informasi. Yang tergolong kategori ini, umur pertemanan gak begitu lama, akibat adanya sweeping dan penghapusan. Jadi bisa dikatakan yang bertahan hingga akhir waktu adalah daftar teman dalam arti yang sebenarnya. Baik dalam dunia kerja, pesemetonan hingga dunia maya.

Yang sayangnya ada juga beberapa diputus secara paksa hingga pemblokiran akibat dari perlakuan yang tidak mengenakkan. Kasihan juga sih sebenarnya mengingat dalam dunia nyata mereka ini ya teman baik saya juga. Namun karena tidak ingin terjadi hal-hal buruk kedepannya sebagaimana efek samping akun FaceBook pada umunya, sayapun melakukan tindakan block tersebut meski diprotes keras secara langsung. Prinsipnya hanya satu, FacoBook hanya untuk bersenang-senang. Jangan sampai balas membalas komentar, yang kemudian menjadi cemoohan dan makian mengubah pertemanan yang ada menjadi permusuhan. Apalagi proses Update Status begitu mudah kita publikasi baik saat sedang marah, sedih maupun senang sekalipun.

Hapus FaceBook PanDe Baik 2

Berbagi foto, Berbagi kisah, Berbagi saran. Semua dilakoni dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Namun kita lupa bahwa saat kita berupaya mempublikasi hal-hal yang bersifat pribadi, secara cepat informasi itu akan dimanfaatkan oleh orang lain, baik secara positif hingga negatif, yang kebanyakan membahayakan posisi si pemilik akun, walaupun tak disadari secara penuh.

Nampaknya kejenuhan mulai melanda dan keputusanpun diambil.

Saya menutup akun FaceBook atas nama PanDe Baik.

Hapus FaceBook PanDe Baik 3

Disamping itu juga, keasyikan yang tercipta dalam kurun satu tahun terakhir rasa-rasanya menyita cukup banyak waktu luang yang seharusnya bisa saya manfaatkan lebih banyak untuk pekerjaan, anak-anak, bersosialisasi, olah raga hingga mengupdating isi blog yang kini sudah mulai terbengkalai. Nasib blogger yang setahu saya sudah mendera sejak microblogging menghantui mereka. Dan saya, baru saat ini kena batunya.

Bergabung dengan berbagai group yang memanjakan keseharian, sharing berita dan cerita mengharukan hingga membahayakan, begitu menyita perhatian kita dari berbagai hal yang seharusnya malah mendapat perhatian dan waktu yang lebih banyak. Apalagi saat menonton beberapa video yang menyindir kehidupan dunia maya kita, membuat miris dan dengan segera ingin menyingkirkan semuanya dari hadapan.

Bangun pagi, yang diambil pertama kali adalah ponsel, memeriksa apa saja yang kita lewati saat tidur di dunia maya. Akun FaceBook, Twitter, Instagram, Path dan seterusnya. Begitu tiba di meja kerja, dilakukan lagi. Disela jam kerja, lagi dan lagi. Saat makan siang, disempatkan sambil mengambil gambar makanan yang kita nikmati. Sore hingga jelang tidur, disempatkan lagi. Berapa banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk bersosial media ?

Hapus FaceBook PanDe Baik 4

Maka mohon maaf jika ada yang masih bertanya ‘kenapa saya harus menutup akun FaceBook, bukannya dibiarkan untuk memantau jika dibutuhkan ? masalahnya adalah Addicted tadi. Kecanduan bila tak dijenguk sehari. Jadi lebih baik ya dihapus saja sekalian. Dengan harapan, saya gak akan mampu kembali dan melihatnya lagi. Toh kalian gak akan putus kontak dengan saya begitu saja. Masih banyak alternatif lain yang bisa digunakan untuk itu.

Bye Bye FaceBook…