Kilas Balik www.pandebaik.com Tahun 2010

6

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Setahun sudah masa berlalu, namun rasanya baru kemarin semua hal itu dijalani. Sekedar mengingat akan hal apa saja yang sudah dilalui pada tahun 2010 kemarin…

Reuni SMA

Masa SMA adalah masa terindah sepanjang hidup yang saya miliki. Meski yang namanya pergaulan, apalagi pacar tak pernah saya miliki selama 3 tahun itu. Saya menikmatinya. Sangat. Bersyukur dengan adanya BLoG ini, beberapa teman akhirnya menemukan saya dan mulai meretas tali kawan melalui jejaring sosial bernama FaceBook. Maka jadilah kami mewujudkan Reuni SMAN 6 Denpasar, Angkatan 1992 pada bulan April lalu. Tentu dengan banyak pertemuan dan cerita dibalik itu semua. Kini, meski kami sudah jarang saling berinteraksi kembali di dunia maya, namun dalam dunia nyata kami tetap saling berkabar.

Yowana Paramartha Warga Pande

Seperti halnya Reuni SMA, semua yang terjadi berkaitan dengan aktifitas Warga Pande bisa dikatakan berawal dari FaceBook. Adalah sebuah Group bentukan semeton Putu Yadnya atau yang dikenal dengan id Pande Bali, ditambah undangan untuk kopi darat oleh semeton YanDe Putrawan, kami akhirnya bertemu di tempat yang sama, dimana pertama kali menggagas Reuni SMA. Dengan tekad yang komitmen yang begitu tinggi, kami kemudian mewujudkan satu persatu ide, kegiatan hingga pada akhirnya melahirkan wadah untuk berekspresi baik secara komunitas regional maupun dunia maya diluar FaceBook. Maka jadilah Yowana Paramartha Warga Pande Kabupaten Badung yang dipimpin oleh Semeton Dego Pande Suryantara, cikal bakal Yowana Paramartha Warga Pande Kota Denpasar yang dipimpin YanDe Putrawan dan juga wargapande.org yang dilahirkan oleh Putu Yadnya alias Pande Bali. Saya pribadi memilih untuk tetap bernaung di bawah www.pandebaik.com :p

FourSQuare

Check-in, Jumper, BadGe, Venue adalah beberapa istilah baru yang saya lakoni enam bulan terakhir. Jejaring sosial berbasis lokasi ini tentu saja membawa dampak yang tidak sedikit bagi hari-hari yang saya jalani. Lebih dari 10 tulisan yang saya lahirkan dengan mengambil tema FourSQuare. Demikian halnya dengan akun FaceBook dan Twitter yang kian terbengkalai, karena hampir setiap jam, aktifitas Check-in menjadi wajib saya lakukan, demi mendapatkan BadGes.

LPSE

Awalnya memang saya tak paham dengan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (baca:Online) ini. Namun atas pertimbangan pengetahun IT saya yang minim ini, sayapun akhirnya diikutkan dalam tim yang dikirim ke Jakarta bulan Maret lalu. Tujuannya untuk berlatih menjadi Trainer. Perkembangannya lumayan pesat, karena hanya dalam hitungan bulan, tim ini sudah mampu melatih atau menularkan ilmunya pada rekan sepemerintahan pun saling bertukar informasi dan ilmu satu sama lainnya. Saya pribadi merasa bersyukur atas ‘jalan’ yang diberikan-Nya ini. Karena bagaimana pun juga, banyak ilmu dan juga ‘petunjuk’ yang saya dapatkan.

Bye Compaq CQ40 and StarOne, Welcome HP ProBook, HP Mini and IM2

Ini adalah salah dua efek daripada ‘bergabungnya saya di squad tim trainer LPSE Badung. Untuk menjamin bahwa setiap trainer dan juga pelaku utama LPSE Badung tetap terkoneksi dengan dunia maya, kami semua diganjar masing-masing sebuah NoteBook premium, HP ProBook ditambah koneksi IM2 Unlimited setiap bulannya, lengkap dengan Modemnya sekaligus. Meskipun sebenarnya, untuk menjawab tantangan ini kami menginginkan sebuah handset BlackBerry mengingat pada faktor harga yang jauh lebih murah dan juga sifatnya yang mobile (dapat digunakan di Toilet sekalipun), khawatir akan Image-nya yang masih mahal di mata masyarakat terutama PNS, kamipun mengurungkan niat. Hal ini tentu saja berimbas pada laptop pribadi yang sedari tahun 2009 lalu saya gunakan, plus koneksi StarOne Unlimited yang sudah dua tahun terakhir menemani. Laptop Compaq CQ40 praktis jarang saya gunakan, pada akhirnya dilego dan digantikan oleh HP Mini yang kelak bakalan saya berikan pada Istri untuk penggunaannya. Demikian halnya dengan koneksi StarOne Unlimited pun ikut serta dihibahkan. :p

Monetizing BLoG www.pandebaik.com

Berbekal kenekatan akan pantauan pada Traffic Pengunjung yang mampir ke BLoG ini selama 6 (enam) bulan terakhir yang rupanya telah meningkat hingga 10.000 page view per bulannya, saya memberanikan diri ikut serta menjadi Penerbit iklan melalui situs pay per clik lokal Indonesia, kliksaya.com. untuk itu, beberapa perubahan saya lakukan dengan pengetahuan bahasa php yang sangat minim. Hasilnya, yah lihat saja halamn BLoG ini sekarang. Mengandalkan Thema gratisan, sayapun mulai menghiasi beberapa kotak dengan tampilan iklan yang mohon maaf saja, ada beberapa materi iklan terkadang membuat saya malu sendiri. Memperbesar (maaf) Penis salah satunya. Terkait Monetizing ini, saya berterimakasih kepada pak Made Aryawan, mentor saya di LPSE yang mendorong saya untuk melakukan hal ini segera. Demikian halnya dengan Hendra dari BaliOrange, tempat hosting BLoG www.pandebaik.com ikut serta memberikan saran mengingat jumlah Traffic yang saya miliki, pun kepada Wirautama atas info dan banyak penjelasannya. Tak lupa Putu Yadnya, pemilik Warung Bebeque yang merelakan sedikit rejekinya untuk memasang iklan pertama di halaman ini.

Gag terasa udah setahun lewat, banyak hal yang masih menjadi Tujuan di masa depan.

5-1 ? 3-0 ah…

7

Category : tentang Opini

Semua pendukung TimNas Sepak Bola Indonesia boleh-boleh saja menganggap bahwa yang patut dikambinghitamkan atas kekalahan Indonesia 3-0 oleh Malaysia, Minggu 26 Desember Malam lalu, adalah sabotase laser yang ditujukan kepada Kiper Indonesia oleh Suporter Malaysia. Namun yang seharusnya patut kita catat dan akui adalah, kemampuan Malaysia secara perseorangan, memang sungguh Mantap. Dari Penyerang utama hingga Penjaga Gawang. Bahkan, untuk seorang awam seperti saya, permainan mereka sungguh luar biasa. Inilah yang dinamakan berjuang hingga titik darah penghabisan.

Sejak pertandingan semifinal lalu, penjaga gawang TimNas Indonesia saya lihat hampir selalu mementalkan bola yang seharusnya ia tangkap dengan gagah berani dan lindungi, agar tak mengoyak jaring gawang. Setidaknya begitu yang saya baca dari sebuah komik Bola bertajuk Shoot. Bahkan dalam angan-angan saya malam itu, sudah seharusnyalah penjaga gawang Indonesia, harus mampu dan berani seperti halnya penjaga gawang Malaysia yang begitu sigap menangkap bola.

Jujur, ini adalah kali pertama saya begitu antusias dengan yang namanya Sepak Bola. Entah apa sebabnya, sejak pertama Piala AFF ini bergulir, saya jadi rajin memantau berita, perkembangan hingga pertandingan Timnas Indonesia dalam setiap laganya. Padahal tidak demikian saat perhelatan Piala Dunia beberapa waktu lalu.

Sayangnya, beberapa hari  pra Final leg pertama di Bukit Jalil Malaysia lalu, saya sempat merasa malu sendiri dengan ‘jumawa’nya sebagian besar media dan pendukung TimNas. Okelah, kalo itu yang namanya Nasionalisme. Namun jika rasa percaya diri yang sudah terlalu berlebihan, bisa jadi hanya rasa sombong yang tersisa.

Setiap hari, setiap jam, setiap saat pemberitaan selalu soal TimNas. Entah profil para pemain, siapa istrinya, orang tuanya, penggemarnya hingga ‘klaim’ parpol yang berusaha mengambil momen keberhasilan TimNas menggulung semua lawannya yang notabene dilakukan di kandang sendiri. Merayakan sih boleh-boleh saja, namun kalau sampai mengklaim bahwa kita akan bisa menang mudah 5-1 melihat pada statistik dan sua dengan Malaysia saat penyisihan lalu, lantas apa yang bisa kita katakan saat Malaysia memutar balikkan kenyataan 3-0 terlepas dari ketidaksportifan suporter mereka ?

Saya merasa pemberitaan dan klaim yang sudah terlalu over, malah membuat kita semakin takabur dan cenderung menggampangkan sesuatu. Setidaknya begitu yang sepatutnya kita petik dari petuah orang tua terdahulu. Mendukung boleh saja, asal jangan terlalu. Karena apapun yang sudah melewati kata terlalu, dijamin gak mengenakkan hasilnya. Biasa-biasa saja lah…

Malaysia sudah berusaha untuk menunjukkan kejengahan mereka dengan menjatuhkan Indonesia 3-0. Kehirukpikukannya bahkan menenggelamkan rencana Launching peresmian unit LPSE Badung yang hingga minggu malampun masih kami benahi. Kini kesempatan yang kita miliki hanya satu kali. Jika kita masih terlena dengan semua pemberitaan dan puja puji itu, mungkin kini sudah saatnya bagi Indonesia untuk mencari 11 anak bangsa yang punya bakat dalam Sepak Bola dan kontrol emosi tanpa campur tangan banyak media terutama infoTAIment.  Salam Hormat bagi TimNas kami yang akan berlaga malam ini…

Btw, pasca malam ini, mungkin sudah saatnya kita (terutama para pejabat dan tentu saja pak presiden) kembali terfokus pada semua korban bencana yang sudah mulai terlupakan. Mentawai, Wasior, Merapi hingga bahkan lumpur Lapindo yang tak jua diundang makan oleh Ical Bakrie…

Selamat dan Sukses untuk Launching LPSE Badung

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Akhirnya jadi juga…

Setelah menanti tarik ulur selama tiga bulan terakhir, apa yang kami nanti dan harapkan terwujud jua. Launching unit baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung, yang telah dirintis sejak awal tahun, oleh Bapak Bupati Badung bersama Direktur e-Procurement LKPP Ikak G Patriastomo dan Prof. Ir. Himawan Adinegoro, M.Sc., DFT., Senin 27 Desember 2010. Disamping itu, dilakukan pula kunjungan ke Gedung Unit LPSE Badung yang didampingi oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ir. Dewa Made Apramana, sembari meninjau kesiapan infrastrukstur dan operasional LPSE.

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan Sosialisasi PerPres no.54 yang kelak akan menjadi panduan atau buku sakti Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, kepada seluruh jajaran Panitia dan Pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung.

LPSE atau yang dikenal dengan unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah secara Elektronik, dibentuk oleh LKPP atau Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah  sebagai tindak lanjut salah satu tugas yang diembannya  yaitu  untuk mengembangkan sistem informasi serta melakukan pengawasan penyelenggaraan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik. LPSE Pemerintah Kabupaten Badung sendiri merupakan salah satu dari 35 LPSE yang tersebar di 19 provinsi dan melayani 47 instansi di Indonesia, mengawali langkah dengan melaksanakan kegiatan TOT (Train of Trainer) sekitar bulan Maret 2010 lalu.

Banyak hal yang kemudian kami persiapkan pasca pendidikan atau TOT tersebut, diantaranya membuat PerBup untuk mengatur pembentukan unit dan pengelola, melatih dan menularkan ilmu kepada puluhan sumber daya yang kami miliki, hingga penyiapan gedung yang akan digunakan sebagai operasionalnya nanti.

Masalahnya, dalam perencanaan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, unit ini tidak termasuk hitungan untuk mendapatkan gedung unit baru. Itu sebabnya, untuk operasional unit LPSE diberikan keleluasaan untuk memilih salah satu dari sekian gedung tak terpakai di areal lama. Namun, untuk bisa untuk menyulap gedung dari yang tak terpakai hingga siap pakai bukan merupakan hal yang mudah. Butuh banyak pemikiran, tenaga dan biaya. Bersyukur, rekanan yang menjadi pemenang tender renovasi gedung ini bekerja secara total (Terima Kasih Pak Wayan Sarna), walaupun hingga H-1 rencana Launching. Demikian halnya dengan rekanan yang menjadi pemenang pengadaan komputer, jaringan dan lain-lain, bekerja tidak kalah seriusnya. Jujur, saya salut pada mereka.

Saya masih ingat ketika untuk pertama kalinya sampai dan melihat langsung gedung ini secara langsung, tak ubahnya gedung berhantu. Ups… tapi memang, dari kotoran, debu, plafond bocor hingga lantai yang retak cukup membuat saya keder untuk berlama-lama. Tapi kini ? gedung ini telah menjadi kantor kedua yang tak kalah asyiknya. Enam belas komputer berjaringan LAN siap pakai ditambah enam unit lainnya yang diperuntukkan bagi operasional pengelola, dan sepuluh unit NoteBook premium plus koneksi mobile, ditambah perangkat free wi-fi, membuat kami betah untuk duduk manis sembari menunggui rekanan bekerja. Waktu luang yang biasanya saya dapatkan saat berkantor di Dinas Bina Marga pun, dengan ‘sukarela’ saya alihkan kemari. Rasanya sayang kalo koneksi gratisan ini dilewatkan begitu saja.

Kembali pada unit LPSE Pemkab Badung, sebenarnya masih banyak hal yang harus kami sempurnakan pasca Launching ini. Dari setup Genset untuk menyiasati mati listrik pada unit Server, menambah kenyamanan pada masing-masing ruangan yang minim furniture, hingga menambah daya koneksi yang kini masih terhitung lelet untuk sebuah unit berbasis elektronik.

Meski demikian, ada satu hal yang patut kami syukuri. Yaitu, mimpi-mimpi persiapan Launching yang dahulu kerap menghiasi pikiran kami hampir setiap harinya, kini sudah bisa kami lupakan. Setidaknya ini bisa mengurangi beban kami untuk sementara. Dan untuk selanjutnya, kita lihat saja…

BadGe Waze Warrior, Check-in via Smartphone

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Tips Berikut saya persembahkan untuk semua pengguna akun FourSQuare yang memanfaatkan ponsel Smartphone untuk melakukan aktifitas Check-in.

Waze Warrior, BadGe ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang melakukan aktifitas Check-in sekaligus Shout melalui aplikasi Waze. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia untuk ponsel high-end dengan fungsi Smartphone. Syarat utama dari ponsel ini adalah tentu saja Adanya Sistem Operasi yang disematkan untuk mengoperasikan ponsel. Adapun yang masuk dalam lingkaran ini adalah ponsel BlackBerry, iPhone, Android, Windows Mobile dan Symbian. Jadi bagi mereka yang masih setia menggunakan ponsel jadul, ya apa boleh buat. :p

Yang perlu diketahui lagi bahwa aplikasi Waze ini sebetulnya merupakan aplikasi berbasis GPS yang nantinya akan mengontrol setiap aktifitas Check-in yang dilakukan melalui aplikasi ini, apakah dapat dibenarkan secara logika (termasuk koordinat berdasarkan GPS) atau tidak. Itu sebabnya, selain mensyaratkan ponsel tipe SmartpHone, Waze juga mensyaratkan ‘built in GPS’ pada ponsel yang akan diinstalasi.

Aplikasi Waze ini bisa diunduh melalui halaman web berikut. Ukurannya lumayan besar untuk sebuah aplikasi mobile (3,5 MB). Saya sendiri kemudian mencobanya pada ponsel Nokia 6720c milik Mertua yang secara kebetulan memiliki akses GPS dan Map secara defaultnya. Hal ini dilakukan setelah ponsel jadul yang saya miliki, Nokia N73 dinyatakan tidak layak untuk disuntikkan aplikasi Waze ini lantaran tidak mendukung GPS.

Setelah berhasil diinstalasi, pengguna Waze diharapkan melakukan pengaturan pada opsi Setting/Profile, menghubungkan akun Waze dengan akun jejaring sosial lainnya seperti FaceBook, Twitter dan tentu saja FourSQuare bagi yang berharap mendapatkan BadGe Waze Warrior.

*

Badges Waze Warrior akan diberikan kepada semua pengguna aplikasi Waze, yang memanfaatkannya untuk aktifitas Check-in minimal 3 (tiga) kali. Aktifitas ini kurang lebih sama dengan trik mendapatkan Badge Local, Bender, Crunked, ataupun Bravo Newbie.

Mengingat aktifitas ini mengandalkan aplikasi berbasis GPS, Badge tidak akan bisa didapatkan dengan cara Trik curang alias Jumper dari balik meja. :p Sayapun sudah mengujinya dengan menginstalasi aplikasi Waze pada aplikasi BlackBerry Torch 9800 Simulators. Ketika melakukan aktifitas Check-in yang kedua kalinya di lokasi yang berbeda (trik Jumper), sayapun mendapatkan teguran bahwa aktifitas tidak dapat dilakukan. Ealah…

Tips dan Trik Berburu 4 BadGes Mazda

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Dalam rangka mempromosikan Produk terbaru mereka, Mazda rupanya tak ingin ketinggalan kereta dengan puluhan Partner Bisnis jejaring sosial berbasis lokasi FourSQuare lainnya. Tak kurang ada 4 (empat) Badges yang dibagikan bagi para pengguna FourSQuare maupun bagi para Jumper yang memang lebih banyak memfokuskan target pendapatan BadGes dalam setiap aktifitas Check-in yang dilakukan.

Mazda2 Beat Junkie, Mazda2 Style Guru dan Mazda2 Button Masher. Ketika setiap pengguna FourSQuare berhasil mendapatkan ketiga BadGes tersebut, secara otomatis Mazda akan memberikan satu Bonus Badges lagi yaitu Mazda2 Inner Driver. Kabarnya bagi mereka yang berhasil mengoleksi keempat BadGes Mazda2 ini, akan mendapatkan kesempatan untuk ikut serta memenangkan produk terbaru mereka ‘New MAZDA2’. Bagi yang rajin menyimak tayangan televisi, saya yakin pernah melihat iklan mobil baru gres berwarna hijau metalik ini.

Untuk bisa mendapatkan keempat BadGes diatas, caranya kurang lebih sama dengan cara atau Tips dan Trik untuk mendapatkan Badges dari Partner Bisnis FourSQuare lainnya, yaitu mem-Follow halaman milik Mazda di MazdaUSA. Di Halaman FourSQuare memang ada banyak halaman yang menggunakan nama brand Mazda, namun untuk hematnya langkah yang akan dilakukan, saya sarankan cukup mem-Follow satu halaman ini saja, mengingat didalamnya cukup banyak Venue yang ditawarkan.

Apabila sudah, pengguna akun FourSQuare dipersilahkan untuk memperhatikan Tags yang disertakan dalam setiap Venue di halaman MazdaUSA tersebut. Karena Tags akan sangat banyak berpengaruh dalam perolehan BadGes. Hal ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan Browser PC ataupun ponsel yang dapat menampilkan halaman FourSQuare dalam versi web.

Untuk BadGes Mazda2 Beat Junkie dipersyaratkan Tags ‘concerts and music spots’. Biasanya Venue ini dilambangkan dengan logo nada musik. Untuk Badges Mazda2 Style Guru dipersyaratkan Tags ‘nightlife haunts atau boutiques and fashion events’. Venue yang mendukung tag tersebut biasanya dilambangkan dengan logo baju (douchebag) atau lampu spot dugem. :p Terakhir, untuk BadGes Mazda2 Button Masher dipersyaratkan Tags ‘gaming competitions and retailers’ yang dilambangkan dengan logo stick games.

Seperti yang saya katakan diatas, segera setelah pengguna berhasil mendapatkan ketiga BadGes diatas, teorinya secara otomatis mendapatkan BadGes yang keempat yaitu Mazda2 Inner Driver. Namun dalam kenyataannya, BadGe ini malah saya dapatkan ketika saya berhasil mendapatkan BadGe kedua yaitu Mazda2 Beat Junkie. (badges pertama yang saya dapatkan adalah Mazda2 Button Masher). Sedangkan Badge Mazda Style Guru baru saya dapatkan di keesokan harinya (waktu lokal). Itupun setelah menerapkan Trik Jumper ‘Jeda waktu minimal satu jam’.

Empat BadGes Hijau dari Mazda2. Masih kurang juga ?

Tips dan Trik Berburu BadGes eXplore Chicago

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Seperti yang saya tuliskan dalam Tips dan Trik Berburu BadGes VisitPA Pennsylvania beberapa waktu lalu, Kota Chicago merupakan salah satu Partners FourSQuare yang pula bermaksud untuk mempromosikan berbagai Venue di seputaran Kota mereka kepada para wisatawan (baca:pengguna akun FourSQuare) dan memberikan tak kurang 4 (empat) Badges sebagai ganjarannya.

Time Out Chicago, On Location, Celery Salt dan  Chicago Blues. Keempat BadGes ini baru bisa didapatkan setelah para pengguna akun FourSQuare mem-Follow dua halaman milik Chicago yaitu Time Out Chicago dan Explore Chicago.

Untuk mendapatkan keempat BadGes tersebut, Caranya lumayan sederhana. Untuk Time Out Chicago, lakukan 4 (empat) kali kunjungan atau aktifitas Check-in pada Venue yang direkomendasikan pada halaman TOC yang telah di-Follow tersebut. Tidak terbatas pada tag atau kategori spesifik. Sedangkan tiga BadGes lainnya, mensyaratkan masing-masing 5 (lima) kunjungan atau aktifitas Check-in di Venue dengan Tag yang spesifik dan berbeda satu sama lainnya, yang direkomendasikan dalam halaman Explore Chicago. BadGes On Location mensyaratkan Tags ‘Movie Locations, BadGes Celery Salt mensyaratkan Tags ‘Hot Dogs’ dan BadGes Chicago Blues mensyaratkan Tags ‘History of Chicago Blues’.

Empat BadGes dari Kota Chicago.

Saya hanya berandai-andai… Kapan ya Kota Denpasar bakalan melakukan hal serupa ? atau katakanlah Kota sebesar Jakarta misalnya ? Sembari berburu BadGes, kita bisa mengenal puluhan obyek wisata yang dimiliki negeri ini. Ada yang mau memulainya ?

Tips dan Trik Berburu BadGes VisitPA Pennsylvania

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Jika kita melihat kebelakang sekitar 15 tahun lalu, barangkali ada yang ingat dengan program yang dicanangkan Pemerintah saat itu. Visit Indonesia Year. Program ini kurang lebih bertujuan untuk mempromosikan puluhan obyek wisata dan keindahan alam negeri ini kepada para wisatawan mancanegara. Makin berkembang jaman dan teknologi, program serupapun bermunculan di akun jejaring sosial berbasis lokasi FourSQuare.

Kendati maksud dan tujuannya sama, ada satu perbedaan yang diberikan kepada para pengunjung di setiap Venue atau lokasi yang dikunjunginya. Apalagi kalau bukan Badges.

Bagi yang sempat mengikuti Tips dan Trik berburu BadGes yang saya tuliskan sebelumnya, BrookLyn merupakan salah satu yang menerapkan cara berpromosi ini. BadGes I Love BrookLyn atau yang disebut dengan BrookLyn for Life bisa didapatkan dengan cara melakukan kunjungan atau Check-in sebanyak 25 kali di seputaran Kota BrookLyn tanpa memperdulikan jenis Venue yang dikunjungi.

Demikian pula halnya dengan New York lewat Time Out-nya serupa dengan Kota Chicago. Kota terakhir yang saya sebutkan ini bahkan menyediakan 3 (tiga) BadGes tambahan yang disematkan dalam kegiatan ‘Explore Chicago’. Untuk yang ini, menyusul saya berikan Tipsnya.

PennsyLvania pun tak mau kalah. Kota ini menyediakan 3 (tiga) BadGes bernama VisitPA yang memiliki maksud dan tujuan serupa dengan deskripsi diatas. Seperti halnya Partners FourSQuare lainnya, untuk bisa mendapatkan BadGes, satu syarat mutlak yang diberlakukan adalah mem-Follow halaman mereka VisitPA yang bisa diakses melalui halaman berikut.

Setelah itu, Anda bisa mengunjungi minimal 3 (tiga) Venue untuk setiap BadGes yang disediakan meliputi PA ShoofLyer, PA Retail Polka dan PA 4 Score & 7. Masalahnya sekarang, Venue mana yang harus dituju untuk bisa mendapatkan ketiga BadGes tersebut ?

Silahkan kunjungi alamat Promosi mereka VisitPA.com. Kemudian Perhatikan pada ‘VisitPA on FourSQuare. Disitu sudah tertera dengan jelas, link tujuan masing-masing BadGes yang berisikan daftar Venue yang bisa dikunjungi untuk mendapatkan BadGes. Lakukan minimal 3 (tiga) kali kunjungan pada Venue yang masuk dalam masing-masing daftar, dan dapatkan BadGes-nya.

Sekedar informasi bahwa Badges akan diperoleh ketika setiap kali kunjungan mendapatkan kredit poin. Itu sebabnya bagi yang berlaku sebagai JumPer, lakukan kunjungan atau Check-in dalam rentang waktu yang berkala. Minimal setiap 15 menit untuk Venue atau lokasi. Selengkapnya, baca tulisan saya berikut ini ya.

Tips Check-in (lanjutan) untuk seorang JumPer FourSQuare

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Jika dalam tulisan terdahulu saya sempat memberikan beberapa Tips yang sekiranya berguna bagi seorang JumPer dalam usahanya berburu BadGes, kini ada Tips tambahan lagi yang barangkali bisa membuat aktifitas Check-in yang dilakukan makin mantap.

Lakukan Check-in secara berkala dan dalam rentang minimal waktu tertentu. Hal ini saya kemukakan setelah mencoba melakukan aktifitas Check-in secara berulang kali dalam waktu singkat yang pada akhirnya lebih banyak tidak membuahkan hasil (baca:BadGes) apa-apa. Untuk itu, pada awalnya saya memberikan tenggang waktu setiap satu jam untuk satu kali Check-in. Hasilnya lumayan. Beberapa aktifitas Check-in yang saya lakukan diakui dengan pemberian Kredit Poin yang sudah barang tentu menjadi pertimbangan dalam pemberlakuan syarat tertentu perburuan BadGes. Tenggang waktu ini perlahan saya turunkan hingga standar minimal yang saya berlakukan adalah setiap 15 menit untuk aktifitas Check-in di dalam kota yang sama, dan enam jam (selama waktu tidur) untuk berpindah Kota. :p

Perhatikan ketentuan atau syarat Tags dan Kategori yang diatur untuk mendapatkan sebuah BadGes. Saya pribadi baru menyadari ketika berburu BadGes JetSetter. BadGes ini mensyaratkan Kategori ‘AirPort’ yang dapat dikenali lewat icon pesawat terbang dalam tampilan halaman versi web, atau yang bisa dilihat dari layar pc. Padahal icon ini ada juga digunakan oleh kategori ‘Terminal’ dan ‘Plane’. Setelah saya periksa pada History perjalanan, terbukti beberapa Venue yang dahulunya saya perkirakan berkategori ‘Airport’, rupanya malah berkategori ‘Terminal’. Ealah…

Handset ponsel yang kita gunakan, bisa dikatakan sangat penting peranannya dalam usaha perburuan BadGes. Ditambah jenis koneksi internet, yang memang bersifat unlimited. Bagaimana kalo hanya mengandalkan GPRS ? wah, bisa-bisa jebol tuh jatah pulsa yang dianggarkan tiap bulannya. Jadi kalopun nasib Anda serupa dengan saya, masih menggunakan ponsel jadul dengan jatah pulsa yang terbatas, ada juga triknya loh. :p

Cari terlebih dahulu halaman Venue yang diperkirakan merupakan Syarat utama (entah berupa kesesuaian Tags, Kategori, Tips atau Event) untuk bisa mendapatkan BadGes, kemudian perhatikan alamat link address yang disematkan untuk halaman tersebut. Hal ini bisa dilakukan saat berhadapan dengan layar PC, entah dengan memanfaatkan jasa Warnet ataupun koneksi internet gratisan milik kantor. Jika sudah, salin alamat tersebut menjadi sebuah BookMark di halaman Web pada ponsel yang digunakan dan berikan Nama penanda untuk memudahkan ingatan. Tips ini bertujuan untuk mempersingkat waktu aktifitas Check-in, dengan meniadakan aktifitas pencarian Venue satu persatu berdasarkan petunjuk Syarat diatas.

Gali informasi terkait ketentuan yang dipersyaratkan untuk bisa mendapatkan Badges-badges tertentu terutama yang ditawarkan oleh para Partners Bisnis FourSQuare. Misalkan berkunjung secara berkala ke halaman blog milik Mas Tamtomo Daniswara yang rajin meng-update konten Badges baru, halaman 4squarebadgelist yang tempo hari saya sarankan, atau bisa juga membuka halaman milik www.pandebaik.com ini satu persatu. Hehehe… Meminta bantuan Mbah GoogLe pun oke, ketikkan saja ‘how to get foursquare Badge ~nama badges~’, dijamin beberapa petunjuk yang tertera di halaman pertama hasil pencarian dapat memuluskan usaha pencarian.

Untuk Tips tambahan kali ini, Kurang lebih segitu dulu deh. :p

FourSQuare mengalihkan Duniaku

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Aktifitas Check-in dalam dua bulan terakhir ini telah menjadi satu rutinitas baru yang seingat mungkin saya lakukan. Tapi jangan salah paham, aktifitas Check-in yang saya maksudkan disini merupakan istilah serupa dari ‘Update Status’ nya jejaring sosial FaceBook atau ‘Tweet’ nya Twitter.

Adapun yang menjadi pemicunya adalah ‘aura persaingan perburuan BadGes’ yang saya dapatkan dari rekan-rekan sesama Jumper. BadGes adalah ‘award’ yang diberikan oleh pihak FourSQuare maupun para Partners mereka setiap kali pengguna atau pemilik akun FourSQuare melakukan aktifitas Check-in di tempat-tempat (venue) tertentu. Ada beberapa standar tertentu yang ditetapkan dan disitulah keasyikkannya.

Seperti yang dilakoni oleh Agus Suadnyana, teman sekelas saya saat masa SMA dahulu, yang terakhir sudah mendapatkan sekitar 105 BadGes. Berbekal iPhone, Beliau ini rajin melakukan Check-in dan perburuan badges berdasarkan standar atau ketentuan yang ditetapkan. Demikian pula dengan Komang Gaul, adik sepupu saya mendapatkan sekitar 104 Badges dengan mengandalkan handset BlackBerrynya.

Demi bersaing dengan merekapun, saya pada akhirnya membuat sayu akun yang mengatasnamakan putri kecil kami, MiRah GayatriDewi, hanya untuk kepentingan Pembelajaran sebagai bahan tulisan BLoG saja.

Adalah Mas Tamtomo Daniswara, seorang Blogger yang rajin meng-update konten blognya dengan cara atau tips untuk mendapatkan BadGes tertentu, terutama yang berkaitan dengan Event penting dan kejutan lainnya. Tercatat tak kurang BadGes Halloween, Baggage Handler, Thanksgiving hingga Hari Aids seduniapun, informasinya saya dapatkan dan terapkan dengan baik hanya dengan mengikuti petunjuknya. Mas Tamtomo ini dapat ditemukan pula lewat akun FaceBook dan Twitternya, sehingga makin memudahkan aksi perburuan BadGes.

Bermain FourSQuare dalam hal ini melakukan peran sebagai JumPer, melakukan aktifitas Check-in secara berkala tak ubahnya bermain Games. Kita harus berusaha untuk mengetahui ‘rahasia’ yang terdapat dibalik BadGes lantas mencoba mendapatkannya.

Dalam proses tersebut, ada banyak hal yang bisa saya petik kemudian bagikan pada rekan-rekan yang mampir di halaman ini. Dari Tips untuk menjadi seorang JumPer hingga Trik untuk mendapatkan BadGes.

FourSQuare pada akhirnya mampu mengalihkan dunia saya.

Jika dahulu hampir setiap harinya saya dihantui ‘gag asyik tanpa update status’, kini perlahan mulai berubah. ‘belum lengkap kalo belum Check-in’ :p

HP Mini, mengganti Compaq menemani ProBook

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Beberapa hari pasca tulisan ProBook tempo hari, seorang teman menghubungi saya per telpon. ‘ketimbang Compaq-nya jarang dipake, buat saya saja ya’ pintanya. Well, setelah berdiskusi sebentar dengan Istri, tu Compaq akhirnya saya lepas awal Desember kemarin. Dibandingkan dengan harga beli dan rentang waktu pemakaian, jelas saya rugi bandar, tapi ketimbang gag dipake-pake, ya mending dijual saja, bathin saya.

Maka segera setelah instalasi ulang, Compaq CQ40 yang telah menemani hari-hari saya setahun terakhir, ditukar dengan 25 (dua puluh lima) lembar uang merah Proklamator. Kondisinya masih tergolong baik, mengingat Compaq milik teman yang dibeli Desember tahun lalu, mengalami dead pixel pada layar monitor bagian bawah.

Atas saran Istri, sayapun mengambil HP Mini 10” milik YanDe Putrawan yang baru berusia 2 minggu, dan rencananya bakalan dibawa kalo lagi mobile. Kan sayang kalo musti nenteng HP ProBook yang notabene merupakan Investaris milik Kantor (unit LPSE). :p Malu kalo musti bergaya dengan Laptop Dinas. Hehehe…

Untuk ukuran laptop, HP Mini benar-benar kompak. Bahkan bisa masuk dalam tas kecil yang sedianya saya gunakan untuk menyimpan ponsel, dompet, atau kamera saat berada diluar rumah. Hanya saja, agar gag pake ribet membawa serta Charger yang lumayan mengambil ruang, ni HP Mini musti Fully Charged tiap kali saya bawa.

Diperlukan sedikit penyesuaian kebiasaan untuk dapat menggunakan HP Mini dengan baik. Terutama untuk navigasi, backspace dan tombol fungsi (fn). Navigasi lantaran jarak untuk tiga tombol  yang berderet nyaris sama dengan dua tombol pada HP ProBook, BackSpace yang kerap salah pencet dengan tombol +/= dan tombol fungsi (fn) yang terbalik (gag perlu menekan tombol fn dan fungsi ketika menjalankan perintah).

Sayangnya, resolusi maksimum layar monitor yang diijinkan hanya sampai pada 1024×600 pixel. Hal ini menimbulkan sedikit kesulitan ketika berhadapan dengan beberapa aplikasi yang tidak mendukung ukuran jendela ‘Maximize’. Untuk menyiasatinya, khusus ketika aplikasi-aplikasi ini dijalankan, Taskbar yang notabene berada di sisi bawah layar, saya setting ‘autohide’, agar aplikasi yang berjalan dapat dilihat dan dioperasikan dengan baik.

Kendati OS yang digunakan adalah Windows 7 Home Edition, Tidak banyak kendala yang saya temui ketika menyuntikkan aplikasi-aplikasi yang saya butuhkan mutlak tersedia dalam sebuah laptop ’kerja’. Termasuk diantaranya AutoCAD dan driver beberapa printer.

Overall, HP Mini yang saya gunakan ini kelihatannya sangat layak untuk dibawa kemana-mana menggantikan posisi HP ProBook yang kelewat besar dan berat. Lumayan untuk membunuh waktu menunggu atau hanya sekedar nge-Blog dan berselancar didunia maya. Apalagi untuk koneksi, sudah tersedia Wifi yang siap digunakan dimana saja. Meskipun saya harus mengorbankan keasyikan bermain Games lantaran spesifikasinya yang gag semumpuni HP ProBook.

Nikmatnya Ikan Bakar Pulau Serangan

10

Category : tentang PLeSiran

Di mata banyak orang, kalo lagi ngomongin soal ikan bakar di seputaran Kota Denpasar, hampir selalu mengingatkan pada ikan bakar Jimbaran. Lihat saja papan iklan jualan ikan bakar yang ada di seputaran sini, rata-rata menampilkan embel-embel ‘Khas Jimbaran’. Padahal, gag melulu loh ikan bakar yang enak itu bisa ditemui di pesisir pantai Jimbaran.

Coba meluncur sekitar 10 km kearah selatan dari Pusat Kota Denpasar (lihat peta). Cari dan tanyakan posisi Pulau Serangan yang ada di seberang Pelabuhan Benoa. Biarpun dari namanya masih terdapat kata ‘pulau’, namun sejatinya sudah tersedia jalan yang lebar dan nyaman untuk mengakses lokasi Pulau Serangan tersebut dengan kendaraan.

Pulau yang dahulunya hanya dapat diakses melalu sarana ‘Jukung’ atau perahu ini, merupakan pulau dimana berstananya Pura Sakenan yang piodalannya jatuh setiap umat Hindu merayakan hari suci Kuningan. Itu sebabnya ketika Reklamasi pantai yang dilakukan pada tahun 2000-an awal lalu, praktis membuat para pemilik Jukung gigit jari. Meski demikian, kabarnya masih ada loh pemedek (istilah umat yang tangkil dan bersembahyang di Pura) yang memilih untuk menggunakan sarana Jukung ketimbang kendaraan bermotor ke Pulau tersebut. Mengingatkan pada masa lalu katanya. :p Tapi Jujur saja, sedari kecil saya pribadi belum pernah tangkil ke Pura ini. :p Pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Pulau ini tepatnya saat pagelaran Soundrenalin yang saat itu kalau tidak salah menampilkan Iwan Fals sebagai aksi penutup.

Kembali ke topik ikan bakar, terakhir berkunjung ternyata banyak perubahan situasi yang saya temui. Utamanya adalah, adanya tempat berjualan ikan bakar yang berjejer di sepanjang jalan utama, serupa dengan jualan ikan bakar di pesisir pantai Jimbaran dan Kedonganan. Bisa jadi idenya malah datang dari sana. Bedanya, dari konstruksi yang digunakan, tempat berjualan ini masih tergolong semi permanen dengan minimnya penataan tempat berjualan.  Sekilas malah terkesan jorok. Tapi semua itu dengan segera saya lupakan, mengingat pada nikmatnya ikan bakar yang pernah saya santap setahun lalu.

Dibandingkan ikan bakar khas Jimbaran, dari segi harga tentu disini jauh lebih murah. Kalo tidak salah saya ingat, untuk satu porsi makanan di seputaran Jimbaran dan Kedonganan berkisar antara 100 hingga 200 ribuan, dengan menu beragam. Di Pulau Serangan, harganya bergerak kisaran 25 sampai 50 ribuan per porsi. Itupun tergantung dari pintar-pintarnya kita menawar pada si penjual.

Tempat yang kami pilih bernama ‘Warung Ikan Bakar Pasir Putih’. Kalo tidak salah warung ini berada di urutan ke-7 dari kiri. Setelah tawar menawar, kami memesan 4 ekor ikan untuk dibakar dengan ukuran sedang. Kami beranggapan, Seekornya sudah cukup puas untuk dinikmati satu orang. Namun jaga-jaga, satu ekor yang kami pilih terakhir, jenis dan ukurannya berbeda dengan tiga ekor lainnya. Sambil menunggu pesanan siap, kami memilih untuk berkeliling pulau Serangan, menyusuri jalan kecil dengan kendaraan hingga melewati Turtle Island, tempat pembiakan si kura-kura.

Lagi-lagi dibandingkan dengan ikan bakar ‘khas Jimbaran, dari segi penampilan sajian ya jangan disamakan lah. Dimaklumi saja. Hehehe…  Ikan yang telah usai dibakar ditempatkan diatas ingka (ulatan bambu berbentuk piring) dan dialasi kertas cokelat. Sambal yang disertakan ada dua jenis, Sambal matah dan Sambal Terasi. Pembeli bisa memesannya salah satu saja jika tak suka yang lainnya.

Tanpa dikomando, kami menyantap empat ekor ikan yang tampak pasrah terlentang nikmat dihadapan. Daging ikan yang masih panas menambah selera hingga meninggalkan begitu saja, buliran nasi dan pada akhirnya tersisa cukup banyak. Demi nikmatnya ikan bakar, saya jadi ingat ‘pembantaian’ yang dilakukan saat bersantap malam terakhir Pendidikan LPSE di Jakarta pertengahan tahun kemarin dengan menu Kepiting.

Setelah membayar dengan selembar uang merah ditambah selembar uang ungu bergambar Sultan M.badaruddin, kami meninggalkan Pulau Serangan dengan sedikit janji pada pemilik warung, bahwa kelak kami akan kembali lagi. Lumayan murah jika dibandingkan dengan ikan bakar khas Jimbaran, meski sedikit mahal dibandingkan jatah makan kami biasanya. Tapi karena ini hari raya, tak apalah…