Pengen Jadi CaLeg ? susun Strategi yuk ?

5

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Hanya ingin melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang kisaran biaya yang perlu disiapkan buat yang nekat pengen jadi CaLeg. He… kira-kira kalo si CaLeg minim dana, apa yang sebaiknya dilakukan yah ?

Oke, Katakanlah seandainya saya yang memiliki ambisi seperti itu sedangkan dana yang dimiliki sangatlah minim, kira-kira bisa gak ya saya nembus gedung ‘Wakil Rakyat’ seperti halnya Bupati Kupang yang terpilih tanpa perlu mengeluarkan duit ratusan juta itu ?

Memang saya sadari, untuk bisa mewujudkan impian seperti halnya Bupati Kupang, barangkali memiliki kemungkinan satu berbanding seratus. Itu bakalan tergantung pada kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat, bukan dengan janji-janji palsu bakalan mengaspal jalan ini, bakalan membebaskan biaya pendidikan, atau mensejahterakan petani. That’s all Bullshit bagi saya.

Seandainya saya dalam posisi berambisi maju ke bursa CaLeg, sedangkan saya minim dana dan modal awal dan tragisnya bukan siapa-siapa di mata masyarakat, mungkin hanya satu yang akan saya lakukan hari ini. Menunda pendaftaran untuk menjadi CaLeg hingga pemilu mendatang. Mengapa ?

Ya, kenapa harus bersusah-susah mengharapkan simpati dari masyarakat dengan mempublikasikan figur diri di tiap sudut jalan, mengatakan ‘hey, sudah saatnya hati nurani berbicara’ atau ‘masih mau denger lagu lama?’ Jika diri ini belum mampu didengar oleh sekian ribu masyarakat di daerah pemilihan yang kelak akan menjadi ajang tarung perebutan suara.

Tapi keputusan menunda bukan berarti lantas saya berdiam diri pasrah menunggu pemilu yang akan datang digelar. Minimal saya melakukan beberapa tindakan dengan tujuan awal adalah memperkenalkan diri pada publik. Misalkan saja bergabung pada beberapa komunitas lokal yang memiliki aktifitas dan hobbi yang sama.

Katakanlah hobi sepeda tua. Saya akan ikut gabung dan berusaha untuk dikenal oleh semua anggota internal yang tergabung dalam wadah tersebut dan juga orang luar yang secara kebetulan ikut tertarik akan hobi ini. Caranya barangkali dengan menjalin hubungan baik, saat aktivitas menjelajah dilakukan atau saat acara berbagi pengalaman misalnya.

Hobi motor besar ? Sangat dianjurkan. Karena biasanya pada hobi ini, bakalan menyajikan figur-figur yang sudah besar dan memiliki nama di masyarakat. Paling minim, orang yang bermodal dan memiliki pengaruh pada beberapa orang disekitarnya. Sekali lagi, loyalitas sangatlah penting untuk mendapatkan simpati dari para anggotanya.

Hobi nulis ato nge-BLoG ? gabung di komunitas setempat yang tentunya saya yakin bakalan berisikan beraneka ragam profesi. Dari remaja sekolah, pegawai kantoran, pemerintahan, teknisi IT hingga ke wartawan lepas. Harapannya tentu saja memperlebar sayap, kearah lintas profesi ini. Barangkali saja ada satu dua wartawan yang mampu memberikan gambaran awal akan sosok kita saat maju ke bursa CaLeg nantinya.

Ikut kegiatan sosial masyarakat, tanpa inisiatif mengundang media untuk mengekspose keberadaan kita. Jika menganggap diri mampu, bisa mengajukan langsung menjadi salah satu koordinator bidang kerja untuk menyiapkan hal-hal yang dipandang perlu dalam mendukung kegiatan. Pelan tapi pasti jika sudah dikenal, incarlah posisi ketua pelaksananya. He… Paling tidak jika sudah dikenal secara intern kegiatan, saat menduduki posisi ketua pelaksana, masa sih media gak mengeksposenya ?

Mencoba aktif dan ikut serta dalam kegiatan yang berkaitan dengan sosial keagamaan. Bergerak dari lingkungan keluarga dahulu, hingga pelan-pelan ke tingkat yang jauh lebih luar dan beragam. Tentu saja untuk bisa melakukannya, kita membutuhkan talenta dan disiplin tinggi, agar mampu memberikan kemampuan yang terbaik nantinya. Paling tidak tampilnya kita ditengah komunitas dan kegiatan ini, bakalan memberikan pelajaran ‘bagaimana memahami masyarakat yang bakalan kita wakili suaranya’.

Jika figur pribadi sedikit demi sedikit sudah mulai dikenal dimasyarakat walaupun hanya sebagian kecil, usaha selanjutnya adalah konsisten berusaha berbuat baik dan barangkali mulai rajin menulis di beberapa media ataupun BLoG yang sederhana, terkait mimpi, cita-cita, harapan juga pola pikir yang akan dilakukan seandainya dipercaya nanti menyuarakan keinginan rakyat. Tentunya ini harus sudah dilakukan minimal 3-4 tahun sebelum Pemilu dilangsungkan. Kenapa saya katakan demikian ?

Agar tema ataupun topik isi pemikiran kita yang tertuang tidak terkesan aji mumpung, baru akan pemilu, baru memulainya…. Setidaknya isi daripada tulisan pemikiran kita bakalan makin berkembang dan terbuka pada berbagai hal ataupun isu yang ramai di masyarakat, sehingga orang yang membacanya akan mengingatnya dan paling minim menyebarluaskannya pada orang-orang disekitarnya.

Untuk dapat mendalami setiap isu maupun keluhan masyarakat, ada baiknya kita juga mulai rajin belajar. Apalagi kalo bukan memahami peraturan, perda, undang-undang hingga teknologi jika mampu, agar nantinya dapat mengikuti arus perkembangan yang bakalan hadir setiap saat ditengah masyarakat.

Minimal kalo nanti mendapat jatah laptop, gak bakalan digunakan untuk main Solitaire saat rapat sidang atau cukup mengandalkan tatap muka teleconference via web cam daripada kunjungan kerja keluar daerah yang menghabiskan dana rakyat yang sangat besar.

Kegiatan-kegiatan diatas, jika rutin dan secara konsisten dilakukan, saya yakin sedikit demi sedikit masyarakat akan mengetahui keberadaan kita saat keputusan mengajukan diri menjadi CaLeg dilaksanakan. Setidaknya gambaran atau bayangan awal akan sosok atau figur yang tampil sudah bisa dibaca sejak awal dan jauh sebelumnya. Jika sudah demikian, barangkali yang namanya Baliho perusak wajah kota, tak perlu lagi dipasang dan dipamerkan. Termasuk usaha untuk meraup sejumlah suara sebagai dasar lolosnya pencalonan bisa didapatkan tanpa susah payah mengorbankan duit ratusan juta.

Seperti kata Bupati Kupang yang Terpilih kemarin, jika seorang calon sudah menghabiskan banyak uang untuk melanggengkan langkahnya melewati bursa
‘Wakil Rakyat’ ya jangan salahkan jika saat mereka duduk di kursi nan empuk tersebut, selalu berusaha mengembalikan modal awal yang telah mereka keluarkan tersebut.

So, nikmati saja hidup ini. Jika memang berambisi, ada baiknya dimulai dari hal-hal kecil dahulu. Karena biasanya hal kecil pasti akan berubah menjadi besar dan indah. Berguna bagi masyarakat tentunya. He… gak asal omong.

> PanDe Baik akhirnya memutuskan melahirkan tulisan kedua ini, gara-gara asbunnya seorang CaLeg (baca:pahlawan kesiangan) di media Denpost beberapa waktu lalu, berkaitan dengan jalan yang rusak parah sedangkan Pemkab kok malah cuek. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, pak Bupati sudah turun ke lapangan dan menjelaskan prioritas penanganan di daerah tersebut. Trus kemana saja si CaLeg saat penjelasan dari pak Bupati waktu itu ? lagi molor ya Pak….. jadinya bangun kesiangan deh. He… <

Pengen Jadi CaLeg ? Pikir-pikir dulu deh !

7

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Pemilu tahun ini agaknya bakalan jadi makin beda dengan pemilu sebelumnya. Apalagi kalo bukan karena makin banyaknya orang yang ikutan bursa CaLeg. Dari muka lama hingga wajah baru yang sama sekali belum dikenal publik secara luas.

Terlepas dari semua motivasi masing-masing orang yang begitu ngotot mencalonkan dirinya sendiri sebagai ‘Wakil Rakyat’, agaknya masyarakat kinipun makin mengerti mengapa mereka semua nekat melakukan hal ini. Bisa jadi paling pertama yang menjadi pertimbangan ya kondisi ekonomi yang makin susah untuk dijalani dengan profesi pas-pasan.

Belakangan saya yakin semua orang pun tahu bahwa kursi empuk ‘Wakil Rakyat; dianggap lebih menjanjikan banyak hal, banyak mimpi sedangkan kewajiban yang seharusnya dilakukan bisa dikatakan sangat minim. Lebih banyak kunjungan atau studi ke luar daerah dibandingkan hasil kinerja yang diharapkan oleh masyarakat. So, dimana lagi bisa mewujudkan semua itu ?

Lantas apakah semudah itu orang bisa mencalonkan diri menjadi CaLeg ? seorang ‘Wakil Rakyat’ yang nantinya bakalan diharapkan begitu besar pengaruhnya dalam menentukan nasib rakyat yang ia wakili.

Seorang famili pernah secara iseng berhitung. Seandainya ia bukanlah orang yang dikenal oleh masyarakat, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan ya dengan cara money politics. Paling minim ya berusaha menyogok sekelompok masyarakat agar mau mendukungnya kelak. Adapun jumlah biaya yang ia perhitungkan sebagai modal awal untuk bisa maju sebagai CaLeg hingga positif duduk di kursi empuk, berkisar pada angka 500 sampai dengan 800 juta. Wow…. Itu semua tergantung pada kuota minimum suara yang harus dikumpulkan oleh setiap orang CaLeg.

Perinciannya meliputi :
> biaya yang harus dikeluarkan untuk baliho kampanye selama masa pengenalan figur, di banyak tempat dan dalam ukuran yang beragam
> biaya baju kaos bagi para pendukung minimal sejumlah kuota minimum yang harus dipenuhi
> biaya konsumsi (minimal nasi bungkus) bagi para pendukung dikalikan jumlah kampanye yang akan digelar
> biaya konsumsi setiap hari hingga saat pemilihan tiba, untuk masyarakat ataupun pendukung yang ingin berkunjung ke rumah
> sumbangan pada event tertentu sesuai undangan masyarakat, terutama di lingkungan sendiri
> sumbangan pada parpol agar mau mencantumkan namanya sebagai salah satu kader partai
> dsb dll etc

Sayangnya gak semua CaLeg mampu menyediakan biaya sedemikian besar sebagai modal awal tarung mereka di kancah politik. Beberapa malah memasrahkan diri, menyerahkan pilihan pada masyarakat tanpa berusaha lebih jauh merangkul massa pendukungnya. Istilah kerennya ‘biarkan masyarakat yang menilai. Saya hanya perlu membuktikan diri bahwa saya layak tampil sebagai ‘Wakil Rakyat’ yang diinginkan’.

Memutuskan untuk maju bertarung menjadi CaLeg atau ‘Wakil Rakyat’ tentu saja harus menyiapkan segalanya. Positif dan negatifnya. Untung Ruginya. Minimal untuk seorang CaLeg yang beneran baru terjun di masyarakat, sudah harus menyadari ketidakberuntungannya sejak awal. Walaupun banyak orang mengatakan ‘kita harus optimis dalam segala hal’.

Bagaimana seandainya jika saya tak terpilih nanti ? Bagaimana caranya saya bisa mendapatkan biaya yang sudah dikeluarkan saat kampanye jika saya tak mampu mendapatkan kuota suara pemilih ?

Agar jangan seperti halnya calon pemimpin daerah yang dikabarkan harus menanggung beban hutang, malu hingga stres dan akhirnya berakhir di Rumah Sakit Jiwa. Minimal siap kalah. Sudah siap sejak awal untuk menghadapi kemungkinan paling buruk. Jangan sampe malahan bikin malu keluarga saja. He….

> PanDe Baik agak tergelitik juga dengan ide itung-itungan yang dilontarkan oleh famili beberapa waktu lalu, walaupun ada juga CaLeg yang maju sangat pelit mengeluarkan biaya untuk aksi tarung nekat mereka. He… <

Kaos BBC dan PRomo BLoG

12

Category : tentang KeseHaRian

Salah satu cara paling mudah dan murah untuk mempromosikan BLoG yang kita miliki yaitu dengan memasangkan badge atau stiker pada media yang sering kita bawa kemana-mana.

Misalkan saja seperti yang saya terapkan sedari setahun lalu, merangkai dan menempelkan stiker huruf kecil berwarna merah dan putih pada helm saya yang kebetulan berwarna hitam. Tak lupa saya tempelkan pula pada cover laptop dengan harapan ya saat laptop dibawa ke kampus maupun tempat umum, orang lain bisa melihatnya dengan jelas.

Selebihnya sebetulnya bisa saja kok. Membuat stiker dalam jumlah besar kemudian disebarkan ke warnet ataupun orang perorang yang sering bersentuhan dengan internet, memasangnya di mobil dsb. Tentu saja biayanya gak sedikit. Bisa dibilang ini jauh lebih efektif apabila tujuan dari BLoG yang akan dipromosikan itu bersifat komersial atau bahasa susahnya profit oriented.

Untuk BLoG yang seperti saya miliki ini ? Bisa dikatakan bakalan mubazir. Karena orang kemungkinan besar gak bakalan balik mampir lagi ke BLoG ini begitu tahu informasi ataupun topik tiap postingannya hanya berkisar pada cerita keseharian, unek-unek pemikiran yang gak jelas ataupun hal-hal yang berbau hobby dan gak nyambung dengan keinginan yang diharapkan.

Dibalik promo BLoG pribadi, sebetulnya ada juga yang sampe iseng menghampiri dan bertanya langsung ke saya, apa itu BLoG, kenapa bisa keberadaannya sampe seheboh yang diceritakan orang, hingga keberadaan BaLi BLoGGer CoMMunity (BBC) yang belakangan begitu gencar mengadakan kegiatan sosial dan terekspose di beberapa media cetak. Ada juga yang bertanya setelah mereka mengakses BLoG saya, dan melihat logo BBC pada sidebar di sebelah kanan tulisan.

Hanya saja, aktivitas saya menjelaskan pada orang-perorang yang secara kebetulan bersua ataupun sengaja menghampiri, jauh lebih banyak saat saya mengenakan baju kaos BBC yang desainnya diluncurkan saat Launching BBC di Popo Danes setahun lalu. Tulisan pada sisi depan kaos putih dengan kelir biru laut ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ rupanya jauh lebih menarik perhatian orang yang secara kebetulan melirik saya (bukan karena faktor wajah tentunya). Mungkin karena tubuh saya yang tinggi besar plus perut yang menonjol (ogah dibilang gendut) membuat kaos BBC yang saya kenakan tentu saja kekecilan. ‘Orang yang Aneh’ kata teman-teman saya.

Walaupun ukurannya membuat saya tampak seperti iklan sirup penambah tinggi badan anak yang ada alunan ‘Bajuku dulu tak begini…. tapi kini tak cukup lagi….’, tapi saya tetap bangga menggunakannya. Tentu saja dilihat dulu kemana saya akan pergi. Kalo kekampus atau tempat resmi, saya rasa kemeja jauh lebih sopan. Sedangkan tempat umum, swalayan ataupun hanya jalan-jalan bersama anak dan Istri, tentu saja kaos BBC jadi salah satu pilihan saya.

Sayang memang, dari sekian desain baju kaos BBC yang diluncurkan saat kegiatan sosial dilakukan, yang saya miliki hanya dua saja. Desain Launching dan kalo ndak salah yang saat Kuta Carnival. Itupun dengan ukuran press body, walau ukuran baju kaos yang saya dapatkan itu sudah XXL. Tetep saja memperlihatkan tonjolan perut saya dengan sangat baik.

Balik ke topik… Dalam dua hari ini (liburan ImLek) bisa dikatakan ada hampir sepuluhan orang yang bertanya langsung pada saya perihal BaLi BLoGGer CoMMunity, setelah melihat tulisan ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’. Ini terjadi pada saat saya bersama anak dan Istri berbelanja di CLandys jalan BuLuh InDah, sembari Istri memilih beberapa keperluan si kecil, saya yang mendapat tugas mengajak si kecil, memberikan sedikit gambaran pada orang yang bertanya tentu dengan bahasa yang jauh lebih mudah dimengerti oleh awam. Sambil sesekali menyebutkan alamat BLoG pribadi saya yang numpang kos di MHI, juga alamat BLoG putri kami yang masih numpang gratisan di WordPress. Obrolan serupa juga terjadi saat saya berkunjung ke satu acara syukuran di rumah seorang famili dari keluarga Istri, sepulang dari CLandys, yang kami sambangi tanpa sempat berganti baju lagi.

Tanggapannya beragam. Ada yang langsung tertarik untuk membuat BLoG, ada juga yang berminat gabung di BBC dan berharap bisa ikut terlibat di Kegiatan Sosialnya kelak. Tapi ada juga yang malahan bertanya perihal cara agar BLoG yang sudah ia buat bisa tampil pada halaman pertama search engine Google maupun Yahoo. Padahal ia sudah mencoba berbagai cara mengikuti petunjuk pada buku-buku panduan nge-BLoG. Satu pertanyaan yang sangat sulit buat saya.

Jawaban saya sih simpel aja. Hanya masalah waktu. Tentu saja gak bisa langsung tampil dihalaman pertama search engine manapun, walau sudah melakukan pendaftaran alamat BLoG pada sekian banyak search engine, sampai menggunakan bantuan software tertentu. Ini saya katakan dengan alasan, bagaimana mungkin Google atau Yahoo misalnya bisa menampilkan semua alamat BLoG baru pada halaman pertama, jika tak ada orang lain yang tahu dan pernah mengaksesnya.

Lain lagi dengan beberapa rekan saat kuliah dahulu yang secara kebetulan mampir hingga nyasar ke BLoG saya dan terkagum-kagum melihat jumlah Page Views dalam tiap postingannya rata-rata 500 views per hari (ini saat saya masih menggunakan alamat lama http://pandeividuality.net/ dengan thema gelap yang baik tampilan dan pluginsnya dioprek Pak Dokter Cock Wirawan, kira-kira pada pertengahan tahun 2008 lalu), trus Total Page Views yang dihitung oleh Firestats (plugins yang juga diinstallkan oleh Pak Dokter Cock) sudah mencapai angka 60ribu padahal usia BLoG ini sejak memakai alamat domain sendiri, belum genap setahun. Hingga ke jumlah posting yang mencapai angka seribu. Bagaimana bisa ?

Pertanyaan diatas pula yang menyebabkan saya malu sendiri. Ya, bagaimana bisa BLoG saya yang isinya cuman info keseharian, hobi hingga pemikiran yang tidak jelas, bisa menciptakan sejumlah angka yang sangat tidak masuk akal bagi banyak orang. Untuk menghindari tanda tanya itulah saya akhirnya memutuskan untuk mengganti Thema BLoG yang tak lagi menampilkan Page Views per posting tulisan, statistik jumlah posting dan hanya menyisakan plugins Firestatsnya saja. Khawatir dikatakan me-markup jumlah. He….

Ternyata keberhasilan dari suatu promo yang mudah dan murah seperti yang saya lakukan, ada positifnya dan juga efek negatifnya. Setidaknya ini menjadi bukti, bahwa dengan anggaran yang minim-pun promosi suatu BLoG bisa dicapai dengan efektif dan efisien (he…. apalagi kalo ditambah dengan aman dan nyaman, malah jadi mengingatkan saya pada Konsep Dasar Desain Perancangan saat kuliah di Arsitektur dulu). Walaupun nantinya bakalan mengundang banyak tanda tanya. He….

> PanDe Baik hanya ingin berbagi pengalaman saat mengenakan baju kaos BaLi BLoGGer CoMMunity edisi Launching BBC ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ selama dua hari terakhir, rupanya sangat efektif untuk memperkenalkan BLoG pada masyarakat atau meminjam istilah anak-anak Milis, mem-B(e)LOG-kan masyarakat. Harapannya gak muluk-muluk kok. Semoga saja tim desain dan produksi kaos BBC kedepannya bisa merancang satu ukuran khusus untuk saya, agar lebih sedap dipandang mata tentunya. He…. <

NB : tak lupa dengan desainnya yang simpel dan lebih mudah dimengerti. Tentu saja tulisan ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ agar bisa tetap tampil pada setiap edisi desain yang akan dikeluarkan, dengan warna yang ‘eye catching’ barangkali ?

Liburan bareng Benny & MiCe

6

Category : tentang KeseHaRian

Hanya berselang sehari usai pengumpulan tugas kuliah ‘Real Estate’ plus Usulan Penelitian ato yang biasa disebut sebagai Proposal Thesis, saya pun berminat untuk menghabiskan liburan weekend ini dengan cara fun. Tujuannya ya nge-refresh pikiran yang selama dua tiga minggu terakhir dibebani materi berkaitan dengan Sistem Informasi sebagai bahan dasar proposal yang bakalan diajukan.

Awalnya sih pengen pijet terapi listriknya Pak Tri Mulyono di perumahan DaLung Permai, biasanya lumayan bikin aliran darah jadi lancar. Eh, ngomongin pijet, yang ini ya pastinya beda banget kalo sampe kesasar ke tempat pijet plus ‘masuk segar keluar lemes’. He…. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

Sebagai awal dari liburan, saya malahan dikaruniai buku komik Benny & Mice. Hasil pinjeman dari adik sepupu yang memang punya hobi beli buku komik sedari kecil. So, dua biji yang kini ada ditangan saya ada ‘Talk about HaPe’ dan ‘Jakarta Atas Bawah’. Hasilnya ?

Bukan saja aliran darah yang lancar, tapi juga keringat yang deras gara-gara komik ini saya baca di malam hari yang gerah ini. Tentu saja dengan sedikit cekikikannya hingga mengundang Istri untuk bergabung. Maksudnya gabung baca Benny & MiCe, bukan yang kearah pijet lemes itu mah. He….

Dari kedua buku komik ini, secara pribadi sih saya lebih suka dengan buku merah ‘Talk about HaPe’. Yang isinya jauh lebih menarik, nyata, dan beneran nyentil. Ceritanya mengkritik diri sendiri banget.

Bagaimana tidak ? lihat saja beberapa ilustrasi yang saya tampilkan disini rata-rata menggambarkan secara singkat dan jelas, tentu saja mengena, perihal perilaku orang kita yang suka gonta ganti hape, lebih mementingkan teknologi atau suntikan fitur baru, padahal belum tentu semua kelebihan itu kita butuhkan setiap saat. Seperti yang sering saya tulis dalam posting di BLoG ini, gengsi masih diatas segalanya, Yakin banget kok, dari seabrek fitur canggih yang ada, paling sering digunakan cuman satu. 3gp player. Hehehe……

Ada juga tentang sms saat hari raya tertentu yang kalopun ide lagi mentok, satu-satunya cara ya memforward isi yang dianggap paling oke ke temen lain. He…. Ngomongin SmS, ada juga sentilan iklan sms dari sang idola, yang bakalan dikirim langsung dari hapenya. Huahahaha…. Pas dengan jalan pikiran saya ternyata.

Masih belum puas, ada sentilan yang paling mengena perihal nada dering norak dikeramaian yang berulang-ulang hingga paling memalukan saat persembahyangan atau ibadah dilakukan. Masiiiihhh aja yang blom tau caranya mengubah profile jadi getar. Gak heran kalo pola perilaku begini seringkali mendapatkan tolehan seram dari rekan disebelahnya. He….

Dari sekian ilustrasi yang mereka buat, ada satu dua yang mencerminkan ‘perilaku saya banget’. Yaitu rutinitas yang dijalankan tiap pagi, bahkan bisa paling awal dilakukan ya ‘Connect to the world’ alias menghidupkan hape. He….

Tak lupa juga ada yang bagi saya sangat-sangat menyindir hingga tawa saya meledak, yaitu obrolan dua tokoh yang begitu bangga dengan gadget terbaru yang dimiliknya, hape juga laptop, tapi sayang sepatu yang mereka pake itu sudah robek, bahkan jauh lebih pantas diganti lebih dulu dibanding membeli kedua gadget tersebut. Huahauahauahaua…..

Selesai dengan buku merah, gantinya saya menikmati sajian komik strip Bennt & MiCe yang saban minggu selalu nampang di koran Kompas. Mungkin pasca komik strip si Pailul kali ya ? Terakhir yang saya ingat sih si Pailul itu….

Isinya ternyata jauh lebih nyentil dan tajam, hanya saja kadar lucunya jadi berkurang. Malahan saya kadang Cuma bisa meringis dan trenyuh dengan keadaan yang digambarkan Benny & MiCe terkait banjir Jakarta, dana BLT dan sejumlah masalah pelik di Ibu Kota nan megah tersebut.

Walaupun serius, tetep aja ada beberapa yang saya anggap lumayan membuat senyum saya mengembang dan tersimpul. Seperti gaya bahasa gaul dari tahun 2000an silam hingga ‘so what getooo loooh…’. Lumayan mencerminkan kemangkelan saya apabila sampe bersua dengan orang-orang yang dengan entengnya mengucapkan bahasa ‘kesian deh looooo….’. Tawa saya makin cekikikan pas bahasa gaul itu diterapkan pada saat rapat RT dengan pedenya. ‘Kita ? Elooo aja kaleeee….’. Huahahahaha…..

Ada lagi yang nyentil gayanya orang kita dengan bangga menyematkan piranti kecil di telinga agar membebaskan kedua tangan (yang sibuk) saat menerima telepon. Padahal sudah jelas kedua tangan yang dimaksud cuman dipake buat ngupil dan garuk-garuk. Hehehe…… jadi inget dengan beberapa sodara yang pede banget berpenampilan high-tech saat upacara persembahyangan muspa berlangsung. Tulalit Tulalit !!!

Termasuk yang paling ancur disentil ya trend hotspot gratisan yang digandrungi para anak muda, ekskutif dan juga blogger. He…. Kemana-mana nenteng laptop dengan fitur wireless, mesen satu biji minuman dan bisa nge-net gratis berjam-jam. Ancurnya itu terletak pada saat si tokoh kita ini ikut-ikutan ber-laptop ria di area hotspot gratisan, tapi hanya untuk maen gim Solitaire. Halah……

> Walaupun di awal liburan ini PanDe Baik mengambil keputusan yang amat berat yaitu memutuskan istirahat dari satu milis komunitas demi kebaikan semua anggota milis, rasa itu sejenak sirna dengan kehadiran komik Benny & MiCe ini. Sangat berguna dan sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang dalam kondisi kalut dan tertekan. He….

Tentunya sangat tepat pula disiapkan beberapa biji stok lagi di toko buku terdekat, mengingat bentar lagi Pemilu bakalan digelar. Jadi bisa untuk siap-siap, karena bakalan ada ratusan Caleg yang kecewa, sakit hati dan stress. Hehehe…. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Sedikit Lagi, Merengkuh Gelar Pasca Sarjana

2

Category : tentang KuLiah

Aaahhh…. Perasaan sedikit lega hari ini agaknya sudah bisa saya ungkapkan. Sebagai rasa syukur atas segala hal yang sudah saya jalani selama dua bulan belakangan menjelang detik-detik terakhir perkuliahan di semester 3. Ya, ternyata bisa juga saya tiba disini. Padahal rasanya baru kemarin saya menjalani ujian TPA (mirip test psikologi) dan matrikulasi (pengenalan materi awal sekaligus penyegaran). Rasanya baru kemarin saya memiliki beberapa teman baru yang beragam usia dan aktivitasnya.

Terkait dengan awal mula kenekatan saya mengikuti kuliah Pasca Sarjana ini, barangkali ada beberapa rekan blogger Bali yang masih ingat tulisan saya terdahulu tentang ‘Gelar yang tak lagi membanggakan’. Sempat diculik untuk Bale Bengong miliknya Om Anton kalo ndak salah. Waktu itu saya masih belum punya rumah sendiri seperti sekarang. Masih numpang di Blogspot.

Jika saya membaca tulisan lama tersebut, barangkali bisa dikatakan apa yang saya yakini masih sama. Seandainyapun kelak gelar dari perkuliahan Pasca Sarjana ini dapat saya raih, gak ada tuh yang namanya ‘bakalan selalu saya pampang dan gunakan dalam setiap momen atau event, termasuk pencalegan barangkali. He…

Jujur saja, kadang untuk menyandang sebuah gelar bagi saya pribadi adalah sesuatu yang memberatkan. Walaupun saya tidak menutup mata, bahwa gelar bagi sebagian orang itu sangat keren jika sampai diketahui oleh sebagian yang lain. Dianggap lebih berpendidikan, dianggap lebih mampu, dianggap lebih layak menjadi pimpinan barangkali ? Bagi saya, TIDAK.

Kata orang bijak, diatas langit masih ada langit. Tak selamanya orang yang menyandang gelas Pasca Sarjana itu akan jauh lebih mampu dari pada orang yang hanya tamatan sarjana ataupun sma misalnya. Barangkali pada pengetahuan beberapa ilmu dan teori, bisa dikatakan sedikit lebih tinggi. Buin a setrip. Tapi pada pengalaman tertentu ? hohoho…. Jangan salah.

Jangan jauh-jauh. Ambil contoh ya saya sendiri.
Dari sekian banyak ilmu yang diberikan dimana masing-masing bidang ilmu hanya diberikan waktu untuk pemahaman hanya satu semester, yang kalo dihitung barangkali hanya sekitar enam belas kali pertemuan kisaran 4 bulanan, belum tentu kesemua ilmu yang didapat itu bisa nyantol dikepala. Walaupun yah saya yakin, ada satu dua yang masih bisa diingat saat akhir semester 3 tiba didepan mata. Coba bandingkan dengan mereka yang hanya tamatan sarjana, tapi lebih banyak memiliki pengalaman di salah satu bidang yang saya pelajari. Berani bersaing ? Saya yakin, jika itu pake taruhan nyawa misalnya, saya bakalan mundur. Tapi kalo sebatas saling mengisi, okelah, saya mau.

Satu lagi yang dapat dikatakan paling riskan.
Nilai pada mata kuliah tertentu. Saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa kemampuan seseorang pada suatu mata kuliah, tidak dapat diukur hanya dari nilai ujian saja. Atau nilai akhir yang dikeluarkan oleh sang pengajar. it’s just my lucky…. Secara kebetulan dari delapan mata kuliah yang sudah dikeluarkan nilainya, ada enam yang saya dapatkan dengan nilai sangat memuaskan. Kenapa saya katakan sangat memuaskan ? dan bagi siapa ?

Ya tentu saja bagi saya sendiri, dimana merupakan salah satu dari sekian mahasiswa yang keluar jalur mengambil bidang di jenjang Pasca Sarjana. Saya lulusan Arsitektur yang lebih banyak berkutat pada konsep ataupun desain. Loncat pagar ke bidang Sipil, dimana bidang Statistik, Finansial, dan hal-hal yang sama sekali belum pernah saya dapatkan pada jenjang sebelumnya, dipaksa melahap semuanya dalam waktu satu semester. Can You imagine that ?

Padahal pada awal semester dimulai, saya sempat merasakan frustasi pada pilihan yang saya ambil secara nekat. Sempat pula saya ungkapkan pada tulisan dengan topik kuliah, maupun corat coret gak karuan selama jam perkuliahan. Kini setelah apa yang saya jalani, dengan nilai yang saya dapatkan, apakah sudah bisa mencerminkan bahwa saya mampu dan menguasai semuanya dalam waktu singkat ? Bagaimana pula saya bisa mempertanggungjawabkan nilai tersebut kelak pada setiap orang yang begitu berharap banyak lantaran mereka melihat pada gelar dan nilai yang saya dapatkan ?

Secara kebetulan saya bersua dengan beberapa orang alumnus jenjang Pasca Sarjana. Ternyata kegelisahan saya ini juga dirasakan oleh mereka dahulu. Menjalani masa perkuliahan Pasca Sarjana hanya untuk sekedar lewat dulu. Tak peduli dengan nilai yang didapatkan. Jangan berharap banyak pada keakuratan tata cara penulisan dalam setiap tugas yang dibuat, ataupun sedalam apa analisa yang dilakukan saat penelitian Tesis sebagai kewajiban akhir masa studi mereka.

Waktu yang akan menjawab itu semua.

Pelan tapi pasti. Saya yakin, apa yang saya jalani selama tiga semester ini, plus waktu untuk menyelesaikan Thesis tahap akhir masa studi saya kelak, bakalan bisa saya ambil satu persatu ilmunya, jauh setelah gelar itu bisa direngkuh. Dengan catatan, ilmu yang ditawarkan itu memang menarik minat saya untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.

Saya yakin, beberapa bidang ilmu yang dilahap selama satu setengah tahun ini bakalan berguna satu saat nanti. Tentu saja tidak Hap ! langsung usai wisuda, atau usai gelar tersebut disandang. Katakanlah mata kuliah Finansial misalnya. Dari ilmu ini, saya bisa tahu proses suatu keluar masuknya uang secara sederhana, ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Bahkan dari salah satu bagian perkulaiahn ABC system misalnya, saya bisa mendapatkan gambaran tentang apa saja yang harus diperhitungkan untuk mendapatkan harga jual suatu produk.

Ini tentu melengkapi kegamangan saya sebelumnya, perihal berapa harga yang harus saya patok atau tetapkan untuk sebuah jasa atau produk gambar rencana kerja sebuah bangunan misalnya. Padahal selama ini saya hanya mengandalkan ‘oh, biasanya sih dibayar segini….’ Atau ‘oh, standarnya sih sekian rupiah per meter persegi atau sekian rupiah per lembar gambar’.

Kembali pada pertanggungjawaban saya akan gelar maupun nilai yang kelak saya dapatkan, barangkali hanyalah sebuah perjalanan yang harus saya lalui, untuk mendapatkan sedikit gambaran tentang hal-hal diluar pengetahuan saya selama ini. Ditambah sedikit bumbu pertemanan baru yang saya dapatkan, suasana kuliah yang jauh lebih bersahabat, dan juga keinginan untuk belajar dan terus belajar timbul dengan sendirinya.

Yah, perkuliahan Pasca Sarjana yang tinggal sedikit lagi, bagi saya pribadi bukanlah sebagai satu pembuktian bahwa saya mampu dan layak menyandang gelar tersebut nantinya. Atau malah hanya untuk mendapatkan pengakuan ditengah masyarakat, atau barangkali hanya untuk syarat agar cepat naik pangkat/golongan hingga jabatan misalnya. He….

> PanDe Baik tumben-tumbenan bisa melahirkan tulisan terkait aktivitas mengikuti perkuliahan lagi. Yah, sudah lama gak menyinggungnya di BLoG, seperti harapan seorang rekan kuliah yang secara mendadak pamit meninggalkan perkuliahan diakhir semester satu, berkumpul kembali bersama keluarga (suami dan anak-anak) di Jakarta sana…. Bahkan, hingga akhir semester tigapun, saya belum mampu melahirkan satu tulisan yang khusus mengenai sobat saya sejak kecil ini. Ya, Kusuma Dewi. “Apa Kabarnya D ?” <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar…

SeLamat Jalan PeKaK KeRoK

3

Category : tentang KeseHaRian

Siapapun gak bakalan bisa memastikan kapan tepatnya seseorang akan kembali pada-NYA.

Saya mengenal BeLiau tepatnya pertengahan tahun 2004 lalu. Saat saya mulai menjalani hari-hari sebagai pengabdi di negeri ini.

Pak Wayan Subrata. Saya mengenalnya sebagai sosok yang bersahabat dan setia pada pekerjaan yang diembankan padanya. Perangainya sangat mirip dengan kakek saya. Tak heran, selama BeLiau berada disekitar saya, seakan saya sedang berada dekat kakek sendiri.

Perawakannya mirip dengan tokoh Semar yang bijak di acara Ria Jenaka jaman TVRI masih di layar item putih dahulu. Yang paling saya hafalkan dari BeLiau ini ya kalo lagi berhadapan dengan makhluk yang bernama wanita. Kata-katanya polos namun sedikit nyerempet ke bau-bau vulgar. Khasnya kakek-kakek kalo lagi deket cewek sexy. He…

Pak Wayan Subrata. Merupakan orang yang paling pertama tahu adanya ‘cinlok’ antara saya dengan ALit. Satu-satunya yang masih gadis diruangan itu. Paling heboh kalo BeLiau ini berusaha menceritakan kembali masa-masa ‘backstreets’ saya dengan ALit. Gadis yang selalu menjadi buah bibir kalo saya lagi berkunjung ke ruangan lainnya. Menjadi orang yang pertama pula menyetujui (diruangan itu) dan menganjurkan hubungan saya dengan ALit bisa berlanjut sampai ke jenjang pernikahan.

Tak banyak yang saya ketahui tentang BeLiau ini. Dari apa yang saya tahu, bisa dikatakan tujuhpuluhlima persennya saya tahu dari ALit. Tentang sifatnya yang ngemong bagi pegawai yang berusia muda. Tentang dirinya yang menganggap secara sepihak, merupakan pekak (kakek) dari semua pegawai diruangan yang saya tempati. Tentang kegembiraannya saat tahu bahwa ia akan beneran menjadi seorang kakek dirumahnya sendiri.

Yang saya tahu sejak awal menjadi pegawai adalah, apabila saya memerlukan sesuatu (map, kertas, cd kosong, hingga uang tunai untuk membeli sesuatu yang tidak ia ketahui bentuknya), saya tinggal mengatakan padanya. Paling lambat ya esok pagi harinya, saya sudah mendapati apa yang saya pinta padanya. Ya, BeLiau adalah bendahara barang dan alat tulis di ruangan kami.

Ada banyak foto BeLiau yang saya abadikan dari kamera digital milik pribadi. Dari tangkil dan sembahyang bareng ke Pura Puncak Sinunggal, liburan akhir tahun ke Pura Gunung Salak dan ikut terjebak bersama tiga rekan lainnya selama setengah jam didalam lift yang macet, hingga berburu jaket di Pasar Turi Surabaya. Termasuk diantaranya saat berada didalam pesawat Adam Air yang gagal terbang trus pindah ke pesawat lain. Semuanya masih tersimpan rapi di cd pocket yang saya miliki.

Memang, ini untuk kali pertama saya merasakan manfaat dari alasan utama saya membeli kamera digital sekitar tiga tahun lalu itu. Walopun hanya sebatas kamera pocket, yang ukurannya bisa masuk ke saku baju tanpa ketahuan orang lain, tapi alasan utama saya membelinya adalah bisa mengabadikan foto/gambar orang-orang yang saya cintai untuk saya simpan dan kenang satu saat nanti. Ini dilatarbelakangi oleh rasa menyesal karena tak sempat memiliki kenangan bersama saudara terdekat yang ternyata lebih dahulu meninggalkan saya.

Terakhir saya jumpa BeLiau, sekitar awal Desember tahun lalu. Waktu itu perubahan pada fisiknya sudah tampak dengan jelas. Perubahan akibat Diabetes yang dideritanya dan diketahuinya sekitar 2 tahun belakangan ini. Badannya jauh lebih kurus dan layu. Sampai-sampai saya mengingatkannya untuk berpuasa (mengurangi) mengkonsumsi nasi dan makanan lain seperti halnya dilakukan oleh Bapak saya dahulu.

BeLiau tetap memaksakan dirinya untuk masuk kantor dan bekerja seperti biasa, tak mendengarkan nasehat Istrinya yang melarangnya berangkat sendirian. Dari daerah Cengkok – Ulun Uma Abiansemal ke pusat kota Denpasar. Bahkan saya bersama tiga rekan lain, sempat berhenti sebentar didepan rumahnya saat kami melakukan pengukuran dan survey kondisi ruas jalan tersebut untuk usulan tahun 2009 ini.

Tak ada yang mengira.

Awal tahun, kami mendengar kabar bahwa PakYan Subrata dirawat di RS Tabanan, karena diagnosa awal sakit pinggang. Yang ternyata merupakan rembetan dari Diabetes yang BeLiau derita ke arah kolesterol dan Kanker Hati. Kamipun membesuknya secara bergantian. Tak ketinggalan, saya dan ALit (yang kini menjadi Istri saya dan memberikan putri kecil yang cantik seperti Ibunya) ikut menengok pada Jumat sore 9 Januari, sepulang kantor. Membawa serta putri kami agar BeLiau bisa melihat langsung hasil hitungan penjumlahan yang jadi bahan guyon kami beberapa waktu lalu. 1+1=3. Serta menitipkan semangat dan pesan agar BeLiau mau menguatkan diri semampunya.

Rupanya Tuhan berkehendak lain. Kabar duka yang saya dengar hari Senin pagi, begitu menginjakkan kaki di ruangan, cukup membuat shock dan terpekur diam. Pak Wayan Subrata telah berpulang di usia 53 tahun….

Saya langsung berinisiatif mengabarkannya pada semua rekan yang barangkali masih berada dirumah atau dijalan, juga kepada rekan-rekan yang telah dimutasi ke unit kerja lainnya. Tak lupa mengabarkannya pula kepada Istri saya.

Terhitung hari selasa kemarin, Pak Wayan Subrata telah menjalani upacara pengabenan. Sayang, akibat kurangnya koordinasi antar ruangan, kami tak bisa ikut serta melihat BeLiau untuk terakhir kalinya. Barangkali kerinduan saya pada sosok kakek yang bersahabat ini, hanya bisa saya lakukan dengan membuka dan melihatnya sejenak, foto yang saya abadikan dengan kamera digital saat menengoknya Jumat lalu. Masih tersimpan dengan baik di laptop. Dua benda yang selalu menemani kemanapun saya pergi.

SeLamat JaLan Pak Wayan SubRaTa. PeKaK KeRoK yang pernah mengisi hari-hari kami.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

> Ini tulisan pertama, saat PanDe Baik nge-BLoG lagi setelah sekitar dua – tiga mingguan absen. Hanya berkutat dengan tugas kuliah dan Usulan Proposal Thesis. Tapi, posting BLoG tetep bisa jalan dua – tiga hari sekali, thanks to SCHEDULE Post yang saya terapkan sejak enam bulan lalu. Jadi kelihatannya saya tetap rajin posting kan ? He… ini pula yang lantas menimbulkan kecurigaan seorang rekan sekalis atasan saya dikantor. Pak Oka Parmana….. “….katanya sibuk bikin tugas, tapi kok isi BLoG tetap bisa terupdate ? Kamuh nge-BLoG tiap hari yah ??? ” He….. <