Pengen Jadi CaLeg ? susun Strategi yuk ?

5

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Hanya ingin melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang kisaran biaya yang perlu disiapkan buat yang nekat pengen jadi CaLeg. He… kira-kira kalo si CaLeg minim dana, apa yang sebaiknya dilakukan yah ?

Oke, Katakanlah seandainya saya yang memiliki ambisi seperti itu sedangkan dana yang dimiliki sangatlah minim, kira-kira bisa gak ya saya nembus gedung ‘Wakil Rakyat’ seperti halnya Bupati Kupang yang terpilih tanpa perlu mengeluarkan duit ratusan juta itu ?

Memang saya sadari, untuk bisa mewujudkan impian seperti halnya Bupati Kupang, barangkali memiliki kemungkinan satu berbanding seratus. Itu bakalan tergantung pada kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat, bukan dengan janji-janji palsu bakalan mengaspal jalan ini, bakalan membebaskan biaya pendidikan, atau mensejahterakan petani. That’s all Bullshit bagi saya.

Seandainya saya dalam posisi berambisi maju ke bursa CaLeg, sedangkan saya minim dana dan modal awal dan tragisnya bukan siapa-siapa di mata masyarakat, mungkin hanya satu yang akan saya lakukan hari ini. Menunda pendaftaran untuk menjadi CaLeg hingga pemilu mendatang. Mengapa ?

Ya, kenapa harus bersusah-susah mengharapkan simpati dari masyarakat dengan mempublikasikan figur diri di tiap sudut jalan, mengatakan ‘hey, sudah saatnya hati nurani berbicara’ atau ‘masih mau denger lagu lama?’ Jika diri ini belum mampu didengar oleh sekian ribu masyarakat di daerah pemilihan yang kelak akan menjadi ajang tarung perebutan suara.

Tapi keputusan menunda bukan berarti lantas saya berdiam diri pasrah menunggu pemilu yang akan datang digelar. Minimal saya melakukan beberapa tindakan dengan tujuan awal adalah memperkenalkan diri pada publik. Misalkan saja bergabung pada beberapa komunitas lokal yang memiliki aktifitas dan hobbi yang sama.

Katakanlah hobi sepeda tua. Saya akan ikut gabung dan berusaha untuk dikenal oleh semua anggota internal yang tergabung dalam wadah tersebut dan juga orang luar yang secara kebetulan ikut tertarik akan hobi ini. Caranya barangkali dengan menjalin hubungan baik, saat aktivitas menjelajah dilakukan atau saat acara berbagi pengalaman misalnya.

Hobi motor besar ? Sangat dianjurkan. Karena biasanya pada hobi ini, bakalan menyajikan figur-figur yang sudah besar dan memiliki nama di masyarakat. Paling minim, orang yang bermodal dan memiliki pengaruh pada beberapa orang disekitarnya. Sekali lagi, loyalitas sangatlah penting untuk mendapatkan simpati dari para anggotanya.

Hobi nulis ato nge-BLoG ? gabung di komunitas setempat yang tentunya saya yakin bakalan berisikan beraneka ragam profesi. Dari remaja sekolah, pegawai kantoran, pemerintahan, teknisi IT hingga ke wartawan lepas. Harapannya tentu saja memperlebar sayap, kearah lintas profesi ini. Barangkali saja ada satu dua wartawan yang mampu memberikan gambaran awal akan sosok kita saat maju ke bursa CaLeg nantinya.

Ikut kegiatan sosial masyarakat, tanpa inisiatif mengundang media untuk mengekspose keberadaan kita. Jika menganggap diri mampu, bisa mengajukan langsung menjadi salah satu koordinator bidang kerja untuk menyiapkan hal-hal yang dipandang perlu dalam mendukung kegiatan. Pelan tapi pasti jika sudah dikenal, incarlah posisi ketua pelaksananya. He… Paling tidak jika sudah dikenal secara intern kegiatan, saat menduduki posisi ketua pelaksana, masa sih media gak mengeksposenya ?

Mencoba aktif dan ikut serta dalam kegiatan yang berkaitan dengan sosial keagamaan. Bergerak dari lingkungan keluarga dahulu, hingga pelan-pelan ke tingkat yang jauh lebih luar dan beragam. Tentu saja untuk bisa melakukannya, kita membutuhkan talenta dan disiplin tinggi, agar mampu memberikan kemampuan yang terbaik nantinya. Paling tidak tampilnya kita ditengah komunitas dan kegiatan ini, bakalan memberikan pelajaran ‘bagaimana memahami masyarakat yang bakalan kita wakili suaranya’.

Jika figur pribadi sedikit demi sedikit sudah mulai dikenal dimasyarakat walaupun hanya sebagian kecil, usaha selanjutnya adalah konsisten berusaha berbuat baik dan barangkali mulai rajin menulis di beberapa media ataupun BLoG yang sederhana, terkait mimpi, cita-cita, harapan juga pola pikir yang akan dilakukan seandainya dipercaya nanti menyuarakan keinginan rakyat. Tentunya ini harus sudah dilakukan minimal 3-4 tahun sebelum Pemilu dilangsungkan. Kenapa saya katakan demikian ?

Agar tema ataupun topik isi pemikiran kita yang tertuang tidak terkesan aji mumpung, baru akan pemilu, baru memulainya…. Setidaknya isi daripada tulisan pemikiran kita bakalan makin berkembang dan terbuka pada berbagai hal ataupun isu yang ramai di masyarakat, sehingga orang yang membacanya akan mengingatnya dan paling minim menyebarluaskannya pada orang-orang disekitarnya.

Untuk dapat mendalami setiap isu maupun keluhan masyarakat, ada baiknya kita juga mulai rajin belajar. Apalagi kalo bukan memahami peraturan, perda, undang-undang hingga teknologi jika mampu, agar nantinya dapat mengikuti arus perkembangan yang bakalan hadir setiap saat ditengah masyarakat.

Minimal kalo nanti mendapat jatah laptop, gak bakalan digunakan untuk main Solitaire saat rapat sidang atau cukup mengandalkan tatap muka teleconference via web cam daripada kunjungan kerja keluar daerah yang menghabiskan dana rakyat yang sangat besar.

Kegiatan-kegiatan diatas, jika rutin dan secara konsisten dilakukan, saya yakin sedikit demi sedikit masyarakat akan mengetahui keberadaan kita saat keputusan mengajukan diri menjadi CaLeg dilaksanakan. Setidaknya gambaran atau bayangan awal akan sosok atau figur yang tampil sudah bisa dibaca sejak awal dan jauh sebelumnya. Jika sudah demikian, barangkali yang namanya Baliho perusak wajah kota, tak perlu lagi dipasang dan dipamerkan. Termasuk usaha untuk meraup sejumlah suara sebagai dasar lolosnya pencalonan bisa didapatkan tanpa susah payah mengorbankan duit ratusan juta.

Seperti kata Bupati Kupang yang Terpilih kemarin, jika seorang calon sudah menghabiskan banyak uang untuk melanggengkan langkahnya melewati bursa
‘Wakil Rakyat’ ya jangan salahkan jika saat mereka duduk di kursi nan empuk tersebut, selalu berusaha mengembalikan modal awal yang telah mereka keluarkan tersebut.

So, nikmati saja hidup ini. Jika memang berambisi, ada baiknya dimulai dari hal-hal kecil dahulu. Karena biasanya hal kecil pasti akan berubah menjadi besar dan indah. Berguna bagi masyarakat tentunya. He… gak asal omong.

> PanDe Baik akhirnya memutuskan melahirkan tulisan kedua ini, gara-gara asbunnya seorang CaLeg (baca:pahlawan kesiangan) di media Denpost beberapa waktu lalu, berkaitan dengan jalan yang rusak parah sedangkan Pemkab kok malah cuek. Padahal baru beberapa waktu sebelumnya, pak Bupati sudah turun ke lapangan dan menjelaskan prioritas penanganan di daerah tersebut. Trus kemana saja si CaLeg saat penjelasan dari pak Bupati waktu itu ? lagi molor ya Pak….. jadinya bangun kesiangan deh. He… <

Pengen Jadi CaLeg ? Pikir-pikir dulu deh !

7

Category : tentang KHayaLan, tentang Opini

Pemilu tahun ini agaknya bakalan jadi makin beda dengan pemilu sebelumnya. Apalagi kalo bukan karena makin banyaknya orang yang ikutan bursa CaLeg. Dari muka lama hingga wajah baru yang sama sekali belum dikenal publik secara luas.

Terlepas dari semua motivasi masing-masing orang yang begitu ngotot mencalonkan dirinya sendiri sebagai ‘Wakil Rakyat’, agaknya masyarakat kinipun makin mengerti mengapa mereka semua nekat melakukan hal ini. Bisa jadi paling pertama yang menjadi pertimbangan ya kondisi ekonomi yang makin susah untuk dijalani dengan profesi pas-pasan.

Belakangan saya yakin semua orang pun tahu bahwa kursi empuk ‘Wakil Rakyat; dianggap lebih menjanjikan banyak hal, banyak mimpi sedangkan kewajiban yang seharusnya dilakukan bisa dikatakan sangat minim. Lebih banyak kunjungan atau studi ke luar daerah dibandingkan hasil kinerja yang diharapkan oleh masyarakat. So, dimana lagi bisa mewujudkan semua itu ?

Lantas apakah semudah itu orang bisa mencalonkan diri menjadi CaLeg ? seorang ‘Wakil Rakyat’ yang nantinya bakalan diharapkan begitu besar pengaruhnya dalam menentukan nasib rakyat yang ia wakili.

Seorang famili pernah secara iseng berhitung. Seandainya ia bukanlah orang yang dikenal oleh masyarakat, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan ya dengan cara money politics. Paling minim ya berusaha menyogok sekelompok masyarakat agar mau mendukungnya kelak. Adapun jumlah biaya yang ia perhitungkan sebagai modal awal untuk bisa maju sebagai CaLeg hingga positif duduk di kursi empuk, berkisar pada angka 500 sampai dengan 800 juta. Wow…. Itu semua tergantung pada kuota minimum suara yang harus dikumpulkan oleh setiap orang CaLeg.

Perinciannya meliputi :
> biaya yang harus dikeluarkan untuk baliho kampanye selama masa pengenalan figur, di banyak tempat dan dalam ukuran yang beragam
> biaya baju kaos bagi para pendukung minimal sejumlah kuota minimum yang harus dipenuhi
> biaya konsumsi (minimal nasi bungkus) bagi para pendukung dikalikan jumlah kampanye yang akan digelar
> biaya konsumsi setiap hari hingga saat pemilihan tiba, untuk masyarakat ataupun pendukung yang ingin berkunjung ke rumah
> sumbangan pada event tertentu sesuai undangan masyarakat, terutama di lingkungan sendiri
> sumbangan pada parpol agar mau mencantumkan namanya sebagai salah satu kader partai
> dsb dll etc

Sayangnya gak semua CaLeg mampu menyediakan biaya sedemikian besar sebagai modal awal tarung mereka di kancah politik. Beberapa malah memasrahkan diri, menyerahkan pilihan pada masyarakat tanpa berusaha lebih jauh merangkul massa pendukungnya. Istilah kerennya ‘biarkan masyarakat yang menilai. Saya hanya perlu membuktikan diri bahwa saya layak tampil sebagai ‘Wakil Rakyat’ yang diinginkan’.

Memutuskan untuk maju bertarung menjadi CaLeg atau ‘Wakil Rakyat’ tentu saja harus menyiapkan segalanya. Positif dan negatifnya. Untung Ruginya. Minimal untuk seorang CaLeg yang beneran baru terjun di masyarakat, sudah harus menyadari ketidakberuntungannya sejak awal. Walaupun banyak orang mengatakan ‘kita harus optimis dalam segala hal’.

Bagaimana seandainya jika saya tak terpilih nanti ? Bagaimana caranya saya bisa mendapatkan biaya yang sudah dikeluarkan saat kampanye jika saya tak mampu mendapatkan kuota suara pemilih ?

Agar jangan seperti halnya calon pemimpin daerah yang dikabarkan harus menanggung beban hutang, malu hingga stres dan akhirnya berakhir di Rumah Sakit Jiwa. Minimal siap kalah. Sudah siap sejak awal untuk menghadapi kemungkinan paling buruk. Jangan sampe malahan bikin malu keluarga saja. He….

> PanDe Baik agak tergelitik juga dengan ide itung-itungan yang dilontarkan oleh famili beberapa waktu lalu, walaupun ada juga CaLeg yang maju sangat pelit mengeluarkan biaya untuk aksi tarung nekat mereka. He… <

Kaos BBC dan PRomo BLoG

12

Category : tentang KeseHaRian

Salah satu cara paling mudah dan murah untuk mempromosikan BLoG yang kita miliki yaitu dengan memasangkan badge atau stiker pada media yang sering kita bawa kemana-mana.

Misalkan saja seperti yang saya terapkan sedari setahun lalu, merangkai dan menempelkan stiker huruf kecil berwarna merah dan putih pada helm saya yang kebetulan berwarna hitam. Tak lupa saya tempelkan pula pada cover laptop dengan harapan ya saat laptop dibawa ke kampus maupun tempat umum, orang lain bisa melihatnya dengan jelas.

Selebihnya sebetulnya bisa saja kok. Membuat stiker dalam jumlah besar kemudian disebarkan ke warnet ataupun orang perorang yang sering bersentuhan dengan internet, memasangnya di mobil dsb. Tentu saja biayanya gak sedikit. Bisa dibilang ini jauh lebih efektif apabila tujuan dari BLoG yang akan dipromosikan itu bersifat komersial atau bahasa susahnya profit oriented.

Untuk BLoG yang seperti saya miliki ini ? Bisa dikatakan bakalan mubazir. Karena orang kemungkinan besar gak bakalan balik mampir lagi ke BLoG ini begitu tahu informasi ataupun topik tiap postingannya hanya berkisar pada cerita keseharian, unek-unek pemikiran yang gak jelas ataupun hal-hal yang berbau hobby dan gak nyambung dengan keinginan yang diharapkan.

Dibalik promo BLoG pribadi, sebetulnya ada juga yang sampe iseng menghampiri dan bertanya langsung ke saya, apa itu BLoG, kenapa bisa keberadaannya sampe seheboh yang diceritakan orang, hingga keberadaan BaLi BLoGGer CoMMunity (BBC) yang belakangan begitu gencar mengadakan kegiatan sosial dan terekspose di beberapa media cetak. Ada juga yang bertanya setelah mereka mengakses BLoG saya, dan melihat logo BBC pada sidebar di sebelah kanan tulisan.

Hanya saja, aktivitas saya menjelaskan pada orang-perorang yang secara kebetulan bersua ataupun sengaja menghampiri, jauh lebih banyak saat saya mengenakan baju kaos BBC yang desainnya diluncurkan saat Launching BBC di Popo Danes setahun lalu. Tulisan pada sisi depan kaos putih dengan kelir biru laut ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ rupanya jauh lebih menarik perhatian orang yang secara kebetulan melirik saya (bukan karena faktor wajah tentunya). Mungkin karena tubuh saya yang tinggi besar plus perut yang menonjol (ogah dibilang gendut) membuat kaos BBC yang saya kenakan tentu saja kekecilan. ‘Orang yang Aneh’ kata teman-teman saya.

Walaupun ukurannya membuat saya tampak seperti iklan sirup penambah tinggi badan anak yang ada alunan ‘Bajuku dulu tak begini…. tapi kini tak cukup lagi….’, tapi saya tetap bangga menggunakannya. Tentu saja dilihat dulu kemana saya akan pergi. Kalo kekampus atau tempat resmi, saya rasa kemeja jauh lebih sopan. Sedangkan tempat umum, swalayan ataupun hanya jalan-jalan bersama anak dan Istri, tentu saja kaos BBC jadi salah satu pilihan saya.

Sayang memang, dari sekian desain baju kaos BBC yang diluncurkan saat kegiatan sosial dilakukan, yang saya miliki hanya dua saja. Desain Launching dan kalo ndak salah yang saat Kuta Carnival. Itupun dengan ukuran press body, walau ukuran baju kaos yang saya dapatkan itu sudah XXL. Tetep saja memperlihatkan tonjolan perut saya dengan sangat baik.

Balik ke topik… Dalam dua hari ini (liburan ImLek) bisa dikatakan ada hampir sepuluhan orang yang bertanya langsung pada saya perihal BaLi BLoGGer CoMMunity, setelah melihat tulisan ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’. Ini terjadi pada saat saya bersama anak dan Istri berbelanja di CLandys jalan BuLuh InDah, sembari Istri memilih beberapa keperluan si kecil, saya yang mendapat tugas mengajak si kecil, memberikan sedikit gambaran pada orang yang bertanya tentu dengan bahasa yang jauh lebih mudah dimengerti oleh awam. Sambil sesekali menyebutkan alamat BLoG pribadi saya yang numpang kos di MHI, juga alamat BLoG putri kami yang masih numpang gratisan di WordPress. Obrolan serupa juga terjadi saat saya berkunjung ke satu acara syukuran di rumah seorang famili dari keluarga Istri, sepulang dari CLandys, yang kami sambangi tanpa sempat berganti baju lagi.

Tanggapannya beragam. Ada yang langsung tertarik untuk membuat BLoG, ada juga yang berminat gabung di BBC dan berharap bisa ikut terlibat di Kegiatan Sosialnya kelak. Tapi ada juga yang malahan bertanya perihal cara agar BLoG yang sudah ia buat bisa tampil pada halaman pertama search engine Google maupun Yahoo. Padahal ia sudah mencoba berbagai cara mengikuti petunjuk pada buku-buku panduan nge-BLoG. Satu pertanyaan yang sangat sulit buat saya.

Jawaban saya sih simpel aja. Hanya masalah waktu. Tentu saja gak bisa langsung tampil dihalaman pertama search engine manapun, walau sudah melakukan pendaftaran alamat BLoG pada sekian banyak search engine, sampai menggunakan bantuan software tertentu. Ini saya katakan dengan alasan, bagaimana mungkin Google atau Yahoo misalnya bisa menampilkan semua alamat BLoG baru pada halaman pertama, jika tak ada orang lain yang tahu dan pernah mengaksesnya.

Lain lagi dengan beberapa rekan saat kuliah dahulu yang secara kebetulan mampir hingga nyasar ke BLoG saya dan terkagum-kagum melihat jumlah Page Views dalam tiap postingannya rata-rata 500 views per hari (ini saat saya masih menggunakan alamat lama http://pandeividuality.net/ dengan thema gelap yang baik tampilan dan pluginsnya dioprek Pak Dokter Cock Wirawan, kira-kira pada pertengahan tahun 2008 lalu), trus Total Page Views yang dihitung oleh Firestats (plugins yang juga diinstallkan oleh Pak Dokter Cock) sudah mencapai angka 60ribu padahal usia BLoG ini sejak memakai alamat domain sendiri, belum genap setahun. Hingga ke jumlah posting yang mencapai angka seribu. Bagaimana bisa ?

Pertanyaan diatas pula yang menyebabkan saya malu sendiri. Ya, bagaimana bisa BLoG saya yang isinya cuman info keseharian, hobi hingga pemikiran yang tidak jelas, bisa menciptakan sejumlah angka yang sangat tidak masuk akal bagi banyak orang. Untuk menghindari tanda tanya itulah saya akhirnya memutuskan untuk mengganti Thema BLoG yang tak lagi menampilkan Page Views per posting tulisan, statistik jumlah posting dan hanya menyisakan plugins Firestatsnya saja. Khawatir dikatakan me-markup jumlah. He….

Ternyata keberhasilan dari suatu promo yang mudah dan murah seperti yang saya lakukan, ada positifnya dan juga efek negatifnya. Setidaknya ini menjadi bukti, bahwa dengan anggaran yang minim-pun promosi suatu BLoG bisa dicapai dengan efektif dan efisien (he…. apalagi kalo ditambah dengan aman dan nyaman, malah jadi mengingatkan saya pada Konsep Dasar Desain Perancangan saat kuliah di Arsitektur dulu). Walaupun nantinya bakalan mengundang banyak tanda tanya. He….

> PanDe Baik hanya ingin berbagi pengalaman saat mengenakan baju kaos BaLi BLoGGer CoMMunity edisi Launching BBC ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ selama dua hari terakhir, rupanya sangat efektif untuk memperkenalkan BLoG pada masyarakat atau meminjam istilah anak-anak Milis, mem-B(e)LOG-kan masyarakat. Harapannya gak muluk-muluk kok. Semoga saja tim desain dan produksi kaos BBC kedepannya bisa merancang satu ukuran khusus untuk saya, agar lebih sedap dipandang mata tentunya. He…. <

NB : tak lupa dengan desainnya yang simpel dan lebih mudah dimengerti. Tentu saja tulisan ‘Mai Nge-BLoG pang sing BeLoG’ agar bisa tetap tampil pada setiap edisi desain yang akan dikeluarkan, dengan warna yang ‘eye catching’ barangkali ?