Berbagi Rahasia Dapur www.pandebaik.com

9

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada satu pertanyaan yang barangkali bisa saya katakan hampir sama dilontarkan oleh setiap orang yang mengenal saya sebagai seorang blogger. Bagaimana caranya agar isi konten dalam hal ini tulisan selalu terupdate secara berkala ?

Dahulu kalau tidak salah ingat, saya pernah berbagi tips perihal Menulis itu Gampang atau Susah ? Menjaga Stamina nge-BLoG dan Mengatasi Kejenuhan nge-BLoG. Tiga tulisan tersebut saya rasa sudah cukup kok mewakili jawaban untuk pertanyaan diatas. Hanya saja sebagai pelengkap, saya tambahkan sedikit ya.

Pertama, untuk menjaga update tulisan BLoG secara berkala bisa dengan menggunakan trik jeda dua atau tiga hari sekali, apalagi seandainya stok tulisan yang dimiliki sangat sedikit apabila dipublikasikan setiap hari. Dengan begini, ide biasanya bakalan tetap terjaga dalam satu minggu kedepan, sambil menunggu ide lain yang bisa dituliskan kembali.

Kedua, buatkan satu dua tulisan yang barangkali memiliki tema yang tidak terkait dengan kejadian terkini. Bisa hobby, masa lalu, keluarga ataupun perjalanan. Tulisan seperti inilah yang biasanya saya gunakan untuk bahan update ketika terjadi kesulitan ide ataupun minimnya waktu untuk menuangkan ide kedalam bentuk tulisan. Makanya gak heran kalo ada pengunjung yang protes ketika menemukan tulisan yang gak penting, nyelip begitu saja diantara tulisan serius lainnya. :p

Ketiga, tuangkan semuanya ketika memiliki waktu luang. Jangan pernah menunda waktu untuk menuliskan ide, mumpung bisa persiapkan saja dahulu satu persatu. Terkadang saya pribadi bisa melahirkan dua tiga tulisan dalam sekali waktu, kemudian disimpan sebagai stok. Hehehe…

Keempat, buatkan skala prioritas dalam jadwal publikasi. Terkait hal ini tidak jarang tulisan yang sedianya saya publikasikan besok pagi, bisa mundur sampe semingguan lebih karena ada tulisan yang saya anggap jauh lebih baik secara kualitas. Itu sebabnya beberapa tulisan saya terlihat tidak uptodate dengan kejadian terkini.

Kira-kira apa lagi ya ?

nanti deh saya lanjutkan lagi kalo ingat. :p

Boros Bensin di Musim Hujan

5

Category : tentang KeseHaRian

Apabila dilihat dari skenario musim di Indonesia, bahan pelajaran saat sekolah dasar dahulu, bulan-bulan berakhiran –ber bisa dikatakan merupakan awal dari musim hujan, musim yang dinanti-nanti untuk menyejukkan tanah pertiwi. Sayangnya untuk setahun terakhir skenario itu tak lagi berlaku. Entah karena efek dari pemanasan global yang kabarnya mampu mengacaukan dua musim -hujan dan kemarau- di Indonesia atau ada unsur lain yang menyebabkannya demikian.

Di Bali, tanah kelahiran saya, hujan tampaknya tak lagi mematuhi aturan atau skenario guru-guru Geografi terdahulu. mereka turun secara mendadak bahkan pada bulan-bulan yang seharusnya angin dan terik matahari menyatu. Tak jarang hujan turun saat matahari tampak benderang diatas sana.

Hujan bisa jadi merupakan anugerah bagi mereka yang membutuhkannya atau malah memanfaatkannya. Selain dapat menyejukkan suasana halaman rumah, hujan dinanti untuk ditampung dalam bak air berukuran besar pada daerah-daerah yang kesulitan air. Meski demikian, hujan bagi saya merupakan salah satu penyebab borosnya penggunaan bensin/premium sebagai bahan bakar, lantaran memaksa sebagian masyarakat menggunakan kendaraan roda empatnya sebagai sarana transportasi. Termasuk saya.

Berkendara roda empat selama satu minggu lantaran cuaca yang tak menentu, ternyata cukup menguras isi dompet dibanding berkendara dengan motor Tiger pulang pergi kantor yang hingga kini belum jua diganti. Walaupun untuk kecepatan laju kendaraan sudah diatur seefisien mungkin. 20 hingga 40 km/jam.

Yah, mungkin ini yang namanya resiko yang harus kami tanggung pasca pemindahan kantor ke areal Puspem badung yang notabene berjarak 9 hingga 10 kilometer dari tempat tinggal…

20 to 40

11

Category : tentang KeseHaRian

Untuk menempuh jarak sejauh 9 sampai 10 km di pagi hari diperlukan waktu sekitar rata-rata setengah jam, kurang lebih begitu analisa saya tempo hari dalam tulisan ‘Jalan Panjang menuju Puspem Badung’. Itu artinya secara matematis kecepatan rata-rata kendaraan bermotor yang saya pacu adalah minimal 20 km/jam. Satu kecepatan yang barangkali jarang saya lakukan saat muda dahulu.

Kini, kenyataannya memang demikian. Tipe pengendara yang biasanya dialamatkan teman pada saya adalah ‘alon-alon asal klakon’ -biar lambat asal selamat- kata orang. Untuk berangkat kerja paling banter kecepatan motor saya pacu hingga 40 km/jam itupun jika jalanan tergolong lancar. Sedangkan jika lengang, kecepatan 60 km/jam baru bisa dicapai, itupun hanya terjadi di beberapa titik.

Bisa jadi kecepatan laju kendaraan motor yang saya gunakan terkena imbas laju kendaraan roda empat yang kerap saya lakoni lima tahun terakhir. Ya baru setelah menikah saya mulai merasakan ada perubahan laju kendaraan dari yang biasanya ngawur, zig zag dan gak terlalu peduli dengan keselamatan, berubah jadi kalem setenang sapi yang melewati ruas jalan seramai Teuku Umar barat sekalipun. Mungkin karena setelah menikah itu yang namanya nyawa mutlak dibagi dua bahkan tiga ataupun lebih. bergantung pada situasi dan kondisi keluarga. Satu untuk diri sendiri, sisanya untuk istri, anak hingga orang tua.

Bisa juga lantaran sejauh ini belum ada jadwal mendesak yang harus saya kejar setiap pagi berangkat kerja (kendatipun terlambat) ataupun sore sepulang kerja. Posisi sebagai seorang PNS yang biasa-biasa saja merupakan salah satu penyebabnya. Mengambil pekerjaan semampunya tanpa memaksa diri atau menargetkan sebuah jabatan misalnya. Hehehe…

Membiasakan diri dengan laju kecepatan kendaraan bermotor 20 km/jam hingga 40 km/jam selain bertujuan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, pula menjaga kemungkinan terjadinya kecelakaan dengan tingkat kerusakan dan luka berat. Disamping itu ya melatih kesabaran serta emosi yang barangkali hingga kini masih kerap melonjak secara mendadak. Bagaimana dengan Anda ?