Benny & Mice so far by PanDe Baik

4

Category : tentang InSPiRasi

Setelah melahap satu persatu kumpulan kartun strip Benny & Mice sejauh ini, kini tiba saatnya saya menampilkan mereka kembali satu persatu. He…. Kali aja masih ada yang penasaran. Kok saya ini begitu memuja-muji Benny & Mice sih ?

***

Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah Benny & Mice “Lagak Jakarta” edisi koleksi bagian 1. Isinya merupakan kumpulan kartun strip dari tiga buah buku atau tema yang telah diterbitkan sepuluhan tahun lalu, yaitu “Trend & Perilaku” by Mice, “Transportasi” by Benny dan “Profesi” by Benny. Bagi yang penasaran silahkan melihat kembali tulisan saya sebelumnya, disini.


***

Buku kedua ini merupakan edisi koleksi lanjutan “Lagak Jakarta” diatas. Pula merupakan kumpulan strip kartun ala Benny & Mice dari tiga buku atau tema berkisar saat Indonesia dilanda krisis dan perubahan tempo hari. Meliputi “Krisis… oh… Krisis”, “Reformasi” dan “(Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu’99”. Disini kegetiran hidup yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia di waktu lalu, dikemas dalam coretan yang cukup embuat senyum dikulum. Silahkan melihatnya kembali pada tulisan saya sebelumnya, disini.

***

Buku ketiga dari kartun strip Benny & Mice yang saya rekomendasikan adalah “Jakarta Luar Dalem”. Isinya kurang lebih mirip dengan “Lagak Jakarta” edisi koleksi bagian 2. Kritik terkait Trend bergaya masyarakat lokal, kecanggihan teknologi ponsel, hingga kuliner yang lagi nge-boom tak lupa tentang Puasa dan budaya pulang kampungnya. Beberapa hal yang ‘mengena’ bagi saya pribadi sudah pula pernah saya tuliskan, disini.

***

Buku keempat kumpulan kartun strip ala Benny & Mice yang pernah pula diterbitkan setiap hari Minggu dalam media Kompas, adalah “Jakarta Atas Bawah”. Saya sarankan sebelum menikmati buku ini, mohon STOP mengernyitkan dahi terlebih dahulu. Bersiaplah untuk tertawa lepas, karena disini gak ada lagi yang namanya tema tertentu. Apa yang akan digoreskan berikutnya pun belum tentu bisa ditebak bertemakan apa. Hehehe…. Hal-hal yang gak jelas dan malahan bikin ketawa ngakak dalam buku inipun gak lepas untuk saya tuliskan, disini.

***

Buku kelima yang bisa saya sarankan kembali dari Benny & Mice adalah “100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta”. Bagi mereka yang tidak memiliki selera humor dalam menertawakan diri sendiri, sangat tidak disarankan membuka apalagi menikmati buku ini saat tegang, saat stress karena beban pekerjaan misalnya. Sebaliknya bagi saya pribadi, seperti yang saya ungkap dalam tulisan sebelumnya, disini, inilah saat dimana saya harus bersiap untuk bisa menertawakan diri sendiri. Karena profesi saya  (PNS) ternyata termasuk dalam daftar “100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta”. Huehehehe….

***

Buku keenam agaknya jauh lebih mengkhusus pada satu tema tertentu, yaitu “Talk about HaPe”. Kumpulan kartun ala Benny & Mice ini terbagi atas enam ulasan yaitu ‘Handset’, ‘Operator’, ‘Pulsa’, ‘SmS’, ‘Perilaku’ dan ‘Fitur’. Kisaran coretannya sendiri sangat mengena bagi saya pribadi -silahkan mampir dalam tulisan saya, disini– Mungkin karena masyarakat kita terkenal akan budaya ‘Gengsi dong, kalo gak punya hape canggih’ –termasuk saya tentunya-.

Sayangnya buku ini hanya sempat mengisahkan perjalanan hingga era rilisan Nokia Communicator seri E-90. Belum sampai ke Blackberry. Saya malahan jadi membayangkan kritikan ala Benny & Mice yang menggambarkan ‘bergaya dengan Blackberry tapi cuman buat sms-an doang’. Huahahaha…..

***

Buku ketujuh atau terakhir yang saya tahu dan rekomendasikan, merupakan buku rilisan terakhir dari Benny & Mice kalo tidak salah. “Lost in Bali”. Walaupun rilis terakhir, tapi buku ini adalah buku kartun ala Benny & Mice yang pertama saya baca. Tulisan sayapun, disini, adalah yang pertama berceloteh tentang kelucuan goresan ala Benny & Mice. Tentang Bali dan budayanya tentu.

***

So, sejauh ini ya hanya tujuh buku itu saja yang bisa saya rekomendasikan sebagai buku ‘Must Have’ dan ‘Must Read’. Hehehe…

> Pssstt…. Berhubung PanDe Baik sendiri bukanlah pemilik ketujuh buku diatas, tapi cuman dapet dari pinjam pada sodara sepupu, Mahendra Sila -yang kalo ndak salah saat Workshop bareng Benny kemaren, dia mendapatkan juara tiga untuk lomba gambar kartun Benny- jadi mohon maaf kalo buku-buku tersebut diatas ya gak bisa dipinjamkan. Hihihi… <


ketika Kesabaran itu diuji

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Siapapun saya yakin, tak ingin menjalani hari dengan keresahan dan ketidakteraturan situasi kondisi tak menentu apalagi jika menyangkut masa depan. Saya tidak membicarakan efek samping dari sebuah pembunuhan karakter secara disengaja atau malah hasil akhir kecanduan narkoba. Hanya saja harus saya akui bahwa untuk kali ini adalah cobaan terberat yang diberikan Tuhan.

Ketika dana yang tersedia makin menipis dan tak ada hal lain yang mampu kita lakukan, boleh jadi tingkat kekalutan pikiran kita bertambah satu strip. Ketika berbagai cobaan datang yang menuntut kita untuk menghabiskan dana itu pelan tapi pasti dan tak memungkinkan kita untuk menolaknya, maka bertambahlah satu strip lagi…. fiuuuhh…. Sungguh Tiada henti.

Menggantungkan hidup hanya dari gaji seorang pegawai negeri, ternyata bukanlah satu keputusan yang tepat. Apalagi kini saya telah hidup dalam keluarga kecil dengan satu putri yang kian lucu dan mulai membutuhkan dana besar terutama untuk kesehatannya, ditambah beberapa kewajiban sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari persoalan duit dan duit….

Memutuskan untuk melanjutkan kuliah pada jenjang lanjutan sekiranya juga bukan keputusan yang tepat karena pada saat yang sama, kehadiran buah hati membutuhkan dana yang jauh lebih besar. Tapi siapa yang bisa menduga jika saya berada dalam kondisi ini hari ini ?

Ah, kenapa saya jadi cengeng begini ? Setidaknya saya masih dikaruniai hidup sehat secara pribadi walaupun satu persatu kesialan menghampiri. Setidaknya saya masih diijinkan untuk menghirup udara dengan gratis walaupun biaya pendidikan dan keseharian yang tetap saja tinggi. Setidaknya saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebersamaan bersama Istri yang baik dan putri yang lucu, sedangkan diluar sana masih banyak yang berharap bisa merasakan kebahagiaan ini…

Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjaga dana keuangan bisa tetap stabil… Sekalipun itu dengan menjual satu persatu apa yang saya miliki.

Mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar atau menjadi seseorang yang istimewa bukanlah tujuan hidup saya sejauh ini. Walaupun begitu tetap saja nafas terasa ngos-ngosan padahal hari belumlah setua seharusnya. Benar-benar saya merasa kelelahan untuk hari demi hari yang saya jalani belakangan ini.

Pikiran terus saja melayang, apakah saya mampu untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi putri saya kelak ? menjadi seorang suami yang baik bagi Istri saya lahir dan bathin ? menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang masih utuh dan menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya ?

Akhirnya saya merasakan jua bahwa bokek adalah satu kondisi yang sangat tidak menyehatkan bagi jiwa…..


IdoLa masa LaLu

2

Category : tentang KHayaLan

Siapa sih anak-anak yang besar pada tahun 80-an gak kenal dua sosok ‘pahlawan’ berikut ini ? He….

Ksatria Baja Hitam RX daaaannnn…..

Gaaaabaaaaan…..

Saebariaaaaan….. (dengan gaya Shincan kalo lagi berpose ala Pahlawan Bertopeng) Huhahahaha…..


Karcis Parkir 2007 ? Kok Bisa ?

8

Category : tentang KeseHaRian

Jumat lalu sepulang mencuci mobil di gatsu, iseng saya buka kotak dashboard mobil. Isinya lumayan banyak, dari alat tulis yang dulu senantiasa saya bawa kalo lagi mampir ke lokasi proyek sembari pulang kampung, benda-benda kecilbaut mur dan juga obeng, serta puluhan karcis parkir yang saya kumpulkan sedari awal Januari lalu. Kali aja bisa dikirim ke PD Parkir buat ngedapetin hadiah undiannya….

Meneliti satu persatu karcis parkir yang saya dapatkan, ternyata saya baru tahu kalo karcis parkir yang selama ini saya kumpulkan ada dua kategori. Karcis Parkir di tempat Umum –pinggir jalan raya- dan Karcis Parkir di tempat Khusus –Clandys, Tiara Dewata dsb-.

Yang jauh lebih menarik lagi, untuk karcis parkir di tempat umum, ada tiga seri yang saya dapatkan, yaitu Seri A, B, dan C. Sedangkan yang parkir Khusus selain dua tempat yang saya sebutkan tadi, ada juga seri U. Entah apa maksudnya…


Iseng saya bolak balikkan karcis-karcis parkir tersebut…. Isinya masih sama. Ada yang menampilkan iming-iming hadiah 1 unit Mobil, ada juga yang masih menampilkan penukaran sejumlah karcis dengan sembako. ….dan…. untuk sesaat saya sempat tak percaya…

Pengundian Karcis Periode I , dari 1 April s/d 30 Juni 2007.


2007 ????

Kok bisa ?

Ini kan sudah tahun 2009 ? bagaimana mungkin karcis yang sudah begitu lama usianya masih beredar di masyarakat ? Apakah itu stok lama dari PD Parkir yang harus dihabiskan ? Apakah itu sisa-sisa tahun 2007 yang diloakkan, trus disalahgunakan untuk kepentingan pribadi ? Trus kira-kira kemana dong, dana parkir yang didapat dengan mengandalkan karcis parkir tahun 2007-an tersebut ? Apakah masyarakat masih berhak untuk mendapatkan sembako atau 1 unit mobil, seperti yang diiming-imingkan ? Saya malah jadi bertanya-tanya….

Ah, seperti biasanya…. Jika masyarakat tidak jeli, begitu mudah dibohongi….

Apakah tidak ada cara yang lebih efektif yang dapat dilakukan oleh PD Parkir untuk meyakinkan bahwa dana parkir yang didapat dari masyarakat memang benar digunakan kembali untuk kepentingan rakyat ?

Apakah tidak ada cara yang lebih efektif yang dapat dilakukan oleh PD Parkir untuk meyakinkan bahwa karcis parkir yang digunakan oleh setiap juru parkir diseantero kota Denpasar, adalah edisi resmi tahun ini ?

halah…


ViLLa Maya Sayang KuTa

3

Category : tentang PLeSiran

Sebelumnya, perlu saya jelaskan dulu bahwa tulisan ini bukanlah bersifat promosi dari sebuah tempat yang berlokasi di seputaran Kuta, hanya sebatas mengenang masa lalu. Masa dimana saya masih bekerja pada orang Jepang sekitar tahun 2003 lalu bersama dua orang rekan yang kini telah menjadi suami-istri, Ary karuna dan Surya Dewi.

Salah satu perencanaan untuk kegiatan fisik yang diambil waktu itu adalah Villa Maya Sayang. Sebuah areal yang berisikan beberapa buah Villa dengan style Bali sederhana lengkap dengan kolam renang kecil pada tiap-tiap Villa yang disediakan.

Pada sisi paling depan, terdapat sebuah Bar dan Restaurant berlantai 2, yang saat perencanaan waktu lalu menjadi pemicu utama bagi saya untuk memutuskan resign dari tempat bekerja.

Si orang Jepang ngotot meminta desain Bar dan Restaurant berbahan dasar kayu dengan jarak antara dua tiang struktur (modul) adalah 12 meter (dengan alasan bahwa di negaranya adalah bukan hal yang mustahil). Satu hal yang saya sanggah waktu itu, sangat sulit untuk bisa diwujudkan disini dengan hanya mengandalkan tiang kayu berukuran diameter 10 cm. Karena tidak jua menemukan solusinya, sayapun menyerahkan sepenuhnya kepada si Jepang. He… daripada repot dan dituding tidak mampu….

Yah, bersyukur banget begitu saya Resign langsung dikaruniai sebuah SK CPNS oleh-Nya. Jadi, saat-saat lowong gak bekerjapun masih bisa dilewati dengan senyum optimis…. Jadi masa menunggu….

Hampir enam tahun masa itu telah terlewati. Kini Villa tersebut telah berdiri sesuai dengan Perencanaan yang dibuat, hanya saja ada perbedaan mendasar antara desain dan bangunan fisik yang ada kini.

Bar and Restaurant Villa Maya Sayang pada desain perencanaan dibuat terbuka, dan ‘isinya’ terlihat dari luar. Sedang yang terbangun sekarang hanya konsepnya yang ‘terbuka’ dengan banyaknya jendela disekeliling bangunan. Tiang atau kolom strukturnya pun berubaha, dahi bahan kayu dengan diameter 10 cm, menjadi beton yang dibalut bahan kayu terkini…

Kagum juga jadinya. Gak nyangka kalo saya dahulunya pernah punya mimpi pada desain ini. He….


SIXSMA tentang PanDe Kodok

5

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KuLiah

Teman-teman memanggil saya, PanDe Kodok.

Nama yang saya sandang sejak SMP itu ternyata masih tetap dipakai begitu saya memasuki masa-masa SMA di SMAN 6 Denpasar atau SIXSMA.

Saya menjatuhkan pilihan pada sekolah ini sebagai pilihan pertama, selain SMAN 7 Denpasar, atas dasar Nilai Ebtanas Murni tingkat SMP yang saya dapatkan sangat tidak layak untuk diajukan pada sekolah-sekolah yang berada di seputar Kota Denpasar.

Biasanya jam setengah tujuh pagi, saya telah siap untuk berangkat sekolah. berhubung pada awal-awal masa sekolah saya berangkat dengan sepeda balap, teman setia sejak SMP. Hingga saya bersua dengan seorang anak yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumah. Uco Isnaini.

Uco inilah yang baik hati menolong saya (entah dalam hatinya ngerasa dongkol atau mangkel, he….), mengijinkan untuk ikutan nebeng sampe disekolahan nan jauh di daerah Sanur. Dalam perkembangannya, Uco bukanlah satu-satunya teman yang saya mintakan tolong dalam usaha nebeng dari/ke sekolahan.

Baru pada tahun ketiga, saya diijinkan oleh ortu untuk membawa sepeda motor sendiri, atas dasar bahwa saya telah berusia 17 tahun dan pada tahun tersebut mulai ada les tambahan sepulang sekolah sebagai persiapan ujian Ebtanas. Motor saya itu adalah Astrea Honda 800. Walopun butut, setidaknya motor tersebut masih setia menemani saya hingga tahun 1998, menjalani bangku kuliah… di Bukit Jimbaran pula.

Ibu Guru Astiti, Guru yang mengajarkan mata pelajaran Kimia saat saya duduk dibangku tahun pertama, adalah satu-satunya guru favorit saya hingga tahap kelulusan. Sebaliknya terjadi pada sebagian besar teman-teman saya hanya karena cara mengajar BeLiau yang sering membentak siswa.

Mengapa bisa menjadi favorit, karena BeLiau ini adalah satu-satunya guru yang mampu mengajarkan Kimia dengan ces pleng hingga membuahkan angka 10 pada Raport yang saya terima. Angka yang bagi saya sangat fenomenal. Pertama kali dalam sejarah hidup saya. “Gila kamu” ungkap teman-teman saya saat itu…

Ruang BP, merupakan ruang yang paling sering saya masuki. Bukan lantaran dipanggil karena melakukan perbuatan salah, tapi untuk hunting data pribadi gadis-gadis pujaan dalam sekolah kami. Sangat mudah bagi saya untuk mendapatkan nama lengkap, tanggal lahir, alamat tempat tinggal dan nomor telepon mereka. Sayangnya, walaupun saya telah berusaha dengan keras, tak satupun dari gadis-gadis yang saya tembak mau menerima ‘cinta saya apa adanya’. Huahahaha…..

Ohya, saya bukanlah tergolong siswa yang populer dari segi kharismanya. Bahkan bisa dikatakan saya adalah ‘nobody’ saat itu. Seperti yang saya katakan diatas bahwa pada tahun ketiga saya baru diperbolehkan menggunakan sepeda motor yaitu Honda Astrea 800. Silahkan membayangkan apabila badan saya yang sudah tinggi besar, harus menunggangi motor hingga ke jok bagian belakang, untuk menampung kaki saya agar tak keluar ‘area. Pantas saja, tak satupun gadis pujaan yang mau melirik saya saat itu. Hiks….

Masa SMA lebih banyak saya lewati dengan mengikuti extra kurikuler Jurnalistik bersama rekan saya Eko Hariyanto dan ALit Wisnawa yang belakangan mengundurkan diri setelah ia dipilih sebagai Ketua OSIS angkatan kami. Kegiatan ini tidak saja mengantarkan saya pada sebuah pengalaman terjun sebagai wartawan sekolah pada sebuah tabloid remaja Wiyata Mandala angkatan ke-2, dibawah bimbingan I Gusti Putu Artha. BeLiau ini belakangan menjadi salah seorang Anggota KPU Bali.

Selain Jurnalistik, satu kegiatan extra kurikuler yang saya sempat ikuti adalah Menabuh. Berhubung saat itu sekolah kami belum menyediakan sarana dan prasarananya, maka kegiatan ini dilaksanakan dengan meminjam tempat dan peralatan di sebuah instansi militer kawasan Jalan Jendral Sudirman.

Selama tiga tahun masa sekolah saya di SMAN 6 Denpasar, tampaknya bintang dilangit jatuh tak jauh dari saya. Ini dibuktikan dengan hadirnya lima piagam penghargaan dari sekolah atas prestasi yang saya buat sejak tahun pertama hingga tahun ketiga.

Pada Tahun pertama, saya tampil sebagai Juara 2 peringkat kelas (I2). Pada Tahun kedua, saya meraih Juara 1 Peringkat Kelas (II A1 – Fisika) sekaligus Juara Umum Kedua pada peringkat sekolah. Pada Tahun ketiga, saya meraih Juara II Peringkat Kelas dalam bidang Ilmu Fisika (III A1) sekaligus Peringkat III Umum hasil nilai Ebtanas.

Bila dilihat secara umum kemampuan siswa se-Kota Denpasar, bisa dikatakan apa yang saya raih seperti tersebut diatas, bukanlah sebuah hasil yang mengagumkan. Karena setelah saya telusuri, nilai NEM yang saya dapatkan apabila dibandingkan dengan nilai NEM siswa di sekolah seperti SMAN 1 (Smansa) atau SMAN 4 (Foursma), bisa dikatakan merupakan nilai terendah disekolah Top Markotop ini.

Sebaliknya bagi saya pribadi, apa yang saya capai selama tiga tahun masa SMA ini adalah yang terbaik yang pernah saya lakukan. Untuk hal itu pula, pada akhirnya atas bimbingan seorang guru terbaik, Pak Oka (maaf saya lupa namanya) guru yang mengajar mata pelajaran Matematika, sayapun mampu lolos menuju bangku perkuliahan lewat jalur PMDK.

Kabarnya, saya adalah Siswa pertama dalam sejarah SMAN 6 Denpasar (saat itu tahun 1995) dan Satu-satunya siswa pada angkatan saya yang mampu lolos menuju Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur Minat dan Kemampuan. Atas dasar itu pula, Pak Oka dan dua orang guru, datang kerumah berusaha mewanti-wanti orang tua saya, agar saya mau melanjutkan apa yang telah saya peroleh tersebut.

Mengapa mereka sampe mewanti-wanti orang tua agar membujuk saya ? Karena pada waktu yang sama, saya tidak berada dirumah, sedang belajar mengemudi bersama dua sepupu saya dan sebelum pulang masih sempat main ding dong di New Dewata Ayu. He…. Waktu itu kan blom ada ponsel ?