Benny & Mice so far by PanDe Baik

4

Category : tentang InSPiRasi

Setelah melahap satu persatu kumpulan kartun strip Benny & Mice sejauh ini, kini tiba saatnya saya menampilkan mereka kembali satu persatu. He…. Kali aja masih ada yang penasaran. Kok saya ini begitu memuja-muji Benny & Mice sih ?

***

Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah Benny & Mice “Lagak Jakarta” edisi koleksi bagian 1. Isinya merupakan kumpulan kartun strip dari tiga buah buku atau tema yang telah diterbitkan sepuluhan tahun lalu, yaitu “Trend & Perilaku” by Mice, “Transportasi” by Benny dan “Profesi” by Benny. Bagi yang penasaran silahkan melihat kembali tulisan saya sebelumnya, disini.


***

Buku kedua ini merupakan edisi koleksi lanjutan “Lagak Jakarta” diatas. Pula merupakan kumpulan strip kartun ala Benny & Mice dari tiga buku atau tema berkisar saat Indonesia dilanda krisis dan perubahan tempo hari. Meliputi “Krisis… oh… Krisis”, “Reformasi” dan “(Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu’99”. Disini kegetiran hidup yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia di waktu lalu, dikemas dalam coretan yang cukup embuat senyum dikulum. Silahkan melihatnya kembali pada tulisan saya sebelumnya, disini.

***

Buku ketiga dari kartun strip Benny & Mice yang saya rekomendasikan adalah “Jakarta Luar Dalem”. Isinya kurang lebih mirip dengan “Lagak Jakarta” edisi koleksi bagian 2. Kritik terkait Trend bergaya masyarakat lokal, kecanggihan teknologi ponsel, hingga kuliner yang lagi nge-boom tak lupa tentang Puasa dan budaya pulang kampungnya. Beberapa hal yang ‘mengena’ bagi saya pribadi sudah pula pernah saya tuliskan, disini.

***

Buku keempat kumpulan kartun strip ala Benny & Mice yang pernah pula diterbitkan setiap hari Minggu dalam media Kompas, adalah “Jakarta Atas Bawah”. Saya sarankan sebelum menikmati buku ini, mohon STOP mengernyitkan dahi terlebih dahulu. Bersiaplah untuk tertawa lepas, karena disini gak ada lagi yang namanya tema tertentu. Apa yang akan digoreskan berikutnya pun belum tentu bisa ditebak bertemakan apa. Hehehe…. Hal-hal yang gak jelas dan malahan bikin ketawa ngakak dalam buku inipun gak lepas untuk saya tuliskan, disini.

***

Buku kelima yang bisa saya sarankan kembali dari Benny & Mice adalah “100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta”. Bagi mereka yang tidak memiliki selera humor dalam menertawakan diri sendiri, sangat tidak disarankan membuka apalagi menikmati buku ini saat tegang, saat stress karena beban pekerjaan misalnya. Sebaliknya bagi saya pribadi, seperti yang saya ungkap dalam tulisan sebelumnya, disini, inilah saat dimana saya harus bersiap untuk bisa menertawakan diri sendiri. Karena profesi saya  (PNS) ternyata termasuk dalam daftar “100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta”. Huehehehe….

***

Buku keenam agaknya jauh lebih mengkhusus pada satu tema tertentu, yaitu “Talk about HaPe”. Kumpulan kartun ala Benny & Mice ini terbagi atas enam ulasan yaitu ‘Handset’, ‘Operator’, ‘Pulsa’, ‘SmS’, ‘Perilaku’ dan ‘Fitur’. Kisaran coretannya sendiri sangat mengena bagi saya pribadi -silahkan mampir dalam tulisan saya, disini– Mungkin karena masyarakat kita terkenal akan budaya ‘Gengsi dong, kalo gak punya hape canggih’ –termasuk saya tentunya-.

Sayangnya buku ini hanya sempat mengisahkan perjalanan hingga era rilisan Nokia Communicator seri E-90. Belum sampai ke Blackberry. Saya malahan jadi membayangkan kritikan ala Benny & Mice yang menggambarkan ‘bergaya dengan Blackberry tapi cuman buat sms-an doang’. Huahahaha…..

***

Buku ketujuh atau terakhir yang saya tahu dan rekomendasikan, merupakan buku rilisan terakhir dari Benny & Mice kalo tidak salah. “Lost in Bali”. Walaupun rilis terakhir, tapi buku ini adalah buku kartun ala Benny & Mice yang pertama saya baca. Tulisan sayapun, disini, adalah yang pertama berceloteh tentang kelucuan goresan ala Benny & Mice. Tentang Bali dan budayanya tentu.

***

So, sejauh ini ya hanya tujuh buku itu saja yang bisa saya rekomendasikan sebagai buku ‘Must Have’ dan ‘Must Read’. Hehehe…

> Pssstt…. Berhubung PanDe Baik sendiri bukanlah pemilik ketujuh buku diatas, tapi cuman dapet dari pinjam pada sodara sepupu, Mahendra Sila -yang kalo ndak salah saat Workshop bareng Benny kemaren, dia mendapatkan juara tiga untuk lomba gambar kartun Benny- jadi mohon maaf kalo buku-buku tersebut diatas ya gak bisa dipinjamkan. Hihihi… <

ketika Kesabaran itu diuji

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Siapapun saya yakin, tak ingin menjalani hari dengan keresahan dan ketidakteraturan situasi kondisi tak menentu apalagi jika menyangkut masa depan. Saya tidak membicarakan efek samping dari sebuah pembunuhan karakter secara disengaja atau malah hasil akhir kecanduan narkoba. Hanya saja harus saya akui bahwa untuk kali ini adalah cobaan terberat yang diberikan Tuhan.

Ketika dana yang tersedia makin menipis dan tak ada hal lain yang mampu kita lakukan, boleh jadi tingkat kekalutan pikiran kita bertambah satu strip. Ketika berbagai cobaan datang yang menuntut kita untuk menghabiskan dana itu pelan tapi pasti dan tak memungkinkan kita untuk menolaknya, maka bertambahlah satu strip lagi…. fiuuuhh…. Sungguh Tiada henti.

Menggantungkan hidup hanya dari gaji seorang pegawai negeri, ternyata bukanlah satu keputusan yang tepat. Apalagi kini saya telah hidup dalam keluarga kecil dengan satu putri yang kian lucu dan mulai membutuhkan dana besar terutama untuk kesehatannya, ditambah beberapa kewajiban sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari persoalan duit dan duit….

Memutuskan untuk melanjutkan kuliah pada jenjang lanjutan sekiranya juga bukan keputusan yang tepat karena pada saat yang sama, kehadiran buah hati membutuhkan dana yang jauh lebih besar. Tapi siapa yang bisa menduga jika saya berada dalam kondisi ini hari ini ?

Ah, kenapa saya jadi cengeng begini ? Setidaknya saya masih dikaruniai hidup sehat secara pribadi walaupun satu persatu kesialan menghampiri. Setidaknya saya masih diijinkan untuk menghirup udara dengan gratis walaupun biaya pendidikan dan keseharian yang tetap saja tinggi. Setidaknya saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebersamaan bersama Istri yang baik dan putri yang lucu, sedangkan diluar sana masih banyak yang berharap bisa merasakan kebahagiaan ini…

Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjaga dana keuangan bisa tetap stabil… Sekalipun itu dengan menjual satu persatu apa yang saya miliki.

Mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar atau menjadi seseorang yang istimewa bukanlah tujuan hidup saya sejauh ini. Walaupun begitu tetap saja nafas terasa ngos-ngosan padahal hari belumlah setua seharusnya. Benar-benar saya merasa kelelahan untuk hari demi hari yang saya jalani belakangan ini.

Pikiran terus saja melayang, apakah saya mampu untuk menjadi seorang ayah yang baik bagi putri saya kelak ? menjadi seorang suami yang baik bagi Istri saya lahir dan bathin ? menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang masih utuh dan menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya ?

Akhirnya saya merasakan jua bahwa bokek adalah satu kondisi yang sangat tidak menyehatkan bagi jiwa…..

IdoLa masa LaLu

2

Category : tentang KHayaLan

Siapa sih anak-anak yang besar pada tahun 80-an gak kenal dua sosok ‘pahlawan’ berikut ini ? He….

Ksatria Baja Hitam RX daaaannnn…..

Gaaaabaaaaan…..

Saebariaaaaan….. (dengan gaya Shincan kalo lagi berpose ala Pahlawan Bertopeng) Huhahahaha…..

Karcis Parkir 2007 ? Kok Bisa ?

8

Category : tentang KeseHaRian

Jumat lalu sepulang mencuci mobil di gatsu, iseng saya buka kotak dashboard mobil. Isinya lumayan banyak, dari alat tulis yang dulu senantiasa saya bawa kalo lagi mampir ke lokasi proyek sembari pulang kampung, benda-benda kecilbaut mur dan juga obeng, serta puluhan karcis parkir yang saya kumpulkan sedari awal Januari lalu. Kali aja bisa dikirim ke PD Parkir buat ngedapetin hadiah undiannya….

Meneliti satu persatu karcis parkir yang saya dapatkan, ternyata saya baru tahu kalo karcis parkir yang selama ini saya kumpulkan ada dua kategori. Karcis Parkir di tempat Umum –pinggir jalan raya- dan Karcis Parkir di tempat Khusus –Clandys, Tiara Dewata dsb-.

Yang jauh lebih menarik lagi, untuk karcis parkir di tempat umum, ada tiga seri yang saya dapatkan, yaitu Seri A, B, dan C. Sedangkan yang parkir Khusus selain dua tempat yang saya sebutkan tadi, ada juga seri U. Entah apa maksudnya…


Iseng saya bolak balikkan karcis-karcis parkir tersebut…. Isinya masih sama. Ada yang menampilkan iming-iming hadiah 1 unit Mobil, ada juga yang masih menampilkan penukaran sejumlah karcis dengan sembako. ….dan…. untuk sesaat saya sempat tak percaya…

Pengundian Karcis Periode I , dari 1 April s/d 30 Juni 2007.


2007 ????

Kok bisa ?

Ini kan sudah tahun 2009 ? bagaimana mungkin karcis yang sudah begitu lama usianya masih beredar di masyarakat ? Apakah itu stok lama dari PD Parkir yang harus dihabiskan ? Apakah itu sisa-sisa tahun 2007 yang diloakkan, trus disalahgunakan untuk kepentingan pribadi ? Trus kira-kira kemana dong, dana parkir yang didapat dengan mengandalkan karcis parkir tahun 2007-an tersebut ? Apakah masyarakat masih berhak untuk mendapatkan sembako atau 1 unit mobil, seperti yang diiming-imingkan ? Saya malah jadi bertanya-tanya….

Ah, seperti biasanya…. Jika masyarakat tidak jeli, begitu mudah dibohongi….

Apakah tidak ada cara yang lebih efektif yang dapat dilakukan oleh PD Parkir untuk meyakinkan bahwa dana parkir yang didapat dari masyarakat memang benar digunakan kembali untuk kepentingan rakyat ?

Apakah tidak ada cara yang lebih efektif yang dapat dilakukan oleh PD Parkir untuk meyakinkan bahwa karcis parkir yang digunakan oleh setiap juru parkir diseantero kota Denpasar, adalah edisi resmi tahun ini ?

halah…

ViLLa Maya Sayang KuTa

3

Category : tentang PLeSiran

Sebelumnya, perlu saya jelaskan dulu bahwa tulisan ini bukanlah bersifat promosi dari sebuah tempat yang berlokasi di seputaran Kuta, hanya sebatas mengenang masa lalu. Masa dimana saya masih bekerja pada orang Jepang sekitar tahun 2003 lalu bersama dua orang rekan yang kini telah menjadi suami-istri, Ary karuna dan Surya Dewi.

Salah satu perencanaan untuk kegiatan fisik yang diambil waktu itu adalah Villa Maya Sayang. Sebuah areal yang berisikan beberapa buah Villa dengan style Bali sederhana lengkap dengan kolam renang kecil pada tiap-tiap Villa yang disediakan.

Pada sisi paling depan, terdapat sebuah Bar dan Restaurant berlantai 2, yang saat perencanaan waktu lalu menjadi pemicu utama bagi saya untuk memutuskan resign dari tempat bekerja.

Si orang Jepang ngotot meminta desain Bar dan Restaurant berbahan dasar kayu dengan jarak antara dua tiang struktur (modul) adalah 12 meter (dengan alasan bahwa di negaranya adalah bukan hal yang mustahil). Satu hal yang saya sanggah waktu itu, sangat sulit untuk bisa diwujudkan disini dengan hanya mengandalkan tiang kayu berukuran diameter 10 cm. Karena tidak jua menemukan solusinya, sayapun menyerahkan sepenuhnya kepada si Jepang. He… daripada repot dan dituding tidak mampu….

Yah, bersyukur banget begitu saya Resign langsung dikaruniai sebuah SK CPNS oleh-Nya. Jadi, saat-saat lowong gak bekerjapun masih bisa dilewati dengan senyum optimis…. Jadi masa menunggu….

Hampir enam tahun masa itu telah terlewati. Kini Villa tersebut telah berdiri sesuai dengan Perencanaan yang dibuat, hanya saja ada perbedaan mendasar antara desain dan bangunan fisik yang ada kini.

Bar and Restaurant Villa Maya Sayang pada desain perencanaan dibuat terbuka, dan ‘isinya’ terlihat dari luar. Sedang yang terbangun sekarang hanya konsepnya yang ‘terbuka’ dengan banyaknya jendela disekeliling bangunan. Tiang atau kolom strukturnya pun berubaha, dahi bahan kayu dengan diameter 10 cm, menjadi beton yang dibalut bahan kayu terkini…

Kagum juga jadinya. Gak nyangka kalo saya dahulunya pernah punya mimpi pada desain ini. He….

SIXSMA tentang PanDe Kodok

5

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang KuLiah

Teman-teman memanggil saya, PanDe Kodok.

Nama yang saya sandang sejak SMP itu ternyata masih tetap dipakai begitu saya memasuki masa-masa SMA di SMAN 6 Denpasar atau SIXSMA.

Saya menjatuhkan pilihan pada sekolah ini sebagai pilihan pertama, selain SMAN 7 Denpasar, atas dasar Nilai Ebtanas Murni tingkat SMP yang saya dapatkan sangat tidak layak untuk diajukan pada sekolah-sekolah yang berada di seputar Kota Denpasar.

Biasanya jam setengah tujuh pagi, saya telah siap untuk berangkat sekolah. berhubung pada awal-awal masa sekolah saya berangkat dengan sepeda balap, teman setia sejak SMP. Hingga saya bersua dengan seorang anak yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumah. Uco Isnaini.

Uco inilah yang baik hati menolong saya (entah dalam hatinya ngerasa dongkol atau mangkel, he….), mengijinkan untuk ikutan nebeng sampe disekolahan nan jauh di daerah Sanur. Dalam perkembangannya, Uco bukanlah satu-satunya teman yang saya mintakan tolong dalam usaha nebeng dari/ke sekolahan.

Baru pada tahun ketiga, saya diijinkan oleh ortu untuk membawa sepeda motor sendiri, atas dasar bahwa saya telah berusia 17 tahun dan pada tahun tersebut mulai ada les tambahan sepulang sekolah sebagai persiapan ujian Ebtanas. Motor saya itu adalah Astrea Honda 800. Walopun butut, setidaknya motor tersebut masih setia menemani saya hingga tahun 1998, menjalani bangku kuliah… di Bukit Jimbaran pula.

Ibu Guru Astiti, Guru yang mengajarkan mata pelajaran Kimia saat saya duduk dibangku tahun pertama, adalah satu-satunya guru favorit saya hingga tahap kelulusan. Sebaliknya terjadi pada sebagian besar teman-teman saya hanya karena cara mengajar BeLiau yang sering membentak siswa.

Mengapa bisa menjadi favorit, karena BeLiau ini adalah satu-satunya guru yang mampu mengajarkan Kimia dengan ces pleng hingga membuahkan angka 10 pada Raport yang saya terima. Angka yang bagi saya sangat fenomenal. Pertama kali dalam sejarah hidup saya. “Gila kamu” ungkap teman-teman saya saat itu…

Ruang BP, merupakan ruang yang paling sering saya masuki. Bukan lantaran dipanggil karena melakukan perbuatan salah, tapi untuk hunting data pribadi gadis-gadis pujaan dalam sekolah kami. Sangat mudah bagi saya untuk mendapatkan nama lengkap, tanggal lahir, alamat tempat tinggal dan nomor telepon mereka. Sayangnya, walaupun saya telah berusaha dengan keras, tak satupun dari gadis-gadis yang saya tembak mau menerima ‘cinta saya apa adanya’. Huahahaha…..

Ohya, saya bukanlah tergolong siswa yang populer dari segi kharismanya. Bahkan bisa dikatakan saya adalah ‘nobody’ saat itu. Seperti yang saya katakan diatas bahwa pada tahun ketiga saya baru diperbolehkan menggunakan sepeda motor yaitu Honda Astrea 800. Silahkan membayangkan apabila badan saya yang sudah tinggi besar, harus menunggangi motor hingga ke jok bagian belakang, untuk menampung kaki saya agar tak keluar ‘area. Pantas saja, tak satupun gadis pujaan yang mau melirik saya saat itu. Hiks….

Masa SMA lebih banyak saya lewati dengan mengikuti extra kurikuler Jurnalistik bersama rekan saya Eko Hariyanto dan ALit Wisnawa yang belakangan mengundurkan diri setelah ia dipilih sebagai Ketua OSIS angkatan kami. Kegiatan ini tidak saja mengantarkan saya pada sebuah pengalaman terjun sebagai wartawan sekolah pada sebuah tabloid remaja Wiyata Mandala angkatan ke-2, dibawah bimbingan I Gusti Putu Artha. BeLiau ini belakangan menjadi salah seorang Anggota KPU Bali.

Selain Jurnalistik, satu kegiatan extra kurikuler yang saya sempat ikuti adalah Menabuh. Berhubung saat itu sekolah kami belum menyediakan sarana dan prasarananya, maka kegiatan ini dilaksanakan dengan meminjam tempat dan peralatan di sebuah instansi militer kawasan Jalan Jendral Sudirman.

Selama tiga tahun masa sekolah saya di SMAN 6 Denpasar, tampaknya bintang dilangit jatuh tak jauh dari saya. Ini dibuktikan dengan hadirnya lima piagam penghargaan dari sekolah atas prestasi yang saya buat sejak tahun pertama hingga tahun ketiga.

Pada Tahun pertama, saya tampil sebagai Juara 2 peringkat kelas (I2). Pada Tahun kedua, saya meraih Juara 1 Peringkat Kelas (II A1 – Fisika) sekaligus Juara Umum Kedua pada peringkat sekolah. Pada Tahun ketiga, saya meraih Juara II Peringkat Kelas dalam bidang Ilmu Fisika (III A1) sekaligus Peringkat III Umum hasil nilai Ebtanas.

Bila dilihat secara umum kemampuan siswa se-Kota Denpasar, bisa dikatakan apa yang saya raih seperti tersebut diatas, bukanlah sebuah hasil yang mengagumkan. Karena setelah saya telusuri, nilai NEM yang saya dapatkan apabila dibandingkan dengan nilai NEM siswa di sekolah seperti SMAN 1 (Smansa) atau SMAN 4 (Foursma), bisa dikatakan merupakan nilai terendah disekolah Top Markotop ini.

Sebaliknya bagi saya pribadi, apa yang saya capai selama tiga tahun masa SMA ini adalah yang terbaik yang pernah saya lakukan. Untuk hal itu pula, pada akhirnya atas bimbingan seorang guru terbaik, Pak Oka (maaf saya lupa namanya) guru yang mengajar mata pelajaran Matematika, sayapun mampu lolos menuju bangku perkuliahan lewat jalur PMDK.

Kabarnya, saya adalah Siswa pertama dalam sejarah SMAN 6 Denpasar (saat itu tahun 1995) dan Satu-satunya siswa pada angkatan saya yang mampu lolos menuju Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur Minat dan Kemampuan. Atas dasar itu pula, Pak Oka dan dua orang guru, datang kerumah berusaha mewanti-wanti orang tua saya, agar saya mau melanjutkan apa yang telah saya peroleh tersebut.

Mengapa mereka sampe mewanti-wanti orang tua agar membujuk saya ? Karena pada waktu yang sama, saya tidak berada dirumah, sedang belajar mengemudi bersama dua sepupu saya dan sebelum pulang masih sempat main ding dong di New Dewata Ayu. He…. Waktu itu kan blom ada ponsel ?

SIXSMA Apa Kabar Sahabat ?

22

Category : tentang KeseHaRian, tentang KuLiah

Seperti halnya ‘Laskar Pelangi’, kompaknya teman dan juga sahabat, perlahan bisa saya temui pada masa bersekolah di SMAN 6 Denpasar. Kekompakan itu baru bisa saya rasakan semenjak dimulainya penjurusan ke bidang A1 (Fisika) sedari kelas II hingga kelulusan.

Dari yang hobinya gak jelas yaitu menggosok-gosokkan tangan pada tembok sekolah, yang bahan obrolannya selalu berbau agama, yang sok playboy, yang punya julukan bisnismen karena ia mewarisi usaha ayahnya dan seperti halnya cerita novel, ada juga yang punya hobi mengikuti trend dan teknologi terkini. Tak banyak memang yang bisa bertahan.

Satu persatu mereka menghilang pasca kelulusan kami. Hanya satu dua orang yang masih bisa kontak dengan baik, sisanya kabur entah kemana. Lewat Facebook, saya bisa menemukan mereka kembali satu persatu. So, Thanks to Facebook.

Memang…. belum semua bisa saya temukan.

Agus Suadnyana, orang yang dahulunya selalu mengikuti trend anak muda, yang mengenalkan saya pada beberapa musisi cadas jaman itu, kini telah menjadi seorang fotografer yang ternyata masih menyukai teknologi terkini. Satu diantaranya adalah gadget iPhone.

Eko Hariyanto, teman yang selalu mendampingi saya dalam soal jurnalistik, kalo ndak salah kini menjadi seorang Tour Guide pada perusahaan Pacto, telah pula dikaruniai baby yang lucu.

Uco Isnaini, teman yang baik hati memberikan tumpangan pada saya dengan motornya kini telah merambah Jakarta dengan perubahan pada wajahnya. Makin tembem. He… Setelah beristri dengan 2 Entah apakah kini ia masih hobi main Band atau tidak…

Artha Wijaya, kami memanggilnya GerTox, usai kelulusan kabarnya ia kembali ke tempat asalnya, Palu. Kini telah menjabat sebagai Kasie Geologi Bidang Sumberdaya Mineral pada Dinas Perindustrian, Energi dan Sumberdaya Mineral di Tolitoli sana.

Kadek Egga Sanjaya. The Maestro, pembuat gambar -siluet Einstein pada tembok sisi belakang kelas kami. Kabarnya ia melanjutkan sekolah di STP Nusa Dua dan kini berstatus menikah dengan 2 anak…

Lima orang inilah yang kini menghiasi daftar teman yang saya miliki lewat Facebook. Walau begitu, ada lagi beberapa rekan yang masih bisa kontak hingga yang kini entah dimana.

Agus Desi Arnawan. Hahahaha… siapa sih yang gak kenal orang satu ini ? satu-satunya orang yang punya hobi aneh seperti yang saya sebutkan tadi diatas, kini masih betah melajang dengan status Single. Kabarnya masih bekerja pada Perusahaan Air Mineral Aqua di Nusa Dua.

Tut Gung Sembung alias Sudiasa. Sobat saya ini termasuk orang yang ulet dalam bekerja. Pada masa saya kuliah, ia sempat menjadi pengusaha daging ayam potong. Tergolong sukses di desanya. Terakhir saya kontak, kabarnya ia sedang mengambil bidang Tour and Travel dan berencana untuk melebarkan sayapnya merambah dunia maya.

Ida Bagus Adnyana. Pemuda sedikit bicara ini pasca kelulusan mengambil perkuliahan di bidang Matematika pada sebuah universitas di Singaraja. Kini BeLiau ini telah menjadi seorang guru Matematika di sebuah Sekolah Menengah Tingkat Pertama kawasan Jalan Kamboja dan masih berstatus Single. Sempat shock juga saat sua BeLiau ini (saya katakan BeLiau karena profesinya sebagai Guru). Peyutnya ndak jauh beda dengan saya. Tambah ndut. Huahahaha….

IDDI. Bukan Ikatan Dokter Dari Indonesia. He… Nama itu barangkali disematkan, lantaran Pria tinggi putih nan tampan ini merupakan putra kedua dari seorang Dokter yang berpraktek di kawasan Panjer. Terakhir saya bersua saat upacara Pernikahannya beberapa waktu lalu, kabarnya ia turun ke Desa asal untuk membuka peternakan Ayam dan Bebek.

Wayan Wiryana alias Pak Tua. Kami menyebutnya begitu, karena memang baik sifat dan perangainya bak seorang Bapak Tua nan bijaksana. Terakhir saya bertemu saat upacara enam bulanan putra pertama saudara sepupu saya, Donny. Saat itu ia masih bekerja pada salah satu perusahaan cabang yang memproduksi Kopi Good Day, favourite saya. He…

Wisna, sang master Boxer. Pria berkulit legam dan berotot kawat tulang besi ini sebenarnya lebih pantas menjadi salah satu Paspampres bagi Presiden kita. Sebaliknya, ia kini merambah dunia konstruksi bekerja sama dengan sang kakak. Terakhir saya bersua, saat ia datang ancul-ancul ke unit kerja yang saya tempati terkait permohonan ijin pemasangan tiang listrik di daerah Kuta Utara.

Surya Wisena, pria lulusan Teknik Sipil Udayana ini, dahulu sempat mengajarkan saya hal-hal aneh ini kini telah menikah dan memilih tinggal di Surabaya, tempat dimana ia bekerja dalam bidang Konstruksi. Ohya, hal aneh itu salah satunya adalah menyuarakan bunyi ngiiiiing yang nyaring dan keras keluar dari lubang hidung setelah menahan nafas beberapa saat. Lumayan bikin heboh waktu itu.

Mayun Suma Budana, pemuda yang selalu berusaha untuk tampil dan berperilaku sesuai adat dan norma agama ini, kabarnya kini dilanda ‘sakit’ yang ‘gak jelas’. Perkiraan saya saat terakhir sua siy, sepertinya sakit yang dideritanya akibat beban pikiran untuk selalu berbuat baik dan benar tadi itu. Hmm.. Semoga saja saya salah.

Yogi. Saya sendiri lupa nama lengkapnya. Kami mengenalnya sebagai salah satu Playboy dari dua biji yang ada di kelas kami. Terakhir saya bersua sekitar tahun 2005 di Yantel Teuku Umar. Sedikit shock melihat rambut panjangnya, tapi dengan bodi yang tetap kurus, saya rasa orang ini malahan keberatan rambut deh sepertinya. Hohoho….

Komang Budiana. Seorang Playboy juga. Pemuda asal Kintamani Bangli ini sebetulnya bertipe polos slengean. Gak banyak yang bisa saya dapatkan infonya, padahal ia merupakan teman sebangku saya pada masa-masa terakhir sekolahan. Nomor ponsel yang ia berikan dahulu, tak bisa saya hubungi lagi. Anyone knows maybe ?

Sebetulnya masih banyak teman yang hingga hari ini belum saya temukan dimana mereka berada, seperti Suastika Madek, Wirya Negara, Fanny, Mulyono, Sugiarta Kuning, Agus Cobra, serta orang-orang yang beneran, saya lupa namanya. Tak lupa barisan cewek-cewek macam Trio Arik AryawatiManik dan Yuli, juga Fenny, Henny, Mastini… ah…. Ada yang tau barangkali ?

Berharap sekali saat kami telah memiliki putra putri remaja kelak, bisa melakukan Reuni sekali-kali. Sekedar kontak dan berbagi, barangkali saja kami bisa berbuat sesuatu untuk Sekolah kami tercinta, SMAN 6 Denpasar…. Semoga saja.

SIXSMA Apa Kabarnya ?

11

Category : tentang KuLiah

Nama yang Aneh. Begitu kira-kira bathin saya saat mengetahui nama pendek sekolah yang saya pilih pada tahun 1992 lalu. Sekolah yang musti saya capai susah payah dengan bersepeda balap dari rumah jalan Nangka ke jalan Hang Tuah Sanur, setiap harinya.

Hampir 14 tahun saya meninggalkan sekolah tersebut dengan sejuta kenangan. Rasanya hari-hari saya dipenuhi senyum dan semangat yang tak pernah pupus hingga hari ini. Ya, masa SMA adalah masa awal yang paling menggembirakan bagi saya. Masa dimana saya bisa berekspresi dengan bebas…. Masa dimana untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan cikal bakal hobi saya kini. Menulis.

Bersama sobat terbaik saya Eko Hariyanto, saya belajar terjun ke dunia Jurnalistik, dipandu oleh IGP Artha yang belakangan saya ketahui bekerja di Bali Post dan kini menjadi anggota KPU Bali. Melanjutkan kiprah majalah sekolah ‘Candra Lekha’ untuk bisa bersaing dengan majalah sekolah lainnya. Satu kenangan manis saya waktu itu adalah, bisa bergabung sebagai wartawan sekolah di Tabloid Wiyata Mandala.

Di sekolah yang hampir dikelilingi sawah kering ini pula, saya dikenal sebagai penggemar berat ‘Iwan Fals’ ditengah gempuran musik metal dan cadas seperti Metallica, Guns N Roses dan Sepultura, saya tetap kukuh pada musisi yang saya idolakan sedari SD.

Sekolah kami ini tergolong unik. Satu-satunya sekolah yang ada fasilitas lapangan bolanya, lapangan golf, kebun semangka dan pemandangan indah sawah nan panas….

Bisa diakses dari jalan Hang Tuah, masuk kearah Selatan pada sebuah jalan rusak sebelah timur Lapangan Pica Sanur. Jalan yang saat musim penghujan selalu banjir, menggenangi jalan hingga setinggi tulang kering kaki meluber hingga lapangan, memaksa kami untuk memutar untuk dapat menuju sekolah.  Kini, jalan tersebut sudah berubah menjadi jalan aspal yang mulus plus tembok pagar mengitari Lapangan…

Pada masa-masa akhir, sekolah kami juga memiliki sebuah ‘kolam arus’, sebuah kolam yang saat itu sedang trend dimana orang bisa berkeliling memutari areal didalamnya dengan bantuan arus air yang berjalan. Belakangan saya baru menyadari kalau ‘kolam arus’ tersebut merupakan sebuah taman yang mengelilingi dua buah tiang listrik bertegangan tinggi, kebetulan berada di tengah areal sekolah kami. Huahahaha….

Kelas kami (A1-Fisika) pada masa akhir, berada didepan ruang Perpustakaan agak jauh dari kelas jurusan lain, A2-Biologi dan A3-Sosial. Kalo tidak salah pernah mendapatkan juara untuk mendekorasi kelas, yang memajang siluet wajah Einstein berbahan Gabus, pada tembok sisi belakang kelas. Tampak mewah terutama saat salah satu dari kami terkena hukuman dari Guru dan dipaksa untuk berdiri didepan kelas… Bisa dengan jelas memandangnya. Huahahaha……  Pada  tahun 1998 -saat saya bersama rekan-rekan Teknik Arsitektur Univ.Udayana memperkenalkan PS.Arsitektur ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Denpasar- ruang kelas kami ini telah berubah fungsi menjadi Ruang Guru dan berlantai 2. Waaahhh….

Walau merupakan anak-anak dari kelas Fisika, yang notabene biasanya merupakan kumpulan orang-orang yang diunggulkan seperti pada sekolah Negeri lainnya, sebaliknya kami adalah sekumpulan anak-anak badung tapi bertanggungjawab. Tak sekali dua, kami dikenai hukuman oleh Guru, disetrap di halaman sekolah, membersihkan kelas dan lainnya untuk perbuatan-perbuatan kami yang diluar akal sehat.

Menaiki Tembok sekolah agar bisa membeli es krim pada seorang pedagang keliling, dan langsung semburat saat ditegur Kepala Sekolah, Ibu Alit Rudriani. Hingga ada teman yang loncat keluar tembok sekolah. Perbuatan kami ini akhirnya menyisakan tanda tanya, siapa siy yang belum membayar es krim ? He… gak ada yang mau ngaku.

Terakhir saya melihat sekolah tercinta ini, kurang lebih tahun 2006, saat pulang dari pantai bersama Istri. Sekedar ingin menunjukkan pada orang yang saya cintai ini bahwa inilah sekolah saya dahulu.

Sekolah yang pada akhirnya mengantarkan saya pada bangku perkuliahan Teknik Arsitektur Udayana lewat jalur PMDK.

Terima Kasih SIXSMA…..