KiLas BaLik PanDe Baik di Tahun 2008 : tentang PanDe Baik

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Gak terasa tahun 2008 bakalan berlalu, tinggal menunggu hitungan jam saja. Ah, rasanya baru kemarin….

Begitu banyak hal yang saya alami di tahun ini, dari kelahiran Putri kami Mirah GayatriDewi, BLoG dengan Domain sendiri, hingga tentu saja Thesis sebagai tahap akhir perkuliahan yang sudah dijajaki walaupun belum resmi saya mulai.

Dalam perjalanan ini pun, saya mengalami banyak perubahan tingkah laku, dan juga tingkat kedewasaan berpikir. Barangkali itu terjadi secara alami seiring datangnya beban dan tanggung jawab yang harus saya pikul demi seorang Putri dan juga Istri.

Keteduhan hati mulai sering menghinggapi keseharian saya. Pengaruh paling besar datangnya dari jenis musik yang saya dengarkan dan sukai setahun terakhir. Dari Kecapi, Rindik, hingga Degung. Jenis Musik Instrumental lokal Bali ini sebetulnya ingin saya dengar hanya saat meninabobokan putri kecil kami. Maklum sedari ia berada di kandunganpun sudah familiar terdengar alunan musik mendayu-dayu, membuat mata sayu dan ikut tertidur.

Hanya sesekali saja, saya mendengarkan musik jaman dahulu yang pernah saya sukai. Dari GNR, Linkin Park, hingga Sepultura. Setelah puas ya balik lagi pada Degung.

Rutinitaspun gak terlalu jauh dari keluarga dan pekerjaan kantor. Sangat jarang saya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial apalagi yang diselenggarakan bersama rekan-rekan Bali Blogger . Termasuk untuk urusan me-Banjar pun kini bisa dikatakan saya makin jarang ikut andil, digantikan kembali untuk sementara oleh ortu, mengingat saya diwajibkan membantu rutinitas Istri dalam merawat Putri kecil kami.

Hanya beberapa kegiatan saja yang rutin masih tetap saya lakukan, satu diantaranya ya meng-update koleksi video 3gp, rm, wmv de el el. Disedot dengan FD 4 GB dari Warnet-warnet terdekat yang sekiranya punya database HD mumpuni full koleksi tersebut. Hahaha….

Selebihnya saya malah jauh lebih menikmati waktu bersama putri kecil kami, yang makin hari makin lucu dan menggemaskan.

Yah, ditahun mendatang, tetap ada beberapa harapan saya bisa diwujudkan dengan baik, diantaranya ya menyelesaikan Thesis dan diwisuda, agar tak menguras kantong saya lebih jauh hanya untuk membayar SPP tiap semesteran. Ini saya jadikan prioritas paling utama, berhubung untuk membiayai kuliah saya di Pasca Teknik Unud yang tergolong nekat ini, saya musti menggadaikan SK PNS di Bank BPD Bali, yang kemudian saya cicil setiap bulan potong gaji selama empat tahun.

Makanya selama menjalani perkuliahan diwaktu lalu, saya berusaha selalu untuk yang terbaik bisa saya lakukan. Bersyukur dari delapan mata kuliah yang telah saya lalui dua semester kemarin, enam diantaranya mendapatkan nilai yang sangat baik. Dua sisanya ya standar nilai Pasca. Berharap untuk tiga mata kuliah pada semester ini bisa jauh lebih baik lagi. Plus Thesis tentunya. He…

Harapan saya yang lain ya terkait Putri kami MiRah GayatriDewi, setidaknya saya diberikan umur dan kesempatan untuk dapat menyaksikan ia tumbuh besar, berjalan dan bersekolah nantinya. Sungguh, saya sangat menyayanginya, walaupun ada orang-orang yang kecewa memiliki anak putri/perempuan.

Terkait Istri, ya berharap sekali kami selalu diberikan kasih sayang satu dengan lainnya, makin mesra dan mampu berbagi tugas juga beban keseharian.

Sedang untuk diri sendiri, minim bisa jauh lebih baik baik dari segi kedewasaan dalam mengerti anak Istri, dewasa dalam bertindak pada lingkungan, dewasa pula dalam usaha saya bertanggung jawab pada orang tua. Tak lupa pada Idealisme selaku Pegawai Negeri, ya bisa jauh lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Entah di kantor maupun di proyek.

Ah, semoga saja saya bisa mampu mewujudkannya….

So, SeLamat ber-Tahun Baruan 2009, dimanapun rekans berada, baik yang ingin melewatkannya berdua dengan Laptop, bertiga dengan Yayank 1 dan Yayank 2, ataupun dengan KeLuarga tercinta. Specially buat rekans Bali BLoGGer Community yang bakalan ikutan Hot Trip to Nusa Lembongan.

> PanDe Baik tumben bisa menulis posting ini secara Real Time (tanpa jeda) di kantor, disela istirahat siang, sambil ma’em Mie rebus porsi jumbo. Yah, lagi males aja makan siang diluar atau seperti biasa, di Rumah Makan. Maksudnya di Rumah (sendiri) Makannya…. langsung pulang. Hahahaha….. <

Salam dari Lantai 2 Kantor Bina Marga Badung di pojokan kiri depan…..

Taman Segara Madu : Konsep Ciputra Land versi Bisnis

11

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Liburan Akhir Tahun enaknya kemana yah ?

Ha… barangkali diantara 250 jumlah anggota Bali Blogger Community, hanya saya satu-satunya yang gak memiliki keinginan sedari awal untuk melewatkan Liburan dan waktu luang dengan Kegiatan Sosial seperti yang digagas terakhir, Hot Trip to Nusa Lembongan. Sebaliknya, saya malah jauh lebih mampu menikmatinya bersama keluarga. He… Mohon Maaf rekan-rekan.

Ohya, secara kebetulan di Liburan Akhir Tahun ini kami (saya dan Istri) diundang Mertua untuk ikut serta dalam acara rekreasi kecil-kecilan di seputaran daerah Canggu (rumah asal Istri) pada Senin sore. Sedianya yang bakalan ikut ya Mertua beserta keempat anaknya (tentu salah satunya ya Istri saya) berserta menantu, plus lima cucu yang nakal. He…

Lokasi tujuan paling utama yaitu ’Taman Segara Madu’, sebuah tempat rekreasi paling gres (iklannya masih suka tampil di layar Bali TV) yang berlokasi di daerah/Jalan menuju Pura/Pantai Batu Bolong Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung. Setahu saya, Grand Openingnya baru saja dilakukan hari Minggu (28/12) kemaren.

Maka setelah berdesakan dalam mobil Kijang 88 yang saya miliki, sampailah kami di lokasi tujuan (dengan selamat tentunya, he…) yang ternyata gak jauh dari rumah Istri. Tepatnya sekitar 800 meter dari Perempatan Jalan Tanah Lot – Pantai/Pura Batu Bolong (bisa dilihat pada Peta Lokasi dua dimensi dibawah ini, dengan arah Utara mengarah keatas). Berada didepan Pura Dalem Kahyangan, pas di pertigaan/tikungan.

Ohya, berhubung baru saja melewati tahap Grand Opening, areal Parkirnya yang berada disisi barat Jalan (seberang lokasi atau sebelah Utara Pura Dalem), belumlah final pengerjaannya. Masih berupa hamparan Limestone tanpa pemadatan. Jadi harus sedikit berhati-hati bagi kendaraan yang tidak tergolong 4WD ataupun SUV seperti kendaraan milik saya. He….

Dari keterangan yang ada, diketahui kalo didalamnya itu ada sarana Kolam Renang (Pool), Restoran dan juga Mini Market. Berhubung ini baru saja dilakukan Grand Opening, Mertua mendapatkan Free Pass tiket masuk area Pool dari sang Pemilik, yang rupanya adalah seorang Anggota Wakil Rakyat pada daerah pemilihan Kuta Utara. Pantesan saja, mereka kan saling kenal. He… Tapi kalo mau bayarpun (tarif berlaku hanya untuk area Pool) sebetulnya gak masalah kok. Wong lumayan murah, yaitu Dewasa dikenai tarif 8 ribu sedangkan Anak-anak cuma 5 ribu rupiah saja kok.

Pada lorong masuk sebelah Loket, para Pengunjung dipersilahkan memilih apakah mau langsung menuju area Kolam Renang (Pool) ataukah ingin bersantai dahulu di area Restoran yang ternyata punya View Pemandangan alam persawahan. He… harapan saya sih, Semoga saja View ini masih langgeng untuk sepuluh hingga dua puluh tahun kedepan. Ohya, untuk Mini Marketnya terletak pada areal paling depan. Jadi gak harus lewat lorong masuk tadi.

Untuk fasilitas Restorannya sendiri memiliki tiga tempat area makan, yaitu pertama pada sisi kanan dekat lorong masuk tadi, dengan desain ruangan khas Hotel berbintang (mungkin ditujukan bagi mereka yang ingin melakukan transaksi Bisnis atau Dinner), yang kedua berada agak dibawah, dengan desain meja warna-warni (mungkin ditujukan bagi Pengunjung Anak-anak beserta Orang Tuanya), sedangkan yang ketiga berada didekat Kolam Renang (mungkin diperuntukkan bagi mereka yang ingin menyantap hidangan disela aktifitas berenang).

Fasilitas Kolam Renangnya terdiri dari tiga peruntukan pula. Kolam Anak-anak (2 buah beda ketinggian) dimana pada kolam yang berada lebih diatas disediakan satu perosotan menuju kolam Anak-anak lainnya yang berada dibawah. Kolam Dewasa dengan perbedaan kedalaman, yang seolah dipisah oleh sebuah jembatan kecil sebagai tanda perbedaan tersebut. Kolam ketiga nerupa kolam renang standar yang umum dipakai untuk perlombaan maupun kegiatan pelajaran sekolah menengah atas.

Adapun Luas total area ketiga kolam renang ini lumayan lega dan nyaman untuk dinikmati. Ohya, Pengunjung juga disediakan fasilitas ruang ganti juga ruang bilas plus Pool Bar yang menyediakan aneka minuman dingin dan hangat.

Eh iya, ngomongin fasilitas Restoran, tentu harus nyobain salah satu Menu yang ditawarkan dong. Ada dua Daftar Menu yang diberikan, yaitu Menu Masakan dan Menu Desert serta Minuman, lengkap dengan Foto yang menarik hati plus Harganya.

Maka setelah melihat-lihat aneka pesanan dari anggota keluarga yang lain, saya memutuskan memilih salah satu Es Krim pada Menu Desert yang disediakan. Namanya kalo ndak salah ‘Segara Madu Spesial’ dengan harga Rp. 12.500. Saya pilih karena kelihatannya jauh lebih menarik dengan es krim yang menggunung plus buah Cherry-nya.

Rupanya apa yang disajikan jauh berbeda dengan apa yang ditawarkan. Es Krim yang uenak saya harapkan tadi itu ternyata cuman se-uprit. Itupun tanpa buah Cherry, tapi daun yang sepertinya gak sedap dimakan bareng Es Krimnya. Malah sempat saya tanyakan balik pada Pramusajinya disaksikan oleh anggota keluarga lain, dengan memperlihatkan daftar Menu yang ada, kok beda Mbak ? Ealah, sang Pramusaji mengatakan ‘emang begitu adanya’. Wuahahaha… tawa kamipun meledak. Ya kalo gitu, mohon di-update dong foto pada Daftar Menunya mbak. Jangan menyajikan Foto yang gak sesuai aslinya. Ntar malah ada yang komplain lagi.

Sekedar informasi, untuk Menu masakan yang disediakan dibagi dalam tiga ukuran Plate yaitu S (small), M (medium) dan L (large) yang tentu saja dengan harga yang berbeda pula. Lengkap dengan Foto makanan yang dimaksud. Rata-rata harga minimal yang saya perhatikan sih, berada pada kisaran Rp. 25.000 untuk ukuran S (small). Cukup mahal untuk kantong orang lokal. Tapi sepertinya sasaran utama tempat rekreasi ini tentu saja para turis bule maupun domestik yang berduit, dengan tujuan utama menggunakan tempat sebagai transaksi Bisnis sembari menikmati Hiburan.

Melihat dari kondisi dan juga berbagai fasilitas yang ditawarkan, saya jadi teringat dengan CiPutra Land yang berada di Jawa Timur, yang sempat saya singgahi bersama rekan-rekan kantor, Liburan akhir tahun kemaren. Tiket masuk yang murah, sebaliknya harga makanan/minuman yang mahal dan tak sesuai dengan Foto yang ditawarkan pada Daftar Menu. Barangkali dari sinilah keuntungan itu bisa didapatkan.

Hanya saja ada perbedaan yang jelas dapat saya tangkap, yaitu pada Ciputra Land lebih mengedepankan sisi hiburan dan Rekreasinya, bisa dilihat dari fasilitas kolam renang yang disediakan mirip-mirip Waterboom, lengkap dengan prosotan kecepatan tinggi, limpahan air seember raksasa, maupun kolam ombak. Sedangkan ’Taman Segara Madu’ sepertinya lebih mengedepankan sisi Bisnisnya, dan menomorduakan hiburan. Ini saya katakan demikian, karena fasilitas kolam renangnya standar kolam renang seperti di Tiara Dewata maupun Padang Galak juga Maha Jaya jadul.

Jadi bagi mereka yang ingin melakukan transaksi bisnisnya dengan makan malam (dinner) ataupun hanya sekedar beramah tamah misalnya, dapat memilih lokasi ini, yang menyediakan Restaurant dengan desain Hotel berbintang. Sangat Nyaman tentu. Satu hal yang gak bakalan bisa ditemui di Ciputra Land. He… Selain disediakan pula fasilitas hiburan/pendukung seperti kolam renang tadi.

Btw, terkait komplain saya tentang Menu diatas, barangkali langkah paling aman untuk sementara jika memang aslinya tak sesuai dengan Foto pada Menu, ya meniadakan Foto tersebut. Atau meng-updatenya dengan Foto asli kenyataan menu tersebut. Syukur yang komplain itu saya, hanya menertawakan kelucuan perbedaan yang ada. Coba kalo turis Bule yang biasanya menginginkan sesuatu secara sempurna sesuai dengan yang ditawarkan ?

> PanDe Baik merasa bersyukur, bisa menikmati Liburan Akhir Tahun pada tempat yang baru saja dibuka dan diresmikan. Posting ini sekaligus menjadi Laporan serta Liputan saya yang pertama, secara LIVE langsung di lokasi. Lengkap dengan Foto-foto pendukung. Thanks to my ACER 4520, koneksi Starone 1 GB plus Kamera Digital Konica Minolta X31 jadul. He….. masih 3 MP.

Tentu saja seperti halnya posting saya yang lain, ini bukanlah pesanan/titipan dari Pihak Pemilik ’Taman Segara Madu’ untuk mempromosikannya pada rekan-rekan Blogger maupun pembaca lain. Buktinya saya tidak mencantumkan tanda Bintang diakhir posting. He…. Hanyalah sebatas untuk kepuasan diri sendiri saja…. <

Salam dari pinggiran kolam renang ’Taman Segara Madu’.

KiLas BaLik PanDe Baik di Tahun 2008 : tentang KeLuarGa

3

Category : Cinta, tentang Buah Hati, tentang DiRi SenDiri

Menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri terCinta, saya yakin menjadi dambaan bagi setiap laki-laki ‘waras’ dalam memasuki tahap pernikahan, sebuah ikatan bagi dua kepala dengan dua ego yang sama sekali berbeda.

Untuk bisa mengetahui kadar seberapa berhasilnya saya mewujudkan hal tersebut, sepertinya gak bisa saya katakan, karena IsTri lah yang jauh lebih tahu dan berwenang untuk menjawab itu semua.

Begitu pula untuk menjadi seorang Rekan Kerja bagi lingkungan kerja saya, tentu saja mereka yang lebih berhak memberikan nilai atas sikap dan kinerja saya selama ini.

MeLanjutkan posting saya sebelumnya, tentang KiLas BaLik yang saya alami dan jalani di sepanjang Tahun 2008, kali ini saya ingin mengungkapkan kisah kedua, tentang betapa mengesankannya KeLuarga yang saya miliki saat ini.

Ohya, sebelum saya melanjutkan, ada satu lagi kejutan sekaligus harapan yang saya dapatkan di awal Tahun 2008 ini. Menjadi Bapak yang Baik bagi putri kecil saya, MiRah GayatriDewi.

Ya. Kami akhirnya dikaruniai seorang putri kecil nan lucu, yang bagi saya pribadi ia bagaikan seorang malaikat datang disaat kami (saya dan IsTri) dilanda keraguan dan keputusasaan harapan memiliki buah hati, buah Cinta kami. Bagaimana tidak ?

Dua tahun lalu, saya sempat dinyatakan mengidap Varikokel oleh dokter Wimpie Pangkahila, yang selama lima bulan memberikan advis juga obat-obatan penyubur, dengan total biayanya yang menguras habis isi tabungan saya. Bahkan di bulan terakhir saya mengikuti advisnya, untuk biaya obat saja, saya harus meminjam uang pada Mertua yang waktu itu secara kebetulan menawarkannya.

Tak puas dengan perjuangan saya di dokter Wimpie, saya beralih ke dokter Nono, yang merupakan rekomendasi dari dokter kandungan Wardiana di Apotek Agung Jalan Sudirman. Hasilnya sama. Malah jauh lebih parah. Saya divonis tak akan bisa memiliki keturunan, kecuali harus menjalani Operasi Bedah pada pembuluh darah putih guna menyembuhkan Varikokel tersebut.

Sialnya, sang dokter hanya memberikan kemungkinan 50-50 untuk keberhasilannya. Karena jikapun itu gagal, saya harus menjalani satu operasi lagi yang saya tak peduli lagi apa istilah medisnya. Ya, saya akhirnya memutuskan untuk ber-Pasrah diri pada-NYA.

Bersyukur, atas tuntunan dari seorang yang amat sangat kami segani, nak lingsir Sri Empu di Griya Pande Pohmanis, memberikan jalan untuk memohon pada-NYA sambil berusaha mencari tahu solusinya. Ya, kamipun diminta menjalani upacara pernikahan sekali lagi, atas dasar hari baik dari pertemuan hari kelahiran kami (saya dan IsTri).

Tak lama kami menunggu, karena begitu upacara pernikahan yang kedua kalinya dijalani, dua minggu kemudian, IsTripun positif hamil, yang cukup membuat shock dokter Wardiana dan menyatakan inilah yang namanya ’Mukjizat’ dari Tuhan.

Sembilan bulan lamanya kami menanti hadirnya si kecil dengan advis dan obat-obatan dari dokter Wardiana, membuat kami begitu bersyukur dengan kondisi yang ada. Kehamilan yang ditunggu, biaya advis dokter serta obat/vitamin yang terjangkau, juga hangatnya sambutan dokter Wardiana, tiap bulan kami datang untuk konsultasi maupun bersua di RS Sanglah, membuat kami menjadikan dokter Wardiana sebagai dokter kandungan terbaik. He…

Balik ke cerita putri kami MiRah Gayatridewi, akhirnya Selasa 18 Maret 2008, bayi mungil nan lucu inipun hadir ditengah kehidupan kami, dan memberikan rasa syukur yang paling indah dalam hari-hari kami berikutnya.

Ya, menjadi Bapak yang Baik bagi putri saya kelak agaknya menambah ”beban” saya diatas, agar mampu pula menjadi seorang Rekan Kerja sekaligus Suami yang Baik bagi IsTri. ”Beban” yang saya maksud tadi itu adalah satu harapan sekaligus pula menjadi satu tantangan bagi saya agar dapat mewujudkan keduanya dengan Baik pula.

Yah, memang saya sadari, sangat sulit untuk dilakukan. Karena untuk mewujudkannya, satu sama lain harus ada yang dikorbankan, termasuk pula menyangkut pekerjaan kantor plus konsentrasi saya pada perkuliahan yang saya jalani sedari dua tahun lalu. Bersamaan dengan pernikahan saya yang kedua tadi.

Selain itu, saya pun masih harus menjadi Anak yang Baik bagi kedua orang tua saya plus satu tanggungan Bibi. Paling tidak, selama mereka masih ada, saya bertanggung jawab pada kesehatan dan juga kebahagiaan mereka. Hal yang saya yakin sangat sulit diterima bagi mereka yang telah menikah. Apalagi bagi seorang IsTri yang ’ANTI’ pada Mertua.

Maka apapun itu resikonya, tetap saja harus saya jalani.

Sedikit keributan dalam rumah tangga itu hanyalah masalah biasa. Namanya juga menyatukan dua kepala dengan dua ego yang berbeda. Asal jangan ikut-ikutan trend para artis Indonesia yang ribut dikit, menganggap tidak ada kecocokan dalam rumah tangga, ya langsung berujung pada perceraian. Semoga saja tidak.

Begitupun sedikit pertentangan antara saya dengan orangtuapun, saya anggap biasa. Toh, dua tiga hari kemudian, saya yakin gak ada dendam lagi diantara kami.

KeLuarga memang yang paling utama bagi saya pribadi. Apalagi ditambah dengan kehadiran seorang putri kecil malaikat kami, MiRah GayatriDewi. Membuat suasana rumah bertambah hangat, ceria dan tentu saja ramai dengan celotehan dan tangis si kecil.

Ah, semoga saja ditahun depan, saya bisa jauh lebih Baik lagi.

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

> PanDe Baik mencoba menuliskan uneg-unegnya kembali perihal KiLas BaLik KeLuarga ini disela tugas dan kewajibannya menemani dan menjaga si kecil MiRah GayatriDewi hingga tertidur di Minggu pagi nan cerah ini….. <

KiLas BaLik PanDe Baik di Tahun 2008 : tentang BLoG

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Barangkali ini bakalan jadi posting-posting terakhir yang bakalan tampil di BLoG menjelang pergantian tahun beberapa hari lagi. Yah, sedikit melihat kebelakang, rentetan peristiwa yang terjadi pada diri dan lingkungan saya cukup membuat perubahan yang begitu besar serta memiliki pengaruh yang kuat.

Perubahan tingkah laku, perubahan rutinitas hingga perubahan pandangan akan hal-hal yang dahulu barangkali emoh saya tanggapi.

Okelah, saya hanya ingin mengingat kembali, perubahan apa saja yang terjadi sedari awal hingga akhir tahun 2008 ini. Istilah kerennya Kaleidoskop-ne PanDe Baik. Hehe…

Hal yang Paling pertama sangat mengesankan bagi saya, yaitu BLoG. Diundang untuk ikutan gabung di Bali Blogger oleh Om Anton Muhajir, yang waktu itu saya bahkan belum mengetahui apa itu Bali Blogger, dan siapa sebenarnya Om Anton Muhajir yang belakangan saya sempat kecele dengan bentuk aslinya. Dalam bayangan saya, Om Anton itu orang yang tinggi gagah dan sedikit senyum di bibir. Ya mirip-mirip Gubernur California lah. But, aselinya ternyata he…. (sori Om, bukan bermaksud menghina, tapi saya cukup shock saat berhadapan langsung. Tak mengira….)

Yah, awal kenalan saya dengan Pasangan serasi Anton-Lode ini ya saat diminta menulis di Bale Bengong, dimana tulisan saya tersebut sempat dipertanyakan oleh Mbok Lode. At last, tentu saja hadir saat Launcing BBC, dimana Om Anton menghadiahi saya voucher Free Hosting dari Rakhahost untuk mengubah alamat blog saya yang masih numpang gratisan di Blogspot, menjadi domain sendiri. Maka lahirlah pandeividuality.net yang namanya terinspirasi dari paduan nama saya dan istri –pande dan alit-.

Maka, usai dipindahlokasikan oleh Mas Egy selaku pemilik Rakhahost, serta disempurnakan pula oleh Pak Dokter Cock, BLoG sayapun resmi diluncurkan dengan warna dasar Abu-abu dongker plus sedikir kelir hijau ngejreng.

Posting demi postingpun saya coba tuangkan, dari yang ndak penting bagi siapapun yang membacanya hingga yang mampu membuat saya hampir saja diseret ke badan hukum lengkap dengan ancaman UU ITE-nya. Bersyukur banget rekan-rekan Blogger, tempat dimana saya berteduh selama nge-BLoG banyak mensupport dan membangkitkan semangat. Dari keputusan untuk menghapus posting tersebut secara sadar, membredel BLoG hingga gak mampu diakses lagi dan akhirnya rehat, sempat mewarnai hari-hari saya yang baru saja kecanduan ‘nge-BLoG’.

Hosting Down. Ya, masalah ini sempat tiga kali menciderai BLoG yang saya kelola dengan cara ‘semau gue’ (cara saya ngelola BLoG maksudnya), yang sebenarnya masih bisa saya toleransi. But, khusus down yang ketiga agaknya membuat saya mengambil keputusan pindah hosting ke Media Hosting Indonesia, atas saran dan rekomendasi BLi Hendra. Orang yang belakangan menjadi sangat berpengaruh atas diakusisinya Rakhahost ke Bali Orange.

Kepindahan saya ke MHI nyatanya gak disupport sepenuhnya (saat itu) oleh Mas Egy selaku pemilik Hosting lama. Ini saya katakan demikian, lantaran saat meminta user serta password untuk mengakses Domain Manager tak jua saya dapatkan walau sudah berkali-kali dihubungi. Tak mau hal ini berlarut-larut, maka selain pindah hosting, saya pun terpaksa mengambil domain baru. Suatu nama yang mudah diingat oleh siapapun termasuk oleh rekan-rekan saya sedari SMA dan kuliah dahulu. Thanks to HenDra.

Ya, pandebaik.com.

Di alamat inilah, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hanya saja, karena kesibukan kerja kantoran diakhir tahun, selama saya menempati alamat baru ini, tak banyak tulisan yang mampu saya lahirkan, seperti halnya di dua tempat sebelumnya.

Maka bisa dikatakan, tingkat kecanduan saya pada BLoG mulai menurun sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hanya menulis dua tiga hari sekali. Itupun gak berkualitas seperti halnya blogger lain. Hanya cerita keseharian dan keluarga. Sesuatu yang barangkali dianggap takkan pernah bisa mendatangkan Euro (mengutip kata-kata Om Anton) lewat jalur Adsense sekalipun.

Hahaha… memang, hingga hari inipun saya belum tertarik untuk mengkomersialkan BLoG ini demi mengumpulkan satu dua Euro maupun Dollar. Sesuatu yang sangat disayangkan oleh beberapa rekan dekat saya hingga saat ini. Tapi secara pribadi, BLoG bagi saya sudah memberikan satu keuntungan yang sangat berkesan. Kepuasan diri untuk melampiaskan dan menumpahkan unek-unek tanpa harus dilontarkan ke tindak kekerasan fisik. Setidaknya seperti kata seorang rekan Blogger, kini untuk menuangkan sebuah tulisan tak lagi berbekal sebuah pena, tapi Keyboard. He…

So, Salam dari PuSat KoTa DenPasar

Posting ini tentu akan berlanjut satu dua lagi, untuk mengingatkan hal-hal yang pernah saya lalui ditahun nan indah ini. Bye

> PanDe Baik memerlukan waktu dua hari untuk membuat satu posting seperti ini. Tak lagi seperti dahulu dimana dalam dua jam saya bisa melahirkan beberapa tulisan yang kemudian dijadwalkan tanggal publishya. Yah, namanya juga kadung asyik dengan si kecil putri kami, MiRah GayatriDewi. He….. <

MiRah dan Tawa NakaLnya

5

Category : tentang Buah Hati

Gak terasa putri kami, MiRah GayatRiDewi kini sudah berumur sembilan bulan, usia yang belum pernah kami bayangkan. Padahal foto dan videonya saat baru saja lahir dari rahim Ibunya, masih betah aku pandangi, seakan MiRah baru lahir kemarin sore.

MiRah gak punya rambut. Itu ledekan dari kakak-kakaknya yang total jumlahnya enam belas biji. Ya, MiRah jadi generasi paling bungsu, paling lucu nan mungil. Ditengah godaan sekian banyak kakaknya itu, tak heran MiRah kini sudah rame ocehannya. Barangkali meniru obrolan kakak-kakaknya yang selalu ia perhatikan seakan dialah yang mereka ajak bicara

MiRah pipi kembung. Itu sebutan dari Bapaknya alias saya sendiri. Yah, barangkali pipinya itu menurun dari gen Bapaknya yang waktu kecil dahulu, punya pipi mirip MiRah. Sampe-sampe sanak saudara yang datang bersua MiRah mengatakan hal sama. Ha… mereka masih bisa mengingat wajah Bapaknya dahulu rupanya.

MiRah punya nafsu maem yang tinggi. Diusianya kini, kami tak lagi berpatokan pada buku Parents Guide yang saya beli sesaat setelah MiRah hadir disisi kami. Bagaimana tidak ? usai maem bubur Tim dari Sun, ia bisa melahap satu biji pisang dan satu biskuit demi memuaskan hasratnya. Gak heran, lama-lama nenek-neneknya (MiRah punya 3 nenek yang setia menemaninya saat Bapak Ibunya ngantor) pun menyaksikan perkembangan MiRah begitu cepat nyaris seperti Bapaknya waktu kecil. Ya, dia tergolong tinggi untuk bayi seusianya.

MiRah dan Tawa NakaLnya. Tawa itu dapat terdengar jauh dari tempat neneknya memasak, padahal kami berada di teras. Mirah tertawa saat menyaksikan empat kakaknya bersliweran dengan sepeda di halaman natah kami yang kering dan panas. Mirah tertawa saat matanya menangkap sosok cicak didinding, sampai kami baru menyadarinya belakangan. MiRah tertawa seperti Bapaknya yang barangkali ia tiru saat saya menertawainya. Tawa yang tengal, Ibunya bilang.

MiRah juga jadi keseringan bangun siang dua minggu ini. Padahal seperti biasa, ia terbangun pukul 4 pagi, sesaat setelah Ibunya keluar dari kamar untuk bersiap bersih-bersih rumah. Kalo sebelumnya Bapak-lah yang selalu disetrap buat nemenin MiRah hingga Kakeknya pulang dari Jalan Pagi, kini MiRah selalu setia menemani sang Bapak molor sampe Kakeknya datang. Hahahaha…. Caranya ?

MiRah sedari berusia 3 bulan kandungan, selalu ditemani oleh musik instrumental. Terkadang musik klasik yang katanya bagus untuk perkembangan Bayi di kandungan, kadang juga gambelan Bali semacam AngKLung, SeMar PeGuLingan, Rindik hingga DeGung. Kini setiap MiRah terbangun pagi hari, laptop selalu dinyalakan untuk mendendangkan irama DeGung yang disadur ulang dari tembang pop Bali jaman dulu. Laptop yang sudah diset pada tingkat brightness paling rendah untuk menghemat daya, tanpa kliau lampu Mouse dan blank screen setelah lima menit, cukup lama membuat MiRah terlelap hingga bangun kesiangan. Hahaha….

MiRah selalu ingin digendong Bapak jika pulang kantor. Mungkin ia kangen pada Bapaknya yang suka ngajak ia Bak Bung (istilah kami untuk MiRah saat mengajak ia bepergian), atau hanya sekedar berkeliling rumah sebelum dan sesudah ngantor, dengan motor Vega milik Ibu dan Tiger Bapak yang punya suara kayak Batuknya Bapak. Uhuk uhuk….

MiRah pun akhirnya dikenalkan dengan mainan anak ala Tiara DeWata yang goyang-goyang dan ajrut-ajrutan itu. Awalnya ia tampak senang dan itu berlangsung tak sampai lima detik. Selanjutnya seperti biasa, ia ingin digendong Ibu/Bapak dengan bergaya memegang mainan itu dari samping. Ini berlaku pula untuk ‘Baby Walker’ yang saya belikan beberapa waktu lalu.

MiRah juga untuk pertama kalinya terpana dan terbengong-bengong memandangi balon juga bola warna-warni, saat kami ajak ia duduk bersantai di Lapangan Alun Alun PuPutan BaDung, hari Minggu beberapa waktu lalu. Tampak ia sangat menikmati pemandangannya kali ini. Sekian banyak kakak-kakak yang berlari kesana kemari. He…

MiRah…. Yah, diusianya sembilan bulan, ia cukup menyita waktu dan perhatian saya. Hingga saya rela melepaskan kewajiban saya akan kuliah, yakni menyelesaikan Thesis. Hanya untuk menyaksikan ia tumbuh kembang.

Seperti kata orang-orang tua, nikmatilah waktu bersama putra putri kita hingga ia lepas dari bangku Taman Kanak-Kanak nanti. Karena saat-saat itu takkan pernah terulang lagi….

Barangkali jika MiRah mampu mengungkapkan isi hatinya hari ini, saya yakin ia akan mengatakan ’jangan marah ya Pak, Ibu juga Kakek dan Nenek… Toh MiRah hanya NakaL untuk saat ini saja. Gak selamanya kok….’

MiRah, I LOVE U….

> PanDe Baik saat menuliskan ini merasakah keharuan yang amat sangat demi menyaksikan MiRah yang tertidur lelap disisi Ibunya yang kelelahan sepulang kantor tadi…. Selamat Istirahat Sayang… I LOVE U TWO…. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

IdoLa

6

Category : tentang InSPiRasi

Saya yakin, setiap orang didunia ini pasti punya sesosok idola yang mereka sanjung dan yakini mampu menginspirasi setiap langkah gerak gerik mereka. Entah itu selalu berubah tiap tahun, tiap jenjang pendidikan, tiap trend atau masa yang berbeda.

Idola kalo secara pengertiannya, bagi saya pribadi sih adalah sosok yang dijadikan panutan dalam hal tertentu dalam kehidupan seseorang. Misalkan saja ada orang yang begitu memuja ELVis Presley dan menjadikannya idola sepanjang masa hidupnya, bisa langsung meniru cara penampilannya baik panggung hingga style rambutnya, hafal kapan lahir, pertama kali manggung, masa jaya hingga kematiannya.

Walaupun rata-rata yang dijadikan sosok idola itu adalah orang terkenal, entah itu artis musik, film, sastrawan, hingga pahlawan, ada juga yang mengidolakan sosok religius seperti Nabi Muhammad SAW misalnya. Ngomongin soal mengidolakan Nabi Muhammad, saya jadi ingat kasus pembredelan tabloid Monitor sekian juta tahun yang lalu. He… dimana mereka (tabloid Monitor) membuat semacam polling (survey) pembaca, mengenai siapa sosok idola mereka.

Jawabannya sungguh mengenaskan kala itu, yang langsung berefek pada pemenjaraan sang Redakturnya (kalo ndak salah), Arswendo. Ternyata ada yang mengidolakan Nabi Muhammad yang secara hasil perhitungannya menduduki peringkat sebelas (kalo ndak salah) dibawah Iwan Fals.

Barangkali kalo mau ditelusuri, saya bisa jadi salah satu pembaca yang terlibat dalam menaikkan suara peringkatnya Iwan Fals sekaligus ‘merobohkan’ Tabloid Monitor. Hehehe…

Gak salah memang jika ada orang yang mengidolakan sang Nabi dalam setiap gerak hidupnya. Barangkali saja menginspirasi mereka untuk selalu berbuat baik pada sesamanya, tapi asal jangan meniru hal yang mampu mengundang kontroversi seperti halnya Syekh Pujiono beberapa waktu lalu. Hehehe…

Balik ke topik IDoLa, kadang saya bertanya-tanya dalam hati. Terkait dengan berlombanya masyarakat untuk menjadi ‘the next IDOL’ dalam berbagai usia dan kemampuan. Apakah mereka (para finalis maupun pemenangnya) sudah yakin, bakalan bisa menjadi sosok idola bagi para pendukungnya ? Terlepas apakah pendukungnya itu bermodalkan SmS yang seabreg untuk mendapatkan pengakuan ‘IDOL’ tersebut.

IDoLa, adalah satu kata yang mampu mengubah perilaku sang penggemar, dari hanya sekedar meniru penampilan, hafal menyanyikan tembang cipta karya walaupun dengan nada yang ancuuur…. hingga terobsesi menjadi sosok tersebut luar dalam, bahkan ada pula yang rela mengorbankan ‘sesuatu’ demi sang IDoLa, kata lain dari Groupies barangkali. Ada juga yang tak rela kalo sang IDoLa bakalan menjadi milik orang lain, sehingga pilihannya hanya satu, membunuh sang IdoLa….

Padahal ada sosok yang tak menginginkan dirinya menjadi IDoLa bagi orang lain, Iwan Fals misalnya. Kalo ndak salah ingat, saya pernah membaca komentar keberatan Iwan Fals tentang para penggemarnya yang begitu teramat sangat mengidolakan dirinya. Karena menurutnya, tanggung jawab seorang sosok IDoLa itu sesungguhnya sangat berat. Paling tidak adalah mampu menjaga emosi agar tak sampai terjadi sesuatu hal yang menghancurkan image sehingga mengecewakan mereka yang telah jatuh bangun menjadikannya sebagai IDoLa.

Saya sendiri, walaupun Iwan Fals itu begitu lekat dalam pikiran sejak kelas 5 SD hingga kini, belum mampu menjadikan seorang Iwan Fals sebagai sosok IDoLa bagi diri saya. Karenanyalah saya tak sampai mentasbihkan sosok Iwan Fals begitu agung dimata saya.

Cukuplah bagi saya, hanya sebatas mengagumi sosok Iwan Fals yang tetap sederhana walaupun pernah merasakan era jaya hingga didaulat sebagai Indonesian Heroes oleh majalah TIME. Hanya sebatas mengagumi karya cipta yang ia tawarkan pada publik sejak awal karirnya hingga kini. Hanya sebatas menyukai sentilan lirik lagunya yang nakal.

Tak sampai harus berteriak histeris saat bersua. Tak sampai pingsan saking senangnya.

IDoLa, dimata saya barangkali hanya satu yang dapat, bisa, mampu dan layak dijadikan IDoLa.

KeLuarga……

> PanDe Baik tumben bisa meluangkan waktu membuat satu dua postingan, dua malam usai bertandang dari Pasar Malam Angsoka, Pasar Kereneng. Barangkali energi positif dan semangat yang saya dapatkan kemaren, bersama para orang tua yang begitu mengilhami saya akan mensyukuri kehidupan yang saya peroleh hati ini, mampu menyirnakan segala KeJenuhan HaTi yang belakangan begitu menyiksa….. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

MeNanti KeLahiran Sang NaGa

4

Category : tentang KeseHaRian

Kira-kira apa ya yang bakalan terbayangkan di pikiran saat membaca judul diatas ?

Cerita KLenik ? ataukah soal LeGenda sang NaGa ?

Hahaha… jangan mengkhayalkan yang terlalu jauh, karena toh nalar saya gak bakalan bisa mencapai cerita sang Naga tunggangan seepik film Lord of The Ring.

MeNanti KeLahiran Sang NaGa. Tema heboh pagi ini yang terjadi pada sekumpulan anak-anak diteras rumah, dengan tegang dan cerita berbagai versi, mengelilingi air dalam baskom yang didalamnya dieram sebuah telur naga (sesuai petunjuk).

Eh, Sesuai Petunjuk ?

Yah, telur naga yang sedianya harus dieram dengan air dalam baskom penuh ini hanyalah sebuah mainan yang sepertinya tergolong interaktif. Bagaimana tidak, dengan harga yang ditawarkan senilai 50 ribu rupiah, nyatanya Sang Naga yang ditunggu tak lebih besar dari modem cdma starone yang saya miliki.

Keunikannya ya itu tadi, untuk menetaskannya telur wajib dieram dalam air hampir satu jam lamanya. Sampai-sampai banyak celetukan para orang tua yang ikutan penasaran menengok si telur naga.

Ada yang berpendapat bahwa telur naga tersebut gak akan mau menetas hari ini, tapi menunggu ’Tumpek Andang’ (hari suci bagi hewan). Hahahaha….

Ada juga yang berkomentar ’ah ini mainan yang musti dibanting dulu, baru naganya mau keluar, cobain deh.’ –hehehe… saya yakin orang ini pasti gak punya sense of creativity.

Setelah ditunggu lama, telur tersebutpun berubah warna, dari sebuah telur coklat muda menjadi bening, mulai menampakkan potongan tubuh Sang Naga, cukup membuat histeris anak-anak yang sudah tak sabar menanti, seperti apa sosok Naga yang bakalan lahir.

Gak sampe 30an menit, eh Sang Naga pun sudah siap lahir, tinggal merobek plastiknya sedikit. Beberapa anak malah bersiap untuk lari, khawatir kalo Sang Naga bakalan melompat keluar dan menggigit mereka. Hahahaha….

Maka usai potongan tubuh Naga tersebut dirakit, jadilah sosok hitam Sang Naga yang hanya berukuran segenggaman telapak tangan anak-anak. Sebuah mainan yang sangat mahal, kata anak-anak yang lain. Karena dengan harga yang sama, mereka bisa mendapatkan dua buah mainan Happy MeaL dari Mc Donalds tentu lengkap dengan dua porsi makan yang sudah pasti mengenyangkan.

But, kalo dilihat hari proses kelahirannya tadi, tentu saja nilai mahal itu gak bisa dinilai dari sosok Sang Naga yang sudah lahir saja. Mengingat kreativitas sang perancang mainan Telur Naga ini patut diacungi jempol. Dimana untuk menetaskannya harus dieram dahulu dalam air. Satu hal yang gak biasa dan gak lumrah bagi seorang anak kecil yang barangkali belum bisa menghargai mainannya sebagai sebuah koleksi.

Mainan anak yang dinamakan ’Dragon Eggs’ ini kabarnya sering diiklankan di layar GLobaL Teve, dan dipinta seorang keponakan ‘si PRasTa’ pada sang IBu, yang bertamasya akhir tahun ke Surabaya bareng rekan-rekan kantornya.

Walah, tapi Jujur aja bagi saya pribadi sih, Dragon Eggs ini memang gak layak dikategorikan sebagai mainan anak, tapi jauh lebih tinggi lagi, yaitu untuk dikoleksi serta dipajang dalam sebuah rak kaca. Satu hobi unik yang sampe saat ini masih setia dilakukan oleh adik sepupu saya.

> PanDe Baik rupanya ikutan penasaran dengan ’kelahiran Sang NaGa ini’ sampai-sampai kamera pocket 3 MP jadul merek Konica empat tahun lalupun dipake buat mendokumentasikan proses langka ini, dan secara intens menceritakannya dalam sebuah BLoG. Hehehe… Kurang Kerjaan banget. <

Salam dari PuSat KoTa DenPasar

16 GB, 8 MP, 1 CM, DuaL On, TV Tuner

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Rasanya hingga hari ini, belum jua puas kalo bicara soal kecanggihan teknologi yang ditanamkan kedalam sebuah alat komunikasi. Ya, Ponsel. Sebuah terobosan mutakhir yang kini hampir diberbagai belahan dunia membuatnya begitu booming dan selalu dinanti para konsumennya, baik yang loyal maupun para newbie. Gak disalahkan memang, lantaran sekian banyak kecanggihan seakan ada dalam genggaman.

Oke, kita putar ingatan kita ke sepuluh tahun lalu, dimana alat komunikasi waktu itu masih bernama telepon rumah, dibuat dengan dimensi yang besar dan berat, serta dengan setianya duduk manis di pojokan rumah. Seiring berjalannya waktu, kita seakan dikejutkan oleh teriakan orang-orang kaya tahun tersebut yang menenteng ’telepon rumah’nya kemana-mana. Hanya untuk sekedar menunjukkan benda yang mereka tempelkan pada telinga.

Meloncat dua tiga tahun setelah itu, saya pribadi sempat terpana menyaksikan perkembangan kecanggihan ponsel yang ditanamkan pada sebuah brand terkenal Nokia, juga Sony Ericsson yang dalam waktu bersamaan mengeluarkan seri ’raksasa’ mereka. Nokia dengan 7650-nya, Sony Ericsson dengan P800-nya. Layar warna yang lebar, nada dering yang sudah mampu bersuara penyanyi, juga berbagai aplikasi tambahan yang mampu mendukung mobilitas serta aktifitas penggunanya.

Maka sejak saat itu pula, mata kita seakan menyaksikan satu perubahan besar dalam perkembangan tingkah laku manusia, dimana ponsel kemudian menduduki peringkat teratas sebagai benda ’must have’, bahkan oleh anak SD sekalipun.

Perubahan tingkah laku, dimana orang kini dapat terlihat ’sedikit gila’ lantaran senyum-senyum sendiri di pojokan (sambil baca sms cinta) atau malah mengumpat (kalah main game). Perubahan gaya hidup, orang kadang masih merasa malu untuk tampil didepan banyak orang, kalo ponsel yang ditenteng masih kualitas jadul (apalagi kalo masih berlayar kalkulator). Perubahan aktifitas, dimana orang kini dimanapun ia berada sudah mampu menghubungi atau dihubungi kenalannya, bahkan membuat dokumen laporan saat berada di toilet sekalipun.

Tak sampai satu dasawarsa sejak kelahiran para ’raksasa’ diatas, hari ini teknologi dan kecanggihan ponsel makin menunjukkan bahwa mereka jauh lebih dibutuhkan lantaran lebih powerful dan multifungsi.

Lihat saja, kapasitas memori yang disandangnya. Satu brand paling terkemuka bagi konsumen di Indonesia, merilis ponsel sliding dengan internal memori mencapai 16 GB. Yang kemudian dipatahkan lagi oleh brand terkemuka lainnya yang selalu mengedepankan inovasi, internal memori tersebut masih dapat ditambahkan lagi dengan memori luar dengan kapasitas sama. Bayangkan saja, 32 GB dalam genggaman. Bandingkan dengan memory shared yang disematkan pada ‘raksasa’ 7650 yang hanya 4 MB.

Fitur yang paling tergunakan oleh konsumen dimanapun mereka berada setelah telepon juga messaging adalah kamera. Kini sudah mencapai angka 8 MP (Mega Pixel). Satu angka yang mampu menetak hasil jepretan dalam ukuran besar. Padahal ukuran rata-rata yang dicetak, saya berani jamin hanya kisaran 3R dan 4R saja. Itupun paling banter dengan resolusi 3 MP pun sudah memuaskan. Padahal lima tahun lalu, kita masih diguncang pergeseran resolusi dari yang paling umum digunakan masih berukuran VGA ke ukuran Mega Pixel.

Para raksasa awal tahun 2000an diatas masih memiliki ketebalan diatas 2 cm. Itu pula yang menyebabkan saat mereka ditenteng dan digenggam, terasa besar dan berat. Kini kita disuguhkan oleh produk-produk yang saling bersaing ketipisannya, dari yang berkategori sebagai pelopor seperti Samsung dan Motorola, hingga menularkan ke kompetitor unggulan seperti Nokia dan Sony Ericsson. Bahkan setahu saya Samsung masih bisa dikatakan yang terdepan dalam hal kategori tipisnya ponsel yakni hanya 6 mm saja.

Makin menggodanya fitur-fitur yang ditawarkan oleh para produsen ponsel bagi mobilitas dan aktifitas penggunanya, tampaknya hanya berlaku pada frekuensi GSM saja. Kondisi akan berbalik pada ponsel dengan jenis frekuensi CDMA, dimana ini pula yang memicu keengganan salah satu brand terkemuka diatas untuk ikut serta merilis seri-seri ponsel mereka di frekuensi ini.

Seiring dengan murahnya tarif yang dikenakan pada frekuensi CDMA, pelan-pelan pengguna ponsel GSM mulai mendua (istilahne : Selingkuh, Poligami). Mulai menenteng dua jenis ponsel kalo kemana-mana. Satu ponsel GSM yang tentu berisikan seabrek kelebihan dari desain hingga fitur, dan satu hape CDMA yang murah. Hahahaha….

Perubahan ini tampaknya dapat ditangkap dengan baik oleh beberapa produsen ponsel diatas yang mulai mengeluarkan seri ponsel untuk dua kartu berbeda frekuensi. Namun masih mentok pada harga yang mereka tawarkan. Mahal.

Makin kemari, jenis ponsel yang diminati konsumen kini makin diramaikan oleh serbuan produsen negeri tirai bambu. Yup. Ponsel China.

Walaupun secara fisik masih belum ada yang mampu membuat desain fenomenal tapi original, tapi fitur-fitur yang mereka tawarkan tampaknya sangat ditunggu-tunggu oleh konsumen negeri ini. Bagaimana tidak, segudang fitur yang sudah ditawarkan diatas disuntikkan pada sebuah ponsel yang murah meriah. Rata-rata paling mahal ada di kisaran 2,5 Juta. Itupun sudah ada fitur tambahan lainnya, yaitu TV Tuner.

Trend pengguna yang membawa 2 buah ponsel pun mulai bergeser. Tak hanya dual sim card berbeda frekuensi, tapi keduanya juga dapat diaktifkan bersamaan yang dikenal dengan istilah Dual On. Sedang bagi Konsumen yang masih setia dengan sim card GSM-nyapun disediakan fitur Dual Mode (dua sim card GSM yang mampu aktif bersamaan).

Bukankah tadi saya sempat mengatakan fitur TV Tuner ? Yup. Tayangan televisi hari gini pun sudah bisa dinikmati dalam layar kecil ponsel. Walaupun teknologi ini bukan hal baru, karena brand Nokia sudah memulainya jauh lebih dulu, tapi sayang mereka bermain bukan pada Teve Analog, tapi Digital. Yang masih memerlukan kurasan pulsa untuk bisa menikmatinya. Fitur inilah yang belakangan menjadi laris diminati konsumen. Ada yang memang hanya sekedar gaya atau memang butuh. Untuk memantau perkembangan Balap Moto GP saat rapat warga misalnya, kata seorang teman.

Itu baru fitur, belum Koneksi yang disediakan, baik untuk tukeran informasi antar ponsel maupun ke dunia maya. Minimal InfraRed pada ponsel-ponsel murah saat ini, walaupun masih ada beberapa yang malah menggunakan kabel data untuk bertukar file.

Kini malah usai trend 3G, 3,5 G dan Wifi, bakalan ada WiMax yang bakalan memanjakan pengguna dengan koneksi supercepat untuk berselancar didunia maya sekaligus bertukar informasi. Sayangnya koneksi ini belum sepenuhnya didukung pengembangannya oleh Pemerintah kita.

Teranyar, trend berponsel malah beralih ke satu fitur yang di Amrik sana menjadi yang terdepan dari setahun lalu. Ya Blackberry. Fitur akses email dan internet yang sebenarnya sudah dirintis oleh operator Indosat sejak enam bulan lalu ini, kabarnya kini malah menularkan virus ke operator paling ngetop di Indonesia, Telkomsel, untuk merilis fitur Blackberry pada konsumen mereka. Tak hanya fitur yang begitu dikenal, tapi juga handsetnya yang memang berlabel Blackberry.

Ah, saya jadi berkhayal, kira-kira tahun depan, kejutan apa lagi yah yang bakalan muncul ?