Pak Tua ‘Bento’ telah meninggalkan Takhtanya

Category : tentang Opini

Bagi mereka yang besar di era tahun 90-an pasti pernah mendengar atopun melafalkan sepotong bait fenomenal bangsa ini, kabarnya sempat pula memunculkan isu dikerangkengnya mereka-mereka yang terlibat dibalik pembuatan lagu ini.Bento.
Buah karya orang-orang yang memilih duduk berseberangan dengan elit pemerintah saat itu, menyuarakan isi hatinya secara lugas sehingga tak jarang membuat panas kuping bagi mereka yang merasa terkena sindiran.

Lahir dengan nama Swami, gabungan musisi papan atas musik Indonesia, macamnya Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie S, Toto Tewel, juga Innisisri, Nanoe dan Naniel, diproduseri oleh siapa lagi kalo bukan konglomerat jaman itu, Setiawan Djody.

Memukau rakyatnya lewat 2 karya apik, Bento dan Bongkar.
Lahir hanya berumur lima tahun setelah menelorkan album ke-2, Kuda Lumping.
Satu album idealis yang mungkin hanya sedikit orang memilikinya masa itu.

Bento boleh jadi menyuarakan betapa berkuasanya sang pimpinan saat itu, walo kemudian setelah rame-rame di media yang memanjangkan kata Bento menjadi ungkapan anti pemimpin negeri, sang maestro membantah dan menjelaskan kalo Bento itu artinya bodoh, entah benar ato tidak.

Sindirian pada pemimpin negeri ini sebenarnya sudah dimulai sejak jaman mas Iwan Fals mengeluarkan album-album pinggiran yang barangkali terlewatkan untuk dimiliki.

Mungkin ada yang pernah mendengar lagu berkisah tentang seorang anak kecil tukang semir sepatu tertidur diseberang Istana sang raja.
Ada juga satu buah karya dari grup Elpamas ‘Pak Tua’ yang kabarnya sang pencipta lagu masih orang yang sama, namun dengan nama yang disamarkan.

Jaman itu, pencekalan sudah dianggap lumrah bagi mereka yang duduk diseberang sang pimpinan negeri.
Begitu banyak kisah yang terdokumentasi berkaitan dengan sang maestro tembang nyelekit, terpanjang mungkin dari salah satu tabloid yang dibredel lantaran menyuarakan hasil jajak pendapat yang menyatakan sang musisi idola menduduki peringkat diatas Maha Pengasih.

Semua itu masih tersimpan rapi di sepuluh buah buku gambar A3 sebagai tempat kumpulan informasi jaman SMP dulu.

Hari ini, Pak Tua yang juga dikenal sebagai Bento telah pergi.
Sepuluh tahun terlewat sejak turun dari takhta negeri ini.
Masih sempat pula menyisakan sekian banyak kroni dari kalangan pejabat hingga tingkat desa kecil sekalipun.
Satu budaya yang seakan membudaya hingga kini masih belum bisa diberantas.
Penyunatan dana dan korupsi merajai sekian banyak kegiatan pembangunan di negeri ini.

Pernah mendengar lagu sang musisi idola tentang Pembangunan negeri ini ?

Cerita perjalanan negeri ini seakan tak pernah habis direkam oleh para musisi yang kini mungkin memilih untuk merenung dan menyuarakan isi hati kedamaian.

Tak seperti mereka yang mengaku Reformis namun baru berani buka suara saat sang raja turun takhta.

Satu komentar yang menggelitik dari sang musisi idola, berkata bahwa di saat suasana memanas seperti sekarang mungkin akan lebih berguna apabila menyuarakan kata Cinta dan Kedamaian dibanding berkoar layaknya pahlawan kesiangan.
Satu kerendahan hati dari seorang maestro yang penampilannya masih ditunggu hingga kini.

Balik pada kenyataan hari ini, mungkin sudah saatnya ‘Pak Tua’ untuk benar-benar beristirahat…

‘Pak Tua sudahlah’. Engkau sudah terlihat lelah, Oh ya….

Selamat jalan Pak.
Panjang titianmu sepanjang penderitaan negeri ini saat Engkau turun dari takhtamu yang berkilau emas.
Semoga tenang berada disana.

Sementara negeri ini masih bergumul dengan hutang dan bencana yang tercipta pada jamanmu.

Film Horor Indonesia ?

Category : tentang KHayaLan

Berjejer rapi di-rak penyewaan vcd, seakan ide tak pernah habis namun masih monoton itu-itu saja.
Menampilkan wajah seram pocong ato wanita setan disetiap cover depan film terbaru.Rasanya belum pernah ada yang menampilkan cover depan seorang cowok metroseksual yang jadi arwah penasaran.

Bosan !

Sudah sepantasnya perfilman Indonesia yang bergerak disisi Horor mulai mencontoh aksi diamnya Hannibal ato mungkin berpaling pada tema-tema yang jauh dari Cinta Remaja dan aksi Malam Jumat Kliwon. Ah, kebanyakan isinya Basi.

Mendingan nonton Jomblo (lagi-lagi… -sudah berulang kali tapi blom bosen). ato film konyol Kwalitaet II. Huahahaha…

Kapan lagi bisa menyaksikan karya apik macam ‘GIE’ ato ‘Janji Joni’ ? ? ?

Kesenduan Memori Lama

Category : tentang DiRi SenDiri

Entah kenapa akhir-akhir ini aku rasanya ingin sekali kembali kemasa lalu untuk sekedar mengingat dan mengenang kisah dan perjalanan sedari kecil, semasa digendong oleh Bapak dan Ibu seperti halnya aku menggendong kemenakanku yang paling kecil, usianya belum setahun, masih lucu-lucunya.Entah kenapa juga aku berkeinginan mendengarkan lagu-lagu kenanganku saat remaja dan merasakan pukulan menohok didada saat melihat kembali koleksi kaset yang pernah kubanggakan pada siapapun yang mampir kekamarku ini.
Iwan Fals sejak album Cikal, Hijau hingga pecahnya Swami grup beken jaman itu jadi Dalbo dan Suket.

Bersenandung sesekali berteriak menghayati lagu kritis dari sang master yang pernah begitu hidup dihati ini selama bertahun-tahun lamanya.
Terkadang sempat terhenyak terdiam kala mendendangkan lagu dari grup Kantata Takwa seperti halnya Kesaksian dan Air Mata. Dua lagu yang sering kunyanyikan saat SMA dulu.

Mengorek isi cd yang menyimpan foto-foto kenangan masa kecilku hingga kini, hingga melihat kembali anggota keluarga yang kini telah tiada, sungguh membuat rasa kangen dan ingin mereka selalu ada disini, dihari ini.

Menatap foto bangganya si Bapak saat menggendong anak bungsu didampingi pula oleh anak sulungnya yang sedang mencandai sikecil.
Lucu dan haru menatap kembali seakan merasakan kebahagiaan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seperti bapakku dulu.

Menatap gembiranya Ibu menggendongku saat diupacarai sumringah seakan berkata ‘inilah buah hatiku terakhir’.

Menatap foto-foto saat aku masuk sekolah TK hingga SD, dengan gaya khas jaman dulu, bersiap sambil menyandang tas sekolah, dan senyum yang terlihat senang karena jarang difoto.
Hingga tersenyum saat melihat betapa kurusnya aku saat SMA dan awal kuliah, membuat hari ini rasanya ingin menjalankan diet agar perut gendut ini bisa mengecil lagi.
Ah, apa bisa…

Perlahan dendang Iwan Fals berpindah ke lagu barunya setelah lama tak muncul dan merilis album Suara Hati juga In Love, masih memberikan kesan sendu dan sangat mendukung suasana hati malam ini.

Mungkin saja ini sedikit rasa yang timbul lantaran tugas demi tugas kuliah selesai dikerjakan, menyisakan mimpi dan angan tuk bisa bahagiakan Istri juga Orang tua dan anakku yang kini masih didalam kandungan.

Melihat foto nenek yang ngemong aku sejak kecil disaat orang tua sibuk bekerja, menatap wajahnya yang mungkin tak pernah aku lakukan hingga kematiannya saat menginjak kelas 2 SD.

Sedikit berharap bahwa Beliaulah yang akan turun tuk menjadi buah hatiku kelak…

Aku sangat merindukan suasana masa lalu…

cuap-cuap akhir kuliah melewatkan Galungan

Category : tentang KuLiah

Memasuki akhir bulan Januari, tampaknya perkuliahan mulai gencar dilakukan seiring peringatan persyaratan administrasi minimal pertemuan sudah diberikan. Tatap muka 16x dibarengi dengan libur bareng di pertengahan Januari lalu menyebabkan pada mata kuliah yang sama diadakan hingga 2x pertemuan dalam satu minggu.Hari-hari terakhir perkuliahan sudah barang tentu mulai diisi dengan presentasi tugas-tugas yang telah dikerjakan sebelumnya.

Bersyukur menganut paham ‘celeng Galungan celeng Kuningan’ hingga pada akhir-akhir begini perasaan udah tenang, lantaran duluan nekat presentasi.

Namun penyelesaian tugas tak hanya diawali dengan presentasi mengemukakan isi tugas yang sedianya mampu mencerminkan isi dan kesungguhan akan memahami keseluruhan materi yang dibawakan, namun juga harus dicetak rapi serupa dengan konsep penyusunan Thesis berdasarkan buku panduan yang telah diberikan pada awal perkuliahan.

Tugas yang dikerjakan ada pula yang mengundang senyum lantaran pada covernya entah bermaksud memperindah ato malah bertentangan dengan konsep penyusunan Thesis, dimana menampilkan tiga lingkaran seakan mengingatkan pada logo ‘Tiga Roda’.
He… sang pemilik langsung mengumpat.

Usai perkuliahan berakhir maka ujian pun mulai dijalani satu persatu.
Akan sangat bersyukur pabila menemukan sistem ujian yang boleh dibawa pulang dengan tenggat waktu tertentu penyelesaian memberikan ruang kerja bagi otak untuk berpikir dan mencari bahan lebih jauh. Setidaknya diberi kesempatan untuk belajar lagi.

Tak semua pengajar mau seperti itu.
Ada juga yang memberikan ujian layaknya masa SD.
Jarak kursi duduk dipisah jauh antar peserta ujian, ndak boleh ngbuka buku, that’s mean otak mau tak mau sudah harus siap dengan segala bahan yang mungkin belum sempat dipelajari secara mendetail dan textbook.

Ini pula membuat pengalaman lebih banyak berbicara. Tanpa mampu lagi merogoh isi tas yang udah sengaja diisi penuh dengan buku dan diktat pegangan.

Menjawab pertanyaan sekenanya berdasarkani ngatan yang sudah terkontaminasi oleh ‘pencarian link feed bagi blog dan semoga udah bener seperti pada email terakhir atopun malah keruwetan banjir Kuta yang seakan tak pernah habis saat hujan melanda.
Sempat masuk media cetak plus televisi lo.
Berita banjirnya tapi.
Bukan isi otaknya si pegawe nan malas bikin pe er.

Bahkan sebagian besar isi otak sudah dipenuhi oleh 4 GB file video porno besutan lokal dan rata-rata gak ‘worth it’ untuk disaksikan.
Tanpa skenario maupun ketajaman gambar.
Sayang kan kalo yang ditonton cantik tapi harus full bintik gara-gara kecilnya resolusi video rekam ?
Ada juga yang diisi baru sedikit tayangan kilatnya mbak D.Persik yang kembarnya eh apanya gituh, dijawil laki-laki dan ntu orang langsung ditonjok didepan kamera.

Lho, kok malah ngelantur Bung ?

Yah, namanya juga cuap-cuap kala ngejalanin masa kuliah pasca sarjana yang pada awalnya merasa sangat tidak siap namun sudah ‘kadung belus, yah dipaksakan jua untuk dimengerti.

Balik ke soal ujian, gak jarang pula selain jarak duduk jauh, trus ‘closebook, ada juga kalo lagi iseng ngobrolin tugas ditengah ujian yang udah selesai dikerjakan, sang dosenpun mendekat dan seakan mencurigai isi obrolan sebagai sarana untuk bertukar isi ujian ato malah khawatir tujuan obrolan untuk ‘makar menjatuhkan kondisi mister smiling jenderal.
Padahal cuman memperjelas tugas yang udah ruwet eh must tulisan tangan pula.
Bayangkan kalo jawabannya harus ngebuat Time Schedule yang mungkin jauh lebih gampang kalo make MS Excel ato MS Project, ini malah digaris manual trus digambar manual pula.
Syukur-syukur ktemu tampilan kurva-S yang seksi. Nah kalo kurva-S-nya ketemu logo Supermen apa ndak pusing tuh ngerubah dari awal lagi ?
Mangkanya sekarang pertemanan udah gak lagi dengan mouse juga flesh disk tapi balik kanan dengan tip-ex penggaris dan segala macamnya itu.
(mahap kalo ejaan teknoloji-nya salah, ini salah satu efek tulisan tangan tadi. Hehe..)

Oh iya, satu tugas diakhir semester awal ini, ada juga yang ‘back to nature.
Diselesaikan dengan tulisan tangan setebel skripsi yang kalo ditumpuk tiga biji aja lumayan buat menghantar tidur bagi yang lelah menulis tangan.
Hare Gene bikin tugas nulis tangan ?
Aduh.

Rasa-rasanya ni tangan udah gak kuat lagi buat dipake ngelawar pas Penampahan Galungan kemaren. Mungkin bisa jadi salah satu sebab minimnya pasokan lawar dirumah, lantaran banyak tangan yang dimohonkan bantuannya untuk memijat hehe…
Gak nyambung banget deh lo.

Diakhir penyelesaian tugas, perayaan kecilpun dilakukan dengan menggabungkan dua kojong es krim ‘Campina kedalam satu centong besar dan dimakan hingga terasa dinginnya hingga dikepala.
Walah, apa gak makin nambah besar lingkaran perutnya dik ?

After berkutat dengan kuliah dan ujian, tibalah saatnya untuk melanjutkan perkuliahan ke semester berikut yang tentunya diawali dengan…

Senyum tipis…
saat tangan merogoh isi kantung Doraemon yang udah penuh duit rejeki dari berbagai pihak untuk disetor ke dua bank berbeda buat ngbayar SPP yang kabarnya tak gratis bagi mereka yang kuliah pasca, ah, saat Pilkada mungkin diperlukan adanya janji-janji manis untuk menggratiskan SPP bukan hanya di tingkat dasar, tapi juga hingga Pasca Sarjana.
Walah, ini mengkhayal yang mangkin ndak jelas aja deh.

Padahal sedianya ntu duit disiapin buat ngebeli laptop yang udah built in wi-fi juga ada si gigibiru.

Pembayaran yang dilakukan pada Bank terkemuka harus ternodai oleh antrean lama yang gak jelas kapan bakalan dipanggil.
Anyway kata iklan, gak ada noda ya gak belajar katanya.
Belajar apoaan seh ?

Beda jauh dengan sistem yang udah diterapkan oleh bank satunya lagi (sepertinya pula udah diposting beberapa waktu lalu) memberikan nomor antrean yang nantinya bakalan dipanggil berurutan dan boleh mengambil lagi nomor antrean seandainya terlewatkan.

– Ini hanya pengalaman pribadi aja, lantaran asyiknya ng-sms Istri sambil nunggu nomor anrtean eh, pas pesan terkirim, nomor yang tampil pada layar udah lewat jauh dengan nomor yang dipegang.
Akhirnya mengambil nomor antrean lagi diiringi dengan tatapan curiga Pak Satpam, mungkin karena tampang udah mirip-mirip para pengebom teroris yang kabar burungnya bentar lagi bakalan ditembak mati.
Tapi bentarnya itu ntah kapan. Mungkin nunggu tim pengacaranya di-azab duluan sama masyarakat yang udah jadi korbannya.
Wah, ngelantur lagi ya ?

At Last, akhir kuliah ini pula dibarengi oleh libur bersama lagi lantaran Hari Raya Galungan tiba dan seakan menegaskan untuk melupakan sejenak kejengkelan akan tugas tulis tangan atopun tragedi nahas bagi si Silver Tiger yang pagi hari ditabrak mobil kijang plat merah salah satu instansi Badan Pertanahan masih disatu wilayah kerja.
Walopun gondok lantaran si penabrak berkilah gak ngliat motor yang diparkir agak jauh dibelakang mobil saat keluar dari parkiran.
Tapi apa sebegitu bodoh dan teledornya si pengemudi saat ngebawa mobil dinas untuk pulang kampung dan urusan pribadi, lantas menyodorkan selembar kertas merah bergambar kedua Proklamator kita sembari menghindar dan gak mau menyebut alamat rumah maupun nama sendiri. Berlalu dengan cepat begitu saja. Huh ! kebiasaan pegawe pengabdi negara.

Saking emosi lantaran si Tiger terjengkang jatuh, nomor plat merah Kijang tadipun tak tercatat diingatan lagi, dipenuhi dengan kekhawatiran akan bergesernya tangki motor yang mungkin saja mampu membuat shock saat distarter nanti.

Tapi yah, mau bilang apa…
Sudah nasib.
Mungkin karena sebelumnya belum pamitan dengan Leluhur dirumah untuk menghaturkan banten di kantor masing-masing.

Anyway, biarlah si pengemudi tadi menerima karmanya sendiri nanti oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Akhirnya Selamat merayakan Hari Raya Galungan bagi yang mereka yang bersiap untuk pulang kampung atopun malah sudah membayangkan wajah bahagia anak Istri juga orang tua dirumah.
Semoga dihari yang sepi lalu lintas ini kesejukan selalu terbawa dalam setiap suasana hati penikmat-Nya.

Salam untuk orang-orang yang kau Cintai.

Emosi Tingkat Tinggi

1

Category : tentang KuLiah

Huahem, capeknya.

nulis tangan tugas setebel satusan halaman, lumayan membuat jengkel lantaran tugas yang lain juga masih numpuk dan harus pula diselesaikan.

Tapi akhirnya diambil keputusan dobel.

nulis tangan yang mampu ditulis aja, terutama bahasan yang sedikit halamannya ditambah embel-embel lain.

ngumpulnya tetep aja yang ketikan cuman diselipin pula yang versi tulis tangan.

Yah, barangkali aja pak Dosen mau ngebaca yang ketikan kalo ndak bisa ngbaca tulisan tangan yang awalnya aja berdiri tegak dan rapi, tapi lama-lama jadi tulisan dokter. miring sana sini, gak jelas jadinya apa. hehe….

Emosipun turun lagi mengingat kesabaran istri yang begitu tinggi memberi kata-kata yang menyejukkan warna merah dihati.

seabis sembahyang Kajeng Kliwon kmaren, barulah ide demi ide muncul seiring mendinginnya otak dan isi kepala.

Emosi tingkat tinggi, walo sehari, lumayan terasa…..

AARRGGGHHHHH I NEED TO BLOG !!!!

1

Category : tentang KuLiah

Hari ini rasanya pengen maki-maki sesorang yang pemikirannya masih kuno banget !
Kepala rasanya mau pecah, mangkel karena nyatanya usaha mati-matian malah dianggap remeh.Bayangkan, tugas kuliah yang tebelnya udah kayak skripsi kira-kira satu buku jari tangan, udah didijilid rapi trus dikumpul lebih awal dengan tujuan biar bisa ngbikin tugas kuliah yang laen eh ditolak oleh dosen pengajar mata kuliah.
Alasannya gak worth it banget !
Harusnya tugas ini ditulis tangan semua, gak boleh diketik.
What ?

Setebel ini ditulis tangan dan gak boleh diketik ?
Jaman udah kembali ke masa purba mungkin.

Emangnya udah jadi mahasiswa sejati hari ini ?
Ditengah tugas kantor yang gak kalah banyaknya dan juga cita-cita pengen bersantai dengan istri dan keluarga yang dua bulan ini gak sempat lagi diajak ngobrol lantaran kesibukan bikin pe er dari mata kuliah yang sama.

Serasa gak dihargai setitik pun.

Lebih sialan lagi, pas dikomentari kalo gak ditulis tangan sama aja artinya dengan gak buat tugas, dan nilai gak bakalan kluar.
W H A T ?

Begadang dua bulan lamanya dianggap gak bikin tugas ?
Ah, ni orang sama sekali gak punya toleransi apapun terhadap orang lain rupanya.

Dalam hati udah ketawa sinis sambil geleng-geleng ‘ah ni orang maunya apa sih ?’

Memang sih kabarnya dia sendiri waktu jadi mahasiswa ya kayak gini, bikin tugas pake tulis tangan. Tapi apa gak mikir kalo zaman itu komputer blom familiar sehingga paling banter pake mesin tik.

Jaman sudah berubah, pendapatan dan penghasilan pak dosenpun sepertinya sudah berubah jauh.
Beli komputer mungkin udah kayak beli buku pelajaran. Wajib dan udah murah bagi ukuran kantong seorang pengusaha sukses.
Tapi tugas masih tulis tangan ?

Walah, gak nyangka ada orang kayak gini. HUH !

Sekian halaman mulai nulis tangan tapi rasanya aneh ngliat tugas model gini. Ngbayangin bagemana sulitnya dosen ngbaca tulisan tangan yang udah kayak ceker ayam gak bakalan bisa kbaca.

Ngbikin tugas ini dengan tulis tangan seperti gak punya kerjaan lain aja, yah mungkin ini semacam pengakuan yang diinginkan oleh bapak dosen yang terhormat bahwa tugas yang ia berikan adalah yang paling berbobot dan sangat berat untuk dikerjakan.

Tapi apa gunanya kalo kuliah pasca ngambil bidang Manajemen yang diberikan malah kerjaan yang mungkin masih bisa didelegasikan pada staf ?
Tulis tangan ?

Aneh banget maunya ni dosen.