Aduh !

1

Category : tentang KeseHaRian

Yang namanya kegiatan nge-Blog bulan ini agaknya kebanyakan problemnya.
Selain tugas kuliah yang mangkin buanyak, terutama dah mulai bikin2 paper, need more time, ada juga gangguan koneksi makenya Telkomnet Instant.
Berkali-kali dicoba, gak pagi ya malem, hasilnya sama aja.
Disconnect mulu pas lagi asik ngeposting.
Bikin kesel.

Aduh !

Gemana nih Pak Telkom ?

Linkin P’ande ?

1

Category : tentang DiRi SenDiri

Musik yang dibawakan Linkin Park plus gedoran suara dari sang rapper Mike Shinoda maupun lengkingan si Chester Benn masih terasa kurang lengkap tanpa tongkrongan culun si pegawe negri, Pak Pande. huehehehe…

Diajak nampang bareng walo cuman nyampe di cover album doang, tanpa pernah ikut nongolin suara’nya di lagu-lagu mereka manapun. Sayangnya tindakan sembrono ini membuat sirik para penggemar Linkin Park dan tersenyum masam dengan alis yang mengernyit sambil berpikir…

‘ddduuuhhh… apa sih maunya ni orang ?

Kerja apa lagi yah ?

Category : tentang DiRi SenDiri

Saat isi dompet kian menipis.
Saat tabungan sedikit demi sedikit terkuras.
Saat gaji dipotong demi nyicil pinjaman buat sekolah.
Saat Istri lebih banyak membutuhkan biaya dokter juga susu.
Saat materi kuliah makin banyak menumpuk tapi buku pegangan belum terbeli.
Saat keinginan akan gadget tertimbun.

Hanya satu yang ada dikepala.

Mau kerja apa lagi ?

Seorang teman menawarkan bisnis MLM yang agaknya sudah dianggap hal yang anti bagi setiap teman yang dijumpai.
Ada juga yang menawarkan bisnis sama sekali baru tanpa kerugian.
Tapi apa mungkin bisa langgeng ?

Uang, Uang dan Uang.
Uang pegang peranan nomor satu diberbagai segi.

Hare gene ngomongin sayang tanpa uang, mungkin gak ada yang percaya.

Uang bisa membuat kening berkerut tanpa ekspresi saat disapa.

Uang bakalan pergi kalo dihasilkan dengan cara yang ndak bener.

Tapi uang bakalan menimbun jadi bukit kalo kerja yang bener.

Masalahnya, mau kerja apa lagi ya ?

Please Help Meeeee…..

Gelar tak lagi membanggakan

1

Category : tentang KuLiah

Menjalani proses kuliah tingkat pasca sarjana memiliki banyak sudut pandang jika dilihat dari bermacamnya motivasi dan tujuan dari masing-masing mahasiswa untuk melanjutkan studi.

Ada yang memang ingin serius menjajal kemampuan apalagi jika sudah masuk dalam satu perguruan tinggi negeri yang memiliki pengajar kebanyakan full teori. Ada juga yang ingin sekedar lewat, mendapatkan gelar hanya karena tuntutan pekerjaan didominasi oleh para pegawe negri yang sudah menjabat atopun dosen yang sudah harus mengantongi gelar di akhir tahun 2010 nanti.
Tak sedikit pula yang melanjutkan studi karena mendapat sokongan penuh dari sang orang tua sehingga tugasnya pribadi hanyalah belajar dan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.

Jika dilihat lagi dari sumber dana yang dipake, ada yang mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi yang menaunginya tentu kebanyakan yang menerima beasiswa ini ya dari kalangan dosen pengajar tingkat Sarjana. Ada juga yang make uang tabungan bertahun-tahun hasil simpanannya selama bekerja sampingan, dan terakhir ya golongan mengutang pada bank dan dicicil setiap bulan potong gaji. Aduh !

Namun tak semua merasakan enjoy tuk menjalani hari-hari kuliah maupun untuk mengerjakan tugas, lantaran rata-rata sudah bekerja dengan jam kerja padat, tapi ada juga yang tipikal murid sekolahan, padahal dia itu dosen tingkat Sarjana lho.
Tipikal murid sekolahan maksudnya, lebih berandai-andai dosen pengajar gak dateng n gak ngajar tapi ngasi nilai A, juga pengennya libur terus. Hehe…
Gak sedikit pula yang nyontek tugas mahasiswa lain pas hari pengumpulan. Hmmm… budaya sekolah. Hehe…

Hari gini punya gelar pascasarjana tak selalu membuat dada membusung. Ada type mahasiswa yang merendah, bahwa gelar sarjana aja masih ngerasa malu untuk disandang lantaran pengalaman praktek tak seoke yang dibayangkan orang, ini mau nyandang gelas pasca. Wah, apa kata dunia ?

Bukan apa-apa sih, tapi karena masyarakat sudah tau dan memaklumi bahwa gelar itu bukan lagi menjadi tolok ukur tingkat intelegensia seseorang, namun lebih dilihat dari kemampuan finansial dan juga kedudukan seseorang.

Ini diperkuat dengan banyaknya pejabat yang berlomba-lomba memasang gelar pascasarjana mereka padahal mungkin gelar itu tak sepenuhnya ditempuh. Alias dibeli 20 juta per gelar. Mau gelar apa saja juga ada.
Unsur politis juga tak kalah banyak, dengan membeli gelar yang biasanya dianugerahkan kepada politisi sukses dalam bidangnya. Honoris Causa rame diberikan biasanya menjelang pilkada atopun kampanye. Nama nongol di koran dengan kesuksesannya di bidang ini itu.

Tak sedikit pula para pejabat tinggi negeri ini maupun orkay lokal dan nasional yang menyandang gelas Doktor hingga Profesor.
Pengalaman menarik dialami ketika mengenal sosok famili yang dahulunya begitu sederhana, bahkan SMApun tak diselesaikan karena faktor biaya, eh saat anak yang ke-2 mantu, mendadak nama sang famili berisi embel-embel Prof. DR.
Wah, kapan sekolahnya nih ?

Tapi jangan berharap banyak kalo yang namanya gelar di belakang nama itu kemampuannya bakalan sama dengan gelar jaman presiden Indonesia pertama masih mimpin. Ya itu dah, gelar masih bisa dibeli biar sedikit lebih keren kalo namanya terpampang di koran pas lagi ngomong.

Satu lagi, gak menjamin pula kalo gelar yang panjang bakalan bikin orang yang menyandangnya berpikir untuk realistis dan down to earth. Malah kecenderungan orang-orang kayak gini, malah full teori tanpa ada prakteknya. NATO-No Action Talk Only.
Trus yang namanya pergaulan udah gak bisa gabung lagi dengan rakyat kelas bawah, dan kalo lagi diganggu waktunya, golongan ini malah lebih sayang membuang waktu hanya untuk ngobrol panjang lebar lepas kangen.

Kembali ke famili tadi, pemasangan embel-embel itu gak lama kok.
Saat anak ke-3 sekaligus terakhir mantu, embel-embel gelar tadi tak dipampang lagi di kartu undangan.

Entah karena merasa malu diketahui banyak orang gelar itu dari membeli ato malah baru menyadari kalo gelar bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan dipampang pada selebaran, kartu undangan maupun stiker kampanye- mengingatkan pada seorang tokoh membagi-bagikan stiker pada yang mudik untuk milih sang bakal calon huh ?

Anyway terakhir ada juga gelar yang asik disandang tanpa perlu mikirin beban. Gelar tiker trus bobo. Huehehe….

TEMPAT JAJAN ASYIK BAGI SI MINIM DANA

1

Category : tentang PLeSiran

Gak punya duit tapi pengen jajan ?
Jangan milih yang murah meriah di daerah lokalisasi, karena jajan disini bukan itu artinya…Hayo maen aja ke pasar tradisional.

Kesampingkan pikiran jijik akan kotornya pasar.
Buang jauh akan beceknya lantai yang bakalan dipijak.
Cium dan nikmati bau-bauan terutama kalo lagi ada di sektor daging laut.
Huehehe….

Tapi kalo itu semua bukan masalah, enjoy aja lagi, kata iklan rokok.

Pasar tradisional menyajikan berbagai macam jajanan maupun masakan uenak dan murah.
Tinggal pinter2 milih.

Tapi kalo ndak mau repot, main ke Pasar Badung aja.
Lantai 3 kalo ndak salah, masuk dari arah Barat Daya lebih pas mencapai tujuan dibanding dari arah Timur. Walo sempat kebingungan dengan arah angin –tau gitu kan tadi bawa GPS ya- ah dasar pegawe yang suka nongkrongin jalan raya.
Tapi yang pasti lokasi makanan ngumpul ada deket void. Jadi, cari aja voidnya dulu pasti nemu deh orang-orang ngumpul buat njajan…

Jajan disini mungkin lebih familiar bagi lidah yang aseli Bali ato malah lidah yang lama tinggal di Bali. Huehehe….

Menunya campur sari.
Dari makanan utama anak kost, mie ayam juga soto ayam.
Ada juga Nasi kuning yang uenak’e…
Trus tempat tongkrongan cewek2 yang sering nongkrongin pasar, berlaku juga bagi cewek-cewek yang gak anti dengan bau pasar tradisional, rujak kuah pindang gula ato cuka, tipat cantok sampe bulung, juga kolek aseli lidah Bali.
Dan kalo udah haus, boleh pesan es campur masih di lokasi yang sama.

Harganya tergolong murah meriah, standar kantong karyawan pasar tradisional- pedagang sampe buruh.
Rasanya dijamin uenak’e….

Cuman ya itu, sekali lagi syarat yang harus dipenuhi, gak anti bau pesing ato amis, gak jijik dengan pasar tradisional, dan juga dijamin gak bakalan segondok kalo lagi disuruh nunggu di warung gaul yang biasanya mengutamakan pelanggan setia dibanding pembeli yang lebih dahulu datang. Huh !
At last, untuk kelas cita rasa jajanannya boleh disamakan dengan warung di Gelogor jalan Bukit Tunggal, ato warung Made jalan Turi, bisa juga warung yang dulunya di jalan Sandat, sekarang udah pindah ke jalan Nangka. Gak lupa satu lagi warung di jalan Bisma.

Cuman ya ini letaknya di pasar tradisional. Sambil belanja minum es campur.
Huehehe….

Bahan Pelajaran bagi calon PNS dimanapun

Category : tentang Opini

Ketika memulai karir PNS dari bawah dengan usia yang relatif muda dibawah 30 tahun, tidak jarang yang namanya idealisme masih ada dalam setiap pengambilan tugas dari atasan. Tak jarang pula bentrokan kecil terjadi dengan mereka yang sudah lama mengabdi dengan berbagai gaya hidup dan budaya kerja masing-masing.

Ketika satu kepercayaan diberikan oleh atasan untuk memeriksa pekerjaan yang dilakukan mereka yang telah lama mengabdi, lantaran faktor idealisme tadi yang masih ada, ternyata bukanlah satu hal yang mudah untuk dijalankan.

Seperti kata mertua. Bekerja sebagai Tim Pemeriksa seperti menggergaji. Disini kena disana pun kena.
Kalo terlalu idealis dan kaku, maka dengan temanlah bentrokan akan terjadi, karena bagi mereka kalo tim pemeriksa sudah turun maka terlihatlah borok pekerjaan yang dilakukan selama ini.
Namun jika terlalu lunak lantas dibodohi pihak pelaksana hingga mengubah idealisme hanya demi seamplop kecil uang makan, maka dengan atasanlah yang akan bermasalah.

Sesungguhnya tim yang diturunkan bukanlah untuk memeriksa namun mengendalikan pekerjaan. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan data baik secara dimensi maupun spesifikasi. Serta untuk berjaga-jaga saat BPKP turun memeriksa di akhir tahun anggaran nanti.

Tak semua mau mengerti hal ini.
Bahkan tak jarang seorang staf yang ditunjuk sebagai Direksi Pengawas pada kegiatan bersangkutan, malah membela pelaksana kegiatan, padahal secara fakta penyimpangan sudah terjadi.

Disini barulah yang namanya pinter-pinteran berargumen dengan teman sekantor serta membuktikan siapa yang salah.

Gambar-gambar yang tampil disini menjadi contoh betapa bobroknya mental sebagian para pengabdi bangsa ini. Mendukung pencurian uang negara melalui volume pekerjaan yang berada dibawah tanah, dengan harapan tak akan diketahui.

Namun ketika disampaikan, lebih banyak Direksi berpihak pada Pelaksana daripada mendukung tim pengendalian yang diturunkan. Mungkin lantaran sudah ada perjanjian pembagian keuntungan ataupun gratifikasi (fasilitas yang berlebihan) bagi anggota Direksi Pengawas dari pihak Pelaksana.

Sialnya kerja keras tim ternyata tak lantas dihargai setinggi harapan.
Terkadang tingkat antar pimpinan lebih banyak bermain untuk menerima pekerjaan tersebut padahal sudah ada catatan penyimpangan volume dan konstruksi.
Malahan ada juga pihak Pelaksana yang begitu pongah mengaku-aku bahwa pekerjaannya sudah beres diperbaiki lantas mencatut nama tim pengendalian maupun atasan langsung, untuk mendapatkan Berita Acara Pemeriksaan sebagai salah satu syarat pencairan uang negara.

Kalo sudah begitu cap yang dikenakan untuk Tim yang diturunkan pun menjadi beraneka ragam. Walopun garangnya tim yang turun meminta Pelaksana untuk melaksanakan pekerjaan sesuai bestek maupun Kontrak agar sesuai dari segi dimensi maupun spesifikasi material dan pengerjaan, toh kalo sudah sampai ditingkat atas pasti disetujui dan uang pun ngalir. Ah, ini jadi ironi bagi mereka yang diturunkan sebagai anggota tim.

Nah, masih mau tetap idealis ato …

Krodit Pusat Kota Denpasar

Category : tentang KeseHaRian

Hari ini 25 Oktober, bagi umat Hindu merupakan salah satu hari yang dianggap suci, yaitu Purnama. Dimana salah satu kebiasaan yang terlihat utamanya di malam hari, bagi mereka yang tidak memiliki aktifitas memilih bersembahyang ke Pura maupun tempat lain yang disucikan.Di pusat kota, umat Hindu lebih terkonsentrasi di Pura Jagatnatha, sebelah timur lapangan Puputan. Pada saat jam belum menunjukkan angka sepuluh, konsentrasi tadi lebih didominasi usia remaja yang merupakan jam asyik buat ijin dengan ortu di rumah untuk bersembahyang bersama teman-teman. Padahal….

He… yang dibicarakan disini bukan kebiasaan remaja yang usai sembahyang lantas asyik-asyik di tempat gelap seputaran lapangan Puputan. Tapi lebih pada arus lalu lintas yang terlihat di perempatan patung Catur Muka. Krodit !

Jika pada aktifitas biasa di malam Purnama, kemacetan yang terjadi tak begitu panjang dan numplek, lantaran arus yang mengarah ke timur, dibatasi hanya untuk yang melakukan upacara persembahyangan ke areal Pura.

Namun minggu ini aktifitas yang berlangsung makin bertambah dengan pengerjaan pemasangan paving plus beton sikat dengan motif pada areal perempatan pusat kota. Hal ini berimbas pada ditutupnya jalur jalan menuju Utara, ke areal Bali Hotel. Aruspun dialihkan ke arah timur bagi yang datang dari arah barat, sedang yang datang dari selatan, punya dua pilihan yaitu ke timur dan barat.

Lebih mengerucut lagi, hari ini tampaknya pengerjaan pemasangan paving tadi sudah mencapai areal salah satu lajur jalan yang dipakai oleh kendaraan yang datang dari arah barat, sehingga arus kendaraan dialihkan ke lajur satunya lagi yang notabene merupakan salah satu pilihan bagi kendaraan yang datang dari arah Selatan.
Bisa dibayangkan ?
Semoga bisa. Karena kalo tidak maka cerita ini bakalan jadi Basi dan gak bermutu. Hehe….
Emang daging ? dikatakan bermutu. He..
Cek langsung dilapangan ya.

Nah, diambil alihnya lajur kendaraan dari selatan ke arah barat, menyebabkan seluruh kendaraan yang melewati patung Catur Muka, dipaksakan menuju kearah timur, yang hampir dua pertiga lebar jalan sudah dipenuhi oleh parkir sepeda motor. Jadi kendaraan yang bisa lewat hanya 1 mobil plus dua sepeda motor dalam ukuran lebar.
Bisa dibayangkan lagi, betapa krodit lalu lintas yang ada disana ?

Sialnya lagi arus lalu lintas hanya 1 jalur aja. Jadi gak bisa balik kanan untuk nyari alternatif jalan lain biar gak kena macet.

Disini baru terlihat kurangnya koordinasi antar pihak yang terlibat didalamnya, baik Pelaksana kegiatan pemasangan paving yang setidaknya harus menempatkan personil untuk mengatur lalu lintas disekitar areal pekerjaan plus pemasangan rambu ataupun lampu tambahan seperti halnya proyek DSDP diwaktu lalu. Begitu pula pihak kepolisian yang bertugas di jalan raya, hanya terlihat 1 orang termangu ditengah kemacetan yang mungkin dirasakan tak mampu untuk ditangani. Begitu pula pihak LLAJ yang setidaknya harus lebih menyadari kondisi lalu lintas di titik ini. Di instansi ini kan ada tukang berpikir yang menguasai bidang Transportasi ? bukan Cuma calo-calo KIR doang. Hehe….

Namun semua yang diatas tadi terasa belum lengkap tanpa keteledoran rencana pihak Pelaksana pemasangan paving. Dimana menempatkan material paving setinggi 2 meteran, di tengah-tengah jalan raya, tepatnya pada areal lampu lalu lintas yang tak terpakai lagi.
Hal ini mengakibatkan jalur kendaraan baik yang datang dari arah barat maupun selatan, harus melewati sisi kanan catur muka untuk kemudian mengalihkan arah kembali ke kiri (istilah Baline ‘Nyeluk’) lantaran di sisi kanan udah full parkir sepeda motor.

Mungkin maksudnya baik. Tapi apakah gak ada alternatif lain penempatan material disekitar areal pekerjaan misalnya ? salah satu yang aman untuk dijadikan alternatif yaitu pada sisi timur bundaran Catur Muka yang bisa dijamin gak bakalan pernah dipake ato dilewati pengendara lalu lintas kecuali untuk tempat nongkrong Pak Polisi yang berpatroli.
Pernah ngliat mobil Patroli nyanggong di sisi timur bundaran kan ?

Perasaan mangkel baru reda pas nyampe perempatan timur disebelah utara Pura, karena arus lalu lintas terbagi 2 ke arah utara dan timur.
Uaaahhhhh… Leganya….

Apa artinya idealisme?

Category : tentang KeseHaRian

Satu ini sesungguhnya menarik.
dapet dari milis Sarikata.
dari efendi jack <[email protected]>

Tanyakan pada petani apa arti idealisme
“Harga gabah mahal, pupuk murah”
jawab petani sambil menghisap rokok kreteknya

Tanyakan pada pelajar apa arti idealisme
“Nilai bagus, tidak ada PR, gurunya ramah-ramah”
jawab pelajar dengan membanting bukunya di meja

Tanyakan pada Sopir angkot apa arti idealisme
“Tarif angkot naik, harga BBM murah, dan tidak ada trayek liar”
jawab sopir angkot dengan menekan klakson sebagai tanda kesal

Tanyakan pada Pegawai Negeri apa arti idealisme
“Gaji Naik, Tunjangan Naik, Jam kerja dipersingkat”
Jawab PNS dengan menyematkan tanda korpri

Tanyakan pada Buruh Pabrik apa arti idealisme
“Tidak ada sistem kontrak, outsourching dihapus”
Jawab para Buruh Pabrik sambil membuka nasi bontotan

Tapi coba Tanya pada para seniman apa arti idealisme
“yang jelas itu sebuah kesialan,
karena dengan idealisme, teman kita banyak yang masuk penjara tanpa prosedur”
jawab para seniman dengan menggerakan penanya diatas kertas kumal untuk tetap menulis

Mojokerto, 20 Oktober 2007