Makin jarang nge-Blog

1

Category : tentang KHayaLan

Agaknya mengambil satu jalan sudah memiliki konsekuensi resiko tersendiri.
Mencoba menjajal kemampuan di jalur pendidikan Magister Teknik Sipil padahal lulusan Arsitektur merupakan satu keputusan nekat, masalahnya topik yang diangkat nyatanya beda jauh dengan yang pernah dipelajari terdahulu.Jadilah kuliah matrikulasi yang seharusnya menjadi penyegaran, malah membuat puyeng dan makin memaksa otak untuk menyerap materi yang mungkin saja tingkatannya gak se-fresh dahulu lagi.

Kuliah dimulai sekitar jam setengah 6 sore hingga jam 10 malem, setiap hari hingga tanggal 3 September nanti boleh jadi punya konsekuensi gak pernah lagi ngendon di depan komputer. Waktu serasa berharga untuk dilewatkan dengan istirahat lantaran pulang kerja sekitar jam 3 lebih. Ato bikin pe-er yang waduh, susah dimengerti.

So, nge-Blog pun jadi tersendat padahal begitu banyak hal yang ingin diangkat. Foto-foto yang diambil dengan handset Nokia 6275i pun makin banyak menumpuk di folder Blog Concept, menunggu waktu untuk menulis lagi. Malahan mungkin sudah kelewat basi untuk di publish lewat Blog.

Kemungkinan besar keinginan ini memang harus dipendam dahulu, mengingat jadwal matrikulasi yang padat disertai tes di akhir mata kuliah.
Nightmare….

Sekolah (lagi)

2

Category : tentang KuLiah

Ternyata yang namanya hari pertama dimana2 sama aja.
Kalo diinget2, hari pertama gawe di PNS juga gitu, deg2an lantaran was2 dengan kondisi kerja. Dalam bayangan udah terlintas disiplin tinggi layaknya perusahaan swasta yang selama 3 tahun dijelajahi. Tapi nyatanya setelah 3 tahun ngejalani, kok malah ngerasa kecele.
Hehehe…

Hari ini gitu juga. Bedanya sore ini adalah jadwal kuliah matrikulasi yang diadakan oleh Program Studi Magister Teknik Sipil.
Loh, alumni Arsitektur kok main ke Sipil ?
Ya, karena di Arsitektur gak ada program Pascasarjana sih.
Lagipula ilmu Manajemen Konstruksi agaknya dalam benak masih sangat relevan untuk diterapkan di bidang kerja.

Rasa dag dig dug emang masih terasa saat nyampe lokasi, tapi segera cair demi ngliat orang2 yang ikutan, satu dua ternyata temen lama.
Setelah ngliat jadwal, yang namanya rasa males liat mata kuliah tiap hari, dari jam 5.30 sore sampe 21.45 malem alamat gak bakalan dapet ngapa2in pulang kerja.
Kasian Istri deh.

Tapi rasa ini berkurang setelah dapet penjelasan bahwa kuliah matrikulasi ternyata bolong-bolong.
Ah, Tuhan mendengarkan pintaku rupanya.
Masalahnya di minggu ini, Istri mo jadwal cek ke dokter kandungan, liat apa ada perkembangan gak ya ? semoga ada dan sehat.

Dibalik rasa deg2an tadi, ada juga rasa heran campur kagum. Karena ternyata image Teknik nyatanya gak selamanya sederhana dalam hal penampilan diri. Lantaran diantara sekian mahasiswa yang lolos ada satu dua yang gayanya nih, mungkin lebih cocok kalo ni orang kuliah di Ekonomi ato Hukum.
Dari gaya jalan, fashion, make up, bener2 jauh dari image yang melekat di nama Teknik.
Jadi inget ama temen2 cewek yang dulunya mungkin tergolong jarang mandi kalo kuliah pagi. Wong kalo mandi ngantukpun dateng. Huehehe….

Yah, lihat aja nanti.
Apa yang top dalam berpenampilan bisa maksimal dalam pengorbanannya ini.

MENUNGGU GILIRAN

Category : tentang KeseHaRian

Lahir hidup dan mati sudah menjadi kodrat dan takdir bagi setiap manusia dan makhluk hidup di alam ini.
Lahir menunggu untuk bisa hidup, hiduppun menunggu saatnya untuk mati. Saat mati jika dikehendaki pun harus menunggu waktu untuk dilahirkan kembali.Dalam proses kehidupan itupun makin banyak lagi yang namanya cobaan, rintangan maupun hambatan. Tak jarang bertemu pula dengan yang namanya kegembiraan, keberhasilan dan kebahagiaan. Semua seakan menjadi bumbu keseharian dari-Nya.

Tak ada yang tahu kapan momen2 penting ini bisa datang.
Seorang teman kuliah yang mati-matian berusaha idealis membuat tugas akhir hingga mewujudkannya kedalam bentuk rancangan fisik, malah terkena stroke sebelum ujian akhir berlangsung. Kabarnya ia pulang ke daerah asalnya dan tak mampu membawa gelar yang diimpikannya.

Seorang famili dalam usianya yang masih muda, namun memiliki kemampuan lebih dalam merias wajah, tak ada yang menyadari bahwa hidupnya sudah berakhir hari ini. Walopun sang anak belum jua menikah dipinang orang, namun Tuhan berkeinginan lain.

Lagi-lagi teman kantor yang begitu berambisi untuk diangkat statusnya menjadi pegawe negri, berusaha menjilat dan mengekor kemanapun sang calon bupati terpilih pergi. Ditambah kepiawaiannya bergaul dengan para pejabat saat pergi ke pura-pura, yang membuat dirinya begitu jumawa bercerita bahwa ia dekat dengan si ini ato si itu, dibuktikan dengan foto2 dirinya bersama sang pejabat. Nyatanya semua usaha itu tak membuahkan hasil, ia tetaplah seorang harian.

Kehendak Tuhan adalah segalanya.
Tak ada yang dapat mengubah ataupun mengaturnya.
Manusia hanya bisa berusaha, mau memanfaatkan kehidupannya untuk menjadi lebih baik dikemudian hari ataukah malah makin terjerumus oleh tindakan2 yang tak sejalan dengan ajaran-Nya.

Jika sang manusia mampu memperbaiki diri, maka dikehidupan selanjutnya akan bergantung pada besar dosa yang mampu dihapuskan selama kehidupan sebelum. Jika masih memiliki hutang, maka lahirlah ia ke alam ini untuk menanggung sisanya.

Tinggal menungggu waktu dan giliran. Kapan akan diberikan cobaan hingga akhir dari nafas yang dipinjamkan-Nya.