Rupanya di negeriku hari ini yang namanya teknologi sudah semakin disalahgunakan, namun semua itu bagi sebagian orang malah nampak menguntungkan untuk mengeruk pundi-pundi uang diatas penderitaan sang korban yang lantas dicap pantas untuk jauh terpuruk dalam kehidupannya.Semua resiko tadi tentu saja sebetulnya sudah disadari betul bagi yang memang setuju mengabadikan sebagian kecil kehidupannya ke dalam sebuah rekaman lensa, berbekal kemajuan teknologi yang semakin hari semakin murah dan mudah didapat.
Namun ini tidak berlaku bagi mereka yang secara bodoh melakukannya ditempat terbuka, dan menyebabkan semakin terbuka peluang lebar bagi orang lain untuk seara diam-diam mengabadikannya.
Beredarnya video syur yang melibatkan aktor lokal, baik dari berbagai gaya maupun yang memilikimaksud tujuan tertentu, membuat miris berbagai kalangan, karena gak cuman menampilkan sosok generasi muda yang katanya merupakan harapan bangsa yang sudah siap tinggal landas ini, tapi juga oknum pegawai pemerintahan yang citranya sudah tercemar akibat kelakukan sebagian darinya dimata masyarakat, keluar dari norma kedisiplinan.
Yang membuat ternganga, ya keterlibatan Dewan terhormat, yang katanya mewakili rakyat, namun setali tiga uang, takluk saat berhadapan dengan wanita.
Anehnya lagi, sang pasangan yang terdeteksi sebagai penyanyi dangdut, tanpa dosa membeberkan semuanya, mencap diri sebagai korban, padahal sangat berbeda jika kita melihat video sesungguhnya.
Bahasan tabloid SMS terbaru Edisi 95 Januari 2007, mengetengahkan 9 video syur tambahan, yang jujur saja baru kali ini diketahui keberadaannya.
Ini bisa saja baru sebagian kecil yang secara ilegal beredar dimasyarakat, dibandingkan dengan video-video yang kmungkinan masih tersimpan rapi pada handset masing-masing menunggu saatnya saja.
Satu resiko besar jika tak siap menghadapinya.








