Toleransi Umat Beragama ; Masih Adakah ? (2)

Category : tentang KeseHaRian

Cobalah sekali-sekali lewat didekat areal Umat Agama tertentu saat mereka mengadakan ibadah, kewajiban maupun Upacaranya.
Satu hal yang paling terlihat adalah corong pengeras suara, yang ditaruh sedemikian rupa, dengan volume maksimum disuarakan hingar bingar, cukup memekakkan telinga.
Apakah gak ada yang mengatur, bagaimana sebaiknya corong-corong ini diposisikan ?Contoh kecil.
Saat satu dua Umat Hindu yang mengadakan Upacara di daerah Canggu, mereka memasang corong pengeras suara, yang kemudian dipakai untuk memutar hiburan seperti vcd Wayang Cenkblonk, selama 3 hari berturut-turut, gak perduli siang ato malam.
Sialnya ya penduduk yang ada disekitarnya, lumayan terganggu istirahatnya, hingga setelah diamati bukannya Upacara makin terlihat khusyuk, namun emosi lingkungan yang makin tinggi. Nah ?

Contoh lain.
Mungkin ini lebih disebabkan karena tata ruang perkotaan yang gak bener, dimana tempat Ibadah, berada tepat diseberang Rumah Sakit.
Kebayang kan, saat pasien Rumah Sakit, apalagi yang dalam kondisi membutuhkan ketenangan, dibayangi suara hingar bingar dari tempat ibadah diseberangnya, cukup membuat sang pasien bertambah sakit juga tertekan.
Sialnya, kesalahan lebih ditimpakan ke pihak Rumah Sakit, kenapa gak membuat satu ruangan yang kedap suara khusus untuk pasien-pasien tersebut ?
Ini terjadi setiap hari lho.

Contoh yang paling bikin geleng kepala.
Saat Umat Hindu merayakan Tahun Barunya, dimana diikuti dengan Penyepian disegenap areal, untuk menambah khusyuk suasana, namun dibeberapa tempat, Umat lain justru dengan pongahnya bersikap melawan, dan memilih tetap pada kebiasaannya, menyuarakan ibadah dengan hingar bingar, hingga menyulut emosi Umat Hindu.
Bukannya khusyuk dan ketenangan yang didapat, malahan emosi antar Umat sering terjadi pada hari-hari ini.
Siapa yang salah ?

“Dimana Langit Dipijak, Disana Langit Dijunjung”
Mungkin satu hal yang paling langka hari ini, adalah keinginan untuk menghormati Umat lain, yang mungkin saja kepentingannya jauh lebih besar dibanding kepentingan pribadi.
Namun karena merasa Superior, hal tadi lantas diabaikan.
Apa bijaksana jika kita mengaku sebagai Umat Beragama yang memiliki toleransi pada sesamanya ?

Toleransi Umat Beragama ; Masih Adakah ? (1)

1

Category : tentang KeseHaRian

Coba tebak, kenapa pertanyaan diatas kuajukan hari ini ?
Apakah masih ada yang namanya Toleransi Antar Umat Beragama ?
Hormat menghormati budaya maupun tradisi antar Umat Beragama dalam konteksnya bermasyarakat, berbaur dengan lingkungannya – “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”.

Satu contoh kecil yang paling sering mendapatkan sorotan di media cetak adalah penutupan jalan saat Upacara atau Ibadah dilakukan.
Mungkin jika pernah jalan-jalan pada hari-hari tertentu yang diangap suci dan sakral bagi Umat Agama tertentu, tentu tahu, bagaimana pengalihan jalur jalan dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan jalan raya, bagi pengendara yang kebetulan melintas didekat areal tersebut.Hari Minggu Pagi, di Kota Denpasar penutupan terjadi diruas jalan Surapati, karena Umat Kristen melakukan kewajibannya di Gereja yang terdapat di 2 jalur jalan, Surapati sendiri, juga Kepundung.

Hari Jumat Siang, penutupan terjadi dibeberapa titik yang kebetulan terdapat Masjid, dimana Umat Islam melakukan holat Jumat, seperti yang terjadi pada ruas Diponegoro maupun WR Supratman.

Hari suci bagi Umat Hindu lain lagi, gak Cuma dalam rangka Upacara pada Pura setempat, penutupan juga berlaku, jika pada jalan tersebut ada yang melaksanakan upacara Pernikahan atau lainnya.
Apalagi jika pada bulan-bulan dimana Hari Baik diambil untuk Prosesi Pernikahan, dalam satu desa bisa terjadi 2 sampai 4 acara yang sama, dan cukup untuk menjadi alasan menutup jalan setempat.

Aku sempat mengalami hal ini saat hari Minggu lalu, meghadiri undangan nikah seorang teman di Perean Badung, dimana ada 3 jalur jalan ditutup, untuk menunjang upacara berlangsung, walaupun pada saat aku sampai dilokasi, seharusnya gak perlu lagi hingga nutup jalan, apalagi dalam suasana gelap (sore menjelang malam), berhubung gak ada lampu penerangan jalan setempat.
Hasilnya lumayan kebingungan, mencari jalur masuk, dan juga untuk keluar dari areal tersebut, karena saat balik, ternyata penutupan jalan terjadi di jalur ketiga, padahal tadinya diperbolehkan lewat.

Gilanya, penutupan 3 jalur jalan ini gak pake koordinasi antar lainnya, lumayan membuat para undangan kebingunan mau ngambil jalur kemana. Namun yang paling ngeselin, oknum penutup jalan, dengan cueknya ngelarang kami lewat dan marah-marah, namun gak ngasi solusi apa-apa. Damn !

Mungkin ini kecil artinya dimata masyarakat, tapi lumayan bikin kesel, apalagi kalo kebetulan satu dua pengendara yang melintas dalam kondisi Urgent misalnya, darurat karena membawa orang sakit, gimana dong ?

Memang sulit jika sudah menyangkut masalah Agama, salah sedikit mungkin nyawa yang melayang, padahal ini lebih ditujukan untuk Toleransi antar Umat, ya gak ?

Hal Kecil dalam Budaya Tradisional dan Teknologi Modern

2

Category : tentang KeseHaRian

Dalam setiap upacara agama yang dilakukan oleh Umat Hindu, seringkali terlihat jelas dari asap yang membumbung, seandainya upacara tersebut dilakukan dalam hening sunyi sekalipun. Asap yang tercipta dari dupa yang dinyalakan, selain untuk menambah khusyuk suasana, merupakan satu sarana yang penting, dalam menghantarkan Bhakti Umat kepada-Nya.
Asap terbanyak juga tercipta dari ‘Pengasepan’ – sebuah sarana dengan tujuan sama, namun dalam skala lebih besar, biasanya terdiri dari serpihan Cendana yang dibakar.Pernahkah terlintas, apabila semua asap ini dijadikan satu tempat, akan terjadi semacam kabut tebal yang cukup membuat gerak dan fungsi mata maupun hidung, terganggu, terutama bagi orang=orang yang berada sangat dekat dengan obyek penghasil asap ?
Bukan itu saja.
Jika mau lebih ekstrem lagi, asap ini juga dapat menjadi salah satu faktor pencemaran udara, yang katanya dapat melubangi Ozone ?

Namun semua itu seakan terlupakan, saat Umat Hindu memulai hinga menyelesaikan kewajibannya. Sekian puluh tahun terjadi di Bali, namun sampai hari ini, belum ada protes untuk hal itu. Yang ada malah suasana magis dalam setiap persembahyangan, menarik perhatian wisatawan domestik hingga luar negeri, untuk menyaksikan Umat Hindu melakukan kewajibannya menyelaraskan hidup berdampingan dengan alam, disamping menikmati alamnya yang katanya terindah.

Mungkinkah satu saat nanti, akan terlintas dibenak ilmuwan kita untuk membuat satu sarana yang bentuk wujudnya sama, dengan harapan tujuan yang diinginkan pun masih tetap sama, namun polusi asap yang tercipta bisa diminmalisir bahkan ditiadakan ?
Bukankah saat ini terapi psikologi sudah mulai banyak menggunakan sarana yang sama, namun lebih diutamakan pada bau wangi yang diciptakan, agar dapat menciptakan suasana yang segar dan nyaman ?

Nokia CDMA 2685i

Category : tentang TeKnoLoGi

Handset CDMA yang oke, tapi dengan harga murah, n gak perlu buang uang banyak cuman untuk ngedapetin fasilitas kamera dengan resolusi VGA, yang hasilnya 100 persen gak menimbulkan senyum di wajah pemakainya.Fasilitas laen macem Blutooth ato IrDa, udah cukup untuk dijadikan koneksi antar gadget, ditambah dengan Memory yang leluasa, cukup untuk gonta ganti ringtone yang udah berformat MP3.
Tapi jangan berharap banyak untuk mengoleksi file audio musik, maupun video-video Porn. Mungkin harapan ini lebih baik dialihkan ke player tersendiri aja, untuk menghemat batere.

So, thanks to Nokia untuk ngeluarin seri 2685i yang CDMA, tapi mungkin harus menunggu harga jatuh ke kisaran kurang dari 1 juta kali ya ?

BIG DOZER

Category : tentang KHayaLan

Pernah lihat benda yang membuat mata terbelalak ?
Mungkin sebagian awam akan mengatakan iya, saat melihat kendaraan mewah built up melintas didepan mereka. Tapi ini ?
Alat berat yang sanggup untuk mengikis batu kapur seluas areal 400 hektar, yeah, saat berkunjung ke BPG, proyek prestisius milik Tommy Soeharto, mata ini tempat takjub melihat Track Dozer dengan ukuran besar, malah jauh lebih besar dari milik PU Badung maupun Propinsi.What a Big…..

Mesin Ketik Di Jaman Modern

Category : tentang KeseHaRian

Jaman udah modern gini, nyaris semua aktifitas dikerjakan dengan menggunakan Komputer, begitupula di Pemerintahan. Namun gak semua sember daya manusia yang ada di Pemerintahan mampu untuk mengoperasikan komputer dengan optimum.
Sebagian kecil masih ada yang menggunakan mesin ketik, dengan alasan untuk menjaga keaslian dokumen.
Sementara lainnya malah menganggap, dengan menguasai kedua alat ini, itu artinya kerjaan bakal datang, so lebih baik enggak deh.
Huehehe….Nah, sdm yang sebagian kecil inilah yang mengganggap, sistem komputerisasi malah merampas pekerjaan mereka, yang selama kurun waktu menjadikan mereka orang paling penting di jajaran tenaga pemerintahan.
Padahal dengan sistem komputerisasi, banyak hal yang gak perlu dilakukan bisa diperas menjadi lebih ringkas dan efisien, misalkan saja, menggandakan dokumen dalam jumlah banyak, serta meminimalkan kesalahan ketik.

By the way, faktanya mesin ketik tetap digunakan dijajaran kerja Pemerintah.
That’s all.