Sebuah Cerita Menyiapkan Piodalan Banjar Tainsiat

Sampai piodalan tahun lalu saya masih memilih datang sekitar pukul 5 sore, bersama istri, tiga bocil dan pekak nini, lalu duduk di pelataran dalam banjar, menanti waktu muspa bersama dilakukan dan beranjak pulang saat selesai persembahyangan. Sebelum itu, menyempatkan diri untuk say hello dengan semeton regu dan lainnya yang dikenal.
Sementara tahun ini, mau tidak mau, terlibat penuh bahkan wajib aktif dan berinisiatif.

Menjadi satu dari delapan orang Kelihan Adat Banjar Tainsiat sejak bulan Februari lalu, memberikan banyak pengalaman baru yang rata-rata mengharapkan kepedulian kami, empati bahkan inisiatif tadi. Sementara ketentuan baku dan warisan dari generasi sebelumnya, yang sejauh ini menjadi petunjuk atau guidance bagi kami, rupanya belum mencakup catatan-catatan sampingan yang luput dari pemantauan sehingga menjadi masukan bagi kegiatan kami kedepannya.

Mengasyikkan sebenarnya, jika saja bisa dilakukan tanpa mengurangi waktu dan beban kerja kantoran dan juga keluarga. Namun yang namanya tantangan, tentu ada hal-hal lain yang harus siap dikorbankan untuk bisa mencapai tujuan.
Apalagi ini ceritanya dilakukan secara bersama-sama. Minimal ada 16 orang yang terjun dan terlibat, bahu membahu saling membantu. Belum termasuk krama agung warga banjar Tainsiat juga bantuan regu dan pengayah banjar.

Membiasakan diri sambil gerak badan dan menjaga kesehatan, juga keselamatan bersama.

#DokumentasiKelihanAdat
#BanjarTainsiat

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.