Amor ing Acintya untuk ibundanya Jun

Tak pernah terbayangkan bilamana sosok Ibu, orang yang melahirkan kita, harus pergi menghadap pada-Nya saat kita masih membutuhkan kehadirannya. Apalagi pada saat yang sama, mengenyam posisi sebagai anak bungsu, anak yang biasanya paling dekat dengan Ibu. Shock berat pastinya.

Saya masih bersyukur bila sampai hari ini, masih diberikan kesempatan untuk melihat Ibu bersama-sama suami tercintanya, bapak saya tentu saja, ikut menemani kemanapun kami pergi. Padahal secara usia, perayaan terakhir saja sudah menginjak angka 72 tahun. Sementara Bapak ada jarak 6 tahun lebih tua darinya.

Hari ini saya mendapatkan kabar bahwa Ibunda salah seorang staf di ruangan kantor, telah meninggalkan keluarga mereka selamanya. Ini terjadi pasca agenda tangkil ke Pura Lempuyang yang dikenal dengan barisan 1700 tangga menuju puncak penataran pura. Rasanya harus mikir keras dulu kalau mau tangkil ke lokasi dengan mengajak serta orangtua kami.

Dengan posisi yang bersangkutan sebagai anak bungsu, saya meyakini ini adalah salah satu cobaan terberat yang pernah ia terima. Mengingat dengan usia yang bersangkutan, kelihatannya masih membutuhkan kehadiran seorang ibu sebelum melangkah ke kehidupan baru nantinya.

Amor ing Acintya untuk ibunda Junaedy Triantika, yang tabah.

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.