Skip to main content

Bersantai di Tukad Yeh Penet Desa Ayunan

Ada sedikit kekhawatiran dalam benak ketika kendaraan kami mulai memasuki wilayah Desa Penarungan. Memilih akses melewati ruas jalan Ayunan – Cengkok yang kalau tidak salah masih dalam kondisi rusak berat sama saja dengan membunuh kendaraan kami secara pelan-pelan. Maka dengan percaya diri saya mengambil akses ruas jalan Blahkiuh – Kedampal yang baru saja selesai diaspal. Sayangnya kendati pada ruas jalan tersebut kendaraan dapat melaju dengan mulus, tidak demikian ketika berbelok menuju ruas jalan Blahkiuh – Ayunan yang rupanya selain berkelok-kelok, kondisinya pun malah jauh lebih parah dari ruas jalan Ayunan tadi. Waaaahhh… kacau !!!

Istri, MiRah putri kecil kami dan saya, diundang oleh rekan kerja seruangan Istri ke Desa Ayunan untuk ikut serta menemani putrinya yang baru saja naik kelas, bermain di sungai dekat kampung mereka. Berhubung hari Jumat adalah hari pendek, sepulang kerja kami memutuskan untuk berangkat bertiga dengan kendaraan kijang lama menuju wilayah Desa Ayunan dengan membawa serta sedikit bekal camilan.

Kami sampai dilokasi hampir bersamaan dengan keluarga kecil Desak Bobo, rekan kerja Istri yang rupanya juga mengajak serta putri kecilnya Tita dan sang suami. Akhirnya ada temannya nih. Wajar saja saya khawatir ketika mendapatkan tawaran ini, karena perkiraan saya tidak semua suami akan mau ikut serta mendampingi istri dan anak-anak mereka mengingat pekerjaan dan waktu yang dimiliki berbeda satu sama lainnya.

Tukad Yeh Penet yang akan menjadi tujuan kami hari itu, letaknya tidak jauh dari Banjar Griya, kampung Bu Dayu Putri, rekan kerja seruangan Istri. Tinggal berjalan kaki kurang lebih seratusan meter melewati abian atau lahan perkebunan tetangga, jalan desa dan akhirnya jalan setapak yang masih berupa tanah dan bebatuan.

Jujur saja, dengan berat badan saya yang sudah melewati angka 1 kuintal, ditambah MiRah yang tidak bisa diam dalam gendongan cukup membuat saya frustasi dengan sulitnya medan yang harus kami lalui. Selain licin, tingkat kecuraman antar tangga batu satu sama lain tidak senyaman yang kami bayangkan. Diperlukan nafas dan stamina yang tidak biasa agar kami bisa sampai dibawah dengan selamat.

Jernihnya air yang kami harapkan mengalir di sepanjang alur Tukad Yeh Penet rupanya tidak dikabulkan oleh-Nya. Derasnya hujan yang mengguyur daerah sekitar pagi harinya membuat lapisan tanah ikut hanyut dan bercampur dengan air sungai hingga mengubah warna menjadi cokelat. Kepalang tanggung, lantaran sudah sampai dengan selamat dan berpeluh serta menyaksikan wajah MiRah yang sumringah melihat aliran air sedemikian banyak, kami memutuskan untuk tetap terjun dan berendam di hilir aliran sungai.

Setelah mengabadikan beberapa pose yang ‘menantang’ sesuai pesanan, saya sendiri memilih untuk duduk di atas sebuah batu besar ditengah sungai dan mulai mengambil beberapa gambar pemandangan alam dan beberapa ekspresi unik secara diam-diam. Paparazi kuangan gae (kurang kerjaan) kata Semeton Yowana Warga Pande yang kebetulan sempat menjadi korban ekspresi, saat ngayah bersama di Pura Penataran Pande Tamblingan beberapa waktu lalu. Yah, mumpung ini adalah momen yang sangat jarang kami lakukan, kenapa tidak ?

*Tulisan lama… tapi baru inget buat di-Publish. kalo gak salah jalan-jalannya tanggal 18 Juni 2010. Hehehe…

Comments

Popular posts from this blog

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dilengkapi lagi. 

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.