Set (Scorpio Z) Terjual

Category : tentang KeseHaRian

Untuk kesekian kalinya saya memanfaatkan jasa OLX, menjual satu demi satu ‘teman’ yang pernah menemani hari, dari ponsel Hisense PureShot+ yang laku dalam hitungan sejam, Nokia X dan Lumia 520, Andromax A, B dan E2, kini giliran si merah kekar tunggangan lakik pun jadi korban.

Yamaha Scorpio Z 225 cc Tahun 2011 yang dibeli dengan menggunakan honor sebagai Sekretaris LPSE Badung , usianya hanya sampai 5 tahun saja setia menemani ke berbagai kegiatan lapangan yang saya miliki. Terhitung awal tahun 2017, motor ini nganggur tak bertuan lantaran tak satupun paket fisik yang saya emban setelah dipindahtugaskan ke Seksi Peningkatan Kualitas Perumahan.
Meski demikian, si merah yang kaki-kakinya disulap jadi lebih garang, tetap dirawat berkala di Yamaha Flagship Diponegoro.

Jika dulu Scorpio ini masih mampu mengajak serta si kecil Mirah kemanapun kami pergi, kini jadi agak sulit mengingat kehadiran 2 bayi yang sepertinya kasihan kalo harus didudukkan pada tangki motor sepanjang perjalanan. Maka jadilah kesayangan kami ini sebuah motor egois. Hanya si bapak saja yang menggunakannya tanpa ada keluarga yang mengikuti.

Keputusan menjualnya lewat OLX apalagi kalo bukan karena proses inden motor Yamaha XMax yang punya mesin lebih gahar, 250cc beberapa waktu lalu. Ketimbang membayar banyak pajak, dimana motor juga kena pemberlakuan progresif juga pemeliharaannya, maka dengan berat hati Scorpio ini dilego sejak sebulan lalu.
Bersyukur ada yang mau ambil dengan harga wajar. Mengingat penawaran yang lain, lumayan sadis lantaran hanya akan memanfaatkan mesinnya saja untuk modal modif Jap style.

Per hari senin sore lalu, ni motor akhirnya berpindah kepemilikan. dan sudah ditindaklanjuti pula dengan penghapusan di Samsat selasa siang kemarin.
Rada berat sebetulnya, tapi kalo tetap dipiara sementara jarang digunakan ya kasihan juga…

NgeGosipin Isu Peluncuran Yamaha XMax 250

2

Category : tentang KHayaLan

Per tanggal 2 November lalu, akun Instagram @iwanbanaranblog sempat upload gambar prosesi launching produk motor terGres milik Yamaha yang salah satunya ikut pula dipamerkan, XMax 300, upgrade seri NMax yang laris manis di pasar Indonesia. Sekedar tahu bahwa akun yang satu ini tergolong UpToDate banget kaitan soal rilis resmi motor baru di negara kita ini. Termasuk soal Test Ride Honda CBR 250 RR yang digelar di Bali akhir pekan kemarin.

Tak Ayal, akun kawan saya, @madewirautama yang belakangan sudah mulai jarang nulis di blog langsung mengabarkan malam itu juga, dan sukses membuat pikiran saya campur aduk ndak mengantuk lagi. Sialan banget.

Tapi ya wajar sih, wong seri XMax ini memang satu-satunya impian saya sejauh ini untuk menggantikan si merah kekar, Yamaha Scorpio 225cc tahun 2011, yang hingga saat ini sudah mulai jarang menemani hari, lantaran tidak ramah pada anak-anak. Si Anak sih enjoy saat dipangku pada tangki depan atau dibonceng belakang, tapi Bapaknya yang ketar ketir khawatir, bawa motor jadi ndak nyaman. Hehehe…

Hanya saja seperti yang disampaikan tadi, seri XMax 300 yang saat launching kemarin itu rupanya hanya pengenalan awal pada publik bahwa rencananya di Tahun depan, Yamaha bakalan merilis XMax 250 untuk pasar Indonesia. Sementara yang 300 tadi sedianya akan dipasarkan di Eropa. Ealah…

xmax-pandebaik

Padahal sehari pasca postingan Instagram tersebut, saya langsung memfollow-up Isu peluncuran dengan menghubungi akun Yamaha Diponegoro melalui akun BBM mereka, rupanya belum bisa di-Indent sesegera mungkin. Baru dibuka untuk pasar Jakarta saja. Waduh…
Mana sudah terlanjur menawarkan si merah ke beberapa teman. Hehehe…

Motor XMax yang nantinya bakalan dilepas untuk pasar Indonesia, sebagaimana rencana penamaan, punya kapasitas mesin sedikit lebih besar dari Yamaha Scorpio yang kini masih rajin dipanaskan setiap pagi. Nambah 25 jadi 250 cc. Setidaknya masih naik lah dari kepemilikan sebelumnya.
Secara Konstruksi Bodi, sepertinya ndak jauh beda ketimbang pendahulunya, seri NMax 160cc. Dilihat dari bentuk setang kemudi, dudukan hingga wajah depan. Hanya saja seri ini membawa ban gambot untuk meyakinkan calon konsumen akan besarnya daya yang kelak bisa digeber di jalan aspal.

Sementara ini, harapan akan kehadiran XMax adalah persoalan setang kemudi yang paling minim sedikit lebih tinggi dari seri NMax yang terpantau mentok pada lutut kaki saat digunakan untuk berbelok arah. Sangat menyulitkan untuk pengendara dengan bodi setinggi saya. Disamping itu, minimal bisa lebih ramah anak-anak baik saat didudukkan di bagian depan maupun belakang pengendara. Jadi persoalan jalan-jalan bareng keluarga masih bisa nyaman dilakoni.

Yang masalah kini hanya satu. Persoalan harga. Dengan rentang kisaran 50an juta rasanya sih masih eman untuk mengadopsinya pulang ke rumah. Meskipun mau tak mau ya harus melego si merah untuk nambah-nambah.
Gimana baiknya ya ?

Menanti XMax mengaspal di Jalanan

8

Category : tentang KHayaLan

Urusan motor tunggangan beroda dua, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan si merah, Yamaha Scorpio yang berkapasitas mesin 225cc tahun 2011 itu. Apalagi pasca modifikasi kaki-kaki, menjajal jalanan hingga ke pelosok proyek jadi jauh lebih mantap berkat ban dan pelek besar juga penambahan tinggi dan perubahan footstep underbone.
Tapi dibalik semuanya, ada satu aktifitas yang berkurang yaitu berkendara dengan keluarga.
Saya tak lagi bisa mengajak anak-anak dan istri sekaligus, mengingat Mirah putri pertama saya kini sudah beranjak remaja, Intan biasanya meminta duduk di depan sedang Ara yang paling kecil masih harus digendong ibunya.
Sepertinya memang harus memilih tunggangan baru kedepannya.

Jika melirik kebutuhan, yang ideal sebenarnya ada pada motor besar Harley Davidson. Baik yang bertipe Wings itu atau sepalanan yang Trike. Tapi untuk kantong ukuran pekerja masyarakat, sepertinya bakalan mengundang KPK datang menyadap jika melihat dari besaran gaji yang didapat. Tentu musti pintar pintar nyari sampingan baik untuk membeli motornya dan juga pemeliharaan bulanannya. Dan itu saya yakin bakalan makin jauh atau harus dibuang jauh-jauh.

Sepupu yang diajak berhitung modifikasi kemarin sempat berkata. ‘Bli kalo bisa dalam memilih motor minimal ya naik tingkat. Jangan kembali pada mantan, atau turun status.’
Ini terlontar saat saya berkeinginan menjual motor Honda Tiger 2000 keluaran tahun 1998, dan sedikit kebingungan menentukan pilihan. Antara Yamaha Byson dengan Tiger Revo saat itu.
Kenapa jadi memilih Scorpio ya salah satu pertimbangannya ya itu. Masuk akal juga sih.

Maka dari tunggangan awal Honda Astrea 800, naik menjadi Honda Tiger 2000, beralih ke Yamaha Scorpio 225, kini sedang berancang-ancang memilih yang punya kapasitas mesin sedikit lebih tinggi dari itu, namun terjangkau.

Nah ceritanya lagi nungguin XMax dirilis resmi nih. Infonya sih Agustus tahun ini. Benar tidaknya ya itu soal nanti.
Tapi ngomong-ngomong XMax itu yang mana ya ?

Yamaha XMax.
Menyitir namanya terlihat benar merupakan keluarga motor matic keluaran Jepang yang punya bodi sedikit bongsor ketimbang sejawatnya.
Selama ini yang udah mengaspal duluan itu ada versi TMax yang punya mesin 550cc dengan harga jual setara Toyota Avanza keluaran terbaru, dan seri NMax yang bermesin setara Byson.

XMax PanDeBaik 4

Mesinnya sendiri berkapasitas 250cc, dengan perwajahan yang mirip dengan NMax.
Tadi sempat baca di tabloid Motor terbaru melalui aplikasi S-Lime miliknya Samsung Galaxy Tab 3V. Hmmm… kelihatannya menjanjikan.

Persoalan harga sepertinya bakalan setara Honda PCX atau bisa jadi setara Suzuki Inazuma atau Kawasaki Ninja 250 yang artinya dalam waktu dekat musti siap-siap ngejualin si merah Scorpio dan nabung nabung dikit lagi biar bisa tercapai angan-angannya.

Secara penampilan sih kelak bakalan kalah sangar dibanding si merah, yang mantap diajak touring ke proyek jalan lingkungan di seantero Kabupaten Badung.
Tapi mengingat aktifitas sudah gak lagi mupeng dengan jalan jauh ke seberang lautan atau rame-rame di komunitas, lebih banyak ke aktifitas keluarga, sepertinya saya sudah siap berkorban untuk kendaraan yang satu ini.

XMax, kelihatan worth it untuk dinanti.
Doakan yah…

Pikir Pikir Ganti Motor ?

5

Category : tentang KHayaLan

Menyambangi dealer Yamaha Diponegoro sabtu pagi tadi, sempat terpikirkan buat ngeganti motor lagi.
Tapi masih kasihan dengan Scorpio 2012 yang saya miliki, baru setahun lalu usai modif dibikin lebih gambot, masa sudah harus beli lagi ? He…

Awalnya sih cuman iseng ngeliatin foto-foto touring sodara sepupu yang pengacara kondang itu, pak Yande Putrawan, kalian kenal ?
Dia membesut Suzuki Inazuma yang punya bodi jadul tapi panjang untuk ukuran motor, diajak jalan jalan kemanapun suka bersama kawan kawan sesama rider semotor.
Jika dibandingkan dengan Yamaha Scorpio yang saya miliki, Inazuma kelihatannya jauh lebih nyaman buat dipake jalan jauh.

Nah, pas lagi inget inget jarak as sumbu roda yang panjang, di dealer ini malah nemu Yamaha TMax, motor matic yang punya kapasitas mesin dua kali lipatnya Scorpio maupun Inazuma. Tadinya sih tak pikir harganya mirip-mirip si Kawasaki Ninja, makanya sempat kepikiran mau ganti motor…
Tapi pas tahu harganya setara mobil Low MPV macamnya Toyota Avanza atau Honda Mobilio, errr… rasanya musti buang jauh-jauh mimpi itu dah.
Yang harganya se-Kawasaki Ninja 250 aja masih gak rela kalo uang segitu dituker motor, apalagi yang ini ?
Walah…

PanDe Baik Scorpio

Meski begitu, secara penampilan dan fungsi kalopun bisa dihibahkan gratis oleh Yamaha, sepertinya asyik dipake jalan bareng anak-anak. Muat banyak.
Sedang kalo istri ikutan, mending bawa mobil aja biar bisa tidur nyenyak mereka.
He…

Kenapa malah tertarik dengan TMax, bukannya tongkrongan sport yang R-R-an itu, ya memang kelihatannya secara usia sudah lebih suka dengan yang praktis-praktis saja, toh sekarang sudah gak pernah lagi (inget, gak pernah ya… bukan jarang :p ) ngegeber kecepatan motor diatas 80 km/jam.
Lebih suka santai kayak dipantai.
Apalagi kalo pas lagi keliling kota bareng anak-anak, ya pasti lah sambil nunjuk ini itu di sepanjang jalan. Kan gak mungkin kalo riding begitu sambil ngebut. He…

Klingon aka New Scorpio Z

2

Category : tentang KeseHaRian

Agak heran ketika membaca komentar dari om Viar, pemilik brand kendaraan dengan nama sama *eh di salah satu foto yang saya upload ke halaman Instagram beberapa waktu lalu. Klingon… begitu saja. Apa maksudnya ya ?

Ternyata setelah minta bantuan mbah Google, baru deh nemu apa arti Klingon.

Klingon itu dalam istilah sebenarnya adalah sebutan atau nama salah satu tokoh antagonis di film seri Star Trek yang dapat dikenali lewat bentuk batok kepala yang sedikit lebih besar dari manusia biasa. Nah trus kaitannya dengan komentar tadi apa yah ?

Klingon PanDe Baik

Rupanya Klingon merupakan sebutan bagi kendaraan bermotor besutan Yamaha New Scorpio Z yang memiliki batok kepala lampu mirip mirip dengan tokoh Klingon dalam film Star Trek tadi. Ah… baru bisa dipahami.

Klingon atau sebutan bagi batok kepala lampu New Scorpio Z ini sebenarnya bagi saya tidak terlalu mengganggu, meskipun baik di forum ataupun review dari pengguna kendaraan berkapasitas 225 cc ini merupakan salah satu faktor yang menurunkan penilaian orang sebelum memutuskan untuk membelinya.

Sebaliknya yang saya anggap gangguan adalah pola kelistrikan pada lampu tersebut yang serupa motor bebek dimana baru akan berfungsi saat mesin dinyalakan. Lampu akan terlihat makin terang saat kendaraan digeber kencang. Ini berbeda dengan pola yang diadopsi oleh saudaranya sendiri yaitu Yamaha Byson atau pendahulunya Honda Tiger. Agak mengecewakan memang.

Tapi ya sudahlah. Saya pribadi sebenarnya sudah berencana untuk mengganti batok kepala Klingon dengan tampilan khas Triumph yang berbola mata ganda itu. Sayangnya sih belom kesampean hingga hari ini. Semoga kelak bisa terwujud.

Klingon ? Hehehe…

Otot Otot Baru Yamaha Scorpio Merah

1

Category : tentang KeseHaRian

Dengan tujuan awal yang hanya mengganti kaki tanpa membebani bodi motor hingga ke dudukan, sebenarnya proses penggantian otot Yamaha Scorpio Z tahun 2012 ini gag memakan waktu yang lama. Hanya saja dalam perjalanannya, yang memakan waktu hanyalah proses pencarian spare part yang sesuai dengan keinginan. Itupun lantaran sudah merasa gag sabaran, satu dua bagian akhirnya saya pending dahulu dari proses perubahan pertama ini.

Penggantian Velg menjadi prioritas utama. Mengingat dengan ukuran standar 100 untuk velg depan dan 120 untuk velg belakang rasanya susah untuk mengadopsi besaran ban yang sesuai harapan. Maka jadilah depan diganti dengan velg 3 inchi dan belakang 4,5 inchi. Bedanya dimana yah ? *hehehe…
Mengganti Velg secara otomatis ya harus membeli ban nya juga. Untuk depan, saya lupa ukurannya berapa sedang belakang ambil ukuran 160/60. Jadi hasilnya sekitar 2 koma… *eh
Khusus ban, saya sengaja pilih yang terbaik dari pilihan yang ada, yaitu battlax (bener gag ya penulisannya ?), agar cengkraman ban sedikit lebih baik di jalanan saat berkendara. Mahal dikit ya wajar lah…

Usai mengubah ukuran ban, secara otomatis berpengaruh pada Arm depan dan belakang. Awalnya untuk sisi depan, komang Dika sepupu saya menyarankan untuk menggunakan versi orinya, sehingga perburuan hanya fokus pada sisi belakang yang rupanya agak susah menemukan part untuk Yamaha Scorpio. Maka jadilah part untuk Yamaha Vixion yang dipilih lantaran pilihan lain yang tersedia hanya Arm untuk Kawasaki Ninja dan berharga Mahal tapinya…
Namun sesuai dugaan, saat ban depan dipasang rupanya membutuhkan Upside Down khusus agar bisa masuk dan di-Apply. Ya sudah, untuk yang satu ini pada akhirnya diambil juga pilihan yang ada.

Pengaruh lain dari penggantian ban adalah terkait sayap depan yang mengadopsi variasi untuk Ninja tadi. dan Untuk melengkapi image sangar di area depan, kami mengganti piringan cakram versi ori, dan memindahkan part ori tersebut ke sisi belakang.

Ketika urusan kaki sudah clear, saya masuk ke bagian Footstep yang memang sudah mengidam-idamkan pemindahan ke sisi belakang sehingga kaki pengendara jadi mirip motor balap ketimbang standar biasanya. Sayangnya hingga waktu seminggu pemesanan, gag jua nemu yang warna hitam atau merah seperti yang kami idamkan. Maka jadilah warna coklat metalik yang ada diadopsi tanpa banyak pertimbangan lain.

Masalah baru muncul ketika pak Made, mulai mengaplikasikan Arm belakang dimana ketika disimulasikan, terdapat beberapa titik yang memerlukan perubahan dan keputusan segera. Diantaranya, pemotongan bagian filter, yang kemudian diganti, tidak jadi dipotong, dengan filter milik Honda Tiger agar sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kedua, dudukan Footstep belakang, menghalangi pula kehadiran Arm baru yang berakibat pada pemindahan (potong dan las baru) footstep ke arah atas lebih sedikit. Disamping itu, lantaran adanya perubahan tinggi ban belakang, diputuskan pula untuk menambah space jarak dudukan dengan ban kendaraan sekitar 5-10 cm, sehingga efeknya menjadikan kendaraan lebih tinggi dari sebelumnya.

Diluar semua aktifitas tersebut, ada dua penambahan atau tepatnya penggantian spare part untuk mengubah wajah kalem Scorpio yaitu setang lebar dan ekor belakang. Maka lengkaplah sudah semuanya.

Scorpio PanDe Baik

Pasca perubahan ini sebetulnya ada satu ide lagi yang belum terealisasi dan akhirnya saya pending dahulu pengerjaannya yaitu perubahan lampu depan, dimana versi ori mengambil tenaga dari spool seperti yang terjadi pada motor bebek dan sepeda, makin terang ketika gas makin pol diputar… menjadi pola motor Honda Tiger dimana tenaga lampu diambil langsung dari Accu/aki. Tapi yah… sudahlah… itu nanti saja dipikirkan.

Memperkuat Otot Scorpio Merah

3

Category : tentang KHayaLan

Sekurangnya ada 5 (lima) hal yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkan keinginan melakukan permak motor dari berwajah tinggi ramping menjadi sedikit kokoh dan berbobot.

Scorpio Pandebaik 1

Pertama, tentu saja Dana. Tanpa dana atau suntikan dana rasanya sulit bisa mewujudkan apapun keinginan dan harapan yang ada. Gag bisa hanya mengandalkan usaha. Minimal kisaran 7,5 juta cash didepan.

Kedua ada Ide. Tanpa ide barangkali apa yang akan direncanakan kedepan bakalan ngawur bahkan cenderung useless. Jadi jangan sampau membuang sumber daya yang dimiliki hanya karena ide belum terbayangkan. Bisa hunting via Google atau bahkan melihat tampilan kawan di jalanan.

Ketiga ya waktu luang bagi motor yang cukup banyak. Berhubung aktifitas permak baik variasi hingga modifikasi membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baik untuk pembongkaran, pengerjaan hingga perubahan jika dibutuhkan.

Keempat tentu Bengkel yang handal. Dana, ide dan waktu yang memadai akan percuma jika orang yang akan melakukam pekerjaan masih dalam taraf coba-coba. Lain hal kalo memang sengaja menggunakan motor sebagai objek percobaan.

Kelima atau terakhir… Referensi. Minimal tempat bertanya dimana membeli ini dan itunya, bagaimana saran alternatif untuk hal-hal yang barangkali memerlukan keputusan pemilik.

Scorpio Pandebaik 2

Dengan memiliki 5 (lima) modal awal tersebut, saya yakin usaha permak motor, mengubah penampilan dari wajah orisonal menjadi sesuai keinginan bisa terwujud dengan baik.

Butuh waktu dua setengah tahun untuk memutuskan Yamaha Scorpio Merah masuk dock dan melakukan perubahan tampilan. Dari yang tadinya tinggi ramping, menjadi kekar dan sedikit berbobot. Alasannya ya kasian kalo dipermak saat masih kinyis kinyis. Hehehe…

Dari segi dana, saya menyediakan Budget sekitar 10 Juta di awal untuk membeli beberapa part bagian kaki depan dan belakang serta pegangan yang sedikit lebih lebar ketimbang pendahulunya. Idenya sederhana, hanya meniru tampilan modif Scorpio yang disajikan sebuah halaman blog dengan perubahan hanya pada kaki, tanpa mengubah bodi utama. Berhubung sudah kadung suka dengan tampilan bodi aslinya. Masuk ke waktu, rupanya setelah kepemilikan Veloz kemarin, motor jadi jarang tergunakan. Itu sebabnya keputusan untuk masuk bengkelpun makin besar.

Hal tersulit barangkali adalah masalah pemilihan bengkel. Bersyukur di area pinggiran kota Denpasar, ada Made Jepang yang siap membantu dan bersedia mengambil bagian saat orderan mulai lowong. Pilihan yang tepat rupanya mengingat sebagian besar kawan yang punya minat di bidang oprek, malah dijumpai di bengkel satu ini. Membuat keyakinan untuk menyerahkan motor sepenuhnya jadi makin besar.

Terakhir ya Referensi. Ada Dika Bandot, sepupu yang pula mengCustom mesin Scorpio miliknya menjadi sebuah trail dengan modifikasi ekstrem. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya lah semua dana, ide dan waktu bisa terorganisir dengan baik dan rapi. Thanks a lot my bro…

Maka jadilah kini Yamaha Scorpio Z 225 cc yang dahulu berpenampilan kalem, tinggi dan ramping jadi tambah kekar dan kokoh berkat sentuhan pak Made Jepang dan masukan dari Dika Bandot tadi. Apa saja perubahannya, nanti deh bisa dijelaskan lagi.

Yamaha Scorpio, si Besar yang Mantap tarikannya

10

Category : tentang PLeSiran

Sebulan sudah si kalajengking menemani hari walaupun sesekali. Motor berbadan besar yang akhirnya dipilih setelah gag puas dengan penampilan Byson sang adik dan keputusan untuk menjual si Silver Tiger diusianya yang ke-13.

Dibandingkan Honda Tiger terdahulu, berat beban yang diberikan si besar Yamaha Scorpio jauh lebih terasa baik pada saat menjalankannya dalam kecepatan rendah maupun saat berusaha memarkirkannya dengan standar ganda. Entah karena memang spare part yang tidak biasa, kapasitas mesin 225cc atau bisa jadi lantaran tinggi bodi yang tampaknya lebih pas untuk dikendarai.

Meski demikian, Scorpio jauh lebih mantap tarikannya ketimbang Honda Tiger. Terutama ketika awal start dan bermanuver di jalanan macet. Sangat ringan dan lincah.

Menunggangi Yamaha Scorpio juga sempat mengingatkan saya saat beruntung mendapatkan kesempatan menjajal Suzuki Thunder 250 milik sepupu sedari Denpasar hinga Bedugul tahun 2003 lalu. Meski dudukannya tidak sama, namun tingkat kenyamanannya setara. Tidak perlu membungkukkan badan lagi sepanjang perjalanan.

Dilihat dari penampilan sebenarnya Yamaha Scorpio kalah jauh dengan saudaranya, Byson yang terlihat lebih Naked. Namun dengan kapasitas mesin yang jauh lebih besar tampaknya jauh lebih pede jika harus dipaksa bersanding dijalanan. Terutama saat dicoba unjuk gigi dari segi kecepatan.

Sayangnya secara pribadi ada beberapa kekurangan Yamaha Scorpio setelah merasakan sebulan pemakaian ketimbang pendahulunya Honda Tiger.

Pertama dari tuas Gigi yang masih menganut pola lama. Bukan satu tuas ungkit sehingga agak menyulitkan juga bagi yang sudah terbiasa dengan penggunaan Honda Tiger. Kedua, secara desain knalpot Scorpio kurang gahar dibanding penampilan Tiger versi terkini, terlalu banyak variasi yang kesannya malah dipaksakan. Ketiga, meletupnya knalpot saat digunakan yang jujur saja tidak pernah saya alami saat mengendarai Tiger terdahulu. Keempat, untuk ukuran motor besarĀ  tampaknya kedua kaki (baca:roda ban) Scorpio bisa dikatakan sangat kurus sehingga tampak aneh ketika diteliti dari belakang. Itu sebabnya, ada keinginan untuk mengganti keduanya dengan catokan yang lebih besar. Sayang, masih terbentur harga yang jika boleh dikatakan sangat mahal untuk ditebus. Dan kelima, mungkin maksudnya bagus, mengikuti peraturan Safety Riding dengan secara otomatis menyalakan lampu depan saat dinyalakan namun rasanya ada kalanya lampu tidak terlalu diperlukan untuk tetap menyala.

Bersyukur saat dicoba sendirian melintasi jalanan kota Denpasar, mengajak MiRah dan menggandeng ibunya, Yamaha Scorpio mampu mengakomodasi apa yang saya harapkan sebelumnya. Jadi gag sabar untuk diuji jarak jauh.