Yamaha XMax 250, Kendaraan Operasional Proyek

Category : tentang Opini

Bagi sebagian orang, kehadiran motor roda dua Yamaha NMax sudah cukup besar untuk rata-rata orang kita di Indonesia. Bahkan saat disandingkan dengan sejawatnya seperti Honda PCX yang memiliki kapasitas mesin lebih besar pun, NMax terlihat masih mendominasi. Lalu datanglah sang penantang baru 250cc, Yamaha XMax.
Semua berangsur jadi terlihat mungil, utamanya di mata saya.

Cerita diatas mengingatkan saya pada gurauan kawan-kawan kantor yang dulunya sudah menganggap beberapa orang besar secara bodi, adalah standar tertinggi yang pernah dikenal. Namun ketika saya hadir di tengah-tengah mereka, praktis saat melakukan foto bersama, hampir selalu gambar saya harus dicrop sendiri dan diperkecil 80-90% agar tingginya setara yang lain.
Kalau tidak ?
Siap-siaplah menerima kenyataan, semua orang tampak cebol. Merusak skala ceritanya.

Secara kasat mata, penampilan Yamaha XMax 250 memang demikian adanya.
Saat parkir sendirian di kejauhan apalagi berjajar dengan model sejenis, ndak tampak beda sedikit pun dengan kendaraan motor biasa. Tapi saat sudah diparkir ke area umum, baru terasa perbedaannya.
Itu sebabnya bagi sebagian orang kita di indonesia, infonya sih, Yamaha XMax 250 menjadi kendaraan dewa, yang hanya dikendarai saat melakukan touring saja.
Tidak demikian halnya dengan saya.

Yamaha XMax 250 berwarna silver/hitam yang sudah dibesut sekitaran dua bulan ini, malah menjadi kendaraan operasional proyek konstruksi yang saya awasi sejak bulan Oktober lalu.
Dari pencapaian antar gang dan jalan lingkungan, hingga rumah ke rumah untuk usulan bantuan rumah layak huni. Namun mengingat seri XMax ini belum banyak ditemukan dijalanan Kota Denpasar dan Badung, wilayah dimana saya bekerja, saban kali lewat wara wiri, lumayan mendapat tatap mata perhatian orang yang dilewati. Bangga karena masih belum banyak yang punya, khawatir karena memang secara ukuran bisa dibilang bukan standar normal. He…

So far, Yamaha XMax 250 ini asyik buat ditunggangi kemana-mana. Handlingnya mantap, dan larinya pun tak kalah. Hanya karena ini masuk golongan motor matic, pas nyalip kendaraan depan saja yang kurang terasa hentakannya. Tapi berhubung sudah terbiasa dengan kecepatan 40-60 km/jam, suasana sepanjang jalan raya ya memang benar-benar dinikmati.

Dengan bodi motor yang panjang dan besar, kendala utama menjadikannya sebagai motor operasional proyek adalah manuver balik arah ketika memasuki gang sempit dan terbatas. Bersyukur lantaran terbiasa memutar setir non power steering pada mobil kijang terdahulu, membuat semuanya jadi jauh lebih mudah. Kalo soal motor kan bisa dilihat semua sudut sudutnya ?

At last, dengan bagasinya yang besar, muat anak gajah baru lahir, menjadikan Yamaha XMax, kendaraan roda dua yang benar benar memuaskan sejauh ini. Minimal barang bawaan ukuran big size macam saya, tidak lagi khawatir menclok sana menclok sini. Apalagi kalo saat hujan deras.
Tinggal masukkan semua perangkat yang tidak tahan air ke bagasi, sisanya ya nyeker sampe rumah.
Asyik kan ?

Yamaha XMax 250, Kena Batunya

2

Category : tentang Opini

Apes benar hari ini kawan. Hanya gegara kelupaan mematikan motor usai dipanaskan, rutinitas ke proyek saban Sabtu pagi jadi buyar. Geblek bener…

Jadi ceritanya gini.
Jumat pagi kemarin berhubung lagi jarang bawa motor hari raya begini, Yamaha XMax 250 kudu rajin dipanasi, meski yang digondol keluar rumah ya si Veloz. Nah masalahnya pas udah kelar mau berangkat ngantor, motor cuma dimatikan via sakelar kanan, tidak sampai ke kunci utama.

Selang sehari, pas ngebuka cover selubung motor, barulah terkaget-kaget pas liat posisi kontak utama, masih di posisi ON, dan menyadari kesalahan penggunaan dari kemarin pagi. Ampun dah…

Dugaan awal, mengarah ke aki motor. Karena keteledoran sebelumnya saat dialami pada motor Yamaha Scorpio Z juga sama. Ditinggal seharian usai memanaskan motor, dalam posisi kunci kontak menyala, dan diselubungi cover penutup. Goblok !
Padahal motor baru gres 2 bulan, malah sudah berancang-ancang ganti aki.

Kena batunya dah kali ini.
Mana ni motor ndak ada starter kaki lagi… beneran memogong diem begitu, ndak bisa diapa-apain.
Gimana ceritanya kalo ini terjadi di pinggir jalan ya ?
Jadi khawatir. Hohoho…

Tapi yo wes lah, ini memang kesalahan saya selaku pemilik dan pengguna.
Maka demi si gembul, saya melakukan kontak Teknisi on call ke Yamaha Agung Diponegoro yang rupanya baru bisa dilayani sore hari atau dijadwalkan ulang.
Wealah…

Mencoba alternatif kedua, ke Yamaha Arundaya di Gatsu, yang kebetulan ponakan kerja disitu, dapat info terakhir, kalo aki baru sudah disiapkan namun teknisi masih berupaya mencari waktu siang ini. Wiii… Mantap lah.
Meskipun saran dari Bengkel sebenarnya bisa di-Jumper, charge ulang, namun konsekuensinya motor diangkutin. Walah… bisa rame dan lama keknya.

Jadi posisi per detik ini ya gitu. Dijadwalkan siang bentar oleh Yamaha Arundaya. Semoga bisa lebih awal sehingga yang Agung Diponegoro baiknya ya di-cancel.
Liat aja ntar…

[Update]

Ternyata sesuai jadwal, Tim dari Yamaha Arundaya Gatot Subroto nyamperin ke rumah tepat waktu, dan proses pun berjalan lancar. Setidaknya untuk tahapan penggantian aki dan finishingnya. Meski ada beberapa hal yang masih terkendala yaitu pencatatan di Buku Service (yang kalo ndak salah disimpan di lemari baju, cuma ndak ditemukan), set Jam pada Digital Speedometer-nya, dan kwitansi yang menyusul disampaikan. Tapi toh bukan satu masalah besar kalo itu mah, bisa besok ditindaklanjuti.
Yang penting si gembul dah mau sehat lagi.
Cuma sayang, ndak sempat dibawa mroyek, gantian si Veloz yang nemenin.

Terima Kasih ya Tim dari Yamaha Arundaya.

Ikutan MaxiDay Yamaha for Karangasem

Category : tentang PLeSiran

Gak ada rencana jelas sebenarnya sedari awal, berhubung kesibukan kerja begitu menyita waktu hingga sore semingguan ini. Namun lantaran penasaran dengan jenis variasi yang biasanya nyantol di bodi bongsor XMax 250, satu hal yang lumrah dilihat dalam event semacam ini, ya iseng saja ikutan demi kepoin yang satu ini.

Maxi Day, kabarnya sih ini event pertama yang digelar di Bali oleh Yamaha lokalan, menggabungkan konsep touring pendek dari Kota Denpasar hingga Bali Zoo Gianyar, dengan gelaran society for Karangasem.
Diikuti oleh seribuan lebih peserta yang menggiring pengguna motor NMax, Aerox, XMax dan tentu saja satu dua keluarga TMax. Dalam berbagai macam warna dan variasi.
Nah ini yang paling menarik perhatian saya sejak awal tiba di gerai motor Yamaha Arundaya Gatsu Barat.

Mengikuti gelaran semacam ini menjadikan prosesi tour beriringan di sepanjang jalan menuju BaliZoo, merupakan pengalaman pertama saya selama memiliki motor Yamaha.
Keriuhan sirene, klakson baik yang berasal dari rombongan maupun lawan di jalan, cukup membuat saya was-was lantaran menduga ini semua bakalan jadi trending topic di sosial media dalam 1-2 hari ke depan.
Ya bagaimana tidak ?
Rombongan peserta yang dibagi 2 baris berbanjar, seakan berupaya menghentikan waktu pengendara motor dan mobil yang dilaluinya. Semua dihentikan demi memberi jalan dan ruang yang leluasa pada mereka yang melintas tanpa mematuhi lagi rambu dan lampu lalu lintas lantaran sudah dikawal mobil patroli polisi di barisan paling depan.
Saya yakin, ketika berada dalam posisi sebaliknya, melihat aksi begini dijamin mendongkol dan memaki sambil gatal untuk Update Status lalu menghujat dan lainnya.

Gelaran Maxi Day for Karangasem ini bakalan menyampaikan sumbangan kepada para pengungsi erupsi Gunung Agung yang kini lagi viral dimana-mana, dengan memanfaatkan pemasukan dari tiket kepesertaan yang senilai 30ribuan itu. Padahal, tiket masuk Bali Zoo, sewa lokasi hingga makan siang gratis bagi para peserta, saya yakin mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tapi ya ini Yamaha loh…

Sayangnya, kekurangrapihan panitia menyampaikan informasi kepada para peserta MaxiDay for Karangasem ini mengakibatkan sebagian orang memilih balik kanan bubar karena ketidaktahuan mereka acara bakalan digelar dimana. Sementara saya pribadi yang sejak awal memang tidak berniat mengikuti rundown acara, memilih cuci mata di sepanjang parkiran, memantau sejumlah variasi motor yang digonta ganti pemiliknya, untuk menambah garang penampilan. Asyik juga…

Yamaha XMax 250, Matic Jumbo kelas Premium

1

Category : tentang Opini

Wara wiri di seputaran kota Denpasar dan Kabupaten Badung selama seminggu terakhir diatas Yamaha XMax 250, rasanya memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengalaman terdahulu menggunakan motor lakik Yamaha Scorpio 225, yang kini sudah melanglang jauh ke Indonesia timur bersama pemiliknya yang baru.
Perjalanan panjang tak lagi terasa jauh dan melelahkan.
Bisa jadi lantaran posisi duduk yang bisa diatur dalam tiga set pengaturan kaki, dan salah satunya mirip dengan pose rider motor besar tipe jelajah.
Khusus satu ini tentu dengan kelebihan aktifitas kaki dibebaskan dari semua beban serta tanggung jawab.
Nyamannya bukan main.

Yamaha XMax 250, Matic Jumbo kelas Premium.
Harganya masih tergolong muahal dan tak masuk di akal untuk kelas motor dengan mesin satu silinder. Ini pendapat seorang kawan yang lulusan Teknik Mesin.
Mengingatkan saya pada produk sebuah smartphone yang dibanderol seharga motor matic baru kelas pemula, utamanya saat mengetahui jeroan yang digunakan tergolong rendah untuk kelas masa kini.
Sepertinya ia lupa, bahwa ada banyak pertimbangan lain yang menyebabkan motor matic berukuran jumbo ini dilego kisaran 56,6 Juta on the road wilayah Bali.

Selain kenyamanan berkendara tadi, secara perlahan pada akhirnya bisa juga beradaptasi dengan si bongsor satu ini.
Dari membuka tangki bahan bakar yang ada di sisi bawah depan jok, membuka kompartemen kiri untuk menyimpan kedua ponsel, membuka bagasi hingga mengunci setang yang sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah.
Termasuk saat bermanuver disela kendaraan berlalu lintas ramai, menarik tuas rem dadakan atau ngetem di persimpangan lampu merah dengan pandangan kagum dari belasan mata yang ada.

Konsep premium Yamaha XMax 250 inipun kerap terlintas di kepala. Penampilan digital speedometer laiknya kendaraan roda empat, rasanya bakalan membutuhkan dana pemeliharaan tinggi apabila terjadi kerusakan atau gangguan satu saat nanti.
Begitu juga ketiadaan starter kaki. Rasanya bakalan kesulitan saat motor mogok di jalan. Musti cari akal agar tak sampai kejadian sampai sejauh itu.
Eh tapi kenapa ketiadaan starter kaki bisa saya katakan sebagai bagian dari konsep premium sebuah kendaraan bermotor ? Ya lihat saja kelas kendaraan roda empat. Gak ada starter kakinya juga kan ya ? He…

Cuma saya masih agak ragu saat meninggalkan Yamaha XMax 250 ini di keramaian parkir.
Selain manuvernya susyah jika sampai terjebak ditengah-tengah area, fungsi kunci yang tanpa kunci atau dikenal dengan istilah immobilizer ini, bakalan mampu menjaga kendaraan dari tangan tangan jahil ?
Karena ketika meninggalkan motor dalam kondisi off tanpa kunci setang, kendaraan akan mudah dinyalakan kembali saat saya masih berada di sekitar motor untuk sebuah keperluan. Kalo masih bisa dilihat sih syukur. Lha kalo terhalang tembok ?
Ya wajib kunci setang tentu saja biar ndak khawatir.

Hingga saat ini, ni motor sudah melahap jalanan sepanjang 300an KM tanpa adanya gangguan yang berarti. Hanya saja agak kurang nyaman saat diajak ke ruas jalan dengan kontur kasar seperti paving, atau permukaan lain yang dalam kondisi rusak.

Secara keseluruhan, ni motor matic jumbo cukup memuaskan saya kok. Apalagi agenda awal untuk menggantikan sosok Scorpio 225 sudah tercapai sesuai harapan.
Cuma memang musti rela menahan diri untuk memodif atau variasi motor di awal-awal ini. Secara nilai memang tergolong premium dibanding motor lain. Mungkin nanti setelah berumur setahun dua, bakalan ada perubahan penampilan dengan memanfaatkan cutting sticker besutan Anreas Bali Modification kelak.

Kalian ndak tertarik ?

Nyaman berkendara dengan Yamaha XMax 250

2

Category : tentang Opini

Cerita pertama mengaspal di jalanan bareng XMax 250 kemarin itu, rasanya saya masih terbayang-bayang kisah lama dengan si merah Scorpio 225. Belum bisa Move On nih kayaknya.

Tapi setelah dipikir-pikir ya, ini kan motor matik, bukan motor lakik… jadi ya bayangan masa lalu sepertinya harus dibuang jauh-jauh mengingat yang baru gres ini toh tampaknya sudah mampu memenuhi harapan saya sebelumnya, akan motor yang bisa membawa serta dua bayi kemana-mana dalam jarak dekat.
Yuk simak cerita baru kali ini.

Nyaman berkendara dengan Yamaha XMax 250

Yup. Bener…
Nyaman banget saat digunakan berkendara seputaran kota sejauh ini.

Manuvernya oke.
Dibawa zig zag pun ayo.
Ngebut ?
Meski agak khawatir karena belum menguasai medan, asik-asik aja saat menggeber gas track lurus.
Yang bikin mikir hanya saat mendekati halangan atau persimpangan, kedua tangan belum bisa reflek menekan rem dua sisi. Sementara kaki masih spontan mengganti tuas gigi laiknya motor lakik.

Dudukan sadel yang tinggi membuat saya agak susah untuk menaiki motor. Kaki musti ngangkang dulu biar bisa sukses mendarat, kalo ndak gitu siap-siap saja kaki kanan bakalan terantuk bodi motor. Syukur-syukur kena permukaan lembut. Lha kalo kena pegangan tangan boncenger ? Duh… sakitnya minta ampun, pernah alami awal awal kemarin.

Bobotnya aslinya lumayan berat. Tapi pas diajak menjelajah jalanan Badung Jumat pagi kemarin, lincak banget Mak. Apalagi pas nikung, ndak terasa bawa motor besar.
Dengan kecepatan 60-80 kmh, mulusnya aspal makin mempercepat akses ke kantor-kantor desa dan kelurahan tujuan. Ada 10 lokasi yang saya capai dalam durasi 2 jam-an.
Sayangnya, ni motor gak rekomend buat masuk ke jalanan offroad paving yang kondisinya benjut. Kacau barbie pas menyusuri jalan shortcut Tibubeneng – Canggu, atau ruas Kabupaten Tabanan di wilayah Mengwi Selatan.

Dengan total perjalanan hingga 70an KM dalam sehari, Yamaha XMax 250 saya rekomend deh buat kalian yang bertubuh besar kek saya.
Utamanya juga bagi kalian yang menginginkan kebebasan buat kedua kaki saat berkendara.

Yamaha XMAX 250, kurang Garang menjajal Jalanan

1

Category : tentang Opini

Sedikit lebih cepat dari perkiraan awal, tepatnya di akhir minggu kedua, harapan itu dikabulkan pihak Yamaha.
Surat dan plat, bisa digondol pula siang ini juga.
Wusss… gak nyampe sejam saat ijin makan siang, kantor Yamaha Diponegoro langsung disambangi untuk balik pulang dan menjajal jalanan.

Yamaha XMax 250 pun sudah diperbolehkan mengaspal di jalanan.

Tips Penting bagi kalian para pria penunggang XMax 250, upayakan atau usahakan untuk menggunakan yang namanya celana panjang saat berkendara.
Apabila menggunakan kemben laiknya saya siang ini, siap-siap semua bakalan terbang kearah samping.
Mih… enggak nyaman banget, musti mengibaskan dan melepitkan kain disela paha. Beda dengan pose menunggang si merah, semua sisi bisa dijepit di tangki. Na ini ?

Sebelum pengambilan plat motor tadi, sempat titip pesan ke Yamaha Diponegoro agar plat langsung dilubangi biar bisa langsung clok di motor. Apa daya dengan jarak lubang yang sama di kedua plat, untuk yang dipasang pada sisi depan, gak sesuai dengan cangkang plat yang disematkan pada bodi. Alhasil musti berjibaku lagi membuat lubang baru agar plat depan bisa mejeng dengan baik.
Untungnya dah menikah, jadi ndak bingung lagi buat nyari lubang. Eh…

Sempat kagok juga di awal perjalanan. Selain dudukan badan yang kurang nyaman akibat penggunaan pakaian adat di hari kamis bagi setiap pns di kabupaten Badung, panasnya cuaca cukup menyengat badan yang terbiasa berada dalam kabin mobil ber-ac. Masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tunggangan baru kali ini.

Setiap mendekati persimpangan atau halangan di depan, reflek kaki kanan menginjak rem dan kaki kiri mengubah gigi, tampaknya cukup mengganggu pergerakan. Begitu pula dengan pola perjalanan, urat kaki kiri rasanya selalu gatal untuk berpindah tuas, padahal ini matik. Bego kali otak ini.
Mencoba mengingat untuk memanfaatkan kedua tangan lebih maksimal.
Terasa sekali perbedaannya.

Demikian halnya saat dibawa bermanuver, zig zag, salip kanan dan ngebut dikit. Meskipun nyaman, namun garangnya mesin 250cc rasanya masih dikalahkan jauh oleh besutan mesin 225cc si merah Scorpio terdahulu. Baik dari segi hentakan gas saat mempercepat laju, maupun suara auman knalpot yang disemburkan.
Apalagi yang namanya bodi plastik, begitu jelas terasa. Besar namun ringan. Jadi maklum kalo ingat XMax ini motor matik, bukan motor lakik.
Tapi serius. Ini beneran nyaman.
Mungkin karena sudah terbiasa dengan manuver dan zig zag nya Honda Beat dan Scoopy milik Istri yang sebelumnya kerap dicoba untuk jarak dekat sekitar rumah.

Semua keluhan tadi, sempat dicoba untuk diminimalisir saat balik pulang dari kantor. Pakaian adat dilepas menyisakan celana pendek, membuat perjalanan jadi sedikit ringan. Namun tetap saja ribet karena kencangnya angin saat berkendara menerbangkan kain celana ke arah belakang. Seksieh ndak bisa dibekap ke tangki.
Baru saat dibawa jemput anak sore tadi, bisa lebih baik dengan menggunakan celana panjang sebagaimana tips diatas.

Nanti disambung lagi.

Yamaha XMax 250, Besar Gagah tapi… ?

2

Category : tentang Opini

Kaget sekaget-kagetnya pas melihat secara langsung bodi bongsor XMax 250 dari dekat di gerai Yamaha Diponegoro, saat membayar lunas administrasi hari Selasa sore kemarin.
Bagaimana tidak, biasa bolak balik membawa Honda Beat milik istri ke tukang cuci depan rumah, jadi bengong sendiri liat dimensi dudukan belakang motor matic satu ini.

Berhubung saya melewatkan semua proses launching Yamaha XMax tempo hari, dan juga hanya bisa memantaunya lewat halaman YouTube, ya jelas saja jadi kaget. Meskipun sudah tahu dari para reviewer, tentang tidak biasanya ukuran motor utamanya bagi pengendara dengan tinggi tubuh standar orang Indonesia, tetep aja kaget pas menyadari langsung bagaimana kenyataannya.

Honda PCX yang awalnya sudah saya anggap gagah, membuatnya tampil mini ketika disandingkan bersama XMax 250. Gilak bener. Padahal secara kapasitas mesin, ya ndak jauh-jauh amat. Tapi secara visual, kesan luksnya PCX jauh lebih baik dengan bodi glossy. Sedang XMax lebih ke penampilan doff.

Besar dan Gagah. Itu kesan pertamanya.
Setidaknya untuk urusan kaki pengendara, kini ndak usah khawatir bakalan membentur setang motor, mengingat jarak dudukan dengan setang, lumayan jauh. Demikian halnya sisa dudukan, masih muat untuk Gek Ara dan Gek Intan di bagian depan dengan posisi nyaman.
Asoy…
Persoalan kaca spion juga begitu. Kini bisa melihat rangorang di belakang dengan baik, ndak usah geser kiri kanan lagi pas lagi mau belok.
Trus dudukannya yang tinggi, membuat kaki saya ini agak sedikit menjinjit kalo pas lagi santai di pemberhentian seperti lampu merah misalkan. Ndak bisa saya bayangkan kalo tinggi orang itu setara rata-rata lokal.

Tapi… ?
Ada tapinya juga sih ya. Bagaimanapun kelebihan, kekurangan pasti ada. Setidaknya menurut saya.

Bodi Besar dan Gagah rupanya lebih banyak lantaran chasing bodi yang agak berlebihan.
Kompartemen di bawah Jok jadi contoh pertama. Lebar dan dalam. Keknya Gek Ara muat kalo mau diboboin disitu.
Dinding juga bawahannya saat diketok-ketok ya plastik kek fiber gitu. Jadi kesan rapuh dan ringkih saat mengetahui bodi aselinya langsung nempel di pikiran. Begitu juga pas getok-getok penutup mesin, tutupan depan dan lainnya, anjir ini ndak ada logam-logamnya.
Hanya di warna silver bagian motornya saja yang mengandung tingkat kekerasan lebih.

Untuk jangka pendek mungkin bakalan adem dipandang, tapi jangka panjang ?
Saya jadi ingat dengan motor matic lainnya, dengan bodi mengelupas mungkin lantaran terkena paparan panas matahari atau bisa jadi panas mesin saat digunakan berkendara lama. Ealah… ini musti diakali sepertinya.

Keluhan ini sempat disampaikan ke seorang kerabat yang kebetulan sudah kenyang gonta ganti motor. Dari Tiger lama, Tiger Revo, Inazuma, Ninja 250 sampai 650 pun pernah dilahapnya, dan dijual kembali setelah bosan.
Persoalan ketok-ketok bodi ya memang ada dalam setiap kendaraan masa kini, kata dia. Saya aja yang masih beranggapan dengan motor jadul, bersikeras berharap ada unsur logam dibeberapa bagian bodi.
Setidaknya biar selaras dengan besar dan gagahnya bodi, atau paling minim saat berkendara dan seandainya terjadi tabrakan, gak ancur ancur amat part lainnya mengingat secara harga lumayan mahal buat ditebus.

Lain lagi dengan dudukan yang lebar. Sepertinya ni motor memang diperuntukkan bagi pasangan yang memiliki tinggi diatas rata-rata orang indonesia. Karena kalo mau gandeng belakang, musti ngangkang cemnya ayam panggang. Mereka yang semampai, saya yakin bakalan kesulitan kecuali ambil pose gandeng samping.

Trus ada knalpot, yang meskipun berwajah gahar tapi suara yang dikeluarkan tergolong halus, gak match. Ini mirip Yamaha Scorpio terdahulu, yang gak mencerminkan kekarnya penampilan.
Keknya dalam waktu setahun kedepan musti ganti yang agak garang tapi meredam. Macam vokalisnya Obituary gitu.

Soal speedometer memang keren dengan perpaduan analog dan digital di tengahnya. Cuma informasi yang ditampilkan terlalu berlebih. Mirip miliknya roda empat, jadi agak khawatir juga soal perawatan atau pemeliharaannya kelak. Pasti mahal lah…

Terakhir tentu saja soal kunci kontak yang tanpa kunci kontak. Musti banyak belajar dari User Manualnya agar bisa mengetahui cara menyalakan motor, membuka tangki bensin hingga mengunci setang.
Memang tidak biasa kelihatannya…

Yamaha XMax 250, akhirnya datang juga

1

Category : tentang Opini

Cukup lama menanti kehadirannya.
Kalau ndak salah sih saat NMax mulai digulirkan terdahulu, dan dua sepupu saya yang sekandung, memutuskan membeli 2 unit dengan warna hitam dan putih, dari hasil penjualan Suzuki Thunder mereka sebelumnya. Sengaja dinanti karena secara kapasitas mesin, infonya lebih besar dari Yamaha Scorpio yang saya miliki tempo hari. Ya, 250cc.

Menjatuhkan pilihan pada kendaraan bermotor berjenis matic sebetulnya ya ndak sengaja. Hanya gara-gara kesulitan mengajak anak-anak serta saat berkendara, cukup membuat mangkel karena pada akhirnya ya harus dilakoni sendirian. Terhalang tangki dan dudukan yang tinggi.
Hanya saja saya belum menemukan pilihan sebelumnya, untuk pertimbangan besaran kapasitas mesin dan kenyamanan berkendara untuk tubuh saya yang kelewatan ini.

Awalnya berharap banyak dengan Yamaha TMax yang sepertinya memenuhi semua kriteria diatas, namun musti dipendam dalam-dalam setelah mengetahui harga jualnya setara Avanza.
Baru mulai optimis kembali ketika diinfo sales Yamaha bahwa dalam 1-2 tahun kedepan bakalan rilis seri pertengahan antara NMax dengan TMax.
Ya XMax ini jawabannya.

Saat Launching terdahulu, saya rupanya melewatkan semua proses yang ada. Baik mencoba test drive secara langsung bahkan hanya sekedar melihatnya saja. Namun begitu, saya tetap memantau semua lewat dunia maya.
Kesempatan hadir saat gelombang kedua pemesanan online digulirkan. Berkat bantuan kenalan spg di Yamaha, saya mendapat kesempatan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Hanya 1-2 bulan menunggu, XMax 250 yang menjadi impian selama ini akhirnya datang juga ke halaman rumah hari Jumat sore kemarin.

Cost yang dihabiskan ya lumayan juga jika dibandingkan dengan pembelian motor sebelumnya.
Sempat ragu ketika mengetahui angka penjualan berada diatas angka 50 Juta. Setara Kawasaki Ninja 250 atau Honda CBR 250 yang digadang-gadangi sejumlah rekan kerja dan sesama blogger.
Namun balik pada kriteria diatas, saya putuskan menjatuhkan pilihan pada XMax 250 ini.

Mau tahu seperti apa kesan pertamanya ?
Ikuti terus halaman ini.