Mari Mengenal (Lebih Jauh) Wayang Kulit

4

Category : tentang iLMu tamBahan

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya terkait Mengenal Wayang Kulit, Wayang Parwa dan juga para Punakawannya, kali ini saya lengkapi sedikit terkait lakon dan juga bagaimana rupa dari Wayang Kulit tersebut.

Lazimnya sebuah dunia, sifat Rwa Bhineda baik dan buruk selalu mewarnai kehidupan. Demikian halnya dalam dunia Wayang dikenal 2 (dua) kelompok besar, kanan dan kiri. Golongan Kanan lebih mewakili sifat-sifat kebajikan. Dari lakon Mahabharata ada para Pandawa dan golongan Yadu sedangkan pada lakon Ramayana meliputi Rama, Laksamana, Hanoman, Sugriwa dkk. Sebaliknya Golongan Kiri disarati sifat-sifat kebhatilan yang diwakili oleh para Kurawa dalam lakon Mahabharata dan Rahwana beserta para Raksasa dalam lakon Ramayana.

Penampilan sebuah Wayang dilengkapi dengan ciri-ciri sifat dan kedudukannya. Misalkan untuk hiasan kepala, bagi para dewa atau raja berisikan gelung agung yang terdiri dari gelung candi kurung dan gelung rebah, melambangkan keagungan. Gelung candi kurung bisa ditemukan dalam sosok Wayang Siwa dan Karna sedangkan Gelung candi rebah bisa ditemukan pada sosok Dewata Nawasanga. Gelung prabu atau dikenal dengan istilah pepudakan digunakan untuk Wayang yang berperan raja seperti Duryodana, Subali dan juga Sugriwa. Gelung supit urang bagi para kesatria dan Gelung keklingkingan, pepisungan atau kekendon yang melambangkan kesederhanaan.

Bagian Mata Wayang yang digambarkan dengan mata bulat atau dedelingan diperuntukkan bagi para Raksasa dan kaum Korawa yang melambangkan ketegasan yang sempurna atau malah cenderung pemarah dan brangasan. Mata yang berbentuk segitiga tumpul untuk para Kesatria (Arjuna, Kresna dan Yudistira) melambangkan kearifan dan Mata yang berbentuk sipit untuk punakawan Tualen dan Merdah sebagai lambang pengalaman serta keTuhanan yang mendalam.

Mulut Wayang dibuat tidak sembarang. Mulut yang terbuka lebar dengan gigi taring mencuat melambangkan keserakahan dan keangkaramurkaan. Mulut bagian atas terbuka sehingga memperlihatkan giginya melambangkan sikap peran yang kerap memberikan wejangan baik sebagai raja, kesatria, dewa atau lainnya. Sedangkan Mulut yang dipakaikan Pecuntil -batangan pendek yang lentur, ditarik dengan benang- biasanya diperuntukkan bagi para punakawan dan bebondresan yang berfungsi menerjemahkan segala ucapan tokoh-tokoh pewayangan.

(Pesta Kesenian Bali Copyright Cita Budaya 1991)

Mari Mengenal Wayang Kulit

9

Category : tentang InSPiRasi

Wayang kurang lebih berasal dari Bayang. Bayang-bayangan kulit yang ditatah dengan nilai seni tinggi inilah yang ditonton orang dari balik layar dengan bantuan suluh lampu belencong, bergerak menghidupkan satu lakon diiringi lantunan gender, membuat orang bersorak sorai, bertepuk tangan, mencemooh terkadang menangis. Inilah Wayang Kulit.

Wayang hingga saat ini dipandang sebagai warisan Indonesia Purba –Pra Hindu, dimana baik tanah Jawa maupun Bali, Wayang telah dikenal dengan baik. Di Jawa Barat, dikenal adanya Wayang Golek yang terbuat dari kayu, dipentaskan tanpa kelir dan mengambil lakon dari ceritera Islam. Di Jawa Timur terdapat pula Wayang Klitik atau Krucil, terbuat dari kayu pipih dan mengambil ceritera Damarwulan. Ada juga Wayang Tingul dimana serupa dengan Wayang Golek hanya tanpa badan, digerakkan dengan memasukkan tangan kedalamnya dan juga Wayang Wong dimana Manusia-lah yang menjadi Wayangnya.

Pertunjukan Wayang Kulit biasanya sangat erat kaitannya dengan upacara Ruwatan atau upacara sakral yang berhubungan dengan kehidupan manusia sejak lahir, hidup dan mati. Sebuah pertunjukan Wayang Kulit merupakan satu pertunjukan teater yang lengkap dimana berbagai unsur seni berpadu didalamnya. Seni suara, sastra, seni rupa, gerak / tari dan juga drama. Peran sutradara, koreografer dan sekaligus pemain diborong sang Dalang. Tak mengherankan apabila seorang Dalang harus memiliki segudang Pengetahuan baik Filsafat, Agama, Hukum dan berbagai aspek kehidupan serta mampu merangkum semuanya dalam satu aktualitas yang segar. Apalagi jika iramu dengan lelucon yang mengocok perut penonton atau melagukan nyanyian yang meneteskan air mata. Disini pula letak perbedaannya dengan Dalang Jawa. Dalang Bali mengerjakan semuanya.

Seorang Dalang didampingi pembantunya yang disebut dengan Ketengkong atau Pengabih. Tugas utamanya adalah mempersiapkan wayang mana saja yang akan naik ke pentas kelir. Tentu saja sang Ketengkong ini harus paham pula dengan rencana ceritera yang dilakoni sang Dalang. Wayang-wayang ini biasanya diletakkan dan disimpan dalam sebuah Keropak atau kotak kayu yang dinamakan Gedog.

Pendamping Dalang lainnya adalah Penabuh Gender. Jumlahnya bisa dua (sepasang), empat atau lebih. Ini dilakukan apabila untuk mengiringi lakon yang dibawakan membutuhkan gambelan Batel, gambelan –musik tradisional Bali-  yang biasanya digunakan pula pada sebuah pertunjukan Barong.

Tak mengherankan apabila syarat untuk menjadi seorang Dalang itu tidaklah gampang. Dia mesti cakap atau paling tidak hafal dengan tetabuhan gender, bisa pula menyanyikan lagu kekawin, pupuh atau kidung, serta tahu tembang tertentu untuk jenis wayang yang tertentu pula. Dalang juga Harus pandai berbahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno) pun Bahasa Bali, Karena dalam setiap peran yang menggunakan Bahasa Kawi, diterjemahkan pula dalam Bahasa Bali oleh sang Punakawan. Mesti pula hafal berbagai lakon, filsafat agama Hindu serta Ilmu keBathinan. Sebab disamping sebagai seorang seniman, seorang Dalang biasanya berlaku pula sebagai seorang Rohaniawan, karena itulah disebut Pemangku atau Mangku Dalang –yang menyelesaikan upacara pensucian orang, ruwatan atau untuk keperluan upacara lainnya. Terkait Punakawan, silahkan baca kembali tulisan lama saya terkait Mengenal Punakawan dalam Wayang Kulit ya.

Persiapan untuk melakukan sebuah Pertunjukan Wayang Kulit tidak bisa sembarangan dilakukan, karena sudah baku sejak Wayang itu dikenal. Pamungkah adalah adegan dimana seorang Dalang mulai membuka peti kotak kayu atau Gedog Wayang, mengambilnya satu persatu. Dilanjutkan dengan Peguneman atau permusyawaratan antar beberapa tokoh yang akan mengambil peran dalam ceritera, Pemahbah saat dimana sang dalang mengucapkan rangkaian wacana memohon ijin pada Tuhan serta Bethara Bethari agar tidak terkena kutukannya, Lelampahan atau pertunjukan utama sesuai alur ceritera dan diakhiri dengan Pamempenan atau menyimpan kembali Wayang-wayang yang telah diampilkan kedalam keropak atau Gedog Wayang yang didahului  dengan upacara menghaturkan sesajen dan memohon air suci atau yang dikenal dengan Tirtha Wayang.

Pertunjukan Wayang Kulit yang mengambil lakon Mahabharata disebut dengan Wayang Parwa, dimana hanya membutuhkan atau diiringi 2 (dua) gender Wayang besar dan kecil. Sebaliknya Wayang Kulit yang mengambil lakon Ramayana yang disarati dengan “pemain” golongan Wenara atau Kera, harus mendapatkan iringan yang jauh lebih meriah. Karena itu diperlukan 2 (dua) pasang gender Wayang, sepasang kendang krumpungan lanang dan wadon, sebuah kempul atau kempluk, sebuah ricik atau cengceng cenik, sebuah atau lebih Suling dan sebuah Kajar. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan gambelan pengiring ini makin meriah dengan adanya gambelan gong lengkap atau abarung seperti yang kerap dipertunjukkan oleh Dalang Nardayana atau yang lebih dikenal sebagai Wayang CenkBlonk.

Mengenal Punakawan dalam cerita Wayang Kulit

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Menyambung tulisan Mari Mengenal Wayang Parwa sebelumnya, ada beberapa tokoh Punakawan yang dikenal sebagai para pembantu dan pengasuh setia Pandawa dalam cerita atau lakon pewayangan. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam babak pertujukan yang berisi lelucon maupun wejangan.

Ada beberapa versi Punakawan yang dikenal berdasarkan daerah perkembangan wayang kulit. Untuk versi Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal nama-nama seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam versi Jawa barat dikenal nama  Semar, Cepot, Dawala dan Gareng. Sedang dalam versi daerah Bali dikenal nama Tualen, Merdah, Sangut dan Delem.

Tualen (tualèn) atau Malen merupakan salah satu tokoh punakawan (bahasa Bali par?kan) dalam tradisi pewayangan di Bali. Karakternya mirip dengan Semar dalam pewayangan Jawa. Dalam tradisi pewayangan Bali, Tualen digambarkan seperti orang tua berwajah jelek, kulitnya berwarna hitam, namun di balik penampilannya tersebut, hatinya mulia, prilakunya baik, tahu sopan santun, dan senang memberi petuah bijak. Dalam tradisi pewayangan Bali umumnya, puteranya berjumlah tiga orang, yaitu: Merdah, Delem, dan Sangut. Mereka berempat (termasuk Tualen) merupakan punakawan yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Bali.

Merdah (mêrdah) atau Meredah (mêrêdah) menurut masyarakat Buleleng (Bali Utara), Merdah merupakan adik Tualen, namun menurut tradisi Bali Tengah dan tradisi masyarakat Bali umumnya, Merdah merupakan salah satu putera Tualen. Dalam pertunjukkan wayang, Merdah sering muncul bersama Tualen, melakukan dialog penuh lelucon namun penuh nasihat.

Sangut di dalam lakon pewayangan dilukiskan berbibir monyong dan berkulit kuning. Di antara para punakawan, tubuhnya yang paling kurus tapi perutnya besar. Dalam pertunjukkan wayang ia sering muncul bersama Delem dan melakukan dialog penuh lelucon namun terselip nasehat tentang hidup dan pergaulan.

Delem (lafal: dè-lêm) atau Melem (lafal: mè-lêm) digambarkan bermata juling, lehernya gondok, dan tubuhnya pendek. Dalam pewayangan kulitnya berwarna merah tua. Delem bersifat angkuh, sombong, licik, dan suka omong besar. Di hadapan para ksatria dan para raja ia selalu tunduk, namun kepada orang yang lebih muda darinya (demikian pula terhadap Sangut) ia bertingkah sombong. Penampilan kedua karakter ini merupakan penggambaran tokoh punakawan yang sifatnya jelek.

Mari Mengenal Wayang Parwa

6

Category : tentang iLMu tamBahan

Wayang merupakan seni tradisional bangsa Indonesia yang telah dikenal sejak masyarakatnya masih menganut paham kepercayaan animisme, pemujaan roh nenek moyang yang disebuh sebagai Hyang dalam bentuk arca atau gambar, berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang saat ini telah diakui UNESCO tepatnya pada tanggal 7 November 2003 sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Ada dua versi wayang yang dikenal sejauh ini, versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum dikenal sebagai wayang orang dan versi wayang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang diantaranya berupa wayang kulit atau wayang kayu. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.

Di kalangan masyarakat Bali, Wayang kulit yang paling populer adalah Wayang Parwa yang ditenggarai terdapat diseluruh Bali. Wayang Parwa adalah Wayang kulit yang membawakan lakon – lakon yang bersumber dari wiracarita Mahabrata yang juga dikenal sebagai Astha Dasa Parwa. Wayang Parwa dipentaskan pada malam hari, dengan memakai kelir dan lampu blencong, diiringi dengan Gamelan Gender Wayang.

Wayang Parwa dipentaskan dalam kaitannya dengan berbagai jenis upacara adat dan agama walaupun pertunjukannya sendiri berfungsi sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Dalam pertunjukannya, dalang Wayang Parwa bisa saja mengambil lakon dari cerita Bharata Yudha atau bagian lain dari cerita Mahabharata. Oleh sebab itu jumlah lakon Wayang Parwa adalah paling banyak.

Di antara lakon-lakon yang umum dipakai, yang diambil dari kisah perang Bharatayudha adalah Gugurnya Bisma, Gugurnya Drona, Gugurnya Abhimanyu, Gugurnya Karna, Gugurnya Salya dan Gugurnya Jayadrata. Sedangkan Lakon – lakon terkenal sebelum Bharatayudha misalnya Sayembara Dewi Amba, Pendawa -Korawa Aguru, Pendawa – Korawa Berjudi, Sayembara Drupadi, Lahirnya Gatotkaca, Aswameda Yadnya, Kresna Duta dan Matinya Supala

Wayang Parwa biasanya didukung oleh sekitar 7 orang yang terdiri dari 1 orang dalang, 2 orang pembantu dalang dan 4 orang penabuh gender wayang (yang memainkan sepasang pemade dan sepasang kantilan). Durasi pementasannya lebih panjang daripada Wayang lemah yakni berkisar antara 3 sampai 4 jam.

Pada perkembangannya bentuk bangun wayang mengalami perkembangan bahkan pergeseran dari yang tradisi menjadi kreasi baru. Tercatat Dalang I Wayan Nardayana atau yang dikenal dengan Wayang Cenk Blonk Belayu, merupakan salah satu penampilan wayang kulit inovatif yang paling dinanti di tanah Bali selama satu dasa warsa terakhir yang mengadopsi pergeseran tersebut. Beberapa bentuk seperti bale bali, pepohonan, binatang bahkan bebatuan tak luput dari kreasi sang dalang. Demikian pula dengan penambahan tokoh wayang, memperkenalkan karakter Cenk dan Blonk yang kerap ditampilkan beberapa saat sebelum penampilan berakhir. Beberapa Lakon yang telah diedarkan dalam bentuk kaset dan vcd inipun mengambil judul yang yeleneh seperti Diah Ratna Takeshi, Katundung Ngada, Suryawati Ilang, Tebu Sala atau Lata Mahosadhi.

Adalah Jero Dalang Gede Sudibya, seorang karyawan Rumah Sakit Sanglah yang secara kebetulan merupakan keluarga kami, merupakan penglingsir yang kemudian menginspirasi tulisan diatas. Penampilan Beliau pada Desember 2008 lalu dan 6 September 2010 kemarin mengusik pikiran untuk mengulik cerita tentang wayang dalam BLoG ini. Tujuannya masih tetap sama, hanya sebagai bahan pembelajaran bagi generasi muda yang barangkali sudah mulai melupakan wayang sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

Wayang Cengblonk

Category : tentang KHayaLan

Kembali digelar gratis di pusat kota Denpasar, tepatnya di lapangan alun-alun, yang ditanggap oleh satu Badan Narkotika, pimpinan Bapak Mangku Pastika, mantan Kapolda bali dijaman bom Bali I.Antusiasme masyarakat Bali jelas terlihat saat baru memasuki areal jalan seputaran lokasi pagelaran, tampak parkir sudah penuh bahkan dobel di depan Kodam IX Udayana. Seakan tak percaya, lapangan Puputan yang begitu luaspun dipenuhi penonton yang sudah duduk manis menanti sang dalang memainkan wayang.

Padahal di koran Radar Bali, ada satu dalang lokal yang mencibir nge-trendnya Wayang cengblonk, penuh dengan dagelan kocak, dan dianggap terlalu mengikuti kehendak publik. Seakan sudah bisa terbaca layaknya para politikus kacangan, sang dalangpun berkata akan mengembalikan roh wayang kulit pada pakem dan aturan yang dahulu berlaku.

Satu pertanyaan, apakah wayang kulit jika kembali ke asal, dapat diterima begitu ramai dinanti masyarakat Bali ?
Mungkin bisa dilihat dari pagelaran dalang-dalang setempat, yang mungkin belum mampu menyaingi jumlah penonton malam kemaren.
Padahal pagelaran yang diadakan, bukanlah pertama kali digelar gratis bagi masyarakat umum.
Seminggu lalu bahkan digelar pula atas ide dari pelukis Bali, Nyoman Gunarsa, yang mencoba memperkenalkan Hak Cipta pada masyarakat.

Lakon kali ini tak jauh dari sang penyewa, tentang penggunaan narkoba.
Durasi tontonan memang hanya sebentar, cerita yang dibawakan pun terasa pendek, karena hanya menampilkan 5 adegan pokok, dan 3 diantaranya memberikan petuah serta nasehat bagi masyarakat yang menontonnya.

Sungguh satu pagelaran yang dinanti penonton, terbukti kembali saat selesai pertunjukan, masyarakat kembali menyemut di jalan-jalan raya kota Denpasar, satu pemandangan aneh terjadi pada jam-jam malam.

Tampaknya pendapat dari sang dalang di korang kemaren pagi tak mampu membendung rasa penasaran penonton, tuk melihat langsung pertunjukan sang dalang, Nardayana, yang telah mampu mengeluarkan 5 rilis vcd hingga hari ini.

Wayang Cengblonk

Category : tentang KeseHaRian

Siapa sih masyarakat Bali yang tak kenal pagelaran satu ini ?
Pementasan wayang yang diselingi dengan banyolan dan petuah, disampaikan begitu lugas dan teringat selalu di pikiran setiap orang yang pernah menontonnya.Walo lebih sering dipesan oleh kalangan berpunya, karena kabarnya tarif per manggung minimal mencapai angka 5 juta rupiah. Namun sang dalang tentu tak melupakan masyarakat yang tak mampu, dan memberikan tontonan gratis di pusat kota Denpasar.
Penuhnya jadwal pementasan sang dalang mengakibatkan tinginya tarif yang ditetapkan.

Hingga tahun ini, sudah 5 vcd yang dirilis, dengan cerita dan banyolan yang berbeda, namun ada saja yang kesannya diulang-ulang. Itu semua tak membuat cerita yang dibawakan menjadi hambar.
Apa yang disampaikan tak lepas dari kejadian dan peristiwa sosial di tengah masyarakat, tentu sangat familiar untuk dibahas.

Adapun beberapa saingannya, Wayang Joblar misalnya, tak mampu imbangi kreativitas sang dalang, apalagi banyolan dan petuah yang disampaikan terasa kasar dan terlalu vulgar. Tak miliki rasa hormat pada orang lain.

Cengblonk jadi satu fenomena baru sejak tahun 2002 lalu, yang paling dinanti setiap pagelarannya.

Wayang CenkBlonk ilhami DaLang BaLi

1

Category : tentang KeseHaRian

Wayang, kesenian tradisional dahulu mungkin akan membosankan jika ditonton remaja. Sedari aku kecil, sangat jarang pertunjukan wayang bisa menyedot ratusan penonton yang antusias. Paling hanya Wayang Lemah (Wayang yang dipentaskan siang hari), sedikit menghias upacara-upacara kecil, yang penontonnya mungkin lebih tertarik pada gadis-gadis yang bersliweran lewat membawa nampan berisi kopi dan camilan.Namun kini Wayang di Bali, telah mulai bangkit dengan begitu banyak kreasinya. Menyedot perhatian penonton tua muda hingga anak kecilpun antusias menanti, kapan pertunjukan akan diadakan. Bahkan tak jarang, tampa pamflet yang ditempelpun, informasi begitu cepat menyebar dari kuping ke kuping masyarakat yang memang menantikan hiburan ditengah krisis Indonesia berkepanjangan.

Cenk Blonk Belayu, pertama kali aku kenal dari seorang teman kerja, Ramaita, yang iseng membeli vcd original 2 keping, kalo gak salah tahun 2002, dan tak bosan-bosan kami tonton saat istirahat, maupun hanya didengar suaranya saja saat asyik bekerja, lantas mulai ditularkan pada sanak sodara hingga dibuatkan kopiannya dan dikirim ke Kanada, untuk kakak yang bersekolah disana.

Keluar dari pakem yang ada, menciptakan 2 penokohan baru, kalo tidak salah Nang Ncenk dan nang Eblonk, yang selalu keluar tampil menjelang berakhirnya cerita.
Hingga kini sudah 3 vcd originalnya yang beredar plus 1 vcd bajakan benar-benar menciptakan hiburan yang baru di mata masyarakat, yang mulai sering dipentaskan saat upacara-upacara besar di Pura maupun tempat-tempat pertunjukan.

Tidak salah jika kini banyak dalang-dalang yang latah, ikut-ikutan berusaha untuk eksis, seperti Wayang Joblar, namun bagiku pribadi, sangat disayangkan bahwa baik cerita maupun banyolan yang dibawakan sangat vulgar dan kasar, bahkan terkesan memaksa.
Tidak heran kalau para peniru ini tidak berumur panjang.

Ceng Blonk sampai hari ini, bagi kami pribadi ilingkungan rumah, makin bertambah saja penggemarnya. Anak-anak kecil keponakan kami, bahkan mulai merayu Bapak maupun Kakek mereka untuk dibuatkan Wayang dari karton maupun kertas manila, untuk kemudian berandai menjadi Dalang layaknya Cenk Blonk Belayu.

Yang lebih membuatku tersenyum, walaupun dalam hati, Istriku bahkan mulai ikut menyukai walau hanya baru sebatas mendengarkan banyolannya saja, yang iseng-iseng aku potong dan kumpulkan, hanya pada bagian lawakannya saja ‘Sangut Delem dan tokoh Cenk Blonk.
Ini terjadi, lantaran Om dari Istri baru sebulan ini resmi menjadi Dalang baru didesanya.

Semoga saja, apa yang telah dirintis oleh Cenk Blonk, benar-benar dapat membangkitkan Dalang-dalang baru yang tentunya diharapkan tanpa menjadi penjiplak, apa yang telah dilakukan Cenk Blonk sebelumnya.