Memperkenalkan Warga Pande di dunia maya

8

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Seperti cerita Gigi dalam salah satu karyanya, semua yang kami alami setahun terakhir benar-benar berawal dari FaceBook. Namun pertemuan yang kami alami setahun lalu, membawa banyak cerita baru dalam setiap langkah yang kemudian kami ciptakan. Rasa persaudaraan itupun muncul ke permukaan. Membelah semua perbedaan yang ada di masing-masing kepala.

Saya masih ingat, Group Warga Pande Bali awal tahun 2010 lalu, malah sempat saya tinggalkan lantaran tak banyak informasi tentang keberadaan Warga Pande yang saya dapat. Putu Yadnya aka Pande Bali yang saat itu menjadi Admin (sekaligus pembuat halaman Group) pun jarang terlihat aktif berbagi informasi. Maka jadilah saya menurunkan satu tulisan yang bisa dikatakan ‘membakar perasaan setiap semeton Warga Pande yang membacanya di blog pribadi yang saya kelola.

Kadang Saya Malu Mengaku Nak Pande

Siapa sangka, tulisan inilah yang kemudian mempertemukan saya dengan Semeton Pande lainnya termasuk dengan admin Group Warga Pande Bali, Meski kami baru benar-benar bersua secara langsung saat pertemuan kedua di satu tempat makan seputaran jalan Drupadi.

Dari sinilah saya kemudian mengenal orang-orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik di bidang yang ia pahami dan kuasai. Putu Yadnya aka Pande Bali, Yande Putrawan yang kini didapuk sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kota Denpasar, Dego Pande Suryantara pula sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kabupaten Tabanan, bli Ande Tamanbali yang keberadaannya kini sudah mulai menyepi dari dunia maya dan Putu Adi Susanta seorang Radiografer Rumah Sakit Sanglah yang telah saya kenal sebelumnya di komunitas Bali Blogger Community.

Berangkat dari minimnya informasi yang bisa didapatkan baik secara tercetak dalam sebuah buku maupun dunia maya tentang keberadaan Warga Pande, kami pada akhirnya mulai mengumpulkan semeton lain satu persatu dan menggalang kekuatan untuk mengadakan satu dua kegiatan sosial yang sekiranya bisa memberikan arti positif pada kami semua. Maka jadilah kegiatan Dharmawecana itu digulirkan setahun lalu.

Tak hanya itu, kamipun berusaha untuk ikut serta dalam setiap kegiatan Ngayah yang dilakukan di Pura Penataran Pande Tamblingan dan syukur, masih bisa kami lanjutkan hingga kini. Termasuk kegiatan Penanaman Pohon dilingkungan Pura.

Pelan-pelan semua kegiatan itu kami dokumentasikan dan simpan dalam berbagai media yang telah ada. Baik blog pribadi maupun Group dan akun jejaring sosial FaceBook.  Sayangnya, informasi yang telah disimpan ini masih bersifat terbatas untuk dapat diakses oleh Warga Pande secara umum di dunia maya. Untuk itu, kami pun berkeinginan untuk membuat satu media komunikasi serta dokumentasi satu sama lain, sebagai ajang diskusi dan berbagi informasi di dunia maya tanpa harus dipaksa memiliki akun salah satu jejaring sosial. Maka diluncurkanlah alamat wargapande.org.

Dengan mengandalkan WordPress sebagai mesin utamanya, maka bisa dikatakan secara tampilan jadi tak jauh beda dengan blog pribadi yang saya kelola  www.pandebaik.com,  hanya saja wargapande.org jadi sedikit lebih garang lantaran halamannya yang didominasi warna Hitam dan Merah.

Web ini kemudian diperkenalkan secara resmi kepada Publik saat Loka Sabha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang dilaksanakan di Banjar Pande Desa Renon, 25 Juni 2011 lalu, bertepatan dengan Pelantikan Yowana Warga Pande Kota Denpasar Periode 2011-2016.

Harus kami akui bahwa segmen utama yang di sasar di dunia maya adalah Yowana atau Generasi Mudanya. Karena melalui Generasi inilah yang akan diharapkan dapat tetap eksis dan selalu aktif berbagi informasi tentang Dharma Kepandean kepada semeton Yowana atau generasi muda lainnya yang memang sudah tampak aktif berinteraksi di dunia maya, termasuk FaceBook salah satunya.

Masih jua merasa belum cukup dengan akun Group FaceBook Warga Pande Bali dan web wargapande.org, rupanya Putu Adi Susanta, tweeps teraktif yang pernah saya kenal sekaligus blogger kondang yang mengelola radiografer.net, sudah membuat akun Twitter @wargapande sedari pertengahan tahun lalu. Kalau tidak salah sejak kami, para Yowana Warga Pande, mulai ramai mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif.

Terpantau Tweet terakhir yang diluncurkan oleh Pak Putu Tarno (sapaan akrab kami pada Master Putu Adi lantaran yang bersangkutan jago sulap) sekitar bulan Agustus 2010. Tepatnya ketika Uwe Sutedja Neka, Jejeneng Keris yang mengelola Museum Neka Ubud, mulai menyajikan aksi yang memukau, mendirikan keris diatas gagangnya saat DharmaWecana berlangsung. Maka jadilah akun Twitter @wargapande ini menjadi yang ketiga kami perkenalkan dan coba kelola.

Memang akan ada banyak hambatan dan tantangan yang kami yakin bakalan ditemui sepanjang perjalanan nanti sembari mengelola tiga akun Warga Pande disela kesibukan kerja masing-masing. Namun harapannya cukup sederhana kok. Minimal apa yang sudah kami lakukan, bisa menginspirasi Semeton Warga Pande lainnya terutama yang datang dari usia Generasi Muda untuk ikut serta berbagi informasi terkait Dharma Kepandean, agar kelak Generasi kami berikutnya tidak akan merasakan ‘Malu untuk mengaku Nak Pande.

Link to :

Susunan Pengurus Yowana Paramartha Warga Pande Kota Denpasar 2011 – 2016

Category : tentang DiRi SenDiri

Om Swastyastu. Sekali lagi www.pandebaik.com mengucapkan Selamat dan Sukses untuk para Yowana atau Generasi Muda Pande yang telah dilantik sebagai Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2011 – 2016 pada Loka Sabha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, hari sabtu 25 Juni 2011 lalu.

Berikut disampaikan Susunan Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2011 – 2016 seperti yang disampaikan oleh Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2006 – 2010, I Wayan Pudja, SH., MSi melalui Surat Keputusan nomor 02/MSWPK/VI/2011 tanggal 25 Juni 2011.

Penasehat : Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar

Ketua : I Wayan Putrawan, SH

Wakil Ketua : Pande Agus Hardy Sarjana

Sekretaris : Pande Nyoman ArtaWibawa, ST., MT

Bendahara : Made Yulitasari

Wakil Bendahara : Kadek Alit Rusmini

 

Seksi Kewidanaan (Organisasi)

Ketua : Gede Purnamadi

Sekretaris : Ni Kadek Suryadewi

Anggota :

1. I Ketut Sukanta

2. Ni Luh Putu Apriandari

3. I Putu Pande Alit Pandika

 

Seksi Diklat & Pengembangan Sumber Daya Manusia

Ketua : Gede Putra Mahendra

Sekretaris : Pande Made Desy Dwisukmasurya

Anggota :

1. I Wayan Gita Tulistyaputra

2. Dian Febriana

3. Pande Agus Darmasastra

4. Made Maha Kharisma, PDT

 

Seksi Sosial Budaya

Ketua : Pande Karsana

Sekretaris : Kadek Putri Wahyu Setiti

Anggota :

1. Pande Made Dwi Ariadi

2. Pande Putu Wisnu Murti

3. Pande Made Surya Candra

 

Seksi Sosial Ekonomi

Ketua : I Kadek Suwerta, SE

Sekretaris : I Nyoman Lodra, SE

Anggota :

1. I Ketut Mustika Adi

2. I Made Arcaya

3. I Kadek Artana

 

Seksi Hubungan Masyarakat

Ketua : I Made Oka Budiarsa

Sekretaris : Luh Putu Siska Puspayani

Anggota :

1. Pande Gede Mahendra Sila

2. Pande Komang Agus Dharmaputra

3. Pande Putu Gede Putra Partama

4. Pande Putu Junanta

 

MAHA SEMAYA WARGA PANDE

KOTA DENPASAR

KETUA :

 

(I WAYAN PUDJA, SH., MSI)

 

Selamat dan Sukses Loka Sabha III Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar

8

Category : tentang KeseHaRian

Setelah molor setahun lebih, pada akhirnya Loka Sabha III Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar dilaksanakan jua. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 25 Juni 2011 ini mengambil tempat di Banjar Pande Desa Renon, Denpasar Selatan,  dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar mewakili Bapak Walikota bersama Ketua PHDI Provinsi Bali.

Kegiatan yang sedianya dilaksanakan setiap lima tahun sekali ini, digunakan pula untuk melakukan pergantian Pengurus Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar Periode 2005-2010 yang dipimpin oleh I Wayan Pudja, SH., MSi. Dalam sambutannya menyampaikan pula harapan pada Walikota Denpasar yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, terkait ketersediaan tanah lapang yang sedianya dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan adat secara massal.

Apresiasi yang luar biasa disampaikan oleh Ketua PHDI Bali kepada Pengurus Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar terkait Usulan yang disampaikan diatas, dan sekaligus berharap agar warga Pande tidak merasa rendah diri atau malah merendahkan keberadaan orang lain dalam kewajibannya berorganisasi dan menyama braya. Tak lupa Beliau berharap pula kelak ada satu dua kader dari Semeton Warga Pande dapat ikut serta aktif dalam organisasi PHDI Bali atau bahkan untuk menduduki posisi sebagai Ketua PHDI Bali.

Selama lima tahun mengemban tugas sebagai Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, I Wayan Pudja, SH., Msi menyatakan rasa bangganya karena mampu melaksanakan beberapa kegiatan seperti Kursus Pinandita yang dilakukan pada tahun 2006 lalu, Ngaben Masal yang di Desa Serangan serta Nyekah yang mengambil lokasi di Banjar Pande Desa Renon, Denpasar Selatan.

Dalam kesempatan yang baik ini pula dilakukan Pembentukan serta Pelantikan Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang secara sah dipimpin oleh I Wayan Putrawan, SH. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan regenerasi Warga Pande dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Warga Pande dan diharapkan agar para Yowana atau generasi muda Pande tidak melupakan pesemetonannya satu sama lain.

Sebagai bukti keseriusan para Yowana atau Generasi Muda pande akan pesemetonan tersebut, diperkenalkan pula alamat website dunia maya milik Warga Pande (www.wargapande.org) yang hingga kini keberadaannya masih dikelola oleh para Yowana disamping sebuah group komunitas Warga Pande Bali pada akun jejaring sosial Facebook.

Sekali lagi Selamat dan Sukses atas terselenggaranya Loka Sabha III Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar sekaligus untuk Pelatikan Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar.

(Laporan secara langsung dari lokasi Kegiatan)

Catatan Perjalanan 19 Januari menuju Pura Penataran PanDe Tamblingan

1

Category : tentang PLeSiran

Bau tanah yang disirami air hujan tercium dengan khasnya, rabu pagi 19 Januari 2011, hari yang telah kami nanti sejak lama. Entah mengapa setiap kali kami merencanakan untuk tangkil bersama keluarga, MiRah putri kami selalu saja dalam kondisi sakit. Demikian pula hari ini. Maka bisa ditebak, ada rasa khawatir yang hinggap di pikiran akan kesehatannya jika kami ajak ikut serta ke Pura Penataran Pande Tamblingan.

Tekad kami sudah bulat, kami harus berangkat apapun yang terjadi. Sarana upacara sudah siap demikian pula dengan kendaraan jadul yang kami miliki, setidaknya dipersiapkan pula lebih awal. Mengingat rasa khawatir kami yang kedua akhirnya terwujud jua. Hujan yang berpotensi meluluhlantakkan satu-satunya jalur kendaraan menuju pura.

Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang umat-Nya. Beliau tahu harapan kami begitu besar untuk bisa hadir bersama keluarga. Terhitung perjalanan pasca daerah Luwus, hujan tak tampak lagi. Langit cerah ceria dipenuhi matahari yang tampak masih malu-malu diselimuti awan. Begitu pula dengan MiRah putri kami, batuknya tak tampak di sepanjang perjalanan. Bisa jadi lantaran ia begitu menikmati liburannya kali ini.

Kendaraan mulai menyusuri jalan masuk ditengah hutan. Sebuah Avanza awalnya tampak begitu jauh didepan kami, perlahan tapi pasti bisa didekati. Air danau yang meninggi, membuat jalur kendaraan alternatif di pinggiran tak dapat dilalui lagi. Akibat lainnya, jalan jadi penuh lumpur dan kendaraan kami ? bukan kendaraan yang disarankan oleh para Offroader untuk bisa melewati jalur tersebut.

Masalah muncul ketika beberapa kendaraan tampak berhenti didepan kami dari  arah yang berlawanan. Jalan yang sempit rasanya tidak mampu untuk memberi ruang dua kendaraan lalu lalang. Ban mobil yang terselippun kemudian menjadi pemandangan kami, kerjasama antara semeton PanDe benar-benar diuji kali ini.

Perjalanan selama tiga setengah jam, molor satu setengah dari perkiraan. Kami sampai di pelataran parkir Pura Penataran Pande Tamblingan dengan selamat. Rasa syukur menyelimuti hati yang digeluti hawa dinginnya Danau Tamblingan. Air benar-benar begitu tinggi, hingga setiap orang yang hadir hanya bisa mengakses Pura dari jalan kecil di samping kanan area.

Tampak bli Ande Tamanbali, sesepuh di Yowana Paramartha menyapa kami bersama ‘anak-anaknya’. Dari status akun FaceBook yang mereka update pagi tadi, jelas sekali kini sudah bersiap untuk pulang. Demikian halnya dengan rombongan Putu Yadnya (Pande Bali), yang sekendaraan dengan Gus Hardy, Gektu Cipluk dan pak guru Dego. Dancuk kami Yande Putrawan beserta istrinDa bu dokter Astrie, baru tiba ketika kami usai melakukan persembahyangan di areal utama Pura. Sesuai rencana, Yowana Paramartha sedang mencoba tampil di hadapan para Penglingsir.

MiRah tampak ceria hari ini. Tak tampak ia sakit sedikitpun, hingga mengundang pertanyaan dari para teman di jejaring social FaceBook. Wajah cerahpun ditunjukkan oleh ibu dan neneknya. Ini adalah pengalaman pertama mereka bisa hadir di Pura Penataran Pande Tamblingan ini. Bersua saudara, bersua  orang-orang baru.

Cuaca yang tampak bersahabat sepanjang hari membuat senda gurau dan cengkrama kami begitu hangat dan mengalahkan rasa dingin yang mencoba menggoda kami. Hujan rintik sesekali turun namun tak sampai membasahi. Rasa lapar yang timbul, masih bisa ditahan walau hanya dengan segelas kopi. Baru terobati ketika pulang menjelang.

Sengaja kami memutuskan untuk kembali saat semua orang sudah beranjak pulang. Minimal disepanjang perjalanan ada teman yang kelak bisa kami mohonkan pertolongannya, apabila terjadi situasi krodit seperti siang tadi. Beberapa kendaraan offroader tampak siaga di titik tertentu lengkap dengan fasilitas dereknya. Kami bersyukur bisa melewati rintangan dengan baik. Kijang Grand Extra tahun 88 tanpa modifikasi ini kembali membuktikan ketangguhannya.

Saat perjalanan pulang, dalam benak baru saya sadari bahwa apa yang menjadi tujuan semula, terlupakan begitu saja. Hasil Paruman Sri Empu beserta Pengurus Maha Semaya Warga Pande tak sedikitpun bisa saya ceritakan disini. Tumben, saya seperti tak peduli dengan jalannya parum, entah karena suasana bercengkrama yang begitu hangat, rasa bahagia bisa hadir bersama keluarga, atau karena keceriaan MiRah putri kami mendominasi suasana hati sepanjang hari. Semoga semeton lain bisa mengabarkannya.

Kilas Balik www.pandebaik.com Tahun 2010

6

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Setahun sudah masa berlalu, namun rasanya baru kemarin semua hal itu dijalani. Sekedar mengingat akan hal apa saja yang sudah dilalui pada tahun 2010 kemarin…

Reuni SMA

Masa SMA adalah masa terindah sepanjang hidup yang saya miliki. Meski yang namanya pergaulan, apalagi pacar tak pernah saya miliki selama 3 tahun itu. Saya menikmatinya. Sangat. Bersyukur dengan adanya BLoG ini, beberapa teman akhirnya menemukan saya dan mulai meretas tali kawan melalui jejaring sosial bernama FaceBook. Maka jadilah kami mewujudkan Reuni SMAN 6 Denpasar, Angkatan 1992 pada bulan April lalu. Tentu dengan banyak pertemuan dan cerita dibalik itu semua. Kini, meski kami sudah jarang saling berinteraksi kembali di dunia maya, namun dalam dunia nyata kami tetap saling berkabar.

Yowana Paramartha Warga Pande

Seperti halnya Reuni SMA, semua yang terjadi berkaitan dengan aktifitas Warga Pande bisa dikatakan berawal dari FaceBook. Adalah sebuah Group bentukan semeton Putu Yadnya atau yang dikenal dengan id Pande Bali, ditambah undangan untuk kopi darat oleh semeton YanDe Putrawan, kami akhirnya bertemu di tempat yang sama, dimana pertama kali menggagas Reuni SMA. Dengan tekad yang komitmen yang begitu tinggi, kami kemudian mewujudkan satu persatu ide, kegiatan hingga pada akhirnya melahirkan wadah untuk berekspresi baik secara komunitas regional maupun dunia maya diluar FaceBook. Maka jadilah Yowana Paramartha Warga Pande Kabupaten Badung yang dipimpin oleh Semeton Dego Pande Suryantara, cikal bakal Yowana Paramartha Warga Pande Kota Denpasar yang dipimpin YanDe Putrawan dan juga wargapande.org yang dilahirkan oleh Putu Yadnya alias Pande Bali. Saya pribadi memilih untuk tetap bernaung di bawah www.pandebaik.com :p

FourSQuare

Check-in, Jumper, BadGe, Venue adalah beberapa istilah baru yang saya lakoni enam bulan terakhir. Jejaring sosial berbasis lokasi ini tentu saja membawa dampak yang tidak sedikit bagi hari-hari yang saya jalani. Lebih dari 10 tulisan yang saya lahirkan dengan mengambil tema FourSQuare. Demikian halnya dengan akun FaceBook dan Twitter yang kian terbengkalai, karena hampir setiap jam, aktifitas Check-in menjadi wajib saya lakukan, demi mendapatkan BadGes.

LPSE

Awalnya memang saya tak paham dengan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (baca:Online) ini. Namun atas pertimbangan pengetahun IT saya yang minim ini, sayapun akhirnya diikutkan dalam tim yang dikirim ke Jakarta bulan Maret lalu. Tujuannya untuk berlatih menjadi Trainer. Perkembangannya lumayan pesat, karena hanya dalam hitungan bulan, tim ini sudah mampu melatih atau menularkan ilmunya pada rekan sepemerintahan pun saling bertukar informasi dan ilmu satu sama lainnya. Saya pribadi merasa bersyukur atas ‘jalan’ yang diberikan-Nya ini. Karena bagaimana pun juga, banyak ilmu dan juga ‘petunjuk’ yang saya dapatkan.

Bye Compaq CQ40 and StarOne, Welcome HP ProBook, HP Mini and IM2

Ini adalah salah dua efek daripada ‘bergabungnya saya di squad tim trainer LPSE Badung. Untuk menjamin bahwa setiap trainer dan juga pelaku utama LPSE Badung tetap terkoneksi dengan dunia maya, kami semua diganjar masing-masing sebuah NoteBook premium, HP ProBook ditambah koneksi IM2 Unlimited setiap bulannya, lengkap dengan Modemnya sekaligus. Meskipun sebenarnya, untuk menjawab tantangan ini kami menginginkan sebuah handset BlackBerry mengingat pada faktor harga yang jauh lebih murah dan juga sifatnya yang mobile (dapat digunakan di Toilet sekalipun), khawatir akan Image-nya yang masih mahal di mata masyarakat terutama PNS, kamipun mengurungkan niat. Hal ini tentu saja berimbas pada laptop pribadi yang sedari tahun 2009 lalu saya gunakan, plus koneksi StarOne Unlimited yang sudah dua tahun terakhir menemani. Laptop Compaq CQ40 praktis jarang saya gunakan, pada akhirnya dilego dan digantikan oleh HP Mini yang kelak bakalan saya berikan pada Istri untuk penggunaannya. Demikian halnya dengan koneksi StarOne Unlimited pun ikut serta dihibahkan. :p

Monetizing BLoG www.pandebaik.com

Berbekal kenekatan akan pantauan pada Traffic Pengunjung yang mampir ke BLoG ini selama 6 (enam) bulan terakhir yang rupanya telah meningkat hingga 10.000 page view per bulannya, saya memberanikan diri ikut serta menjadi Penerbit iklan melalui situs pay per clik lokal Indonesia, kliksaya.com. untuk itu, beberapa perubahan saya lakukan dengan pengetahuan bahasa php yang sangat minim. Hasilnya, yah lihat saja halamn BLoG ini sekarang. Mengandalkan Thema gratisan, sayapun mulai menghiasi beberapa kotak dengan tampilan iklan yang mohon maaf saja, ada beberapa materi iklan terkadang membuat saya malu sendiri. Memperbesar (maaf) Penis salah satunya. Terkait Monetizing ini, saya berterimakasih kepada pak Made Aryawan, mentor saya di LPSE yang mendorong saya untuk melakukan hal ini segera. Demikian halnya dengan Hendra dari BaliOrange, tempat hosting BLoG www.pandebaik.com ikut serta memberikan saran mengingat jumlah Traffic yang saya miliki, pun kepada Wirautama atas info dan banyak penjelasannya. Tak lupa Putu Yadnya, pemilik Warung Bebeque yang merelakan sedikit rejekinya untuk memasang iklan pertama di halaman ini.

Gag terasa udah setahun lewat, banyak hal yang masih menjadi Tujuan di masa depan.

Rencana Penanaman Pohon di Pura Penataran Pande Tamblingan Buleleng

2

Category : tentang PLeSiran

Komunitas Warga Pande Jejaring Sosial FaceBook

Dalam rangka kegiatan Penanaman Pohon bersama Yowana Paramartha Warga Pande di Pura Penataran Pande Tamblingan Buleleng, Kami memerlukan bantuan berupa bibit pohon seperti :

  • cempaka
  • sengon
  • cendana
  • tebu ireng
  • intaran
  • jati sandat bali
  • anggrek bandung
  • kamboja
  • heleconia
  • Calathea luthea (pisang-pisangan)
  • prasok
  • nagasari
  • albasia
  • Pucuk Bang
  • Base
  • Timbul
  • Puring (plawa)
  • Rumput mutiara 10 M2
  • Jempiring
  • tanaman berbunga lainnya yang dapat dipergunakan untuk sarana persembahyangan atau untuk keperluan upacara,

untuk ditanamkan nanti di Pura Penataran Pande Tamblingan Buleleng.

Bagi Semeton yang berminat ikut serta, silahkan membawa serta peralatan bertanam seperti linggis, cangkul, arit, penyeluhan dan lain-lain sebagaimana perlu. Untuk Informasi lebih jauh, silahkan kontak Semeton :

Perlu kami ingatkan bahwa, kegiatan sedianya akan dilaksanakan pada hari Minggu, 7 November 2010. Silahkan mempersiapkan serta membawa perbekalan konsumsi masing-masing dan mengajak serta Semeton lainnya.

Kalau bukan kita yang memulai, Siapa Lagi ?

Penanaman Pohon di Pura Penataran Pande Tamblingan bersama Yowana Paramartha Warga Pande

3

Category : tentang PLeSiran

Om Swastiastu,

Semeton Sedharma, khususnya Semeton Pande diseluruh Bali, ketika kita bangun tidur di pagi hari bisa kita hirup segarnya udara tanpa polutan, oksigen masih murni tanpa asap kendaraan dan sisa pembakaran lain, maka sudah sepantasnya kita panjatkan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa ini. Syukur atas karunia Tuhan kita bisa kembali melihat mentari bersinar hangat dan menghirup udara pagi yang sejuk. Namun lihatlah sekarang disekeliling kita, pohon satu demi satu kita tebang, karena kita perlu lahan untuk tinggal, perlu ruang untuk bergerak dan aktifitas kita. Tanpa kita sadari kita sudah merusak alam untuk kepentingan kita, kepentingan manusia semata. \

Pulau Bali yang kecil ini, terkenal sampe ke luar negeri hingga Julia Robert artis hollywood yang sudah kelas dunia pun memilih syuting di Bali. Semua tidak lepas dari keindahan alam bali yg eksotis dan magis. Dikatakan magis karena konsep Hindu yang diterapkan dalam kehidupan sehari hari terlihat begitu sempurna, ada hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam. Hubungan dengan alam kita tunjukkan dengan menghaturkan sesaji pada pohon besar yang mana memiliki konsep filosofis tinggi yaitu menghormati tetumbuhan yang selama ini menjaga tanah dan menjaga keseimbangan lingkungan kita sehingga kita bisa hidup nyaman.

Dalam hubungan manusia dengan Tuhan pun juga tidak terlepas dari bantuan alam, pembangunan pura juga memerlukan lahan yang tidak sempit. Salah satu contohnya adalah pembangunan Pura Penataran Pande Tamblingan yang ada di Desa Tamblingan Kabupaten Buleleng. Pembangunan pura yang mengambil lokasi di tepian Danau Tamblingan telah membabat beberapa pohon untuk mendirikan fisik bangunan pura. Tidak hanya itu, untuk membuat akses jalan masuk ke pura juga memerlukan penebangan pohon besar yang tidak sedikit. Oleh karenanya demi keberlangsungan keseimbangan alam dan demi menghormati hubungan manusia dengan alam, kami mengajak Semeton Pande sebagai Pewaris dari Pura Penataran Pande Tamblingan, untuk melakukan penanaman pohon di areal Pura Penataran Pande Tamblingan dan diluar areal pura.

Penanaman pohon ini akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 7 Nopember 2010 Pukul 9 pagi.

Kami yang tergabung dalam kelompok muda Pande mengajak Semeton Pande dimanapun kalian berada, khususnya semeton pande yang masih berjiwa muda agar ikut dalam program kerja kami.

Bagi semeton Pande yang belum pernah ikut tergabung dalam temu wirasa yang kerap kami lakukan dan berminat untuk ikut dalam program penanaman pohon ini bisa menghubungi semeton kami yaitu :

Kepedulian kita sekarang adalah bekal untuk anak cucu kita. Untuk itu kami juga menerima sumbangan berupa uang dan atau (bibit) pohon yang bisa ditujukan kepada semeton yang namanya tercantum diatas. Semua sumbangan yang terkumpul akan dipergunakan untuk kepentingan kegiatan penanaman pohon.

Untuk itu, marilah bergabung bersama kami dalam program Penanaman Pohon di Pura Penataran Pande Tamblingan.

Matur Suksma,

Om canti canti canti om…

Komunitas Warga Pande Jejaring Sosial FaceBook

Catatan Kecil Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande

3

Category : tentang Opini

Sebagai sebuah kegiatan perdana yang digagas oleh sebuah (cikal bakal) organisasi berbasis sosial tingkat Kabupaten/Kota, saya pribadi memberikan acungan jempol atas terselenggaranya Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande di Museum Seni Neka Sanggingan Ubud, Minggu 15 Agustus 2010 kemarin. Meski masih banyak kekurangan yang barangkali terlihat secara jelas selama proses berlangsung.

Jujur, kami sendiri agak shock ketika mengetahui perubahan besar yang bakalan terjadi pada kegiatan Dharmawacana yang sedianya kami rencanakan secara sederhana. Apalagi ketika usulan kami ini ditanggapi serius oleh pengurus induk organisasi tempat kami nantinya bernaung, Maha Semaya Warga Pande saat pertemuan dadakan di Pura Penataran Pande Tamblingan, Sabtu 7 Agustus 2010 lalu.

Banyak masukan serta kritikan yang kami dapatkan baik secara lisan maupun tulisan terkait pelaksanaan Dharmawacana sedari awal hingga berakhirnya acara. Ada yang tidak puas dengan cara penyampaian materi, kedalaman materi hingga sempitnya ketersediaan waktu yang diberikan pada sesi diskusi. Padahal beberapa dari kami (pihak panitia) bahkan mungkin juga dari peserta sudah menyiapkan daftar pertanyaan yang sekiranya akan dapat dipahami dengan cara yang sama.

Tidak ketinggalan, untuk mendukung jalannya Dharmawacana dan sebagai bahan pembelajaran bagi kami semua, blog www.pandebaik.com dengan ‘terpaksa’ merombak ulang jadwal publish beberapa tulisan tak penting dan diganti dengan tulisan terkait Keris, Bhisama serta organisasi Yowana Paramartha sedari awal bulan Agustus hingga jadwal Dharmawacana terlaksana. Diikuti dengan publikasi via jejaring sosial FaceBook secara rutin baik melalui halaman pribadi maupun group. Sayangnya saya merasakan hanya sedikit yang kemudian dibahas lebih jauh. Saya Mohon Maaf atas ketidaknyamanan ini.

Kendati demikian, ada satu hal yang patut saya syukuri selama proses kegiatan ini berlangsung yaitu tingkat kunjungan menuju blog www.pandebaik.com selama 3 (tiga) bulan terakhir ini melampaui angka 10.000 kunjungan per bulannya yang kalau dirata-ratakan butuh kunjungan sebanyak 335 per harinya. Lonjakan ini saya sadari bakalan kembali menurun saat kegiatan yang dilakoni oleh cikal bakal Yowana Paramartha tingkat kabupaten/kota ini mulai tertinggal jauh dan ditimpa dengan tulisan-tulisan berbau narsis khas PanDe Baik.

Kembali pada topik, adapun jumlah peserta yang tercatat pada daftar adalah sebanyak 205 orang yang artinya kurang lebih sudah melampaui batas yang kami perkirakan. Namun jumlah peserta yang kami yakini lebih banyak dari itu. Bahkan Yande Putrawan yang menjadi koordinator kegiatan Dharmawacana inipun tampaknya belum mencantumkan namanya dalam daftar.

Pemilihan narasumber juga menjadi masukan yang tidak kalah pentingnya apabila kelak Dharmawacana ini menjadi agenda rutin. Maksimal mendaulat 2 narasumber untuk membahas satu topik atau tema tertentu saja. Agar apa yang disampaikan juga yang didiskusikan tidak melebar kemana-mana. Tujuan lainnya agar waktu yang tersedia dapat lebih maksimal dimanfaatkan.

Banyaknya kendala dan keterbatasan yang kami alami sepanjang proses kegiatan merupakan satu pembelajaran berharga terutama bagi kami semua yang ikut terlibat secara langsung. Harapannya hanya satu tentu saja. Agar kami dapat menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Semoga…

Tentang Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande

6

Category : tentang KHayaLan

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wita namun belum jua ada tanda-tanda dimulainya Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande dari pihak Panitia. Meskipun beberapa narasumber telah hadir, rupanya panitia masih menunggu kehadiran Kompyang Wisastra Pande, Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang direncanakan membuka kegiatan Dharmawacana.

Beberapa Panitia dari Yowana bahkan sudah mulai menampakkan kegelisahannya terkait jumlah peserta yang hadir dikhawatirkan tidak mencapai 200 orang seperti tantangan Pengurus Harian Maha Semaya Warga Pande saat rapat bersama pada upacara 42 hari Pura Pentaran Pande Tamblingan waktu lalu.

Molor 2 (dua) jam, kegiatan dharmawacana baru bisa dilaksanakan. Meski demikian mundurnya waktu pelaksanaan tidak terlalu dirasakan lantaran sebelum Dharmawacana dimulai, baik peserta maupun beberapa Panitia dipersilahkan melihat-lihat Koleksi Keris Tangguh dan Kamardikan yang dipajang di Museum Seni Neka.

Wacana Babad dan Prasasti Pande yang dibawakan oleh ‘Sira Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani’ saking Grya Taman Saraswati, Tunggak-Bebandem-Karangasem merupakan topik pertama Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande 15 Agustus 2010 yang dilaksanakan di Museum Seni Neka, Sanggingan Ubud. Babad Pande ini menceritakan tentang sejarah awal mula Warga Pande baik sebelum maupun sesudah masa kedatangan Majapahit ke tanah Bali hingga saat Warga Pande Beng menggugat Raja Gianyar pada tahun 1911.

Wacana kedua dilanjutkan oleh Pande Wayan Suteja Neka yang mengetengahkan tentang Upaya Pelestarian Keris di Museum Neka relevansinya dengan Dharma Kepandean. Beberapa koleksi yang menarik perhatian seperti keris Ki Baju Rante dari Puri Karangasem, keris Ki Gagak Petak, keris Ki Blanguyang dari Puri Gianyar atau keris Ki Pijetan dari kerajaan Pejeng merupakan bagian dari upaya pelestarian tersebut agar tidak lari ke tangan kolektor luar negeri. Pada sesi ini ditayangkan pula video cara pembuatan keris yang sebetulnya dapat pula diunduh melalui portal penyedia video dunia maya, YouTube.

Dari dua pemaparan sesi pertama diatas tampaknya tidak semua Peserta bisa memahami dengan baik maksud dan isi wacana yang disampaikan berhubung terkendala bahasa. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali halus Singgih yang sudah mulai dianggap sebagai bahasa asing oleh sebagian besar generasi muda masa kini. Ketidakpahaman inilah yang barangkali menjadi salah satu alasan beberapa Yowana tampak meninggalkan lokasi kegiatan ketimbang melanjutkannya ke sesi selanjutnya. Meski demikian, sesaat sebelum sesi berakhir, didapatkan informasi bahwa target jumlah Peserta yang tercatat melampaui angka 200 orang. Wiiiihhh…

Memasuki sesi selanjutnya pasca makan siang, diambil alih oleh Ketut Sunadra, Sekretaris Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang memperkenalkan keberadaan organisasi Maha Semaya Warga Pande sedari awal pembentukan (tahun 1975) hingga kabar terkini. Pemaparan Beliau ini sempat pula menyinggung sedikit tentang beberapa Bhisama yang dianggap penting untuk diketahui. Pada sesi ini pula permintaan kendala bahasa baru dapat disampaikan, bersyukur Beliau mengerti dan memahaminya.

Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma selaku Ketua I Bidang Tata Keagamaan  yang sedianya direncanakan sebagai narasumber pertama Dharmawacana terkait Bhisama, mengambil alih sesi berikutnya dengan batasan waktu yang cukup singkat. Pada sesi ini Beliau sempat menekankan terkait Bhisama Warga Pande dalam pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara, dimana percerminan Bhisama yang sempat saya ingat adalah sebagai berikut :

  1. Bhisama Pertama tentang Pura Besakih dan Penataran Pande di Besakih menekankan asas Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Bhisama Kedua tentang Ajaran Panca Bayu menekankan kemampuan diri yang harus terus diasah demi kepentingan orang banyak
  3. Bhisama Ketiga tentang Asta Candhala menekankan perilaku yang Taat dengan Hukum yang berlaku
  4. Bhisama Keempat tentang Larangan memakai Tirtha Pedanda menekankan unsur Keadilan bagi semua pihak
  5. Bhisama Kelima tentang Pesemetonan Warga Pande menekankan Kesatuan antar Warga Pande yang harus diwujudkan dimasa depan

Begitu pemaparan dari para narasumber berakhir, Komang Suarsana selaku Ketua Yowana Paramartha Propinsi Bali yang didaulat sebagai Moderator selama Dharmawacana berlangsung, melanjutkan sesi Diskusi dimana pada awalnya diharapkan semua pertanyaan yang barangkali masih mengganjal terkait Babad, Prasasti dan Bhisama Warga Pande juga Keris dapat ditemukan jawabannya. Sayang, keterbatasan waktu yang barangkali sudah dianggap cukup lama sebagai kegiatan perdana Yowana ini hanya cukup untuk menjawab tiga pertanyaan yang salah satunya direaksi menarik oleh para Peserta Dharmawacana.

Apalagi kalo bukan ‘aksi keseimbangan dari bilah keris yang diberdirikan secara tegak baik dalam posisi normal (dengan  menggunakan danganan/handle/pegangan keris sebagai alas) maupun dalam posisi terbalik (dengan menggunakan ujung bilah keris di sisi bawah). Rupanya banyak Peserta masih tidak percaya dengan ‘posisi keris yang mampu berdiri tegak seperti yang pernah kami saksikan saat kunjungan pertama ke Museum Neka bulan lalu.

Meskipun masih menyisakan kekecewaan lantaran sedikitnya waktu yang dapat dimanfaatkan untuk Dharmawacana perdana (dan juga sesi diskusi) ini, rata-rata Peserta dan juga para narasumber beserta pengurus Maha Semaya malah menginginkan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala sebagai pencerahan pikiran bagi seluruh Warga Pande. Ini merupakan satu pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kami, mengingat apa yang sudah mampu terwujudkan merupakan salah satu buah positif dari sebuah kemajuan teknologi informasi. Semoga saja.

Ohya, untuk Dokumentasi terkait pelaksanaan Dharmawacana Yowana Paramartha ini dapat dilihat disini.

Sedikit Cerita tentang Tulisan ber-Tema Keris (dan Bhisama)

3

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam dua minggu terakhir tulisan yang dipublikasikan pada blog PanDeBaik seakan diselimuti aura Keris sampai-sampai beberapa teman yang rajin menyambangi blog satu persatu meng-sms saya ‘sejak kapan PanDeBaik berpindah tema ? dari yang biasanya melulu tentang teknologi ponsel kini malah lebih mengarah pada budaya bangsa ini… Keris.

Seperti halnya yang pernah saya ungkap dalam update status jejaring sosial FaceBook akhir Juli lalu, terkait tulisan bertemakan Keris (dan Bhisama) yang dipublikasikan sejak awal Agustus, murni saya dedikasikan sebagai pembelajaran atau tambahan pengetahuan bagi Generasi Muda Warga Pande, dalam rangka DharmaWacana tentang keris dan Bhisama di Museum ‘Keris’ Neka, Sanggingan, Ubud, Gianyar.

Adapun terkait DharmaWacana tersebut diselenggarakan sebagai awal proses pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berorganisasi dan bersosialisasi bagi Teruna Teruni Generasi Muda Warga Pande di tingkat Kabupaten dan Kota. Sebagai pilot project, sementara waktu kami mengambil opsi dikhususkan pada kotamadya Denpasar dan Kabupaten Badung saja.

Lantas kenapa harus ‘Keris ? ini terkait lagi dengan kunjungan pertama kami ke Museum ‘Keris’ Neka pada tanggal 18 Juli 2010 lalu yang jujur saja menyisakan banyak pertanyaan di pikiran saya sebagai salah satu dari generasi muda (meskipun sudah berstatus menikah) warga Pande. Apalagi kalau bukan terkait apa itu keris, bagaimana proses pembuatannya, nilai-nilai dan makna yang terkandung hingga terkait puluhan keris koleksi milik Museum Neka, dari mana saja asalnya, apakah ada sejarahnya, siapa pembuatnya dan masih banyak lagi.

Sambutan yang diberikan kepada kami sangat jauh dari rencana awal yang sedianya hanyalah untuk menyampaikan keinginan dan memastikan Pande Wayan Suteja Neka berkenan menerima dan berbagi pengetahuannya saat Dharmawacana kelak. Mendengarkan dan menyaksikan secara langsung hingga berkeliling di Museum merupakan pengalaman baru bagi kami semua.

Bersyukur Uwe Suteja Neka (demikan saya memanggil Beliau) berkenan memberikan bekal literatur yang sekiranya dapat kami pelajari ketika pulang dari Museum. Dari literatur tersebutlah tulisan-tulisan yang bertemakan Keris itu berasal. Dua alasan mengapa tulisan-tulisan yang bertemakan Keris saya publikasikan lewat blog adalah pertama, isi dari tulisan tersebut terlalu berharga untuk saya ketahui seorang diri dan mengingat visi dari blog PanDeBaik adalah berbagi pengetahuan dan pengalaman maka tidak ada salahnya tulisan tersebut saya tuangkan disini. Sedang Kedua, terkait profesi sampingan saya sebagai blogger (dan memiliki media blog) ya satu-satunya yang dapat saya lakukan agar literatur yang diberikan Uwe Suteja Neka dapat lebih bermanfaat bagi kita semua adalah menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan.

Demikian pula halnya dengan tulisan terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande yang barangkali sangat disarankan untuk diketahui oleh setiap Semeton Warga Pande. Harapannya tentu saja agar saat Dharmawacana nanti akan ada satu pembelajaran tambahan untuk diketahui sebelumnya serta pemahaman yang seragam satu dan lainnya.

Hanya saja publikasi tulisan yang berasal dari literatur ini bukan bertujuan untuk mengeruk keuntungan secara komersial, namun (sekali lagi) hanya sebatas pembelajaran dan tambahan pengetahuan bagi generasi muda Warga Pande khususnya dan tentu saja kita semua umumnya. Bukankah indah jika kita semua sama-sama menyadari bahwa Keris (dan Bhisama bagi Semeton Warga Pande) adalah satu warisan budaya leluhur bangsa kita yang patut dijaga dan lestarikan ?

Dokumentasi Dharmawacana @ Museum Neka

9

Category : tentang iLMu tamBahan

…akhirnya DharmaWacana itu selesai juga… tembus 250 peserta…

Terima Kasih, Matur Suksema ring Semeton Warga Pande, khususnya Yowana Paramartha ‘Teruna Teruni’ yang sudah ikut serta hadir dalam kegiatan yang sangat luar biasa ini…

Lokasi Dharmawacana ‘Museum Seni Neka’ Sanggingan – Ubud bersama banner karya Mahendra Sila

*

…jumlah pesertanya tembus 250 orang oi !!!

*

YanDe Putrawan sang DanCuk (komanDan puCuk -minjem istilah anak BBC) memberikan Laporannya didepan para penglingsir Warga Pande dan (tentu saja) peserta…

*

Uwe Suteja Neka saat menyajikan ‘keajaiban (baca:keseimbangan) sebuah maha karya Mpu Pande… Keris…

*

Pemberian Kenang-kenangan dari Yowana Paramartha karya (lagi-lagi) Mahendra Sila (paling kanan), sebuah karikartun Jejeneng Keris sekaligus pemilik Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka yang digambarkan berdampingan dengan Sira Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani

*

…akhirnya… SALUTE pada semua Semeton yang sudah membantu mewujudkan Dharmawacana ini…

Sampai jumpa di Kegiatan berikutnya…