Pracasti Pande (Bagian 03 – Bhagawan Pandya Empu Bhumi Sakti)

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BHAGAWAN PANDYA EMPU BHUMI CAKTI

Tiada dikisahkan tentang Hyang Brahma lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah memasuki umur dewasa, kesaktian yang dimilikinya sama dengan ayahnya, kuat melakukan tapa. Lambat laun tersiarlah diseluruh permukaan bumf tentang sakti mantranya Empu Brahmaraja, sehingga banyak orang berdatangan mohon nasehat-nasehat dan penyelesaian yadnya.

Pada masa itu tersebut Patih Madhu di Madura, atas ijin raja Majapahit yaitu Sri Hayam Wuruk, berkehendak akan membangun yadnya, misalnya pitra­-yadnya dan bhuta-yadnya. Kehendaknya ini lama tertekan karena sangat susah dan belum dapat mencari seorang pendeta yang sakti yang saktinya sama dengan Empu Logawe.

Pada suatu ketika Kryan Madhu mendengar berita bahwa digunung Hyang ada seorang Empu Sakti sedang melakukan tapa. Patih Madhu segera berangkat menuju gunung Hyang, dengan maksud mengundang Sang Empu datang ke Madura untuk menyelesaikan pitra-yadnya. Setibanya dipertapaan maka dijumpai Empu Brahmaraja sedang duduk dibalai-balai payasannya. Setelah Kryan Madhu masuk ke halaman asrama segera menyembah Sang Empu yang sedang duduk, lanjut menghadap.

Empu Brahmaraja telah mengetahui nama dan maksud seorang yang datang menghadap itu, segera berkata dengan lemah lembutnya.

“Wahai Kryan Madhu, bapa mengucapkan selamat datang kepada tuan hamba. Sangat senang hati bapa dengan kedatangan tuan hamba baru pertama ini. Apakah maksud yang terkandung hingga tuan hamba datang keasrama bapa ini, cobalah ceritakan dengan sesungguhnya kepada Bapa.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan sejujurnya. “Ya Maha Empu, untuk permulaan kata, ijinkanlah hamba melahirkan bisikan hati hamba serta merta.

Maha Empu, maklumilah perasaan bathin hamba seakan-akan menginjak alam Brahma loka tatkala hamba memasuki halaman asrama ini serta tatkala hamba mendengar sabda suci penyapa Maha Empu. Lapar dahaga hamba serentak musnah akibat hawa suci yang menyelubungi asrama ini.

Maksud utama kedatangan hamba menghadap Maha Empu, ialah dengan hormat mengundang Maha Empu, sudi kiranya datang ke tempat hamba di Madura untuk menyelesaikan pekerjaan hamba mitra yadnya. Hanya Maha Empu berkenan dihati hamba yang dapat akan menyelesaikan arwah kawitan hamba.”

“Duh, Rakryan patih,” jawab Empu Brahmaraja, “bapa akan berkenan meluluskan permintaan anakku datang ke Madura untuk menyelesaikan kawitan anakku, karena memang sepatutnya bapa sebagai seorang Brahmana memuja kawitan anakku.”

Tiada diuraikan tentang percakapan yang lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah berangkat ke Madura diiringi Patih Madhu. Setibanya maka Empu Brahmaraja diberi tempat penginapan dan pelayanan yang layak dipurinya Patih Madhu.

Tiada berapa lama selangnya, maka ramailah tamu-tamu undangan dari luar Madura hendak menyaksikan pekerjaan Patih Madhu dalam Pitra yadnya. Diantara tamu itu tampak datang para ksatria dari Blambangan, Pasuruan, Sumbawa, Sunda, Palembang dan seluruh pulau Jawa, demikian pula raja Bali yaitu Ida Dalem Ketut Ngulesir dengan gelar Dalem Smara Kapakisan sangat mashyur tampan rupa dan perawakannya seakan-akan Hyang Smara menjelma ke dunia. Semua tamu-tamu takjub melihat indah rupanya. Masing-masing tamu itu telah disediakan tempat penginapan dan santapannya menurut adat raja?raja.

Pada hari perayaan pitra yadnya telah tiba, maka sekalian upacara nyadan saji-saji telap disiapkan orang, misalnya susu, minyak, madu, dupa dan air suci telah siap dalam sangku, demikian pula caru (korban) telah diselenggarakan.

Setalah tiba waktunya Empu Brahmaraja naik dibalai pemujaan lengkap dengan pakaian kependetaan, yaitu memakai Bhawa (ketu), Ganitri, bresemajut Salimpet, seakan-akan Rsi Crengga yang sedang menyelesaikan yadnya Maharaja lksawakukula dalam cerita Kanda. Sekalian para tamu serempak melihat sang Empu memuja.

Setelah selesai memuja maka Empu Brahmaraja memanggil Patih Madhu, katanya “Hai Kryan Patih Madhu, bapa telah selesai memuja kawitan anakku dengan mantram Catur Weda. Kini cobalah buktikan betapa pekerjaan anakku, berhasil baik atau tidak.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan segera, “Ya Maha Empu, betapa cara hamba membuktikannya? Siapakah yang patut hamba tanya ?”

“Anakku Patih Madhu,” jawab Empu Brahmaraja “sekalian yang ada dihadapan bapa ini boleh ditanyai.”

Demikian didengar kata sang demikian Empu demikian maka Patih Madhu lalu berdiri, bertanya kepada layang-layang, katanya  “Hai kamu Layang-layang, apakah pekerjaanku ini berhasil baik?”

Seluruh Layang-layang, menjawab dengan serentak, “Ya Gusti dan sekalian Kawitan I Gusti mendapat tempat yang layak disorga.”

Selanjutnya batu ditanya oleh Patih Madhu, batu itupun menjawab demikian. Pohon kayu ditanyainya, pohon itu mengatakan kerjanya berhasil baik.

Patih Madhu sangat gembira hatinya mendengar kawitannya semua menemukan sorga. Para tamu sangat takjub menyaksikan kebesaran jiwa Empu Brahmaraja itu dan semuanya memuji kesaktiannya. Semenjak itu sang Empu digelari Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti, karena Sakti mantramnya.

Pracasti Pande (Bagian 02 – Kisah Brahma Pande)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

KISAH BRAHMA PANDE

Pada zaman purbakala (Asitkala), dimana alam mulai teratur kembali (Swastika) setelah melalui zaman kiamat (Sanghara kalpa) maka Tuhan sang pencipta alam ini (Hyang Parama Brahma) berkehendak akan menciptakan isi alam ini dengan jalan mengadakan dhat purusa dan pradana, yang terkenal diantara Panca Purusa bersama pradhanarja yaitu Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu dan Siwa.

Tidak diceritakan dengan panjang lebar tentang tugas dan perkembangan ciptaan Panca Purusa itu masing-masing untuk mengisi alam ini dengan tumbuh-tumbuhan dan semua mahluk  (Sthawara Janggama) demikian pula silsilah turunannya masing-masing, yang penting diceritakan disini adalah riwayat turunan Hyang Brahma yang berhubungan dengan kisah Brahma Pande.

Pada  zaman Daha, pada kerajaan Singasari di Jawa Timur tersebut ada lima orang bersaudara  yang Iangsung keturunan Bhatara Brahma merupakan pendeta (Brahmana) yang sangat setia kepada tapa. Yang sulung bernama Empu Agnijaya, adik-adiknya masing-masing bernama Empu Witadharma, Empu Kapakisan, Empu Bang Sidimaantra dan Empu Kulputih.  Empu Witadharma berputrakan Empu Wiradharma, yang kemudian berputrakan dua orang, Empu Ketek dan Empu Lalumbang berasrama di Tumapel yang bergelar Empu Gandring.

EMPU BRAHMARAJA

Diceritakan Bhatara Brahma tepekur dipuncak gunung cilasayana bermaksud akan mengembangkan turunan diseluruh permukaan bumi, diantaranya supaya ada yang bertugas membuat perhiasan pakaian para Bhatara dan manusia kelak. Pada suatu hari tatkala Bhatara Brahma sedang dalam tepekur melakukan Tapa mantera memuja Tuhan Maha Esa dengan jalan Brata, Yoga, Samadhi,  tiba-tiba keluarlah api dari paha kanannya dengan nyala yang berkobar-­kobar, seakan-akan Hyang Agni turun menjelma di dunia, lalu terjatuh di tengah telaga Nodja. Tetapi setelah nyala api itu padam, maka Inti hakekat api itu berubah menjadi zat air tirta yang seakan-akan air Gangga, Saraswati, Yamuna dan Narwada. Demikianlah perubahan api itu.

Air tirta itu lalu dipuja oleh Bhatara maka keluarlah seorang anak bayi dari dalamnya dengan wajah durja dan bentuk perawakannya laksana Hyang Sanatkumara menjelma ke dunia ini. Anak bayi itu muncul dari dalam pusaran air tirta sambil menangis, karena jiwanya merasakan bahwa lahirnva kedunia itu tidak melalui saluran biasa, yaitu tidak tidak mempunyai orang tua yang mengasuhnya semasa umur bayi.

Dengan tiba-tiba terlihat suatu api (teja) yang amat terang cahayanya diatas suatu kedudukan padmasana bagaikan manik melayang-layang. Jiwa anak itu berkata “Pekulun Tuhan yang menjiwai semesta alam ini dan yang berbadan sukma gaib, hambamu mohon belas kasihan Tuhan untuk memberi petunjuk­ siapakah sebenarnya kedua orang tua hamba sehingga lahir seperti ini ? ya Tuhan, tunjukkanlah hambamu yang lemah ini”

“Hai anakku” jawab Bhatara Brahma “aku ini adalah Prajapati (sebutan  Brahma yang berarti raja alam) yang menjadi bapamu”

Sementara itu jiwa anak bayi itu mulai dapat mengeluarkan kata-katanya melalui mulut badan jasmaninya, seraya menyembah katanya, “Sembahku terhadap paduka Sang Hyang Pitamaka (sebutan Brahma yangberarti bapa atau kawitan seluruh alam). Siapakah yang patut memberi anugerah pemellhara, sementara hamba berbadan bayi, yang terutama memberi didikan dan bimbingan tentang hakekat kebenaran hidup sebagai seorang manusia, sebab banyak penjelmaan atma yang menjadi berbagai golongan makhluk di dunia ini ?”

“Benar katamu wahai anakku” jawab Brahma. “Dari alam niskala bagi kamu anakku, pemelihara manusia biasa, tidak perlu bertapa lebih dahulu, aku akan menganugerahi engkau sebagian kesaktianku. Dengan demikian tidak perlu lagi pertolongan orang lain. Sejak saat ini aku beri nama engkau Empu Brahmaradja.”

Demikianlah sabda Hyang Brahma, maka anak bayi itu tampaknya kian besar dan kuat, dapat dengan sendirinya berenang pergi ketepi telaga, kemudian berkata pula, “Ya Tuhan, bagaimana hambamu akan melakukan karya tangan yang dapat mernberikan upah jiwa atau sandang pangan bagi hambamu, karena belum berpengalanian hidup sebagai manusia. Kewajiban apa yang patut hambamu kerjakan yang dapat merupakan sumbangan jasa kepada dunla.”

Jawab Bhatara Brahma, “Anakku, kamu Empu Brahmaradja, baiklah, kini aku memberikan kepadamu suatu pekerjaan yang patut menjadi kewajibanmu dan dapat pula kamu menyumbangkan jasa baikmu kepada dunia, tetapi harus didasari dengan, kejujuran dan hati yang tulus. Pekerjaan dan kewajibanmu aku namai, Dwi Labha, yaitu Angandring dan Amande Galuh.”

ANGANDRING DAN AMANDE GALUH

Yang dinamai Angandring ialah pekerjaan membuat segala senjata yang tajam. Yang disebut Amande Galuh adalah suatu kewajiban membuat sampingan yaitu segala pakaian dan perhiasan orang yang menjadi wiku (pendeta) dan kesatria Abhiseka Ratu.

Nasehatku yang penting bila engkau telah memulai pekerjaan itu didunia, janganlah lupa atau melepaskan ajaran Dharmakriya dari batinmu. Dharmakriya artinya segala pekerjaan dalam Dwi Labha itu, patut dikerjakan sampai selesai dan beres, berdasarkan hati setia, jujur dan tenang, semua itu disebut “Catur Dharmakriya”

Suatu contoh yang pernah terjadi, seorang anak dari Empu Pananda bernama Empu Lalumbang, ia bekerja Angandring, tetapi tidak berpegangan teguh kepada Catur Dharmakriya. la diminta membuat keris oleh Ken Arok, tidak diselesaikan keris itu pada hari yang telah dijanjikan, sehingga akhirnya ia ditikam dengan keris yang belum sempurna selesainya itu. Sebab itu engkau harus berpegang teguh pada Catur Dharmakriya itu. Demikianlah Dharma orang memegang pekerjaan Aji kepandaian. Itulah nasehat Hyang Brahma kepada Empu Brahmaradja.

Pracasti Pande (Bagian 01 – Pendahuluan)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Buku berikut secara kebetulan saya pinjam dari Jero Mangku Wija di Peraupan Peguyangan Denpasar Utara, saat dilaksanakannya Rapat Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, Sabtu 15 oktober 2011 beberapa waktu lalu. Buku ini merupakan hasil salin ulang I Gede Saptha Yasa di Malang, 19 Mei 2000 dari sebuah buku dalam ejaan yang belum disempurnakan, diterbitkan oleh Pustaka Balimas 1 April 1958 dan diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa.

Adapun sumber utama buku ini adalah Lontar berbahasa Kawi Bali, yang aslinya diterima dari Mengwi dan disalin pada tanggal 16 Juni 1952 oleh Wayan Mendra, Pegawai Gedung Kertya. Salinan Lontar dengan nomor Va 2404 ini dipinjam oleh I Gusti Bagus Sugriwa atas permintaan beberapa Warga Pande, dari Gedong Kirtya Singaraja.

PENDAHULUAN

Om Avighnam Astu Namo Sidham

Om Svastyastu

Dari beberapa warga Pande, dengan tulus hati meminta kepada I Gusti Bagus Sugriwa, agar berusaha menterjemahkan Pracasti Pande dari lontar (kitab pustaka) yang berbahasa Kawi Bali ke bahasa Bali umum atau bahasa Indonesia, supaya dapat merupakan suluh sekedarnya untuk menerangi gelap pandangan dalam garis besar riwayat leluhurnya, istimewa bagi generasi muda yang akan datang.

Permintaan yang timbul dengan hati tulus ikhlas ini sangat berkesan dihatinya, kemudian tumbuh dengan subur gairah hasrat untuk memenuhinya berdasarkan pengertian dan harapan, semoga karenanya dapat membangkitkan ingatan kenangan dan cinta bakti kepada leluhurnya dan dapat pula mempercontoh dharma susila kawitannya dalam ajaran agama yang layak dipergunakan sebagai suatu pegangan atau pedoman dalam pergolakan hidupnya sebagai manusia susila, sesuai dengan inti hakekat, ajaran agama Hindu di Bali, disamping bersembahyang kepada Hyang Widhi Waca berbakti kepada Bhatara-Bhatari (kawitan-kawitan). Bagi mereka yang lupa dengan kawitannya tidaklah mempunya pegangan yang kuat untuk berdiri diatas tumpuan masyarakat.

Kita sebagai masyarakat khususnya masyarakat Bali merasa sangat beruntung dengan keberadaan Gedong Kertya di Singaraja yang menyediakan berbagai jenis lontar, pustaka-pustaka. Dari Gedong Kertya inilah Pracasti Pande dipinjam oleh I Gusti Bagus Sugriwa dengan nomor Va 2404 dan diterjemahkannya. Lontar aslinya diterima dari Mengwi dan disalin pada tanggal 16 Juni 1952 oleh Wayan Mendra pegawai Gedong Kertya.

Mengingat Pracasti Pande yang diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa tanggal 1 April 1958 diterbitkan oleh Pustaka Balimas dalam ejaan yang belum disempurnakan, maka kami mencoba menyalin kembali tanpa menyimpang dari isi aslinya. Salinan Pracasti ini bukan dimaksud untuk diperbanyak dan diperjualbelikan. Kami menyalin kembali Pracasti Pande ini tujuannya guna mempermudah memahami isi dari Pracasti Pande. Kami berharap semoga salinan yang ejaannya telah kami sempurnakan ini bermanfaat bagi semuanya khususnya Warga Pande.

Om Santih, Santih, Santih Om

Malang, 19 Mei 2000

I Gede Saptha Yasa

(disalin ulang oleh PanDe Baik)

Dudonan Karya Atma Wedana (Nyekah) ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja

Category : tentang DiRi SenDiri

Berikut tiang sampaikan Dudonan Acara/Karya Atma Wedana (Nyekah) ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja, Tgl. 20 – 28 September 2011

  1. Rahina Anggara Umanis Uye, 20 September 2011 Galah 15.00 Wita Acara Nuasen Karya lan Melaspas Bale Peyadnyan, Genah ring Peyadnyan, kepuput Jro Mangku Wija
  2. Rahina Wraspati Pon Uye, 22 September 2011 Galah 07.30 Wita Acara Mendak Tirta ring Pura Kahyangan Tiga, Pura Kawitan lan Pura Sidekarya, 15.00 Wita Acara Ngulapin ring Segara, Genah ring Segara Matahari Terbit, kepuput Jro Mangku Wija
  3. Rahina Sukra Wage Uye, 23 September 2011 Galah 14.00 Wita Acara Ngangget Don Bingin, Genah ring Br. Sengguan Tonja, kepuput Pemangku Kahyangan Tiga lan Pemangku Kawitan, 16.00 Wita Acara Ngingsah Beras, Genah ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja, kepuput Sira Mpu Dharma Sunu, Tonja, Pemangku Kahyangan Tiga lan Pemangku Kawitan
  4. Rahina Redite Umanis Uye, 25 September 2011 Galah 07.30 Wita Acara Mendak Tirta ring Pura Kahyangan Tiga, Pura Kawitan lan Pura Sidekarya, Pura Uluwatu, Pura Batukaru, Pura Batur Kintamani lan Pura Besakih
  5. Rahina Soma Paing Menail, 26 September 2011 Galah 08.00 Wita Acara Ngajum Sekah, Genah ring Peyadnyan, kepuput Pemangku Kawitan
  6. Rahina Anggara Pon Menail, 27 September 2011 Galah 07.00 Wita Acara Mepandes, 10.00 Wita Acara Murwa Daksina lan Nyurud Ayu (sane Mepandes), 20.00 Wita Acara Mepralina, Genah ring Jaba Pura Kawitan Batur Pande Tonja, kepuput Sira Mpu Dharma Sunu, Tonja, Sira Mpu Sri Dharmapala Vajrapani, Tunggak Karangasem
  7. Rahina Buda Wage Menail, 28 September 2011 Galah 06.00 Wita Acara Nganyut, Ngangkid, Nyegara Gunung, Nebusin lan Sekaa Sekah mewali ke Jeroan Soang-soang, Genah ring Segara Matahari Terbit, kepuput Sira Mpu Dharma Sunu, Tonja, lan Jro Mangku Wija

Indahnya Berbagi, Baksos Yowana Paramartha Warga Pande

Category : tentang DiRi SenDiri

Ada rasa bangga yang terbersit di pikiran saya sejak pagi tadi melihat kami semua, 70-an generasi muda yang tergabung dalam pesemetonan Yowana Paramartha Warga Pande dan berasal dari berbagai Kabupaten, berkumpul kembali di Pura Penataran Pande Tamblingan, Rabu 31 Agustus 2011. Bukan, kegiatan kami kali ini bukan untuk Ngayah Bersama seperti yang dahulu pernah kami lakukan, namun untuk Berbagi pada Sesama.

Dalam waktu yang cukup singkat, sekitar dua minggu tepatnya, kami berhasil mewujudkan apa yang saat itu sempat terlintas dibenak. Keinginan untuk Berbagi yang begitu besar.

Mendaulat Semeton Yowana Paramartha Kabupaten Tabanan sebenarnya bukan tanpa rencana. Saya pribadi saat melontarkan ide untuk berbagi ini, sedari apa, bagaimana dan siapa yang akan memimpin berpendapat bahwa kekompakan yang selama ini ditunjukkan oleh Semeton dari daerah lumbung padi, sangat bagus dan makin erat sejak pembentukannya Juni 2011 lalu. Jika ini berhasil, barangkali bisa menjadi pelecut semangat bagi Semeton Yowana kabupaten/kota lainnya untuk bisa memimpin satu persatu kegiatan yang kelak harus mampu kami wujudkan.

Meski sedikit melenceng dari rencana semula yang sebenarnya kami sasar untuk panti Anak Asuhan, Bakti Sosial pertama ini pada akhirnya menyasar 54 KK (bertambah 11 KK dari yang direncanakan sebelumnya) yang tinggal di pinggiran danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng sesuai dengan hasil rapat kecil yang dilakukan hari Minggu, 21 Agustus lalu di Desa Abianbase Gianyar.

Ada tiga alasan mengapa kami kemudian mengalihkan rencana dari panti Anak Asuhan ke 43 KK di pinggir Danau Tamblingan. Pertama, karena dari lima Panti Anak Asuhan yang ada di wilayah Kabupaten Tabanan, berdasarkan survey lapangan yang dilakukan menyatakan bahwa masing-masing sudah memiliki orang tua asuh yang siap memberikan sumbangan secara berkala. Kedua, karena ke-54 KK yang dahulu tinggal di pinggiran Danau Tamblingan ini, memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal asalnya yang telah terendam akibat naiknya air danau Tamblingan sejak awal tahun 2011 dan kini masih berstatus menumpang, dan Ketiga, karena keberadaan Pura Penataran Pande Tamblingan yang selama ini telah banyak membantu dan membimbing kami sejak awal ide pembentukan Yowana, maka Sudah sewajarnya kami mengucapkan Terima Kasih kepada lingkungan sekitar Pura yang selama ini telah ikut menjaganya.

…dan atas asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan juga Ida Ratu Ngurah Pande, Kegiatan Baksos ini pada akhirnya mampu kami wujudkan dengan baik.

Tidak kurang kami mendapatkan sumbangan dalam bentuk uang tunai sejumlah Rp. 5.020.000,00 (lima juta dua puluh ribu rupiah) yang berasal dari Maha Semaya Warga Pande tingkat Kabupaten/Kota dan juga secara pribadi semeton Warga Pande, baik yang tinggal di Bali maupun luar Bali. Selain itu sesuai dengan apa yang kami informasikan beberapa waktu lalu, ada juga yang menyumbangkannya dalam bentuk Sembako Beras, Mie Instant dan Minyak Goreng. Semua sumbangan tersebut kemudian kami bagi sesuai dengan yang kami rencanakan sebelumnya.

Ternyata dari apa yang telah kami terima, bagikan dan sumbangkan kepada ke-54 KK tersebut, menambah antusiasme salah satu semeton Generasi Muda untuk menyumbangkan sejumlah buku dan alat tulis kepada anak-anak yang tinggal disana. Maka bisa ditebak, jejeran anak usia sekolahpun tampak bersemangat  menerima hadiah kecil mereka. Terima Kasih ya untuk Dek Dian Febriana.

Disamping itu, ada juga beberapa Semeton yang kemudian menambahkan sumbangan dalam bentuk tunai di lokasi kegiatan. Sehingga dari sejumlah dana yang kami terima dikurangi sembako, sedikit konsumsi dan banten, dana yang tersisa ada sejumlah Rp. 1.285.000,00 (satu juta dua ratus delapan puluh lima ribu rupiah).  Sesuai dengan hasil rapat akhir kami dengan meminjam tempat semeton Yunix Natalia di kawasan Pacung, adapun sisa dana tersebut kami gabungkan kembali dengan dana kas yang kami miliki sebelumnya.

Kelak, untuk beberapa kegiatan kedepan yang tadi sudah sempat terlontar ide-idenya, sisa dana tersebutlah yang akan kami sisihkan sedikit untuk digunakan sebagai dana awal. Semoga Kebaikan akan datang pada kita semua.

Pada akhirnya, kami selaku Yowana Paramartha Warga Pande secara keseluruhan, mengucapkan Terima Kasih untuk semua Semeton Warga Pande yang telah berkenan hadir membantu dan yang telah berpartisipasi membagi sedikit Rejekinya untuk hari ini, khususnya antusiasme Semeton Yowana Kabupaten Tabanan yang telah mampu menunjukkan integritas dan semangatnya kepada kami hari ini.

Salut untuk Semeton Semua…

Ayo ikut Bakti Sosial Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande

Category : tentang InSPiRasi

Om Suastyastu,

Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande, bermaksud akan mengadakan KEGIATAN BAKTI SOSIAL,  Untuk mengisi hari libur selama Hari Raya Idul Fitri nanti dengan satu kegiatan yang positif. Adapun lokasi Kegiatan yang akan kami laksanakan, menyasar Kampung kecil di pinggir DANAU TAMBLINGAN (jalan masuk menuju Pura Penataran Pande Tamblingan), tepatnya diperuntukkan bagi 43 KK (terdata) yang tempat tinggalnya (hingga kini) masih terendam akibat meluapnya Air Danau Tamblingan beberapa bulan terakhir.

Yang mendapat kehormatan sebagai Panitia Inti dari kegiatan BAKSOS kali ini adalah Semeton Yowana Paramartha Kabupaten Tabanan yang dibentuk Juni 2011 lalu, dengan Ketua Panitia saudara DWIPA PENDIT.

Terpantau Panitia bersama Taruna Siaga Bencana dari Dinas Sosial sudah melakukan SURVEY lapangan turun langsung ke Kampung kecil di pinggir DANAU TAMBLINGAN ( Jalan menuju Pura Penataran Pande  Tamblingan) dan bertemu dengan Kelihan Dinas setempat Bapak Nyoman Surika. Beliau mengatakan bahwa 43 KK yang telah terdata sebagai keluarga yang tertimpa bencana meluapnya air danau tersebut terbagi atas dua kelompok, Bendega dan Nelayan. Adapun status tempat tinggal yang mereka tempati hinggi kini adalah masih menumpang.

Sesuai dengan hasil pertemuan semeton Pande di KOPDAR Gianyar pada hari Minggu tanggal 21 Agustus 2011 kemarin, bertempat di Rumah Semeton Pande Putra Pratama Kaskus – Abianbase, Gianyar, telah di sepakati beberapa hal mengenai Rencana Kegiatan BAKSOS, antara lain :

Kegiatan sedianya akan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 31 Agustus 2011, libur kedua Hari Raya Idul Fitri.

Kami akan memberikan bantuan atau sumbangan berupa paket SEMBAKO yang isinya kurang lebih berupa BERAS, GULA, MINYAK GORENG dan MIE INSTANT dan jika memang masih ada dana yang tersisa, akan kami berikan juga uang tunai sebesar (minimal) Rp. 50,000 per KK.

Untuk Posko BAKSOS seperti yang telah kami informasikan melalui akun Twitter @wargapande, untuk daerah Denpasar dan sekitarnya akan kami tempatkan di MYMART, lokasi Jalan Mahendradatta Selatan (dekat SPBU pertigaan Jalan Gunung Soputan) dan untuk daerah Tabanan dan sekitarnya, kami tempatkan di RUMAH semeton GEKTU CIPLUK (silahkan mention yang bersangkutan di akun Twitter @gektuciplukz, Jalan Diponegoro No. 56 – Tabanan ( UD Sabdajati ).

Untuk mensukseskan BAKSOS ini, kami sangat mengharapkan sumbangsih para semeton untuk ikut berpatisipasi dalam kegiatan, baik itu sumbangan dalam bentuk SEMBAKO seperti BERAS, GULA MINYAK GORENG dan MIE INSTAN atau dalam bentuk UANG TUNAI.

Sumbangan dapat langsung diantarkan ke kedua Posko yang telah kami sediakan diatas atau bagi Semeton yang tidak bisa datang ke Posko karena berada diluar wilayah Denpasar dan Tabanan atau bahkan Luar daerah, bisa melakukan transfer sumbangan uang melalui rekening dibawah ini :

NO. REK : 1536-01-000065-50-1

Atas Nama : I PANDE PUTU YADNYA

Bank : BRI ( Bank Rakyat Indonesia )

Besar harapan kami selaku Panitia atas Dukungan dan Partisipasi Semua Semeton Warga Pande untuk ikut mensukseskan Kegiatan Baksos ini. Apabila ada pertanyaan ataupun masukan lain, silahkan meninggalkan pesan dalam Halaman Event di jejaring Sosial Facebook atau menghubungi Contact Person, Yande Putrawan (081237533999), Putu Yadnya aka Pande Bali (0817556999), Pande N.ArtaWibawa aka Pande Baik (087860061698), Dego Pande Suryantara (0361 8604062) atau Putu Adi Susanta (0361 8585908).

Matur Suksme,

OM Canti Canti Canti OM.

Memperkenalkan Warga Pande di dunia maya

8

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan, tentang InSPiRasi

Seperti cerita Gigi dalam salah satu karyanya, semua yang kami alami setahun terakhir benar-benar berawal dari FaceBook. Namun pertemuan yang kami alami setahun lalu, membawa banyak cerita baru dalam setiap langkah yang kemudian kami ciptakan. Rasa persaudaraan itupun muncul ke permukaan. Membelah semua perbedaan yang ada di masing-masing kepala.

Saya masih ingat, Group Warga Pande Bali awal tahun 2010 lalu, malah sempat saya tinggalkan lantaran tak banyak informasi tentang keberadaan Warga Pande yang saya dapat. Putu Yadnya aka Pande Bali yang saat itu menjadi Admin (sekaligus pembuat halaman Group) pun jarang terlihat aktif berbagi informasi. Maka jadilah saya menurunkan satu tulisan yang bisa dikatakan ‘membakar perasaan setiap semeton Warga Pande yang membacanya di blog pribadi yang saya kelola.

Kadang Saya Malu Mengaku Nak Pande

Siapa sangka, tulisan inilah yang kemudian mempertemukan saya dengan Semeton Pande lainnya termasuk dengan admin Group Warga Pande Bali, Meski kami baru benar-benar bersua secara langsung saat pertemuan kedua di satu tempat makan seputaran jalan Drupadi.

Dari sinilah saya kemudian mengenal orang-orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik di bidang yang ia pahami dan kuasai. Putu Yadnya aka Pande Bali, Yande Putrawan yang kini didapuk sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kota Denpasar, Dego Pande Suryantara pula sebagai Ketua Yowana Warga Pande Kabupaten Tabanan, bli Ande Tamanbali yang keberadaannya kini sudah mulai menyepi dari dunia maya dan Putu Adi Susanta seorang Radiografer Rumah Sakit Sanglah yang telah saya kenal sebelumnya di komunitas Bali Blogger Community.

Berangkat dari minimnya informasi yang bisa didapatkan baik secara tercetak dalam sebuah buku maupun dunia maya tentang keberadaan Warga Pande, kami pada akhirnya mulai mengumpulkan semeton lain satu persatu dan menggalang kekuatan untuk mengadakan satu dua kegiatan sosial yang sekiranya bisa memberikan arti positif pada kami semua. Maka jadilah kegiatan Dharmawecana itu digulirkan setahun lalu.

Tak hanya itu, kamipun berusaha untuk ikut serta dalam setiap kegiatan Ngayah yang dilakukan di Pura Penataran Pande Tamblingan dan syukur, masih bisa kami lanjutkan hingga kini. Termasuk kegiatan Penanaman Pohon dilingkungan Pura.

Pelan-pelan semua kegiatan itu kami dokumentasikan dan simpan dalam berbagai media yang telah ada. Baik blog pribadi maupun Group dan akun jejaring sosial FaceBook.  Sayangnya, informasi yang telah disimpan ini masih bersifat terbatas untuk dapat diakses oleh Warga Pande secara umum di dunia maya. Untuk itu, kami pun berkeinginan untuk membuat satu media komunikasi serta dokumentasi satu sama lain, sebagai ajang diskusi dan berbagi informasi di dunia maya tanpa harus dipaksa memiliki akun salah satu jejaring sosial. Maka diluncurkanlah alamat wargapande.org.

Dengan mengandalkan WordPress sebagai mesin utamanya, maka bisa dikatakan secara tampilan jadi tak jauh beda dengan blog pribadi yang saya kelola  www.pandebaik.com,  hanya saja wargapande.org jadi sedikit lebih garang lantaran halamannya yang didominasi warna Hitam dan Merah.

Web ini kemudian diperkenalkan secara resmi kepada Publik saat Loka Sabha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang dilaksanakan di Banjar Pande Desa Renon, 25 Juni 2011 lalu, bertepatan dengan Pelantikan Yowana Warga Pande Kota Denpasar Periode 2011-2016.

Harus kami akui bahwa segmen utama yang di sasar di dunia maya adalah Yowana atau Generasi Mudanya. Karena melalui Generasi inilah yang akan diharapkan dapat tetap eksis dan selalu aktif berbagi informasi tentang Dharma Kepandean kepada semeton Yowana atau generasi muda lainnya yang memang sudah tampak aktif berinteraksi di dunia maya, termasuk FaceBook salah satunya.

Masih jua merasa belum cukup dengan akun Group FaceBook Warga Pande Bali dan web wargapande.org, rupanya Putu Adi Susanta, tweeps teraktif yang pernah saya kenal sekaligus blogger kondang yang mengelola radiografer.net, sudah membuat akun Twitter @wargapande sedari pertengahan tahun lalu. Kalau tidak salah sejak kami, para Yowana Warga Pande, mulai ramai mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan positif.

Terpantau Tweet terakhir yang diluncurkan oleh Pak Putu Tarno (sapaan akrab kami pada Master Putu Adi lantaran yang bersangkutan jago sulap) sekitar bulan Agustus 2010. Tepatnya ketika Uwe Sutedja Neka, Jejeneng Keris yang mengelola Museum Neka Ubud, mulai menyajikan aksi yang memukau, mendirikan keris diatas gagangnya saat DharmaWecana berlangsung. Maka jadilah akun Twitter @wargapande ini menjadi yang ketiga kami perkenalkan dan coba kelola.

Memang akan ada banyak hambatan dan tantangan yang kami yakin bakalan ditemui sepanjang perjalanan nanti sembari mengelola tiga akun Warga Pande disela kesibukan kerja masing-masing. Namun harapannya cukup sederhana kok. Minimal apa yang sudah kami lakukan, bisa menginspirasi Semeton Warga Pande lainnya terutama yang datang dari usia Generasi Muda untuk ikut serta berbagi informasi terkait Dharma Kepandean, agar kelak Generasi kami berikutnya tidak akan merasakan ‘Malu untuk mengaku Nak Pande.

Link to :

Susunan Pengurus Yowana Paramartha Warga Pande Kota Denpasar 2011 – 2016

Category : tentang DiRi SenDiri

Om Swastyastu. Sekali lagi www.pandebaik.com mengucapkan Selamat dan Sukses untuk para Yowana atau Generasi Muda Pande yang telah dilantik sebagai Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2011 – 2016 pada Loka Sabha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, hari sabtu 25 Juni 2011 lalu.

Berikut disampaikan Susunan Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2011 – 2016 seperti yang disampaikan oleh Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar periode 2006 – 2010, I Wayan Pudja, SH., MSi melalui Surat Keputusan nomor 02/MSWPK/VI/2011 tanggal 25 Juni 2011.

Penasehat : Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar

Ketua : I Wayan Putrawan, SH

Wakil Ketua : Pande Agus Hardy Sarjana

Sekretaris : Pande Nyoman ArtaWibawa, ST., MT

Bendahara : Made Yulitasari

Wakil Bendahara : Kadek Alit Rusmini

 

Seksi Kewidanaan (Organisasi)

Ketua : Gede Purnamadi

Sekretaris : Ni Kadek Suryadewi

Anggota :

1. I Ketut Sukanta

2. Ni Luh Putu Apriandari

3. I Putu Pande Alit Pandika

 

Seksi Diklat & Pengembangan Sumber Daya Manusia

Ketua : Gede Putra Mahendra

Sekretaris : Pande Made Desy Dwisukmasurya

Anggota :

1. I Wayan Gita Tulistyaputra

2. Dian Febriana

3. Pande Agus Darmasastra

4. Made Maha Kharisma, PDT

 

Seksi Sosial Budaya

Ketua : Pande Karsana

Sekretaris : Kadek Putri Wahyu Setiti

Anggota :

1. Pande Made Dwi Ariadi

2. Pande Putu Wisnu Murti

3. Pande Made Surya Candra

 

Seksi Sosial Ekonomi

Ketua : I Kadek Suwerta, SE

Sekretaris : I Nyoman Lodra, SE

Anggota :

1. I Ketut Mustika Adi

2. I Made Arcaya

3. I Kadek Artana

 

Seksi Hubungan Masyarakat

Ketua : I Made Oka Budiarsa

Sekretaris : Luh Putu Siska Puspayani

Anggota :

1. Pande Gede Mahendra Sila

2. Pande Komang Agus Dharmaputra

3. Pande Putu Gede Putra Partama

4. Pande Putu Junanta

 

MAHA SEMAYA WARGA PANDE

KOTA DENPASAR

KETUA :

 

(I WAYAN PUDJA, SH., MSI)