Pengukuhan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang PeKerJaan

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 wita saat kami mulai membagikan kopi beserta snack jajan bali kepada semua semeton warga Pande lan undangan, sementara calon Ketua Yayasan terpilih Bapak I Wayan Pande Sudirtha, SH belum jua tampak di jaba tengah Pura Dalem Majapahit Geriya Tatasan Kelod ini. Padahal sesuai surat edaran yang disampaikan, kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus ‘Eka Dharma Semaya’ bentukan organisasi Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar seharusnya telah dimulai lima belas menit yang lalu. Bersyukur pada akhirnya Beliau hadir beberapa menit setelah acara didaulat oleh Chandra Lestari, yowana putri saking Munggu yang bertindak sebagai master ceremony kali ini.

Sesi pertama kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus ini dibuka dengan laporan dari Sekretaris organisasi Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar yang mengisahkan tentang Sejarah tercetusnya ide hingga pembentukan Yayasan yang dilakoni oleh segenap Pengurus hingga tanggal 11 Desember 2011 lalu di rumah Bapak Wayan Sukana.

Sesi kedua sekaligus inti kegiatan, dilakukan persembahyangan bersama seluruh semeton Pemaksan pura Pande Dalem Majapahit, Penglingsir lan Pengurus Maha Semaya beserta perwakilan Yowana Paramartha, berlanjut upacara Mejaya-Jaya yang dikukuhkan oleh Sri Empu saking Geriya Tatasan Kelod.

Usai upacara Mejaya-jaya, sesi ketiga diisi dengan atur piuning saking Ketua Umum Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ I Wayan Pande Sudirtha, SH yang menyatakan bahwa belum direncanakannya program kegiatan Yayasan selama satu tahun kedepan secara resmi, namun beberapa ide untuk menerjemahkan lontar atau membuat salinan buku-buku yang berkaitan dengan Dharma Kepandean sudah dikumpulkan secara kolektif. Tentu untuk mewujudkan hal ini tetap dibutuhkan dukungan penuh dari seluruh penglingsir dan semeton Warga pande dimanapun berada.

Memasuki sesi keempat, Sambutan dari Ketua Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar, I Wayan Pudja, SH., Msi yang sempat berbagi cerita perihal ide awal, rencana dan cita-cita Beliau terkait pembentukan yayasan ini dalam konteks sosial keagamaan maupun manfaatnya kelak bagi semua semeton Warga Pande.

Sesi kelima dilanjutkan dengan Sambutan dari Ketua Maha Semaya Warga Pande Provinsi Bali, Kompyang Wisastera Pande yang mengharapkan terbentuknya Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ ini dapat memberikan kontribusi besar bagi Warga Pande umumnya atau minimal bagi organisasi induk yang kelak dapat mendukung program kegiatan adat keagamaan.

Usai pemberian tiga Sambutan dari masing-masing Ketua organisasi, sesi keenam didaulat untuk Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Sutedja Neka yang memaparkan perihal pemahaman umum Keris dan filosofinya, serta menganugerahkan sebilah Keris Naga beserta warangka-nya bagi Ketua Umum Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ sebagai lambang Kepemimpinan.

Pada akhirnya, pukul 20.00 wita kegiatan Peresmian dan Pengukuhan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ ditutup dengan ramah tamah dan diskusi antar semeton dan Yowana Warga Pande.

Susunan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’

Category : tentang PeKerJaan

Berikut disampaikan Susunan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ yang dibentuk pada Rapat Pengurus Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar tanggal 11 Desember 2011 di rumah Bapak Wayan Sukana.

Pembina Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ :

1. I Wayan Pudja, SH., Msi
2. Ketut Suwandi, S.Sos
3. Ir. Made Sudiarsa, SE
4. Pande Ketut Arka
5. Jero Mangku Widja

Pengawas Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ :

1. Drs. Wayan Sukana, Msi
2. Nyoman Djiwa Pande, S.Sos
3. Putu Adi Setiawan
4. Drs. Wayan Sudjana
5. Drs. Gede Darmaja, Msi

Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ :

Ketua Umum : I Wayan Pande Sudirtha, SH
Ketua : Drh. Komang Suarsana
Sekretaris Umum : Pande Nyoman Artawibawa, ST., MT
Sekretaris : Wayan Putrawan, SH
Bendahara Umum : I Wayan Budiana, Spd
Bendahara : I Ketut Suweta, ST

Untuk Sekretariat Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ akan bertempat sementara waktu di rumah Sekretaris Umum, Pande Nyoman Artawibawa, ST., MT aka PanDe Baik, Jalan Nangka No. 31 Denpasar 80231

Bagi Semeton yang membutuhkan Dokumen Susunan Pengurus Yayasan ‘Eka Dharma Semaya’ Maha Semaya Warga Pande Kota Denpasar ini, dapat diunduh langsung dari alamat berikut di 4Shared.

Rekaman Lensa Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande

1

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Berikut beberapa rekaman Lensa saat Dharmawecana yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande, hari Minggu 15 Januari 2012 di GOR Permata Desa Ubung, bekerja sama dengan seluruh Keluarga Besar Warga Pande Desa Ubung.

Support penuh dari Keluarga Besar Warga Pande Desa Ubung sejak H-1 minggu…

Suasana persiapan Lokasi, tepatnya di Lobby GOR Permata, H-1

Koordinasi persiapan Dharmawecana tetap dilaksanakan oleh para Admin Group Warga Pande Bali untuk memantapkan jalannya kegiatan. Thanks to Bli Ande TamanBali yang sudah banyak menginspirasi kami.

Suasana keakraban pagi para Penglingsir Maha Semaya Warga Pande, sesaat sebelum kegiatan Dharmawecana dimulai…

Kegiatan Dharmawecana dimulai pada pukul 09.30 pagi. btw, Chandra Lestari, Teruni Pande yang didaulat sebagai MC kali ini rupanya mendapat banyak perhatian lebih dari dua Fotografer kegiatan, hingga bisa dikatakan selama Kegiatan berlangsung banyak gambar yang diambil dan menghiasi album foto kami… :p

I Made Dego Suryantara, Ketua Panitia Dharmawecana tampak memberikan Ucapan Terima Kasih bagi seluruh Semeton yang sudah berkenan hadir dalam kegiatan Dharmawecana kali ini, pula untuk para Donatur dan tentu saja Panitia Dharmawecana yang sudah meluangkan waktunya untuk Ngayah sedari akhir tahun 2011 lalu.

Hall indoor GOR Permata yang tampak lowong saking besarnya ruangan, sementara jumlah Peserta yang berkenan hadir sangat jauh dari harapan kami. Faktor Akustik ruangan ternyata berpengaruh pula pada jalannya Dharmawecana. Satu masukan untuk panitia kelak, dalam memilih lokasi Dharmawecana yang representatif.

Bagian Konsumsi yang dibantu oleh Teruni Pande dari Desa Ubung, dengan setia membagikan Snak jajanan bali pula Nasi bungkus saat rehat Istirahat Siang. Terima Kasih ya dik…

Menyempatkan diri untuk berfoto bersama para Pembicara Dharmawecana dan tentu saja Admin Group Warga Pande Bali sekaligus Panitia Inti dalam Dharmawecana kali ini.

Ini dia Tuan Rumah Dharmawecana Warga Pande kali ini. Terima Kasih banyak untuk dukungan dan semangatnya ya, jangan pernah letih untuk membantu dan membimbing kami…

…dan inilah Panitia Dahrmawecana kedua yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande, gabungan dari semua Kabupaten/Kota. Semoga apa yang kita impikan bersama dapat pula terwujud di masa yang akan datang. Tegakkan kepala kalian semua…

Bagi yang ingin melihat Rekaman Lensa lebih jauh terkait kegiatan kami, silahkan main ke akun Group FaceBook kami, Warga Pande Bali atau langsung ke album Dharmawecana Pretisentana Pande disini.

Sedang bagi yang belum menyaksikan tayangan media BaliTV yang kami undang untuk meliput Dahrmawecana, silahkan mampir dihalaman YouTube link berikut ini.

Sampai jumpa di Kegiatan berikutnya, tetap Semangat !!!

Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 2)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

Memasuki sesi kedua Dharmawecana dilanjutkan dengan pemaparan dari Bapak Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma yang banyak menuturkan piteket-piteket pemahaman serta penerapan Bhisama di era Teknologi Informasi ini. Demikian halnya dengan Ibu Renawati, salah seorang Pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang baru saja usai menyelesaikan studi S3 Kajian Budayanya memberikan tips-tips Pergaulan bagi para Yowana Pande baik untuk mewujudkan rasa Bhakti kepada Orang tua, saudara, teman dan juga orang lain.

Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan pasca semua pemaparan materi, setidaknya ada delapan pertanyaan yang penting untuk diketahui bersama, datang dari empat peserta Dharmawecana yang berkenan hadir hingga akhir acara.

Apa arti dari kata Pande ? atau mengapa orang lain menyebut kita sebagai Warga Pande ? Apakah Pande bisa digolongkan sebagai Brahmana ?

Penyebutan atau arti kata Pande, kurang lebih bermakna sebagai Pengakuan akan Profesi atau Keahlian terhadap seorang anak manusia dalam usahanya untuk mengolah logam baik Logam Besi, Logam Mulia atau Tembaga. Pengakuan ini kemudian dilakukan turun temurun terhadap semua keturunannya meski kelak mereka tidak lagi melakukan Profesi tersebut lantaran tuntutan jaman. Pande bisa pula disebut sebagai brahmana, ketika yang bersangkutan berperilaku sebagai seorang empu yang mampu membuat keris. Karena disamping menjadi seorang seniman, Pande dalam situasi demikian bisa juga berlaku sebagai seorang rohaniawan.

Dalam berperilaku, Warga Pande memiliki enam Bhisama yang kemudian menjadi panduan untuk melangkah kedepan secara sadar ataupun tidak. Lalu apakah Bhisama ini bisa berubah seperti halnya Fatwa dalam Agama lain ? dan apa yang akan terjadi ketika Bhisama itu dilanggar ?

Pada dasarnya ketika dahulu Bhisama dibuat dan ditetapkan oleh para leluhur, ada beberapa kepentingan yang sifatnya emergency dengan memanfaatkan Spirit memberikan jalan kepada Warganya untuk berbuat dan berperilaku yang terbaik dalam skala kualitas pada jamannya kelak. Hal ini kemudian selaras dengan beberapa aturan ataupun hukum yang berlaku sehingga bisa dikatakan Bhisama tetap harus dipatuhi dan dilakukan. Hanya saja memang dalam beberapa hal diperlukan penyesuaian-penyesuaian yang tidak dapat dipaksakan begitu saja. Ketika Bhisama ini dilanggar, secara kasat mata tentu saja tidak akan terjadi satu hal lain yang barangkali terkesan menghancurkan kehidupan seperti halnya yang diyakini oleh agama lain, terjadi begitu cepat dan nyata. Namun satu hal yang patut dicermati bahwa ketika Bhisama ini dilanggar, bisa jadi kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan yang bersangkutan didunia nyata merupakan orang yang tidak baik. Bhisama yang ada dalam skala kecil saja dilanggar apalagi Hukum dan aturan yang ada ?

Lantas bagaimana dengan larangan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak mencari pasangan diluar soroh Pande ?

Sebenarnya ini bukanlah sebuah larangan, namun anjuran. Karena bagaimanapun juga seperti kata orang-orang tua kita, jodoh tetaplah ada di tangan Tuhan. Sehingga apapun usaha yang dilakukan untuk pencarian dan pencapaian sebuah perjalanan cinta tetap tak lepas dari Kuasa-Nya. Dikatakan sebagai anjuran, ya wajar saja mengingat orang tua mana sih yang ingin berpisah jauh dengan anaknya ? lagipula ketika misalkan seorang Teruni Pande kemudian menikah dengan Teruna yang berasal dari luar Pande dan dikhawatirkan mengakibatkan ‘kepanesan’ bagi keluarga laki-laki, semua itu masih bisa diminimalisir dengan menambahkan satu sarana banten khusus untuk menghilangkan ‘panas’nya darah Pande di dalam raga si Teruni. Hal ini terdapat dalam lontar SunariBungkah yang kemudian diharapkan bisa diterjemahkan dan disebarluaskan kepada semua Semeton sebagai satu pencerahan.

Disamping itu, jika seorang Teruni Pande mencari Sentana laki-laki yang berasal dari soroh diluar Pande, apakah yang bersangkutan bisa dikatakan sebagai Pande ?

Selama yang bersangkutan memuja Leluhur Pande serta melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kePandean, maka yang bersangkutan sudah pasti menjadi seorang Warga Pande. Namun apabila yang bersangkutan tidak ikut melaksanakannya, status yang bersangkutan hanya bisa dikatakan dinaungi oleh keluarga Pande.

Profesi Pande seperti yang telah diketahui bersama, tidak hanya ada di Bali dan tidak saja di agama Hindu. Di era kekinian, beberapa diantara mereka malah memanfaatkan status Pande sebagai profesi yang dianggap mampu menghasilkan uang dengan cara memproduksi dan mengolah logam secara massal. Apakah kemudian produksi yang mereka hasilkan (biasanya dalam bentuk kerajinan) bisa disejajarkan dengan produk seorang empu Pande ? bagaimana dengan penggunaan serta pemanfaatan kemajuan Teknologi dalam pelaksanaannya ?

Tidak ada yang menyalahkan pemanfaatan Teknologi demi kemudahan aktifitas Manusia, karena Teknologi memang diciptakan untuk itu. Pemanfataan modernisasi dalam laku seorang Pande beraktifitas secara Kreatif sangatlah dianjurkan apalagi jika memang ditujukan kepada kecepatan produksi demi menyikapi kemajuan dan tuntutan jaman. Namun disarankan agar jangan sampai dalam laku tersebut kemudian melupakan tata cara baku yang ada dalam Dharma Kepandean atau ajaran Panca Bayu yang notabene hanya mampu dilakukan oleh seorang Pande. Tujuan akhirnya tentu tidak hanya mengejar skala kuantitas namun diharapkan pula tetap mengutamakan kualitas.

Berkaitan dengan laku seorang Pande, apakah kemudian keberadaan Prapen dianggap perlu dibangun dalam pekarangan seorang Warga Pande ?

Jawabannya Jelas. Sangat perlu dan Mutlak hukumnya. Karena disamping berfungsi sebagai infrastruktur laku kewajiban Memande bagi seorang Pande, Prapen pula merupakan stana Ida betara Brahma Pasupati, tempat untuk melebur semua hal-hal buruk yang mengikuti kita sedari beraktifitas diluar rumah, agar tak merusak tatanan kehidupan dilingkungan rumah. Namun bagaimana seandainya secara luasan lahan tidak mencukupi untuk membangun sebuah Prapen ? tentu saja itu harus disesuaikan dengan kapasitas yang ada. Tidak harus luas dan megah seperti Prapen yang dimiliki Semeton lain. Minimal ada unsur-unsur penting yang menyertainya seperti Pelinggih, Prapen/Tungku dan pemalungan. Selain itu ada juga beberapa peralatan seperti Palu, sepit dan Culik Api yang biasanya menjadi simbol dari aktifitas laku Memande seorang Warga Pande.

Diluar pemahaman Bhisama ada juga pertanyaan yang dilontarkan terkait aturan Leteh atau Sebel yang sepatutnya dilaksanakan seorang Warga Pande usai melakukan prosesi Pengabenan misalnya. secara aturan yang ada di kalangan Warga Pande, sebel atau cuntaka hanya berlaku satu hari saja pasca prosesi pecaruan dilakukan. Namun tidak demikian halnya dengan Sebel atau Cuntaka yang diberlakukan di desa adat yang biasanya mencapai tiga hari. Mana yang harus dipatuhi ?

Dalam aturan Sebel atau Cuntaka ada batasan waktu yang dapat diberlakukan sesuai kondisi, situasi serta Dresta yang ada di lingkungan Desa sekitarnya. 1, 3, 5, 7, 9, 11 dan 21 hari. Mengambil yang manapun boleh-boleh saja. Namun agar jangan sampai menimbulkan bentrok atau ketidakcocokan pemahaman dengan lingkungan sekitar, disarankan mengambil waktu Sebel atau Cuntaka sesuai aturan atau Dresta yang diberlakukan setempat.

Terakhir, berkaitan dengan pelaksanaan Dharmawecana yang kemudian sangat diapresiasi sebagai ide yang luar biasa bagi para penglingsir, diharapkan mampu dilaksanakan dan dijadikan sebagai agenda tahunan oleh para Yowana ataupun Maha Semaya sebagai induk organisasi. Yang dalam pelaksanaan nantinya dapat dilakukan secara bergilir di tiap-tiap kabupaten seluruh Bali dengan memanfaatkan Wantilan yang berada di Pura-Pura yang berkaitan dengan Pande. Tak lupa disertakan pula referensi-referensi yang digunakan dalam pemaparan materi, direkap dan simpulkan sehingga dapat dibaca dan dicermati oleh setiap peserta baik saat Dharmawecana berlangsung ataupun hingga pulang kerumah nantinya.

Menyimak Cerita tentang Dharmawecana Yowana Paramartha Warga Pande (bagian 1)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

“Bahwasanya semua Bhisama Warga Pande tetap harus dilaksanakan, karena itu adalah merupakan sebuah Panduan untuk menjadikan kita yang terbaik bagi Keluarga dan juga lingkungan”

Pagi yang cerah kurasa…

Kegiatan Dharmawecana kedua kali ini digelar di GOR Permata Desa Ubung, alternatif keempat dari yang pernah kami diskusikan sebulan lalu. Entah mengapa kami sepakat untuk memilihnya. Dan waktu itupun sudah ditetapkan. Minggu, 15 Januari 2012.

Satu persatu kendaraan roda dua dan empat berdatangan memasuki parkiran GOR Permata. Wajah-wajah letih yang tampak sudah merasa tak sabar lagi untuk memulainya. Kami lewati malam tadi hingga pukul 01.30 dinihari, itupun masih kulanjutkan dengan menulis sedikit harapan yang barangkali kemudian aku sesali.

Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani tampak hadir tepat pukul 8.00 pagi, dari Geriya Tunggak Karangasem diantar semeton Komink, seorang Yowana Pande dari Tabanan yang secara khusus menginap di Candidasa agar ia dapat menjemput Beliau lebih pagi. Kedatangan ini tentu saja membuat kami sedikit panik lantaran nyaris belum ada persiapan apapun untuk penyambutan yang bisa dilakukan. Akhirnya kami mendaulat Bapak yang memang sengaja kuajak datang lebih awal, untuk menemani Beliau bercengkrama sembari menanti waktu.

Pukul 9.00 pagi, parkiran dan lobby depan GOR Permata sudah tampak mulai ramai. Meski belum sesuai harapan kami, kehadiran semeton yang telah rela meluangkan waktunya untuk datang, begitu menggembirakan hati hingga tak segan kami saling menyapa. Proses Registrasi Peserta dan juga pembagian snack tampak berjalan dengan baik, tak sekrodit yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sudah Lewat setengah jam dari jadwal yang kami susun. Namun jumlah Peserta memang jauh dari bayangan kami hingga sempat membuat hati ini berdesir kecewa. Rupanya apa yang kami lakukan belum mampu menggugah Semeton Pande yang lain untuk datang dan berbagi. But, the Show Must Go On kata Freddy Mercury dalam album terakhirnya.

Diawali dengan laporan Ketua Panitia Dharmawecana, I Made Dego Suryantara yang mengisahkan awal mula hingga terlaksanaknya Kegiatan Dharmawecana ini. Dilanjutkan dengan Kesan dan Pesan dari Penglingsir Warga Pande Desa Ubung Bapak Made Djesna yang jujur saja, berperan sangat besar atas sambutan Beliau dan semua keluarga besar Warga Pande Desa Ubung 8 Januari 2012 lalu. Dan pada akhirnya Kegiatanpun dibuka oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande.

Bli Komang Suarsana, Ketua Yowana Paramartha Warga Pande Propinsi Bali yang sejak awal dengan sabar membimbing dan menyemangati kami, kali ini didaulat sebagai Moderator Kegiatan dan mengawali Dharmawecana dengan gambaran awal kegiatan dan nantinya diharapkan akan ada diskusi.

Sesi pertama diisi oleh Sire Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani yang sempat menyatakan penghargaannya kepada para generasi muda Yowana Paramartha Warga Pande yang telah bersusah payah menyelenggarakan Dharmawecana kedua ini sedari tiga bulan sebelumnya. Harapan Beliau tentu saja, agar kegiatan semacam ini mampu menurunkan nilai-nilai budaya dan sejarah kePandean serta melakukan estafet transformasi informasi dari generasi tua ke generasi muda. Bahkan Beliau sempat pula mengartikatakan Yowana Paramartha sebagai Generasi Muda yang diharapkan mampu meraih nilai bobot jati diri yang prima.

“Wareg tanpa ngerayunan, Bungah tanpa pengangge”

Tak lupa Beliau menceriterakan pula harapan dan cita-citanya kedepan kelak. Dimana harapan ini telah dimulai jauh sebelumnya, saat Beliau masih berstatus Walaka. Mencoba menelusuri manuskrip, naskah, lontar dan sebagainya langsung dari asalnya, tempat dimana situs-situs pande berada. Dengan dibantu pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali, Beliau berkunjung ke seluruh geriya Pande dan yang berstatus bekas geriya. Dimana kemudian hasil dari penelusuran tersebut menyajikan berbagai macam informasi yang berkaitan dengan Dharma kePandean seperti Usadha,Kewisesan, Wariga dan lain sebagainya.

Beberapa diantara pun datang dari Tusan dan Tonja terdapat babad Purajurit dan Sunari Bungkah. Dari Tabanan ada lontar Brahma Pande Tatwa dan juga tentang Babad Semeton Pande Beratan. Demikian halnya dari Kamasan ada babad Semeton Pande Kamasan, Babad Semeton Pande Meranggi dan tentang ceritera yang isinya mengapa kita menjadi seorang Pande.

Dari semua itu, dikatakanlah bahwa dalam sebuah Mitos, Brahma Prajapati merupakan Pencipta dari semua Klan atau soroh yang ada di Bali. Mitos ini kemudian dianggap logis jika dikaitkan dengan arti Dewa Tri Murti dimana Brahma merupakan Pencipta segalanya. Oleh karena itu, apabila ada Semeton Pande yang mengklaim keberadaan Brahma sebagai miliknya, hal ini bisa dikatakan sangat kebablasan.

Terkait Tema Kegiatan Dharmawecana, dikisahkan dahulu Bhisama Warga Pande dibuat sebenarnya karena merupakan sebuah tuntutan dari sebuah kondisi yang disesuaikan dengan jaman saat Bhisama itu dilahirkan. Bhisama lantas dibuat untuk mengisi kebutuhan yang sifatnya emergency, sehingga semeton Warga Pande kelak dapat memanfaatkannya dengan baik.

Namun tidak semua Bhisama Warga Pande dibuat atau diturunkan atas kehendak dan pemikiran Warga Pande sendiri. Salah satu yang menguatkan pendapat ini ada terkait larangan untuk menggunakan Tirta Sulinggih lain yang rupanya datang justru dari golongan Brahmana sendiri yang dikisahkan dahulu pernah bersumpah tidak akan mau memberikan Tirta kepada Warga Pande. Meski demikian, ada juga yang berpendapat bahwa ada satu sesi upacara yang memang melarang penggunaan Tirta Sulinggih selain Sire Empu Pande seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Bapak Kompyang Wisastera Pande, yaitu saat Pengabenan yang membutuhkan Tirta Pengentas.

Menurut Pembicara kedua Drs. I Made Ramayadi, bahwa Aktualisasi Bhisama Warga Pande hendaklah disikapi dengan bijak sesuai dengan perkembangan jaman dan era Teknologi Informasi dan tidak diartikan dalam lingkup pemikiran yang terbatas. Setidaknya beberapa Makna yang kemudian tertuang didalam Bhisama Warga Pande diharapkan agar selalu mengingat Leluhur dan orang tua dimanapun berada, bertindak berbuat dan berkarya yang kreatif dan terbaik penuh inovasi dengan mengandalkan semua kemampuan yang dimiliki, mengutamakan rasa persaudaraan dan juga tak lupa untuk mengingat keberadaan Pura yang berkaitan dengan Sejarah kePandean seperti Penataran Pande Besakih, Pura Gandamayu, Pura Batur, Tulukbiyu, Tamblingan dan ring Tengahing Segara. Untuk Pura yang disebutkan terakhir ini berdasarkan Wiyana yang ditenggarai berada ring Tengahing Segara adalah Pura Goa Lawah dimana pelinggih Meru nomor dua diperuntukkan bagi Ida Ratu Bagus Pande atau oleh Pemangku dikatakan sebagai linggihan Ida Betara Brahma.

Sebuah Catatan Pribadi tentang Dharmawecana kedua YPWP

8

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang Opini

Ternyata tidak mudah untuk mengumpulkan Yowana dalam jumlah berskala besar dalam satu Dharmawecana

Setidaknya demikian bathin saya saat mulai menghitung jumlah peserta yang hadir dan datang mewakili golongan Yowana beberapa saat sebelum Dharmawecana kedua yang diselenggarakan oleh Yowana Paramartha Warga Pande hari Minggu pagi 15 Januari 2012 di GOR Permata Ubung. Satu hal yang sebenarnya sudah bisa saya tebak sejak awal ketika ide ini digulirkan akhir tahun 2011 lalu.

Meskipun ada faktor kengototan dari sebagian Rekan yang merasa optimis mampu mendatangkan seribu Yowana dalam event kedua kali ini demi menjawab tantangan dari Penglingsir sekaligus Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali, Bapak Kompyang Wisastra Pande, apresiasi tetap patut saya sampaikan kepada yang telah berkenan hadir dan tentu saja kepada Rekan-Rekan panitia yang tak kenal lelah berusaha untuk mewujudkan impiannya kali ini.

Sangat disayangkan memang. Saat satu waktu ketika kami berkumpul di dunia maya, terlihat begitu ramai dan antusias terhadap semua pertanyaan yang berkaitan dengan dunia remaja (Yowana) ditimpali dengan jawaban yang beraneka ragam sesuai dengan pola pikir, latar belakang pendidikan dan juga didikan serta pengaruh lingkungan, hal sebaliknya terjadi ketika kami berusaha untuk mengundang mereka datang secara langsung untuk mendengarkan dan menyaksikan jawaban akan semua pertanyaan tadi dari narasumber yang jauh lebih dapat dipercaya.

Dari target seribu Yowana yang diharapkan hadir dalam event Dharmawecana kedua ini, rupanya tidak sampai 100 orang peserta mewakili golongan tersebut. Padahal jumlah keanggotaan dunia maya yang terdaftar dalam Group Warga Pande Bali di akun jejaring sosial FaceBook mencapai nyaris 2500 akun. Kendati patut disadari bahwa ada kemungkinan satu orang dalam dunia nyata bisa memiliki akun dua sampai tiga copian yang tergabung dalam jumlah tersebut. Pula akun yang dimiliki oleh Semeton yang berada diluar Bali.

Jadi sangat disayangkan memang, ketika semua usaha me-Yadnya yang kami lakukan kemudian tersia-siakan oleh pendapat-pendapat yang menyatakan ‘ah malas ikut Dharmawecana, paling juga Cuma duduk diam dan berjalan membosankan’ atau ‘ah itu bukan kegiatan yang saya banget…’

Terlepas dari semua alasan ketidakhadiran Semeton Yowana yang lain dimana setidaknya sekitar 1000an lebih undangan tersebar di seantero Propinsi Bali, satu hal yang kemudian patut dipertanyakan, apakah kelak event seperti ini patut diteruskan dan dilakukan kembali atau menjadi agenda kegiatan tahunan ? mengingat dua kali usaha ini kami lakukan, dua kali pula target jumlah yang hadir tidak tercapai, pun perjalanan situasi kegiatan yang rupanya tidak sesuai harapan kami.

Memang, seorang Rekan kami pernah berkata bahwa dari seribu Peserta yang kelak kami harapkan datang, hanya setengahnya yang mau hadir di lokasi kegiatan. Itupun setengahnya lagi yang mendengarkan secara seksama, dan kemudian setengahnya lagi yang dapat memahami makna dari kegiatan. Satu hal yang kemudian menjadi patokan kami untuk kegiatan selanjutnya. Namun jika boleh rumusan diatas diperlakukan pada jumlah Peserta yang hadir saat Dharmawecana kemarin, apakah dapat dibenarkan ? bisa jadi. Lantaran hampir sebagian Peserta dari Yowana memilih untuk meninggalkan Lokasi Kegiatan pasca Istirahat makan siang ketimbang mengikutinya hingga tuntas.

Sangat ironis bagi saya pribadi. Bahwa kelak Generasi Muda seperti kitalah yang diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada sekian banyak Semeton lainnya minimal informasi tersebut bisa didapatkan secara langsung dari narasumbernya atau penglingsir dan orang-orang tua yang kita miliki. Jangan sampai ketika informasi sejarah dan budaya serta mengapa semua itu ada dalam keseharian kita dipertanyakan oleh orang lain atau kelak anak cucu kita, rata-rata jawaban yang dilontarkan adalah sama.

‘Nak mule keto’ atau ‘entah ya, saya tidak pernah diberitahu oleh orang tua dahulu’

Kesempatan itu telah berusaha kami buka dan sebarluaskan. Namun jika memang tidak ada responnya sama sekali, meski ini merupakan ide kegiatan yang luar biasa seperti yang dipikirkan oleh para Penglingsir dan orang tua kita kemarin, mungkin lebih baik kami hentikan saja hingga disini.

Entah kegiatan apa yang kelak akan kami lakukan kedepannya dengan menyandang nama Yowana Paramartha Warga Pande. Tapi jika itu bisa terwujud, mungkin skala prioritas yang akan kami perjuangkan tak lagi untuk semua kalangan, minimal kami saja yang bisa memahaminya lebih dulu.

“ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”

Kata-kata yang pernah dilontarkan oleh seorang pemimpin Negara Adikuasa Amerika John F Kennedy barangkali boleh saya gunakan dalam konteks tuntutan yang selalu dipertanyakan dalam lingkup pesemetonan Maha Semaya Warga Pande.

Satu pilihan yang mudah. Rekan akan ikut serta terlibat didalamnya, ataukah hanya sebatas omongan tanpa keinginan untuk melakukannya sama sekali.

Semoga Yowana Paramartha Warga Pande bisa lebih baik kedepannya.

Denpasar, 16 Januari 2012.

PanDe Baik