Canggu, Surga Villa dan peSurfing Mancanegara

2

Category : tentang Opini, tentang PLeSiran

Hari masih pagi saat kaki ini melangkah cepat mengikuti irama musik yang didengar melalui earset bluetooth. Melanjutkan agenda rutin olahraga harian, meski kini berada jauh dari rumah. Tetap berupaya menjaga kesehatan, agar kesehatan tetap prima adanya.

Satu persatu bangunan mentereng dilewati. Tak tampak kehidupan didalam sana. Sepi tanpa penghuni.
Beberapa iklan tertempel rapi ditembok depan bangunan. Villa dan Villa.
Edan.

Canggu pagi ini, tampak jelas banyak hunian yang mengganggur tanpa orderan. Satu dua diantaranya malah bertuliskan ‘for sale’. Sempat berandai-andai, perkiraan harga yang ditawarkan mengingat lokasi dan megahnya penampilan rasanya bakalan sulit digapai jika melihat trend penurunan harga sewa kamar harian jaman now yang didiskon gila-gilaan. Mending ambil sewa harian ketimbang membeli dan melakukan pemeliharaan saat sulit begini.

Masuk kilometer ketiga perjalanan, mata menatap lekat tiga remaja yang mendekap papan surfing, berjalan bersama dua rekan dewasa menuju arah pantai. Pantai Canggu tampaknya memang surganya para pecinta ombak. peSurfing mancanegara.
Bahkan diujung jalan tempat kami menginap, ada satu gerai penyewaan papan surfing dalam jumlah besar yang dijaga dua security kelahiran Bali.
Ombak yang besar menantang mereka untuk menikmatinya lebih awal. Tak heran jika perairan hari ini tampak belasan peSurfing sudah berada di tengah pantai dengan aksi mereka yang menantang.

dan saya hanya bisa memandangnya…

Menyoal Sampah dan Galian Tanah di Lahan ‘Basah’

1

Category : tentang Opini

Terkadang saya suka merasa kasihan dengan para pemilik lahan kosong yang kebetulan bersebelahan dengan lahan terbangun di lingkungan Kecamatan Kuta Utara. Mengapa demikian ?

Sekedar informasi, kawasan Kecamatan Kuta Utara saat ini merupakan lahan basah yang bisa dikatakan sangat diminati oleh para wisatawan maupun investor untuk menanamkan modal mereka dalam bentuk villa maupun apartemen, lantaran view yang ada masih terjaga.  Baik itu hamparan hijau persawahan ataupun pantai. Tidak heran apabila harga lahan di sekitar kawasan ini melonjak sedemikian mahalnya.

Menariknya, hampir di setiap jengkal tanah yang ada, dibangun dan dimiliki oleh wisatawan asing ataupun investor luar daerah. Dari yang sedang dibangun hingga dikelilingi tembok ataupun patok permanen.

Sayangnya, ketika proses pembangunan atau pengerjaan lahan dilakukan, segala sampah, hasil galian maupun bahan bangunan yang tidak digunakan, kerap dibuang begitu saja ke lahan kosong disebelahnya, tanpa ada penyelesaian lebih lanjut.

Seperti gambar yang saya ambil di satu kawasan menuju Pura Batu Mejan ini. Terlihat jelas tumpukan tanah galian, sampah hingga bahan bangunan yang sudah tidak digunakan lagi teronggok begitu saja di lahan kosong sebelahnya. Kendati saat iseng saya tanyakan ke salah satu mandor yang bekerja di areal villa tersebut, bahwa semua sampah kelak akan dibersihkan, namun siapa yang akan menjamin ? karena di beberapa lahan lainnya, gundukan tanah galian dan sampah ini tetap saja dibiarkan tanpa ada penanganan pasca penyelesaian pekerjaan.

Wah, kalo gitu kasihan pemilik lahannya dong ya ?

ViLLa Maya Sayang KuTa

3

Category : tentang PLeSiran

Sebelumnya, perlu saya jelaskan dulu bahwa tulisan ini bukanlah bersifat promosi dari sebuah tempat yang berlokasi di seputaran Kuta, hanya sebatas mengenang masa lalu. Masa dimana saya masih bekerja pada orang Jepang sekitar tahun 2003 lalu bersama dua orang rekan yang kini telah menjadi suami-istri, Ary karuna dan Surya Dewi.

Salah satu perencanaan untuk kegiatan fisik yang diambil waktu itu adalah Villa Maya Sayang. Sebuah areal yang berisikan beberapa buah Villa dengan style Bali sederhana lengkap dengan kolam renang kecil pada tiap-tiap Villa yang disediakan.

Pada sisi paling depan, terdapat sebuah Bar dan Restaurant berlantai 2, yang saat perencanaan waktu lalu menjadi pemicu utama bagi saya untuk memutuskan resign dari tempat bekerja.

Si orang Jepang ngotot meminta desain Bar dan Restaurant berbahan dasar kayu dengan jarak antara dua tiang struktur (modul) adalah 12 meter (dengan alasan bahwa di negaranya adalah bukan hal yang mustahil). Satu hal yang saya sanggah waktu itu, sangat sulit untuk bisa diwujudkan disini dengan hanya mengandalkan tiang kayu berukuran diameter 10 cm. Karena tidak jua menemukan solusinya, sayapun menyerahkan sepenuhnya kepada si Jepang. He… daripada repot dan dituding tidak mampu….

Yah, bersyukur banget begitu saya Resign langsung dikaruniai sebuah SK CPNS oleh-Nya. Jadi, saat-saat lowong gak bekerjapun masih bisa dilewati dengan senyum optimis…. Jadi masa menunggu….

Hampir enam tahun masa itu telah terlewati. Kini Villa tersebut telah berdiri sesuai dengan Perencanaan yang dibuat, hanya saja ada perbedaan mendasar antara desain dan bangunan fisik yang ada kini.

Bar and Restaurant Villa Maya Sayang pada desain perencanaan dibuat terbuka, dan ‘isinya’ terlihat dari luar. Sedang yang terbangun sekarang hanya konsepnya yang ‘terbuka’ dengan banyaknya jendela disekeliling bangunan. Tiang atau kolom strukturnya pun berubaha, dahi bahan kayu dengan diameter 10 cm, menjadi beton yang dibalut bahan kayu terkini…

Kagum juga jadinya. Gak nyangka kalo saya dahulunya pernah punya mimpi pada desain ini. He….