Pengembangan Teknologi Akses Komunikasi Data untuk LPSE (bagian 4)

2

Category : tentang TeKnoLoGi

a. Skype

Skype menurut Wikipedia adalah sebuah program komunikasi bebas (dapat diunduh gratis) dengan teknologi P2P (peer to peer) dengan tujuan penyediaan sarana komunikasi suara (voice) berkualitas tinggi yang murah berbasiskan internet untuk semua orang di berbagai belahan dunia. Pengguna Skype dapat berbicara dengan pengguna Skype lainnya dengan gratis. Teknologi ini ditemukan oleh wirausahawan Niklas Zennström dan Janus Friis, yang kemudian berkompetisi dengan protokol terbuka VoIP yang sudah ada. Skype yang dibentuk pada bulan September 2003 lalu dibeli oleh perusahaan lelang internet raksasa di Amerika e-Bay pada bulan September 2005 dan bermarkas di Luxembourg, Jerman dengan kantor-kantor di London, Inggris, Praha, Rusia dan San Jose, California, A.S.

Dalam perjalanannya, Skype kemudian dikembangkan sebagai salah satu alternatif akses komunikasi suara yang termurah yang dapat dimanfaatkan melalui sarana Komputer/Notebook yang berbasis OS Windows, Mac dan Linux, telepon genggam seluler atau ponsel dan perangkat Tablet PC yang berbasiskan OS Windows, iOS, Android, Blackberry dan Symbian, dan juga perangkat Televisi tertentu yang dirilis oleh Sony, Samsung dan Panasonic.

Untuk penggunaan Gratis, selain fungsi telepon atau akses komunikasi lewat data, Skype menyediakan pula fitur untuk memanfaatkan Video Calling dengan lawan bicara dan juga instant messaging apabila diperlukan. Sedangkan untuk penggunaan berbayar, Skype menambahkan sejumlah besar fitur tambahan lainnya seperti Conference Call atau akses komunikasi data dalam sebuah grup lengkap dengan Group Videonya.

Secara penggunaan cuma-cuma pula, yang dibutuhkan untuk dapat memanfaatkan Skype selain perangkat dan koneksi data hanyalah alamat email untuk memenuhi syarat pendaftaran dan penggunaan akun. Sedangkan untuk mendapatkan nomor panggil yang spesifik seperti halnya nomor telepon genggam seluler biasa, pengguna diwajibkan membeli fasilitas Credit dari Skype.

Sayangnya, seperti halnya proses registrasi di dunia maya yang menggunakan alamat email, data pengguna yang dilampirkan dalam proses penggunaan Skype sangat rentan akan penipuan atau pengiriman email sampah (junk mail). Untuk mengatasinya, pengguna dapat menggunakan alamat email alternatif atau identitas yang disamarkan.

b. Viber

Viber merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh Viber Media Inc. secara khusus bagi para pengguna telepon genggam selular atau ponsel dan tabletPC yang berbasis sistem operasi iOS (iPhone, iPod Touch, iPad) dan Android agar dapat menggunakan atau memanfaatkan fungsi telekomunikasi suara atau telepon dan juga Text Message atau Chat Messenger secara Gratis, dengan memanfaatkan koneksi jaringan data 3G atau WiFi.

Aplikasi Viber dapat diunduh melalui Android Market dan App Store milik iOS secara Gratis. Jika untuk aplikasi Skype pengguna mutlak membutuhkan alamat email, untuk Registrasi Viber pengguna murni mengandalkan Nomor Ponsel yang digunakan. Tanpa permohonan melampirkan email ataupun penggunaan PIN seperti halnya perangkat BlackBerry secara khusus. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh pihak pengembang Viber Media Inc, selain dapat diunduh dan digunakan secara Gratis, juga bebas dari tampilan iklan (yang biasanya menghiasi layar perangkat seperti halnya aplikasi lain yang juga bersifat Free).

Demikian pula terkait kualitas suara dari beberapa kali hasil uji coba yang kami lakukan, jernih selayaknya jaringan GSM, namun kembali lagi pada kekuatan tangkapan sinyal atau jaringan koneksi data yang didukung dalam area pengguna. Fasilitas Free Calls atau Telepon Gratis menggunakan Viber juga dapat dimanfaatkan untuk bertelepon dalam skala Internasional atau interlokal tanpa dipungut biaya tambahan (diluar koneksi) sepeserpun.

Sayangnya seperti yang telah dikatakan diatas, dukungan perangkat aplikasi Viber untuk saat ini baru diperuntukkan bagi pengguna yang memiliki perangkat iPhone dan Android saja. Meski keterangan dari pihak pengembang Viber melalui website resminya, akan segera dialokasikan pula untuk pengguna BlackBerry. Jadi, untuk dapat memanfaatkan fasilitas akses komunikasi suara lewat koneksi data dengan Viber, pengguna diharuskan untuk memiliki sebuah perangkat telepon genggam seluler ataupun Tablet PC yang berbasis iOS atau Android.

Pengembangan Teknologi Akses Komunikasi Data untuk LPSE (bagian 3)

Category : tentang TeKnoLoGi

PEMBAHASAN

Meski kini sudah tersedia fasilitas TTS (Trouble Ticketing System) yang dapat ditemukan pada masing-masing jendela pengguna akun LPSE, namun terkadang dalam beberapa kasus yang dialami oleh masing-masing LPSE apalagi diawal pembentukan atau terkait dengan gangguan Server, membutuhkan saran, jawaban atau tindakan yang sesegera mungkin ditangani oleh induk organisasi dalam hal ini, LKPP komunikasi verbal/suara masih kerap harus dilaksanakan dan pada kenyataanya kegiatan ini terbukti membutuhkan biaya yang tidak sedikit setiap bulannya.

Sesungguhnya ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk membantu mengatasi permasalahan biaya diatas yaitu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi akses komunikasi data. Setidaknya ada dua teknologi yang dapat digunakan secara optimal untuk itu. Pertama, Teknologi komunikasi suara yang memanfaatkan data atau melalui Internet Protocol (VoIP) sebagai alternatif komunikasi verbal /lisan baik yang dilakukan untuk kalangan secara intern dan ekstern. Teknologi kedua bernama Twitter, salah satu Jejaring Sosial yang kini sedang menjadi trend dan kerap digunakan sebagai sarana untuk berbagi informasi yang dapat digunakan sebagai alternatif komunikasi melalui tulisan.

1. Pemanfaatan VoIP untuk LPSE

Voice over Internet Protocol yang lebih popular dengan sebutan VoIP, IP Telephony, Internet telephony atau Digital Phone menurut Wikipedia adalah sebuah teknologi yang memungkinkan percakapan suara jarak jauh melalui media internet. Data suara tersebut diubah menjadi kode digital dan dialirkan melalui jaringan yang mengirimkan paket data dan bukan lewat sirkuit analog telepon biasa.

Bentuk paling sederhana dalam sebuah sistem VoIP adalah dua buah komputer yang terhubung dengan internet. Syarat-syarat dasar untuk mengadakan koneksi VoIP adalah komputer yang terhubung ke internet, memiliki kartu suara yang dihubungkan dengan speaker dan microphone. Ditambah dukungan perangkat lunak khusus, kedua pemakai komputer akan bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Bentuk komunikasi tersebut bisa berupa pertukaran file, suara, maupun gambar. Jika kedua lokasi terhubung dengan jarak yang cukup jauh (antar kota, bahkan antar negara) maka bisa dilihat keuntungan dari segi biaya. Kedua pihak hanya perlu membayar biaya pulsa internet saja, yang nilainya akan lebih murah daripada biaya pulsa telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) atau internasional (SLI).

Keuntungan lain dalam menggunakan VoIP, selain biaya yang dihabiskan lebih rendah untuk sambungan langsung jarak jauh, VoIP dapat memanfaatkan infrastruktur jaringan data yang sudah ada untuk suara sehingga tidak diperlukan tambahan biaya bulanan untuk penambahan komunikasi suara. Disamping itu memungkinkan pula banyak variasi penggunaan dari peralatan atau perangkat yang ada, misalkan dari PC disambung ke telepon biasa, atau dengan perangkat telepon sellular.

Satu-satunya Kelemahan dalam menggunakan VoIP untuk saat ini adalah kualitas suara dlam percakapan akan sangat bergantung pada kualitas koneksi yang digunakan/didapat. Jika koneksi internet yang digunakan adalah koneksi internet pita-lebar/broadband, maka kualitas suara akan jernih tanpa jeda, bahkan lebih jernih dari sambungan telepon biasa dan tidak terputus-putus.

Pengembangan Teknologi Akses Komunikasi Data untuk LPSE (bagian 2)

Category : tentang TeKnoLoGi

LATAR BELAKANG

Berbicara Teknologi tak ubahnya seperti berbicara inovasi inteligensia manusia yang tiada henti. Hampir dalam setiap satuan waktu, ada saja temuan teknologi baru yang muncul dan dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia dalam setiap aktifitasnya.

Bandingkan saja dengan satu dekade lalu, dimana saat itu teknologi sudah bisa dikatakan cukup maju yang ditandai dengan maraknya penggunaan perangkat Personal Digital Assistant (PDA) sebagai pengganti buku agenda untuk mencatatkan jadwal atau rencana kegiatan, berlaku sebagai sekretaris pribadi yang siap memberikan informasi apa saja melalui dunia maya hingga berinteraksi dengan ratusan akses sarana hiburan.

Dengan berbasiskan sistem operasi Palm dan Windows Mobile, sebuah perangkat Personal Digital Assistant berukuran segenggaman tangan sudah dapat digunakan untuk mendukung hampir semua aktifitas rutin yang dilakukan oleh setiap orang secara mobile. Orang tak lagi bergantung pada sebuah perangkat komputer desktop hanya untuk terhubung ke dunia maya. Sayangnya, dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran saat itu, bisa dikatakan belum banyak orang yang mampu menjangkau dan memiliki perangkat tersebut.

Di Indonesia, kebutuhan akan sebuah perangkat teknologi yang dapat dimanfaatkan sebagai sebuah perangkat akses komunikasi data bisa dikatakan baru mulai menampakkan eksistensinya pada tahun 2005/2006 dimana vendor raksasa Nokia tergolong rajin menurunkan perangkat mobilenya dengan harga yang terjangkau. Demikian pula saat vendor ternama dari Kanada yang memperkenalkan layanan data, Research In Motion (RIM) menurunkan sederetan perangkat fenomenal mereka yang bernama BlackBerry. Dua fitur utama yang mereka tawarkan yaitu Messenger dan Push Email tampaknya mampu menarik perhatian para pengguna untuk memanfaatkan atau sekedar latah mencoba.

Demikian halnya untuk saat ini, Bahwa yang namanya teknologi perangkat terlihat semakin maju dan canggih, bahkan beberapa diantaranya sudah mampu mengakomodasi kebutuhan manusia akan menjalankan hobi, seperti fotografi, video editing atau bahkan bermain musik. Hal ini terjadi setelah Apple melalui karya besar seorang Steve Jobs melahirkan iPhone dan iPod Touch yang berbasiskan sistem operasi iOS dan didukung pula oleh application store mereka bernama iTunes, siap memberikan banyak pilihan kemudahan untuk berinteraksi baik kebutuhan serius, pekerjaan, hingga hiburan. Disusul pula oleh Google, mesin pencari yang kini makin meraksasa, terhitung setelah mengakusisi perusahaan bernama Android mulai mengembangkan sistem operasi yang diperuntukkan bagi perangkat mobile dan diperkenalkan pada publik sejak Februari 2009 lalu. Android sendiri ditenggarai lebih banyak meniru tumbuh kembang iOS yang hadir lebih dulu baik dari segi teknologi yang digunakan maupun dukungan aplikasi dari pengembang pihak ketiga.

Makin terjangkaunya akses teknologi data yang ditawarkan oleh para operator lengkap dengan data plan penggunaan melengkapi semua kemajuan teknologi perangkat yang nyatanya kini makin banyak berkembang untuk segala macam kebutuhan.

Layanan Pengadaan Secara Elektronik atau yang lebih dikenal dengan sebutan LPSE, merupakan sebuah unit kerja yang melayani proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang dilaksanakan secara elektronik. Dalam pelayanannya, LPSE menggunakan sistem aplikasi e-Procurement SPSE, sebuah sistem aplikasi pengadaan yang dikembangkan oleh LKPP yang bersifat terbuka, bebas lisensi dan bebas biaya. Selain sebagai pengelola sistem e-Procurement, LPSE juga berfungsi untuk menyediakan pelatihan, akses internet dan bantuan teknis kepada Panitia pengadaan/ULP dan Penyedia barang/jasa, serta melakukan registrasi dan verifikasi terhadap Penyedia barang/jasa.

Dalam operasionalnya, LPSE membutuhkan akses internet sebagai komponen utama dalam melakukan transaksi proses di dalam aplikasi SPSE. Adapun akses internet yang dimaksudkan adalah koneksi data atau bandwidth yang diperuntukkan bagi perangkat server agar dapat tetap menjalankan sistem SPSE selama 24 jam penuh dan juga koneksi tambahan yang diperuntukkan bagi para anggotanya untuk menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing yang berkaitan dengan paparan tugas (job description) di LPSE. Dengan adanya koneksi tambahan ini, serta didukung pula oleh kemajuan perangkat yang ada saat ini makin mempermudah akses menuju portal LPSE yang dapat dilakukan secara mobile dari berbagai perangkat termutakhir dan diluar jam kerja sekalipun.

Disisi lain LPSE kerap harus melakukan komunikasi baik internal maupun eksternal, secara lisan maupun tulisan. Secara internal, LPSE biasanya berinteraksi baik dengan keanggotaan sendiri dalam mengelola lembaga yang diemban, dan juga berinteraksi dengan LKPP Pusat manakala dibutuhkan suatu koordinasi atau penyampaian keluhan/permasalahan, sedangkan secara eksternal komunikasi dilaksanakan sehubungan dengan bantuan teknis dan pelatihan baik kepada Panitia Pengadaan /Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (POKJA ULP) maupun Penyedia Barang/Jasa terkait penggunaan dan pembaharuan cara kerja sistem.

Sayangnya untuk dapat melakukan semua komunikasi diatas, LPSE kemudian dibebankan biaya yang cukup tinggi setiap bulannya sebagai konsekuensi dari penyampaian maksud yang lebih banyak dilakukan secara verbal atau telepon baik menggunakan sarana komunikasi telepon milik kantor (pada jam kerja) dan telepon genggam selular milik pribadi (di luar jam kerja). Padahal dengan adanya kemajuan perangkat Teknologi komunikasi yang notabene sudah memiliki banyak aplikasi pendukung untuk membantu mempermudah akses antar perangkat, ditambah ketersediaan infrastruktur koneksi data pada masing-masing unit LPSE ataupun anggotanya yang telah dibekali sarana koneksi skala kecil, seharusnya dapat dioptimalkan secara maksimal untuk mendukung jalannya operasional LPSE.

Terkait dengan hal tersebut, dalam paper ini kami mencoba untuk memberikan gambaran tentang alternatif pemanfaatan beberapa fitur aplikasi internet yang tersedia untuk dapat dipergunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan akan komunikasi yang intensif namun tidak menimbulkan tambahan beban biaya komunikasi, sehingga dengan demikian diharapkan komunikasi diantara sesama LPSE maupun antara LPSE dengan LKPP dapat menjadi lebih efektif dan efisien yang pada akhirnya akan dapat lebih meningkatkan kinerja LPSE di seluruh Indonesia.

Pengembangan Teknologi Akses Komunikasi Data untuk LPSE (bagian 1)

Category : tentang TeKnoLoGi

Tulisan berikut merupakan Materi yang kami sampaikan mewakili LPSE Badung dalam Rakor LPSE Nasional ke-7 di Hotel Sanur Paradise 21 – 23 November 2011 lalu. Adapun materi ini disampaikan bersama empat orang Narasumber lainnya dalam salah satu sesi di Ruang Negara 22 November 2011 pada pukul 13.00 wita. Sekedar informasi bahwa hal yang melatarbelakangi lahirnya Materi tersebut adalah berangkat dari kesulitan serta pengalaman kami, Admin PPE dan Admin Agency LPSE Badung dalam berkoordinasi dan berkonsultasi dengan HelpDesk LKPP Pusat, dalam usahanya mengelola aplikasi SPSE Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung.

Disamping itu, sudah sepatutnyalah kami bersyukur atas segala daya upaya dan ketajaman ilmu yang kami dapatkan selama setahun terakhir pasca kepemilikan perangkat ponsel Android yang kemudian menjadi sebuah alternatif solusi bagi kesulitan yang kami alami sepanjang tahun 2011 lalu.

Mengingat media BLoG www.pandebaik.com merupakan media publikasi pribadi, maka untuk penyajian Materi “Pengembangan Teknologi Akses Komunikasi Data untuk LPSE” akan kami pecah menjadi beberapa bagian tulisan agar tak menghabiskan ruang terlalu panjang. Dan di bagian akhir akan kami sertakan pula soft copy Materi dalam dua bentuk format file, pertama format digital lengkap sedari Abstrak, Latar Belakang, Pembahasan dan Kesimpulan, sedang format kedua menyajikan Materi yang dalam format Presentasi, sesuai dengan apa yang telah kami sampaikan saat Rakor LPSE Nasional ke-7 tempo hari.

Semoga saja pemikiran kecil yang kami sumbangkan kali ini dapat memberikan banyak manfaat kedepannya baik bagi kelangsungan LPSE secara intern ataupun ekstern dengan pihak-pihak yang berkaitan.

ABSTRAK

Salah satu konsekuensi dari pembentukan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) adalah munculnya beban biaya komunikasi baik untuk komunikasi data dalam hal ini biaya bandwidth perangkat dan sistem maupun biaya pulsa percakapan (voice).

Dalam prakteknya pembengkakan biaya seringkali terjadi pada biaya percakapan daripada biaya bandwidth yang cenderung tetap, digunakan secara optimal atau tidak. Pembengkakan tersebut terjadi sebagai akibat dari kegiatan komunikasi verbal/suara yang harus dilakukan dalam rangka melaksanakan fungsi organisasi yaitu terkait bantuan teknis (helpdesk) kepada pengguna aplikasi LPSE (Panitia/Pokja ULP serta Penyedia Barang/Jasa) maupun untuk kepentingan koordinasi, baik antar sesama anggota LPSE maupun dengan LKPP sebagai induk organisasi tertinggi.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin pesat, ternyata memberikan peluang untuk menjawab permasalahan diatas. Dimana saat ini ada beberapa perangkat keras dan aplikasi yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi secara intens namun tidak menimbulkan beban biaya.

Pemanfaatan beberapa aplikasi seperti Skype, Viber dan Tango yang menggunakan teknologi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP) merupakan alternatif pilihan yang cukup efektif untuk keperluan komunikasi verbal/suara sedangkan pemanfaatan jejaring sosial seperti tweeter dapat menjadi alternatif yang efektif untuk berbagi informasi secara tulisan.

Kedua alternatif diatas murni memanfaatkan akses komunikasi data (bandwidth) yang setiap bulannya menjadi beban biaya rutin yang harus dibayarkan LPSE dalam mendukung operasional perangkat dan sistem.

Kata Kunci : LPSE, VoIP, Skype, Viber, Tango, Twitter, Komunikasi, Data, Voice

@LPSEBadung Informasi seputar Tips Pemasukan Penawaran oleh Rekanan LPSE Pemkab Badung

2

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

“Topik @LPSEBadung hari ini adalah Tips Pemasukan Penawaran paket lelang e-Procurement..” (24 Juni)

“Untuk bisa memasukkan penawaran dengan baik, silahkan Unduh aplikasi #Apendo terlebih dahulu di halaman User masing-masing” (24 Juni)

“Bagi yang belum paham apa itu #Apendo dan cara penggunaannya, silahkan pantau Tweet kami sebelumnya perihal #Apendo di @LPSEBadung” (24 Juni)

“Bagi Rekanan yang memiliki lebih dari satu bendera, disarankan untuk menggunakan aplikasi #Apendo yang berbeda untuk setiap bendera” (24 Juni)

“Untuk mengakali penggunaan #Apendo di setiap bendera, berikan nama folder yang berbeda sesuai dengan nama Bendera yang digunakan” (24 Juni)

“Tidak disarankan menggunakan satu aplikasi #Apendo untuk bendera atau nama perusahaan yang berbeda” (24 Juni)

“Prosedur pengiriman dokumen penawaran hanya mampu melakukan pengiriman satu file yang sudah di-#Apendo berupa file dengan ekstensi RHS” (24 Juni)

“Satu file RHS dapat mengandung satu atau lebih file dokumen penawaran dalam berbagai format. doc, xls, ppt, pdf, txt, jpeg, dwg dan lainnya” (24 Juni)

“(1) #Tips Sebelum melakukan enkripsi data dokumen penawaran dengan menggunakan aplikasi #Apendo, Rekanan diharapkan untuk : ” (24 Juni)

“(2) #Tips. Menyiapkan semua dokumen yang akan dikirim dalam satu folder terpisah” (24 Juni)

“(3) #Tips. Menutup semua Dokumen Penawaran secara permanen sebelum di-eksekusi” (24 Juni)

“(4) #Tips. Memindahkan semua file dokumen Penawaran kedalam hard disk (bukan dalam flash disk) ” (24 Juni)

“ (5) #Tips. Periksa kembali apakah dokumen Penawaran yang akan dikirim sudah benar dan dapat dipertanggungjawabkan” (24 Juni)

“(6) #Tips. lakukan kompresi sebilamana perlu untuk memperkecil besaran file yang akan dikirimkan” (24 Juni)

“(7) #Tips. Semua tips diatas bertujuan untuk mempercepat proses Enkripsi data dengan memanfaatkan aplikasi #Apendo” (24 Juni)

“(8) #Tips. Apabila terjadi hambatan (hang, crash ataupun proses yang terlalu lama) silahkan terapkan ‘semua’ tips tadi” (24 Juni)

“(9) #Tips. Semua Tips mutlak dilakukan untuk keberhasilan proses Enkripsi data dengan memanfaatkan aplikasi #Apendo” (24 Juni)

“Sebanyak apapun file Dokumen Penawaran beserta lampirannya, akan menghasilkan satu file yang berekstensi RHS untuk dikirim ke Sistem LPSE” (24 Juni)

“Apabila terjadi Perubahan Penawaran sebelum Jadwal Pembukaan Penawaran dilakukan, Rekanan dapat mengubah kembali file Penawarannya” (24 Juni)

“Untuk melakukan perubahan pada Dokumen Penawaran, Rekanan tinggal melakukan Proses Enkripsi Data dengan #Apendo dan mengirimkannya kembali” (24 Juni)

“Tidak ada batasan berapa kali file Dokumen Penawaran dapat dikirimkan oleh Rekanan, selama jadwal Pemasukan Penawaran masih berlaku” (24 Juni)

“Yang perlu dipahami oleh Rekanan bahwa Dokumen Penawaran yang akan diakui oleh Sistem adalah Dokumen yang terakhir kali dikirim oleh Rekanan” (24 Juni)

“Sebelum Rekanan mengirimkan file Dokumen Penawaran, periksa kembali ukuran file Penawaran (dalam format ekstensi RHS) ” (24 Juni)

“Bandingkan ukuran file RHS yang dihasilkan oleh aplikasi #Apendo, dengan file aslinya yang dikompresi menggunakan aplikasi WinZip/WinRar” (24 Juni)

“Apabila ada kemiripan ukuran besaran file, bisa dipastikan file RHS yang akan dikirimkan sudah valid dan benar” (24 Juni)

“Sistem SPSE hanya akan menerima file yang berekstensikan RHS saja, bukan yang lain. Jika tidak percaya, uji saja” (24 Juni)

“Salah satu hambatan terbesar saat melakukan Pengiriman file Dokumen penawaran adalah kecepatan Koneksi Internet yang digunakan” (24 Juni)

“Satu Tips manjur terkait Pengiriman Dokumen Penawaran adalah, lakukan H-1 atau sebelumnya atau diluar jam sibuk” (24 Juni)

“Keluhan yang paling sering kami dapatkan adalah sulitnya memasukkan File Dokumen Penawaran satu jam sebelum jadwal ditutup” (24 Juni)

“Bagi yang kesulitan saat memasukkan atau meng-Upload Dokumen Penawaran, silahkan datang ke gedung @LPSEBadung, tidak dipungut biaya kok” (24 Juni)

“Untuk kelancaran Proses lelang bagi Rekanan, Penyedia maupun panitia, kami @LPSEBadung menyediakan beberapa fasilitas yang siap digunakan” (24 Juni)

“Ada 6 PC di Ruang Bidding yang sudah tersambung LAN diperuntukkan bagi para Rekanan, Penyedia dan Panitia untuk memudahkan aktifitasnya” (24 Juni)

“Ada 10 PC di Ruang Latihan yang bisa juga digunakan untuk kebutuhan Training serta Kursus Kilat” (24 Juni)

“dan jika itu masih kurang, silahkan membawa NoteBook pribadi dan nikmati Free Wifi kami untuk dapat terhubung ke alamat @LPSEBadung” (24 Juni)

“Sekian Tweet @LPSEBadung hari ini terkait Tips pemasukan Dokumen Penawaran, Sampai jumpa hari Senin depan. Terima Kasih” (24 Juni)

“Sekedar mengingatkan, silahkan Kontak kami di lpse.badungkab.go.id atau e-mail di [email protected] atau follow @LPSEBadung

@LPSEBadung Informasi seputar Tips Rekanan LPSE Pemkab Badung

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

“Bagi yang ingin mengikuti proses lelang e-proc Pemkab Badung, silahkan daftarkan emailnya terlebih dulu di halaman LPSE Badung” (23 Mei)

“Tips Rekanan #LPSE Badung. Segera Verifikasi Berkas pendaftaran yang telah di-Upload untuk mendapatkan persetujuan penggunaan akun USERID” (24 Mei)

“Tips Rekanan #LPSE. Apabila sudah mendapatkan UserID dan Passw, lakukan update data sebilamana perlu” (24 Mei)

“Tips #LPSE Badung. Lakukan perubahan password secara berkala untuk mencegah penyalahgunaan dan pembobolan akun LPSE” (24 Mei)

“Tips Rekanan #LPSE Badung. Periksa kembali kelengkapan file Dokumen Penawaran sebelum di-sandi dengan #Appendo dan dikirimkan” (24 Mei)

“Tips Rekanan #LPSE Badung. Gunakan satu aplikasi Appendo untuk satu bendera. Hindari kegagalan penawaran Sejak dini” (24 Mei)

“Tips Rekanan #LPSE. Gunakan Akses internet yang menyediakan layanan Upload memadai untuk menyukseskan proses pengiriman Dokumen Penawaran” (25 Mei)

“Sekedar mengingatkan, silahkan Kontak kami di lpse.badungkab.go.id atau e-mail di [email protected] atau follow @LPSEBadung

@LPSEBadung Informasi seputar Jadwal Pelelangan oleh Panitia LPSE Pemkab Badung

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

“Selamat Pagi, Hari ini kami masih akan melanjutkan berbagi Tips bagi Panitia Pengadaan untuk lingkup e-Procurement” (10 Juni)

“Untuk penyusunan Paket Kegiatan yg akan dilelangkan secara elektronik/e-Proc, Panitia Pengadaan diharapkan jeli dalam membuat jadwal lelang” (10 Juni)

“Jadwal Pelelangan yang disusun tetap mengacu pada PerPres no.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah” (10 Juni)

“Jadwal Pelelangan untuk paket Kegiatan e-Proc (disarankan) disusun berdasarkan hari kalender tanpa memperhitungkan libur/cuti bersama” (10 Juni)

“Jadwal Pelelangan untuk paket Kegiatan Non e-Proc (disarankan) disusun berdasarkan hari kalender dengan memperhitungkan libur/cuti bersama” (10 Juni)

“Jadwal Lelang yang telah selesai disusun dapat dipergunakan kembali pada paket kegiatan lain yang memiliki jadwal lelang yang sama” (10 Juni)

“Untuk penyusunan paket kegiatan yang dilelangkan secara elektronik/e-Proc dapat dilakukan oleh setiap Panitia Pengadaan apapun Jabatannya” (10 Juni)

“Namun Untuk Pengumuman paket kegiatan yang dilelangkan secara elektronik/e-Proc hanya dapat dilakukan oleh Ketua Panitia Pengadaan” (10 Juni)

“Jika diperlukan, Panitia Pengadaan dapat mangubah jadwal Pelelangan tanpa harus meminta ijin pada Admin System” (10 Juni)

“Kemampuan Panitia Pengadaan untuk mengubah jadwal Pelelangan sudah dapat dilakukan pada aplikasi SPSE LPSE Badung saat ini” (10 Juni)

“untuk dapat melakukan perubahan jadwal Pelelangan, Panitia Pengadaan mutlak mencantumkan alasan perubahan yang jelas” (10 Juni)

“Setiap perubahan Jadwal Pelelangan, baik Rekanan atau masyarakat dapat memantaunya dari halaman LPSE Badung dengan transparan” (10 Juni)

“Apabila jumlah peminat tidak mencapai syarat minimal (3 rekanan), Panitia Pengadaan dapat membatalkan/mengulang proses pelelangan” (10 Juni)

“Sekedar mengingatkan, silahkan Kontak kami di lpse.badungkab.go.id atau e-mail di [email protected] atau follow @LPSEBadung

@LPSEBadung Informasi seputar Paket Lelang oleh Panitia LPSE Pemkab Badung

Category : tentang PeKerJaan, tentang TeKnoLoGi

“Dalam pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara konvensional/non e-Proc, setiap Panitia Pengadaan berhak mengumumkannya di halaman LPSE” (9 Juni)

“sedangkan Pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara elektronik/e-Proc, mutlak diumumkan oleh Ketua Panitia Pengadaan” (9 Juni)

“Setiap pengumuman pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara konvensional/non e-Proc, tidak dapat dihapus/dibatalkan melalui sistem” (9 Juni)

“Pembatalan pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara konvensional/non e-Proc, dilakukan dengan menerbitkan Surat pembatalan lelang” (9 Juni)

“Surat Pembatalan pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara konvensional/non e-Proc, ditembuskan di halaman LPSE” (9 Juni)

“Setiap pengumuman pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara elektronik/ e-Proc, dapat dihapus/dibatalkan melalui sistem” (9 Juni)

“Penghapusan/pembatalan pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara elektronik/ e-Proc, hendaknya disertai dengan alasan yang jelas” (9 Juni)

“Untuk mengumumkan Paket Kegiatan yang akan dilelangkan, Panitia Pengadaan wajib mengisi field/kolom yang berisi tanda bintang (*)” (9 Juni)

“Ada 2 model Pengumuman untuk pelelangan paket kegiatan yg dilakukan secara konvensional/non e-Proc” (9 Juni)

“Untuk paket kegiatan tunggal dan diluar Jasa Konstruksi, silahkan menggunakan form Pengumuman Model A” (9 Juni)

“Untuk paket kegiatan jamak atau Jasa Konstruksi, silahkan menggunakan form Pengumuman Model B” (9 Juni)

“Untuk bisa menyusun dan mengumumkan paket kegiatan yang akan dilelangkan secara elektronik/e-Proc, mutlak membutuhkan Admin Agency LPSE” (9 Juni)

“Admin Agency LPSE bertugas untuk memasukkan Kode Anggaran, Pagu dan Nama Kegiatan yang akan dilelangkan secara elektronik/e-Proc” (9 Juni)

“Paket Kegiatan yang dilelangkan secara elektronik akan tampil di halaman LPSE sesuai jadwal pengumuman yang telah ditentukan sebelumnya” (9 Juni)

“Setiap jadwal dan aktifitas yang dilakukan dihalaman LPSE mengacu pada jam Sistem yang tertera di bawah halaman LPSE” (9 Juni)

“Sekedar mengingatkan, silahkan Kontak kami di lpse.badungkab.go.id atau e-mail di [email protected] atau follow @LPSEBadung