Nyepi : Coreng Carut Marut Toleransi

Category : tentang KeseHaRian, tentang Opini

toleransi.jpg

Pada hari raya Nyepi, ada satu peraturan yang diterapkan oleh Umat Hindu dan Pemerintah Propinsi Bali, bahwa seluruh aspek masyarakat hendaknya menghormati dan bertoleransi pada Umat Hindu yang sedang melakukan Catur Brata Penyepian. 

Namun kenyataannya, kata Toleransi rasanya sudah lama terhapus dari ingatan manusia Indonesia.

Seperti halnya anak-anak yang kini sudah tak lagi diajarkan Budi Pekerti disekolahnya, budaya saling menghormati antar umat Beragama, rupanya hanyalah kata kiasan saja.  

Ini pula yang memicu terjadinya bentrok antar kelompok umat agama dititik-titik yang merupakan kumpulan dari satu etnis dan agama tertentu tinggal.Toleransi yang hanya berupa lips service bagi orang-orang yang merasa dirinya memiliki hak sebagai warga negara dan meyakini agamanya sendiri, untuk bertindak semau gue dan menghancurkan semua aturan ini.  

Sayangnya oknum-oknum ini memang seperti mencari-cari celah agar bisa membuat keonaran didaerah tempat ia tinggal.Mungkin ia lupa akan ‘dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung’.

Menyamakan budaya daerah asalnya dengan daerah dimana posisi dirinya hanya sebagai pendatang hanyalah akan menjadi sebuah keironisan hidup ditengah rusaknya moral bangsa ini dan semakin menghantarkan kegerbang kehancuran saja.

 Entah kapan, Nyepi di Bali akan berjalan menjadi sebuah hari dimana semua orang yang berada didalamnya mampu dan mau untuk melaksanakan serta memberikan toleransinya pada umat yang melaksanakannya.

Toleransi Umat Beragama ; Masih Adakah ? (2)

Category : tentang KeseHaRian

Cobalah sekali-sekali lewat didekat areal Umat Agama tertentu saat mereka mengadakan ibadah, kewajiban maupun Upacaranya.
Satu hal yang paling terlihat adalah corong pengeras suara, yang ditaruh sedemikian rupa, dengan volume maksimum disuarakan hingar bingar, cukup memekakkan telinga.
Apakah gak ada yang mengatur, bagaimana sebaiknya corong-corong ini diposisikan ?Contoh kecil.
Saat satu dua Umat Hindu yang mengadakan Upacara di daerah Canggu, mereka memasang corong pengeras suara, yang kemudian dipakai untuk memutar hiburan seperti vcd Wayang Cenkblonk, selama 3 hari berturut-turut, gak perduli siang ato malam.
Sialnya ya penduduk yang ada disekitarnya, lumayan terganggu istirahatnya, hingga setelah diamati bukannya Upacara makin terlihat khusyuk, namun emosi lingkungan yang makin tinggi. Nah ?

Contoh lain.
Mungkin ini lebih disebabkan karena tata ruang perkotaan yang gak bener, dimana tempat Ibadah, berada tepat diseberang Rumah Sakit.
Kebayang kan, saat pasien Rumah Sakit, apalagi yang dalam kondisi membutuhkan ketenangan, dibayangi suara hingar bingar dari tempat ibadah diseberangnya, cukup membuat sang pasien bertambah sakit juga tertekan.
Sialnya, kesalahan lebih ditimpakan ke pihak Rumah Sakit, kenapa gak membuat satu ruangan yang kedap suara khusus untuk pasien-pasien tersebut ?
Ini terjadi setiap hari lho.

Contoh yang paling bikin geleng kepala.
Saat Umat Hindu merayakan Tahun Barunya, dimana diikuti dengan Penyepian disegenap areal, untuk menambah khusyuk suasana, namun dibeberapa tempat, Umat lain justru dengan pongahnya bersikap melawan, dan memilih tetap pada kebiasaannya, menyuarakan ibadah dengan hingar bingar, hingga menyulut emosi Umat Hindu.
Bukannya khusyuk dan ketenangan yang didapat, malahan emosi antar Umat sering terjadi pada hari-hari ini.
Siapa yang salah ?

“Dimana Langit Dipijak, Disana Langit Dijunjung”
Mungkin satu hal yang paling langka hari ini, adalah keinginan untuk menghormati Umat lain, yang mungkin saja kepentingannya jauh lebih besar dibanding kepentingan pribadi.
Namun karena merasa Superior, hal tadi lantas diabaikan.
Apa bijaksana jika kita mengaku sebagai Umat Beragama yang memiliki toleransi pada sesamanya ?

Toleransi Umat Beragama ; Masih Adakah ? (1)

1

Category : tentang KeseHaRian

Coba tebak, kenapa pertanyaan diatas kuajukan hari ini ?
Apakah masih ada yang namanya Toleransi Antar Umat Beragama ?
Hormat menghormati budaya maupun tradisi antar Umat Beragama dalam konteksnya bermasyarakat, berbaur dengan lingkungannya – “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”.

Satu contoh kecil yang paling sering mendapatkan sorotan di media cetak adalah penutupan jalan saat Upacara atau Ibadah dilakukan.
Mungkin jika pernah jalan-jalan pada hari-hari tertentu yang diangap suci dan sakral bagi Umat Agama tertentu, tentu tahu, bagaimana pengalihan jalur jalan dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan jalan raya, bagi pengendara yang kebetulan melintas didekat areal tersebut.Hari Minggu Pagi, di Kota Denpasar penutupan terjadi diruas jalan Surapati, karena Umat Kristen melakukan kewajibannya di Gereja yang terdapat di 2 jalur jalan, Surapati sendiri, juga Kepundung.

Hari Jumat Siang, penutupan terjadi dibeberapa titik yang kebetulan terdapat Masjid, dimana Umat Islam melakukan holat Jumat, seperti yang terjadi pada ruas Diponegoro maupun WR Supratman.

Hari suci bagi Umat Hindu lain lagi, gak Cuma dalam rangka Upacara pada Pura setempat, penutupan juga berlaku, jika pada jalan tersebut ada yang melaksanakan upacara Pernikahan atau lainnya.
Apalagi jika pada bulan-bulan dimana Hari Baik diambil untuk Prosesi Pernikahan, dalam satu desa bisa terjadi 2 sampai 4 acara yang sama, dan cukup untuk menjadi alasan menutup jalan setempat.

Aku sempat mengalami hal ini saat hari Minggu lalu, meghadiri undangan nikah seorang teman di Perean Badung, dimana ada 3 jalur jalan ditutup, untuk menunjang upacara berlangsung, walaupun pada saat aku sampai dilokasi, seharusnya gak perlu lagi hingga nutup jalan, apalagi dalam suasana gelap (sore menjelang malam), berhubung gak ada lampu penerangan jalan setempat.
Hasilnya lumayan kebingungan, mencari jalur masuk, dan juga untuk keluar dari areal tersebut, karena saat balik, ternyata penutupan jalan terjadi di jalur ketiga, padahal tadinya diperbolehkan lewat.

Gilanya, penutupan 3 jalur jalan ini gak pake koordinasi antar lainnya, lumayan membuat para undangan kebingunan mau ngambil jalur kemana. Namun yang paling ngeselin, oknum penutup jalan, dengan cueknya ngelarang kami lewat dan marah-marah, namun gak ngasi solusi apa-apa. Damn !

Mungkin ini kecil artinya dimata masyarakat, tapi lumayan bikin kesel, apalagi kalo kebetulan satu dua pengendara yang melintas dalam kondisi Urgent misalnya, darurat karena membawa orang sakit, gimana dong ?

Memang sulit jika sudah menyangkut masalah Agama, salah sedikit mungkin nyawa yang melayang, padahal ini lebih ditujukan untuk Toleransi antar Umat, ya gak ?