Pilih-Pilih Tablet untuk berTelepon (Layar 7”)

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan sebelumnya perihal Pilih-pilih perangkat Tablet yang mampu digunakan untuk bertelepon dan sms-an dengan perangkat komunikasi lainnya tanpa meninggalkan fungsi utama, mendukung pekerjaan bagi para penggunanya, berikut beberapa diantaranya.

Dengan ukuran layar 7 inchi, pengguna bisa melirik Samsung Galaxy Tab 7+. Ini merupakan perangkat berbasis Android yang hingga kini masih setia saya gunakan. Mengadopsi versi 3.2.1 Honeycomb sebagai OS Original bawaannya sejak pembelian terdahulu, yang secara bertahap sudah mendapatkan opsi UpGrade ke versi terkini, baik 4.0.1 Ice Cream Sandwich ataupun 4.1.1 Jelly Bean. Meskipun dalam versi terkini rasanya masih terdapat beberapa Bugs yang cukup mengganggu kebiasaan penggunanya, namun overall bisa dikatakan cukup memuaskan. Sayangnya, kini perangkat Samsung Galaxy Tab 7+ sudah tidak lagi dapat ditemukan stok barunya dipasaran, dan meskipun ada, bisa jadi itu merupakan stok lama dari Samsung.

Samsung Galaxy Tab 2 7.0, merupakan perangkat Tablet Android termurah milik Samsung yang masih dapat ditemui stok barunya dipasaran. Untuk versi yang mendukung voice, memiliki kode pengenal P3100 untuk pasar Indonesia, sedang sang adik P3110 yang dapat dimiliki dengan harga yang jauh lebih terjangkau, namun tidak didukung fungsi voice call atau sms layaknya P3100. Perbedaan yang paling mendasar dari seri P3100 dengan P6200 Galaxy Tab 7+ adalah soal kecepatan dan jenis prosesor yang digunakan. Pun secara dimensi sedikit lebih tebal ketimbang saudaranya tersebut. Datang dengan OS Android versi 4.0 Ice Cream Sandwich dan baru saja sebulan terakhir mendapatkan opsi upgrade ke versi 4.1.2 Jelly Bean.

SpeedUp Pad Pro. Dilihat dari nama brand yang diusung, barangkali mereka yang pernah berkenalan dengan perangkat modem di era 2007/2008 sudah lebih dulu tahu. Pad Pro, salah satu dari dua alternatif yang dirilis oleh SpeedUp, merupakan perangkat tablet Android termurah di segmen layar 7 inchi, yang mengusung prosesor singlecore 1,4 GHz dan Memory RAM 512 MB (standar perangkat Android murah), plus internal storage 8 GB (shared). Dibandingkan dengan resolusi layar dua punggawa besutan Samsung, layar yang dimiliki oleh SpeedUp Pad Pro sedikit lebih kecil namun sudah mengadopsi jenis kapatitif multitouch.

SpeedUp Pad S1. Berbeda dengan seri Pad Pro yang sudah mengusung Android 4.0 Ice Cream Sandwich, Pad S1 rupanya masih mengusung Android versi lawas 2.3 GingerBread. Meski demikian, dengan harga jual yang sedikit lebih mahal, jenis prosesor yang digunakan sudah jauh lebih baik yaitu Dual Core 1,4 GHz serta penggunaan layar Super Amoled yang mampu memberikan tampilan jauh lebih jernih ketimbang kembarannya tersebut.

Terakhir ada TiPhone TiPad Justin, yang memiliki spek terendah diantara semua alternatif diatas, namun dengan harga jual,yang setara dengan SpeedUp Pad S1. Untuk yang satu ini, meski sama-sama memiliki kemampuan untuk bertelepon dan sms, bukanlah merupakan rekomendasi yang bagus mengingat besaran internal storage yang ada hanya mensupport 4 GB saja.

Nah, jika untuk ukuran layar 7 inchi, kita sudah mendapatkan 5 alternatif pilihan yang ada di pasaran, bagaimana dengan segmen layar 8 inchi ? Tunggu di tulisan berikutnya…

Feature Phone, ponsel standar dalam arti sebenarnya

Category : tentang TeKnoLoGi

Jauh sebelum kemunculan berbagai sistem operasi yang kini menghiasi berbagai ponsel pintar, Feature Phone merupakan satu-satunya pilihan yang dapat digunakan oleh sekian juta pengguna di tanah air maupun dalam skala dunia.
Feature Phone merupakan sebuah perangkat mobile teknologi yang memang tidak dipersiapkan sebagai sebuah perangkat ponsel pintar. Artinya paling minim fungsi utama mobile phone sudah terpenuhi dan siap digunakan untuk bertelekomunikasi. Voice call dan sms.

Di era tahun 2000an awal, beberapa nama besar telah mendahului peruntungan dan menikmati lezatnya kue Feature Phone, yang saat itu hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas. Minimal menengah ke atas. Tidak heran jika pada pemanfaatannya, beberapa pengguna kerap melakukan percakapan dengan nada yang sedikit lebih keras dengan tujuan agar didengar oleh orang disekitarnya.

Feature Phone yang dalam kemunculan awalnya diramaikan oleh nama-nama seperti Motorola, Ericsson atau Nokia, secara perlahan tenggelam seiring hadirnya perangkat pintar bernama PDA (Personal Digital Asisstant) dan media portable player yang diperkuat dengan penambahan sistem operasi untuk menambahkan sejumlah fungsi tertentu sesuai kebutuhan pengguna. Maka hadirlah Symbian, Windows Mobile (kini Windows Phone), iOS, BlackBerry dan tentu saja Android.

Salah satu ciri penting dari sebuah perangkat Feature Phone adalah harga yang terjangkau bagi kantong pengguna. Bisa dijual dengan harga minimum lantaran secara kemampuan bisa dikatakan sangatlah terbatas, meski di masa kini beberapa nama vendor lokal masih tetap menyuntikkan kemampuan multimedia standar seperti kamera, musik, video dan TV Analog.

Berbeda dengan tipikal ponsel pintar, bisa dikatakan teknologi yang disematkan pada Feature Phone dari sejak awal kemunculannya, hampir tidak mengalami kemajuan yang berarti. Selain disuntikkannya kemampuan multimedia standar tadi, beberapa kemampuan lain yang masih dapat dinikmati adalah fitur multi sim card, layar sentuh resitif dan beberapa permainan berbasis Java.

Di tengah serbuan ponsel Android, BlackBerry dan juga iPhone, Feature Phone nampaknya masih tetap mampu bertahan meski gaungnya tak terlalu terdengar. Namun keberadaannya masih tetap diminati sebagai alternatif ponsel kedua. Mengingat ponsel pintar yang ada saat ini kebanyakan memiliki keterbatasan daya tahan untuk digunakan bertelekomunikasi. Biasanya perilaku semacam ini digunakan bagi mereka yang memiliki dua nomor dengan frekuensi yang berbeda. GSM dan CDMA.

Meski begitu ada juga pengguna yang lebih menyukai Feature Phone ketimbang ponsel pintar lantaran kemudahan penggunaan. Kalangan ini biasanya datang dari pengguna yang tidak sempat lagi untuk belajar teknologi ponsel terkini dengan berbagai alasan dan kesibukan.

Melihat adanya celah dan peluang ini, vendor besar seperti Nokia tampaknya masih tetap mengandalkan segmen Feature Phone lewat Asha series untuk pangsa pasar low end atau pemula, yang secara harga jual lebih dapat dijangkau oleh pengguna. Malahan dalam kurun waktu dua tahun terakhir Asha lebih banyak diminati ketimbang Lumia series yang memang menyasar pasar ponsel pintar. Demikian halnya dengan nama besar Samsung yang kini lebih dikenal lewat Android Galaxy seriesnya.

Tak ketinggalan beberapa vendor lokal yang secara kontinyu merilis beberapa seri Feature Phone seperti K Touch, Tiphone, Cross, Elzio, Alcatel hingga Imo. Barisan ponsel lokal yang kami sebut terakhir ini beberapa diantaranya masih setia mengadopsi bentukan perangkat BlackBerry dengan keypad qwerty-nya atau layar sentuh yang lebih banyak ke bentukan iPhone minded. Sementara sisanya kembali ke fitrah awal, batangan dengan layar mini.

Untuk harga yang kami katakan terjangkau, rata-rata Feature Phone dijual di kisaran harga 500ribuan ke bawah. Dengan harga tersebut, beberapa fitur yang sempat kami sebutkan sebelumnya tadi sudah dapat dinikmati plus tambahan kartu memory card yang biasanya hadir dalam paket penjualan. Sementara yang dijual dengan harga sedikit lebih tinggi hingga angka 1 juta rupiah, biasanya ditawarkan dengan beberapa tambahan teknologi tertentu, diantaranya sound dan speaker stereo, tombol akses langsung ke jejaring sosial, games integrated, anti air dan debu hingga layar transparant yang kini ditawarkan oleh vendor Nexian lewat Glaze M9090.

Jadi, jika Kawan sudah mulai merasakan jenuh akibat maraknya pilihan ponsel pintar yang kini banyak beredar, silahkan coba Feature Phone yang jauh lebih terjangkau namun tak kalah dalam adopsi teknologi.