Catatan Akhir Tahun 2012

6

Category : tentang DiRi SenDiri

Mih, gag nyangka sudah menginjak akhir tahun… Gag nyangka juga kalo ternyata sudah setahun pula berusaha eksis nulis di Koran Tokoh dan Blog meski masih suka bolong-bolong…

Gag nyangka kalo InTan putri kedua kami sudah berusia dua bulan… Padahal sepertinya baru kemarin ia lahir dari rahim ibunya… Gag nyangkanya lagi setahun pula masa jabatan fungsional sebagai Sekretaris LPSE Badung dijalani…
Semua berjalan begitu cepat, entah karena semua dijalani dengan enjoy dan santai, sehingga waktu pun berlalu jadi gag terasa…

Akhir tahun 2012 seperti biasa jadi satu momen untuk mengingat perjalanan selama satu tahun terakhir. Meski tak semua mampu diingat, namun setidaknya beberapa diantaranya telah tercatat di blog sebagaimana harapan. Entah apa yang akan terjadi di tahun besok.

Ah, gag nyangka kalo ternyata masa tugas sebagai Sekretaris Panitia Karya Pujawali lan Mesimpen Ida Betara Ratu Gede sudah pula berakhir, padahal beberapa hari lalu masih bertanya-tanya, ‘ntar tugas saya ngapain yah ?

Banyak kesibukan yang saya lewati di tahun 2012, namun semoga saja semua bisa berjalan sesuai rencana. Jadi gag sabar menunggu detik-detik pergantian tahun nanti malam.

So, Selamat Tahun Baru 2013 ya Kawan, semoga semua harapan yang belum terkabul di tahun 2012 kemarin, bisa terkabul di tahun esok.

Tapi ngomong-ngomong, apa yah harapan yang saya pikirkan untuk Tahun 2013 nanti ?

Tetep bisa nulis dengan rutin meski jeda waktu sedikit lebih lama, 3-4 hari sekali… Bisa bersikap lebih adil dan sayang untuk kedua putri saya yang lucu… Makin mesra dengan Istri di tahun ke-7 pernikahan kami… Makin baik dalam menjalankan tugas serta kewajiban, entah itu berkaitan dengan kantor, adat sosial ataupun organisasi lainnya… Dan makin bisa bersabar bagi diri sendiri…

Terlalu muluk ?

Oke, mungkin berharap kalo semua Ormas di Bali bisa dibubarkan, gantung para pemimpinnya, dan semua anggota yang berbadan kekar dan penuh tato, bisa diberdayakan jadi petani. Jadi gag percuma BL tiap hari… He…

Dar Der Dor Jelang Tahun Baru

4

Category : tentang Opini

Ini adalah rutinitas yang mau tidak mau harus kami lalui setiap kali Tahun Baru menjelang. Para kerabat berbondong-bondong menghabiskan uang recehan (begitu istilah yang mereka gunakan) untuk dihambur-hamburkan dalam bentuk kembang api dan petasan dengan besaran dan ledakan yang makin lama makin menghebohkan.

Jika ini dilakukan di H-5 dari perayaan Tahun Baru sih kami masih bisa maklum. Namun jika dilakukan jauh-jauh hari H-20 seperti yang kami alami setiap tahunnya, kira-kira apa masih bisa diterima ?

Untuk melakukan protes terkadang kami malah diserang balik lantaran dianggap tidak memahami keinginan untuk bersenang-senang, jikapun kami diamkan tentu saja itu sangat mengganggu. Karena tidak hanya polusi bagi suara alias bising, namun aksi ngawur itu menyisakan bau yang cukup menyesakkan nafas ditambah sampah kertas yang dibiarkan begitu saja pasca aksi membuat kotor pekarangan rumah. Apalagi ini dilakukan jauh-jauh hari.

Yang makin membuat kami terheran-heran adalah peran para orang tua yang jika boleh dikatakan memiliki usia yang muda dan berpikiran modern, malah mendukung aksi yang dilakukan oleh anak-anak mereka bahkan ikut terlibat didalamnya. Memang sih kami menyadari jika yang namanya toleransi kini hanya tinggal nama saja lantaran tak lagi diajarkan di sekolahan, tapi jangan lantas para orang tua tidak mengenalkannya pada generasi berikutnya.

Selain minimnya rasa kesadaran pada diri sendiri dan lingkungan, ini diperparah oleh kondisi yang berkembang di masyarakat dimana perdagangan kembang api dan petasan seakan tidak terkontrol oleh aparat penegak hukum. Memang bisa saja mereka berdalih ini toh terjadi setahun sekali, namun jika event setahun sekali itu berlangsung selama 20 hari lamanya, siapa juga sih yang tahan ?

Kadang kami berdoa untuk bisa menghentikan mereka dari aksi yang mereka lakukan hanyalah dengan berharap mereka akan merasakan efek jera yang diakibatkan oleh ledakan petasan atau kembang api itu sendiri secara fisik, apakah itu diperbolehkan ?

jika mereka boleh mengganggu orang lain, kenapa tidak dengan kami ?

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934

1

Category : tentang DiRi SenDiri

www.PanDeBaik.com bersama Keluarga mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1934, semoga Bali selalu dalam keadaan Aman, Tentram dan tetap berTolenransi. Mari Jaga Bali bersama-sama baik dari segi kehidupan sosial bermasyarakat maupun selaras terhadap alam. Jangan lupa untuk tetap mentaati Catur Brata Penyepian, dan jika mampu laksanakan Puasa Makan dan Minum selama sehari penuh.
Akhir kata, Selamat menikmati sepinya hari ini dalam hening dan kesucian hati.

Denpasar, 00.01 dini hari, 23 Maret 2012…
www.PanDeBaik.com

Selamat Tahun Baru 2012

4

Category : tentang Opini

Melintasi jalan di seputaran kota Denpasar rasanya seperti berada di tengah medan perang. Letusan Mercon berkapasitas besar tampak saling berpacu seakan ingin meledakkan bumi, dibarengi gebyar kembang api menambah semarak langit yang tampaknya sudah mulai dipenuhi asap berbau mesiu.

Suasana berputar seratus delapan puluh derajat saat kami melintasi jalan di pinggiran Kota Denpasar menuju daerah Kabupaten Badung. Meski sesekali kami melewati dentam dentum musik house yang diperdengarkan dengan sound system mumpuni di balai banjar setempat, sepinya malam seakan menenggelamkan ledakan mercon dan gebyar kembang api yang hanya sesekali terdengar di kejauhan sana.

Aku yakin malam ini adalah malam perputaran uang paling besar di seluruh jagat raya. Katakan saja untuk membeli semua mercon dan kembang api yang bisa didapatkan dengan bebas di pinggir jalan raya sepanjang yang kami lewati sejak tadi. Belum lagi pesta semalam suntuk yang dilakukan di balai banjar, gaung kidung di pura pula gereja tampak ramai dipadati umatnya. Ini baru peronal, belum yang berskala bisnis. Ini adalah kesempatan untuk mendatangkan para artis lengkap dengan diehard-nya sekaligus menangguk untung yang berlipat setahun sekali.

Televisi yang kami nyalakan sesekali memutar kaleidoskop peristiwa yang terjadi selama tahun 2011 ini, dari sudut pandang politik, artis hingga bencana dan intrik lainnya. Sementara kami masih asyik bercanda dan bercengkrama bersama dua keluarga sambil menikmati hidangan ikan panggang yang dibumbui sambal tomat.

Untuk sementara kami sangat menikmati jalanan disepanjang wilayah Canggu, Tuka menuju Sempidi. Musik yang mengalun memang sengaja di set khusus untuk tembang Auld Lang Syne yang dilantunkan Kenny G dalam tiga versi, perlahan tapi pasti kantukpun datang dan menyerang empat orang yang selama ini menghiasi keseharian yang kulalui.

Seakan kembali ke dunia nyata, semua ledakan mercon dan juga gebyar kembang api tampak mulai menghiasi langit malam yang kami lewati. Sepasang muda mudi berjongkok di pinggiran jalan besar asyik menawar dagangan dadakan yang bisa jadi mulai merasakan panen kecilnya malam ini. Sepasang lainnya tampak asyik berpelukan diatas motor seakan melupakan semua mata yang memandang. Lalu lintas pun masih tampak ramai kendati waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Satu pemandangan yang jarang terjadi tentu saja.

Satu persatu pesan sms mulai masuk ke perangkat ponsel. Saling berucap Selamat Tahun Baru 2012 lengkap dengan harapan whislistnya. Meski belum semua sempat terbalaskan, namun harapannya masih sama. Semoga Tahun ini gag jadi kiamatnya.

Sekali lagi, Selamat merayakan Tahun Baru ya Kawan…

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Mengenal Hari Raya Nyepi ; Tahun Baru Caka 1933

2

Category : tentang iLMu tamBahan, tentang Opini

Pagi itu terasa lengang, hari berlalu seakan tak bernafas. Panas terik yang berasa makin menyengat tak pupuskan tawa ceria kami asyik bermain disepanjang jalan.

Nyepi adalah satu-satunya hari yang paling kami nanti saat kecil dulu. Hari dimana kami bisa lepas bermain sejak pagi hingga sandya kala tanpa harus diganggu raungan motor dan laju kencangnya mobil dijalan depan rumah, walau sesekali harus kabur ke segala arah menghindari hardikan para Pecalang yang tampak garang di kejauhan. Malam haripun biasanya kami lalui dengan duduk bersenda gurau dikegelapan tanpa penerangan secuil pun.

Berjalan menyusuri sepanjang jalan Nangka dari ujung Selatan hingga Utara sepertinya tak pernah memberi rasa lelah sedikitpun karena para tetangga selalu siap menyambut kami dengan segelas kopi dan beberapa penganan. Nyepi tidaklah sesepi yang dibayangkan orang.

Hari Raya Nyepi adalah hari  yang dirayakan oleh Umat Hindu setiap kali mereka menyambut Tahun Baru yang disebut pula sebagai Tahun Baru Caka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (kesembilan) yang dipercaya merupakan hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi atau senyap). Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun Baru lainnya,  Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Udara Internasional, Rumah Makan, Perhotelan (dalam teorinya namun tidak dalam prakteknya) namun tidak berlaku untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuwana Agung/macrocosmos/alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena pantai  atau danau merupakan sumber air suci (tirta amerta) yang diharapkan dapat menyucikan segala leteh/mala (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Sehari sebelum Nyepi yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang kesembilan), umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (sesajian) menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya ini masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang) dan Tawur Agung (besar).

Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Bhuta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama kesepuluh), tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan(tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu,  juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Caka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada “pinanggal ping kalih” (tanggal 2) sasih kedasa (bulan kesepuluh). Pada hari ini Tahun Baru Caka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932

6

Category : tentang KeseHaRian

Tak terasa setahun sudah terlewati, tahun dimana begitu banyak hal yang terjadi dan ditumpahkan, baik dalam lingkup keluarga besar hingga personal. Demikian pula halnya dengan Umat Hindu. Setahun penuh dilewati dengan berkarya dan ber-yadnya.

Di tahun baru Caka inilah, umat Hindu dimanapun mereka berada dengan gembira menyambutnya dengan kesunyian alam atau dikenal dengan Hari Raya Nyepi. Satu hari dimana umat Hindu menerapkan empat pantangan yang tak boleh dilakukan. Amati Geni (tidak menyalakan api –termasuk cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan apapun), Amati Lelungan (tidak bepergian kemana-mana) dan Amati Lelanguan. Kembali pada titik Nol, kata orang. Bisa juga diartikan kembali pada pikiran yang kosong setelah selama setahun dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Nyepi merupakan salah satu hari yang disucikan oleh Umat Hindu,  dimana selama proses Hari Raya Nyepi ini biasanya Umat Hindu melaksanakan Tapa Brata atau berpuasa, dari tingkatan paling rendah 12 jam, 24 jam hingga 36 jam. Tidak makan dan minum dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Agama. Namun jangan salah sangka, tujuannya bukanlah menghapus dosa, namun menenangkan pikiran dan kembali ketitik Nol tadi. Titik dimana Umat Hindu akan memulai hari dengan aktifitas yang semestinya ia laksanakan.

Sayangnya belakangan sebagian Umat Hindu tak lagi mampu melaksanakan kewajibannya tersebut, dan memanfaatkan proses Hari Raya Nyepi untuk mabuk-mabukan, berjudi (maceki) dan saling mengunjungi antar keluarga. Ada juga yang kebablasan memasak dan menyiapkan makanan secara berlebihan atau memborong isi swalayan seakan-akan kehidupan akan terhenti sejak saat itu. Tentu saja harapan saya jangan sampai sejauh itu.

Nyepi saya rasa sama saja dengan hari yang lain, hari yang sama sekali tak patut kita khawatirkan, lain hal apabila ada kerabat yang meninggal atau malah kelahiran anggota keluarga baru. Hari yang sama, kurang lebih begitu. Hanya saja, khusus satu hari ini, kita sebagai umat Manusia kembali berserah pada alam, pada-Nya, pada yang menciptakan seisi bumi ini. Kita sebagai umat manusia diharapkan dapat sedikit merenung akan apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan berharap esok akan kembali menjadi lebih baik lagi.

Bagi mereka yang mengenal dunia maya, apalagi yang melakukannya hanya sebatas hobby, entah nge-BLoG, tweet atau FaceBook-an, saya rasa bisa saja khusus pada satu hari itu tidak melakukan aktifitasnya, tidak terkoneksi dengan internet, tidak update status atau update tulisan dan lain-lain. Kira-kira bisa gak ya ???

Bagi sebagian lainnya, Nyepi bisa jadi kemudian menjadi inspirasi. Lahirnya ‘World Silent Day’, satu hari dimana dalam selama 4 (empat) jam, kita sebagai umat manusia diharapkan berkenan menghentikan segala aktifitasnya. Untuk memberikan ruang bagi alam dan kesunyiannya. Tidak jauh berbeda bukan ? namun hanya untuk 4 (empat) jam saja.

Selamat Tahun Baru Caka 1932, Selamat merayakan Hari Raya Nyepi bagi seluruh Umat Hindu khususnya dan Umat Manusia umumnya. Semoga ditahun yang akan datang kita sebagai Umat-Nya mampu berbuat jauh lebih baik lagi dari hari ini.

Salam dari PuSat Kota Denpasar, PanDe Baik beserta keluarga.

Mari Berbenah Diri

9

Category : tentang DiRi SenDiri

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2010 yang baru saja kita jelang bersama. Banyak hal yang terjadi di masa lalu, masa dimana semua keprihatinan itu muncul dipermukaan, secara nasional hingga personal. Entah apakah hari esok semua itu masih akan tetap kita nikmati…

Persoalan yang timbul bisa jadi merupakan buah kelalaian kita terhadap sesama dan lingkungan. Bisa juga karena kurangnya kesadaran pada diri sendiri masing-masing karena yang namanya ego selalu berusaha dikedepankan. ‘Jika saya belum merasa puas, mengapa harus peduli dengan orang lain ?’

Satu persatu ketidakadilan itu dirampas dari yang seharusnya berhak memilikinya. Untuk melegalkan apa yang dilakukannyapun kebohongan demi kebohongan terus didoktrin pada mereka yang belum mampu menentukan sikapnya sendiri. Maka terpecahlah semua berkeping-keping.

Hari ini adalah awal dari ratusan hari berikutnya yang akan kita jalani, entah suka ataupun duka yang nantinya akan didapat. Semua bergantung pada sikap dan tentu saja keputusan-Nya yang takkan bisa kita tebak. Sudah semestinya kita berbenah. Jangan berharap orang lain akan memulainya lebih dulu, karena jika bukan diawali dari diri sendiri harus menunggu siapa lagi ?

Berbenah diri. Sederhana namun tak sesederhana bayangan kita. Menyadari sikap dan ego yang barangkali dahulu lebih kita utamakan ketimbang kepentingan bersama adalah hal yang sulit dilakukan. Hal itu tak akan bergantung pada tingkat intelegensia seseorang, pendidikan ataupun usia. Karena nyatanya masih banyak yang bersikap seperti anak kecil, ‘jika masih memungkinkan milikmu adalah milikku tapi milikku ya milikku sendiri, kalian ga’boleh ganggu…’

Demikian pula dengan privacy dan toleransi. Seakan dinegara ini sudah tak ada lagi dua hal tersebut. Semua ditabrak demi mendapatkan apa yang diinginkan. Entah demi materi ataukah rating sebuah tayangan, bisa juga klaim atau pendapat orang pada diri mereka.

Sudah saatnya kita berbenah, dimulai dari diri sendiri. Apalagi bagi mereka yang kini masih harap-harap cemas menanti hari kiamat 2012, sudah seharusnyalah berpasrah diri pada-Nya, menyerahkan pada mereka yang sudah semestinya menjadi hak, jangan hanya kewajiban saja yang mutlak dituntut untuk dipenuhi. Namun jika kesalahan itu terjadi dua kali, karena kita tak mau belajar dari pengalaman masa lalu, dan tetap mendongak keatas seakan tak ada lagi yang memiliki kemampuan lebih, bolehlah kita lupakan mereka.

Mari kita berbenah diri, jangan hanya bicara saja…