Mengintip Ogoh-Ogoh Tahun 2012 seputaran Kota Denpasar

9

Category : tentang KeseHaRian

Disela terjangan angin kencang disepanjang jalanan seputaran Kota Denpasar, aku mencoba menyisihkan sedikit waktu sepulang kerja untuk mengintip lebih dulu para peserta Lomba Ogoh-ogoh Tahun 2012 yang sepertinya sudah siap untuk diarak 23 Maret nanti. Dari sembilan Banjar besar yang kulalui, hanya tiga yang tidak ikut dalam perhelatan Lomba kali ini. Banjar TampakGangsul, Banjar Kayumas Kaja dan Kaliungu Kaja.

Berdasarkan pengamatan, bahan baku Gabus rupanya jauh lebih menarik untuk digunakan dalam mengemas sosok Ogoh-ogoh tahun ini. Bisa jadi lantaran kemudahannya dalam membentuk badan, otot serta penampakan wajah, dan juga kecepatan pengerjaan dibanding menggunakan ulatan keranjang dan kertas semen seperti yang masih dilakukan oleh Banjar Langon jalan Arjuna. Sayangnya segala kemudahan ini seakan sirna jika kita ingat bahwa Gabus bukanlah bahan material yang ramah lingkungan.

Meski demikian, secara performance semua Ogoh-ogoh yang saya pantau memiliki kualitas pengerjaan yang mantap dan memuaskan, sehingga mereka semua layak untuk dipertaruhkan dalam ajang Lomba dan parade Ogoh-Ogoh tahun 2012 ini. Namun memang belum semua sosok yang dapat saya abadikan dalam gambar kali ini. Mungkin bisa menyusul sebelum Hari Raya Nyepi nanti. Beneran Bisa gag yah ?

Ogoh-ogoh Banjar Taensiat

Ogoh-ogoh Banjar Titih

Ogoh-ogoh Banjar Gemeh

Ogoh-ogoh Banjar Kaliungu Kelod

Mengenal Barong Landung

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Lima sosok tinggi besar itu tampak berjalan beriringan ditengah keramaian umat Hindu yang berjejal, beradu padu suara gambelan Batel, saat matahari masih bersemu merah diujung timur sana.

Barong Landung. Merupakan salah satu wujud susuhunan yang dikeramatkan oleh umat Hindu di Bali, dipuja sebagai simbol sejarah yang sangat kelam di masa lalu.  Sebuah Pralingga sekaligus perisai bagi desa-desa yang terancam kegeringan. Ditarikan sepanjang jalan desa dengan harapan dapat menimbulkan energi gaib, semacam tenaga baru, seperti yang dilakukan Dewa Siwa dengan tarian dandawa-nya untuk mengembalikan roh kehidupan.

Ada banyak versi cerita yang dapat diungkap untuk mengetahui sejarah keberadaan Barong Landung di tanah Bali. Salah satunya seperti yang diceritakan oleh Pande Ketut Wena (BaliPost/2005).

“Bersumber pada kisah Sri Jaya Pangus, raja Bali dari dinasti Warmadewa, dimana kerajaannya berpusat di Panarojan, tiga kilometer di sebelah utara Kintamani yang dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei. Meski tidak mendapatkan berkat dari pendeta kerajaan, Mpu Siwa Gama, sang raja tetap ngotot tidak mau mundur. Akibatnya, sang pendeta marah, lalu menciptakan hujan terus menerus, hingga seluruh kerajaan tenggelam.

Dengan berat hati sang raja memindahkan kerajaannya ke tempat lain, kini dikenal dengan nama Balingkang (Bali + Kang), dan raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini, Maya Danawa.

Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.

Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri — Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei — itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.”

Akan tetapi Barong Landung ternyata lebih dari sekadar kisah sejarah. Ia bukan saja perkawinan lahiriah, tetapi juga budaya. Pernik-pernik budaya Cina seperti pis bolong, patra cina, barong sae, telah lama dikawinkan dengan budaya Bali, bahkan dalam bidang filsafat telah pula melahirkan paham Siwa Budha yang terus memperkaya tradisi agama Hindu sampai sekarang di Bali.

Barong berasal dari Tatwa Kanda Pat Bhuta, tepatnya adalah duwe dari Sang Catur Sanak yang mengambil wujud rwa bineda, dua sifat yang berbeda dari laki-perempuan, siang-malam, panas-dingin, dan sebagainya. Yang cair misalnya, kalau dipanaskan oleh api akan menguap ke langit (I Bapa), sedangkan api akan mengendap ke bumi (I Meme). Langit sendiri akan menurunkan hujan untuk menyuburkan bumi dan melahirkan kehidupan.

Kemungkinan besar Barong Landung adalah perwujudan I Bapa dan I Meme. I Bapa sebagai langit diwujudkan dengan warna hitam (Jro Gde), simbol dari Dewa Wisnu yang memelihara dunia, sekaligus Dewa Air yang menghanyutkan segala noda dunia, dan menjadi tirta penglukatan bagi umat manusia. Sedangkan I Meme atau Ibu Bumi (Jro Luh) berwarna putih sebagai Iswara yang sering juga disebut Siwa, maha pelebur segala noda sekaligus sebagai tempat penciptaan. Jadi, Jro Luh adalah Ibu Bumi yang mengandung, memelihara, dan akan mengembalikan lagi isi dunia ke dalam perutNya ketika waktunya telah tiba.

Dalam Barong Landung, undagi sepertinya sengaja membuat wujud yang sangat menyeramkan dengan harapan dapat mengimbangi kedahsyatan roh-roh jahat yang sering mengganggu kehidupan di desa-desa. Barong Landung bukanlah sekadar penghias pura, ia adalah duwe dengan segala perwujudannya yang sangat keramat. Dibuat pada dewasa ayu kilang-kilung, dari kayu bertuah seperti pule, jaran, waruh teluh, kepah, kapas, dan “dihidupkan” dengan ritual prayascita serta di-plaspas untuk menghapuskan papa klesa secara sekala niskala. Di sini, ia pun diberi pedagingan berupa perak, emas, dan tembaga, juga pudi mirah (sejenis permata) yang dipasangkan di ubun-ubun lengkap dengan rerajahan-nya — ang, ung, dan mang.

Jro Gde atau yang kami kenal dengan sebutan Ratu Gede, memiliki tubuh hitam, rambut lurus lebat, mata sipit, gigi jongos, dan memakai keris. Sedangkan Jro Luh bertubuh ramping, putih seperti layaknya wanita Cina, dan memakai kebaya Cina. Kedua tangan kiri barong ini ditekuk ke pinggang, yang oleh pengamat kebatinan diyakini sebagai sikap pengendalian diri, mengingat kiri sama artinya dengan pengiwa. Lawan pengiwa adalah penengen — tangan kanan, yang sengaja dibuat lurus sebagaimana jalan kebenaran.

Di beberapa tempat di Bali (salah satunya lingkungan kami, Banjar Taensiat) ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur, Patih dan sebagainya. Selain sebagai Sesuhunan dan dipuja secara berkala, Barong landung terkadang juga dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung) dan diiringi dengan gamelan Batel.

Barong Landung yang ada di lingkungan kami berjumlah 5 (lima), dipuja setiap rahinan Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali. Secara berkala melakukan perjalanan (istilahnya Melancaran)  keliling desa dengan harapan seperti yang telah dipaparkan diatas, serta melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang disucikan seperti Beji dan Pasih (pantai) sebelum Hari Raya Nyepi dan juga Pura Dalem BonKeneng (jalan Ratna) setiap rahinan Manis Kuningan.

Kebakaran (lagi)

2

Category : tentang KeseHaRian

Baru kemarin malam, pulang dari mejenukan ke daerah Pagan, menawarkan pada kedua ortu untuk mencoba makan masakan ikan bakar yang berada dekat rumah, namun keputusan mereka membuat kendaraan berbelok ke Depot Rama, yang menyajikan masakan China. Besok-besok deh, nyobain ikan bakarnya.

Belum juga hilang dari ingatan penduduk setempat dilingkungan rumah, akan musibah kebakaran di jalan Yudistira lalu, eh dini hari tadi dikejutkan kembali oleh sirene pemadam kebakaran melintas didepan rumah yang melengking memecah kesunyian pagi.

Tempat makan yang ditawarkan kemaren itu, tepatnya berlokasi didepan gang XI Jalan Nangka, sebelah utara rumah penulis, terbakar dan baru siang harinya berkesempatan melihat langsung dari dekat.

kebakaran-nangka.jpg

Dari kondisi yang tersisa, kebakaran yang terjadi tampaknya tak terlalu besar, bila dibandingkan dengan kebakaran Yudistira kmaren, karena sekat bambu yang mengitari tempat makan, tak tersentuh oleh api. Kemungkinan dipicu oleh sisa-sisa bakaran di pojokan tenggara lokasi, dan bisa dengan cepat diketahui. Hmm.. mungkin esok pagi baru bisa baca cerita lengkapnya di media.