CeriTa PenDek PanDe Baik ke-Dua yang tercecer

4

Category : tentang KeseHaRian, tentang PLeSiran

FLu Batuk yang hadir dalam hari-hari saya liburan Idul Adha lalu, akhirnya memaksa saya untuk beristirahat sejenak dirumah, demi mengembalikan stamina dan kesehatan. Yah, sehari usai liburan saya memang sempet nekat ngantor berhubung kegiatan banyak yang numpuk, tapi sial… angin yang berhembus dari lobang jendela mobil tak ber-ac malah membuat batuk makin menjadi. Kondisi drop ditambah pengaruh obat dokter, lumayan memaksa saya untuk tetap berkonsentrasi penuh pada jalanan, sambil berharap semoga saja saya bisa melewati hari ini dengan baik.

Memutuskan untuk beristirahat memang ide yang baik. Tapi duduk bengong tanpa ada satupun kesibukan, saya jamin bukan ide yang baik. Walaupun hujan deras diluar membuat suasana makin adem kalo dilewatkan dengan tiduran. Saat begini dipaksakan untuk ngulik Thesis kok malah gak konsen (he… ini sih pembenaran sepihak saja), jadilah saya mencoba membayar hutang posting yang saya tinggal beberapa waktu lalu gara-gara kesibukan kantor.

Lagi-lagi FLu Batuk yang menjadi kambing hitam atas mentoknya ide dan kata-kata yang biasanya mengalir untuk menjadikan sebuah ide menjadi posting. Yah, kanggoang gen be, semua cerita dirangkum jadi satu, sebisa saya dan sesuka saya saja. Ha…. Melanjutkan CeriTa PenDek tempo hari. Ini bagian ke-Dua.

***

Menjamurnya baliho yang menampilkan wajah narsis CaLeg sebenarnya sudah pernah dibahas oleh beberapa rekan blogger lengkap dengan ceritanya sendiri. Intinya, tindakan para Caleg itu dibenarkan karena mereka memang BELUM sepenuhnya dikenal oleh masyarakat yang mereka pikir merupakan potensi besar sebagai lumbung suara dukungan. Yah, kali aja ada yang bersedia mencoblos hanya karena terpukau wajah ganteng/cantik yang sudah dipoles dengan bantuan Photoshop.

Namun memang ada baiknya para Caleg yang ingin menempatkan baliho permohonan dukungannya itu survey terlebih dahulu, ditempat atau lokasi mana saja bakalan dipasang. Jangan sampe, wajah guanteng para Caleg berdampingan dengan iklan XL yang menampilkan si Monyet Guanteng. Seperti yang terlihat di pojokan jalan Desa Canggu menuju Tanah Lot.

Bahkan ada pula satu baliho yang barangkali saja merupakan tandingan iseng-iseng belaka, gara-gara kecewa dengan figur para Caleg, sehingga dengan tulisan yang jelas terbaca, meminta meminta masyarakat agar tak memilihnya. Foto ini diambil di Pertigaan banjar Gadon, sebelah barat Pasar Pengosari Kerobokan.

***

Maraknya penampilan Baliho disepanjang jalan seantero kota Denpasar juga Badung, membuat dua ekor pegawai yang punya niatan jahil, langsung saja mempermak foto yang tak kalah guanteng seorang rekan kantor, untuk diedit menjadi sebuah permohonan ‘doa restu’ ala Caleg. Hanya saja kali ini yang disasar bukan posisi empuk Wakil Rakyat, tapi posisi Kepala Seksi / Kepala Bagian untuk tahun depan. Kali aja ada rekan lain yang mau mendukung. He….

***

Proyek Pemerintah dalam image yang terbayang dimata masyarakat adalah duit yang masuk kantong pribadi dan hasil pekerjaan yang tak sesuai dengan harapan.

Saya katakan demikian setelah melihat dari hasil pekerjaan pembuatan Trotoar dengan style ’baru’, yang mencoba membuat licin jalur pejalan kaki ini dan mengecatnya dengan warna hijau. Entah apa maksudnya. Belum lagi sudut elevasi penurunan yang cenderung menyusahkan para penggunanya. Padahal disitu terlihat jelas ada ubin berwarna kuning yang diperuntukkan bagi para tuna netra dan juga pemakai kursi roda. Perbedaan ketinggian antar level juga jadi masalah, jangan-jangan kaki pengguna Trotoar malah terantuk dan terjatuh.

Begitu pula dengan pemandangan yang ada disepanjang jalan Kamboja. Ada saja perbaikan yang dilakukan, padahal penyelesaian proyek belum berselang lama.

***

Survey beberapa ruas jalan yang semingguan ini saya lakukan merupakan faktor utama pemicu menurunnya kondisi saya hari ini. Bukan apa-apa, tapi survey dilakukan bukan dari belakang meja, tapi beneran turun dan berjalan kaki di lokasi. Selain melihat langsung kerusakan yang ada, sekalian juga mencatat dan memperkirakan penanganan apa saja yang harus dilakukan.

Dari grafis peta diatas, empat kotak yang berwarna biru, adalah ruas jalan yang sudah saya survey dan dituangkan dalam bentuk gambar perencanaan plus berapa anggaran biaya yang diperlukan. Satu kotak kuning, adalah lokasi terakhir yang saya survey, namun lantaran kondisi yang drop duluan, belum sempat saya tindak lanjuti hasilnya.

Dua kotak merah, merupakan area tugas saya untuk melakukan pengawasan pekerjaan oleh Rekanan. Satu berada pada ruas jalan Pipitan-Tuka dimana kampung Istri berada, satu lagi pada area konflik terkini, yaitu Dewi Sri. Ha….

Diantara sekian ruas yang menjadi tugas serta kewajiban saya akhir tahun ini, barangkali hanya dua ruas saja yang paling berkesan di hati.

Pertama yaitu Perumahan Dalung Permai. Menjadi berkesan karena saya masih mengingat imagenya sebagai ’Kota Satelit’ seperti yang didengungkan sepuluh tahun lalu, kenyataannya malah jauh dari kata asri dan nyaman untuk ditempati. Mengingat jalan yang berlubang, sapi berkeliaran, rumput tumbuh tak terurus, kawasan hunian yang kumuh dan penuh sampah, bahkan areal kosong yang sedianya diperuntukkan sebagai Fasum/Fasos kawasan setempat, dialihfungsikan menjadi pertokoan.

Kedua tentu saja ruas jalan Munggu-Seseh. Menjadi berkesan, karena ini merupakan jalur nostalgia saya secara pribadi jaman masih pacaran dahulu dengan mantan pacar yang kini menjadi Istri saya. Ha…. baru Ketahuan kalo PanDe Baik pacarannya di Pantai Seseh ya….

***

> PanDe Baik mengetikkan posting ini saat memutuskan untuk beristirahat dirumah akibat batuk flu yang krodit. Daripada bengong ya nge-BLoG saja…. <

Salam dari Pusat KoTa Depasar

CeriTa PenDek PanDe Baik yang tercecer

9

Category : tentang KeseHaRian

Image PNS di mata awam saya akui memang tak menyenangkan. Mulai dari tukang bolos, selingkuher yang hobi nyari short time, sampe amplop all the way gak peduli masyarakat yang hanya sekedar mencari informasi hingga rekanan pemborong. Tapi saya yakinkan lagi pada teman-teman yang masih sempat mampir ke BLoG saya ini, PNS itu tak semuanya begitu. Kata orang pintar jaman dulu, itu hanyalah OkNum.

Penat dengan semua itu, saya yang sudah kadung terjun dan menikmati hidup sebagai seorang abdi negara lebih memilih ‘jalan-jalan’ saja. Disini tentu berbeda maksudnya dengan para selingkuher yang saya sebutkan disini. Karena ‘jalan-jalan’ yang saya maksud adalah ‘Survey kondisi ruas jalan dibeberapa lokasi sesuai dengan perintah tugas yang diberikan kepada saya. Beneran jalan kaki, untuk mengukur panjang ruas jalan serta mencatat setiap kerusakan permukaan jalan untuk dicarikan solusi penanganannya.

Oh ya, berhubung saya menganggapnya ini adalah bekerja sambil ’jalan-jalan’, disela aktivitas saya mencatat dan mendokumentasikan ruas jalan, sesekali saya pun memanfaatkan kesempatan untuk mengabadikan sesuatu yang nantinya dapat menjadi suatu cerita dalam BLoG saya ini. Berikut beberapa yang tercecer dibulan November lalu.

Jalan kami hancur lebur !!!

Komentar diatas kerap naik pada media cetak lokal baik pada berita seputar Badung maupun forum pembaca via Radio yang dicatat dan dipublikasikan. Ternyata setelah kami (tim terdiri dari 3-4 orang : PanDe Baik, Bli Oka ParMana, Pak Ketut NaDi dan additional player hihihi…. Wayan Susanta) turun kelapangan, eh beneran ada yang hancur. Tapi gak lebur dan gak sepanjang ruas jalan tersebut. Artinya dari sekian kilometer panjang ruas jalan, ada beberapa titik yang kondisinya tampak seperti pada foto yang saya abadikan berikut :

Memang sih orang/masyarakat berkomentar itu tidak salah, tapi dengan kalimat ‘jalan di ruas anu Kabupaten Badung Hancur Lebur’, kami selaku pegawai yang berada dibawah naungan Dinas Bina Marga kadang merasa terlecut untuk berbuat jauh lebih baik lagi saat perbaikan/penanganan dilakukan. Sayangnya memang seperti yang saya katakan tadi, gak semua pegawai punya pikiran begitu. Ada yang memanfaatkan kesempatan untuk mencuri sedikit volume pekerjaan, bekerja sama dengan pelaksana di lapangan, tentu tujuannya ya memperindah rumah sendiri. Paling ndak semua keinginan dapat terkabul, padahal kalo beneran ngandelin gaji dan tambahan bulanan ya gak bakalan bisa. Boro-boro membangun rumah berlantai 2, untuk beli susu anak aja barangkali masih kurang kok.

Makanya saya pribadi gak menyalahkan kalo kerusakan seperti dibawah ini kadang terjadi pada ruas jalan tertentu yang baru saja selesai diperbaiki dan diperbaharui. Karena dengan mengurangi kualitas atau kuantitas pekerjaan sedikit saja, itu artinya harus bersiap mengurangi umur pekerjaan tersebut. He… kalimat tadi saya kutip dari Instruktur Pelatihan Pemeliharaan Jalan Raya waktu di Hotel Sahid.

Rumahku Banjiiiirrrr….. !!!

Kehebohan banjir yang melanda seantero Denpasar dan Badung beberapa waktu lalu, lantaran hujan lebat selama 3 hari, sempat naik cetak di media lokal. Bahkan salah satu lokasi Proyek yang paling saya anggap fenomenal yaitu Dewi Sri Kuta, sempat nongkrong dihalaman pertama paling atas pula di salah satu media paling kritis ada pemerintah. Entah karena akibat ketololan saya diwaktu lalu hingga media tersebut sontak emosi tinggi.

Tapi ternyata banjir yang terjadi di Dewi Sri malah ’gak ada apa-apanya’ dibanding kawasan Perumahan DaLung Permai. Ini terjadi disekitar blok ZZ dimana air masuk kedalam rumah penduduk hingga setinggi pinggang rang dewasa. Gak heran, saat kami turun ke lokasi, pemandangan seperti dibawah ini banyak ditemui.

Tempat penampungan sampah ? Bukan. Ini pemandangan berjemurnya barang-barang perlengkapan rumah tangga hingga sarana sekolah putra putri mereka.

Apa Kabarnya Tower di Badung ?

Saat kami ‘jalan-jalan’ pada ruas Pakuaji Mengwi yang mengitari obyek wisata Taman Ayun, selain menemukan kerusakan jalan di beberapa titik, saya sempat terheran dengan tiga tower komunikasi yang berada dalam jarak radius berdekatan. Masih bersyukur bahwa Tower tersebut ternyata berada bukan pada daerah pemukiman penduduk seperti halnya tower yang ada disebelah rumah.

Eh, ngomong-ngomong heboh perihal perencanaan Tower Seluler di Badung udah selesai apa belum ya ? sepertinya media yang tempo hari kerap menurunkan berita ini tak lagi heboh seperti pada awal pemberitaan. Ah, barangkali berita pemberantasan anjing liar jauh lebih menjual. Hehehe….

Bunga Bangkai tak hanya di Kebun Raya Bedugul

Entah ada unsur niskalanya ataupun memang bunga yang katanya kalo tumbuh besar jadi berbau bangkai ini hare gene udah mulai merambah kemana-mana, kami menemukan pula di ruas jalan Petang – Carangsari. Kebetulan ruas tersebut baru saja selesai ditangani.

Bunga Bangkai yang kami temukan ini masih kuncup dan kecil. Saat saya nekat mencoba mencium baunya pun belum beraroma busuk. Kata penduduk sekitar situ, bunga bangkai ini kerap hadir di sekitar desa mereka. Hanya saja bagi mereka, pohon tersebut bukan bunga bangkai. Mereka malah menyebutkan sebuah nama yang (maaf) saya tak bisa mengingatnya hari ini. Tapi diluaran jenis ini ternyata disebut sebagai bunga bangkai tadi. Hahaha…. saya jadi berkhayal, barangkali penduduk di pedesaan Bali malah sudah lama mengenal bunga bangkai tumbuh disekitar mereka. Hanya namanya saja yang berbeda. 🙂

Merasakan nikmatnya makan siang ala Petani

Siapa bilang makan enak itu harus di rumah makan mewah ? bagi kami (tim yang turun survey) malahan kata ’enak’ itu ada pada lokasi sekitar sawah. Maunya sih kami menikmati makan siang di tengah sawah, hanya karena waktu yang terbatas maka rencana tersebut diubah jadi pinggiran sawah saja.

Tapi memang sih, makanan yang dibeli dan dibungkus untuk dimakan usai kami mensurvey satu ruas jalan ini gak asing ditelinga. Bahkan pernah saya tampilkan menjadi salah satu posting di BLoG ini pula. Nasi Be Guling SapiSial (baca: spesial). Spesial disini lantaran isi daging sebagai teman nasi hanyalah lawar dan kulit guling. Tanpa ada unsur daging lainnya. Hahahaha…. Siapa bilang makan di tepi sawah itu gak nikmat ?

> PanDe Baik saat menuliskan uneg-uneg ini masih dalam kondisi kecapekan usai pulang kampung. Ditemani oleh celotehan putri saya MiRah GayatRiDewi yang ternyata lagi ngigau. Hehehe…. <

Salam dari Pusat KoTa Depasar