Pracasti Pande (Bagian 10 – Turunan Pande Bratan terpencar)

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

TURUNAN PANDE BRATAN TERPENCAR

Pada suatu hari beberapa orang rakyat Ki Pasek Kayu Selem dan Batur menjajakan dagangan melalui desa Bratan. Sesampai disana matahari telah terbenam, hari siang berganti malam, dan mereka menginap di Desa Bratan. Yang menjadi pemimpin desa Bratan ketika itu adalah I Gusti Pande Bratan yang seharusnya bertanggungjawab dengan Keamanan desa dan melindungi orang pendatang yang menginap, supaya desanya tidak ternoda bila penginap itu mendapat bencana didesanya.

Tetapi agaknya mendapat cobaan dari Tuhan dan kutuk dari kawitannya Bhagawan Pandya Bhumi Cakti, maka I Gusti Pande Bratan timbul keangkuhannya, mabuk karena berasa diri kuat, tidak ingat dengan tata susila dan tata tertib adat desa. Maka disambutnya orang-orang niaga yang minta menumpang bermalam disana dan merampas barang-barang perniagaannya. Hal sedermikian itu acap kali dilaksanakan untuk mendapat keuntungan secara mudah.

Ki Pasek Batur tidak tertahan marahnya mendapat laporan berita yang mengecewakan itu, lalu memerintahkan oranmemukul kentongan desa, agar orang desa dan sanak keluarganya bersiap dengan senjata untuk datang ke desa Bratan menghukum orang Bratan yang suka melakukan karma.

Beberapa lama kemudian gemuruhlah orang-orang Batur datang lengkap dengan senjata, diantaranya Ki Pasek Batudingding, Ki Pasek Kayu Selem, Ki Pasek Cempaga, Ki Pasek Celagi Manggis, Ki Pasek Babalangan, Babandem, Poh Tegeh dan Pulasari, semua telah bersiap akan menggempur Pande Bratan. Setelah mendapat perintah mereka serempak berjalan menuju desa Bratan.

Setelah tiba ditempat yang dituju, maka terjadilah perkelahian yang sangat sengit diantara Pasek Batur dengan Pande Bratan. Perkelahian ini berlaku sehari penuh, sama-sama pantang mundur, tombak-menombak, tikam-menikam dengan keris dan pedang.  Disela-sela suara bedil, bangkai bergelimpangan tidak memilih tempat.

Akhirnya tidak kuatlah warga Pande Bratan bertahan, karena musuhnya sangat lebih banyak dan rakyatnva banyak yang  meninggal dunia. Sedang yang luka parah, semua menyesalkan perbuatan Pande Bratan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu. Yang masih hidup segera berlari bersama anak isterinya serta membawa kepunyaannya seberapa yang dapat dibawa olehnya tersebar menuju desa lain.

Diantara warga Pande yang masih hidup segera lari pergi ke Taman seraya membawa “Pustaka Bang” yaitu Empu Djanggarosa. Pande Sarwadapindah ke Desa Kapal, Arya Pande Ramaya berasrama di Kawicunya, Empu Tarub pindah ke desa Marga, Arya Pande Danuwangsa pindah ke desa Gadungan, Arya pande Swarna pindah ke Buleleng menghamba kepada Ki Ngurah Panji Alot.

Arya Pande Tonjok pindah ke Panasan Klungkung, ada pula ke Tusan dan ke Badung. Arya Pande Karsana pindah ke Badung, Arya Pande Ruktya pindah ke Bangli, dibawa arca kawitannya dua buah, saudara sepupunya pindah ke Samu. Warga Arya Pande Bratan tidak boleh mengatakan ming tiga (bersaudara tingkat tiga sepupu) atau lebih, sejauh-jauhnya ming dua (mindon). Dinasehatkan tidak boleh lupa terhadap sanak keluarganya, bila lupa akan dikutuk oleh Bhatara di Penataran Arya Ida Wana yang menetap didesa Bajan menjadi undagi.

Tidak diceritakan panjang tentang para warga Pande itu masing-masing, hanva diceritakan di sini Empu Tarub yang berasrama di Marga, melakukan yoga di Penatarannya pada hari Tumpek Kuningan. Sedang hari tanggal (Cuklapaksa), menyembah (ngaturang bakti) pada kawitannya, maka ada  didengarnya sabda Bhatara dernikian.

“Hai puyutku, janganlah engkau bersedih terhadap kemelaratanmu ini, semua adalah kutuk Tuhan menurut karmapalamu sebagal keturunan brahmana yang berlaku jahat membunuh orang (naramangsa). Dan yang kamu bunuh itu adalah sanak saudara sendiri, turunan Pasek Batur, satu kawitan engkau dengan Warga Pasek, sebab mereka itupun keturunan Brahmana dari Empu Ketek kakak dari Empu Brahmaraja Kapandyan.

Kemudian blia engkau membangun yadnya suka atau duka sebaiknya jangan mempergunakan tirta Brahmana, beritahukanlah hal ini kepada  saudara turunanmu,  maksudnya supaya engkau sendiri jangan lupa kepada Dharma Kepandaian, terutama kepada brahmana pencipta alam ini.

Dan apabila engkau bermaksud bakti kepadaku, pada waktu Tumpe­k Kuningan, sembahlah aku dari “Pahibuhan”mu ini dengan hati suci bersih, suatu tanda engkau ingat padaku, aku puyutmu Empu Brahmana Dwala.”

Tidak diceritakan lebih lanjut halnya Empu Tarub di desa Marga telah menurunkan keturunan anak cucunya, dan tidak lupa dengan nasehat kawitannya yaitu tetap bakti kepada Tuhan dan leluhurnva, berkasih-kasihan dengan dengan masyarakat desa, setia kepada perjanjian, sehingga masyarakat desa sangat cinta kepadanya.

Kini diceritakan halnya Arya Pande Ruktya di Bangli tetap setia memegang pekerjaan pandai mas dan perak. Waktu itu yang berkuasa di Bangli ialah I Gusti Praupan dan I Gusti Dauh Pamamoran. Entah berapa tahun lamanya memegang kekuasaan maka saat Bangli digempur oleh I Dewa Tirtarum yang bergelar I Dewa Pamecutan disertai oleh para adik-adik bellau yaitu I Dewa Pring yang pindah di desa Braslka dan I Dewa Pindi yang berpurl di Pagesangan. Dalam pertempuran ini I Gusti Praupan tewas ditikam dengan keris yang bernama Ki Lobar.

I Gusti Dauh Pamamoran lari terus pindah ke Camanggawon dikuti oleh Arya Pande Ruktya dan sanak saudaranya Arya Pande Likuh yaitu turunan Pande Bratan.

Adapun Arya Pande Likub terus lari ke desa Timbul dengan membawa dua buah linggaarca kawitannya suami isteri. Tetapi didesa ini ia tidak mendapat penghormatan oleh orang desa sehingga dalam bahasa pergaulan dipandang sebagai orang biasa.

Arya Pande Ruktya bersimpangan lari dengan adiknya karena terus-menerus dikejar musuh, maka tibalah di desa Belahbatuh minta perlindungan Kryan Anglurah Djlantik dan terus diam disana. Tetapi tidak lama usianya tinggal di Belahbatuh maka akhirnya sakit karena kena racun lalu meninggal dengan tidak meninggalkan turunan, akibat ia lupa sama sekali dengan kawitan.

Setelah beberapa tahun berada dalam keadaan demikian, maka turunan Pande Bratan yang lari dari Bangli sadar akan diri dengan halnya sangat lupa dengan kawltan. Sebab itu diusahakannya membuat perahyangan “Ratu Kapandyan” dan “Dalem” Bangli. Semenjak itu baru mendapat kebahagiaan hidup. Demikian disebutkan dalam prasasti Dharma Kepandean.

Pracasti Pande (Bagian 09 – Pande Bratan dan Pande Sadhaka)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

PANDE BRATAN DAN PANDE SADHAKA

Diceritakan Brahmana Dwala setelah ayahnya Empu Gandring Cakti pulang ke Dewaloka, berkehendak akan madiksa menjadi pendeta, tetapi tidak adayang dipandang patut menjadi guru (nabe) di Madura. Untuk itu lalu dibuatnya Arca pelinggihan Empu Bumi cakti dan isterinya Dyah Amrtatma.

Setelah arcanya siap maka ditempatkan diruangan Padmasarana dalam asrama pemujaan (padewaharan). Tiap  hari tidak lupa memuja kawitannya. Tidak beda halnya dengan Sang Ekalawya anak Nisada, hendak turut bersama Sang Korawa, Pandawa dulu belajar ilmu panah kepada guru Drona. Tetapi oleh karena Ekalawya itu seorang keturunan Sudra, ditampik oleh Dang Hyang Drona. Sebab itu ia pergi ketengah hutan ditempat yang sunyi membuat arca lingga Drona.

Demikian pula Brahmana Dwala selalu memuja ditempat lingga kawitannya, karena taatnya maka kawitannya berkenan menganugerahkan Pustaka Bang kepadanya, yaitu ilmu kebahagiaan hidup dan mati. Sebab hikmah ilmu itu beliau hidup tenang dan suka bekerja asta gina, sehingga mendapat julukan anak Wicwakarma karena ahlinya, dengan gelaran Empu Dwala.

Dalam hidupnya berumah tangga telah mendapat dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Arya Pande Bratan dan adiknya bernama Arya Pande Sadhaka.Pada masa itu raja yang memegang pemerintahan di Bali ialah Cri Aji Batur Enggong dengan gelar Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan. Dalem mengatur pemerintahan dibantu oleh para anglurah semua, para menterinya terkemuka Kyai Anglurah Agung Widhya dan Kyai Anglurah Dauh Baleagung sama ahli dalam pemerintahan negara. Negara Bali aman tenteram dalam perintahan Cri Maharaja (Dalem) Kresna Kapakisan di Gelgel, tidak ada beda dengan Bhatara Kresna disertai oleh Patih Udawa, kebijaksanaannya  mengatur pemerintahan.

Pada suatu ketika Dalem hendak membuat yadnya besar Ang Eka Daca Rudra di Besakih atas nasehat Pedanda Cakti Bawu Rawuh yang menjadi guru agama Dalem dan cudamanti seluruh Bali, karma kebesaran jiwanya seakan-akan penjelmaan Bhatara Pitamaha. Padanda diserahi Dalem memimpin yadnya itu dan mengepalai Para tukang kerja seperti Undagi, Sangging Prabhangkara, para pande Besi, Pujangga, semua cakap dalam pekerjaan. Hanya pande emas perak serta paham menilai serba permata terutama manik-manik. Ia diundang oleh Dalem agar datang ke Gelgel.

Tiada diceritakan halnya ditengah jalan, Empu Sadhaka telah tiba di Istana Gelgel. Sangat heran Sang Empu melihat banyaknya orang yang masing-masing asyik dengan pekerjaannya sendiri-sendiri dan dan cekatan dalam bekerja. Setibanya di istana Sang Empu menyembah dengan sujud kepada raja. Setelah mempersilahkan duduk maka Dalem bersabda.

“Hai Sang Empu,  saya minta tolong kepada Sang Empu, untuk membantu yadnva kami Ang Eka Daca Rudra, buatkanlah upacara yang diperlukan untuk itu.”

Jawab Sang Empu, “Baiklah tuanku. Hamba akan menjunjung sekalian titah Paramecwara untuk membuat segala upacara yadnya tuanku, menurut kekuatan dan pengetahuan hamba.”

Dalem lalu berkenan memberikan emas dan perak kepada Empu Sadhaka untuk dikerjakan. Sang Empu, setelah menerima dengan hormat pemberian raja, lalu mencari tempat yang layak untuk melakukan dharma Kepandaian. Sesudah siap maka Sang Ernpu melakukan yoga mempersatukan kekuatan batinnya terhadap ilmu kepandaian dan mengatur panca bayu serta menghidupkan Pancanyala (api lima) dalam badannya. Tiba-tiba menyalalah api dihadapannya yang keluar dari tapak tangannya, lalu bekerja.

Demikian pula Empu Pande Wesi dan Empu Bangkara masing-masing  mengeluarkan kekuatan batinnya. Dan para pandai kayu (wicwakarma) pun tepat caranya melakukan dharma laksana. Semuanya itu menuruti ajaran Analatatwa. Yang dinamai dengan ajaran Analatatwa ialah ajaran Sang Anala yaitu seorang pandai  pengiring bhatara Rama dulu dalam Utarakanda Carlta. Sang Pande Analagni, pembangun jembatan setubanda yaitu alat untuk menyeberangi lautan. Turunannya yangmasih ada sekarang misalnya Empu Swanangkara, Empu Kapandyan Wesi, Empu Sangging  Prabhangkara, Empu Dharmalaksana yang bergelar Empu Dharmaja, semuanya itu turunan Anala (Analawangsa).

Setelah Yadnya Ang Eka Daca Rudra itu selesai dengan selamat, maka sekalian para Pande diberi anugerah oleh Sri Adji Bali, demikian pula Empu Swarnangkara  puang ke asramanya di Bratan.

Lama kelamaan Empu Swarnangkara di asrama Bratan menurunkan keturunannya diantaranya bernama Arya Danu, Arya Suradnya telah menjadi pendeta (mediksa) bergelar Pande Rsi. Adik-adiknya bernama Pande Tusta dan Pande Tonjok yang bekerja membuat senjata tajam. Yang terbungsu bernama Ida Wana, bekerja menjadi sangging yang  sangat pandai.

Ketika Empu Wulung telah kembali ke alam baka, anak-anaknya semua telah ahli dalam hal Dharma Kepandaian.

Pracasti Pande (Bagian 08 – Batur Kamulan)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BATUR KAMULAN

Empu Gandring Cakti, setelah melalui beberapa kesulitan dan rintangan dengan menggendong anaknya, maka pada suatu hari tibalah juga diasrama Madura dan menghadap ayahnya.

“Anakku Gandring,” kata Empu Bhumi Sakti “betapa hasil pekerjaanmu kusuruh mencari adikmu?”

Empu Gandring Sakti menjawab secara singkat, karena diketahui ayahnya ahli dalam ilmu gaib Duradarsana, dapat melihat alam yang dekat maupun yang jauh, tidak berani ia bercerita yang tidak sebenarnya

“Pekulun ayah pendeta, adik Empu Galuh bermaksud akan mengusahakan kamoksan, meniru Dharmanya seorang Brahmana suci. Ia kini dijadikan sebagai Kili (pelayan perempuan) oleh Hyang Tohlangkir, mengganti dan digelari Sang Kul Putih.”

Sangat sukacita ayahnya mendengar keterangan Empu Gandring Cakti. lalu ia pun berkata.

“Hai anakku Gandring, ayah telah tahu dengan keadaan dan maksud adikmu, kini aku ingin meninjau asrama adikmu Empu Galuh, engkau tinggallah diasrama ini. Kini telah selesal tug as ayah didunia, mengembangkan turunan anak cucu, engkau patut melepaskan ayah pergi ke sorgaloka sekarang.” Demikian kata Empu Bhumi Cakti, tiba-tiba musnah sekejab mata, kembali ke Brahmaloka.

Diceritakan Brahmana Dwala, setelah umurnya meningkat dewasa tamaruna, masyur pandai mengarang syair dengan bahasa Kawi (jawa kuno), pandai dalam pekerjaan tangan terutama ilmu kepandaian, sehingga masyarakat sekitarnya sangat sayang dan hormat padanya.

Pada suatu hari pergilah Brahmana Dwala kegunung Indrakila hendak meninjau hal ayahnya Empu Gandring Cakti yang telah lama bertapa digunung itu  dengan maksud mencipta Hyang Agni, untuk pulang ke Brahmaloka. Setibanya disana, dilihat ayahnya sedang melakukan pranayama, badannya sangat kurus suatu tanda tidak pernah makan dan minum. Bercucuran air matanya melihat keadaan ayahnya, karena tertarik suatu cinta bakti terhadap ayahnya, maka timbul hasratnya untuk mati mengiringkan ayahnya. la duduk disebelah ayahnya melakukan yoga.

Tiba-tiba berhamburan hujan bunga jatuh dari angkasa dengan bau harum yang sangat semerbak disertai dengung suara weda mantram didengar oleh Brahmana Dwala. Tidak berapa lama datang roh suci Empu Shiwa Saguna, tampak berdiri dihadapan Empu Brahmana Dwala, seraya berkata dengan lambat.

“Om, Om, cucuku engkau Dwala, dengarkanlah kataku ini.  Aku  datukmu Empu Shiwa Saguna yaitu adik kedua dari datukmu Bhagawan Pandya Empu Bhurni Cakti. Kini datukmu telah kembali kealam acintya dan acapkali datang ke­Besakih di penataran kepandean. Jangan sekali-kali engkau lupa dengan kawitanmu di Besakih sampai pula kepada anak cucumu dikemudian hari.

Lain dari pada itu, apabila engkau sungguh-sungguh ingin bekerja dalam hal pandai-memandai, harus dipelajari dharma kepandaian. Lihatlah pustaka Kamulan, jika engkau hendak meniru kawitanmu Empu Bhumi Cakti. Sangat sulit orang yang hendak bekerja emas dan perak demikian pula dengan senjata tajam, jika tidak tahu ilmu Batur Kamulan, terutama ajaran Panca Bayu.

Yang dinamai Ajaran Panca Bayu, ialah Prana, Apapa, Samana, Udana dan Byana.

  1. Prana, nafas atau bayu dari paru-paru melalui hidung, merupakan ububan atau penghembusan
  2. Apana, nafas atau bayu yang asalnya dari perut dan tempat kencing, merupakan Jembangan
  3. Samana, nafas atau bayu hati, merupakan api dari badan
  4. Udana, nafas atau bayu dari ubun-ubun, merupakan garam dari badan
  5. Byana, nafas atau bayu dari seluruh sendi tulang, merupakan landasan dipaha

Palunya tangan , sepitnya jari tangan. Demikian banyaknya dharma melakukan ilmu kepandean. Lain dari itu harus melepaskan Asta Candala dari diri pribadi. Yang disebut dengan Asta Candala yaitu :

  1. Lamahat (membuat tuak)
  2. Amalanting (menjadi melandang judian)
  3. Anjagal (menjual daging mentah)
  4. Amande lemah (membuat periuk belanga dari tanah)
  5. Anyulendang (menerima upahan menumbuk padi)
  6. Anapis (makan sisa makanan orang lain)
  7. Tidak boleh makan Kelekatu (Dedalu) dan ikan Pinggulan (Jeleg)
  8. Tidak boleh makan buah Kaluwih (Timbul)

Itulah pandangan-pandangan dari orang yang bekerja ilmu kepandean. Dan nasehatku lebih lanjut, apabila ayahmu Empu Gandring Cakti meninggal nanti, tidak perlu dibuat upacara lagi, karena telah sempurna jiwanya dalam ilmu kepandaian. Dan jangan dimintakan tirta pendeta brahmana lagi, khawatir kalau-kalau pendeta brahmana itu belum sempurna, dapat memberatkan roh ayahmu jatuh ke neraka.

Ini pula patut engkau ketahui, yaitu “Kamandakan Carita”

Dahulu kala adalah seorang brahmana bernama Bhagawan Dharmacwami sedang berada dihutan dengan maksud akan melakukan tirtagamana. Tiba-tiba berjumpa dengan sebuah sumur yang berisi air. Sang Bhagawan bermaksud menimba air. Timba diturunkan kedalam sumur, waktu diangkat berasa berat yang disangka berisi air, akan tetapi berisi manusia yang kurus kering, yaitu Pande Swarnangkara (Pande Emas) dari Madura. Diturunkan pula berturut-turut, sampai tiga kali diangkat berturut-turut berisi binatang kurus-kurus, yaitu harimau, ular berbisa dan kera. Ketika ditanya masing-masing menerangkan sebabnya jatuh kedalam sumur itu. Rupanya disebabkan tiupan angin puting beliung (linus). Setelah diperciki air tirta peneguh jiwa, maka masing-masing menyembah mengucapkan kasih dan mohon diri.

Pada suatu hari harimau itu membunuh seorang raja putera Madura yang sedang berburu, pakaian keemasannya diambil seluruhnya diaturkan kepada Bhagawan Dharmacwami  sebagai pembalasan jasa.

Sekembalinya dari hutan melakukan tirtagamana, Sang Bhagawan berkunjung kerumahnya Pande Swarnangkara membawa pakaian keemasan yang diberikan oleh harimau dihutan, untuk dibuat pakaian kependetaan. Swarnangkara tidak menolak permintaan Bhagawan DharmaCwami karena merasa hutang jiwa.

Setelah Sang pendeta pergi dari rumahnya maka si Swarnangkara memperhatikan pakaian keemasan itu, dan nyata olehnya bahwa pakaian itu adalah pakaian kebesaran raja putera Madura yang diterkam harimau, asal perbuatannya sendiri. Sebab itu ia segera menghadap keistana Madura membawa dan mempersembahkan pakaian itu kepada raja.

Raja Madura sangat heran mendengar keterangan si Swarnangkara, bahwa pakaian raja puteranya yang diterkam harimau itu dibawa oleh Bhagawan Dharmacwami. Timbul dalam pikirannya bahwa kematian puteranya karena dibunuh oleh pendeta tersebut. Sebab itu timbul murkanya lalu memerintahkan tentaranva menangkap Sang Bhagawan.

Tiada lama antaranya maka dijumpai Bhagawan Dharrnacwami, lalu ditangkap dan diikat dengan perkasa serta ditimbuni duri walatung.

Sementara itu tiga ekor binatang yang berhutang jiwa yaitu yaitu harimau, ular berbisa dan kera mendengar Sang Bhagawan menderita, maka tiga ekor binatang itu mengusahakan agar Sang Bhagawan bisa terlepas dari hukuman dan duka cita. Upaya mereka berhasil sehingga Bhagawan berhasil terlepas dari hukuman berat.

Ketika itu Sang Pendeta merasa menyesal terhadap karmapalanya, karena Beliau bersahabat balk dengan penjahat (harimau). Dan ditimbang-timbang, bahwa perbuatan si Swarnangkara demikian itu tidaklah keliru, karena ia memegang Dharma Kepandaian, tidak sewajarnya bersahabat baik dengan Brahmana. Waktu itu Sang Bhagawan bersumpah.

“Ya Sang Hyang Trayodacasakti terutama Sang Hyang Caturlokapala, bhatara yang menjadl saksi seluruh alam. Mulai hari ini Brahmana sebagai sava ini tidak akan bergaul dengan penjahat sebagal tingkah laku harimau yang memberi saya emas manik dahulu. Bila ada turunanku kelak bersahabat dengan penjahat, semoga tidak sempuma segala usahanya didunia. Dan semenjak hari ini saya sebagai brahmana tidak boleh memberikan tirta kepada turunan si Swanangkara,  karena saya merasa kalah dalam hal wiweka terhadap si Swanangkara.”

Demikian sumpahnya Bhagawan Dharmacwami, sebab itu pada waktu menyelesaikan jenazah ayahmu Empu Gandning nanti, jangan sekali-kali minta tirta Brahmana.

Demikian nasehat roh suci Empu Ciwa Saguna kepada Brahmana Dwala, maka maka yang diberi nasehat lalu menyembah, katanya “Ya datuk pendeta, seakan-akan menerima percikan air Amrta hamba sang pendeta, menampung sekalian sabda datuk pendeta. Hamba akan menurut segala amanat datuk.” Setelah memberi ucapan restu, sosok jasmani Empu Ciwa Saguna musnah dari pandangan.

Pracasti Pande (Bagian 07 – Brahmana Dwala)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BRAHMANA DWALA

Sementara itu diceritakan Empu Gandring Sakti disuruh oleh ayahnya untuk mencari adiknya Empu Galuh, sebab telah lama tidak kelihatan di Madura. Demikianlah berbulan-bulan Empu Gandring Cakti mencari adiknya diseluruh desa dan tempat-tempat sunyi  didalam hutan dan tak jua ditemuinya, bahkan kabarnyapun tidak pernah didengar.

Dalam usahanya terakhir, ia melakukan yoga  hingga melepaskan cariranya (badan astral) pergi keseluruh desa  dengan cepat hingga sampailah ia kegunung-gunung di  pulau Bali dengan pandangan yang sangat tajam. Tiba-tiba dilihat adiknya yaitu di kaki Gunung Agung. Setelah nyata dilihatnya maka diselesaikannya yoga dan pergi ke Bali melalui hutan pegunungan.

Pada waktu matahari terbenam berhentilah Gandring Cakti dibawah pohon randu. Saat itu, keluarlah Raksasi yang dasyat dari sebuah gua, karena mencium bau manusia. Setelah terlihat olehnya manusia laki-laki yang tampan lalu berteriaklah Raksasi itu dengan suara keras dan berkata, “Hai engkau manusia apa kerjamu datang kemari? Aku adalah seorang Raksasi yang ingin makan daging manusia.”

Ketika itu Empu Gandring Sakti segera mengucapkan matram WisnuPancara Murti, yang dapat menyebabkan Raksasi itu sabar hati sambil berkata, “Om engkau Raksasi, saya adalah seorang Brahmana dari Madura, anak Bhagawan Padya Bumi Cakti. Saya ergi ke Bali diminta ayahku untuk mencari adikku Empu Galuh.”

Mendengar kata Empu sedemikian itu maka niat Raksasi yang semula ingin memakan daging manusia lalu berubah seketika menjadi cinta mesra dan bangkit nafsu kewanitannya hendak mempersuamikan Empu itu, maka keluarlah kata-kata membujuk minta dikasihi.

“Ya Sang Empu Patik, mohon dengan hormat semoga Sang Empu belas kasihan pada Patik yaitu memberikan seorang anak yang akan melepaskan (menyupat) Sengsara Patik waktu sarnpai ajal akan pulang ke Dewaloka.”

Demikian permohonan dan buiukan Raksasi kepada Empu Gandring Cakti, tidak beda halnya sebagal Dyah Hidimbi berkehendak bersuami kepada Sang Bhimasena. Belas kasihan juga Empu Gandring terhadap Raksasi itu, dan berkata “Hai Raksasi, jika demikian benar kehendakmu , lepaskanlah sifat keraksasaanmu, aku mau menerima engkau sebagai isteri, sebab aku tidak boleh menolak orang yang minta bantuan.”

Raksasi sangat girang mendengar kata Sang Empu demikian, maka seketika itu dengan segera mengubah dirinya dari rupa yang menakutkan menjadi cantik menarik, laksana bidadari turun dari sorga, lalu berkata dengan sopan santun.

“Hai suami, lihatlah sekarang rupaku. Sebagai seorang Raksasi dapat melakukan dirinya sekehendak hatinya. Marilah kita pulang kerumah kita dekat sini karena saya tidak kuat lagi menahan birahi, seakan-akan hangus hati saya dibakar api asmara.” Demikian kata ajakan Raksasi

Mendapat sambutan balk oleh Empu, lalu mereka berdua masuk kedalam goa, menikmati rasa cinta asmara bersuami isteri seperti halnya Hidimbi dengan Sang Bhima.

‘Adikku Dyah Giricewaka,” kata Empu kepada isterinya yang telah diberi nama demikian, “tinggallah adik dirumah, kanda akan melanjutkan perjalanan ke Bali, untuk mencari adik kandungku Empu Galuh. Jagalah anak kita yang masih didalam kandungan.”

Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari Sang Isteri maka Sang Empu berangkat menuju Besaklh. Setibanya disana ditemui adiknya sedang melakukan yoga semadhi. Takjub Empu Gandring melihat adiknya demikian. Setelah selesai yoganya, maka Empu Galuh turun dari tempat duduknya, datang menyongsong kakaknya yang sedang menanti dihalaman asrama, dengan berkata pelan dan hormat.

“Ya kakak Empu yang sangat saya muliakan, Saya menghaturkan sekar Karangkus, Om Nama Ciwa Buddha Ya.”

“Adikku yang tercinta,” jawab Empu, “kakak tahu bahwa adik selalu memuja Tuhan yang disebut Ciwa atau Buddha, yang menjadi jiwaku juga. Kakak diutus ayah mencari adik, kini kakak tahu bahwa adik telah melakukan ajaran Sang Kul Putih untuk menunaikan Bhakti Marga kepada Hyang Widhi, Om Nama Ciwa Buddha Ya. Kakak sangat setuju dengan pelaksanaanmu sebagai  seorang Brahmani taat melakukan samadhi untuk mendalami filsafat hidup dan mati.”

“Lanjutkanlah cita-cita adik ini agar kemudian dapat manunggal kepada Hyang Widhi yang menjadi sangkan paran seluruh alam ini.” Demikian nasehat Empu Gandring Cakti menyebabkan senang hati Dyah Kul Putih.

Tiada diceritakan halnya dalam perjalanan Empu gandring Cakti setelah tiba di rumah Raksasi isterinya, Dyah  Giricewaka yang telah menggendong anak laki-lakinya yang baru beberapa pekan iahir, datang mengelu-elukan suaminya, lalu berkata.

“Ya suamiku Sang Empu, selamat datang, inilah putra Sang Empu laki-laki.” Dengan senang hati Sang Empu sambil menimang anaknya, dan berkata “Adikku Giricewaka, telah lama kakak pergi dari Madura dan kini sudah waktunya kakak menyampaikan kabar baik ini pada ayah, anakku ini akan aku bawa ke Madura.”

“Wahai Sang Empu yang kucinta dan kuhormati,” jawab Giricewaka “apa dayaku, terpaksa aku tidak dapat menyertai Sang Empu, karena keadaan berbeda dengan manusia. Ini anakku sebagai persembahan jiwaku yang patut mengiringkan Sang Empu di dunia kelak. la kunamai Brahmana Dwala, sebagai wala (bhakti) jiwaku.” Demikian kata Dyah Giricewaka dengan air mata berlinang.

Pada saat berangkatnya Empu Gandring Cakti menggendong anaknya, waktu perpisahan Dyah Giricewaka memberi restu kepada anaknya, “Om Abhyayam Sarwa Bhayam, Adurgama Sindhu Wanam, Anakku Brahmana Dwala, Semoga engkau panjang usia, mengemban turunan orang baik-baik, tidak mendapat bahaya engkau didalam hutan rimba belantara, dalam kuburan, dalam kali dan laut, tidak terhalang oleh mahkluk yang berjiwa ganas. Aku ibumu saat ini telah pulang kesorga karena telah dilepaskan papaku oleh ayahmu.”

Demikian akhir kata sang Raksasi, lalu berubah badan jasmaninya menjadi bidadari, kemudian musnah dari pandangan.

Pracasti Pande (Bagian 06 – Dyah Kul Putih)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

DYAH KUL PUTIH

Diceritakan Dyah Amrtatma telah melahirkan seorang putera laki-laki diberi nama Brahmana Rare Cakti. Beberapa tahun kemudian melahirkan pula seorang puteri diberi nama Dyah Kancanawati. Dalam perkawinannya Empu Bhumi Cakti dengan Dyah Amrtatma hanya menghasilkan dua orang anak saja. Setelah sama-sama berumur dewasa masing-masing anak berbakat kebatinan dan suka melakukan tapa.

Brahmana Rare Sakti sangat paham tentang ilmu kepandaian tidak beda dengan ayahnya dalam hal kekuatan batin. Semenjak itu ia digelari Empu Gandring Lalumbang. Dyah Kancanawati tidak beda dengan Sang Hyang UmaCruti yaitu Dewi Kesetiaan menjelma kepadanya, ahli dengan inti hakekat weda dan taat kepada tapa brata.

Pada suatu hari dua anak ini dipanggil oleh ayahnya. Setelah hadir ayahnya berkata, “Hai anakku, engkau berdua bersaudara. Ayah sangat berharap bahwa selalu bersaudara baik. Kini oleh karena engkau telah sama-sama dewasa ayahmu memberikan sesuatu sekedar sebagai suatu ajimat dalam melakukan pekerjaan. Kepada Empu Gandring aku berikan cincin emas bermata manik bang, baik hikmahnya dalam melakukan pekerjaan membuat senjata dan segala yang tajam. Kepada anakku Empu Galuh (gelaran Dyah Kencanawati) aku berikan mas bermata ratna cempaka, karena engkau melakukan inti Kusumadewa.Itulah pemberian Empu Bhuml Caktl kepada anaknya yang diterima dengan rasa gembira.

Setelah beberapa lama antaranya, Empu Gandring Cakti merasa tidak senang hatinya terhadap pemberian ayahnya, karena disangkanya tidak ada manfaat sesuatu apa, maka dipanggillah adiknya Empu Galuh, seraya berkata perlahan-lahan.  “Adikku Dyah Kencanawati, menurut pikiran kakak, tidak pada tempatnya adikku membawa pemberian ayah kita yaitu cincin bermata ratna cempaka,  karena adikku seorang perempuan muda. Sebalknya kakak yang membawanya.”

Perkataan Empu Gandring rupanya tidak disetujui  oleh adiknya.

Setelah berulang-ulang permintaannya tidak juga dipenuhi, maka marahlah Empu Gandring dengan kata-kata yang kasar menuding mata adiknya kemudian disusul dengan pukulan dan tendangan.

Tetapi Empu Galuh tetap tenang hatinya dan tetap bersih sebagai manik Banyu, tidak  bergembira bila mendapat pujian  dan tidak berdukacita jika dihinakan, sebab ia mengerti dengan keadaan dan sifat yang ada di Tribuana. Budi orang di Narakaloka hanya satu yaltu duka saja, sedang di Sorgaloka budi orang suka saja. Orang yang diam di Madyapadha suka dan duka mempengaruhi budinya, hidup dan mati. Demikian pikir Empu Galuh, sebab itu dapat menahan sakit marah.

Pada suatu malam Empu Galuh pergi seorang diri ke Gunung Renggakusuma mengheningkan cipta disana. Ketika itu kebetulan Hyang Mahadewa sedang bersenang-senang ke gunung Renggakusurna,  maka terlhat olehnya seorang wanita yang elok parasnya seakan-akan Dewi Ratih sedang menghenigkan cipta dalam yoga.

Hyang Mahadewa mendekati wanita itu serta bersabda, “Om wanita, siapakah engkau ini seorang diri diam ditengah hutan. Siapa yang menyakitimu ? ceritakanlah dengan benar Kepadaku.”

Empu Galuh menjawab dengan hormat, “Ya Bhatara, Patik Bhatara seorang Brahmani dari desa Madura, anak Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti, cucu dari Hyang Agni. Patik berkehendak melepaskan keduniaan untuk mencapai sorga waktu meninggal dunia.”

“Wahai Puyutku engkau Empu Galuh,” Sabda Hyang Mahadewa, “aku tahu maksudmu. Engkau adalah anak seorang Brahmana utama, gunawan dan ahli filsafat, budiman tetap bersih dan suci. Kini aku memerintahkan kamu pergi ke Bali yaitu kegunung Agung tempat asramaku. Engkau kini menggantikan kawitanmu Brahmana Kul Putih, menjadi pelayanku waktu bersuci laksana. Beliau kini telah tua dan ingin hendak pulang ke Dewaloka.” Demikian sabda Hyang Mahadewa, dan Empu Galuh menurut dengan patuh.

Esok  paginya Empu Galuh berangkat ke Bali dan tiba di Gunung Agung dengan selamat, menghamba kepada Sang Hyang Maha Dewa dengan hati yang suci. Setiap hari tidak lupa memuja Tuhan, meniru Dharmanya Empu Kul Putih. Semenjak itu Dyah Kencanawati digelari Dyah Kul Putih. Dalam menyediakan upacara pemujaan selalu dilayani oleh kera putih kesayangan Bhatara.

Pracasti Pande (Bagian 05 – Raja Bali Berguru)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

RAJA BALI BERGURU

Diceritakan Ida Dalem Bali Cri Smara Kapakisan di Gelgel setelah kembalinya dari Madura mengenang kebesaran jiwa Empu Bhumi Cakti dalam menyelesaikan yadnya, terbit dalam hati sanubari hendak berguru pada Empu Bhumi Cakti dalam hal ilmu keTuhanan dan selanjutnya membersihkan diri (mapogala) menjadi raja rsi. Untuk melaksanakan keinginannya ini diutuslah Ki Pasek Babya pergi ke Madura untuk mengundang Empu  Kayu Manis yang bergelar Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti agar datang ke Gelgel.

Pada suatu hari utusan raja tibalah di Madura terus menuju asrama Kayu Manis. Dijumpai Sang Empu sedang mengatur Pancaprakara yaitu bunga, ganda, ksata(wija), dupa dan dhipa (pedamaran) serta pula ciwambha (tempat air suci). Kemudian Sang Empu melaksanakan Surya Sewana. Setelah selesai semuanya dipanggilah semua tamunya yang baru datang dan berkata, “Duh tuan hamba tame dari mana? Apakah kebangsaan dan datang dari mana, ceritakan saja sebenar-benrnya.”

Maka Ki Pasek Babya menjawab, “Ya tuan pendeta, hamba adalah anak Ki Arya Ngango dari Nusa Bali, hamba hendak berguru Sucusra kepada Sang Empu, untuk membersihkan kegelapan dan kebodohan yang memulut di hati hamba.”

Sang Empu berkata kembali, “Wahai  buyutku pangeran Pasek Babya jika memang demikian berarti ada hubungan keluarga dengan saya. Dengan adanya Empu Ketek bersaudara. Dengan kawitan saya Empu Gandring yang dulu ditikam Ken Arok. Patutlah engkau melakukan dharma kependetaan untuk mengasuh jiwa sucimu.”

Jawab Ki Pasek, “Ya tuan pendeta sesuwunan, sesungguhnya kedatangan hamba kemari ada dua kepentingan. Disamping kepentingan pribadi, hamba diutus raja Bali Dalem Gelgel untuk datang ke Bali karena baginda hendak berguru kepada Sang Maha Empu.”

“Hai buyutku pangeran Pasek untuk kepentingan Dalem nanti kalau ada hari baik saya akan datang ke Bali, sekarang pulanglah dahulu.”

Setelah beberapa hari Ki Pasek Babya mohon diri pulang ke Bali, setelah dibisiki ajaran filsafat keTuhanan dan yoga samadhi sebagai persiapan untuk menjadi pendeta (didiksan) kelak.

Beberapa pekan kemudian pada suatu hari yang dianggap baik maka berangkatlah Sang Empu ke Bali. Tiada diceritakan betapa halnya dalam perjalanan, telah sampai di Gunung Agung. Setibanya disana Empu Bhumi Cakti sangat heran melihat suatu cahaya yang gemerlapan diatas padmasana manik. Ketika itu Empu Bhumi Cakti menyembah dengan sujud, mata menghadap ke tanah, suatu tanda sangat hormat dan bakti kepada Bhatara.

Cahaya gemerlap itu bersabda “Hai, engkau Empu  yang rupawan, apa tujuanmu datang kemari? Ceritakanlah kepadaku.”

Sang Empu menjawab dengan didahului pujapangaksama, “Om Skama Swa Mam Mahadewah, Sarwa Prapi Hitangkarah, Mamocha Sarwa Pabsbhyo, palaya Swaa Sada Chiwah” Ya Bhatara, dewanya Gunung Agung, Hamba Brahmana Bhatara datang kemari karena diundang oleh raja Bali, diminta mensucikan (andiksa) dirinya menjadi Raja Rsi di Gelgel.”

‘Engkau Empu Madura” sabda Bhatara, “jika engkau tahu dengan keadaan riwayat tangan kananku, boleh engkau mensucikan cri Aji Bali. Coba lihat telapak tangan kananku.”

Sang Empu melihat tapak tangan Bhatara lalu berkata, “Pakulun paduka Bhatara, ijinkanlah paduka Bhatara menyebutkannya, yaitu Panca Brahma yang ada dalam tapak tangan Bhatara.”

“Dimana patut dipukulkan, sabda Bhatara dibahu atau didadamu?” Sang Empu tidak menjawab suatu apa. Tiba-tiba Bhatara musnah sekejap mata. Sang Empu berkata dalam hatinya, wah sangat fanatik (cinging) Bhatara Tohlangkir. Seketika itu Empu Bhumi Cakti mohon diri terus berjalan menuju Gelgel.

Setibanya di istana Gelgel didapati Dalem sedang duduk diatas singgasana. Demi meihat Sang Empu datang, Dalem segera turun singgasana dan mengelu-elukan Sang Empu. Sang Empu segera mengucapkan Wedastuti, kemudian dipersilahkan duduk sejajar dengan Dalem.

Sang Empu sangat heran mellhat wajah muka Sri Aji, karena sedikitpun tidak ada bedanya dengan Bhatara Mahadewa, baik wajah durja maupun perawakannya, demikian pemikiran Sang Empu.

Setelah sama duduk ditempatnya masing-masing. raja bersabda,  “Om Sang Empu, menurut perasaan hati hamba, Sang Empu seakan-akan Bhagawan Anggira turun dari sorga laksana Bhatara Indra dalam Catur Lokapala. Tidak pernah ada dosa yang melekat pada badan Sang Empu.” Demikianlah sabda Dalem.

Maka Empu Bhumi Cakti menjawab,  “Daulat tuanku, janganlah Sri Maharaja berlebihan memuji hamba. Yang penting saat ini, ijinkanlah hamba bertanya, apa sebab Sri Maharaja mengundang hamba seorang  Brahmana?  Hamba ingin mendapat penjelasan dari tuanku.”

“Ya Maha Empu” jawab Dalem, “Anak Maha Empu ingin menjadi orang tua, meniru dharmanya Bhatara almarhum kawitan anak Maha Empu Dang Hyang Kapakisan.”

“Ya tuanku Sri Maharaja” sahut Sang Empu, ” maksud tuanku itu dapat hamba setujui, sebab Sri Maharaja memang juga Brahma putera turunan Brahmana Kapakisan menjadi raja, satu Kawitan dengan hamba. Sesungguhnya bagi kami Brahmana tidak boleh menerima murid ksatria, berdasarkan riwayat  Hitihasa Purana, Asta Dasa Carita.” Jika tuanku berkenan dapat hamba ceritakan demikian.

Adalah seorang raja Hastina bernama Maharaja Dewabrata berguru weda ilmu senjata kepada Bhagawan Rama Paracu seorang pendeta brahmana. Setelah ahli dalam weda ilmu senjata maka Sang Raja Dewabrata pulang ke Istana Hastina.

Beberapa bulan kemudian sepulang Sang Raja Dewabrata dari asrama Rama Paracu, tiba-tiba adalah seorang gadis raja puteri yang sangat cantik parasnya bernama Dyah Amba menghadap seorang diri kepada Bhagawan Rama Paracu diasramanya, bermaksud mohon bantuan nasehat agar raja Dewabrata mau memperisteri dirinya. Diterangkannya ia mulanya tiga bersaudara perempuan diambil oleh Sang Dewabrata dalam sayembara. Dua orang adiknya telah diperisteri oleh Sang Citranggada dan Citrawirya adik Sang Raja Dewabrata. Hanya ia saja tidak mau diperisteri oleh  Sang Raja Dewabrata.

Beberapa lama Dyah Amba ada diasrama, maka datanglah raja Dewabrata yang bergelar Rsi Bhisma menghadap gurunya, maka Bhagawan Rama Paracu berkata, “Anakku Bhagawan Bhisma ambillah Dyah Amba ini menjadi isteri anakku, bapa dapat mengijinkannya. Sebab bagi kita layak membuat duka cita seorang kawan hidup, baik ia keluarga maupun sahabat.

Tiga macam jalan musuh dari dalam badan hendak menunjukkan perbuatannya dan hendak menghancurkan segala jasa-jasa baik kita didunia. Yang terutama diantaranya ialah keluar melalui mulut, yaitu  berkata tidak benar, memfitnah, ingkar janji, tidak setia dengan segala kata-kata dan berkata keras. Musuh yang melalui tenaga, suka memukul, menyakiti dan membunuh. Yang melalui pikiran, biasa membuat kehendak yang jahat, tidak berperikemanusiaan. Semua itu merupakan musuh kita dalam  badan. Sebab itulah ambilah Dyah Amba.” Demikianlah kata Bhagawan Rama Paracu dan Rsi Bhisma segera menjawab.

“Maaf Guru, bukan karena hambi menentang kata atau durhaka kepada Guru, hanya karma hamba telah berjanji dengan ikrar kepada Tuhan, bahwahamba akan melakukan Cuklabrahmancari. Hamba tidak berani mangkir janji kepada Tuhan. Sebab ltu hamba tidak mau memperisteri Dyah Amba, sekalipun bagaimana akibatnya.”

Sampai empat, lima kali Guru Rama Paracu menyuruh mengambil Dyah Amba, tetapi Rsi Bhisma tetap menolaknya. Akhirnya murka Bhagawan Rama Paracu menuding mata Rsi Bhisma seraya berkata keras dan kasar.

Sebagai seorang Ksatria yang tidak boleh dikerasi, maka bangkitlah marahnya berapi-api terus memukul gurunya. Dengan demikian berkelahilah dua orang Rsi masing-masing mengeluarkan kekuatannya. Akhirnya kalah Bhagawan Rama Paracu mengadu tenaga karena telah lanjut usianya. Saat itu Bhagawan Rama paracu mengutuk Rsi Bisma, katanya “Hai kamu Bhisma, mulai saat ini selanjutnya kami Brahmana tidak boleh mempunyai murid golongan ksatria. Kemudian hari apabila ada seorang brahmna terutama turunan Bhrgumendiksa golongan ksatria, semoga tidak sempurna dan mendapat halangan besar.”

Demikianlah ceritera Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti kepada Dalem, sebagai dalih sangat takutnya kepada Bhatara Mahadewa.

Setelah beberapa lama Empu Kayu Manis di Bali menvelesaikan minatnya Dalem Gelgel, maka kembalilah ia keasrama Madura.

Pracasti Pande (Bagian 04 – Dyah Amrtatma)

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

DYAH AMRTATMA

Beberapa hari kemudian dari penyelesaian yadnya Patih Madhu, maka Bhagawan Pandya Empu Bhumi Cakti setelah diaturi persembahan sepatutnya, lalu minta diri pergi seorang diri menuju desa yang sepi melalui kuburan. Ditengah  perjalanan beliau berjumpa dengan seorang anak gembala sedang membajak menangis dengan sedihnya ditinggalkan ayahnya, karena patah gigi bajaknya, tersedu-sedu ia menangis. Sangat iba hati sang Empu melihat anak itu lalu berkata “hai anak gembala, terasa kasihan melihat engkau  menangis sesedih ini. Apa sebabnya engkau menangis ditengah jalan ? Coba ceritakanlah kepada saya,”

Seraya menangis anak gembala itu berkata “Ya tuan pendeta, gigi bajak hamba patah karena terperosok masuk kedalam lapisan batu. Bila ayah mengetahui hal ini tentu bellau akan marah kepada hamba.”

Sang Empu berkata “Janganlah engkau khawatir, bapa akan memperbaiki gigi bajakmu itu supaya dapat engkau melanjutkan pekerjaanmu.”

Anak gembala itu tercengang kesenangan mendengar kata Sang Empu, lalu berkata seraya mengambil dan menunjukkan gigi bajaknya yang patah. “Ya tuan pendeta, inilah besi bekas gigi bajak hamba.” Sang Empu berkata “hamba minta belas kasihan Anakku, oleh karena bapa seorang yang tidak mempunyai turunan, Hanya ada anakku seorang wanita, bernama Dyah Amrtatma, ia akan bapa serahkan kepada anakku untuk kawan hidup dan mengadakan turunan yaitu cucu dari bapa, yang berarti anak bapa ini akan dapat menolong bapa menuju sorga nanti. Jika tidak demikian bapa berasa khawatir bila datang saatnya bapa berpulang sebab ada cerita dalam Mahabarata, seorang pendeta yang sangat bertapa bernama Sang Djaratkaru. Pada waktu meninggalkannya tidak mempunyai turunan, maka rohnya digantung disebelah pohon bambu. Tali gantungannya digigit oleh tikus lalu putus, jatuh Sang pendeta kedalam jurang, demikian pahalanya orang orang yang tidak mempunyai keturunan.”

Demikianlah bisikannya Hyang Astapaka, maka Bhagawan Pandya menjawab “Ya, yang seakan-akan Hyang Ratnasumbhawa, saja anak Sang pendeta dapat menerima anugerah guru.”

Demikian jawab Empu Bhumi Cakti, maka pada hari itu juga dikawinkan kepada Dyah Amrtatma diasrama Budha. Laksana Bhatara Indra kawin dengan Bhatari Suci demikian keadaan cinta kasih suami istri. Pada waktu sami isteri itu bersantap maka aji Padmadanda dilaksanakannya. Pada saat mempertemukan Tirtanya Aji Kamatantra dilaksanakannya dengan maksud mendapat keturunan utama. Disamping itu Dang Empu membangun pula Purta Hista. Purta artinya membuat telaga, pancuran dan balai-balai, Hista artinya selalu memuja kepada Hyang Ekagni, Tryagni dan Kundagni sangat kasih sayang terhadap orang-orang melarat yang minta perlindungan. Tidak sombong. Demikian keadaan Sang Empu selama bersuami isteri.

Setelah beberapa bulan selanjutnya, maka Dyah Amrtatma angrampini (hamil). Dalam keadaan sedemikian itu Sang Empu kian taat melakukan yoga samadhi dan Wedastawa agar mendapat turunan yang utama diasramanya yang baru di Kayu Manis.

Pracasti Pande (Bagian 03 – Bhagawan Pandya Empu Bhumi Sakti)

2

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang iLMu tamBahan

BHAGAWAN PANDYA EMPU BHUMI CAKTI

Tiada dikisahkan tentang Hyang Brahma lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah memasuki umur dewasa, kesaktian yang dimilikinya sama dengan ayahnya, kuat melakukan tapa. Lambat laun tersiarlah diseluruh permukaan bumf tentang sakti mantranya Empu Brahmaraja, sehingga banyak orang berdatangan mohon nasehat-nasehat dan penyelesaian yadnya.

Pada masa itu tersebut Patih Madhu di Madura, atas ijin raja Majapahit yaitu Sri Hayam Wuruk, berkehendak akan membangun yadnya, misalnya pitra­-yadnya dan bhuta-yadnya. Kehendaknya ini lama tertekan karena sangat susah dan belum dapat mencari seorang pendeta yang sakti yang saktinya sama dengan Empu Logawe.

Pada suatu ketika Kryan Madhu mendengar berita bahwa digunung Hyang ada seorang Empu Sakti sedang melakukan tapa. Patih Madhu segera berangkat menuju gunung Hyang, dengan maksud mengundang Sang Empu datang ke Madura untuk menyelesaikan pitra-yadnya. Setibanya dipertapaan maka dijumpai Empu Brahmaraja sedang duduk dibalai-balai payasannya. Setelah Kryan Madhu masuk ke halaman asrama segera menyembah Sang Empu yang sedang duduk, lanjut menghadap.

Empu Brahmaraja telah mengetahui nama dan maksud seorang yang datang menghadap itu, segera berkata dengan lemah lembutnya.

“Wahai Kryan Madhu, bapa mengucapkan selamat datang kepada tuan hamba. Sangat senang hati bapa dengan kedatangan tuan hamba baru pertama ini. Apakah maksud yang terkandung hingga tuan hamba datang keasrama bapa ini, cobalah ceritakan dengan sesungguhnya kepada Bapa.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan sejujurnya. “Ya Maha Empu, untuk permulaan kata, ijinkanlah hamba melahirkan bisikan hati hamba serta merta.

Maha Empu, maklumilah perasaan bathin hamba seakan-akan menginjak alam Brahma loka tatkala hamba memasuki halaman asrama ini serta tatkala hamba mendengar sabda suci penyapa Maha Empu. Lapar dahaga hamba serentak musnah akibat hawa suci yang menyelubungi asrama ini.

Maksud utama kedatangan hamba menghadap Maha Empu, ialah dengan hormat mengundang Maha Empu, sudi kiranya datang ke tempat hamba di Madura untuk menyelesaikan pekerjaan hamba mitra yadnya. Hanya Maha Empu berkenan dihati hamba yang dapat akan menyelesaikan arwah kawitan hamba.”

“Duh, Rakryan patih,” jawab Empu Brahmaraja, “bapa akan berkenan meluluskan permintaan anakku datang ke Madura untuk menyelesaikan kawitan anakku, karena memang sepatutnya bapa sebagai seorang Brahmana memuja kawitan anakku.”

Tiada diuraikan tentang percakapan yang lebih lanjut, diceritakan Empu Brahmaraja telah berangkat ke Madura diiringi Patih Madhu. Setibanya maka Empu Brahmaraja diberi tempat penginapan dan pelayanan yang layak dipurinya Patih Madhu.

Tiada berapa lama selangnya, maka ramailah tamu-tamu undangan dari luar Madura hendak menyaksikan pekerjaan Patih Madhu dalam Pitra yadnya. Diantara tamu itu tampak datang para ksatria dari Blambangan, Pasuruan, Sumbawa, Sunda, Palembang dan seluruh pulau Jawa, demikian pula raja Bali yaitu Ida Dalem Ketut Ngulesir dengan gelar Dalem Smara Kapakisan sangat mashyur tampan rupa dan perawakannya seakan-akan Hyang Smara menjelma ke dunia. Semua tamu-tamu takjub melihat indah rupanya. Masing-masing tamu itu telah disediakan tempat penginapan dan santapannya menurut adat raja?raja.

Pada hari perayaan pitra yadnya telah tiba, maka sekalian upacara nyadan saji-saji telap disiapkan orang, misalnya susu, minyak, madu, dupa dan air suci telah siap dalam sangku, demikian pula caru (korban) telah diselenggarakan.

Setalah tiba waktunya Empu Brahmaraja naik dibalai pemujaan lengkap dengan pakaian kependetaan, yaitu memakai Bhawa (ketu), Ganitri, bresemajut Salimpet, seakan-akan Rsi Crengga yang sedang menyelesaikan yadnya Maharaja lksawakukula dalam cerita Kanda. Sekalian para tamu serempak melihat sang Empu memuja.

Setelah selesai memuja maka Empu Brahmaraja memanggil Patih Madhu, katanya “Hai Kryan Patih Madhu, bapa telah selesai memuja kawitan anakku dengan mantram Catur Weda. Kini cobalah buktikan betapa pekerjaan anakku, berhasil baik atau tidak.”

Demikian kata Empu Brahmaraja, maka Patih Madhu menjawab dengan segera, “Ya Maha Empu, betapa cara hamba membuktikannya? Siapakah yang patut hamba tanya ?”

“Anakku Patih Madhu,” jawab Empu Brahmaraja “sekalian yang ada dihadapan bapa ini boleh ditanyai.”

Demikian didengar kata sang demikian Empu demikian maka Patih Madhu lalu berdiri, bertanya kepada layang-layang, katanya  “Hai kamu Layang-layang, apakah pekerjaanku ini berhasil baik?”

Seluruh Layang-layang, menjawab dengan serentak, “Ya Gusti dan sekalian Kawitan I Gusti mendapat tempat yang layak disorga.”

Selanjutnya batu ditanya oleh Patih Madhu, batu itupun menjawab demikian. Pohon kayu ditanyainya, pohon itu mengatakan kerjanya berhasil baik.

Patih Madhu sangat gembira hatinya mendengar kawitannya semua menemukan sorga. Para tamu sangat takjub menyaksikan kebesaran jiwa Empu Brahmaraja itu dan semuanya memuji kesaktiannya. Semenjak itu sang Empu digelari Bhagawan Pandya Empu Bumi Cakti, karena Sakti mantramnya.