At Last… Samsung Galaxy ACE

24

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhirnya berpindah jua ke lain hati, demikian bathin saya selama semingguan ini. Jika dahulu saya begitu memuja Windows Mobile lantaran sempat menggunakan berturut-turut T-Mobile MDA II (varian O2 XDA II), Audiovox Thera, O2 Atom hingga terakhir Audiovox PPC 6700. Kini sudah tidak lagi mengingat pikiran saya rasanya sudah mentok banget dengan sistem operasi tersebut, apalagi Microsoft selaku pengembang memutuskan untuk menghentikan produksinya dan beralih pada Windows Phone.

Faktor harga pula yang menyebabkan saya merasa kejauhan untuk memiliki sebuah handset berbasis OS terbaru tersebut, rasanya untuk ukuran kantong seorang PNS apalagi Staf seperti saya ini, tingginya banderol cukup membuat semua impian itu akhirnya dipadamkan.

Android

Pertama kali mengenal sosok robot hijau ini saat berkesempatan menjajal Samsung Spica milik seorang senior sekaligus rekan kerja di LPSE. Makin menjadi ketika menemukan Emulator Android versi 1.5 atau yang dikenal dengan sebutan Donuts. Bahkan aktifitas berburu Emulator Terakhir, saya dapatkan pula yang versi 2.3 GingerBread dan 3.0 HoneyComb. Maka jatuh cintalah saya pada sistem operasi hasil besutan Mbah Google ini.

Awalnya ada keinginan untuk mengambil Spica Second, tapi lantaran Samsung enam bulan terakhir tergolong rajin menggelontorkan ponsel ber-Android  baru, sayapun menjatuhkan pilihan awal pada salah satu rilisannya Samsung 551. Ponsel ber-Android dengan tambahan sliding thumbboard qwerty. Sayangnya ketika berkesempatan mencoba Dummy-nya di gerai HandPhone Shop Selasa malam lalu, feeling saya langsung hilang pada handset berbanderol 2,6 juta ini.

Menyadari kekurangan yang ada dalam penampilan Galaxy 551, sayapun melirik ke versi yang punya selisih 350ribuan lebih mahal, Samsung Galaxy ACE. Timbang punya timbang, tekadpun bulat. Inilah ponsel berikut yang harus bisa saya miliki.

Maju satu bulan dari rencana

Keinginan untuk memiliki sebuah ponsel baru di tahun 2011 ini sebetulnya sudah ada sejak lama. Terakhir saya memegang ponsel berlayar sentuh sekitar awal tahun 2009, itupun kemudian saya jual untuk menggenapi uang SPP kuliah S2 yang saat itu sudah masuk tenggat waktu. Sudah dua tahun rupanya.

Maka sedari hari raya Galungan terakhir bulan Desember lalu, sayapun mulai menyisihkan selembar demi lembar sedikit dari jerih payah menjual pulsa elektronik, mengajar di LPSE dan tentu saja gaji dalam sebuah celengan mini bergambar Upin & Ipin. Sedianya akan saya buka saat momen Ulang Tahun pertengahan bulan April nanti.

Eh, maju sebulan lebih dari rencana, celengan Upin dan Ipin pun dibobol. Bersyukur bahwa uang yang terkumpul bisa dikatakan tidak sedikit bagi saya, dan itu bisa saja dihabiskan dalam sekejap apabila kemudian saya menjatuhkan pilihan pada handset paling terkini iPhone 4 ataupun BlackBerry Torch. Tapi yah, saya tetap pada pilihan awal, menyisihkan sebagian untuk menebus Samsung Galaxy Ace.

At Last… Samsung Galaxy ACE menjadi keluarga baru www.pandebaik.com sejak hari ini. Sebuah ponsel berbasis Android 2.2 Froyo yang menurut Review beberapa Tabloid lokal memang layak untuk dimiliki.

Well, bagaimana kisah selanjutnya ? Tunggu saja. Hehehe…

SamSung I5700 Galaxy Spica memang ManTap !!!

8

Category : tentang TeKnoLoGi

Surprised ketika seorang rekan kantor akhirnya memutuskan untuk memilih SamSung I5700 Galaxy Spica sebagai ponsel sekaligus rekan kerjanya ketimbang Nokia E75. Bisa jadi lantaran secara bentuk yang jauh lebih dandy untuk ditenteng bisa juga lantaran banyak hal yang bisa dipelajari lagi dari sebuah kemajuan teknologi bernama Android.

Sistem Operasi Android memang bukan hal baru lagi hari ini, namun jika disandingkan dengan sistem operasi lainnya yang biasa digunakan pada sebuah ponsel pintar (smartphone) bisa jadi Android merupakan yang terkini. Beberapa seri keluaran vendor ponsel ternama tercatat HTC, Sony Ericsson, Samsung, LG dan Motorola sudah mencoba untuk mengadopsinya. Tidak ketinggalan brand lokal seperti IMO, huawei dan i-Mobile.

SamSung I5700 Galaxy Spica merupakan sebuah ponsel yang pada awalnya mengadopsi Android versi 1.5 atau yang dikenal dengan kode Cupcake, namun pada handset yang sempat dijajal selama 3 hari di Jakarta kemarin tampaknya sudah di-upgrade ke versi 2.1 atau yang dikenal dengan kode Éclair. Pembaharuan versi sistem operasi Android ini tentu saja membawa banyak perubahan dibandingkan versi Cupcake sebelumnya. Penambahan fitur Android Market yang dapat digunakan untuk mengunduh aplikasi baik berbayar ataupun gratis, penambahan jumlah akun email yang dapat disertakan sampai penambahan jumlah halaman Homescreen untuk mengakses Menu. Tak ketinggalan penyempurnaan berbagai bugs yang ada dalam versi sebelumnya.

Untuk mengaktifkan layar ponsel dapat dilakukan dengan menggeser gambar kunci gembok kesamping kanan. Satu inovasi yang dirintis oleh iPhone. Fungsi lainnya adalah untuk menerima panggilan masuk secara cepat. Layar Homescreen terlihat begitu lega dan lapang.

Ada 3 (tiga) halaman utama yang dapat diakses sebagai tampilan Menu yang dapat dikembangkan menjadi 9 (sembilan) ditambah beberapa Menu Widget milik Samsung. Akses halaman ini serupa pula dengan iPhone, dimana pengguna tinggal menggeser halaman dengan sapuan jari baik ke kiri maupun kanan halaman utama. Ohya, Samsung Spica tidak menyediakan stylus dalam penggunaannya. Namun jangan khawatir, sensitifitas layar dalam memberi reaksi sapuan jari tampaknya tidak jauh berbeda dengan iPhone.

Pada layar utama ada (5) lima aktifitas yang dapat dilakukan dengan jari. Pertama men-tap sekali pada icon aplikasi untuk menjalankannya, Kedua men-tap dan menahan icon aplikasi untuk memindahkannya ke tempat sampah (menghapus icon), Ketiga men-tap dan menahan halaman atau background untuk menambahkan shortcut/icon aplikasi, daftar contact serta widget, Keempat menggeser tanda panah pada sisi bawah halaman untuk menampilkan Menu dan Kelima men-tap dan menggeser taskbar atas untuk menampilkan halaman Log atau catatan penerimaan meliputi panggilan, sms atau pesan, kiriman hingga sambungan.

Untuk pengoperasian Menu dan fitur yang ada tidak jauh berbeda dengan penggunaan ponsel pintar lainnya. Sebagai tambahan disediakan pula satu tombol (softkey kiri) yang dapat difungsikan sebagai akses bantuan dalam mengakses Menu atau fitur tersebut. Tombol pengaturan suara yang terdapat pada sisi kiri ponsel dapat dipergunakan sebagai akses cepat untuk mengubah profil menjadi Silent (tanpa suara) dan General. Tidak lupa ada fitur sensor Accelerometer yang mampu mengubah tampilan menjadi landscape saat ponsel diposisikan mendatar. Fitur ini dirasa sangat membantu terutama bagi mereka yang berjari besar saat mengetik dengan keyboard virtual.

Yang patut diakui sebagai nilai positif dari Samsung Spica adalah prosesor 800 MHz yang digunakan membuat aksi pengoperasian makin gegas hingga nyaris tidak ada jeda dalam akses Menu dan fitur, dukungan GPS receiver lengkap dengan Digital Compass, A-GPS dan GeoTagging pada fungsi kamera, koneksi WiFi plus 3G HSDPA, serta dukungan multimedia MP4/DivX dan WMA. Tidak lupa aplikasi tambahan untuk jejaring sosial FaceBook, My Space dan tentu saja YouTube.

SamSung I5700 Galaxy Spica pada akhirnya sangat saya rekomendasikan bagi Rekan-rekan yang ingin merasakan pengalaman berbeda dalam berinteraksi dengan sebuah ponsel pintar (smartphone). Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan dinikmati disamping karena faktor harga yang sangat terjangkau untuk sebuah ponsel pintar. Kalo gak salah sudah turun pada harga 2,65 juta. Bandingkan dengan para sejawatnya.