Mencoba Mengembalikan Semangat Membaca Buku

2

Category : tentang Opini

Saya jadi teringat pada sebuah video sindiran betapa suksesnya kemajuan teknologi era digital masa kini menggantikan keberadaan kertas dan segala fungsinya dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Saat sang istri kesulitan membaca halaman demi halaman buku yang dipegangnya, sang suami tampak sedemikian mudahnya membolak balikkan halaman buku digital yang ia baca melalui layar gawai tablet yang dimiliki sambil mencibir sang istri.
Pun demikian saat menemukan sejumlah catatan tempel pada pintu kulkas yang dibuat sang istri, si suami sambil pula mencibir, menunjukkan tampilan Notes pada layar gawai untuk mengatakan efisiensi yang bisa diciptakan.
Adegan terakhir, ketika sang suami membuang hajat dan menemukan kenyataan bahwa yang bersangkutan kehabisan tisu toilet, iapun berteriak meminta pada sang istri, yang menyodorkan gambar tisu toilet pada layar gawai yang biasa digunakan sang suami.
He… Lucu. dan Mengena.

Buku, majalah, koran dan media cetak lainnya belakangan memang mulai jarang kita jumpai penampakannya. Apalagi untuk nama-nama besar yang dahulu kerap menghiasi keseharian aktifitas kita. Semua telah berganti menjadi format e-paper. Dimana tujuannya adalah mengurangi penggunaan kertas atau kayu sebagai bahan baku dasar pembuatan media cetak tadi.
Meski demikian dari video yang saya ceritakan diatas, memang tidak semua bisa menggantikan fungsi yang ada kini.

Pada tulisan sebelumnya, saya sempat sampaikan perihal imbas negatif kemajuan teknologi dunia maya dan internetnya akan menurunnya minat baca pada buku atau bentuk media cetak lainnya plus menurun pula aksi sosialisasi hubungan antar manusia dalam arti sebenarnya, tergantikan oleh sosial media yang fenomenal itu.

Upaya untuk mengembalikan kebiasaan membaca buku atau majalah, tabloid, koran dalam bentuk cetak di waktu senggang atau menunggu, merupakan satu semangat yang saya lakukan belakangan ini demi mengembalikan pula pola sosialisasi hubungan saya dengan lingkungan sekitar yang makin hari kelihatannya tingkat ego individu saya dan lingkungan makin terlihat membesar. Cenderung tidak lagi mempedulikan sekitarnya.

Maka jadilah saya kini menyimpan semua gawai yang dimiliki pada kantong celana atau tas yang kebetulan dibawa, berganti dengan sebuah buku atau tabloid topik tertentu, menemani rutinitas keseharian yang ada dengan harapan bisa bercanda dan menyapa orang-orang sekitar saya berada disela itu semua.

Bagaimana dengan kalian Kawan ?

Mencermati Imbas Negatif Kemajuan Teknologi pada Menurunnya Minat Baca Media Cetak dan Sosialisasi antar Kita

2

Category : tentang Opini

Di awal kesuksesan era internet dan dunia maya, ada sejumlah kekhawatiran dari para penerbit buku, majalah, koran dan media cetak lainnya akan kebangkrutan produksi akibat menjamurnya upaya digitalisasi demi memudahkan masyarakat yang merupakan pangsa pasar utama mereka, menikmati sajian dalam layar ponsel, tablet dan gawai lainnya yang belakangan secara harga sudah mulai terjangkau oleh kantong.

Hal ini dibuktikan oleh tumbangnya satu persatu media cetak termasuk penerbit, akibat ketidakmampuan memenuhi biaya operasional yang tidak lagi berbanding lurus dengan pembelian. Tidak hanya di lokal negara kita tapi juga global.

Akibatnya bisa ditebak. Kini sudah semakin jarang kita melihat orang-orang disekitar yang membaca buku atau media cetak sejenis saat senggang ataupun menunggu di tempat-tempat publik, bahkan bisa jadi termasuk kita sendiri. Informasi kini sudah dengan mudah didapat dari dunia maya. Buku atau majalah bahkan koran digital, liputan terkini oleh portal berita online, atau hal-hal yang dahulunya sulit kita dapatkan informasinya, kini sudah ada halaman blog personal yang siap membantu. Entah melalui opini yang bersangkutan atau liputan secara langsung.

Menurunnya minat baca pada media cetak membuat sebagian kalangan lalu seperti kebakaran jenggot, ketika menyadari bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki minat baca rendah ketika disandingkan dengan sejumlah negara di belahan dunia lainnya, bahkan lebih rendah ketika dibandingkan dengan negara tetangga pada lingkup wilayah yang lebih kecil. Semua mulai saling menyalahkan.

Ini saya sadari betul ketika melakukan beberapa perjalanan dinas keluar kota, termasuk yang terparah diantaranya adalah saat menanti keberangkatan pesawat Lion Air semalam di ruang tunggu Gate B7. Dimana semua, ya, semua orang yang ada di sekeliling saya berdiam diri, tak ada lagi yang tampak memegang koran ataupun buku dalam bentuk cetak. Digantikan oleh perangkat genggam maupun yang berlayar lebar, untuk mengakses sejumlah informasi yang berasal dari sosial media, portal berita, group chat, hingga penyedia edisi digital lainnya, bahkan untuk beberapa kakek nenek yang sudah berusia lanjut sekalipun.
Semua tampak asyik menatap layar gawai masing-masing tanpa pernah lagi peduli atau berbicara dengan kawan atau tetangga yang duduk di bangku sebelahnya.
Ya, ini adalah salah satu imbas negatif lainnya yang dihasilkan oleh kesuksesan internet dan dunia maya.

Maka itu, sejak awal perjalanan yang pernah saya lakukan di sepanjang tahun 2016 ini, selalu ada beberapa buku atau majalah atau tabloid yang saya bawa, ikut serta membebani tas ransel atau koper yang disandang. Tujuannya ya sederhana, ingin mengembalikan semangat minat baca saya yang sudah sedemikian lama hilang dari rutinitas yang ada, selain ada juga upaya lain untuk meminimalkan penggunaan gawai saat senggang atau masa menunggu, yang biasanya berpotensi menghabiskan daya tahan batere lebih jauh meski dalam masa kekinian sudah ada perangkat tambahan lain macam power bank yang siap menemani.

Karena bagaimana pun juga, ketika mata atau pikiran sudah mulai lelah membaca buku, tak akan ada upaya lain yang bisa dilakukan selain bercengkarama dan bersosialisasi dalam arti sebenarnya, dengan orang yang ada disebelah atau sekitar kita.
Satu hal yang sudah mulai hilang dalam hidup kita masing-masing selain minat baca buku tadi.

Bagaimana pendapat kalian kawan ?

Sebuah EVOlusi sosial dalam ber-hari raya

11

Category : tentang Opini

Sudah sewajarnyalah apabila saat hari raya tiba, sanak saudara hingga handai taulan yang dimiliki saling mengucapkan selamat satu sama lainnya, kendatipun mereka berbeda agama dan budaya. Demikian pula dengan yang saya alami.

Tidak hanya pada minggu-minggu ini, tapi jauh sebelumnya pun demikian. Tahun Baru, Nyepi, Galungan dan Kuningan, Idul Fitri serta Natal (mohon maaf bagi yang berhari raya Waisak, saya belum pernah mengalaminya…) bahkan hingga satu berita gembira yang didengar dari orang lainpun dengan segera diwujudkan dengan ucapan selamat, baik secara langsung ataupin tidak.

Beralih ke masa lalu disaat saya tidak sempat menyampaikannya secara langsung ke orangnya, saya mengenal yang namanya kartu pos ucapan selamat, dikirim dengan menggunakan perangko. Kalaupun sedang minim dana, saya pasti berusaha membuat kartu sendiri dengan menggunakan kertas manila dipotong kecil dan digambari sendiri. Selang beberapa waktu saya akhirnya memilih menggunakan Telegram Indah dengan pertimbangan biaya yang jauh lebih murah dan ga’ribet membuatnya.

Disaat ponsel kemudian menjadi konsumsi wajib setiap orang, cara yang digunakan untuk menyampaikan ucapan selamatpun makin berkembang. Dari berupa suara hingga yang jauh lebih hemat ya berupa pesan singkat atau yang dikenal dengan sebutan sms. Maka makin teballah kantong para pemilik operator beserta karyawannya tentu saja. Apalagi begitu puncak hari yang dimaksudkan, yang namanya keterlambatan penyampaian pesan kerap terjadi. Istilah mereka ya over kuota, penumpukan pengiriman saat jalur padat.

EVOlusi

Nah, dijamannya teknologi informasi makin berkembang tentu saja yang namanya interaksi sosial termasuk tradisi mengucapkan selamatpun beralih jauh lebih praktis. Gak susah beli kartu pos dan perangko, gak perlu buang-buang pulsa ato gak ada istilah over kuota lagi. Hanya memerlukan koneksi internet dan sedikit waktu luang.

Bagi para blogger, mereka tinggal membuat satu tulisan yang menyatakan ucapan selamat lengkap dengan sisipan gambar, suara hingga video kepada setiap orang yang rajin mampir atau bahkan dibagi alamat link-nya melalui sarana microblogging lainnya. Misalkan saja FaceBook. Tinggal melakukan aktifitas ‘Tag atau Share untuk orang yang dituju pada link atau gambar tulisan yang dimaksud, bisa juga melalui ‘update status masing-masing.

Tak hanya itu, microblogging lainnya pun tak luput dari perubahan tradisi interaksi sosial ini. Katakanlah yang lagi nge-trend semacam Twitter ataupun yang terbaru Tumblr. Maka dengan meluang waktu yang tak sampai lima menit dari waktu luang yang dimiliki, puluhan bahkan ratusan orangpun bisa dituju dengan baik dan dijamin sampai. Tergantung pada kesiapan orang yang dituju menerima pesan yang dikirimkan, apakah selalu terhubung 24 jam dengan dunia maya atau hanya sesekali. Tidak akan ada istilah hilang dijalan lagi.

Kabarnya sih sekumpulan orang sedang membidani satu fasilitas interaksi sosial yang kelak bakalan jauh memudahkan orang per orang untuk berhubungan satu dengan lainnya. Yah, yang namanya EVOlusi informasi tidak akan pernah berhenti hingga disini…