Dari Yowana Paramartha menuju Pura Penataran Pande Tamblingan (1)

2

Category : tentang PLeSiran

Tulisan berikut merupakan tulisan pertama dari dua tulisan yang versi aslinya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Semeton Pande sareng sami, sekedar informasi tambahan berkaitan dengan eedan karya yang dilaksanakan di Pura Penataran Pande Tamblingan, walaupun pembangunannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu namun persiapan intensif menjelang pemelaspasan hanya dilakukan dalam kurun waktu satu bulan sebelumnya. Setidaknya demikian info yang saya dapatkan dari Drs. I Gede Made Sutama, MM atau yang akrab dipanggil Pak Dedes selaku pemimpin pembangunan Pura Penataran Pande Tamblingan ini. Dibantu oleh semeton Pande lainnya dari seluruh Bali khususnya semeton pande yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar Danau Tamblingan (Catur Desa). Untuk sementara, Pura Penataran Pande Tamblingan dapat dikatakan sudah selesai dibangun dan selesai dipelaspas dengan upacara penyineban yang dilakukan pada hari selasa tanggal 29 Juni 2010 lalu.

Selama kurun waktu sebulan ini pula, beberapa semeton muda Pande berusaha berkumpul menyatukan visi dan misi secara bersama-sama dengan tujuan selain menjalin kebersamaan, persaudaraan juga melaksanakan ajaran yadnya sebagai tujuan akhir dari ajaran umat hindu. Walaupun tidak gampang untuk mewujudkannya, namun berkat kemajuan teknologi informasi yang sedang berkembang saat ini, kami berhasil mengadakan dua kali pertemuan atau yang istilah kerennya ‘kopi darat’. Pertemuan awal yang dilakukan di emperan Restauran Dcoz Renon hanya dihadiri oleh 5 orang saja dan meningkat pada pertemuan yang kedua sekitar tiga kali lipatnya yaitu 17 orang. Satu awal yang menggembirakan.

Meski demikian, sesungguhnya pada saat pertemuan pertama kami tidak tahu bahwa akan ada pemelaspasan Pura Penataran Pande di Tamblingan, Singaraja. Bahkan ada pembangunan pura itu saja kami tidak tahu. Baru pada pertemuan kedua yang berlangsung 2 minggu sesudahnya kami mengetahui rencana tersebut. Tentu saja momen pemelaspasan ini menjadi momen yang sangat tepat bagi kami untuk mulai bergerak, mewujudkan visi dan misi kami yaitu beryadnya. Maka mulailah kami menyusun rencana kerja pertama yaitu ngayah ke pura.

Untuk pertama kalinya saya tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan bersama keluarga dan bertemu dengan Putu Adi Susanta, Mangku Pande Luhur dan Pande Pratama yang rupanya mengetahui keberadaan Yowana Paramartha melalui akses jejaring sosial Facebook. Putu Adi yang menghampiri saya dengan senyum khas dan keramahannya berjanji akan ikut dalam pertemuan Yowana selanjutnya. Lucunya pada saat ngayah saya tidak melihat yang bersangkutan memegang alat alat ngayah, melainkan kamera. Belakangan saya tahu ia bekerja sebagai seorang “photographer” tapi tidak seperti photographer sekelas Darwis Triadi, melainkan mengambil gambar foto tulang belulang orang alias foto rontgen. Namun semangatnya mengalahkan bisa dikatakan Darwis Triadi. Lihat saja di FaceBook, banyak foto asyik yang ia hasilkan, terutama foto teruni cewek” semeton pande yang cantik-cantik. Hahaha…

Sepulangnya dari pura, saya bersama semeton lain di Yowana Paramartha kembali memantapkan tekad untuk tangkil bersama ke Pura Penataran Pande Tamblingan. Pertemuan yang dihadiri sekitar 17 orang di Ulam Segara Renon menjadwalkan upaya tangkil dan ngayah bersama pada tanggal 20 Juni hari minggu pagi.

Sialnya begitu hari H, saya bangun kesiangan. Sudah begitu, sesampainya dilokasi tampak menanti bli Wayan Pande Tamanbali beserta “pasukan” dari Peliatan, menyandang peralatan lengkap, baju seragam dan siap ‘menghabiskan’ semua pekerjaan yang ada di pura, sampai-sampai kami tidak kebagian dan hanya bisa duduk terkagum-kagum memandangi mereka. Kalo diumpamakan mereka itu mirip sekelompok semut yang siap bergotong royong dan kompaknya minta ampun. Sumpah, heran saya melihatnya.

Selesai ngayah kami memperkenalkan diri pada pak Dedes. Itulah pertama kali saya kenal Beliau, mungkin teman yang lain juga begitu ?

Sambil memperlihatkan tiga buah keris yang berhasil dibuat di Prapen Pura Penataran Pande Tamblingan, pak Dedes berbincang dan berdiskusi dengan kami mengenai asal usul pura. Dengan gamblang pak Dedes menceritakan bagaimana awalnya Beliau “bertunangan” dengan pura ini. Selengkapnya mengenai catatan perjalanan pak Dedes, bisa didapat dan dibaca dari buku kecil ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang sudah Beliau terbitkan.

Kembali ke Yowana Paramartha, Jujur saja sedari ngayah pertama hingga kali ini kami merasa ada keterikatan bathin dengan Pura Tamblingan. Belum puas rasanya untuk tangkil dan ngayah. Maka dengan meminjam tempat di MyMart milik Pande Putu Yadnya (Pande Bali), kami kembali berdiskusi mengenai teknis tangkil berikutnya. Kali ini dengan niat tambahan, menghimpun punia. Adapun jumlah yang berhasil kami kumpulkan saat itu ‘hanya’ sebesar 850ribu dari 9 orang yang hadir. Dana tersebut kemudian bertambah sedikit setelah sebuah Pesan kami kirimkan melalui FaceBook kepada semeton lainnya.

Tidak lupa merancang sebuah banner yang berisikan ajakan kepada semeton Yowana semua untuk bergabung bersama kami, sesuai kesepakatan hasil diskusi malam tersebut. Banner kemudian di print dalam ukuran besar dan siap untuk dibawa.

Bagaimana cerita tangkil dan ngayah ini selanjutnya, baca di tulisan berikutnya ya…

Asal Mula istilah Pande (lanjutan)

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande.

Adapun tulisan ini sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Berkenaan dengan wangsa Paandie (asal kata Pande) yang akan dibahas tidak bisa terlepas dari perkembangan sekte diatas, dan di Bali khususnya karena wangsa Paandie itu sendiri merupakan salah satu bagian dari ajaran tersebut.

Adapun sumber ajaran Paandie itu berasal dari sekte Brahmana ialah salah satu sekte yang telah berkembang yang menempati urutan sangat penting diantara sekte lainnya. Pengikutnya bergelar wangsa Brahmana Paandie. Lebih jelasnya setelah Hindu jatuh ketangan Islam, istilah Brahmana tidak tampak lagi tetapi wangsanya masih ada yang sekarang disebut Pande Besi, Pande Mas dan lainnya. Tetapi keberadaannya sangat berbeda dengan yang ada di bali.

Di luar bali wangsa Paandie itu lebih berarti profesi saja, tidak ada kaitannya satu dengan lainnya. Tidak ada prasasti yang mengikat atau kewajiban moril dan rituil seperti yang ada di Bali. Di Bali Wangsa Paandie diikat dengan prasasti-prasasti dan Wimamsa-wimamsa leluhur dan secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan keluarga lainnya dibawah istilah wangsa.

Salah satu Prasasti yang sangat terkenal disebut “Pustaka Bang Tawang” sedangkan tempat penyiwiannya disebut Gedong Sinapa atau Batur Kemulan Kesuhunan Kidul. Pustaka Bang Tawang mengandung ajaran Kawikon, Kawisesan dan ajaran Tantang Raja Parana Dewa Tatwa dan Pamurtining Aksara (ilmu sastra) yang juga termuat sebagai dasar dari segala dasar ajaran sastra.

Yang terpenting tidak dimiliki oleh ajaran-ajaran sekte lainnya adalah ajaran “Aji Pande Wesi” merupakan ilmu unggulan yang dimiliki oleh aliran Wangsa Paandie. Dilihat dari prasasti dan dewa yang dipuja puji jelaslah bahwa wangsa Paandie ini dahulunya menganut sekte brahmana. Sedangkan kiblat pemujaannya berada di Kidul “kasuhunan kidul selatan” tempat berstananya Dewa Brahmana menurut Tatwa Dewa Nawa Sanga. Ajaran Pande Wesi inilah nantinya akan melahirkan istilah Aji Paandie.

Selain ilmu unggulan “Aji Pande Wesi”, Prasasti tersebut juga memuat ajaran Pemurtining Aksara (kesusastraan) seperti Aksara Dewa, Dasaksara, Pancaksara, Panca Brahma, Aksara Permuting bumi (ilmu tentang terjadinya alam semesta), Panca Bayu dan lainnya. Semua ajaran diatas kemudian dikenal sebagai “Aji Panca Bayu”.

Aji Panca Bayu merupakan bagian dari ajaran Panca Brahma Pancaksara yang berakar dari Aji Dasaksara Pamurtining, Aksara Anacaka sastra kesusastraan.
Aji Ngaran Sastra, Saka Ngaran Tiang Ngaran Pokok (ngaran = bermakna) yang secara umum mengandung pengertian yaitu Sumber dari ajaran sastra Kesusastraan. Sastra ngaran tastas, ngaran terang benderang. Astra ngaran api ngaran sinar
(dengan mengenal api orang akan mengenal terang, sebaliknya orang yang tidak mengenal sastra sama dengan buta huruf berarti hidup dalam kegelapan)

Demikian penjelasan Tatwa Aksara (filsafat aksara) yang tercantum di dalam Aji Saraswati, yang berarti tak terbatas sari patinya. Mengenai ajaran Aji Panca Bayu yang melahirkan istilah Paandie dijelaskan sebagai berikut :

Dalam ajaran Aji Panca Bayu memuat lima ajaran inti tentang Panca Cakra atau Panca Bayu yang kemudian disebut Panca Prana. Ajaran ini sangat dirahasiakan dan hanya boleh diberikan kepada penganut sekte brahmana. Panca Bayu atau Panca Cakra itu meliputi :

1. Prana Mantram : sumber dari segala sumber kekuatan cakra bertempat di Papusuhan atau pada jantung, keluar melalui hidung berfungsi sebagai hembusan
2. Apana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada pori pori seluruh tubuh, keluar menjadi air disebut Palungan (sumber air)
3. Sabana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada hati, keluar menjadi api melalui mata kanan
4. Udana Mantram : kekuatan bersumber pada ubun-ubun keluar menjadi garam (inti Baja)
5. Byana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada tiga persendian utama yaitu paha, tangan dan jari.

Cakram Mantram mengalir kepada paha menjadi kekuatan tanpa tanding, tahan api yang menyebabkan paha menjadi keras dan berfungsi sebagai landasan. Cakram Mantram mengalir ke tangan menyebabkan seluruh tangan menjadi kuat dan keras, tahan api, berfungsi sebagai palu. Cakram Mantram mengalir keseluruh jari jari tangan membuat jari menjadi tahan api, berfungsi sebagai penjepit atau sepit.

Dari ketiga sumber kekuatan inilah lalu melahirkan istilah Paandie yang kronologinya sebagai berikut :

Pa ngaran paha
An ngaran tangan
Die ngaran jeriji

Penyatuan Ketiga aksara menjadi Paandie dan selanjutnya ajaran tersebut diberi nama “Sundari Bungkah Sundari Nerus” sedangkan pustakanya disebut Pustaka Bang Tawang.

Bagi mereka yang memasuki dan memperdalam Aji Kawikon disebut Brahma Paandie, bagi mereka yang memperdalam Aji Kewisesan Satria disebut Arya Kepaandian” arya dalam bahasa jawa sama dengan Kesatria, sama dengan Gusti dalam singgih Bali. Selanjutnya bagi mereka yang menganut aliran Brahma ini disebut Wamsa Paandie atau lebih poluler disebut Wamsa Paandie, sedangkan tempat pemujaan pustakanya disebut Gedong Sinapa atau Gedong Batur Kemulan Kasuhun Kidul.

Demikian ringkasan yang dapat saya persembahkan. Semoga bermanfaat.
oleh I Wayan Putrawan, SH (Yande)

Asal Mula istilah Pande

3

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

Lantaran saking panjangnya, tulisan tersebut akan saya pecah menjadi 2 bagian. Tulisan pertama bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande, dan Tulisan kedua tentang Ajaran Aji Panca Bayu yang merupakan perkembangan dari keberadaan Sekte (aliran) diatas.

* * *

Mengapa disebut Pande?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya (Yande Putrawan) akan mengutip dari sumber yang saya miliki. Namun dikarenakan usia buku yg sangat tua menyebabkan tulisan pada covernya susah dibaca, bagi mahasiswa yang kebetulan memerlukan referensi tentu akan sulit untuk mengutip. Mohon Maaf untuk keterbatasan tersebut.

Di Indonesia pernah kita mengenal beberapa sekte antara lain Sekte Aji Saka, Sekte Markandeya, Sekte Waisnawa, Sekte Agastya, Sekte Pasupatiya, Sekte Ganadipa, Sekte Buda Mahayana, Sekte Budha Tantrayana, Sekte Bhairawa, Sekte Siwa, Sekte Bramana, Sekte Rudra, Sekte Maisora, Sekte Sambu dan masih banyak lainnya.

Diantara sekte tersebut yang lebih dikenal di indonesia adalah Sekte Sakeya atau Sekte Saka. Aliran ini masuk ke Indonesia pada tahun 75 Masehi, sehingga tahun tersebut disebut tahun Caka bernafaskan ajaran Brahma Siwa. Di Bali jelas dapat kita lihat bahwa perkembangan agama sekte itu terjadi pada jaman Kesari Warmadewa, memasuki zaman kerajaan Udayana. Pada masa ini jelas sekali terlihat ciri-ciri sekte yang berkembang di Bali.

Menurut catatan, tidak kurang dari 16 sekte yang ada, masing masing dengan ciri-cirinya antara lain :
• Aliran Pasupatinya : memuliakan matahari sebagai manifestasi Hyang Widhi, selanjutnya tata pelaksanaan persembahyangannya disebut Surya Sewana
• Aliran Ganaspatinya : memuliakan Dewa Ganesha sebagai manifestasi Hyang Widhi, dimana disetiap tempat angker atau dianggap suci ditempatkan arca Ganesha dan memuliakan Dewa Angin
• Aliran Budha Mahayana, Budha Bairawa, Budha Hinayana, Tantriisma Putih, Tantriisma Hitam : ajarannya adalah makan sepuasnya, makan darah lawar dan tuak arak. Ajaran ini paling terkenal di jamannya. Bukti-bukti ajaran yang masih ditinggalkan sampai sekarang adalah makan lawar maupun komoh dengan tambahan darah hewan.
• Ajaran Panestian : teluh, leak, terangjana disebut aliran Pengiwa.
• Ajaran Pengobatan : pengelantih sabuk dari pekakas balian disebut aliran Penengen.

Ciri ciri aliran Bairawa tersebut paling nyata sampai sekarang bisa dikenali di bali dan justru dilarang oleh pengembang Brahma Wisnu Budha. Jelaslah aliran Bairawa yang dianut oleh raja Maya Denawa yang pernah menggemparkan Bali, ditandai dengan makan lawar yaitu makanan dari daging mentah dicampur darah mentah, minum arak dan tuak dan bersenggama.

Kemudian mengamalkan ajaran Pengiwa seperti angleak, aneluh, arangjana kemudian penengen dengan mengajarkan pengentih, kekebalan, guna-guna yang menurut ajaran Weda sangat dilarang untuk dipelajari dan dikembangkan.

Justru di bali ajaran ini pernah berkuasa di jamannya raja Jaya Kesunu atau raja Jaya Pangus, dari perselisihan aliran Siwa Brahma Waisnawa dengan aliran Bairawa yang kemudian menimbulkan peperangan dibali.

Raja Maya Denawa aliran Bairawa bermarkas di Batur berperang dengan aliran Brahma Siwa Waisnawa yang bermarkas di Besakih dengan raja Jaya Pangus sebagai tokohnya.

Dalam perang besar jaman itulah yang melahirkan mitos yang amat kesohor disebut Galungan (hari raya Galungan) ditandai dengan terbunuhnya raja Maya Denawa di Bedulu di pinggiran kali Petanu.

Demikian gambaran singkat tentang sekte di bali jaman itu. Selanjutnya terus berkembang sampai jaman Prabu Udayana sekitar tahun 1001 Masehi. Di periode tahun inilah lahir paham ajaran Tri Murti dimana keseluruhan sekte yang ada di Bali telah dipersatukan menjadi satu kepercayaan disebut “Tri Murti” (Brahma, Wisnu dan Siwa) selanjutnya kita mengenal dengan Padma Tiga, cikal bakal adanya padma di bali sebagai simbol periyangan Hyang Widhi.

Sekilas tentang Pande Bangke Maong

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Tidak hanya di kawasan Danau Tamblingan, di kawasan Danau Beratan pun ditemukan benda-benda purbakala yang merupakan peralatan kerja profesi warga berupa perabot mamande seperti pangububan atau palungan pendingin. Artinya pemukiman komunitas Pande pada masa itu begitu luas wilayahnya. Di samping itu, kecerdasannya juga sangat tinggi, sehingga raja-raja di Bali mengandalkan warga Pande Tamblingan untuk memproduksi beraneka ragam senjata dan peralatan perang lainnya, seperti baju besi misalnya.

Profesionalisme dan kecerdasan warga Pande Tamblingan inilah yang membuat Kerajaan Majapahit gusar, karena merasa sulit menundukkan Bali. Adapun prajurit-prajurit kerajaan Bali saat itu telah dipersiapkan dengan senjata-senjata bertuah. Salah satu senjata bertuah dan sakti yang berhasil dibuat di Tamblingan oleh warga Pandenya adalah senjata keris yang bernama Keris Bangke Maong. Senjata keris inilah yang benar-benar ditakuti oleh Gajah Mada dan bala tentaranya. Nama keris inilah yang kelak menjadi nama warga pande yang ada di Tamblingan ini.

Kerajaan Majapahit yang berobsesi menyatukan seluruh nusantara di bawah kekuasaannya, dipimpin Mahapatih Gajah Mada berusaha keras menguasai Kerajaan Bali, dengan terlebih dahulu menghancurleburkan basis pembuatan senjata di kawasan sekitar Danau Tamblingan yang notabene Warga Pande Tamblingan sebagai pekerja profesionalnya. Strategi Gajah Mada ini masuk akal dan sangat politis. Apabila sumber pembuatan senjata telah hancur, maka kekuatan persenjataan Bali menjadi lumpuh sehingga mudah ditundukkan.

Akhirnya Majapahit menyerbu Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Salah seorang panglima yang ikut dalam invasi Majapahit ke Bali itu adalah Arya Cengceng yang mendapat tugas khusus untuk menghancurleburkan kawasan basis pembuatan senjata di Tamblingan dan usahanya itu berhasil.

Warga Pande Tamblingan meninggalkan tempat kelahirannya dengan terlebih dahulu mengamankan belasan prasasti dengan cara menanamnya di bawah tanah, termasuk benda-benda berharga lainnya, karena tidak mungkin mereka bawa mengungsi. Bahkan diperkirakan sejumlah prasasti ada yang sengaja dibuang ke Danau Tamblingan agar terjamin keamanannya, dengan harapan dapat diambil kembali manakala suasana sudah memungkinkan.

Dengan terbunuhnya sebagian terbesar Warga Pande Tamblingan, otomatis perlengkapan persenjataan perang Raja Bali ketika itu Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten atau Sri Gajah Waktra kurang memadai, yang berujung pada jatuhnya Kerajaan Bali (tahun 1343).

Jatuhnya Kerajaan Bali semakin menyebabkan warga Pande Tamblingan mengungsi ke wilayah lainnya agar terbebas dari kepungan bala tentara Majapahit yang terkenal ganas. Para penguasa ketika itu berusaha keras untuk memprioritaskan warga Pande Tamblingan terlebih dahulu mengungsi, dengan harapan nantinya warga bisa kembali ke tempat asalnya mereka dengan jaminan keamanan dari penguasa, hal ini bahkan ditatahkan dalam dua buah prasasti. Akan tetapi warga Pande Tamblingan tetap tidak mau kembali, bahkan tidak sedikit yang kemudian ‘nyineb raga’ (menyembunyikan identitas) agar sama sekali tidak terdeteksi keberadaanya.

Ketika perang berakhir, Arya Cengceng beserta pengikutnya berhasil menduduki dan mengancurleburkan komunitas Pande Tamblingan. Setelah beberapa tahun, diberlakukanlah rekonsiliasi, untuk merangkul kembali dan mengambil hati warga Pande Tamblingan. Arya Cengceng didaulat untuk melakukannya, akan tetapi tetap tidak berhasil karena warga Pande Tamblingan trauma dengan masa lalu.
Oleh karena tidak berhasil melakukan rekonsiliasi meskipun memenangkan perang, Arya Cengceng ditarik dari Tamblingan dan ditempatkan di Bedahulu. Sejak ditariknya Arya Cengceng ke Bedahulu, kabarnya tidak terdengar sama sekali. Tidak ada lagi yang melanjutkan keturunan Arya Cengceng dan dianggap putung.

Keengganan warga Pande Tamblingan untuk kembali ke tanah asalnya ditindaklanjuti oleh para penguasa pada jaman tersebut dengan mengeluarkan dua prasasti untuk membujuk warga Pande Tamblingan kembali pulang, usaha ini tetap saja tidak berhasil. Prasasti pertama dikeluarkan oleh Raja Prameswara tanggal 3 tahun 1306 Saka atau 1384 Masehi yang memerintahkan Arya Cengceng agar jangan mengganggu warga Pande Tamblingan, segera meninggalkan tempat tersebut dan tinggal di Goa Gajah. Sementara warga Pande Tamblingan diminta agar kembali ke tempat asalnya dari tempat pengungsian.

Himbauan Raja Prameswara tersebut rupanya tidak mendapat respons dari warga Pande Tamblingan di pengungsian, karena khawatir himbauan itu hanyalah jebakan. Mengingat pentingnya peranan warga Pande Tamblingan, maka penguasa kembali menerbitkan prasasti pada Sasih Kedasa (sekitar bulan April) tahun 1930 dengan isi dan maksud yang sama. Hanya saja warga Pande Tamblingan tetap tidak bergeming dan memilih untuk tetap nyineb wangsa (menyembunyikan identitas).

Ada dua versi yang menjelaskan mengapa warga Pande Tamblingan disebut sebagai Pande Bangke Maong. Versi pertama menjelaskan bahwa sebagai akibat kebertuahan (keampuhan) senjata yang dibuat warga Pande tersebut, menyebabkan siapapun yang terkena senjata walau hanya tergores atau bahkan tersentuh saja, seketika itu juga orang tersebut akan mati dan beberapa saat kemudian mayatnya (bangke) akan berubah menjadi rusak, kotor dan kusam (maong). Sehingga lahirlah istilah Pande Bangke Maong.

Versi lain mengatakan bahwa Bangke Maong sesungguhnya hanyalah plesetan saja dari kata-kata Pande Bang Kemaon (Pande yang hanya berwarna merah atau bang). Sebagaimana diketahui bahwa warna merah adalah warna khas Pande sebagai simbol dari Bhatara Brahma, junjungan warga pande yang ingin menunjukkan jati diri sebagai penyembah Brahma.

Dewasa ini, warga Pande Bangke Maong ditenggarai berada di beberapa wilayah di Bali seperti di sekitar Desa Rendang (Karangasem), di Desa Semita, Srongga dan Pejeng (Gianyar), di Desa Kayu Putih (Tabanan) dan beberapa tempat lainnya.

Kendatipun masih membutuhkan kajian yang lebih detail dengan melakukan napak tilas perjalanan para leluhur Pande pada jaman dahulu, untuk sementara Pande Bangke Maong yang kini tersebar di wilayah-wilayah tersebut, dapat diyakini adalah mawiwit atau berasal dari Tamblingan. Sehingga wajar kalau mereka harus merapatkan barisan untuk mempersatukan diri menyatukan visi tentang asal dan penyebaran Pande Bangke Maong di Bali.

* * *

Tulisan diatas saya ambil dari Buku ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang disusun oleh I Made Suarsa dan diterbitkan oleh Maha Semaya Warga Pande Propinsi. Adapun sumber Pustaka yang (diperkirakan) digunakan adalah ‘Pande Tamblingan’ oleh Made Kembar Kerepun tahun 2002.

Sekilas tentang Situs Tamblingan

20

Category : tentang iLMu tamBahan

Berbicara tentang Pura Penataran Pande Tamblingan yang dahulu dikenal sebagai Pura Catur Lepus, tidak bisa lepas dari penemuan Situs Tamblingan yang berawal dari penemuan sebuah lempeng prasasti tembaga oleh Pan Niki (warga Desa Wanagiri) pada tahun 1997.

Prasasti yang berangka tahun 1306 Isaka tersebut, yang selanjutnya disebut Prasasti Tamblingan berisi perintah penguasa wilayah pada waktu itu kepada Warga Pande Besi di Tamblingan yang telah lama meninggalkan desanya, agar segera kembali ke Tamblingan untuk bekerja sebagaimana biasanya seperti dahulu. Prasasti yang hingga saat ini masih tersimpan rapi di Pura Pamulungan Agung, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terbuat dari lempengan tembaga dimana kedua sisinya berisi tatahan aksara dan bahasa Jawa Kuna.

Pada hari Wrehaspati Kliwon Ukir tanggal 26 September 2002, kembali ditemukan empat kelompok prasasti, ketika warga melakukan kegiatan meresik-resik di Pura Endek. Pura Endek adalah salah satu pura yang terdapat di tengah hutan¬ di tepi Danau Tamblingan, seperti Pura Penimbangan, Pura Sanghyang Kauh, Pura Gubug, Pura Embeng, Pura Dalem Tamblingan, Pura Pangukusan, Pura Pangukiran, dan lainnya. Prasasti itu ditemukan dalam sebuah guci buatan Vietnam dari kedalaman permukaan tanah. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Ugrasena, Raja Udayana dan Raja Suradipa.

Secara umum keempat prasasti itu mencatatkan eksistensi hebat Warga Pande Tamblingan yang berada di wilayah sekitar Danau Tamblingan. Pembuatan baju besi berkualitas tinggi yang berhasil dibuat Warga Pande Tamblingan, demikian juga pembuatan papilih mas (pande mas), papilih besi (pande besi) dan Gamelan Slonding. Deskripsi yang ada menunjukkan bahwa Warga Pande Tamblingan sangat profesional dengan profesi kepandeannya, dikagumi oleh penguasa dan ditakuti oleh musuh. Atas keistimewaan dan kecerdasan Warga Pande Tamblingan ini, maka penguasa Bali ketika itu memberikan hak istimewa kepada Warga Pande Tamblingan dan para penabuh gamelan Slonding, untuk dibebaskan dari pengenaan pajak.

Berdasarkan fakta dan data yang terdapat di daerah situs Tamblingan dan Beratan, terutama berdasarkan ukuran besar dan kecilnya peninggalan pangububan (alat untuk memanaskan besi, tembaga atau emas), maka dapat dikatakan bahwa di sekitar Danau Tamblingan merupakan komunitas Pande Besi, sementara di sekitar Danau Beratan merupakan komunitas Pande Mas. Sedangkan Pande Tusan wilayah komunitasnya adalah di Klungkung.

Berkenaan dengan profesi ini mencerminkan bahwa lempengan-lempengan prasasti yang terbuat dari tembaga adalah hasil buatan dari warga Pande Tamblingan sendiri. Di samping berupa lempengan tembaga sehingga disebut Tambra Prasasti, prasasti juga bisa dibuat dari lempengan besi atau juga dari daun-daun rontal yang disebut Ripta Prasasti.

Di daerah Bali khususnya dan Indonesia umumnya, banyak sekali terdapat situs-situs purbakala. Situs Tamblingan adalah salah satu dari sekian banyak situs tersebut. Dinamakan Situs Tamblingan, karena kawasan situs terletak di tepi Danau Tamblingan, danau seluas 110 hektar yang dikelilingi oleh Gunung Lesong, Bukit Naga Loka, Asah Munduk, Asah Gobleg dan Asah Panji. Danau Tamblingan adalah salah satu dari tiga buah kaldeira purba akibat letusan Gunung Beratan Purba, di samping Danau Beratan dan Danau Buyan.

Secara geografis situs Tamblingan berada di antara sekitar 8 derajat Lintang Selatan dan 11,5 derajat Bujur Timur dengan ketinggian 1.127 sampai dengan 1.248 meter di atas permukaan air laut. Terletak di tepi timur dan selatan Danau Tamblingan yang merupakan kaki barat laut Gunung Lesong (salah satu gugusan pegunungan seperti Gunung Batukaru, Sengayang, Pohen dan beberapa bukit seperti Bukit Batu Tapak, Bukit Pucuk, Bukit Naga Loka, Bukit Adeng dan lain-lain).

Benda-benda purbakala yang ditemukan di situs Tamblingan antara lain dolmen atau meja batu dengan panjang 32,5 centimeter, lebar 220 centimeter dan tinggi 80 centimeter sebagai meja saji tempat duduknya kepala suku. Celak Katong Lugeng Luwih yang terbuat dari batu monolit. Aneka gerabah berwarna cokelat, hitam dan merah seperti periuk, pasu, cawan, padupan, kendi. Aneka keramik seperti mangkok, cepuk, piring, tempayan, guci, dan buli-buli. Manik-manik yang terbuat dari batu akik berbentuk bulat panjang dan silindrik. Sisa-sisa hewani seperti kijang, rusa, menjangan, babi, sapi, kera dan lain-lainnya. Gacuk yakni permainan anak-anak yang terbuat dari pecahan keramik. Benda-benda logam seperti batangan besi, fragmen tombak, cincin, kaitan terbuat dari besi, perunggu dan lain-lain. Mulut perapian berupa batu berlubang. Batu landasan dan batu asahan yang merupakan alat-alat pande besi. Palungan batu sebagai bak pendingin ketika memanaskan logam. Struktur yang terbuat dari batu andesit dan bata mentah yang menunjukkan adanya pemukiman di daerah situs tersebut.

Dengan melihat penemuan-penemuan yang terdapat di situs Tamblingan, bisa dikatakan bahwa komunitas yang bermukim di wilayah sekitar Tamblingan adalah warga atau komunitas Pande, komunitas yang profesional dalam bidang pekerjaannya. Akan tetapi mengapa pada akhirnya komunitas itu meninggalkan kawasan dengan jalan menyimpan alat-alat peninggalan berupa prasasti di dalam tanah, bahkan mungkin juga menenggelamkan di Danau Tamblingan. Warganya sendiri nyineb raga (menyembunyikan identitas), bahkan tidak mau lagi kembali walau setidaknya dua raja telah memerintahkan untuk kembali.

* * *

Tulisan diatas saya ambil dari Buku ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang disusun oleh I Made Suarsa dan diterbitkan oleh Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali tahun 2009. Adapun sumber Pustaka yang (diperkirakan) digunakan dalam buku tersebut adalah ‘Situs Tamblingan’ oleh I Made Sutaba tahun 2007

Dokumentasi Pura Penataran Pande Tamblingan

19

Category : tentang PLeSiran

Berikut beberapa dokumentasi foto yang saya ambil dengan kamera pocket… Keterangan gambar saya cantumkan pula dibagian bawah gambar. Bagi yang ingin mengetahui Eedan Karya, bisa mencarinya lewat ‘Related Post’ yang ada di bagian bawah tulisan ini. Suksema.


Tampak pandangan Pura Penataran Pande Tamblingan dari arah Danau

Pura Penataran Pande Tamblingan pada area Utama

Meru Tumpang Telu/Tiga beserta Lingga Yoni

Lokasi Palung air di area Madya

Jalan akses menuju area Situs dan pemandangan dari atas menuju Pura dan Danau

Area situs yang terletak dilereng atas Pura. Tampak Pohon Besar yang digunakan untuk Media uji Keris yang dibuat oleh Leluhur di Tamblingan terdahulu

Semeton Yowana Paramartha Warga Pande

Ngayah Bersama Yowana Paramartha Warga Pande

10

Category : tentang DiRi SenDiri, tentang InSPiRasi

Tidak banyak pekerjaan yang bisa kami kerjakan saat ngayah bersama hari minggu 20 Juni 2010 kemarin di Pura Penataran Pande Tamblingan. Alasan Pertama karena bahan baku yang akan diolah atau digarap belum semua bisa disiapkan oleh pihak Panitia. Hal yang sangat disayangkan sekaligus dapat dimaklumi mengingat proses Karya yang akan dilaksanakan baru akan benar-benar dimulai pada yanggal 23 Juni besok. Alasan Kedua sekaligus yang sebenarnya menjadi alasan terkuat adalah begitu mantapnya kekompakan dan etos kerja yang ditunjukkan oleh Semeton Yowana dari Peliatan Ubud sedari awal mereka menginjakkan kaki di areal Pura.

Jujur, saya salut dengan kerjasama dan tauladan positif yang mereka tunjukkan. Kurang lebih dua puluh orang Teruna Teruni yang dikomandoi oleh seorang senior Bli Pande TamanBali, mampu saling bahu membahu tanpa menunggu satu sama lainnya untuk bekerja, mengambil semua peluang pekerjaan yang ada dan menyelesaikannya dengan baik. Kekompakan juga pengetahuan akan pekerjaan yang diambil membuat saya (dan juga barangkali beberapa Semeton lain) hanya bisa terkagum-kagum dan takjub. Sungguh, saya iri (dalam arti positif) dengan semua semangat itu. Satu hal yang barangkali sudah tidak dapat saya temukan lagi pada Yowana dilingkungan kami.

Drs. I Made Gede Sutama, MM., Ketua Panitia Karya yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Dede’s sesuai rencana berkenan hadir dan menerima kedatangan kami dengan baik. Beliau datang bersama dua penglingsir lainnya dan membawa serta beberapa buah buku yang sedianya akan dibagikan kepada Yowana. Adapun isi sebagian besar buku-buku tersebut adalah cerita tentang sejarah Pura Penataran Pande Tamblingan sedari penemuan hingga pembangunan yang dilihat baik dari kacamata pengalaman seorang Dede’s maupun dokumentasi yang tercatat secara mendetail.

Sekedar Informasi, Pura Penataran Pande Tamblingan atau yang dahulu dikenal dengan nama Pura Catur Lepus terletak di pinggir Danau Tamblingan, sebuah danau yang terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung, kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Tepatnya berada pada titik Latitude 8°15’57.62″S dan Longitude 115° 5’49.59″E sesuai arahan pada aplikasi Google Earth. Satu-satunya akses jalan menuju Pura sampai saat ini masih berupa jalan tanah yang dipadatkan, dengan lebar yang tidak memenuhi persyaratan sebuah jalan umum jalur dua arah. Suasananya kurang lebih sama dengan jalan akses menuju Pura Luhur Giri Selaka atau yang dikenal dengan nama Pura Alas Purwo.

* foto diatas saya ambil dari besutannya Putu Adi Susanta pemilik www.radiografer.net *

Banyak cerita yang kami dapatkan baik melalui buku maupun diskusi kecil yang Beliau adakan sesaat setelah makan siang. Tentang Konsep pembangunan pura yang memadukan pemahaman jaman Bali Kuno dengan Modern, tentang penemuan Lingga Yoni yang melambangkan dua manusia laki-laki dan perempuan dan kemudian disandingkan dengan pelinggih Padma Capah, tentang tiadanya pelinggih Padmasana atau keberadaan Meru tumpang Telu (tiga) sebagai perwujudan Warga Pande, tentang penyengker pura yang memang dibuat sedemikian rupa tanpa tembok agar tetap menyatu dengan alam sekitarnya.

Ada juga tentang penemuan palung berisi air (tirta) yang tidak pernah habis, tentang pembuatan tiga buah keris yang sengaja dibuat langsung di lokasi Pura Penataran Pande Tamblingan, tentang pohon raksasa yang kabarnya dahulu digunakan sebagai media uji keris yang dibuat oleh leluhur, atau tentang keajaiban yang muncul saat pembuatan keris maupun ular merah yang dijadikan cover buku dokumentasi tersebut.

I Wayan Putrawan, SH atau yang lebih dikenal sebagai Yande, Teruna dari Pedungan yang untuk sementara ini didaulat sebagai koordinator pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande untuk lingkup Kota dan kabupaten, benar-benar memanfaatkan momen diskusi ini untuk menyampaikan visi serta misi pembentukan Yowana sekaligus memohon bantuan Panitia Karya agar berkenan membantu sosialisasi atau pengenalan kepada Warga Pande yang nantinya akan tangkil setiap harinya. Terkait ide yang disampaikan, Pak Dede’s menyambut baik dan berjanji akan memberikan ruang sebagai tempat berekspresi entah dalam bentuk satu pengumuman tempel atau ruang khusus disekitar lokasi Pura. Opsi kedua yang dapat Beliau tawarkan adalah memberikan kesempatan pada perwakilan Yowana untuk ikut serta berbicara dan menyampaikan ide saat Puncak Acara nantinya.

Kegiatan Ngayah Bersama Yowana Paramartha Warga Pande ini merupakan kegiatan sosial kedua yang dilaksanakan selama kurun waktu seminggu terakhir. Adapun yang pertama dilangsungkan pada hari Sabtu 12 Juni yang lalu. Sayangnya saya sendiri tidak sempat hadir dan ikut serta saat itu.

Berkaitan dengan Karya yang akan dilaksanakan sedari tanggal 23 sampai dengan 29 Juni 2010 nanti, Yowana Paramartha Warga Pande untuk sementara ini menjadwalkan kembali rencana Ngayah Bersama sekaligus mekemit pada hari Sabtu tanggal 26 Juni, bertepatan dengan Puncak Karya. Satu momen yang pas bagi Teruna Teruni Pande terutama mereka yang berstatus jomblo. Siapa tahu bisa menemukan pasangan sesama Warga Pande. Hehehe…

Catatan Perjalanan menuju Pura Penataran Pande Tamblingan

3

Category : tentang PLeSiran

Laju kendaraan Daihatsu Xenia milik Pande Hardy Sarjana seakan tak menemukan hambatan berarti ketika kami menyusuri ruas jalan Denpasar menuju arah Bedugul pagi tadi. Berangkat dari rumah sekitar pukul tujuh pagi, berbekal beberapa bungkus nasi kuning dan satu dus air mineral, kami rasa sudah lebih dari cukup untuk jatah empat orang dewasa. Dinginnya hawa ditambah kencangnya angin membuat kami tetap terjaga sepanjang perjalanan menuju Pura Penataran Pande Tamblingan.

Hari ini sesuai rencana, kami sebagian kecil dari satu wadah Yowana Paramartha Warga Pande, generasi muda yang diharapkan mampu meneruskan Dharma Kepandean yang diwariskan oleh para leluhur, berkeinginan untuk ikut berpartisipasi ‘ngayah’ disela kegiatan yang telah dirancang oleh Panitia Karya.

Melintasi satu persatu wilayah dan desa mengingatkan saya pada kenangan masa lalu. Kenangan yang barangkali ingin saya lupakan juga kenangan yang sesekali membuat saya tersenyum. Banyak yang berubah tampaknya.

Lahan yang dahulunya masih berupa hamparan sawah, kini telah berubah menjadi rompok bangunan semi permanen yang dihuni pedagang pinggir jalan. Bangunan yang dahulu mulai ditinggalkan pemiliknya, kini tampak lebat diselimuti belukar hingga menutupi wajah aslinya. Tempat-tempat yang dahulu kerap kami kunjungi mulai membuat pangling bahkan sempat tak percaya dengan perubahan yang terjadi.

Empat tahun. Bukan waktu yang pendek bagi sebuah pembangunan dan perkembangan lingkungan. Sudah empat tahun rupanya saya tak pernah melintasi ruas jalan itu lagi. Pantas saja banyak hal yang membuat saya terkagum-kagum sekaligus terhenyak dalam indahnya pandangan disepanjang jalan.

Satu persatu Semeton Pande mulai berkabar ketika kendaraan mencapai daerah Candi Kuning. Tepat pukul delapan kami tiba di obyek wisata Danau Beratan. Sesuai jadwal.

Sambil menunggu semeton lainnya, kami berkeliling serta bertukar pengetahuan satu sama lain. Tak lupa bercerita bahwa baru pasca pernikahan, saya diberitahukan oleh Mertua bahwa Semeton Pande memiliki pura juga di obyek wisata Danau Beratan ini. Satu hal yang kemudian membuat surprise. Bagaimana tidak, obyek ini merupakan satu tempat favorit saya ketika masih lanjang dahulu, tapi tidak menyadari hal tersebut.

Kami kembali melanjutkan perjalanan setelah melimpahkan tugas menunggu Semeton pada Dego Suryantara, seorang pria tampan dan dijamin masih lajang tulen dari Gulingan. Satu dari sekian banyak Semeton Pande yang memiliki semangat pantang mundur untuk dapat mewujudkan rencana hari ini. Laju kendaraan mulai melambat lantaran didepan ada perbaikan ruas jalan yang memaksa arus lalu lintas hanya berfungsi secara bergantian.

Mata kami makin terkesima dengan pemandangan yang ditawarkan disepanjang jalan menuju lokasi pura, jalan yang berada jauh diatas dua danau, Buyan dan Tamblingan. Indahnya tiada tara, tempat yang pantas untuk mengajak tunangan (baca:pacar), kata Kadek Juniarta sepupu kami yang ikut serta hari ini.

Perjalanan mulai mendekati tempat tujuan. Beberapa tanda arah yang disematkan di persimpangan jalan saya yakin tampak jelas memudahkan bagi setiap Semeton yang ingin mengakses tempat tersebut, sekalipun bagi mereka yang belum pernah tahu keberadaan pura.

Permukaan aspal mulai tergantikan oleh pasangan paving dan diakhiri dengan hamparan tanah yang telah dipadatkan, satu hal yang mengingatkan saya pada perjalanan menuju Pura Alas Purwo tahun 2003 lalu. Tampaknya kekhawatiran Semeton yang sudah pernah tangkil ngayah Sabtu 12 Juni kemarin mulai bisa saya maklumi. Kekhawatiran akan turunnya kabut dan hujan, berharap hingga karya selesai 29 Juni nanti kami tidak menemui kesulitan-kesulitan tersebut.

Mencapai titik Latitude 8°15’57.62″S dan Longitude 115° 5’49.59″E sesuai arahan Google Earth… Areal Pura Penataran Tamblingan sudah tampak di kejauhan, harapan kami rasanya sudah tidak sabar lagi. Satu pengalaman baru yang akan kami lalui hari ini…

Ngayah ring Pura Penataran Pande Tamblingan

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Om suastiastu…

Dumogi Rahajeng dirghayusa Seneton Pande makesami…

Semeton Pande,

Dapat kami kabarkan kepada semeton pande semua bahwa dalam rangka pembentukan Yowana Paramartha Mahasemaya Warga Pande Kota Denpasar & Kabupaten Badung, kami selaku koordinator telah melangsungkan pertemuan pada hari Minggu 13 Juni 2010 di warung Ulam Segara Jl.Drupadi (undangan sebelumnya telah disebarkan melalui akun Facebook), Pertemuan dihadiri oleh 17 orang semeton pande, meningkat 3 kali lipat dari jumlah semeton yang datang pada pertemuan awal.

Dalam hangatnya suasana pertemuan tersebut telah dibahas pemantapan rencana pembentukan YP MSWP, dalam pertemuan itu juga disepakati agenda Tangkil untuk Ngayah ring Pura Penataran Pande Tamblingan pada hari minggu tanggal 20 Juni 2010.

Mengingat karya Pemelaspasan Pura Penataran Pande Tamblingan ini akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini maka kami memfokuskan diri untuk ngayah sekaligus saling memperkenalkan diri dengan semeton pande yang lain.

Kegiatan ini kami cetuskan mengingat ada jeda antara Nuwasen Karya yang dilaksanakan pada tanggal 18 Juni dengan eedan pertama pada tanggal 23 Juni.

Pada tanggal 20 Juni tersebut, berdasarkan informasi yang kami terima akan dilaksanakan kegiatan mereresik dan ngias di Pura, seperti memasang sampian, membuat penjor dan lain lain terkait.

Adapun Teknis keberangkatan adalah :

  • agar sudah bisa berkumpul pada pukul 8 pagi di Pura Danau Beratan (obyek wisata) dan dari sana akan berangkat bersama menuju pura.
  • menggunakan kendaraan diluar sedan mengingat kondisi jalan menuju pura belum beraspal, disarankan jeep atau mobil profil tinggi.
  • agar tidak memberatkan panitia di lokasi, diharapkan semeton berkenan menyiapkan sedikit konsumsi, minimal nasi bungkus untuk diri sendiri dan semeton yang diajak bareng;
  • membawa peralatan ringan seperti blakas atau mutik atau bisa juga ember dan sekop untuk membentuk badan jalan menuju Pura.
  • Pakaian adat ringan.

demikian kami sampaikan, besar harapan kami semeton semua bisa tangkil untuk menunjukkan kebersatuan sesama semeton pande.

Informasi dan pertanyaan Wilayah Kota Denpasar silahkan kontak :

Wilayah Badung :

Wilayah Gianyar :

Wilayah Denpasar Barat/ Kerobokan :

  • Mymart : 0817556999 atau bisa ngumpul di mymart jam 7 pagi dan berangkat bareng2….

NB : MOHON PARA SEMETON YANG POSITIF BISA IKUT NGAYAH SUPAYA MENGHUBUNGI NOMER2 DI ATAS….

SUKSME……..

Dudonan Karya ring Pura Penataran Pande Tamblingan

4

Category : tentang DiRi SenDiri

Om Swastyastu Semeton Warga Pande sareng sami, berikut tiang sampaikan Dudonan/Aed Karya Melaspas, Mepedagingan, Ngeresi Gana, Caru Balik Sumpah lan Mepedudusan Alit Pura Penataran Pande Tamblingan 18 Juni s/d 29 Juni 2010. Om Canti Canti Canti Om

Apabila ada yang berminat untuk mencetaknya dalam ukuran besar gambar dapat diperoleh disini. Suksema.

Rencana Pembentukan Maha Semaya Yowana Pande Tingkat Kota Denpasar dan Kabupaten Badung

2

Category : tentang DiRi SenDiri

Om Swastyastu Semeton Pande sareng sami. Berikut tiang selaku pengelola blog www.pandebaik.com, ingin meneruskan Pesan/Surat yang disampaikan oleh semeton I Wayan Putrawan saking Pedungan, berkaitan dengan keinginan untuk membentuk Maha Semaya Yowana Pande Tingkat Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Om Cantih Cantih Cantih Om.

* * * * *

Om Swastiastu, Teruntuk adi, bli, mbok, lan semeton Pande semuanya. Semoga sehat dan dalam keadaan baik semuanya.

Perkenalkan nama saya I Wayan Putrawan, saya asli dari dan bertempat tinggal di Banjar Pande, Pedungan, Denpasar Selatan. Dalam kesempatan ini ada hal yang ingin tiang sampaikan terkait dengan Pesemetonan Pande dan upaya untuk mempersatukan semeton Pande khususnya semeton Yowana Pande.

Beberapa bulan yang lalu saya diminta untuk datang ke rumah pak Wayan Puja (Ketua Maha Semaya Pande Kota Denpasar) untuk mendiskusikan niat beliau membentuk Maha Semaya Yowana Pande Tingkat Kota Denpasar. Sebenarnya mengenai Maha Semaya Yowana Pande adalah bukan hal yang baru, dalam tingkat propinsi sudah terbentuk, dan pengurus yang menduduki jabatan tersebut diberikan kepada semeton Pande pada setiap kabupaten dan kota di Bali. Hanya saja berdasarkan info yang saya peroleh, sejak dibentuknya hingga sekarang belum pernah diadakan pertemuan, mungkin pernah diadakan pertemuan, namun tidak dalam kuantitas yang seharusnya dilakukan oleh sebuah organisasi. Maklum saja pengurus yang menduduki jabatan berasal dari berbagai kabupaten sehingga ada kalanya sulit untuk berkumpul.

Oleh karena kenyataan itu (namun tidak terbatas pada satu masalah itu saja) kemudian tercetus suatu keinginan untuk mempersatukan semeton Yowana Pande se-Kota Denpasar dan atau Kabupaten Badung juga, dalam suatu bentuk wadah Maha Semaya Yowana Kota Denpasar.

Tujuan dibentuknya Maha Semaya Yowana Kota Denpasar ini adalah pertama-tama untuk mempersatukan kita semeton Pande agar memiliki rasa kebersamaan yang kuat, kemudian diharapkan kedepannya kita bisa sejak dini belajar untuk memangku tugas dan kewajiban kita sebagai “sentana” yang akan meneruskan semua yang akan diwariskan kepada kita, terpenting adalah kebudayaan dan keagamaan yang tidak mungkin akan ditinggalkan.

Sejak dini kita berharap dapat membantu orang tua kita agar memahami “sesana” sebagai orang Pande. Dalam forum tersebut diharapkan pula akan terkumpul informasi penting mengenai kegiatan keagamaan, kegiatan kemanusiaan dan kegiatan lain terkait. Terlebih pula forum ini dapat memberikan informasi dan penerangan kepada semeton yang ada di luar bali agar tetap ingat akan “sesana” sebagai keturunan Pande.

Untuk dapat terwujudnya keinginan ini saya mengajak semeton untuk meluangkan waktu duduk bersama membahasa kemungkinan dibentuknya Maha Semaya Yowana Kota Denpasar. Adalah tidak mungkin akan terwujud keinginan ini apabila tidak disertai dengan partisipasi semeton semua.

Akhir kata saya ucapkan Terima Kasih atas perhatian dan kerjasama yang baik. Semoga dapat terwujud dan Ida Hyang Widhi Waca memberikan penerangan bagi langkah kita.

Om cantih cantih cantih Om.

I Wayan Putrawan
Banjar Pande, Pedungan, Denpasar Selatan