Pande Wayan Suteja Neka, Terinspirasi Sang Leluhur

10

Category : tentang InSPiRasi

Tulisan oleh KA Wirawan / Maza Yudha yang dimuat dalam majalah Keris  Volume 18 Tahun 2010. Mengisahkan tentang profil seorang Pande Wayan Suteja Neka dalam konteks kelahiran Museum Keris Sanggingan Ubud. Sekedar informasi bahwa Beliau ini pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti akan memberikan DharmaWecana tentang Keris di tempat yang sama.

* * *

Semula Suteja Neka hanya dikenal sebagai pemerhati seni rupa, kolektor lukisan, kemudian mendirikan museum yang ia beri nama Museum Seni Neka. Namun, di ulang tahun ke-25 museum itu, 2006, tiba-tiba hati Suteja Neka tergerak untuk memberi warna lain pada museumnya. Neka yang sejak kecil memang sudah akrab dengan keris lantas terpikir untuk memberi tempat bagi sejumlah keris miliknya di museum yang terletak di Sanggingan, Ubud, Bali itu. Jadilah keris menempati tempat khusus di museumnya.

Kecintaan Pande Wayan Suteja Neka memang tidak muncul begitu saja. la memiliki darah pande turun temurun. Leluhurnya bernama Ki Pande Sesana Tamanbali, seorang empu kerajaan. Eyang buyut Neka bernama Pande Pan Nedeng, seorang empu keris dari Kerajaan Peliatan-Ubud, semasa Raja Peliatan ke-3, Ida Dewa Agung Djelantik (1823-1845). Setelah Pande Pan Nedeng meninggal, keahlian membuat keris dilanjutkan oleh anaknya, Pande Made Sedeng. Pande Wayan Suteja Neka adalah turunan ke lima dari Pande Pan Nedeng. Sedangkan Pande Wayan Neka, ayah kandung Pande Wayan Suteja Neka dikenal sebagai pematung kondang. Karya sang ayah, antara lain membuat patung garuda setinggi 3 meter untuk New York World Fair, Amerika (1964), dan Expo’70 Osaka di Osaka, Jepang (1970). Sang ayah menerima anugerah seni Wija Kusuma dari Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar dan penghargaan seni Dharma Kusuma dari Pemerintah Daerah Propinsi Bali (1995).

Dengan latar belakang seperti itu, tidak mengherankan kalau Pande Wayan Suteja Neka yang semula adalah kolektor lukisan sekaligus pemerhati seni rupa itu kemudian juga dikenal sebagai kolektor keris. Sebilah keris pusaka, warisan leluhurnya, bernama Ki Sesana  sebuah Keris dengan Dapur Sabuk Inten, rincikan kembang kacang, jenggot, lambe gajah rangkap, jalen, sogokan dua, kruwingan, gusen, greneng lengkap, pamor beras wutah berada di tangannya. Keris ini menggunakan ganja wilut, sogokan sampai setengah bilah menggunakan rincikan khusus (tinggil) pada depan ganja. Konon keris ini dibuat dan diperuntukkan bagi orang-orang khusus pada jamannya.

Pada 1970, Pande Wayan Suteja Neka untuk pertama kalinya membeli dua bilah keris. Kedua bilah kepis dengan perlambang Singa Barong Luk 11 dan keris yang bersimbul Nagasasra Luk 13. Keris Nagasasra Luk 13 itu kemudian ditatah emas pada ahli kinatah emas, Nugroho Priyo Waskito di Yogyakarta. Sekarang keris Nagasasra Luk 13 dengan kinatah emas itu terpajang di Museum Seni Neka.

Di Museum Seni Neka terdapat beberapa keris tua karya empu masa lalu. Patut dicatat, para kolektor keris memang tak keberatan melepas koleksi kerisnya, karena akan dilestarikan dalam pengembangan koleksi Museum Seni Neka. Keris-keris garapan empu masa lalu dan empu masa kini itu dikoleksi dan dipajang di Museum Seni Neka, dengan harapan dapat dijadikan pernbanding dan dorongan pada penggarap keris masa kini lainnya.

Kiprah Pande Wayan Suteja Neka dalam dunia pakerisan di Bali memang pantas dicatat. Sejak ia menjadi kolektor keris dan memajang keris dalam ruangan khusus di Museum Seni Neka, dunia pakerisan di Bali seperti mendapat udara segar. Kalau dulu keris hanya dipandang sebagai peiengkap upacara, sekarang lebih dari itu. Keris berubah menjadi benda seni, sekaligus benda budaya yang diagungkan. Bahkan orang-orang yang dulunya hanya menyukai keris kuno mulai tertarik dengan keris baru (kamardikan), setelah melihat koleksi keris kamardikan di Museum Neka. Suteja Neka tidak takut memajang nama empu keris masa kini, walaupun empu itu masih tergoiong muda. Yang terpenting hasil garapannya bagus dan layak dipajang.

Ketidakfanatikan Neka terhadap keris kuno menjadikannya kolektor yang disegani. Tanpa ia sadari, dengan membuka diri untuk keris kamardikan, ia membangkitkan kembali dunia pakerisan di Bali.

Karena tidak memandang sebelah mata terhadap keris baru, nama Suteja Neka yang baru menggeluti keris sejak beberapa tahun belakang ini ‘meroket’. Ia dengan cepat dikenal dalam dunia pakerisan di Bali. Kiprahnya disambut hangat. Bukan saja karena keberaniannya mendirikan museum keris, melainkan juga karena ketulusannya untuk memberi tempat pada keris-keris kamardikan, yang notabene menghargai empu-empu muda.

Pengakuan atas kiprahnya dalam dunia pakerisan bisa dibuktikan dengan terpilihnya Neka sebagai salah satu juri dari tiga dewan juri dalam Kamardikaan Award 2008 yang diselenggarakan Panji Nusantara di Bentara Budaya Jakarta. Selain itu, untuk memberikan pemahaman yang benar tentang keris, Pande Wayan Suteja Neka mendatangkan Empu KRT Subandi Soponingrat dari Solo. Empu ini diminta memaparkan proses pembuatan keris dan juga cara perawatannya di hadapan warga Pande Peliatan Ubud. Disamping itu, Suteja Neka juga kerap menyelenggarakan sarasehan tentang keris, sebagai bukti kalau ia benar­-benar ingin melestarikan keris. Tak heran kalau Suteja Neka juga kerap diundang untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia Pakeris­an, misalnya dialog keris di Duta Fine Art Gallery, Kemang Jakarta, yang diselenggarakan SNKI, di­hadiri penulis buku The world of Javanese Keris dari East West Center Honolulu, Hawai, Garett dan istrinya Bronwen Solyom.

Keris dan Budaya Masyarakat Bali

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi berikut saya ambil dari tulisan milik Suryono Suryodirdjo yang dimuat dalam majalah Keris Volume 18 Tahun 2010 ‘Ketika Keris Bali Masih Sakral’. Adapun tujuan pengambilan tulisan adalah dalam rangka pembelajaran sebelum pelaksanaan DharmaWecana tentang Keris pada tanggal 15 Agustus 2010 nanti di Museum Keris Neka, Sanggingan Ubud.

* * *

Mengamati sebilah keris, seperti membaca kumpulan cerita dan mantra doa. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di wilayah Indonesia lainnya – bahkan di negeri tetangga seperti Malaysia. Bagi masyarakat Bali, keris adalah sebuah simbol kekuatan leluhur dan alam semesta. Kendati ada sebagian kecil masyarakat Bali yang sudah memulai memperdagangkan keris seperti yang terjadi di Pulau Jawa, namun rata-rata mereka masih menjunjung tinggi makna dan nilai sebilah keris.

Apalagi untuk keris pusaka warisan leluhur, orang Bali sangat mengeramatkannya. Umumnya, mereka memesan keris untuk keperluan upacara dan ritual keagamaan. Misalnya saja, untuk menghadiri upacara pernikahan, upacara mecaru, pangayu-ayu, ngusaba atau piodalan di Pura. Bahkan di sejumlah Pura tertentu, para pemedek (umat) diwajibkan nyungklit sebilah keris.

Upacara piodalan Tumpak Landep misalnya, jelas-jelas suatu upacara penghormatan masyarakat Bali terhadap benda pusaka yang terbuat dari besi – terutama keris. Inilah upacara untuk menghormati Sang Hyang Pasupati, yang turun ke bumi dan memberikan kekuatan dan perlindungan kepada umat manusia dalam bentuk senjata logam. Upacara ini diselenggarakan dua kali dalam setahun yang selalu jatuh pada Wuku Landep. Dalam penanggalan Bali, Wuku Landep akan ditemui dua kali dalam satu tahun penanggalan Masehi yang didasarkan pada perputaran matahari. Upacara piodalan Tumpak Landep selalu diadakan pada Sabtu Kliwon di Wuku Landhep, yang diyakini sebagai waktu bagi Sang Hyang Pasupati menyebarkan berkah kekuatan ke mayapada.

Tari Ngunying atau Ngurek yang sakral adalah contoh lain tentang keakraban masyarakat Bali dengan pusaka yang ber­nama keris. Tarian keris yang terkesan mengiriskan hati ini – karena para penari menusuk-nusukkan keris ke tubuhnya- kabarnya dimulai pada jaman kejayaan kerajaan. Konon sang raja ingin membuat pesta yang tujuannya untuk menunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan sekaligus menyenangkan hati para prajuritnya. Setelah dilakukan sejumlah upacara, kemudian memasuki tahap hiburan – mulai dari sabung ayam, hingga tari-tarian yang menunjukkan kedigdayaan para prajurit Kesiman. Maka dari tradisi ini muncullah Tari Ngunying atau Tari Ngurek yang sangat kesohor itu.

(foto saya ambil dari sini)

Tari Ngurek atau Ngunying di Kesiman Denpasar Timur ini hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Bali. Di Pura Pengerebongan Kesiman misalnya, tradisi menari setengah trance dengan menggunakan keris, pada zamannya hanya dilakukan oleh para pemangku. Namun kini orang yang melakukan Ngurek tak lagi dibedakan statusnya – bisa pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat,  laki-laki dan perempuan. Tapi suasananya tetap, yaitu mereka melakukannya dalam keadaan kerauhan atau trance. Kendati keris yang terhunus itu ditancapkan dengan keris di tubuh, tidak setitikpun darah keluar.

Kini Tari Ngurek atau Ngunying bisa dijumpai di sejumlah daerah di Bali. Tradisi ini umumnya berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Bahkan, di sejumlah desa adat di Bali tradisi ini wajib dilangsungkan. Tari Ngunying yang paling unik agaknya yang diadakan di Sanur, karena para penarinya adalah masyarakat sekitarnya. Semuanya membawa keris. Menarik, karena jumlah penarinya cenderung bersifat massal. Penyelenggaraan tari ini dilakukan dua kali dalam setahun – sebagai ujung dari rangkaian upacara keagamaan.

Tidak hanya saat pujawali di Pura, Tari Ngurek juga ter­dapat dalam prosesi ngerebong di Pura Petilan Kesiman. Dalam upacara itu, jumlah orang yang ngayah ngurek sangat banyak ketika prosesi itu berlangsung. Bedanya, dalam upacara dewa yadnya ngeramen, Ngurek dilakukan oleh para pemangku dan penyungsung pura. Dalam upacara ngerebong, Ngurek dilakukan oleh sembarang orang. Siapa saja bisa ikut Tari Ngunying, asalkan memang mereka betul-betul dalam kondisi kerauhan.

Penggunaan keris dalam kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, hingga kini memang masih sangat melekat. Salah satu contoh, ketika ada keluarga atau seseorang akan mendirikan rumah, maka sebelum mulai peletakan batu pertama, harus dilakukan suatu ritual yang antara lain menggunakan keris sebagai sarana utamanya. Keris harus ditusukkan ke bumi, dimana bangunan rumah akan didirikan.

Dalam penyembelihan binatang misalnya, sebelum dipotong dengan pisau atau golok, maka hewan itu harus ditusuk atau ditikam dengan sebilah keris. Masih sangat banyak hal-hal dalam sendi-sendi kehidupan warga Bali yang tak bisa dipisahkan dengan keris. Seputar perkawinan misalnya, tentu saja selalu menggunakan keris. Bahkan ketika mempelai pria berhalangan karena sakit, sementara hari resepsi pernikahan sudah ditetapkan, maka sebilah keris bisa dianggap mewakili sang mempelai lelaki.

Itulah antara lain pandangan masyarakat Bali saat ini dalam menempatkan keris sebagai simbolisasi berkah kekuatan dari Sang Pencipta. Namun tentu saja, tetap ada sekelompok kecil warga – umumnya para pedagang – yang juga memperjualbelikan keris. Di sejumlah art shop dan galeri di Bali tersedia keris-keris yang dijajakan, namun itu hanya keris-keris souvenir yang dibuat secara kodian atau masif – itupun didatangkan dari Jawa atau Madura. Keris-keris ini umumnya ditujukan bagi para wisatawan asing yang ingin membeli cinderamata dari Bali. Jadi tak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Bali jelas secara umum lebih dekat dengan keris ketimbang masyarakat lain di Indonesia.

Undangan Dharmawacana untuk Semeton Generasi Muda Warga Pande

12

Category : tentang iLMu tamBahan

…dalam rangka rencana DharmaWacana tentang Keris di Museum Neka 15 Agustus bagi Generasi Muda Warga Pande, tulisan pada blog www.pandebaik.com untuk sementara waktu akan didedikasikan terkait Keris dan Museum Neka… hanya untuk tambahan pengetahuan bagi semeton Pande…

* * *

Keris Dalam Kebudayaan oleh Neka Art Museum

2

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut saya ambil dari sebuah booklet/brosur  milik Neka Art Museum, saat kunjungan Yowana Paramartha hari Minggu 18 Juli 2010 lalu.

* * *

Buatan manusia atau berasal dari alam supranatural, keris tradisional Indonesia diyakini sebagai manifestasi fisik dari kekuatan-kekuatan alam maya. Ditempa dengan api, namun merupakan simbol dari air, sebuah keris merupakan penyatuan kekuatan kosmis yang sating melengkapi.

Ciri khas dari kebanyakan keris adalah jumlah lekuknya yang selalu ganjil, namun ada juga keris yang lurus tanpa lekukan. Keris adalah seperti naga air yang subur, yang diasosiasikan dengan saluran irigasi, sungai, mata air, sumur, air terjun dan pelangi. Beberapa keris mempunyai ukiran kepala naga yang diukir pada gandiknya, dengan bagian yang berlekuk sebagai badan dan ekornya. Keris dengan banyak lekukan digambarkan sebagai naga yang sedang bergerak, agresif dan hidup, sedangkan keris yang lurus dianggap naga yang sedang istirahat, dengan kekuatannya yang terpendam, tapi siap untuk beraksi.

Perbedaan jenis batu asah, cairan asam dari buah jeruk dan cairan racun arsenic membuat besi hitam keris kontras dengan bagian yang berwarna cerah dengan lapisan nikel keperakan dan kedua bagian ini secara bersama-sama membentuk pamor dari sebuah keris. Pamor adalah pola atau motif pada keris. Motif-motif ini mempunyai nama-nama tertentu yang menunjukkan tuah dari keris tersebut. Misalnya udan mas bagus untuk kemakmuran sedangkan beras wutah membawa kesejahteraan.

Dengan mengukur sebilah keris dari dasar ke ujungnya dengan menggunakan empat jari bergantian, sisa panjang keris menunjukkan kegunaan keris itu. Sisa tiga jari membantu membuat keputusan, sisa dua jari bagus untuk tujuan spiritual, sisa satu setengah jari menghindarkan kita dari bencana dan ilmu hitam dan sisa satu jari bagus untuk pertanian.

Keris adalah harta keluarga yang penting dan dianggap sebagai warisan leluhur, karena keris pusaka sering berperan penting dalam bangkit dan jatuhnya sebuah keluarga serta keberuntungan dalam sejarah. Keris pusaka mempunyai nama yang menggambarkan kekuatannya. Ki Sudamala adalah pengusir kekuatan jahat, dan Ki Baju Rante secara spiritual melindungi orang yang memakainya.

Di Bali, keris pusaka dan benda-benda tajam lainnya diupacarai tiap 210 hari pada hari Tumpek Landep (landep berarti tajam). Pusaka dan benda-benda tajam itu dibersihkan, ditempatkan di merajan atau di Pura, disampingnya dinyalakan dupa, diperciki air suci, serta diberi sesaji dengan bunga merah untuk menghormati Brahma (Dewa Api). Upacara ini diikuti dengan doa-doa untuk mempertajam fikiran kepada Sang Hyang Pasupati, dewa yang memberikan kekuatan kepada benda-benda sakral dan semoga terhindar dari mara bahaya.

Walaupun sarung keris kadang terbuat dari kayu yang langka atau gading serta dihiasi dengan logam mulia (batu mulia), namun bagian terpenting dari sebuah keris adalah bilahnya. Kekuatan yang keluar dari keris itu dikendalikan oleh sarung yang sekaligus sebagai pelindungnya.

Pande sama dengan kata pandai besi dalam bahasa Indonesia. Pande merupakan seorang yang ahli tempa logam. Kata Mpu digunakan untuk orang yang berpengetahuan sangat tinggi dan mahir untuk membuat keris, yang biasanya disebut dengan mpu keris. Kemudian keberadaan keris itu sendiri sejak 25 November 2005 mendapat pengakuan dari UNESCO-PBB sebagai “karya agung warisan kemanusiaan, milik semua bangsa di dunia”.

Pada September 2006, di Pura Penataran Pande Peliatan, pura kawitan warga pande di kecamatan Ubud mengadakan upacara Mamungkah Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan. Pada upacara ini, para warga pande Pura Penataran Pande Peliatan membuat keris Bali di perapen (besalen) yang dilaksanakan di Jero Mangku Pande Made Nesa pada bulan Juli 2006. Para laki-laki secara bergantian menempa besi yang merah menyala. Pada upacara tersebut Pande Wayan Suteja Neka (sebagai koordinator dan tetua warga pande) tertarik dengan keris dan mulai mempelajari segala sesuatunya tentang keris.

Tetapi segalanya tidak berhenti sampai di sana, karena tidak lama kemudian Neka mulai mengoleksi keris. Dia berkunjung pada para mpu keris kenamaan, kolektor keris, mengadiri pameran keris serta menghubungi paguyuban perkerisan. Setelah berita ini menyebar, orang-orang dari Bali, Jawa dan Madura mulai berdatangan membawa keris baru maupun lama kepadanya untuk dipelajari atau kalau mungkin untuk dijadikan koleksi. Dia juga berburu hulu keris (danganan) dan sarung keris serta orang-orang yang membuatnya. Selain itu Suteja Neka merupakan salah seorang penggerak yang berhubugan dengan seni perkerisan di Bali.

Pameran spesialnya yang diberi judul “Keris in Culture: Traditional Daggers in the Arts (Keris dalam budaya: Senjata tradisional dalam Seni) memamerkan koleksi pribadi berupa keris-keris Indonesia. Pada 22 Juli 2007, pengembangan koleksi Neka Art Museum berupa keris dibuka dengan resmi oleh Ir. Jero Wacik, SE (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata R.I), ditandai dengan penandatanganan Prasasti. Sebagai tamu kehor­matan yang turut menandatangani prasasti Prof.Dr. Tommy Koh (Chairman, National Heritage Board, Ambassador-At-Large, Singapore). Dalam acara ini, sambutan diberikan oleh penasehat Yayasan Dharma Seni Neka Art Museum Jusuf Wanandi, SH (Vice Chairman, Board of Trustees Centre for Strategic and International Studies Foundation, Jakarta). Pameran ini juga dalam rangka memperingati Jubelium Perak Neka Art Museum, yang didirikan oleh Suteja Neka dan secara resmi diakui oleh pemerintah R.I pada 1982.

Kurator koleksi keris Neka Art Museum KRAT. Sukoyo Hadi Nagoro (mpu dan pakar keris). Asistennya M. Bakrin, SH., mesti menetap di Bali untuk memandu tamu-tamu penting yang ingin mengetahui lebih mendetail tentang informasi keberadaan keris koleksi Neka Art Museum.

Keris koleksi Neka Art Museum pada peresmian pembukaannya sebanyak 272 keris, termasuk 18 keris pusaka, 63 bilah keris kuno dan keris-keris lainnya karya mpu masa kini yang berprestasi (tangguh kamardikan).

Informasi lebih jauh dapat langsung menuju :

NEKA ART MUSEUM

JI. Raya Sanggingan Ubud, Gianyar 80571

Bali-INDONESIA

Telp: (62) (361) 975 074

Fax: (62) (361) 975 074.

Email: [email protected]
Website: www.museumneka.com

Catatan Perjalanan menuju Museum ‘Keris’ Neka Ubud

3

Category : tentang PLeSiran

Hari masih pagi ketika kami melintasi ruas jalan Jagapati Tinggas kecamatan Abiansemal dalam perjalanan menuju Museum Neka Ubud, minggu 18 Juli 2010 kemarin. Beberapa semeton Yowana yang sempat dihubungi ada yang sudah mencapai daerah Sayan, ada juga yang masih berada di Darmasabha.

Kali ini kami berangkat bertiga dalam satu kendaraan. Saya, Bapak dan Mahendra Sila, adik sepupu saya. Bapak saya ajak lantaran Beliau begitu dekat dengan Uwe Sutedja Neka, pemilik Museum Neka dan juga karena saya janjikan Beliau untuk diajak mampir di Geriya Peliatan. Adik sepupu saya ajak ikut serta mumpung kesibukannya di sekolah sudah mulai senggang. Dua semeton lain, Pande Donny dan Dek Jun Pande membatalkan keikutsertaan mereka lantaran kesibukan kerja yang tidak bisa dihindarkan.

Sempat pangling ketika kendaraan masuk wilayah Pengosekan dan Peliatan Ubud. Lama sudah saya tak pernah lagi melewati daerah ini. Banyak yang berubah, termasuk angkul-angkul pintu masuk Geriya Peliatan yang kini tampak lebih gagah. Bersyukur saya menggunakan Pura Penataran Pande Ubud sebagai patokan, yang kebetulan berada tepat didepan Geriya Peliatan, jadi lebih mudah ditemukan.

Kami meluncur beriringan sekitar 7 kendaraan menuju Museum Neka Campuhan tepat pukul sepuluh pagi. Lokasinya tidak begitu jauh dari Geriya Peliatan, sekitar 4,4 km dekat jalan menuju Museum Blanco. Rombongan diterima langsung oleh Uwe Sutedja Neka yang rupanya telah menanti kami sejak pukul 9 pagi. Untuk kegiatan ini Beliau secara khusus mengundang Prof. Dr. Pande Kt. Tirtayasa, Msc seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang kebetulan sempat menulis tentang Prapen dan juga tentang (gagang) Keris yang ditinjau dari segi ilmu Ergonomi.

Setelah dipersilahkan untuk menikmati snack, sedikit perkenalan dan silaturahmi temu kangen, kami diajak turun kelantai bawah untuk mendengarkan pengantar dari Uwe Sutedja Neka tentang keris dan sejarahnya. Di sela pemaparannya, Beliau bahkan sempat mendemonstrasikan tentang ‘keseimbangan’ yang dimiliki oleh setiap keris yang dibuat oleh seorang Mpu Keris (sebutan bagi mereka yang membuat Keris). Dalam kesempatan ini pula Yande Putrawan, Dancuk (komanDan puCuk ; meminjam istilah dari Anton Muhajir, Bapak Blogger Bali) Yowana Paramartha Kodya Denpasar menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami serta memohon jadwal terkait kunjungan resmi bulan Agustus ditambah kesediaan Uwe Sutedja Neka kembali berbagi pengetahuan kepada Generasi Muda Pande nanti.

Sebagai ungkapan rasa bangga Sutedja Neka pada kami generasi muda Warga Pande,  Beliau mengajak untuk melihat dan bercerita tentang Keris secara lebih nyata di ruang Galeri. Disini kami bisa lebih bebas untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan tentang Keris dimana (untungnya) Beliau menjawab sekaligus menunjukkan beberapa contoh nyata sesuai dengan apa yang kami tanyakan.

Sebelum pamit, kami dibekali satu buku sejarah tentang Keris yang barangkali nanti akan saya rangkum dalam sebuah tulisan bersambung agar bisa dibaca dan dinikmati oleh Semeton Pande maupun masyarakat secara luas.

Jujur saja. Jika dahulu saya sempat menulis tentang “Kadang Saya Malu Mengaku ‘nak PanDe”, kini setelah semua yang saya alami selama tiga bulan terakhir membuat saya dengan percaya diri mengatakan bahwa “Saya Bangga menjadi ‘nak PanDe”. Semoga apa yang kami jalani kedepannya dapat memberikan kebanggaan bagi semua pihak. Salam dari PuSat KoTa DenPasar.

Dari Yowana Paramartha menuju Pura Penataran Pande Tamblingan (2)

6

Category : tentang PLeSiran

Tulisan berikut merupakan tulisan kedua dari dua tulisan yang versi aslinya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Kami berempat, saya, Pande Yadnya (Pande Bali), Pande Karsana (Pande Lukis) dan Nyoman Yogi Triana berangkat bersama menggunakan satu kendaraan menuju Pura Penataran Pande Tamblingan kamis 24 Juni 2010 lalu. Agenda Karya pada hari tersebut adalah Ngeresi Gana, Melaspas, Mepedagingan dan Mecaru balik sumpah.

Sesampainya dijalan tanah menuju lokasi pura, pada awalnya kami tidak diperbolehkan masuk mengendarai mobil karena memang parkir yang ada saat itu sudah dipadati pemedek yang tangkil lebih dulu. Tapi berhubung kami membawa logistik (punia yang dikonversi menjadi beberapa dus air mineral, kopi, gula dan telor), akhirnya kami diperbolehkan masuk oleh pihak Panitia. Dari pengamatan secara visual bisa jadi ada ribuan orang yang datang tangkil pada waktu bersamaan.

Bagi yang belum pernah tangkil ke pura, bisa kami gambarkan betapa magisnya Pura Penataran Pande Tamblingan saat itu, suci dan asri. Pada areal depan (jaba sisi) tampak adanya Prapen tempat yang digunakan untuk membuat senjata dan alat alat dari besi dan logam, pada areal atau jaba tengah ada Beji yaitu sumber air yang tak pernah habis dan pada area utama ada beberapa pelinggih tempat berstana Ida Betara Brahma, Lingga Yoni sebagai lambang kemakmuran dan juga Padma Capah. Pada kawasan paling atas, terdapat sebuah pohon suci yang disakralkan dan dipercaya sebagai tempat untuk menguji kekuatan keris yang dibuat oleh warga Pande Bangke Maong jaman dahulu, yaitu keris yang dioleskan racun sehingga siapa yang terkena bangkainya akan membusuk dan kotor seperti berjamur.

Pasca upacara, kami kembali merancang sebuah kegiatan ngayah serta mekemit di Pura Penataran Pande Tamblingan yang awalnya direncanakan pada tanggal 28 Juni 2010, namun karena keterbatasan waktu yang kami miliki maka jadwal dipindahkan ke tanggal 26 Juni 2010 malam minggu. Ada Sepuluh orang yang positif ikut serta. Saya, Pande Yadnya (Pande Bali) beserta istrinda Merlin, Novie, Dego Suryantara, Pande Lukis, Yogi Triana, Agus Pande, Koming Sri dan Bli Wayan Pande Tamanbali. Minus Putu Adi Susanta karena shift kerja yang tidak bisa digantikan serta Bli PanDe Baik yang harus menunggui putrinya dirawat di Rumah Sakit Sanglah.

Kami mengawalinya dengan persembahyangan yang kemudian dilanjutkan dengan tari-tarian dan bondres. Meskipun cuaca dingin dan kabutnya membasahi kepala kami tapi semeton Pande yang hadir saat itu tetap setia menonton. Yang unik, diantara pemain Bondres ada dua yang kami kenal betul selama proses tangkil dan ngayah, yaitu pak Dedes dan pak Wayan Balik. Hebat betul kedua orang ini. Mereka yang sedari awal pembangunan pura selalu ikut serta, tidak pernah pulang kerumah, tidur di tenda yang dibangun di luar pura, totaaaaaal ngayah dan sempat-sempatnya juga menghibur kami. Bukankah seharusnya kami yang menghibur mereka ? salut buat mereka.

Perubahan cuaca akibat pemanasan global menyebabkan dinginnya malam seakan menusuk tulang, meskipun sudah memakai jaket bulu tebal, tinggal di dalem mobil plus selimut, dingin masih terasa. Semeton Dego selain memakai kemben plus celana panjang, menyiapkan dirinya dengan sepasang kaus kaki tebal, sarung tangan dan penutup kepala, namun tetap aja kedinginan. Hahaha… Entah karena keampuhan doa yang kami panjatkan malam tersebut atau memang sudah ditakdirkan, hujan tak satupun yang turun jatuh ke bumi. Demikian pula dengan kabut yang biasanya menutupi pandangan kami juga tidak ada. Saya katakan demikian karena menurut informasi disekitaran Pura Penataran Pande Tamblingan, seperti Candi Kuning, hujan turun begitu derasnya.

Anehnya, hujan hanya turun pada tanggal 28 Juni pagi. Saat itu pak Wayan Balik membuka pintu Beji dan melukat disana. Spontan hujan turun dengan derasnya. Pak Dedes yang mengetahui hal tersebut sampe berteriak meminta pak Balik untuk keluar dari areal Beji. Begitu pintu Beji ditutup, hujan seketika mereda. Waaaahhh…

Beberapa semeton seperti Putu Yadnya, Pande Lukis dan Yogi Triana mencoba beraktifitas di prapen. Dibantu semeton Pande yang biasa mengerjakan keris, akhirnya mereka bertiga berhasil membuat sebuah mata tombak, yang kemudian dipasupati dan disimpan oleh Putu Yadnya. Hebat… Salut.

Ketika matahari pagi mulai memberikan kehangatannya, kami sempat berbincang dengan pak Dedes yang berpesan agar kami dapat dengan gigih memperjuangkan niat untuk mempersatukan semeton yowana Pande. Pesan ini sempat menimbulkan satu pertanyaan di kepala “Bisakah kami melakukan ini semua ? adakah orang lain seperti kami, hanya dengan niat untuk bisa berkumpul bersama meneruskan cita cita leluhur kami ?”

Kami memang harus yakin bahwa kami bisa mewujudkannya. Karena toh masih ada orang tua dan penglingsir yang akan membantu nantinya. Bahkan Pak Sutedja Neka yang kebetulan ikut hadir waktu itu pun sudah menyatakan siap membantu.

Siang mulai benderang, entah kemana perginya dingin yang kemarin malam menghantui kami, berganti dengan panas terik matahari yang nyatanya tak jua mampu mengeringkan niat kami. Sebelum upacara selesai sudah tekad kami tidak akan pamit.

Eedan Karya di Pura Penataran Pande Tamblingan diakhiri dengan upacara Penyineban, nuek dan mendem bagia. Oh iya, pada hari itu juga dibaca prasasti yang dibuat untuk mengingatkan kami nanti. Prasasti itu dibuat untuk menjawab isi prasasti yang terdahulu berangka tahun 1302 Saka, yang memerintahkan penduduk Pande Tamblingan yang cerai berai agar kembali ke Tamblingan. Permintaan prasasti itu baru terwujud pada tanggal 26 Juni 2010, dimana semeton Pande dari berbagai daerah sudah berkumpul dan bersatu. Om awighnam astu namo sidham. Berkat restu Ratu Bagus Pande.

Selesai sudah perjalanan karya dan perjuangan semeton Pande selama ini, kerja keras dan letih terbayar dengan suksesnya kegiatan pemelaspasan ini. Walaupun kami bukan bagian dari kerja keras itu, namun kami bangga dan merasa ikut memiliki. Pura Penataran Pande Tamblingan sudah serasa Rumah Kedua bagi kami dan kamipun akan datang kembali bersama semeton lain pada upacara bulan pitung dina atau 42 hari nanti. Semoga kelak kami bisa menyatukan Yowana Pande dalam sebuah wadah Yowana Paramartha Warga Pande seperti apa yang kami cita-citakan sejak lama. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Waca, Tuhan Yang Maha Esa selalu berkenan membantu kami.

Matur Suksma.

I Wayan Putrawan, SH (Yande Putrawan)

Dari Yowana Paramartha menuju Pura Penataran Pande Tamblingan (1)

2

Category : tentang PLeSiran

Tulisan berikut merupakan tulisan pertama dari dua tulisan yang versi aslinya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Semeton Pande sareng sami, sekedar informasi tambahan berkaitan dengan eedan karya yang dilaksanakan di Pura Penataran Pande Tamblingan, walaupun pembangunannya sudah dimulai sejak tiga tahun lalu namun persiapan intensif menjelang pemelaspasan hanya dilakukan dalam kurun waktu satu bulan sebelumnya. Setidaknya demikian info yang saya dapatkan dari Drs. I Gede Made Sutama, MM atau yang akrab dipanggil Pak Dedes selaku pemimpin pembangunan Pura Penataran Pande Tamblingan ini. Dibantu oleh semeton Pande lainnya dari seluruh Bali khususnya semeton pande yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar Danau Tamblingan (Catur Desa). Untuk sementara, Pura Penataran Pande Tamblingan dapat dikatakan sudah selesai dibangun dan selesai dipelaspas dengan upacara penyineban yang dilakukan pada hari selasa tanggal 29 Juni 2010 lalu.

Selama kurun waktu sebulan ini pula, beberapa semeton muda Pande berusaha berkumpul menyatukan visi dan misi secara bersama-sama dengan tujuan selain menjalin kebersamaan, persaudaraan juga melaksanakan ajaran yadnya sebagai tujuan akhir dari ajaran umat hindu. Walaupun tidak gampang untuk mewujudkannya, namun berkat kemajuan teknologi informasi yang sedang berkembang saat ini, kami berhasil mengadakan dua kali pertemuan atau yang istilah kerennya ‘kopi darat’. Pertemuan awal yang dilakukan di emperan Restauran Dcoz Renon hanya dihadiri oleh 5 orang saja dan meningkat pada pertemuan yang kedua sekitar tiga kali lipatnya yaitu 17 orang. Satu awal yang menggembirakan.

Meski demikian, sesungguhnya pada saat pertemuan pertama kami tidak tahu bahwa akan ada pemelaspasan Pura Penataran Pande di Tamblingan, Singaraja. Bahkan ada pembangunan pura itu saja kami tidak tahu. Baru pada pertemuan kedua yang berlangsung 2 minggu sesudahnya kami mengetahui rencana tersebut. Tentu saja momen pemelaspasan ini menjadi momen yang sangat tepat bagi kami untuk mulai bergerak, mewujudkan visi dan misi kami yaitu beryadnya. Maka mulailah kami menyusun rencana kerja pertama yaitu ngayah ke pura.

Untuk pertama kalinya saya tangkil ke Pura Penataran Pande Tamblingan bersama keluarga dan bertemu dengan Putu Adi Susanta, Mangku Pande Luhur dan Pande Pratama yang rupanya mengetahui keberadaan Yowana Paramartha melalui akses jejaring sosial Facebook. Putu Adi yang menghampiri saya dengan senyum khas dan keramahannya berjanji akan ikut dalam pertemuan Yowana selanjutnya. Lucunya pada saat ngayah saya tidak melihat yang bersangkutan memegang alat alat ngayah, melainkan kamera. Belakangan saya tahu ia bekerja sebagai seorang “photographer” tapi tidak seperti photographer sekelas Darwis Triadi, melainkan mengambil gambar foto tulang belulang orang alias foto rontgen. Namun semangatnya mengalahkan bisa dikatakan Darwis Triadi. Lihat saja di FaceBook, banyak foto asyik yang ia hasilkan, terutama foto teruni cewek” semeton pande yang cantik-cantik. Hahaha…

Sepulangnya dari pura, saya bersama semeton lain di Yowana Paramartha kembali memantapkan tekad untuk tangkil bersama ke Pura Penataran Pande Tamblingan. Pertemuan yang dihadiri sekitar 17 orang di Ulam Segara Renon menjadwalkan upaya tangkil dan ngayah bersama pada tanggal 20 Juni hari minggu pagi.

Sialnya begitu hari H, saya bangun kesiangan. Sudah begitu, sesampainya dilokasi tampak menanti bli Wayan Pande Tamanbali beserta “pasukan” dari Peliatan, menyandang peralatan lengkap, baju seragam dan siap ‘menghabiskan’ semua pekerjaan yang ada di pura, sampai-sampai kami tidak kebagian dan hanya bisa duduk terkagum-kagum memandangi mereka. Kalo diumpamakan mereka itu mirip sekelompok semut yang siap bergotong royong dan kompaknya minta ampun. Sumpah, heran saya melihatnya.

Selesai ngayah kami memperkenalkan diri pada pak Dedes. Itulah pertama kali saya kenal Beliau, mungkin teman yang lain juga begitu ?

Sambil memperlihatkan tiga buah keris yang berhasil dibuat di Prapen Pura Penataran Pande Tamblingan, pak Dedes berbincang dan berdiskusi dengan kami mengenai asal usul pura. Dengan gamblang pak Dedes menceritakan bagaimana awalnya Beliau “bertunangan” dengan pura ini. Selengkapnya mengenai catatan perjalanan pak Dedes, bisa didapat dan dibaca dari buku kecil ‘Catatan Pendakian Spiritual Dedes’ yang sudah Beliau terbitkan.

Kembali ke Yowana Paramartha, Jujur saja sedari ngayah pertama hingga kali ini kami merasa ada keterikatan bathin dengan Pura Tamblingan. Belum puas rasanya untuk tangkil dan ngayah. Maka dengan meminjam tempat di MyMart milik Pande Putu Yadnya (Pande Bali), kami kembali berdiskusi mengenai teknis tangkil berikutnya. Kali ini dengan niat tambahan, menghimpun punia. Adapun jumlah yang berhasil kami kumpulkan saat itu ‘hanya’ sebesar 850ribu dari 9 orang yang hadir. Dana tersebut kemudian bertambah sedikit setelah sebuah Pesan kami kirimkan melalui FaceBook kepada semeton lainnya.

Tidak lupa merancang sebuah banner yang berisikan ajakan kepada semeton Yowana semua untuk bergabung bersama kami, sesuai kesepakatan hasil diskusi malam tersebut. Banner kemudian di print dalam ukuran besar dan siap untuk dibawa.

Bagaimana cerita tangkil dan ngayah ini selanjutnya, baca di tulisan berikutnya ya…

Asal Mula istilah Pande (lanjutan)

Category : tentang iLMu tamBahan

Tulisan berikut merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang bercerita tentang keberadaan Sekte (aliran) di Indonesia pada tahun 75 Masehi sebagai gambaran awal yang tidak terpisahkan dengan sejarah penyebutan istilah Pande.

Adapun tulisan ini sebenarnya dipublikasikan dalam bentuk Notes di sebuah jejaring sosial FaceBook oleh Yande Putrawan, seorang generasi muda Warga Pande dari Pedungan Denpasar dimana untuk sementara ini didaulat sebagai Koordinator Pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berkumpulnya Teruna Teruni Semeton Pande untuk bertukar informasi tentang kePandean.

* * *

Berkenaan dengan wangsa Paandie (asal kata Pande) yang akan dibahas tidak bisa terlepas dari perkembangan sekte diatas, dan di Bali khususnya karena wangsa Paandie itu sendiri merupakan salah satu bagian dari ajaran tersebut.

Adapun sumber ajaran Paandie itu berasal dari sekte Brahmana ialah salah satu sekte yang telah berkembang yang menempati urutan sangat penting diantara sekte lainnya. Pengikutnya bergelar wangsa Brahmana Paandie. Lebih jelasnya setelah Hindu jatuh ketangan Islam, istilah Brahmana tidak tampak lagi tetapi wangsanya masih ada yang sekarang disebut Pande Besi, Pande Mas dan lainnya. Tetapi keberadaannya sangat berbeda dengan yang ada di bali.

Di luar bali wangsa Paandie itu lebih berarti profesi saja, tidak ada kaitannya satu dengan lainnya. Tidak ada prasasti yang mengikat atau kewajiban moril dan rituil seperti yang ada di Bali. Di Bali Wangsa Paandie diikat dengan prasasti-prasasti dan Wimamsa-wimamsa leluhur dan secara rohaniah berhubungan sangat erat antara keluarga satu dengan keluarga lainnya dibawah istilah wangsa.

Salah satu Prasasti yang sangat terkenal disebut “Pustaka Bang Tawang” sedangkan tempat penyiwiannya disebut Gedong Sinapa atau Batur Kemulan Kesuhunan Kidul. Pustaka Bang Tawang mengandung ajaran Kawikon, Kawisesan dan ajaran Tantang Raja Parana Dewa Tatwa dan Pamurtining Aksara (ilmu sastra) yang juga termuat sebagai dasar dari segala dasar ajaran sastra.

Yang terpenting tidak dimiliki oleh ajaran-ajaran sekte lainnya adalah ajaran “Aji Pande Wesi” merupakan ilmu unggulan yang dimiliki oleh aliran Wangsa Paandie. Dilihat dari prasasti dan dewa yang dipuja puji jelaslah bahwa wangsa Paandie ini dahulunya menganut sekte brahmana. Sedangkan kiblat pemujaannya berada di Kidul “kasuhunan kidul selatan” tempat berstananya Dewa Brahmana menurut Tatwa Dewa Nawa Sanga. Ajaran Pande Wesi inilah nantinya akan melahirkan istilah Aji Paandie.

Selain ilmu unggulan “Aji Pande Wesi”, Prasasti tersebut juga memuat ajaran Pemurtining Aksara (kesusastraan) seperti Aksara Dewa, Dasaksara, Pancaksara, Panca Brahma, Aksara Permuting bumi (ilmu tentang terjadinya alam semesta), Panca Bayu dan lainnya. Semua ajaran diatas kemudian dikenal sebagai “Aji Panca Bayu”.

Aji Panca Bayu merupakan bagian dari ajaran Panca Brahma Pancaksara yang berakar dari Aji Dasaksara Pamurtining, Aksara Anacaka sastra kesusastraan.
Aji Ngaran Sastra, Saka Ngaran Tiang Ngaran Pokok (ngaran = bermakna) yang secara umum mengandung pengertian yaitu Sumber dari ajaran sastra Kesusastraan. Sastra ngaran tastas, ngaran terang benderang. Astra ngaran api ngaran sinar
(dengan mengenal api orang akan mengenal terang, sebaliknya orang yang tidak mengenal sastra sama dengan buta huruf berarti hidup dalam kegelapan)

Demikian penjelasan Tatwa Aksara (filsafat aksara) yang tercantum di dalam Aji Saraswati, yang berarti tak terbatas sari patinya. Mengenai ajaran Aji Panca Bayu yang melahirkan istilah Paandie dijelaskan sebagai berikut :

Dalam ajaran Aji Panca Bayu memuat lima ajaran inti tentang Panca Cakra atau Panca Bayu yang kemudian disebut Panca Prana. Ajaran ini sangat dirahasiakan dan hanya boleh diberikan kepada penganut sekte brahmana. Panca Bayu atau Panca Cakra itu meliputi :

1. Prana Mantram : sumber dari segala sumber kekuatan cakra bertempat di Papusuhan atau pada jantung, keluar melalui hidung berfungsi sebagai hembusan
2. Apana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada pori pori seluruh tubuh, keluar menjadi air disebut Palungan (sumber air)
3. Sabana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada hati, keluar menjadi api melalui mata kanan
4. Udana Mantram : kekuatan bersumber pada ubun-ubun keluar menjadi garam (inti Baja)
5. Byana Mantram : kekuatan cakra bersumber pada tiga persendian utama yaitu paha, tangan dan jari.

Cakram Mantram mengalir kepada paha menjadi kekuatan tanpa tanding, tahan api yang menyebabkan paha menjadi keras dan berfungsi sebagai landasan. Cakram Mantram mengalir ke tangan menyebabkan seluruh tangan menjadi kuat dan keras, tahan api, berfungsi sebagai palu. Cakram Mantram mengalir keseluruh jari jari tangan membuat jari menjadi tahan api, berfungsi sebagai penjepit atau sepit.

Dari ketiga sumber kekuatan inilah lalu melahirkan istilah Paandie yang kronologinya sebagai berikut :

Pa ngaran paha
An ngaran tangan
Die ngaran jeriji

Penyatuan Ketiga aksara menjadi Paandie dan selanjutnya ajaran tersebut diberi nama “Sundari Bungkah Sundari Nerus” sedangkan pustakanya disebut Pustaka Bang Tawang.

Bagi mereka yang memasuki dan memperdalam Aji Kawikon disebut Brahma Paandie, bagi mereka yang memperdalam Aji Kewisesan Satria disebut Arya Kepaandian” arya dalam bahasa jawa sama dengan Kesatria, sama dengan Gusti dalam singgih Bali. Selanjutnya bagi mereka yang menganut aliran Brahma ini disebut Wamsa Paandie atau lebih poluler disebut Wamsa Paandie, sedangkan tempat pemujaan pustakanya disebut Gedong Sinapa atau Gedong Batur Kemulan Kasuhun Kidul.

Demikian ringkasan yang dapat saya persembahkan. Semoga bermanfaat.
oleh I Wayan Putrawan, SH (Yande)