Catatan Kecil Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande

3

Category : tentang Opini

Sebagai sebuah kegiatan perdana yang digagas oleh sebuah (cikal bakal) organisasi berbasis sosial tingkat Kabupaten/Kota, saya pribadi memberikan acungan jempol atas terselenggaranya Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande di Museum Seni Neka Sanggingan Ubud, Minggu 15 Agustus 2010 kemarin. Meski masih banyak kekurangan yang barangkali terlihat secara jelas selama proses berlangsung.

Jujur, kami sendiri agak shock ketika mengetahui perubahan besar yang bakalan terjadi pada kegiatan Dharmawacana yang sedianya kami rencanakan secara sederhana. Apalagi ketika usulan kami ini ditanggapi serius oleh pengurus induk organisasi tempat kami nantinya bernaung, Maha Semaya Warga Pande saat pertemuan dadakan di Pura Penataran Pande Tamblingan, Sabtu 7 Agustus 2010 lalu.

Banyak masukan serta kritikan yang kami dapatkan baik secara lisan maupun tulisan terkait pelaksanaan Dharmawacana sedari awal hingga berakhirnya acara. Ada yang tidak puas dengan cara penyampaian materi, kedalaman materi hingga sempitnya ketersediaan waktu yang diberikan pada sesi diskusi. Padahal beberapa dari kami (pihak panitia) bahkan mungkin juga dari peserta sudah menyiapkan daftar pertanyaan yang sekiranya akan dapat dipahami dengan cara yang sama.

Tidak ketinggalan, untuk mendukung jalannya Dharmawacana dan sebagai bahan pembelajaran bagi kami semua, blog www.pandebaik.com dengan ‘terpaksa’ merombak ulang jadwal publish beberapa tulisan tak penting dan diganti dengan tulisan terkait Keris, Bhisama serta organisasi Yowana Paramartha sedari awal bulan Agustus hingga jadwal Dharmawacana terlaksana. Diikuti dengan publikasi via jejaring sosial FaceBook secara rutin baik melalui halaman pribadi maupun group. Sayangnya saya merasakan hanya sedikit yang kemudian dibahas lebih jauh. Saya Mohon Maaf atas ketidaknyamanan ini.

Kendati demikian, ada satu hal yang patut saya syukuri selama proses kegiatan ini berlangsung yaitu tingkat kunjungan menuju blog www.pandebaik.com selama 3 (tiga) bulan terakhir ini melampaui angka 10.000 kunjungan per bulannya yang kalau dirata-ratakan butuh kunjungan sebanyak 335 per harinya. Lonjakan ini saya sadari bakalan kembali menurun saat kegiatan yang dilakoni oleh cikal bakal Yowana Paramartha tingkat kabupaten/kota ini mulai tertinggal jauh dan ditimpa dengan tulisan-tulisan berbau narsis khas PanDe Baik.

Kembali pada topik, adapun jumlah peserta yang tercatat pada daftar adalah sebanyak 205 orang yang artinya kurang lebih sudah melampaui batas yang kami perkirakan. Namun jumlah peserta yang kami yakini lebih banyak dari itu. Bahkan Yande Putrawan yang menjadi koordinator kegiatan Dharmawacana inipun tampaknya belum mencantumkan namanya dalam daftar.

Pemilihan narasumber juga menjadi masukan yang tidak kalah pentingnya apabila kelak Dharmawacana ini menjadi agenda rutin. Maksimal mendaulat 2 narasumber untuk membahas satu topik atau tema tertentu saja. Agar apa yang disampaikan juga yang didiskusikan tidak melebar kemana-mana. Tujuan lainnya agar waktu yang tersedia dapat lebih maksimal dimanfaatkan.

Banyaknya kendala dan keterbatasan yang kami alami sepanjang proses kegiatan merupakan satu pembelajaran berharga terutama bagi kami semua yang ikut terlibat secara langsung. Harapannya hanya satu tentu saja. Agar kami dapat menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Semoga…

Tentang Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande

6

Category : tentang KHayaLan

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wita namun belum jua ada tanda-tanda dimulainya Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande dari pihak Panitia. Meskipun beberapa narasumber telah hadir, rupanya panitia masih menunggu kehadiran Kompyang Wisastra Pande, Ketua Umum Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang direncanakan membuka kegiatan Dharmawacana.

Beberapa Panitia dari Yowana bahkan sudah mulai menampakkan kegelisahannya terkait jumlah peserta yang hadir dikhawatirkan tidak mencapai 200 orang seperti tantangan Pengurus Harian Maha Semaya Warga Pande saat rapat bersama pada upacara 42 hari Pura Pentaran Pande Tamblingan waktu lalu.

Molor 2 (dua) jam, kegiatan dharmawacana baru bisa dilaksanakan. Meski demikian mundurnya waktu pelaksanaan tidak terlalu dirasakan lantaran sebelum Dharmawacana dimulai, baik peserta maupun beberapa Panitia dipersilahkan melihat-lihat Koleksi Keris Tangguh dan Kamardikan yang dipajang di Museum Seni Neka.

Wacana Babad dan Prasasti Pande yang dibawakan oleh ‘Sira Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani’ saking Grya Taman Saraswati, Tunggak-Bebandem-Karangasem merupakan topik pertama Dharmawacana Yowana Paramartha Warga Pande 15 Agustus 2010 yang dilaksanakan di Museum Seni Neka, Sanggingan Ubud. Babad Pande ini menceritakan tentang sejarah awal mula Warga Pande baik sebelum maupun sesudah masa kedatangan Majapahit ke tanah Bali hingga saat Warga Pande Beng menggugat Raja Gianyar pada tahun 1911.

Wacana kedua dilanjutkan oleh Pande Wayan Suteja Neka yang mengetengahkan tentang Upaya Pelestarian Keris di Museum Neka relevansinya dengan Dharma Kepandean. Beberapa koleksi yang menarik perhatian seperti keris Ki Baju Rante dari Puri Karangasem, keris Ki Gagak Petak, keris Ki Blanguyang dari Puri Gianyar atau keris Ki Pijetan dari kerajaan Pejeng merupakan bagian dari upaya pelestarian tersebut agar tidak lari ke tangan kolektor luar negeri. Pada sesi ini ditayangkan pula video cara pembuatan keris yang sebetulnya dapat pula diunduh melalui portal penyedia video dunia maya, YouTube.

Dari dua pemaparan sesi pertama diatas tampaknya tidak semua Peserta bisa memahami dengan baik maksud dan isi wacana yang disampaikan berhubung terkendala bahasa. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali halus Singgih yang sudah mulai dianggap sebagai bahasa asing oleh sebagian besar generasi muda masa kini. Ketidakpahaman inilah yang barangkali menjadi salah satu alasan beberapa Yowana tampak meninggalkan lokasi kegiatan ketimbang melanjutkannya ke sesi selanjutnya. Meski demikian, sesaat sebelum sesi berakhir, didapatkan informasi bahwa target jumlah Peserta yang tercatat melampaui angka 200 orang. Wiiiihhh…

Memasuki sesi selanjutnya pasca makan siang, diambil alih oleh Ketut Sunadra, Sekretaris Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali yang memperkenalkan keberadaan organisasi Maha Semaya Warga Pande sedari awal pembentukan (tahun 1975) hingga kabar terkini. Pemaparan Beliau ini sempat pula menyinggung sedikit tentang beberapa Bhisama yang dianggap penting untuk diketahui. Pada sesi ini pula permintaan kendala bahasa baru dapat disampaikan, bersyukur Beliau mengerti dan memahaminya.

Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma selaku Ketua I Bidang Tata Keagamaan  yang sedianya direncanakan sebagai narasumber pertama Dharmawacana terkait Bhisama, mengambil alih sesi berikutnya dengan batasan waktu yang cukup singkat. Pada sesi ini Beliau sempat menekankan terkait Bhisama Warga Pande dalam pelaksanaan Dharma Agama dan Dharma Negara, dimana percerminan Bhisama yang sempat saya ingat adalah sebagai berikut :

  1. Bhisama Pertama tentang Pura Besakih dan Penataran Pande di Besakih menekankan asas Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Bhisama Kedua tentang Ajaran Panca Bayu menekankan kemampuan diri yang harus terus diasah demi kepentingan orang banyak
  3. Bhisama Ketiga tentang Asta Candhala menekankan perilaku yang Taat dengan Hukum yang berlaku
  4. Bhisama Keempat tentang Larangan memakai Tirtha Pedanda menekankan unsur Keadilan bagi semua pihak
  5. Bhisama Kelima tentang Pesemetonan Warga Pande menekankan Kesatuan antar Warga Pande yang harus diwujudkan dimasa depan

Begitu pemaparan dari para narasumber berakhir, Komang Suarsana selaku Ketua Yowana Paramartha Propinsi Bali yang didaulat sebagai Moderator selama Dharmawacana berlangsung, melanjutkan sesi Diskusi dimana pada awalnya diharapkan semua pertanyaan yang barangkali masih mengganjal terkait Babad, Prasasti dan Bhisama Warga Pande juga Keris dapat ditemukan jawabannya. Sayang, keterbatasan waktu yang barangkali sudah dianggap cukup lama sebagai kegiatan perdana Yowana ini hanya cukup untuk menjawab tiga pertanyaan yang salah satunya direaksi menarik oleh para Peserta Dharmawacana.

Apalagi kalo bukan ‘aksi keseimbangan dari bilah keris yang diberdirikan secara tegak baik dalam posisi normal (dengan  menggunakan danganan/handle/pegangan keris sebagai alas) maupun dalam posisi terbalik (dengan menggunakan ujung bilah keris di sisi bawah). Rupanya banyak Peserta masih tidak percaya dengan ‘posisi keris yang mampu berdiri tegak seperti yang pernah kami saksikan saat kunjungan pertama ke Museum Neka bulan lalu.

Meskipun masih menyisakan kekecewaan lantaran sedikitnya waktu yang dapat dimanfaatkan untuk Dharmawacana perdana (dan juga sesi diskusi) ini, rata-rata Peserta dan juga para narasumber beserta pengurus Maha Semaya malah menginginkan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala sebagai pencerahan pikiran bagi seluruh Warga Pande. Ini merupakan satu pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kami, mengingat apa yang sudah mampu terwujudkan merupakan salah satu buah positif dari sebuah kemajuan teknologi informasi. Semoga saja.

Ohya, untuk Dokumentasi terkait pelaksanaan Dharmawacana Yowana Paramartha ini dapat dilihat disini.

Sedikit Cerita tentang Tulisan ber-Tema Keris (dan Bhisama)

3

Category : tentang DiRi SenDiri

Dalam dua minggu terakhir tulisan yang dipublikasikan pada blog PanDeBaik seakan diselimuti aura Keris sampai-sampai beberapa teman yang rajin menyambangi blog satu persatu meng-sms saya ‘sejak kapan PanDeBaik berpindah tema ? dari yang biasanya melulu tentang teknologi ponsel kini malah lebih mengarah pada budaya bangsa ini… Keris.

Seperti halnya yang pernah saya ungkap dalam update status jejaring sosial FaceBook akhir Juli lalu, terkait tulisan bertemakan Keris (dan Bhisama) yang dipublikasikan sejak awal Agustus, murni saya dedikasikan sebagai pembelajaran atau tambahan pengetahuan bagi Generasi Muda Warga Pande, dalam rangka DharmaWacana tentang keris dan Bhisama di Museum ‘Keris’ Neka, Sanggingan, Ubud, Gianyar.

Adapun terkait DharmaWacana tersebut diselenggarakan sebagai awal proses pembentukan Yowana Paramartha Warga Pande, sebuah wadah berorganisasi dan bersosialisasi bagi Teruna Teruni Generasi Muda Warga Pande di tingkat Kabupaten dan Kota. Sebagai pilot project, sementara waktu kami mengambil opsi dikhususkan pada kotamadya Denpasar dan Kabupaten Badung saja.

Lantas kenapa harus ‘Keris ? ini terkait lagi dengan kunjungan pertama kami ke Museum ‘Keris’ Neka pada tanggal 18 Juli 2010 lalu yang jujur saja menyisakan banyak pertanyaan di pikiran saya sebagai salah satu dari generasi muda (meskipun sudah berstatus menikah) warga Pande. Apalagi kalau bukan terkait apa itu keris, bagaimana proses pembuatannya, nilai-nilai dan makna yang terkandung hingga terkait puluhan keris koleksi milik Museum Neka, dari mana saja asalnya, apakah ada sejarahnya, siapa pembuatnya dan masih banyak lagi.

Sambutan yang diberikan kepada kami sangat jauh dari rencana awal yang sedianya hanyalah untuk menyampaikan keinginan dan memastikan Pande Wayan Suteja Neka berkenan menerima dan berbagi pengetahuannya saat Dharmawacana kelak. Mendengarkan dan menyaksikan secara langsung hingga berkeliling di Museum merupakan pengalaman baru bagi kami semua.

Bersyukur Uwe Suteja Neka (demikan saya memanggil Beliau) berkenan memberikan bekal literatur yang sekiranya dapat kami pelajari ketika pulang dari Museum. Dari literatur tersebutlah tulisan-tulisan yang bertemakan Keris itu berasal. Dua alasan mengapa tulisan-tulisan yang bertemakan Keris saya publikasikan lewat blog adalah pertama, isi dari tulisan tersebut terlalu berharga untuk saya ketahui seorang diri dan mengingat visi dari blog PanDeBaik adalah berbagi pengetahuan dan pengalaman maka tidak ada salahnya tulisan tersebut saya tuangkan disini. Sedang Kedua, terkait profesi sampingan saya sebagai blogger (dan memiliki media blog) ya satu-satunya yang dapat saya lakukan agar literatur yang diberikan Uwe Suteja Neka dapat lebih bermanfaat bagi kita semua adalah menuangkannya kembali dalam bentuk tulisan.

Demikian pula halnya dengan tulisan terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande yang barangkali sangat disarankan untuk diketahui oleh setiap Semeton Warga Pande. Harapannya tentu saja agar saat Dharmawacana nanti akan ada satu pembelajaran tambahan untuk diketahui sebelumnya serta pemahaman yang seragam satu dan lainnya.

Hanya saja publikasi tulisan yang berasal dari literatur ini bukan bertujuan untuk mengeruk keuntungan secara komersial, namun (sekali lagi) hanya sebatas pembelajaran dan tambahan pengetahuan bagi generasi muda Warga Pande khususnya dan tentu saja kita semua umumnya. Bukankah indah jika kita semua sama-sama menyadari bahwa Keris (dan Bhisama bagi Semeton Warga Pande) adalah satu warisan budaya leluhur bangsa kita yang patut dijaga dan lestarikan ?

Dokumentasi Dharmawacana @ Museum Neka

9

Category : tentang iLMu tamBahan

…akhirnya DharmaWacana itu selesai juga… tembus 250 peserta…

Terima Kasih, Matur Suksema ring Semeton Warga Pande, khususnya Yowana Paramartha ‘Teruna Teruni’ yang sudah ikut serta hadir dalam kegiatan yang sangat luar biasa ini…

Lokasi Dharmawacana ‘Museum Seni Neka’ Sanggingan – Ubud bersama banner karya Mahendra Sila

*

…jumlah pesertanya tembus 250 orang oi !!!

*

YanDe Putrawan sang DanCuk (komanDan puCuk -minjem istilah anak BBC) memberikan Laporannya didepan para penglingsir Warga Pande dan (tentu saja) peserta…

*

Uwe Suteja Neka saat menyajikan ‘keajaiban (baca:keseimbangan) sebuah maha karya Mpu Pande… Keris…

*

Pemberian Kenang-kenangan dari Yowana Paramartha karya (lagi-lagi) Mahendra Sila (paling kanan), sebuah karikartun Jejeneng Keris sekaligus pemilik Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka yang digambarkan berdampingan dengan Sira Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani

*

…akhirnya… SALUTE pada semua Semeton yang sudah membantu mewujudkan Dharmawacana ini…

Sampai jumpa di Kegiatan berikutnya…

tentang Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande (Propinsi Bali)

4

Category : tentang iLMu tamBahan

Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande merupakan sebuah wadah organisasi remaja (semeton Pande) yang berada dibawah organisasi Maha Semaya Warga Pande. Sekedar informasi bahwa Maha Semaya Warga Pande adalah sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 1975 bertujuan mempersatukan dan mengantarkan warganya mencapai jagaddhita dan moksa, sejahtera jasmani dan rohani. Pembentukan lembaga Maha Semaya Warga Pande merupakan janji besar Warga Pande untuk mempersatukan diri sesuai kejaten Pande dan memperjuangkan kesetaraan secara intern dan ekstern.

Pembentukan organisasi Yowana Paramartha Warga Pande diatur dalam Pasal 10 Anggaran Dasar Semaya Warga Pande Propinsi Bali tanggal 1 Juni 2007.

Organisasi Yowana Paramartha Warga Pande tersusun :

  1. Yowana Paramartha Warga Pande Propinsi Bali atau Pusat
  2. Yowana Paramartha Warga Pande Propinsi Luar Bali
  3. Yowana Paramartha Warga Pande Kabupaten/Kota se-Bali
  4. Yowana Paramartha Warga Pande Kecamatan se-Bali.

Terkait struktur organisasi dan pengurus Yowana Paramartha Warga Pande ditetapkan, disahkan serta dilantik oleh pengurus Maha Semaya sesuai dengan tingkatan wilayahnya.

Untuk Yowana Paramartha Warga Pande Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali sendiri struktur organisasi dan pengurusnya disusun pada tanggal 10 Juni 2007 melalui keputusan rapat di Celuk Gianyar. Pengesahan Susunan dan Personalia Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali masa bhakti 2007-2012 ditetapkan dalam Keputusan Pengurus Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Nomor 02/MSWP-Bali/KEP/VI/2007 tanggal 18 Juni 2007. Pengurus Yowana Paramartha Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali ini bertanggung jawab kepada Pengurus Harian Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali.

Pembentukan Yowana Paramartha ini diharapkan dapat menjadi wadah komunikasi, pendidikan, latihan dan pengabdian diri sebagai kader-kader muda Maha Semaya sesuai ajaran Tri Para Artha (Asih, Punia dan Bhakti) sekaligus untuk membantu pengurus Maha Semaya didalam menjalankan amanat Pesamuhan Agung, program kerja Maha Semaya dan keputusan/ketetapan Pesamuhan Agung lainnya, sebagai wujud pengabdian pada warga, nusa, bangsa dan negara.

Adapun yang ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Harian yaitu Drh. Komang Suarsana, M.M.A. dari Bangli, dibantu oleh Putu Dian Pradnyanitasari dari Munggu Badung selaku Sekretaris dan Pande Putu Bambang Wirawan dari Beng Gianyar sebagai Bendahara. Dalam struktur organisasi ini terdapat 5 (lima) bidang yang diatur sebagai berikut :

  1. Bidang Kewidanaan (Organisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia)
  2. Bidang Pendidikan dan Latihan
  3. Bidang Sosial-Budaya
  4. Bidang Sosial Ekonomi/Dana
  5. Hubungan Masyarakat

Sekilas tentang Pura Indrakila Kintamani Bangli dalam kaitannya dengan Warga Pande

1

Category : tentang iLMu tamBahan

Pura Indrakila merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang disungsung oleh Umat Hindu dari seluruh Bali, terletak di sebuah perbukitan Desa Dausa Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Berjarak kira-kira 40 km dari Kota Bangli kearah utara menuju Singaraja.

Pura yang diempon oleh dua Desa Dinas yaitu Desa Dinas Dausa dan Desa Dinas Satra ini, melangsungkan piodalan bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat (keempat) yang dikenal dengan ‘Ngusaba Kapat. Piodalan ini bersamaan waktunya dengan piodalan di Pura Tulukbiyu dan Pura Pucak Penulisan Kintamani, dimana ketiga pura tersebut mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Warga Pande.

Tata letak pelinggih pada area Utamaning Mandala di Pura Indrakila sangat berbeda dengan tata letak pelinggih-pelinggih pura lainnya di bali. Pura Indrakila tampaknya seperti pura kembar dimana pelinggih-pelinggih yang ada disebelah kanan dan sebelah kiri pura simetris baik jenis dan jumlah bangunannya yang persis sama dan sebangun.

Pura Indrakila sudah berdiri sejak jaman Bali Kuno, hal ini dibuktikan dengan banyaknya prasaasti yang diterbitkan oleh raja-raja Bali Kuno yang diketemukan oleh para peneliti sejarah Bali Kuno. Disamping itu, salah satu bukti yang menguatkan Pura Indrakila  adalah pura jaman Bali Kuno adalah keberadaan pelinggih berbentuk Lingga Yoni sebagai perlambang kemakmuran, berbentuk (maaf) alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sekedar informasi, Pelinggih Lingga Yoni ini ditemukan pula berada pada Pura Penataran Pande Tamblingan.

Dalam cerita Sejarah Pura Indrakila ini tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan Warga Pande, karena di pura inilah Brahmana Dwala putra Mpu Gandring Sakti  bertemu dengan Mpu Siwa Saguna pamannya, dalam sebuah dialog imajiner ‘Yoga Semadhi’ dimana dengan tujuan awalnya adalah mencari tahu penjelasan tentang asal usulnya. Peristiwa pertemuan ini dimuat dalam Prasasti Pande Kaba-Kaba yang diketemukan di Kaba-Kaba, Kediri Kabupaten Tabanan yang didukung pula dengan Babad Pande Bratan serta sejumlah lebih dari sepuluh babad Pande versi lainnya.

Pertemuan dan dialog imajiner antara Brahmana Dwala dengan Mpu Siwa Saguna mempunya makna yang sangat mendalam bagi Warga Pande karena pertemuan itu adalah pertemuan antara dua kelompok besar Warga Pande di Bali. Kelompok yang pertama berawal dari kedatangan Mpu Brahma Wisesa yang turun ke Bali sebelum Bali diduduki oleh Majapahit. Kedatangan kelompok kedua berawal dari kedatangan Mpu Brahma Raja yang turun ke Bali setelah Majapahit menaklukkan Bali, bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Sri Semara Kepakisan (1380-1460 M).

Akan tetapi perlu diketahui bahwa jauh sebelum kedatangan dari dua gelombang Pande tersebut diatas, di Bali telah lama ada kelompok Pande Besi, Pande Mas, Pande Krawang dan kelompok-kelompok Pande yang lain. Setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, kelompok Pande Bali Kuno ini bergabung dengan Pande yang datang kemudian, kendati banyak diantara mereka yang terpaksa menyembunyikan jati dirinya atau dalam Bahasa Bali disebut Nyineb Raga, menyembunyikan jati diri demi keselamatan jiwanya. Salah satu contoh cerita terkait ‘Nyineb Raga’ ini dapat dibaca pada tulisan saya terdahulu tentang Situs Pande Tamblingan dan Pande Bangke Maong.

Pertemuan dan dialog imajiner yang dilakukan di Pura Indrakila antara Brahmana Dwala dengan Mpu Siwa Saguna ini kemudian menghasilkan bhisama atau pewarah-warah yang sepatutnya dijadikan tuntunan dan pegangan hidup oleh seluruh Warga Pande. Bagi yang belum mengetahui isi atau gambaran umum 6 (enam) bhisama tersebut, dapat membacanya pada tulisan saya sebelumnya :

  1. Bhisama Pertama tentang Pura Besakih dan Penataran Pande di Besakih
  2. Bhisama Kedua tentang Ajaran Panca Bayu
  3. Bhisama Ketiga tentang Asta Candhala
  4. Bhisama Keempat tentang Larangan memakai Tirtha Pedanda
  5. Bhisama Kelima tentang Pesemetonan Warga Pande
  6. Bhisama Keenam tentang Tatacara Pediksan Mpu di Pande

Tulisan tentang Pura Indrakila Kintamani Bangli dalam kaitannya dengan Warga Pande ini merupakan tulisan terakhir yang barangkali dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam rangka rencana Dharmawacana yang akan dilakukan hari minggu besok, 15 Agustus 2010 di Museum Seni Neka, Sanggingan Ubud. Adapun narasumber yang akan memaparkan keterkaitan Bhisama Warga Pande ini adalah ‘Sira Mpu Sri Dharmaphala Vajrapani’ saking Grya Taman Saraswati, Tunggak, Bebandem, Karangasem beserta Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma, M.S., Ketua I Bidang Tata Keagamaan Pengurus Harian Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali Masa Bhakti 2007 – 2012 saking Blahbatuh Gianyar.

Tulisan ini sekaligus menjadi sebuah jawaban akan pertanyaan yang pernah saya lontarkan terkait Sejarah Bhisama Warga Pande dalam tulisan sebelumnya.

Adapun tulisan disarikan dari buku merah ‘Enam Bhisama Mpu Siwa Saguna Bagi Warga Pande melalui Brahmana Dwala’ yang dirangkum oleh (alm) Made Kembar Kerepun Penasehat Maha Semaya Warga Pande serta diterbitkan oleh Maha Semaya Warga Pande Propinsi Bali pada tahun 2005.

Mengetahui Bhisama Warga Pande (bag.3) Kelima dan Keenam

3

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi (lanjutan) berikut saya turunkan sebagai sebuah bahan pembelajaran agar Semeton Yowana Warga Pande khususnya dan Semeton Warga Pande umumnya dapat mengetahui secara garis besar terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande (dipecah menjadi 3 tulisan) dalam kegiatan Dharmawacana di Museum Seni ‘Keris’ Neka hari Minggu tanggal 15 Agustus 2010. Bagi yang belum mengetahui apa pengertian Bhisama secara umum (dari dua sisi), dapat melihat kembali tulisan (tepatnya, pertanyaan) saya sebelumnya terkait ‘Sejarah Bhisama Warga Pande.

* * *

Bhisama kelima, berupa bhisama tentang Pesemetonan antar Warga Pande yang diingatkan untuk tidak lupa pada jati diri dan seluruh keluarga, atas dasar keturunan atau sedarah daging.

Jangan merasa memindon (saudara tingkat III), sejauh-jauhnya adalah memisan (saudara tingkat II). Tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih tinggi. Seperti pohon ada yang berbuah ada yang tidak berbuah (bernasib baik-tidak bernasib baik). Tidak boleh menjual saudara dan jangan berbuat tidak baik, jangan sombong pada orang yang tidak baik.

*

Sebelum lanjut pada pemahaman, yang dimaksud dengan bersaudara tingkat dua itu adalah Mindoan atau Memindon. Ilustrasinya kurang lebih begini. Seumpama, Kakek saya dan Kakeknya Yande Putrawan (semeton Yowana) merupakan saudara kandung. Itu artinya Bapak saya dan Bapaknya Yande berstatus saudara Misan (a pisan/tingkat satu/sepupu). Itu artinya juga bahwa antara saya dan Yande adalah berstatus Mindon (mindoan/tingkat dua). Nah, kelak jika anak saya bertemu dengan anaknya Yande, berdasarkan Bhisama tersebut tidak boleh menyebut saudara jauh atau bahkan tidak bersaudara. paling jauh itu ya tetap meMINDON. Begitu kira-kira ilustrasinya… :p

Terkait Bhisama kelima ini, jujur saja saya merasakan hal yang barangkali selama ini selalu berusaha saya terapkan dalam setiap langkah nyata. Berpikir yang baik, Berkata yang baik dan Berbuat yang baik…

Secara pemahaman saya pribadi, terkait Bhisama Kelima ini sekiranya Mutlak bahkan sangat saya anjurkan meskipun ada beberapa hal yang barangkali perlu digarisbawahi seperti ‘Jangan menjual saudara’ dan juga ‘Jangan berbuat tidak baik’ tentu saja. Semua itu mengingatkan saya pada hukum Karma.

Terkait ‘Jangan menjual saudara’, saya punya pengalaman unik. Saat menjadi tim pemeriksa satu kegiatan yang secara kebetulan digarap oleh satu Rekanan berembel-embel nama ‘Pande’, saya menemukan banyak kejanggalan konstruksi baik secara visual, kuantitas dan kualitas. Hal ini kemudian membuat kami memutuskan untuk menahan dikeluarkannya Surat Berita Acara Pemeriksaan yang menjadi satu syarat mutlak pencairan dana kegiatan tersebut. Saking lamanya proses penundaan (lantaran tidak ada perbaikan ataupun tindak lanjut yang dilakukan Rekanan sesuai saran), sang atasan langsung menghubungi saya via telepon. Tak cukup dengan cara itu, mereka juga mendatangi saya secara langsung dan meminta saya mau membantu mereka (dengan mengeluarkan Surat Berita Acara Pemeriksaan tanpa perbaikan apapun), setelah mengatakan ‘Pak, saya ini orang Pande, bukankah kita bersaudara ? harus saling bantu…

Bagaimana Pendapat Anda ?

* * *

Bhisama keenam, berupa bhisama tentang Tata Cara Pediksan seorang Warga Pande untuk menjadi seorang Sulinggih yang kemudian bergelar Sira Mpu Pande.

*

Tidak banyak penjelasan yang saya dapatkan untuk Bhisama ini, untuk itu barangkali bisa ditanyakan saat Dharmawacana hari Minggu nanti.

Salam…

* * *

Mengetahui Bhisama Warga Pande (bag.2) Ketiga dan Keempat

7

Category : tentang iLMu tamBahan

Informasi (lanjutan) berikut saya turunkan sebagai sebuah bahan pembelajaran agar Semeton Yowana Warga Pande khususnya dan Semeton Warga Pande umumnya dapat mengetahui secara garis besar terkait 6 (enam) Bhisama Warga Pande (dipecah menjadi 3 tulisan) dalam kegiatan Dharmawacana di Museum Seni ‘Keris’ Neka hari Minggu tanggal 15 Agustus 2010. Bagi yang belum mengetahui apa pengertian Bhisama secara umum (dari dua sisi), dapat melihat kembali tulisan (tepatnya, pertanyaan) saya sebelumnya terkait ‘Sejarah Bhisama Warga Pande.

* * *

Bhisama ketiga, berupa bhisama agar Warga Pande mematuhi larangan atau pantangan atau perbuatan yang harus dihindari, yaitu perbuatan Asta Candhala, agar Warga Pande berhasil menjadi pemimpin manusia yang utama.

Adapun yang dimaksud dengan perbuatan Asta Chandala yaitu :

  1. Amahat, ngaran manginum amdya, metu mawero (minum minuman keras yang memabukan)
  2. Amalanathing, ngaran maka balandhang jejuden (menjadi bandar judi)
  3. Anjagal, ngaran amati mati pasa, madwal daging mentah (membunuh binatang dan menjadi penjual daging mentah)
  4. Amande lemah, ngaran akarya payuk pane (membuat periuk dan barang tembikar lain dari tanah)
  5. Anyuledang, ananggap upah nebuk padi (menjadi tukang tumbuk padi)
  6. Anapis, ngaran amangan sesaning wang len (makan makanan sisa orang lain) ; Amurug papali ngaran (jangan melanggar pantangan)
  7. Amangan klalatu (makan laron/dedalu)
  8. Iwak pinggul ngaran dedeleg (ikan gabus atau jeleg)

*

Secara pemahaman saya pribadi, terkait Bhisama Ketiga ini sebagian hukumnya Mutlak dan sebagian lagi masih dalam tahap ‘kembali pada keyakinan’. Mengapa saya katakan demikian ?

  • Untuk 2 (dua) poin pertama, saya kira semua umat manusia (dengan ajaran agama mereka) memang sudah sepantasnya atau wajib mematuhinya, meskipun dalam prakteknya ada juga yang masih melakukannya.
  • Untuk 3 (tiga) poin berikutnya, saya kira akan ada kerancuan pemahaman secara umum dari masyarakat luas (di masa kini) apabila tidak ditambahkan dengan alasannya, mengapa Semeton Warga Pande tidak diperkenankan menjadi penjual daging, membuat tembikar atau tukang tumbuk padi ? bisa jadi lantaran pada jaman dahulu kemampuan untuk memande (membuat senjata dan peralatan) yang dilakoni oleh seorang Warga Pande dianggap sangat berharga sehingga ada pendapat yang menyatakan bahwa ‘dimana terdapat kerajaan, disitu pastinya terdapat Warga Pande’. Karena biasanya pasokan senjata dan peralatan tempur dibuat oleh Warga Pande tersebut. Akan sangat disayangkan apabila kemampuan tersebut hilang begitu saja.
  • Untuk sisa poin terakhir, saya kira itu akan kembali pada keyakinan masing-masing. Memang ada beberapa cerita yang saya dengar disekitar kami ketika seorang Warga Pande mencoba melanggar pantangan hanya karena ingin membuktikan pantangan atau larangan tersebut. Ketika nekat menyantap daging ikan Gabus atau Jeleg mengakibatkan timbulnya gatal disekujur tubuh dan membengkak. Barangkali hal-hal seperti ini bisa saja dijelaskan dari segi medis, apakah terkait alergi misalnya, namun apabila dirunut ke kisah (atau mitos ?) masa lalu seorang Warga Pande dalam hubungannya dengan keberadaan ikan Gabus, wajar apabila kutukan secara niskala bisa berjalan. Percaya atau tidak, itu saja.

* * *

Bhisama keempat, adalah bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmna Dwala mengenai larangan menggunakan tirtha dari sulinggih lainnya. Larangan ini sama sekali bukan didasari oleh niat merendahkan atau melecehkan sulinggih dari keturunan yang lain (bukan Warga Pande), akan tetapi menyangkut beberapa hal prinsip yang harus dipahami oleh Warga Pande. Selengkapnya bisa dibaca pada tulisan berikut.

Ada empat alasan kiranya Warga Pande disarankan untuk menggunakan sulinggih dari keturunan Pande atau lazim dikenal dengan Sira Mpu adalah sebagai berikut :

  • Pertama, pemakaian Sira Mpu adalah penerusan tradisi leluhur yang telah berlangsung sejak jaman sebelum kedatangan DangHyang Nirartha ke Bali. Jauh sebelum Beliau datang Warga Pande telah memiliki sulinggih sendiri yaitu Sira Mpu. Tradisi itulah yang telah diwariskan dari generari ke generasi, kendatipun pada saat jayanya sistem kerajaan di Bali, banyak rintangan dan hambatan yang dialami oleh Warga Pande, karena banyak warga desa yang melarang pemakaian Sira Mpu oleh Warga Pande.
  • Kedua, Warga Pande tidak menggunakan Sulinggih lain, karena ada mantra-mantra khusus yang tidak dipakai oleh Sulinggih lainnya, khususnya yang berkaitan dengan Bhisama kedua yaitu ajaran Panca Bayu. Mantra yang tidak boleh dilupakan oleh Warga Pande yang berhubungan erat dengan profesi utama seorang Warga Pande.
  • Ketiga, Warga Pande seperti warga/soroh lainnya di Bali, memiliki aturan tersendiri dalam pembuatan kajang kawitan. Kajang kawitan Pande hanya dipahami secara mendalam oleh Sira Mpu atau pemangku pura kawitan sehingga hanya merekalah yang berhak membuat kajang kawitan Pande.
  • Keempat, tata cara pediksaan di kalangan Warga Pande sangat berbeda dengan tata cara pediksaan dikalangan warga lain, khususnya keturunan DangHyang Nirartha. Perbedaan ini sangat prinsip bagi Warga Pande, dimana Warga Pande melakukan pediksaan dengan sistem Widhi Krama.

*

Secara pemahaman saya pribadi, terkait Bhisama Keempat ini sekiranya dapat disesuaikan dengan situasi kondisi terkait upacara yang akan dilakukan. Bhisama ini ada baiknya tidak terlalu ngotot dijalankan, apabila upacara dilakukan secara massal yang melibatkan banyak soroh atau wangsa lainnya, seperti di bale banjar, sekolah, kantor, pura yang disungsung masyarakat luas ataupun tempat umum lainnya. Jika itu tetap dipaksakan (dalam kondisi tersebut), saya yakin akan timbul banyak polemik dan masalah nantinya.

* * *