Mengintip Ponsel Android kelas Menengah untuk Pemula

Category : tentang TeKnoLoGi

Sesuai Prediksi beberapa pengamat Teknologi Komunikasi, dua tahun terakhir merupakan Tahun milik Android, sebuah sistem operasi bagi perangkat mobile selular besutan Google yang mengambil codename berupa kombinasi urutan Abjad dan nama jajanan. Tak kurang terdapat versi Cupcake, Donut, Eclair, Froyo, Gingerbread, Honeycomb, Ice Cream Sandwich dan terakhir Jelly Bean. Kehadiran mereka bak gempuran ponsel lokal di Indonesia beberapa tahun lalu yang hadir dari berbagai vendor, beragam teknologi built in dan juga variasi harga. Android tampaknya sedang menarik hati sebagian besar konsumen yang mulai mengalami kebosanan dengan perangkat Blackberry namun masih belum mampu menjangkau keberadaan iPhone.

Bagi seorang Pemula ataupun yang barangkali ingin menjajal kemampuan Android, kami menyarankan untuk menyasar pangsa pasar kelas menengah yang hadir dalam kisaran harga tawar 2 sampai dengan 3 juta. Mengapa demikian, karena di kelas inilah tingkat kepuasan minimal akan dapat diraih mengingat beberapa Teknologi seakan sudah distandarkan untuk pemanfaatan perangkat secara optimal. Tidak terlalu mahal dan apa yang didapatkan kami yakin tak akan mengecewakan calon Pengguna.

Berbeda dengan dua kelas lainnya, bawah dan atas, di kelas Menengah ini hanya ada beberapa ponsel Android saja yang dapat diintip sebagai Pilihan untuk merasakan pengalaman baru atau menjajal kemajuan teknologi yang dikembangkan secara khusus oleh Google. Adapun ‘standar yang kami sebutkan sebelumnya adalah soal penggunaan OS Android yang minimal sudah mengadopsi versi 2.3 Gingerbread (sudah mampu melakukan fungsi Tethering) , pemanfaatan Prosesor 1 GHz, besaran Memory RAM 512 MB dan layar sentuh 3,5”. Berikut diantaranya.

Dari Sony Ericsson, Rekan bisa mengintip beberapa seri seperti Xperia Mini pro yang sudah disematkan papan ketik qwerty slider, Xperia Active yang dikenal dengan ketahanan terhadap benturan, debu dan air, Xperia Neo dan Neo V dengan layar lebarnya, Xperia Ray dengan kamera 8 MP dan Live Walkman yang menjadikan kemampuan memutar Musik sebagai jualan utamanya. Selain standar yang diberlakukan diatas, ada juga resolusi layar yang rata-rata sudah menyajikan besaran 480×854 pixel demi tampilan yang padat dan tajam bagi mata penggunanya. Sayangnya untuk OS, semua yang disebutkan diatas masih menggunakan versi 2.3 GingerBread. Sedang bagi yang menginginkan OS terkini 4.0.3 Ice Cream Sandwich, bisa melirik seri XPeria U yang sudah mengadopsi Dual Core 1 GHz dengan memory internal 4 GB tanpa tambahan slot memory card. Seri terakhir merupakan perangkat yang dirilis tanpa menggunakan lagi embel embel Ericsson.

Dibandingkan vendor Sony Ericsson, Samsung menyajikan tiga perangkat yang dapat dijadikan sebagai pilihan utama di rentang harga ini. Samsung Galaxy W dengan prosesor satu inti ARM v7 1,4 GHz plus Memory Internal sebesar 1,7 GB, Samsung Galaxy Ace Plus dengan besaran 1 GHz dan terakhir diLaunching adalah Samsung Galaxy Ace 2 dengan prosesor dua inti 1 GHz. Tidak seperti Sony, Samsung masih setia bercokol di OS versi 2.3 GingerBread untuk rentang harga ini.

Setara dengan Samsung, perangkat yang dirilis oleh nama besar Huawei lewat seri U8860 Honor menyajikan spesifikasi yang sedikit lebih baik dihadirkan di kelas Menengah untuk bersaing dengan dua vendor global tersebut. Katakan saja besaran memory yang sudah 2 GB dan pasokan daya Lithium Polymer 1930 mAh. Bandingkan saja dengan ponsel dua vendor diatas yang masih menggunakan daya 1500 mAh. Tidak heran apabila dalam iklan yang ditampilkan oleh Huawei di beberapa media cetak, mengklaim bahwa perangkat ini mampu digunakan untuk menikmati delapan film secara nonstop dengan durasi masing-masing sekitar dua jam. Lumayan lama untuk kelas ponsel Android.

Dari LG, hadir seri L7. Perangkat berbasis Dual Core 1 GHz ini sudah mengadopsi OS terkini 4.0 Ice Cream Sandwich plus layar lebar 4 inchi. satu penawaran menarik bukan ?

Tak lupa ada HTC yang merilis One V, perangkat One Series yang memang menyasar Droiders kelas menengah. Mengandalkan prosesor single core 1 GHz dan 512 MB RAM, tampaknya sudah cukup menjanjikan. ditambah lagi OS terkini 4.0.3 Ice Cream Sandwich plus kemampuan Beats Audio yang kini telah menjadi bagian dari HTC mengingat diakuisisinya perusahaan pengembang hardware audio tersebut. Jika belum jua puas, One V siap memberikan pengalaman baru lewat dual shoot lens, dimana pengguna dapat melakukan perekaman video sembari mengambil gambar secara bersamaan. sudah begitu, lensa kamera 5 MP ditambah Led Flashnya, siap melakukan Continuous Shoot hingga 20 frame dalam sekali jepret. sangat mengasyikkan tentu saja.

Diluar pilihan diatas, memang masih ada beberapa perangkat lain yang dapat ditawarkan sebagai alternatif ponsel Android di kelas Menengah. Sayangnya dibandingkan saran kami tadi, pilihan yang ada masih menggunakan besaran prosesor dibawah 1 GHz dan Memory RAM dibawah 512 MB. Jadi ketimbang nantinya bakalan mengecewakan Pengguna untuk akselerasi dan pemanfaatan perangkat yang kurang optimal, lebih baik pertimbangkan saja pilihan kami. Bagaimana ?

Saatnya Berburu Ponsel Smartphone Branded Murah

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Entah ada hubungannya atau tidak, gempuran ponsel murah berbasis Android yang diluncurkan baik oleh vendor global ataupun lokal sepertinya mulai berimbas pada harga tawar perangkat ponsel pintar yang sebelumnya dirilis oleh vendor besar secara perlahan mulai turun ke harga wajar. Penurunan ini bisa jadi tidak disadari oleh kalangan yang begitu tergoda dengan iming-iming ‘bonus’ dari sebuah perangkat berbasis Android. Padahal dalam rentang kisaran harga yang sama, secara kemampuan tentu ponsel-ponsel pintar ini tak kalah awal dengan besutan si robot hijau. Hanya saja secara trend barangkali nama mereka sudah mulai memudar.

Namun bagi Rekan yang punya budget terbatas namun tak ingin ikut-ikutan latah memilih perangkat Android, yuk intip beberapa smartphone lainnya yang pantas diburu kali ini.

Blackberry. Sebagai perangkat yang masih menjadi nomor satu paling dicari di Indonesia lantaran kemampuan BBM-nya, harga tawar ponsel baru Blackberry tampaknya sudah mulai terjangkau bagi kantong konsumen. Katakan saja seri Gemini yang bertengger di angka 1,6 juta atau versi cdma-nya yang dibanderol hanya 1,3 juta saja serta 3G atau Curve 9300 yang rupanya sudah menurun ke 2,4 juta. Sedang yang menginginkan OS versi 7 terkini, bisa melirik seri 9360 dan 9380 yang berada di kisaran 3 juta.

iPhone. Meski vendor ini meledak lewat seri iPhone 4-nya, seri terdahulu rupanya masih diburu para loyalisnya yang ingin tahu seberapa jauh mengasyikkannya perangkat besutan Apple dengan harga yang wajar. iPhone 3GS lah jawabannya. Harga tawar yang sudah menurun hingga angka 3,5 juta tampaknya sangat sayang untuk dilewatkan. Demikian pula dengan fitur-fitur yang masih dapat dikembangkan lagi kemampuannya secara optimal.

Motorola. Dibandingkan dua brand diatas tadi, rilis ponsel smartphone dari Motorola ini tergolong jauh lebih dulu. Tak heran apabila secara OS atau sistem operasi yang disematkan sudah termasuk jadul apabila dibandingkan dengan yang hadir saat ini. Meski begitu, distributor Motorola tampaknya masih tetap mempertahankan keberadaan dua seri mereka Q9 dan Q8 cdma, yang mengadopsi Windows Mobile 6.1 dengan harga jual dibawah sejuta. Tawaran yang menarik bukan ?

Nokia. Di lini pasar Smartphone, Nokia masih menjadi Raja yang memegang penjualan tertinggi seri ini di seluruh dunia. Satu alasan paling telak adalah, Nokia sudah menjual seri Smartphone jauh sebelum vendor lain melakukannya, termasuk Android sekalipun. Terhitung tahun 2010/2011 Nokia jualah yang paling rajin menggelontor pasar dengan ponsel berlayar sentuh dan mengadopsi multi series OS Symbian. Aksi turun harga pun termasuk salah satu strategi mereka untuk tetap bisa Survive ditengan gempuran Android. Silahkan Rekan coba melirik seri C6, C6–01 atau C7 yang turun hingga angka 2 juta rupiah atau E6 yang mengadopsi papan ketik qwerty dan N8 di kisaran 3 juta rupiah saja. Jikapun itu masih tergolong mahal, bisa melirik ponsel murah berlayar sentuh mereka yang ada dikisaran harga bawah sejuta.

Samsung. Sebelum berkolaborasi dengan Android, Samsung merupakan salah satu vendor yang tergolong rajin merilis ponsel berbasis Windows Mobile. Peruntungan mereka di masa itupun bisa dikatakan sangat besar mengingat teknologi yang disematkan dalam tiap rilis ponsel tergolong mumpuni apabila disandingkan para pesaingnya. Seri Omnia yang diluncurkan tahun 2008-2010 bisa menjadi pilihan yang masih layak untuk diburu. Jikapun menginginkan rilis lebih baru lagi, Rekan bisa melirik seri Wave yang mengadopsi OS Bada, sebuah sistem operasi yang secara khusus dikembangkan Samsung saat ini. Adapun kisaran harga yang ditawarkan berada dalam rentang 1,5 hingga 2,5 juta rupiah.

Sony Ericsson. Brand yang kabarnya sebentar lagi bakalan pecah kongsi ini, seperti halnya Nokia merupakan salah satu vendor besar yang rajin merilis ponsel pintar dijamannya. Adapun OS yang dipilih untuk melanggengkan usahanya saat itu adalah Symbian dan Windows Mobile. Di pasar menengah, Sony Ericsson masih menyediakan beberapa seri Vivas dengan harga tawar dua jutaan. Sedang di pasar bawah, seri Aspen tampaknya masih menarik untuk dilirik. Ponsel berpapan ketik qwerty ini dibanderol dibawah sejuta rupiah. Sangat menarik mengingat OS yang disematkan sudah Windows Mobile 6.5, versi terakhir yang dikembangkan oleh Microsoft sebelum berganti nama menjadi Windows Phone.

Harga kisaran rata-rata 2 hingga 3 juta rupiah, kami masih anggap wajar untuk bisa menebus barisan ponsel Smartphone branded yang siap diburu mengingat dalam rentang yang sama, konsumen sudah bisa mendapatkan beberapa seri ponsel berbasis Android kelas menengah. Paling tidak, ketimbang ikut-ikutan latah memilih ponsel yang tergolong boros daya batere, kenapa tidak mencoba alternatif lainnya ?

HTC Raksasa Taiwan yang telah menDunia

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Agak tergelitik juga ketika seorang kawan yang telah lama malang melintang di dunia teknologi, mencibir dan mempertanyakan kredibilitas HTC serta mengira produsen ini tak jauh berbeda dengan produk lokal (china).

Bagi yang pernah merasakan hebatnya kemampuan ponsel konvergensi layar sentuh ber-Personal Digital Assistant (PDA) pada awal tahun 2003, saya yakin sudah mengenal produk-produk mereka lebih jauh. Karena HTC-lah yang selama kurun waktu tersebut merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual).

Tercatat nama besar O2, T-Mobile, Dopod bahkan Sony Ericsson merupakan perusahaan yang pernah membeli perangkat produksi HTC di era terdahulu, meski tak dipungkiri bahwa strategi ini masih tetap berjalan hingga kini. Katakan saja produk HTC Universal yang dikemas dalam tiga merek yang berbeda, O2 XDA EXECUTIVE , DOPOD 900 dan T-MOBILE PRO. Atau HTC Blue Angel yang dikenal sebagian masyarakat Indonesia sebagai O2 XDA Iis dan AUDIOVOX 6600 CDMA. Percaya atau tidak produk Xperia X1 yang dirilis Sony Ericsson dan berbasiskan Windows Mobile 6.1 pun memiliki codename HTC Kovsky, dan Google Nexus one yang fenomenal itu  memiliki codename HTC Passion.

HTC Corporation (sebelumnya bernama High Tech Computer Corporation) adalah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Taiwan. Didirikan pada tahun 1997 silam oleh Cher Wang dan sejauh ini telah  menghasilkan berbagai macam produk telekomunikasi. Seperti yang dikatakan diatas, pada awal berdirinya HTC merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual). Seiring berjalannya waktu, HTC mulai menjual produk dengan mereknya sendiri. HTC awalnya hanya memproduksi telepon pintar (smartphone) yang berbasis perangkat lunak Windows Mobile, namun sejak 2009 mulai mengalihkan fokusnya ke sistem operasi Android.

Beberapa karya produk HTC yang juga telah mendunia disamping yang disebut diatas, meliputi O2 XDA II (HTC Himalaya), Palm Treo Pro (HTC Panther), HP iPAQ hw69xx (HTC Sable), HTC TyTN II, HTC Shift, serta T-Mobile G1 (HTC Dream -produk ponsel pertama di dunia yang berbasiskan Android).

Pasca runtuhnya hegemoni sistem operasi Windows Mobile, HTC bahkan sempat mencoba pula peruntungan dengan merilis beberapa ponsel pintar berbasiskan Windows Phone 7. HTC Mozart, HTC Trophy dan HD7 merupakan Tiga produk diantaranya yang telah dikenal lebih dulu di mata dunia. Sayang, mandegnya pengembangan Windows Phone 7 yang digadang-gadangi bakalan menggantikan Windows Mobile terdahulu malah layu sebelum berkembang, kalah pamor oleh kharisma Android.

Bisa dikatakan nama besar HTC makin berkibar pasca rilis ponsel berbasiskan Android. Beberapa produk yang mereka miliki di lini Open Source ini meliputi HTC Touch, Desire, Legend, Incredible dan terakhir berada di pangsa pasar Tablet 7”, HTC Flyer. Dalam segmen ini HTC menyertai User Interface mereka yang ternama, HTC Sense di setiap rilis produk untuk lebih menarik minat konsumen.

Masih meragukan kualitas dan nama besar HTC ?

10 Pertimbangan Bagaimana Memilih Perangkat Android yang Tepat sesuai Kebutuhan

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah sekian lama menggunakan dan berusaha memahami bagaimana perangkat Android mengerti akan kebutuhan penggunanya, tulisan berikut saya persembahkan unruk Rekan-rekan semua yang barangkali berkeinginan untuk mencoba memilih perangkat Android yang tepat sesuai kebutuhan, baik yang berkaitan dengan pekerjaan ataupun lifestyle.

Apa saja yang dapat dipertimbangkan dalam memilih perangkat Android yang sesuai dengan Kebutuhan ? Berikut 10 peringkat yang bagi saya pribadi patut dipertimbangkan.

Peringkat Pertama, tentu saja Harga. Harga akan terkait erat dengan persediaan Budget yang ada. Pertimbangan pertama ini bisa dilewati jika Harga atau Budget bukan lagi menjadi satu masalah besar untuk memilih perangkat Android. Untuk pertimbangan Harga, saya pilah menjadi tiga. High Budget, Mid Budget dan Low Budget. Semakin tinggi harga ataupun budget yang dimiliki, maka perangkat Android yang dapat dipilih akan makin banyak jenis maupun kemampuannya. Sejauh ini sudah ada perangkat Android yang mengadopsi prosesor dual core (LG Optimus 2X), layar AMOLED (Samsung Galaxy S)atau Tablet dengan layar lebar nan luas (Samsung Galaxy Tab 10.1). di Mid Budget, dipenuhi oleh produk-produk yang secara kemampuan sangat layak diperhitungkan namun masih dapat dijangkau oleh kantong. Well, ada Samsung Galaxy ACE S5830 yang saya miliki atau LG Optimus One atau Sony Ericsson Xperia Mini Pro. Sedangkan pada tingkay Low Budget, ditawarkan produk dengan harga yang sangat menggiurkan namun tetap mengadopsi sistem operasi yang pintar. Katakanlah seperti Samsung Galaxy Mini, LP Optimus Me ataupun Sony Ericsson X8.

Peringkat KeDua, saya ambil Brand. Semakin beken Brand yang mengusung perangkat Android akan berbanding lurus dengan harga yang harus dibayarkan. Katakanlah HTC atau Sony Ericsson yang biasanya rajin mengisi pangsa pasar High Budget. Kemudian ada Samsung, LG dan Motorola yang masuk di semua lini. Sedangkan di bagian brand lokal ada Imo, Nexian dan CSL yang rata-rata bisa dikatakan sangat terjangkau.Faktor Brand biasanya terkait erat pula dengan UI (User Interface), bahan baku perangkat atau bahkan fitur khusus yang ditawarkan.

Peringkat KeTiga ada Luasan Layar. Yang saya maksudkan disini adalah lebar layar sentuh yang menjadi persyaratan mutlak sebuah perangkat Android. Semakin lebar layar yang dimiliki, semakin mahal pula harga yang harus dibayarkan. Untuk perangkat ponsel Android pada umumnya berkisar 2,5” s/d 3,5”. Yang masuk dalam kategori ponsel Premium kisaran 4” s/d 5” sedangkan yang masuk dalam kategori Tablet kisaran 7”, 8,9” s/d 10”.  Semakin lebar luasan layar, semakin nyaman pula untuk digunakan.

Peringkat KeEmpat adalah Versi sistem operasi Android yang dibekali pada perangkat. Tahun 2011 memang sudah sangat jarang ditemukan perangkat Android yang masih menggunakan versi 1.5 atau yang dikenal dengan istilah Donut atau versi 1.6 Cupcake sebagai bahan jualan utama dalam kondisi baru. Minimal versi 2.1 Eclair, atau yang sudah umum bahkan menjadi standar 2.2 Froyo, sedangkan yang 2.3 GingerBread (kue jahe) dan 3.0 HoneyComb masih bisa dikatakan sangat jarang digunakan, kecuali untuk ponsel premium atau perangkat Tablet.  Semakin baru versi sistem operasi yang digunakan, semakin banyak kemudahan/kelebihan yang didapatkan. Katakanlah fitur Tethering atau Portable Hotspot, atau bahkan pemilahan Storage antara aplikasi dengan Games.

Peringkat KeLima adalah Resolusi layar yang digunakan. Disini saya bagi menjadi tiga juga, antara yang standar dengan resolusi 240×320 atau sebaliknya (Samsung Galaxy Mini, LG Optimus Me, Samsung Galaxy Pro dan Fit), menengah dengan resolusi 320×480 (Samsung Galaxy ACE dan Gio) dan yang paling keren itu 480×800 atau lebih (LG Optimus 2X, samsung Galaxy S II, Samsung Galaxy Tab). Semakin besar resolusi layar, ya semakin mahal pula harganya. Semakin besar resolusi layar yang dimiliki, maka tingkat kompabilitas perangkat dengan banyaknya aplikasi dan juga games pun akan semakin besar.

Peringkat KeEnam adalah Kekuatan Prosesor.  Untuk yang satu ini akan berbanding lurus dengan kinerja perangkat saat melakukan pekerjaan Multitasking (banyak aktifitas dalam waktu yang bersamaan). Semakin besar prosesor, ya semakin sedikit jeda/lag yang mungkin terjadi saat beraktifitas. Memang masih ada perangkat yang menggunakan prosesor 500 MHz, namun yang menjadi standar masa kini adalah 600 MHz atau bahkan ada pula yang sedikit lebih besar, 800 MHz. Sedangkan yang tergolong High Budget, sudah ada yang mengadopsi 1 GHz, 1,2 GHz bahkan LP Optmus 2X menggunakan Dual Core sebagai mesin penggerak utamanya.

Peringkat KeTujuh adalah Jenis layar yang digunakan, apakah sudah mendukung MultiTouch atau belum. Untuk pertimbangan ini akan banyak berpengaruh pada pola pemakaian, terutama yang berkaitan dengan Browser, Foto, Dokumen, ataupun peta. Akan sangat memudahkan apabila layar dapat mengadopsi fitur Cubit untuk memperbesar/kecil skala.

Peringkat keDelapan masuk pada Memory Internal. Untuk yang satu ini dibutuhkan pemahaman akan spec Teknis yang disertakan pada masing-masing perangkat. Ada yang hanya menyediakan sekitar 200 MB (perangkat Samsung dan LG di tingkat menengah kebawah), 512 MB (rata-rata didominasi Motorola) atau bahkan 1 GB dan lebih (HTC, Samsung  atau  Sony Ericsson). Besaran Memory Internal ini akan sangat berpengaruh pada banyaknya aplikasi yang bisa diinstalasi pada perangkat, apalagi jika masih mengadopsi versi 2.1 Eclair. Mau tidak mau secara defaultnya harus berbagi pula dengan Games.

Peringkat keSembilan saya ambil besaran Daya yang akan mengCover semua pertimbangan dan aktifitas diatas. Rata-rata masih berkutat di besaran 1.300 MAh. Kalaupun lebih, paling banter kisaran 1.500 atau 1.650 MAh. Kecuali perangkat tablet yang kalau tidak salah diatas 2.000 atau 4.000-an MAh. Besaran daya akan sangat berpengaruh pada kekuatan ponsel atau perangkat untuk melakukan StandBy baik dalam keadaan full online atau beraktifitas. Umur daya untuk penggunaan aktifitas Online secara terus menerus, kurang lebih sama dengan perangkat BlackBerry, bahkan bisa jadi malah jauh lebih boros. Apalagi jika pengguna mengaktifkan pula fitur GPS-nya. Namun untuk aktifitas Online yang sesekali (dapat diatur dengan menggunakan APN On/Off dan juga Advanced task Killer), daya tahannya malah bisa bertambah lama.

Peringkat Bontot atau keSepuluh saya pilihkan Desain. Untuk yang satu ini bisa jadi malah menjadi pertimbangan utama setelah Harga, tapi percayalah, bagi saya Desain bisa diatur kenomor sekian, apabila kebutuhan kerja atau lifestyle menjadi pertimbangan utama.

Sepuluh pertimbangan untuk memilih perangkat Android yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.

Berburu 3 Badge Fans Sony Ericsson Xperia

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Diantara beragam Brand yang menjalin kontrak kerjasama dengan pihak FourSQuare, ada dua nama yang saya yakin familiar terdengar oleh mereka yang tergolong ponsel Freak. BlaclBerry dan Sony Ericsson Xperia. Seperti halnya BlackBerry, Nama terakhir yang disebutkan ini kerap diidentikkan dengan teknologi ponsel bertipe Smartphone alias Ponsel Pintar. Siapa sih yang gag kenal seri Xperia pertama yang diusung bersama sistem operasi Windows Mobile, berciri khas 2 tombol X sebagai Softkey kiri dan kanannya ? atau bahkan empat seri Android yang dilepas dengan perwajahan mirip satu sama lain ?

Dalam jejaring sosial berbasis Lokasi, FourSQuare ini Sony Ericsson Xperia menawarkan setidaknya 3 (tiga) BadGes yang kesemuanya mengambil tema olah raga. Sony Ericsson Ischgl untuk seri Ski, Sony Ericsson FootBall untuk seri Sepak Bola dan Sony Ericsson WTA untuk seri Tenis. Untuk bisa mendapatkan ketiga Badges tersebut caranya cukup sederhana dan kurang lebih memiliki karakteristik yang sama.

Sony Ericsson Ischgl. Badge ini kalo tidak salah berlaku mulai pertengahan bulan November tahun 2010 lalu. Follow halaman Sony Ericsson Ischgl terlebih dahulu, lalu lakukan minimal 3 (tiga) kali aktifitas Check-In di Venue yang tersaji dalam halaman tersebut sambil menambahkan kalimat (Shout) “XPeria Ischgl Fan”.

Sony Ericsson FootBall. Seperti halnya Badge Ischgl diatas, Badge ini sudah mulai berlaku pada tahun yang sama di pertengahan bulan Desember, dengan memFollow terlebih dahulu halaman Sony Ericsson FootBall dan lakukan minimal 3 (tiga) kali Check-In plus Shout “XPeria Football Fan”. Sayangnya untuk bisa mendapatkannya, memang tak semudah Badge Ischgl diatas, lantaran masing-masing Venue yang ada di halaman tersebut berada  di negara bagian yang berbeda, sehingga untuk melakukan aktifitas Jumper memang membutuhkan lebih banyak waktu agar aktifitas tersebut bisa diakui.

Sony Ericsson WTA. Dalam usaha untuk mendapatkan Badge terakhir ini, baik syarat maupun  tingkat kesulitannya kurang lebih sama dengan usaha untuk memburu BadGe Sony Ericsson FootBall. Hanya saja halaman yang harus diFollow ya sudah barang tentu halaman Sony Ericsson WTA dengan kalimat Shout “XPeria WTA Fan”.

Jangan pernah putus asa dalam memburu tiga Badge dari Sony Ericsson diatas, karena secara status, ketiganya masih merupakan Badge Active alias masih ada kesempatan untuk mendapatkannya. Belum ada batasan waktu sampai kapan BadGe akan dinyatakan Retired. Saya pribadi pada akhirnya berhasil jua mendapatkan BadGe Sony Ericsson Football jauh setelah waktu pertama kali Badge tersebut berlaku, setelah mengetahui bahwa harus ada halaman milik Sony Ericsson yang harus diFollow.

Pembunuhan Massal Ponsel China

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Di penghujung akhir tahun 2010, tampaknya puluhan ponsel China mulai tak tahan dengan gempuran ponsel murah ala brand ternama Nokia, LG, Samsung bahkan Sony Ericsson. Maka itu, mereka beramai-ramai menurunkan harga jual ponsel, meskipun yang namanya inovasi tetap mereka lakukan.

Kisaran harga 500ribu untuk sebuah ponsel dengan fitur menawan, tak lagi hanya menjadi sebuah mimpi. Maka berterimakasihlah pada ponsel China. Kendati kualitasnya masih diragukan, bukankah jauh lebih menarik apabila sedari awal sebagai konsumen sudah harus menyadari hal tersebut ketimbang mengeluh di belakang hari ?

Anggaplah kita membeli sebuah mp3 player atau televisi berbonus ponsel dan juga memori dengan harga yang terjangkau. Untuk penggunaan selama setahun saja, itu sudah untung. Apalagi kalo sampe memiliki fitur internet dan kamera. Nilai tambah yang lumayan bukan ?

Sayangnya dibalik penurunan harga tersebut, sepertinya akan ada skenario pembunuhan massal ponsel China oleh brand ternama yang saya sebutkan diatas tadi.

Pertama Nokia. Mereka kini sudah mulai mampu merilis ponsel murah dengan beberapa fitur yang menawan seperti keyboard QWERTY, layar lega, memori eksternal, kamera 2MP dan juga koneksi Wifi. Semua itu ada pada seri C3 yang mereka rilis pertengahan tahun 2010 lalu. Demikian pula dengan seri C5, seri murah Symbian 3rd Edition, 5233 berlayar sentuh murni atau X3 Touch and Type yang mengawinkan konsep layar sentuh dengan keypad standar. Pun kabarnya dalam waktu dekat, Nokia bakalan merilis seri X2-01, QWERTY paling murah mereka yang bakalan dijual dibawah harga 1 juta rupiah.

Kedua ada LG. Untuk pangsa pasar murahnya, LG sudah merilis seri layar sentuh berbasis jejaring sosial, Cookies Series. Ponsel yang dibanderol pada harga satu juta rupiah ini, tentu saja sangat menggoda untuk dimiliki mengingat input layar sentuhnya yang murni tanpa bantuan keypad dan juga akses ke berbagai jejaring sosialnya yang mudah. Disamping itu, ada juga seri QWERTY murah GW300, GW305, dan juga Wink yang rata-rata berada pada kisaran harga 600ribu hingga 900ribuan saja.

Ketiga ada Samsung. Sejak awal, Samsung memang dikenal rajin merilis seri ponsel murah dengan beragam fitur menawan. Kendati terkadang yang namanya Menu User Friendly jarang bisa ditemukan yang senyaman Nokia. Di pangsa pasar ini, Corby tampaknya masih tetap menjadi idola, ditambah seri [email protected] 322 yang ditawarkan dengan harga dibawah satu juta, dengan fitur dual Sim. Menarik bukan ? bagi yang lebih menyukai keberadaan sistem operasi, ada seri C6625 yang sudah mengadopsi Windows Mobile 6.1 dan terakhir turun pada harga 1,1 juta saja. Demikian halnya dengan versi layar sentuh, selain ada Corby, Champ dan Star Wifi, Samsung kabarnya baru saja merilis seri Genoa dengan jualan TV. Sudah mulai mirip dengan fitur ponsel China bukan ?

Terakhir ada Sony Ericsson. Setelah lelah berjuang dengan Symbian UIQ yang setia mereka gunakan hingga penghujung tahun 2007 lalu, kini mereka mulai melirik sistem operasi Android yang dikenal dengan open sourcenya. Adalah seri X8, ponsel layar sentuh dengan suntikan Anroid 1.6 mengekor keberhasilan seri X10, X10 Mini dan X10 Mini Pro, ponsel berkelir putih ini kabarnya dibanderol sekitar harga 1,8 juta saja. Saking murahnya harga jual ditambah minimnya persediaan, banderol ini sempat naik hingga angka 2,2 juta. Sedangkan di kisaran harga satu jutaan ada seri Walkman Zylo dan Spiro, plus seri bisnis J108 Cedar, ponsel dengan jaringan HSDPA ini cukup ditebus dengan harga 800ribuan.

Gempuran empat brand ternama dengan seri ponsel murah mereka, sejauh ini sudah cukup membuat barisan ponsel China menurunkan harga jual mereka pada kisaran harga 300ribu hingga 500ribuan saja. Satu tawaran menarik, mengingat tidak hanya dua sim, namun ada juga yang mendukung tiga sim card (gsm-gsm-cdma), tv analog, mp3 player dan tentu saja internet.

Kira-kira apakah mereka masih bisa bertahan disepanjang tahun 2011 ini gag ya ?

Update Firmware Sony Ericsson P1i Symbian UIQ

42

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah sebelumnya saya menjelaskan langkah-langkah untuk melakukan Update Firmaware pada ponsel Nokia N81, kali ini tidak jauh berbeda dicoba untuk melakukan hal yang sama pada ponsel Sony Ericsson. Kebetulan seorang teman lama saya memiliki seri P1 yang notabene tergolong sebuah ponsel pintar (Smartphone) lantaran mengadopsi sistem operasi Symbian UIQ khas seri P lainnya.

Adapun Keluhan awal ponsel tersebut adalah touchscreen yang tidak berfungsi sama sekali bahkan berjalan dengan sendirinya, ada bunyi tik tik yang mengikuti (biasanya bunyi itu keluar ketika tombol keypad ditekan) dan hang atau macet kemudian kembali ke layar today screen dengan sendirinya. Memang pada akhirnya fungsi touchscreen tetap tidak bisa berfungsi (mungkin kerusakan berada pada hardware-layar) namun keluhan lainnya tidak lagi saya temui.

Sama halnya dengan Nokia, untuk melakukan flash-ROM pada ponsel Sony Ericsson diperlukan software atau aplikasi tambahan yaitu Sony Ericsson Update Service yang dapat diunduh langsung dari website resmi milik Sony. Biasanya aplikasi ini sudah disertakan dalam PC Suite bawaan. Kesamaan syarat awal juga berlaku yaitu batere ponsel harus penuh untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama proses berlangsung, dan tentu saja backup data yang dianggap perlu.

Langkah pertama adalah menyetujui kesepakatan awal yang telah ditentukan (silahkan baca apa saja isi kesepakatan tersebut pada Licence Agreement), kemudian memilih jenis ponsel yang akan di-update, bisa dengan cara scroll kebawah pada tampilan ponsel yang ada, bisa juga melalui form factor yang telah disediakan di bagian atas tampilan.

Langkah berikutnya adalah menghubungkan ponsel atau device ke perangkat PC atau laptop, matikan kemudian keluarkan batere ponsel dari cangkangnya. Setelah itu masukkan batere kembali lalu tekan dan tahan tombol C atau @ yang berada pada ponsel. Tunggu hingga software atau aplikasi Update Service mendeteksi ponsel yang dimaksud. Tombol boleh dilepas setelah ada konfirmasi. Langkah ini kurang lebih sama dengan cara flash-ROM pada ponsel O2 Xphone iim yang juga tergolong ponsel pintar (Smartphone).

Langkah selanjutnya adalah menunggu. Menunggu proses Update Firmware diunduh (download) dan diinstalasi pada ponsel. Untuk tipe P1 yang dicoba memerlukan waktu kurang lebih 1,5 (satu setengah) jam untuk menyelesaikan proses download Firmware terbaru sebesar 74,8 MB. Selama proses berlangsung, aturan berlaku sama seperti halnya Update Firmware pada ponsel Nokia N81. Tidak dianjurkan memutuskan hubungan ponsel dengan PC/laptop, dan juga tidak menerima/melakukan panggilan dan pesan. Gunakan kartu sim lain jika bisa. Setelah proses download Firmware selesai, dilanjutkan dengan proses instalasi Firmware pada ROM ponsel yang memakan waktu cukup singkat.

Ketika semua proses tersebut selesai, ponsel dapat dilepas dari perangkat PC atau laptop kemudian matikan dan keluarkan kembali batere ponsel dari cangkangnya. Masukkan batere dan hidupkan ponsel. Tunggu beberapa saat untuk masuk ke Menu Pengaturan sebelum bisa digunakan.

Hmmm.. ponsel ini pernah liat dimana yah ?

Category : tentang TeKnoLoGi

Invasi ponsel China kenegeri ini layaknya penyerbuan pasukan AS ke Irak tempo hari, tiada henti dan hilang satu berganti yang lain. Tujuannya tetap satu jua.

Dilihat dari segi fitur yang ditawarkan maupun beragam kecanggihan teknologi masa kini yang dibalut dengan harga murah, ponsel China agaknya mulai mengambil sebagian potongan kue yang dahulu dijatah untuk brand-brand kelas dua sekaligus mengancam mereka, macamnya Samsung, LG, Motorola apalagi Philip.

ponsel-mc-njipla.jpg

Apalagi kalo hingga ke tahap desain yang meniru plek desain ponsel brand ternama macamnya Nokia dan juga Sony Ericsson, yang duluan ngetop, wah wah wah, dijamin laris bagi mereka yang mengutamakan harga murah, sudah mendapatkan tampang ponsel dengan desain te o pe, tak jarang sudah berlayar sentuh pula.

ponsel-mc-psp.jpg

Herannya makin kesini nyatanya penjiplakan desain bukannya makin surut, eh malah ada yang jauh lebih ancur, njiplak rupa game console PSP buatan Sony, yang walopun tujuannya tetap mengadopsi game (Nintendo) pada ponselnya terkesan malah memaksakan perwajahan keypad dan tombol lainnya.

Yang lantas keseringan menimbulkan tanda tanya dikepala kalo ngliat rilis baru ponsel China, eh ‘pernah liat dimana yah, desain ponsel seperti ini ?’ Halah…