Mengatasi Borosnya Daya Tahan ponsel SmartPhone

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Pernah merasa Geregetan akibat menipisnya daya tahan ponsel Smartphone yang Rekan Tokoh gunakan padahal baru beberapa jam lalu di-charge penuh ? jangan khawatir, Anda tidak sendiri.

Namun jika boleh kami berikan sedikit saran diawal tulisan, untuk tidak membebani pikiran, tenaga dan waktu untuk mencari tahu lebih jauh, agar sedapat mungkin dimaklumi saja. Mengingat fungsi dan kemampuan perangkat ponsel pintar keluaran terkini layaknya sebuah mobil Ferrari atau supercar lainnya yang sudah siap digunakan, tentu saja membutuhkan sumber tenaga yang tidak sedikit. Akan sangat mustahil bila sumber yang diharapkan untuk bisa membuat mereka memacu kecepatan yang tinggi dan optimal, setara dengan kebutuhan City Car misalkan.

Android, iPhone, BlackBerry dan Windows Phone, merupakan empat varian ponsel pintar yang masuk dalam kategori ini.
Bisa jadi lantaran mereka lahir di era teknologi informasi yang mutlak membutuhkan koneksi data untuk mengoptimalkan kinerja, yang merupakan salah satu faktor penting terkurasnya daya tahan ponsel secara cepat.

Namun persoalan ketahanan daya ponsel Smartphone yang tidak berlangsung lama, rupanya sudah ada jauh sebelum barisan perangkat ponsel pintar diatas itu diciptakan. Bagi yang pernah menggunakan perangkat ponsel berbasis Windows Mobile PocketPC di tahun 2003/2005 kami yakin pernah pula merasakan hal yang sama. Jangankan untuk kebutuhan online, digunakan beraktifitas secara offline saja sudah keteteran, perlu setidaknya satu hingga dua kali charge setiap harinya.

Sebelum kami lanjut ke bagaimana cara mengatasi Borosnya Daya Tahan, baiknya perlu juga untuk diketahui faktor apa saja yang membuat perangkat ponsel pintar berperilaku sedemikian rupa ?

Pertama tentu saja kebutuhan akan koneksi data seperti yang telah kami sebutkan tadi. Online dan online. Perilaku ini dipicu oleh pemaksaan jaringan untuk mencari sinyal koneksi yang terbaik, 3G atau lebih.

Kedua, besaran prosesor dan spesifikasi teknis lainnya. Seperti halnya mobil supercar, untuk dapat memacu kecepatan secara optimal tentu dibutuhkan daya atau tenaga memanfaatkan besaran prosesor tersebut. Makin besar prosesor yang dibekali biasanya makin besar pula daya yang disematkan untuk membackupnya.

Ketiga adalah layar. Baik itu fitur TouchScreen atau Layar sentuh, lebar dan besaran resolusi serta kedalaman warnanya. Semakin mantap pembawaannya tentu saja akan bereaksi pada kemampuan perangkat untuk menyiapkan layar siap sedia saat digunakan.

Terakhir ada perilaku pengguna. Untuk yang satu ini, selain koneksi data bisa jadi pengguna lebih banyak berinteraksi dengan games, aplikasi produktivitas ataupun hiburan lainnya. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan, semakin cepat pula daya tahan ponsel itu menurun.

Lantas, langkah apa yang sekiranya dapat dilakukan untuk meminimalkan itu semua ?

Pertama, nonaktifkan fitur atau teknologi yang tidak tergunakan untuk waktu-waktu tertentu, saat jam kerja ataupun beristirahat. Diantaranya wireless atau wifi, bluetooth, gps bahkan jaringan 3G jika memang kebutuhannya hanya untuk menelepon dan sms.

Kedua terkait layar, turunkan tingkat kecerahan layar apabila memungkinkan dan meminimalisir penggunaan widget atau thema. Tindakan untuk menurunkan kecerahan layar akan berpengaruh pada kekuatan mata pengguna yang barangkali bakalan sedikit dipaksa untuk mencerna isi dari layar yang ditampilkan. Sedang tindakan untuk meminimalisir penggunaan Widget atau Thema tentu akan berpengaruh pada kreatifitas dan keindahan tampilan layar. Jadi pertimbangkan dulu mana yang lebih penting.

Ketiga, lakukan pembersihan dan optimasi perangkat secara berkala. Yang dimaksudkan disini adalah terkait software pasca beraktifitas. Bisa dilakukan dengan cara menghentikan aplikasi yang masih berjalan meski telah ditutup, membersihkan history cache dan temporary files menggunakan aplikasi Cleaner dan mengoptimalkan perangkat dengan memilah startup manager agar tidak menghabiskan Memory terlalu banyak saat perangkat dinyalakan.

Keempat tentu saja membekali diri dengan portable charger, kabel data atau colokannya sekalian. Meski merepotkan lantaran membawa portable charger kemana-mana, kini sudah tersedia dalam beragam daya tambahan, cukup untuk menambah usia daya tahan ponsel dalam sekali charge penuh. Namun akan lebih praktis apabila Rekan membawa serta kabel data yang biasanya dapat menambah daya tahan ponsel saat dicolokkan ke perangkat notebook/desktop pc, teman kerja saat beraktifitas didalam ruangan.

Keempat cara diatas kami akui memang tidak dapat menghemat daya tahan hingga dua atau tiga kali lipatnya, mengingat analogi kami diawal tulisan tadi. Namun paling tidak, tindakan ini akan dapat bermanfaat ketika Rekan Tokoh berada dalam kondisi mendesak. Minimal perangkat masih dapat dipergunakan untuk beberapa kepentingan lainnya.

HTC Raksasa Taiwan yang telah menDunia

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Agak tergelitik juga ketika seorang kawan yang telah lama malang melintang di dunia teknologi, mencibir dan mempertanyakan kredibilitas HTC serta mengira produsen ini tak jauh berbeda dengan produk lokal (china).

Bagi yang pernah merasakan hebatnya kemampuan ponsel konvergensi layar sentuh ber-Personal Digital Assistant (PDA) pada awal tahun 2003, saya yakin sudah mengenal produk-produk mereka lebih jauh. Karena HTC-lah yang selama kurun waktu tersebut merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual).

Tercatat nama besar O2, T-Mobile, Dopod bahkan Sony Ericsson merupakan perusahaan yang pernah membeli perangkat produksi HTC di era terdahulu, meski tak dipungkiri bahwa strategi ini masih tetap berjalan hingga kini. Katakan saja produk HTC Universal yang dikemas dalam tiga merek yang berbeda, O2 XDA EXECUTIVE , DOPOD 900 dan T-MOBILE PRO. Atau HTC Blue Angel yang dikenal sebagian masyarakat Indonesia sebagai O2 XDA Iis dan AUDIOVOX 6600 CDMA. Percaya atau tidak produk Xperia X1 yang dirilis Sony Ericsson dan berbasiskan Windows Mobile 6.1 pun memiliki codename HTC Kovsky, dan Google Nexus one yang fenomenal itu  memiliki codename HTC Passion.

HTC Corporation (sebelumnya bernama High Tech Computer Corporation) adalah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Taiwan. Didirikan pada tahun 1997 silam oleh Cher Wang dan sejauh ini telah  menghasilkan berbagai macam produk telekomunikasi. Seperti yang dikatakan diatas, pada awal berdirinya HTC merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual). Seiring berjalannya waktu, HTC mulai menjual produk dengan mereknya sendiri. HTC awalnya hanya memproduksi telepon pintar (smartphone) yang berbasis perangkat lunak Windows Mobile, namun sejak 2009 mulai mengalihkan fokusnya ke sistem operasi Android.

Beberapa karya produk HTC yang juga telah mendunia disamping yang disebut diatas, meliputi O2 XDA II (HTC Himalaya), Palm Treo Pro (HTC Panther), HP iPAQ hw69xx (HTC Sable), HTC TyTN II, HTC Shift, serta T-Mobile G1 (HTC Dream -produk ponsel pertama di dunia yang berbasiskan Android).

Pasca runtuhnya hegemoni sistem operasi Windows Mobile, HTC bahkan sempat mencoba pula peruntungan dengan merilis beberapa ponsel pintar berbasiskan Windows Phone 7. HTC Mozart, HTC Trophy dan HD7 merupakan Tiga produk diantaranya yang telah dikenal lebih dulu di mata dunia. Sayang, mandegnya pengembangan Windows Phone 7 yang digadang-gadangi bakalan menggantikan Windows Mobile terdahulu malah layu sebelum berkembang, kalah pamor oleh kharisma Android.

Bisa dikatakan nama besar HTC makin berkibar pasca rilis ponsel berbasiskan Android. Beberapa produk yang mereka miliki di lini Open Source ini meliputi HTC Touch, Desire, Legend, Incredible dan terakhir berada di pangsa pasar Tablet 7”, HTC Flyer. Dalam segmen ini HTC menyertai User Interface mereka yang ternama, HTC Sense di setiap rilis produk untuk lebih menarik minat konsumen.

Masih meragukan kualitas dan nama besar HTC ?

Windows Mobile, Symbian dan Android. What’s Next ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Mengenali satu persatu dari ketiga sistem operasi besar diatas rupanya membutuhkan waktu yang cukup lama bagi blog www.pandebaik.com. Sebenarnya dari ketiga diatas, Symbian 1rst Edition merupakan sistem operasi ponsel pertama yang saya kenal dan gunakan, tepatnya pada perangkat Nokia 7650 atau yang dikenal dengan sebutan ponsel artis. Windows Mobile baru saya kenal untuk pertama kali pada tahun 2005, setelah menanam angan selama dua tahun lamanya.

Jika mau dirunut dari awal, sistem operasi perangkat mobile ponsel yang paling pertama ingin saya coba dan miliki adalah Palm. Kalo gag salah pada bulan April tahun 2003, InfoKomputer sempat menurunkan topik Perangkat Konvergensi yang  menyajikan beragam ponsel pintar dari sistem operasi Palm, Windows Mobile, Symbian UIQ, Linux dan Nokia Communicator. Mengapa saya pilih Palm ? karena dari sekian banyak pilihan perangkat, hanya perangkat Palm-lah yang harganya paling terjangkau. Namun sayang, faktor kesulitan untuk mendapatkannya perangkatnya merupakan hambatan pertama. Dan yang paling membuat saya merasa ilfil adalah, penjelasan dari seorang teman yang sudah sejak lama menggunakan perangkat Palm menjelaskan bahwa Palm tidak mampu melakukan aktifitas Multitasking (melakukan beberapa aktifitas pekerjaan dalam satu waktu/bersamaan).

Ternyata Perlu waktu dua tahun setelahnya, untuk bisa menjajal perangkat berbasis Windows Mobile layar sentuh tepatnya pada awal tahun 2005. Itupun dengan membeli perangkat T-Mobile MDA II yang merupakan varian dari O2 XDA II secara Second di gerai ponsel seputaran Kota Denpasar. Saat memanfaatkan pdaphone O2 inilah, saya lantas mulai berkenalan dengan perangkat sejenis lainnya seperti Audiovox Thera, Windows Mobile layar sentuh dengan frekuensi CDMA  dan tentu saja O2 Xphone iim yang hingga kini masih saya simpan, merupakan salah satu perangkat berbasis Windows Mobile Smartphone non layar sentuh.

Perangkat mobile dengan sistem operasi Symbian, tepatnya lewat ponsel Nokia N73 ME merupakan andalan saya berikutnya beberapa saat menjelang kelahiran putri kecil kami, MiRah GayatriDewi. Perangkat inilah yang banyak berperan dalam melahirkan video dan foto kelahirannya hingga kini. Bersamaan dengan perangkat Symbian ini, sayapun kembali berkenalan dengan perangkat berbasis Windows Mobile PocketPC atau yang berlayar sentuh tepatnya dalam 2 (dua) varian. O2 XDA Atom dengan frekuensi GSM, dan AudioVox PPC 6700 dengan frekuensi CDMA. Sayang, dalam perjalanan kedua perangkat ini saya jual kembali guna nambah-nambahi uang SPP kuliah pasca Sarjana saya semester terakhir.

Android. Merupakan sistem operasi dari perangkat mobile milik mbah Google merupakan yang terakhir saya kenal. Tepatnya sejak pertengahan bulan Maret lalu. Bisa jadi, ini merupakan puncak kedua saya dalam melakukan eksplorasi perangkat secara mendalam pasca Windows Mobile terdahulu. Berkenalan dengan Samsung Galaxy ACE S5830 benar-benar membuat hidup saya jauh berbeda dengan sebelumnya. Yang paling kentara adalah mobile internet secara full time alias unlimited bersama XL (promo mode ON). Dengan perangkat ini pulalah blog www.pandebaik.com secara drastis menurunkan liputan Review perangkat dan aplikasi secara terus menerus dalam kurun waktu satu bulan lebih lamanya. Mumpung lagi hangat-hangatnya.

Lantas, What’s Next ? apa selanjutnya ?

Jika ngomongin iPhone, jujur saja dengan budget bekal gaji yang saya dapatkan sebagai PNS rasanya bisa dikatakan hanyalah sebuah mimpi indah. Nominal Budget yang diperlukan untuk dapat memiliki serta mengeksplorasi sebuah perangkat iPhone sungguh teramat mahal. Beum lagi untuk mencoba puluhan aplikasi impian yang rupanya berbayar, berbanding terbalik dengan perangkat Android. Demikian halnya dengan Windows Phone yang rata-rata banderolnya masih diatas rata-rata.

Bagaimana dengan BlackBerry ? atau Symbian layar sentuh ? Enggak deh. Lagipula berkat bantuan beberapa Emulator/Simulator perangkat BlackBerry dan juga Symbian berlayar sentuh, saya tak lagi dituntut untuk membeli perangkatnya secara langsung, karena ternyata aplikasi yang mampu dijalankan pada perangkat NoteBook tersebut berfungsi sama maknyusnya dengan perangkat yang sesungguhnya, meski masih ada beberapa keterbatasan. Disamping itu, keberadaan dua perangkat ini bisa dikatakan sudah biasa ada di lingkungan saya sebagai seorang PNS. Jadi kalopun ingin tahu lebih jauh, tinggal pinjam pakai, dijajal atau diwawancanda eh wawancara.

Lantas apa dong yang ingin dioprek selanjutnya ?

WebOS.

Kalau tidak salah perangkat mobile berbasis WebOS sebenarnya sudah diperkenalkan pada publik sekitar tahun 2009/2010 lalu oleh Palm lewat Palm Pre. Sayangnya kemunculan Palm Pre seolah terlewatkan begitu saja oleh publik pasca dirilisnya iPhone 3G/3GS  yang memang fenomenal itu. Palm yang kemudian diakusisi oleh Hewlett Packard HP, kemudian merilis kembali perangkat mobile berbasis WebOS lewat ponsel berwajah serupa namun bernama beda. HP Pre 3 dan HP Veer. Kabarnya sistem operasi ini tak jauh berbeda dengan iOS yang diadopsi iPhone dan Android tentu saja.

Hanya saja, (lagi-lagi) mengingat faktor harga yang masih tergolong tinggi untuk ukuran PNS seperti saya, agaknya impian ini tidak mampu saya wujudkan dalam waktu dekat. Apalagi kabarnya, belum banyak aplikasi yang mendukung keberadaan sistem operasi mobile yang satu ini.  Tapi ya semoga saja bisa bertambah baik dalam waktu dekat. Jadi ya tunggu saja bagaimana kelanjutannya. Hehehe…

BadGe Waze Warrior, Check-in via Smartphone

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Tips Berikut saya persembahkan untuk semua pengguna akun FourSQuare yang memanfaatkan ponsel Smartphone untuk melakukan aktifitas Check-in.

Waze Warrior, BadGe ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang melakukan aktifitas Check-in sekaligus Shout melalui aplikasi Waze. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia untuk ponsel high-end dengan fungsi Smartphone. Syarat utama dari ponsel ini adalah tentu saja Adanya Sistem Operasi yang disematkan untuk mengoperasikan ponsel. Adapun yang masuk dalam lingkaran ini adalah ponsel BlackBerry, iPhone, Android, Windows Mobile dan Symbian. Jadi bagi mereka yang masih setia menggunakan ponsel jadul, ya apa boleh buat. :p

Yang perlu diketahui lagi bahwa aplikasi Waze ini sebetulnya merupakan aplikasi berbasis GPS yang nantinya akan mengontrol setiap aktifitas Check-in yang dilakukan melalui aplikasi ini, apakah dapat dibenarkan secara logika (termasuk koordinat berdasarkan GPS) atau tidak. Itu sebabnya, selain mensyaratkan ponsel tipe SmartpHone, Waze juga mensyaratkan ‘built in GPS’ pada ponsel yang akan diinstalasi.

Aplikasi Waze ini bisa diunduh melalui halaman web berikut. Ukurannya lumayan besar untuk sebuah aplikasi mobile (3,5 MB). Saya sendiri kemudian mencobanya pada ponsel Nokia 6720c milik Mertua yang secara kebetulan memiliki akses GPS dan Map secara defaultnya. Hal ini dilakukan setelah ponsel jadul yang saya miliki, Nokia N73 dinyatakan tidak layak untuk disuntikkan aplikasi Waze ini lantaran tidak mendukung GPS.

Setelah berhasil diinstalasi, pengguna Waze diharapkan melakukan pengaturan pada opsi Setting/Profile, menghubungkan akun Waze dengan akun jejaring sosial lainnya seperti FaceBook, Twitter dan tentu saja FourSQuare bagi yang berharap mendapatkan BadGe Waze Warrior.

*

Badges Waze Warrior akan diberikan kepada semua pengguna aplikasi Waze, yang memanfaatkannya untuk aktifitas Check-in minimal 3 (tiga) kali. Aktifitas ini kurang lebih sama dengan trik mendapatkan Badge Local, Bender, Crunked, ataupun Bravo Newbie.

Mengingat aktifitas ini mengandalkan aplikasi berbasis GPS, Badge tidak akan bisa didapatkan dengan cara Trik curang alias Jumper dari balik meja. :p Sayapun sudah mengujinya dengan menginstalasi aplikasi Waze pada aplikasi BlackBerry Torch 9800 Simulators. Ketika melakukan aktifitas Check-in yang kedua kalinya di lokasi yang berbeda (trik Jumper), sayapun mendapatkan teguran bahwa aktifitas tidak dapat dilakukan. Ealah…

Memperbaharui Tampilan Ponsel dengan Theme

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Usia ponsel sepertinya tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menggantinya dengan rilis yang baru, mengingat ponsel lama terkadang jauh lebih tahan banting ketimbang keluaran terkini. Ketika kondisinya masih dapat digunakan dengan baik, untuk membuatnya menjadi seperti baru ada 3 (tiga) opsi yang dapat saya sarankan untuk dicoba.

Melakukan Upgrade sistem operasi atau Update firmware ponsel secara online seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya untuk mempercepat kinerja ponsel, mengganti chasing dengan buatan original atau bahkan bentuk dan warna yang dikustomisasi untuk memperbaharui fisik ponsel dan terakhir menggunakan Theme atau Tema untuk memperbaharui tampilan layar ponsel.

Opsi terakhir ini dapat dijadikan pilihan apabila pengguna tidak banyak memiliki pengetahuan terkait teknologi ponsel (untuk melakukan Upgrade dan Update secara online) termasuk pula biaya (untuk membeli chasing original tipe-tipe tertentu). Tema atau Theme biasanya secara default sudah tersedia pada Pengaturan Tampilan masing-masing ponsel. Hanya saja bagi yang menginginkan tampilan sedikit berbeda dengan milik teman, tema ponsel dapat dicari secara online di dunia maya. Unduh atau download kemudian masukkan (copy) kedalam ponsel dan lihat hasilnya.

Mobile9 dapat dijadikan salah satu rujukan. Merupakan salah satu penyedia tema atau Theme yang bersifat universal, hampir untuk seluruh brand mapan (tidak disarankan untuk ponsel lokal atau China). Tak hanya Theme, situs Mobile9 menyediakan pula galeri gambar wallpaper, ringtone bahkan aplikasi yang dapat membantu penggunanya beraktifitas lebih banyak dan beragam serta memberikan sentuhan baru pada ponsel yang masuk dalam kategori lama atau lawas.

Apabila ingin yang lebih spesifik atau mengkhusus, pengguna ponsel Nokia yang mengadopsi sistem operasi Symbian, dapat menyasar alamat Symbian Themes untuk mendapatkan rilis tema terbaru. Saya pribadi mendapatkan tema iPad dan juga tema Nokia seri C dan X dari alamat ini, yang ketika dicoba pada ponsel N73 jadul, jadi makin betah makenya. Dibandingkan dengan Mobile9 , satu file tema yang disediakan Symbian Themes lebih kompatibel apabila digunakan dalam ponsel Nokia yang berbeda. Baik berlayar 240×320 pixel portrait, 320×240 landscape atau touchscreen layar sentuh.

Ngomong-ngomong layar sentuh, pengguna Windows Mobile Pocket PC versi lama (2003, 5.0 dan 6.1) dapat menyasar alamat WM6 Themes, yang menyediakan beragam tema menarik untuk dicoba. Namun bagi yang benar-benar ingin terlihat beda, manfaatkan saja aplikasi SPb Mobile Shell yang mampu mengubah tampilan jauh lebih fresh. Terkait penggunaan aplikasi ini, silahkan baca kembali tulisan lama saya perihal PocketPC rasa Sony Xperia, Samsung Omnia atau HTC Diamond ?

Sedang bagi mereka yang menggunakan ponsel bersistem operasi Windows Mobile lama versi non layar sentuh atau yang dikenal dengan istilah Smartphone, silahkan mencoba alamat smartphoneforyou yang menyediakan beragam tema baik yang dapat digunakan dengan cara default maupun dengan bantuan aplikasi tambahan seperti Façade. Saya pribadi sempat mencoba aplikasi ini dan kemudian mencoba beberapa tema yang ditawarkan. Hasilnya sangat memuaskan.

Mengenal Motorola Q CDMA

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Seperti yang pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya bahwa ponsel Motorola Q CDMA bukanlah ponsel baru keluaran terkini alias jadul. Rilisnya kurang lebih berawal pada tahun 2005 yang kalau disejajarkan dengan rilis ponsel Nokia, hampir bersamaan dengan seri 7610 dan 6630 yang diklaim sebagai ponsel pertama Nokia berkamera 1 MP, begitu pula dengan Nokia Communicator 9500 yang hanya beresolusi VGA.

Itu sebabnya untuk ukuran sebuah ponsel pintar (baca:smartphone), Motorola Q CDMA hanya menyematkan resolusi kamera yang sama dengan kemampuan ponsel berkamera saat itu yaitu sebesar 1,3 MP. Demikian pula dengan kemampuan koneksi nirkabelnya yang tidak mendukung Wifi secara built in kendati dapat ditambahkan secara opsional.

Sebagai sebuah ponsel pintar, Motorola Q CDMA sudah memenuhi satu syarat atau standar mutlak yaitu menggunakan sistem operasi sebagai basic pengoperasian ponsel. Adapun sistem operasi yang digunakan adalah Windows Mobile Smartphone 5.0. Penggunaan rilis sistem operasi tersebut makin menguatkan image bahwa ponsel Q series ini memang dirilis kisaran lima tahun lalu, karena untuk standar ponsel/pda bersistem operasi Windows Mobile rilis terkini minimal menggunakan seri 6.1 atau 6.5. Adapun kode yang digunakan, tidak lagi disebut Windows Mobile Smartphone Edition tapi Windows Mobile Standard Edition.

Sistem operasi Windows Mobile Smartphone 5.0 ini memiliki satu ciri yang dapat dikenal dengan mudah yaitu tidak mendukung layar sentuh. Pengoperasiannya murni mengandalkan keypad dan tombol navigasi. Ciri-ciri lainnya dapat dilihat secara kasat mata walaupun tanpa menyentuh langsung, yaitu dilihat dari tampilan homescreen atau layar utama yang tidak menampilkan jam pada list taskbar yang sejajar dengan simbol sinyal.

Secara bentuk dan desain, Motorola Q CDMA mengingatkan saya pada pda rilis lama seperti Audiovox Thera, 6700 ataupun O2 lama yang pernah saya miliki dahulu. Kotak tipis dan memiliki area bagian bawah yang mirip dengan desain khas Nokia tipe E71.

Kesan ponsel jadul dapat dilihat pula dari koneksi yang diselipkan pada ponsel Motorola Q CDMA, masih menggunakan infra red yang kini sudah mulai ditinggalkan. Demikian pula dengan jenis kartu memory eksternal, yang masih menggunakan tipe MiniSD. Yang lebih unik lagi, pada sisi kanan ponsel terdapat tombol navigasi yang dinamakan Jog Dial atau istilahnya TrackWheel pada ponsel BlackBerry. Tombol navigasi ini biasanya terdapat pada ponsel rilis tahun-tahun serupa seperti BlackBerry 8700 yang belum mengenal sistem navigasi TrackBall atau Sony Ericsson P series.

Menggunakan ponsel Motorola Q CDMA tidak jauh berbeda rasanya dengan penggunaan ponsel O2 XPhone iim yang secara kebetulan memiliki sistem operasi yang sama. Tidak banyak kesulitan yang saya alami dalam pengoperasiannya. Hanya saja jika disandingkan, ponsel Motorola Q CDMA memiliki kekurangan dan kelebihan terkait thumbboard QWERTY yang disandangkan. Kekurangannya tentu saja pengguna (dalam hal ini saya pribadi) diwajibkan mempelajari kembali lokasi tombol huruf dan angka yang kadang jujur saja agak membingungkan. Walaupun susunannya sama dengan keyboard pc, namun tetap saja terbentur ukuran dan fungsi shift. Sebaliknya menggunakan ponsel Motorola Q CDMA yang sudah mengadopsi thumbboard QWERTY seperti halnya ponsel Blackberry ataupun lokal yaitu, tidak ada waktu tunggu atau jeda yang diperlukan ketika memanfaatkan fitur Messaging-nya.

Terkait kapasitas phonebook yang tempo hari menjadi momok bagi saya sehingga memilih Motorola Q CDMA sebagai salah satu alternatif, rupanya bisa terjawab dengan memuaskan mengingat penggunaan sistem operasi (sebagai satu syarat mutlak sebuah ponsel pintar) yang memiliki satu kelebihan tanpa batas. Tergantung pada sisa memori internal yang ada.

Yang tak kalah menarik adalah persoalan daya tahan batere yang sempat diklaim hanya bertahan sekitar 3 jam oleh seorang Rekan. Setelah mengujinya sendiri, dengan pemakaian normal tentu saja, daya tahannya ternyata mampu mencapai tempo 2 hari. Itupun rata-rata daya yang tersisa masih sekitar 25%-nya. Tak lupa terkait harga yang tergolong murah apabila dibandingkan dengan ponsel dalam rentang harga serupa.

Artinya, untuk sebuah ponsel berjaringan CDMA, bolehlah saya merekomendasikan Motorola Q CDMA sebagai teman baru bagi yang berminat mengganti ponsel saat ini.

Motorola Q CDMA Jagoan Baru PanDe Baik

9

Category : tentang TeKnoLoGi

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Motorola Q sebagai ponsel berjaringan CDMA pasca kasus penuhnya memori phonebook yang tersedia dalam ponsel Nokia 6275i ditambah memori kartu Telkom Flexy. Sekedar informasi bahwa kapasitas phonebook yang disediakan oleh ponsel Nokia 6275i CDMA sebanyak 500 dengan pilihan multiple entry yang artinya bisa jadi satu nama kontak memiliki dua sampai tiga nomor telepon, alamat email, alamat web, catatan khusus atau bahkan image foto, sedangkan kartu Telkom flexy yang saya miliki hanya mampu menampung seperlimanya atau sekitar 100 kontak dengan perbandingan 1:1, yang artinya satu nama untuk satu nomor kontak.

Ternyata mau tidak mau yang namanya ‘kepenuhan kapasitas memori phonebook baik yang tersedia dalam memory ponsel maupun kartu dialami juga. Kalau tidak salah dimulai sedari awal tahun 2010. Bisa jadi lantaran saat itu saya menemukan kontak teman-teman masa sekolahan SMA yang kemudian merencanakan Reuni awal April kemarin, juga kontak Semeton Pande pasca odalan Tamblingan akhir Juni lalu. Ditambah kontak beberapa nama Rekanan yang mengajukan permohonan Termyn Pembayaran. Klop dah…

Berbekal kesulitan tersebut, saya memutuskan untuk mencari tahu tipe ponsel yang sekiranya memiliki kapasitas phonebook yang mampu menjangkau jumlah minimal 600-an atau kalopun ada ya unlimited. Sepengetahuan saya Nokia memang sudah merilis ponsel berjaringan CDMA terbaru yang memiliki kapasitas phonebook hingga jumlah 1000 dengan multiple entry yang sayangnya dipasarkan dengan harga diatas 2 juta rupiah. Alamak…

Pilihan lainnya tentu saja mencari tipe ponsel yang menggunakan sistem operasi karena sepemahaman saya, ponsel bertipe smartphone ini memiliki kapasitas phonebook shared memory yang artinya unlimited tergantung pada memory internal yang dimiliki. Sayangnya (lagi) bisa dikatakan sangat sulit mencari ponsel bersistem operasi dengan harga terjangkau (kalo bisa siy kisaran sejutaan atau malah dibawahnya).

Bersyukur beberapa bulan lalu saya sempat melihat iklan ponsel berjaringan CDMA yang ditawarkan dengan harga murah disebuah media cetak lokal. Motorola Q series. Kalo tidak salah saat itu harga baru yang ditawarkan berada pada angka 1,3 juta. Yang menjadi ketertarikan saya adalah penggunaan sistem operasi Windows Mobile yang artinya sudah memenuhi persyaratan yang saya ajukan tadi.

Motorola Q CDMA sebenarnya merupakan sebuah ponsel pintar keluaran jadul sekitaran tahun 2005 yang kemudian secara berkala dirilis kembali pada Mei 2006 dan April 2007. Ponsel yang digadang-gadangi bakalan menyaingi ketenaran Blackberry saat itu nyatanya tidak mampu menarik minat, bisa jadi lantaran form factor desain yang ‘gak ada bagus-bagusnya’ komentar seorang teman. Beberapa Informasi negatif yang saya baca dari komentar para Kaskuser, membahas secara mengkhusus tipe ponsel ini adalah daya tahan batere yang dalam sehari bisa dua kali charge dan terkait error yang dialami ketika batere mencapai titik habis.

Beruntung saya mendapatkan informasi positif dari seorang pengguna Motorola Q CDMA yang kedapatan ingin menjual kembali ponsel yang dibelinya sekitar enam bulan lalu. Soal daya tahan batere, sebetulnya dengan pemakaian normal, bisa melewati usia satu hari saja sedangkan yang dikatakan dua kali charge barangkali lantaran penggunaan ponsel sebagai modem pc secara full atau aktif terus menerus. Demikian pula dengan error yang tak pernah dialami sekalipun. Well, informasi ini sepertinya masuk akal bagi saya mengingat pengalaman saya yang tidak jauh berbeda saat menggunakan ponsel O2 XPhone iim.

Motorola Q CDMA saya tebus dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang anggaran yang saya sediakan. Hanya sebesar 875ribu saja. Tanpa pikir panjang ponsel berjaringan CDMA ini saya ambil dengan segera untuk menggantikan posisi Nokia 6275i yang sudah kewalahan dengan daftar phonebooknya.

Lantas bagaimana pengalaman dalam menggunakan ponsel Motorola Q CDMA ini ? simak ditulisan berikutnya. :p

* * *

Lantaran komitmen yang saya ambil untuk fokus pada tema ulasan keris sedari awal Agustus kemarin,  dengan terpaksa tulisan ini saya publikasikan terlebih dahulu lewat Notes FB. Jadi Mohon Maaf bagi yang sudah pernah membacanya…

Symbian 60 Device Simulator Development

Category : tentang TeKnoLoGi

Kecewa dengan iPhone BT, animasi (bukan aplikasi) simulator iPhone yang diperuntukkan bagi pengguna sistem operasi Windows membuat saya tak lagi begitu penasaran untuk mencoba sistem operasi lain yang biasa digunakan sebagai platform sebuah ponsel. Namun untuk menjaga kontinuitas percobaan, kali ini saya mencoba menjajal Symbian 60 yang identik dengan ponsel Nokia seri smartphone. Adapun Symbian yang berhasil saya unduh (download) adalah Symbian 60 1st Edition dan 2nd Edition.

Symbian 60 1st Edition merupakan sistem operasi rilis pertama yang digunakan oleh ponsel-ponsel Nokia bertipe Smartphone sekitaran tahun 2003 lalu. Nokia 7650, 3650, 3660 dan kedua seri N-Gage merupakan ponsel yang mengadopsi platform tersebut. Ciri-ciri yang paling kentara secara default adalah belum didukung oleh fitur Thema dengan memori internal yang minim. Kisaran 3-4 MB kalo gak salah.

Symbian 2nd Edition merupakan penyempurnaan rilis sebelumnya yang kemudian sudah mendukung fitur Thema sehingga pengguna ponsel yang mengadopsi platform ini sudah mampu mengganti tampilan layar maupun menu ponsel sesuai keinginan mereka. Adapun beberapa seri yang dirilis adalah Nokia 6600, 3230, 6670, 6680, 6681 dan 7610.

Untuk file instalasi Symbian 60 1st Edition Device Simulator Development dapat diunduh dalam bentuk terkompresi berformat zip dengan ukuran 101 MB, sedangkan Symbian 60 2nd Edition berukuran 152 MB dari web site resmi milik Nokia. Setelah instalasi masing-masing akan menghabiskan space hard disk sebesar 300-400 MB per Edition.

Secara pengoperasian Menu dan sub menu yang ada didalamnya apabila dibandingkan dengan BlackBerry Device Simulator Development atau Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, untuk Symbian 60 ini bisa dikatakan kurang memuaskan lantaran ada beberapa Menu yang tidak bisa diakses seperti Tools/Pengaturan yang memegang peranan paling besar dalam sistem operasi ini. Sebaliknya apabila disandingkan dengan iPhone BT, jelas jauh lebih baik.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat kemampuan dasar dari sebuah aplikasi Device Simulator Development adalah untuk melakukan pengujian terhadap aplikasi tambahan yang dibuat oleh para pengembang, apakah dapat berjalan sesuai harapan atau tidak. Kendati demikian beberapa fitur yang dimiliki oleh masing-masing rilisan tetap dapat digunakan sebagaimana biasa seperti Messaging, Notepad hingga Kamera yang kemudian memanfaatkan fitur Web Cam sebagai pengujiannya.

Entah disengaja atau tidak, lemotnya pengoperasian platform ini ternyata terjadi juga saat tindakan untuk mengakses fitur atau menu dilakukan. Mirip device aslinya. Hehehe…

iPhone BT Simulator hanya sekedar Animasi perangkat iPhone

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah sukses mencoba menjalankan dan menjajal kemampuan BlackBerry Device Simulator Development dan Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development kini giliran berburu iPhone Device Simulator Development. Tujuannya ya tiada lain hanya ingin tahu seperti apa sih sistem operasi yang ditanamkan pada iPhone tersebut ? Kan tempo hari sudah pernah mencoba langsung menjajal iPhone 3G ? hehehe…

Setelah bolak balik mencari di mbah Google, ternyata apa yang saya harapkan tidak dapat terwujud berhubung iPhone Device Simulator Development yang disediakan hanya dapat dijalankan pada sistem operasi Mac, bukan Windows. Kendati demikian untuk mengobati rasa penasaran pengguna sistem operasi Windows, seorang Shaun Sullivan berkenan membagi sedikit pengetahuannya terkait iPhone Device Simulator yang dinamakan iPhoneBT. Sebuah aplikasi berukuran 8,44 MB yang difungsikan sebagai simulator dari sebuah device iPhone untuk pengguna sistem operasi Windows.

Kecilnya ukuran file (tak sampai 10 MB-bandingkan dengan simulator yang lain minimal 75 MB) membuat saya ragu apakah benar aplikasi ini akan dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah Device Simulator yang dapat diotak-atik hingga ke sub menu terdalam ataukah hanya sebuah installer seperti halnya Google Earth 5.0 yang kemudian memaksa penggunanya menginstalasi aplikasi secara online ?

Setelah mengeksekusi aplikasi ini barulah keraguan saya terjawab. File ini bukanlah sebuah file installer melainkan sebuah aplikasi yang sudah ‘jadi’ dan pengguna tinggal menggunakannya tanpa perlu menunggu waktu lama. Tidak seperti kedua Simulator Device sebelumnya, iPhone BT tidak memerlukan waktu start-up untuk memulai sistem operasi siap dijalankan.

Kesan pertama dari aplikasi ini adalah ‘this is iPhone’. Tampilan layar aktif atau deretan icon Menu memang sesuai device aslinya, demikian pula saat mencoba kembali ke layar utama dengan menekan satu-satunya tombol yang ada dibawah layar. Tak hanya itu, diberikan pula opsi untuk mengunci dan membuka layar yang dikenal dengan teknologi ‘Slide to Unlock’. Benar-benar seperti memiliki sebuah device iPhone.

Tapi sayang kekaguman saya tidak berjalan lama lantaran ketika mencoba untuk mengakses icon Menu, tampilan layar hanya berubah sampai tampilan dari Menu yang dipilih. Tidak ada pilihan untuk opsi ‘Option’, seperti halnya kedua simulator lainnya, tidak ada area interaktif yang dapat digunakan untuk menulis sms/pesan, menyimpan Contact ataupun membuat Note. Pula tombol back ataupun pilihan meng-customize tampilan. Area layar sentuhnya pun tak berfungsi sebaik Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, hanya mengkhusus berada pada icon Menu dan tombol dibawah layar. Rupanya aplikasi ini hanyalah sebuah animasi tampilan dari sebuah device bernama iPhone.

Jadi kurang lebih aplikasi iPhoneBT ini hanyalah diperuntukkan sebagai pengobat rasa penasaran bagi mereka yang ingin tau bagaimana tampilan awal/aktif iPhone plus tampilan awal masing-masing Menu yang dimiliki. Bukan difungsikan untuk pengembangan aplikasi ataupun menjajal sistem operasi lebih jauh. Yaaaaaahhhh…

Mengeksplorasi Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya perihal Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, untuk dapat menggunakan aplikasi ini pertama kalinya diperlukan kesabaran dalam menunggu waktu starting operating system. Sama halnya dengan menggunakan device secara real, aplikasi ini membutuhkan waktu sedikitnya 30 detik untuk bisa menampilkan layar today screen pada versi Professional Edition dan 2 menit untuk versi Standard Edition.

Menjajal simulator sistem operasi Windows Mobile ini tidak memerlukan banyak penyesuaian seperti halnya BlackBerry Device Simulator Development. Ini bisa dimaklumi lantaran sebelumnya saya pernah memiliki dan menggunakan 3 (tiga) PDA dan 1 (satu) yang menggunakan sistem operasi sejenis, yaitu T-Mobile MDA II, O2 XDA Atom, Audiovox PPC 6700 CDMA dan O2 Xphone iim Smartphone.

Untuk versi Professional Edition atau PDA dengan layar sentuh, pengoperasiannya dapat memanfaatkan Mouse sebagai pengganti jari tangan. Pemanfaatan ini berlaku juga untuk perilaku tertentu yang biasanya digunakan pada sebuah device berlayar sentuh yaitu pilih dan tahan (hold), geser (drag) dan tentu saja eksekusi. Tak hanya itu, Pengguna dapat juga menggunakan fasilitas tombol yang tersedia yang tentu saja akan berfungsi sesuai peruntukkannya. Untuk melakukan perpindahan Menu pada versi ini cukup gegas kok, berbanding terbalik dengan versi Standard Edition yang memerlukan waktu jeda dalam mengakses perpindahan Menu, itupun sedikit sulit mengingat kecepatan untuk dapat menggerakkan mouse tidak secepat jari tangan.

Pengembangan fitur dari versi sebelumnya ternyata tidak banyak, apalagi kalo dilihat pada versi Standard. Secara default aplikasi yang mendukung office mobile barangkali masih perlu penambahan, berbeda dengan versi Professional yang sudah ada dalam Menu. Office Mobile yang dimaksud pada simulator ini kompatibel dengan Office 2007 yang digunakan pada PC. Demikian pula dengan aplikasi OneNote-nya.

Untuk Browser bawaan pada versi Professionalnya memiliki pilihan yang mirip dengan Browser milik Opera, dapat menampilkan halaman dalam versi mobile ataupun Desktop Computer, bergantung kebutuhan dan koneksi. Sedangkan Windows Media Playernya yang digunakan sebagai player file multimedia secara default sudah dapat menampilkan gambar secara penuh alias fullscreen.

Yang unik disini adalah tampilan layar Today dimana pada saat device dalam keadaan terkunci, terdapat logo gembok yang musti digeser bisa kekiri maupun kanan untuk membuka kunci, satu teknologi yang rupanya telah dipelopori oleh iPhone. Demikian pula saat layar dalam keadaan aktif akan menampilkan berbagai akses shortcut menuju fitur yang sering digunakan. Tampilan ini mirip dengan device milik Samsung yang dikenal dengan sebutan Widget.

Jauh berbeda dengan pengembangan versi Professional, versi Standard-nya nyaris tidak terlihat perbedaannya. Ini bisa dilihat dari fitur File Explorer-nya tetap tidak memiliki Menu ‘Copy to’ atau ‘Move to’ yang mengakibatkan untuk melakukan perpindahan file secara random tetap harus bolak balik dari folder asal ke tujuan. Demikian pula dengan tampilan layarnya, baik secara aktif maupun terkunci.

Sebenarnya untuk menyempurnakan fungsi yang dimiliki oleh masing-masing versi dapat ditambahkan beberapa aplikasi tambahan seperti Resco Explorer (untuk fungsi layaknya PC), Full Screen KeyBoard, Handy Switcher (untuk perpindahan Menu saat multitasking), MortRing (untuk nada panggil yang beragam), Scientific Calculator (untuk fungsi hitung yang lebih lengkap) dan tentu saja SPB mobile Shell (untuk perubahan User Interface).

Pada akhirnya, saat mencoba Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development serasa memiliki device ponsel/PDA beneran meski tidak mampu digunakan untuk melakukan panggilan maupun akses data (browsing). Setidaknya bagi saya pribadi simulator ini sudah cukup mengobati kekangenan saya akan sebuah PDA ber-Windows Mobile. Entah kapan bisa memilikinya kembali…

Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development

16

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah puas menjajal BlackBerry Device Simulator Development baik dalam versi layar sentuh (Storm 9550) maupun tidak (Bold), kini giliran sistem operasi Windows Mobile 6.5 yang bakalan dieksplorasi.

Adapun sebagai informasi awal, sistem operasi yang biasanya digunakan untuk tipe ponsel smartphone atau PDA ini dibagi menjadi 2 (dua) kategori seperti halnya BlackBerry yaitu tipe berlayar sentuh (biasanya digunakan pada sebuah PDA, selanjutnya sistem operasi ini dikembangkan dalam versi Professional Edition dan devicenya sendiri disebut sebagai PocketPC) dan yang tidak berlayar sentuh (digunakan pada ponsel bertipe smartphone, selanjutnya sistem operasi ini dikembangkan dalam versi Standard Edition).

Sebagaimana halnya dengan BlackBerry Device Simulator Development, Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka para pengembang aplikasi tambahan yang nantinya dapat disuntikkan kedalam device yang sebenarnya. Namun oleh awam seperti saya, aplikasi ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh fitur apa saja yang dimiliki oleh sistem operasi terbaru besutan Microsoft ini.

Untuk informasi tambahan selanjutnya dapat saya katakan bahwa sistem operasi Windows Mobile 6.5 ini merupakan lanjutan dari versi sebelumnya yaitu 6.1. Satu penyempurnaan yang dapat dilihat secara visual yaitu penampilan Menu yang tak lagi menampilkan pola grid 3×4 melainkan jauh lebih dinamis. Tujuannya adalah untuk mempermudah Pengguna dalam mengakses Menu dengan menggunakan jari tangan mereka. Satu kemajuan teknologi yang lebih dahulu diperkenalkan oleh iPhone.

Demikian pula dengan halnya User Interface (UI) akses Menu dan pilihan lainnya. Jauh lebih stylish mengingatkan saya pada sebuah aplikasi yang berbasis Windows PC, Stardock Windows Blind. Aplikasi ini kurang lebih berfungsi untuk menyamarkan tampilan kaku yang secara default dimiliki oleh Windows, bergantung pada skin atau thema yang digunakan. Sayangnya perubahan ini hanya berlaku pada versi Professional Edition saja, sedangkan versi Standard masih tetap mengadopsi tampilan Windows Mobile versi lama.

Untuk versi Professional, file instalasinya berukuran sekitar 225 MB yang dapat menampilkan Device Simulator dalam 5 (lima) ukuran layar. QVGA, VGA, WVGA, WQVGA dan Square. Layar QVGA adalah ukuran layar standar ponsel pintar terkini, yaitu 240×320 pixel. Sedangkan VGA adalah ukuran dua kali lipatnya yang sedianya baru beberapa device saja mengadopsi ukuran layar tersebut. WVGA dan WQVGA adalah standar ukuran layar device yang diperuntukkan sebagai pesaing iPhone, bisa dilihat dari diagonal layar yang lebar dan memanjang, misalkan saja Sony eXPeria. Terakhir ukuran Square adalah ukuran layar bujur sangkar. Ukuran layar square biasanya digunakan oleh PDA yang memiliki thumbboard QWERTY langsung dibawah layar seperti Ipaq 6965 atau Samsung i780.

Sebaliknya file instalasi untuk versi Standard Edition hanya berukuran 71,3 MB saja. File ini akan menghasilkan 2 (dua) resolusi layar yang dapat digunakan yaitu QVGA dan Square. Untuk ukuran QVGA ini ada 2 (dua) peruntukkan yaitu device dengan posisi layar Portrait dan posisi Landscape. Posisi Portrait biasanya diadopsi oleh ponsel smartphone dengan keypad biasa dan posisi Landscape diadopsi oleh ponsel dengan thummboard QWERTY, misalkan saja Motorola Q9.

Nah kira-kira fitur apa saja yang dimiliki oleh masing-masing versi ? serta bagaimana cara pengoperasiannya ? Tunggu tulisan saya berikutnya. Mengeksplorasi Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development.