Tips Mengamankan Smartphone dari Virus dan Malware

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Memiliki sebuah Smartphone atau ponsel pintar merupakan satu kebanggaan apabila sebagai pengguna bisa memanfaatkan serta menjaganya secara optimal. Yang masuk dalam kategori ini seperti Blackberry, iPhone, Android, Symbian, Windows Phone dan lainnya yang memang mensyaratkan keberadaan sitem operasi (OS) sebagai otak penggerak seluruh aktifitas yang dilakukan pengguna.

Satu yang wajib hukumnya dilakukan oleh setiap pengguna untuk mengoptimalkan kemampuan serta manfaat Smartphone adalah terkoneksi dengan dunia maya. Entah untuk chat memanfaatkan berbagai macam messenger, cek email, browsing, berjejaring sosial ataupun transaksi online. Semua aktifitas tersebut tentu sangat mengasyikkan hingga terkadang ada beberapa pengguna yang lantas merasakan ketergantungan atau malah lupa waktu. Namun diluar keasyikan itu, yang namanya bahaya selama penggunaan Smartphone tentu saja ada, apalagi ketika perangkat terkoneksi dengan dunia maya tadi. Diantara yang paling kerap terjadi adalah pencurian data lewat infeksi Virus dan Malware.

Yang dimaksud dengan Virus (pada perangkat pc/notebook/smartphone/tablet) adalah satu program atau bahasa yang menyusup ke perangkat pengguna tanpa ijin dengan tujuan menggandakan diri, merusak file atau aplikasi tertentu bahkan mengancam keamanan perangkat yang diinfeksi. Serupa dengan Virus, Malware sendiri merupakan sekumpulan script, bahasa pemrograman yang kerap disusupkan kedalam sebuah aplikasi untuk menginfeksi dengan tujuan merusak, mencuri data atau melakukan remote atau pengendalian jarak jauh. Varian lain yang kerap dan akrab dikenal di kalangan pengguna pc atau notebook adalah worm, trojan, keylogger dan sejenisnya.

Ada beragam tujuan yang dilakukan oleh penyusupan Virus atau Malware tersebut di perangkat Smartphone diantaranya (1) pencurian data penting tadi meliputi email, password, daftar kontak atau catatan transaksi online, (2) mengirimkan sms premium atau bahkan mms atau email yg berisikan link menuju aplikasi yg telah diinfeksi virus atau malware, (3) menggandakan diri sehingga membuat internal storage selalu terisi penuh, (4) memperlambat kinerja atau bahkan (5) merusak data serta sistem yang lantas membuat perangkat tidak dapat digunakan lagi.

Penyebaran Virus atau Malware ke perangkat Smartphone biasanya dilakukan lewat aplikasi atau games yang tersedia di Application Market terutama yang sedang laris dicari dan digemari. Bisa juga saat melakukan browsing di dunia maya yang secara sengaja melawat ke halaman 3G (Girls – pornografi, Games – permainan dan Gambler – judi), halaman yang ternyata paling banyak dikunjungi oleh pengguna internet. Aksi penyebaran Virus atau Malware ini tentu berbeda dengan penyebaran Virus pada tubuh manusia, jangan sampai Rekan Tokoh berpikir bahwa penyebaran Virus atau Malware ke perangkat Smartphone dapat dilakukan melalui udara atau karena diletakkan sembarangan.

Lantas bagaimana cara pengguna Smartphone dapat menghindari serangan Virus atau Malware ke perangkat yang digunakan, berikut diantaranya.
1. Karena rata-rata infeksi virus atau malware berasal dari aplikasi atau games, selalu prioritaskan Market resmi yang ada dalam perangkat untuk mencari serta menginstalasi aplikasi atau games. Apabila aplikasi atau games yang dicari tersebut sedang trend atau digemari, periksa terlebih dahulu rating, review dan jumlah pengunduhannya. Seandainya ketersediaan aplikasi atau games yang diinginkan berasal dari luar Market resmi, upayakan dilakukan lewat pc atau notebook yang dilengkapi dengan AntiVirus
2. Bila tak ingin repot menggunakan pc atau notebook, manfaatkan utility Security bawaan yang ada di perangkat Smartphone ditambah utility Anti Virus yang terpercaya. Beberapa Anti Virus ada yang ditawarkan secara gratis, namun jika ingin yang paten ya gunakan yang berbayar. Jauh lebih aman tentu saja.
3. Sedapat mungkin menghindari pencarian aplikasi, games atau mengunjungi halaman 3G diatas, yang biasanya paling rentan disusupi virus atau malware
4. Pahami otorisasi aplikasi atau games yang akan diinstalasi, seperti kebutuhan akses ke fitur apa saja
5. Wifi Hotspot gratisan memang menggoda, namun waspadai apabila tidak dikenal. Beberapa aksi penyusupan data biasanya dilakukan lewat cara ini
6. Lakukan Update baik sistem operasi (OS) yang digunakan maupun aplikasi atau games secara rutin
7. Melakukan Backup secara berkala, meliputi aplikasi atau games yang telah diinstalasi, daftar kontak phonebook, atau data penting lainnya

Untuk lebih mewaspadai jenis aplikasi ataupun games yang berpotensi atau sudah diinfeksi Malware, Rekon Tokoh bisa merujuk pada hasil pencarian Google untuk masing-masing sistem operasi.

Uji Coba Simulatornya Sebelum Membeli

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Terkadang bagi sebagian orang, ketersediaan budget tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan akan sebuah ponsel sebagai alat berkomunikasi. Ada juga yang barangkali terlalu memikirkan ‘apakah kelak perangkat yang akan dipilih mampu digunakan atau termanfaatkan dengan baik atau tidak. Jika Rekan Tokoh masih merasa ragu seperti itu, yuk coba dulu Simulatornya sebelum memutuskan untuk membeli.

Simulator yang dimaksud disini adalah Aplikasi yang dapat dijalankan melalui perangkat PC/NoteBook, untuk memberikan pengenalan awal kepada pengguna khususnya yang bergerak dalam bidang pengembangan mobile application tentang apa dan bagaimana cara kerja sebuah perangkat ponsel. Sejauh ini keberadaan aplikasi Simulator baru tersedia pada ponsel yang berjenis Smartphone dengan ciri penggunaan OS atau Sistem Operasi tertentu. Ukuran installer sebuah aplikasi Simulator ini biasanya berkisar antara dari 50 MB hingga 300an MB. Tergantung pada jenis Sistem operasinya dan juga tahun rilisnya.

Untuk perangkat Symbian yang digawangi Nokia, meski kini sudah tergolong jarang dirilis kembali namun beberapa perangkat ponsel tipe S40nya masih bisa dijumpai di pasaran. Rata-rata perangkat ini mengandalkan layar sentuh dilengkapi dengan keypad 3×4. Untuk dapat mempelajari isinya lebih jauh Kawan Tokoh bisa mengunduh aplikasi Simulatornya di alamat Nokia Developers. Aplikasi ini terbagi atas tipe sistem operasi yang dirilis dari S40 untuk Nokia type keypad numerik, S60 untuk Nokia smartphone, dan S80 untuk Nokia Communicator, serta versinya masing-masing.

Dibandingkan Symbian, ketersediaan ragam Simulator untuk perangkat BlackBerry jauh lebih banyak, bergantung pada versi sistem operasi yang dirilis dan juga seri ponsel yang ingin dicoba. Aplikasinya sendiri dapat diunduh melalui halaman web resmi BlackBerry pada bagian Support. Untuk sistem operasi versi terakhir, ukuran Installernya cukup besar kisaran 180 MB hingga 220 MB. Yang unik dalam pemanfaatan aplikasi Simulator ini adalah kemampuannya yang setara dengan perangkat sesungguhnya meski minus BlackBerry Messenger. Setidaknya Kawan Tokoh bisa memanfaatkannya untuk melakukan Update Status untuk memunculkan tulisan ‘update via BlackBerry’ di bagian bawah status update hingga mencoba satu persatu aplikasi yang terdapat dalam App World.

Lantas ada Android, sistem operasi yang dikembangkan secara khusus oleh Google, raksasa mesin pencari dengan sifat yang terbuka atau Open Source. Berbeda dengan aplikasi Simulator yang lainnya yang berdiri sendiri sesuai seri ponsel ataupun versi sistem operasinya, khusus Android menggunakan satu kesatuan aplikasi untuk semua versi dan seri ponsel. Hanya saja pemilahannya baru dilakukan saat pengguna menjalankan aplikasi Simulator tersebut. Sedikit lebih merepotkan, apabila pengunduhan Simulator lain dilakukan terlebih dahulu baru diinstalasi secara offline, tidak demikian halnya dengan Simulator Android yang proses instalasinya mutlak dilakukan secara online. Ada dua jenis Simulator yang ditawarkan, pertama, aplikasi yang berjalan di perangkat pc/notebook seperti yang disebutkan tadi, dan kedua aplikasi yang berlaku sebagai sistem operasi yang dapat dijalankan secara mandiri melalui proses booting. Untuk yang terakhir ini, file instalasi dapat disimpan dalam bentuk cd atau flash disk.

Setelah Microsoft memutuskan untuk menutup riset dan pengembangan bagi sistem operasi Windows Mobile lama mereka yang sebetulnya masih bisa dicoba juga Simulatornya, kini mereka mencoba hadir kembali dengan tampilan dan kinerja yang menggoda lewat Windows Phone versi 7.5 Mango. Serupa dengan Simulator Android yang mengharuskan proses instalasi secara online, untuk aplikasi Simulator yang dikembangkan oleh Microsoft pun demikian pula adanya. Ukuran installernya tergolong kecil, sekitar 3,4 MB saja. Namun untuk mampu menggunakannya, Microsoft mensyaratkan spesifikasi perangkat pc/notebook yang cukup besar yakni ketersediaan space untuk hasil instalasi sebesar 4 GB, penggunaan 3 GB Memory RAM serta versi sistem operasi minimal Vista atau Windows 7. Paket Instalasi ini sudah termasuk dengan aplikasi Microsoft Visual Studio yang menjadi syarat utama menjalankan Simulatornya.

Terakhir ada iOS buatan Apple yang dikenal lewat perangkat iPhone dan iPad-nya. Jika perangkat pc/notebook yang Kawan Tokoh gunakan masih mengadopsi sistem operasi Windows, maka bersiaplah untuk kecewa lantaran aplikasi Simulator untuk perangkat pintar ini hanya tersedia dalam sistem operasi Mac.
Jikapun Kawan Tokoh menemukan beberapa aplikasi Simulator iOS yang mampu dijalankan pada sistem operasi Windows, sepengetahuan kami rata-rata masih merupakan sebuah aplikasi simulasi tampilannya saja, baik yang difungsikan hanya untuk melihat perpindahan menu atau tampilan halaman web yang disajikan lewat layar perangkat.

Sebenarnya masih banyak jenis aplikasi Simulator yang dapat dicoba untuk melakukan pengujian perangkat ponsel sebelum memutuskan untuk membelinya seperti Bada yang dikembangkan oleh Samsung atau WebOS yang dikembangkan oleh Palm lalu diakuisisi oleh HP. Sayangnya perangkat-perangkat tersebut tampaknya tak lagi dirilis oleh vendor terkait atas dasar tidak berhasil dari segi komersial.

Mengatasi Borosnya Daya Tahan ponsel SmartPhone

2

Category : tentang TeKnoLoGi

Pernah merasa Geregetan akibat menipisnya daya tahan ponsel Smartphone yang Rekan Tokoh gunakan padahal baru beberapa jam lalu di-charge penuh ? jangan khawatir, Anda tidak sendiri.

Namun jika boleh kami berikan sedikit saran diawal tulisan, untuk tidak membebani pikiran, tenaga dan waktu untuk mencari tahu lebih jauh, agar sedapat mungkin dimaklumi saja. Mengingat fungsi dan kemampuan perangkat ponsel pintar keluaran terkini layaknya sebuah mobil Ferrari atau supercar lainnya yang sudah siap digunakan, tentu saja membutuhkan sumber tenaga yang tidak sedikit. Akan sangat mustahil bila sumber yang diharapkan untuk bisa membuat mereka memacu kecepatan yang tinggi dan optimal, setara dengan kebutuhan City Car misalkan.

Android, iPhone, BlackBerry dan Windows Phone, merupakan empat varian ponsel pintar yang masuk dalam kategori ini.
Bisa jadi lantaran mereka lahir di era teknologi informasi yang mutlak membutuhkan koneksi data untuk mengoptimalkan kinerja, yang merupakan salah satu faktor penting terkurasnya daya tahan ponsel secara cepat.

Namun persoalan ketahanan daya ponsel Smartphone yang tidak berlangsung lama, rupanya sudah ada jauh sebelum barisan perangkat ponsel pintar diatas itu diciptakan. Bagi yang pernah menggunakan perangkat ponsel berbasis Windows Mobile PocketPC di tahun 2003/2005 kami yakin pernah pula merasakan hal yang sama. Jangankan untuk kebutuhan online, digunakan beraktifitas secara offline saja sudah keteteran, perlu setidaknya satu hingga dua kali charge setiap harinya.

Sebelum kami lanjut ke bagaimana cara mengatasi Borosnya Daya Tahan, baiknya perlu juga untuk diketahui faktor apa saja yang membuat perangkat ponsel pintar berperilaku sedemikian rupa ?

Pertama tentu saja kebutuhan akan koneksi data seperti yang telah kami sebutkan tadi. Online dan online. Perilaku ini dipicu oleh pemaksaan jaringan untuk mencari sinyal koneksi yang terbaik, 3G atau lebih.

Kedua, besaran prosesor dan spesifikasi teknis lainnya. Seperti halnya mobil supercar, untuk dapat memacu kecepatan secara optimal tentu dibutuhkan daya atau tenaga memanfaatkan besaran prosesor tersebut. Makin besar prosesor yang dibekali biasanya makin besar pula daya yang disematkan untuk membackupnya.

Ketiga adalah layar. Baik itu fitur TouchScreen atau Layar sentuh, lebar dan besaran resolusi serta kedalaman warnanya. Semakin mantap pembawaannya tentu saja akan bereaksi pada kemampuan perangkat untuk menyiapkan layar siap sedia saat digunakan.

Terakhir ada perilaku pengguna. Untuk yang satu ini, selain koneksi data bisa jadi pengguna lebih banyak berinteraksi dengan games, aplikasi produktivitas ataupun hiburan lainnya. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan, semakin cepat pula daya tahan ponsel itu menurun.

Lantas, langkah apa yang sekiranya dapat dilakukan untuk meminimalkan itu semua ?

Pertama, nonaktifkan fitur atau teknologi yang tidak tergunakan untuk waktu-waktu tertentu, saat jam kerja ataupun beristirahat. Diantaranya wireless atau wifi, bluetooth, gps bahkan jaringan 3G jika memang kebutuhannya hanya untuk menelepon dan sms.

Kedua terkait layar, turunkan tingkat kecerahan layar apabila memungkinkan dan meminimalisir penggunaan widget atau thema. Tindakan untuk menurunkan kecerahan layar akan berpengaruh pada kekuatan mata pengguna yang barangkali bakalan sedikit dipaksa untuk mencerna isi dari layar yang ditampilkan. Sedang tindakan untuk meminimalisir penggunaan Widget atau Thema tentu akan berpengaruh pada kreatifitas dan keindahan tampilan layar. Jadi pertimbangkan dulu mana yang lebih penting.

Ketiga, lakukan pembersihan dan optimasi perangkat secara berkala. Yang dimaksudkan disini adalah terkait software pasca beraktifitas. Bisa dilakukan dengan cara menghentikan aplikasi yang masih berjalan meski telah ditutup, membersihkan history cache dan temporary files menggunakan aplikasi Cleaner dan mengoptimalkan perangkat dengan memilah startup manager agar tidak menghabiskan Memory terlalu banyak saat perangkat dinyalakan.

Keempat tentu saja membekali diri dengan portable charger, kabel data atau colokannya sekalian. Meski merepotkan lantaran membawa portable charger kemana-mana, kini sudah tersedia dalam beragam daya tambahan, cukup untuk menambah usia daya tahan ponsel dalam sekali charge penuh. Namun akan lebih praktis apabila Rekan membawa serta kabel data yang biasanya dapat menambah daya tahan ponsel saat dicolokkan ke perangkat notebook/desktop pc, teman kerja saat beraktifitas didalam ruangan.

Keempat cara diatas kami akui memang tidak dapat menghemat daya tahan hingga dua atau tiga kali lipatnya, mengingat analogi kami diawal tulisan tadi. Namun paling tidak, tindakan ini akan dapat bermanfaat ketika Rekan Tokoh berada dalam kondisi mendesak. Minimal perangkat masih dapat dipergunakan untuk beberapa kepentingan lainnya.

HTC Raksasa Taiwan yang telah menDunia

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Agak tergelitik juga ketika seorang kawan yang telah lama malang melintang di dunia teknologi, mencibir dan mempertanyakan kredibilitas HTC serta mengira produsen ini tak jauh berbeda dengan produk lokal (china).

Bagi yang pernah merasakan hebatnya kemampuan ponsel konvergensi layar sentuh ber-Personal Digital Assistant (PDA) pada awal tahun 2003, saya yakin sudah mengenal produk-produk mereka lebih jauh. Karena HTC-lah yang selama kurun waktu tersebut merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual).

Tercatat nama besar O2, T-Mobile, Dopod bahkan Sony Ericsson merupakan perusahaan yang pernah membeli perangkat produksi HTC di era terdahulu, meski tak dipungkiri bahwa strategi ini masih tetap berjalan hingga kini. Katakan saja produk HTC Universal yang dikemas dalam tiga merek yang berbeda, O2 XDA EXECUTIVE , DOPOD 900 dan T-MOBILE PRO. Atau HTC Blue Angel yang dikenal sebagian masyarakat Indonesia sebagai O2 XDA Iis dan AUDIOVOX 6600 CDMA. Percaya atau tidak produk Xperia X1 yang dirilis Sony Ericsson dan berbasiskan Windows Mobile 6.1 pun memiliki codename HTC Kovsky, dan Google Nexus one yang fenomenal itu  memiliki codename HTC Passion.

HTC Corporation (sebelumnya bernama High Tech Computer Corporation) adalah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Taiwan. Didirikan pada tahun 1997 silam oleh Cher Wang dan sejauh ini telah  menghasilkan berbagai macam produk telekomunikasi. Seperti yang dikatakan diatas, pada awal berdirinya HTC merupakan sebuah original design manufacturer (perusahaan yang merancang dan memproduksi sebuah produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual). Seiring berjalannya waktu, HTC mulai menjual produk dengan mereknya sendiri. HTC awalnya hanya memproduksi telepon pintar (smartphone) yang berbasis perangkat lunak Windows Mobile, namun sejak 2009 mulai mengalihkan fokusnya ke sistem operasi Android.

Beberapa karya produk HTC yang juga telah mendunia disamping yang disebut diatas, meliputi O2 XDA II (HTC Himalaya), Palm Treo Pro (HTC Panther), HP iPAQ hw69xx (HTC Sable), HTC TyTN II, HTC Shift, serta T-Mobile G1 (HTC Dream -produk ponsel pertama di dunia yang berbasiskan Android).

Pasca runtuhnya hegemoni sistem operasi Windows Mobile, HTC bahkan sempat mencoba pula peruntungan dengan merilis beberapa ponsel pintar berbasiskan Windows Phone 7. HTC Mozart, HTC Trophy dan HD7 merupakan Tiga produk diantaranya yang telah dikenal lebih dulu di mata dunia. Sayang, mandegnya pengembangan Windows Phone 7 yang digadang-gadangi bakalan menggantikan Windows Mobile terdahulu malah layu sebelum berkembang, kalah pamor oleh kharisma Android.

Bisa dikatakan nama besar HTC makin berkibar pasca rilis ponsel berbasiskan Android. Beberapa produk yang mereka miliki di lini Open Source ini meliputi HTC Touch, Desire, Legend, Incredible dan terakhir berada di pangsa pasar Tablet 7”, HTC Flyer. Dalam segmen ini HTC menyertai User Interface mereka yang ternama, HTC Sense di setiap rilis produk untuk lebih menarik minat konsumen.

Masih meragukan kualitas dan nama besar HTC ?

Windows Mobile, Symbian dan Android. What’s Next ?

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Mengenali satu persatu dari ketiga sistem operasi besar diatas rupanya membutuhkan waktu yang cukup lama bagi blog www.pandebaik.com. Sebenarnya dari ketiga diatas, Symbian 1rst Edition merupakan sistem operasi ponsel pertama yang saya kenal dan gunakan, tepatnya pada perangkat Nokia 7650 atau yang dikenal dengan sebutan ponsel artis. Windows Mobile baru saya kenal untuk pertama kali pada tahun 2005, setelah menanam angan selama dua tahun lamanya.

Jika mau dirunut dari awal, sistem operasi perangkat mobile ponsel yang paling pertama ingin saya coba dan miliki adalah Palm. Kalo gag salah pada bulan April tahun 2003, InfoKomputer sempat menurunkan topik Perangkat Konvergensi yang  menyajikan beragam ponsel pintar dari sistem operasi Palm, Windows Mobile, Symbian UIQ, Linux dan Nokia Communicator. Mengapa saya pilih Palm ? karena dari sekian banyak pilihan perangkat, hanya perangkat Palm-lah yang harganya paling terjangkau. Namun sayang, faktor kesulitan untuk mendapatkannya perangkatnya merupakan hambatan pertama. Dan yang paling membuat saya merasa ilfil adalah, penjelasan dari seorang teman yang sudah sejak lama menggunakan perangkat Palm menjelaskan bahwa Palm tidak mampu melakukan aktifitas Multitasking (melakukan beberapa aktifitas pekerjaan dalam satu waktu/bersamaan).

Ternyata Perlu waktu dua tahun setelahnya, untuk bisa menjajal perangkat berbasis Windows Mobile layar sentuh tepatnya pada awal tahun 2005. Itupun dengan membeli perangkat T-Mobile MDA II yang merupakan varian dari O2 XDA II secara Second di gerai ponsel seputaran Kota Denpasar. Saat memanfaatkan pdaphone O2 inilah, saya lantas mulai berkenalan dengan perangkat sejenis lainnya seperti Audiovox Thera, Windows Mobile layar sentuh dengan frekuensi CDMA  dan tentu saja O2 Xphone iim yang hingga kini masih saya simpan, merupakan salah satu perangkat berbasis Windows Mobile Smartphone non layar sentuh.

Perangkat mobile dengan sistem operasi Symbian, tepatnya lewat ponsel Nokia N73 ME merupakan andalan saya berikutnya beberapa saat menjelang kelahiran putri kecil kami, MiRah GayatriDewi. Perangkat inilah yang banyak berperan dalam melahirkan video dan foto kelahirannya hingga kini. Bersamaan dengan perangkat Symbian ini, sayapun kembali berkenalan dengan perangkat berbasis Windows Mobile PocketPC atau yang berlayar sentuh tepatnya dalam 2 (dua) varian. O2 XDA Atom dengan frekuensi GSM, dan AudioVox PPC 6700 dengan frekuensi CDMA. Sayang, dalam perjalanan kedua perangkat ini saya jual kembali guna nambah-nambahi uang SPP kuliah pasca Sarjana saya semester terakhir.

Android. Merupakan sistem operasi dari perangkat mobile milik mbah Google merupakan yang terakhir saya kenal. Tepatnya sejak pertengahan bulan Maret lalu. Bisa jadi, ini merupakan puncak kedua saya dalam melakukan eksplorasi perangkat secara mendalam pasca Windows Mobile terdahulu. Berkenalan dengan Samsung Galaxy ACE S5830 benar-benar membuat hidup saya jauh berbeda dengan sebelumnya. Yang paling kentara adalah mobile internet secara full time alias unlimited bersama XL (promo mode ON). Dengan perangkat ini pulalah blog www.pandebaik.com secara drastis menurunkan liputan Review perangkat dan aplikasi secara terus menerus dalam kurun waktu satu bulan lebih lamanya. Mumpung lagi hangat-hangatnya.

Lantas, What’s Next ? apa selanjutnya ?

Jika ngomongin iPhone, jujur saja dengan budget bekal gaji yang saya dapatkan sebagai PNS rasanya bisa dikatakan hanyalah sebuah mimpi indah. Nominal Budget yang diperlukan untuk dapat memiliki serta mengeksplorasi sebuah perangkat iPhone sungguh teramat mahal. Beum lagi untuk mencoba puluhan aplikasi impian yang rupanya berbayar, berbanding terbalik dengan perangkat Android. Demikian halnya dengan Windows Phone yang rata-rata banderolnya masih diatas rata-rata.

Bagaimana dengan BlackBerry ? atau Symbian layar sentuh ? Enggak deh. Lagipula berkat bantuan beberapa Emulator/Simulator perangkat BlackBerry dan juga Symbian berlayar sentuh, saya tak lagi dituntut untuk membeli perangkatnya secara langsung, karena ternyata aplikasi yang mampu dijalankan pada perangkat NoteBook tersebut berfungsi sama maknyusnya dengan perangkat yang sesungguhnya, meski masih ada beberapa keterbatasan. Disamping itu, keberadaan dua perangkat ini bisa dikatakan sudah biasa ada di lingkungan saya sebagai seorang PNS. Jadi kalopun ingin tahu lebih jauh, tinggal pinjam pakai, dijajal atau diwawancanda eh wawancara.

Lantas apa dong yang ingin dioprek selanjutnya ?

WebOS.

Kalau tidak salah perangkat mobile berbasis WebOS sebenarnya sudah diperkenalkan pada publik sekitar tahun 2009/2010 lalu oleh Palm lewat Palm Pre. Sayangnya kemunculan Palm Pre seolah terlewatkan begitu saja oleh publik pasca dirilisnya iPhone 3G/3GS  yang memang fenomenal itu. Palm yang kemudian diakusisi oleh Hewlett Packard HP, kemudian merilis kembali perangkat mobile berbasis WebOS lewat ponsel berwajah serupa namun bernama beda. HP Pre 3 dan HP Veer. Kabarnya sistem operasi ini tak jauh berbeda dengan iOS yang diadopsi iPhone dan Android tentu saja.

Hanya saja, (lagi-lagi) mengingat faktor harga yang masih tergolong tinggi untuk ukuran PNS seperti saya, agaknya impian ini tidak mampu saya wujudkan dalam waktu dekat. Apalagi kabarnya, belum banyak aplikasi yang mendukung keberadaan sistem operasi mobile yang satu ini.  Tapi ya semoga saja bisa bertambah baik dalam waktu dekat. Jadi ya tunggu saja bagaimana kelanjutannya. Hehehe…

BadGe Waze Warrior, Check-in via Smartphone

7

Category : tentang TeKnoLoGi

Tips Berikut saya persembahkan untuk semua pengguna akun FourSQuare yang memanfaatkan ponsel Smartphone untuk melakukan aktifitas Check-in.

Waze Warrior, BadGe ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang melakukan aktifitas Check-in sekaligus Shout melalui aplikasi Waze. Sayangnya, aplikasi ini hanya tersedia untuk ponsel high-end dengan fungsi Smartphone. Syarat utama dari ponsel ini adalah tentu saja Adanya Sistem Operasi yang disematkan untuk mengoperasikan ponsel. Adapun yang masuk dalam lingkaran ini adalah ponsel BlackBerry, iPhone, Android, Windows Mobile dan Symbian. Jadi bagi mereka yang masih setia menggunakan ponsel jadul, ya apa boleh buat. :p

Yang perlu diketahui lagi bahwa aplikasi Waze ini sebetulnya merupakan aplikasi berbasis GPS yang nantinya akan mengontrol setiap aktifitas Check-in yang dilakukan melalui aplikasi ini, apakah dapat dibenarkan secara logika (termasuk koordinat berdasarkan GPS) atau tidak. Itu sebabnya, selain mensyaratkan ponsel tipe SmartpHone, Waze juga mensyaratkan ‘built in GPS’ pada ponsel yang akan diinstalasi.

Aplikasi Waze ini bisa diunduh melalui halaman web berikut. Ukurannya lumayan besar untuk sebuah aplikasi mobile (3,5 MB). Saya sendiri kemudian mencobanya pada ponsel Nokia 6720c milik Mertua yang secara kebetulan memiliki akses GPS dan Map secara defaultnya. Hal ini dilakukan setelah ponsel jadul yang saya miliki, Nokia N73 dinyatakan tidak layak untuk disuntikkan aplikasi Waze ini lantaran tidak mendukung GPS.

Setelah berhasil diinstalasi, pengguna Waze diharapkan melakukan pengaturan pada opsi Setting/Profile, menghubungkan akun Waze dengan akun jejaring sosial lainnya seperti FaceBook, Twitter dan tentu saja FourSQuare bagi yang berharap mendapatkan BadGe Waze Warrior.

*

Badges Waze Warrior akan diberikan kepada semua pengguna aplikasi Waze, yang memanfaatkannya untuk aktifitas Check-in minimal 3 (tiga) kali. Aktifitas ini kurang lebih sama dengan trik mendapatkan Badge Local, Bender, Crunked, ataupun Bravo Newbie.

Mengingat aktifitas ini mengandalkan aplikasi berbasis GPS, Badge tidak akan bisa didapatkan dengan cara Trik curang alias Jumper dari balik meja. :p Sayapun sudah mengujinya dengan menginstalasi aplikasi Waze pada aplikasi BlackBerry Torch 9800 Simulators. Ketika melakukan aktifitas Check-in yang kedua kalinya di lokasi yang berbeda (trik Jumper), sayapun mendapatkan teguran bahwa aktifitas tidak dapat dilakukan. Ealah…

Memperbaharui Tampilan Ponsel dengan Theme

5

Category : tentang TeKnoLoGi

Usia ponsel sepertinya tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk menggantinya dengan rilis yang baru, mengingat ponsel lama terkadang jauh lebih tahan banting ketimbang keluaran terkini. Ketika kondisinya masih dapat digunakan dengan baik, untuk membuatnya menjadi seperti baru ada 3 (tiga) opsi yang dapat saya sarankan untuk dicoba.

Melakukan Upgrade sistem operasi atau Update firmware ponsel secara online seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya untuk mempercepat kinerja ponsel, mengganti chasing dengan buatan original atau bahkan bentuk dan warna yang dikustomisasi untuk memperbaharui fisik ponsel dan terakhir menggunakan Theme atau Tema untuk memperbaharui tampilan layar ponsel.

Opsi terakhir ini dapat dijadikan pilihan apabila pengguna tidak banyak memiliki pengetahuan terkait teknologi ponsel (untuk melakukan Upgrade dan Update secara online) termasuk pula biaya (untuk membeli chasing original tipe-tipe tertentu). Tema atau Theme biasanya secara default sudah tersedia pada Pengaturan Tampilan masing-masing ponsel. Hanya saja bagi yang menginginkan tampilan sedikit berbeda dengan milik teman, tema ponsel dapat dicari secara online di dunia maya. Unduh atau download kemudian masukkan (copy) kedalam ponsel dan lihat hasilnya.

Mobile9 dapat dijadikan salah satu rujukan. Merupakan salah satu penyedia tema atau Theme yang bersifat universal, hampir untuk seluruh brand mapan (tidak disarankan untuk ponsel lokal atau China). Tak hanya Theme, situs Mobile9 menyediakan pula galeri gambar wallpaper, ringtone bahkan aplikasi yang dapat membantu penggunanya beraktifitas lebih banyak dan beragam serta memberikan sentuhan baru pada ponsel yang masuk dalam kategori lama atau lawas.

Apabila ingin yang lebih spesifik atau mengkhusus, pengguna ponsel Nokia yang mengadopsi sistem operasi Symbian, dapat menyasar alamat Symbian Themes untuk mendapatkan rilis tema terbaru. Saya pribadi mendapatkan tema iPad dan juga tema Nokia seri C dan X dari alamat ini, yang ketika dicoba pada ponsel N73 jadul, jadi makin betah makenya. Dibandingkan dengan Mobile9 , satu file tema yang disediakan Symbian Themes lebih kompatibel apabila digunakan dalam ponsel Nokia yang berbeda. Baik berlayar 240×320 pixel portrait, 320×240 landscape atau touchscreen layar sentuh.

Ngomong-ngomong layar sentuh, pengguna Windows Mobile Pocket PC versi lama (2003, 5.0 dan 6.1) dapat menyasar alamat WM6 Themes, yang menyediakan beragam tema menarik untuk dicoba. Namun bagi yang benar-benar ingin terlihat beda, manfaatkan saja aplikasi SPb Mobile Shell yang mampu mengubah tampilan jauh lebih fresh. Terkait penggunaan aplikasi ini, silahkan baca kembali tulisan lama saya perihal PocketPC rasa Sony Xperia, Samsung Omnia atau HTC Diamond ?

Sedang bagi mereka yang menggunakan ponsel bersistem operasi Windows Mobile lama versi non layar sentuh atau yang dikenal dengan istilah Smartphone, silahkan mencoba alamat smartphoneforyou yang menyediakan beragam tema baik yang dapat digunakan dengan cara default maupun dengan bantuan aplikasi tambahan seperti Façade. Saya pribadi sempat mencoba aplikasi ini dan kemudian mencoba beberapa tema yang ditawarkan. Hasilnya sangat memuaskan.

Mengenal Motorola Q CDMA

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Seperti yang pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya bahwa ponsel Motorola Q CDMA bukanlah ponsel baru keluaran terkini alias jadul. Rilisnya kurang lebih berawal pada tahun 2005 yang kalau disejajarkan dengan rilis ponsel Nokia, hampir bersamaan dengan seri 7610 dan 6630 yang diklaim sebagai ponsel pertama Nokia berkamera 1 MP, begitu pula dengan Nokia Communicator 9500 yang hanya beresolusi VGA.

Itu sebabnya untuk ukuran sebuah ponsel pintar (baca:smartphone), Motorola Q CDMA hanya menyematkan resolusi kamera yang sama dengan kemampuan ponsel berkamera saat itu yaitu sebesar 1,3 MP. Demikian pula dengan kemampuan koneksi nirkabelnya yang tidak mendukung Wifi secara built in kendati dapat ditambahkan secara opsional.

Sebagai sebuah ponsel pintar, Motorola Q CDMA sudah memenuhi satu syarat atau standar mutlak yaitu menggunakan sistem operasi sebagai basic pengoperasian ponsel. Adapun sistem operasi yang digunakan adalah Windows Mobile Smartphone 5.0. Penggunaan rilis sistem operasi tersebut makin menguatkan image bahwa ponsel Q series ini memang dirilis kisaran lima tahun lalu, karena untuk standar ponsel/pda bersistem operasi Windows Mobile rilis terkini minimal menggunakan seri 6.1 atau 6.5. Adapun kode yang digunakan, tidak lagi disebut Windows Mobile Smartphone Edition tapi Windows Mobile Standard Edition.

Sistem operasi Windows Mobile Smartphone 5.0 ini memiliki satu ciri yang dapat dikenal dengan mudah yaitu tidak mendukung layar sentuh. Pengoperasiannya murni mengandalkan keypad dan tombol navigasi. Ciri-ciri lainnya dapat dilihat secara kasat mata walaupun tanpa menyentuh langsung, yaitu dilihat dari tampilan homescreen atau layar utama yang tidak menampilkan jam pada list taskbar yang sejajar dengan simbol sinyal.

Secara bentuk dan desain, Motorola Q CDMA mengingatkan saya pada pda rilis lama seperti Audiovox Thera, 6700 ataupun O2 lama yang pernah saya miliki dahulu. Kotak tipis dan memiliki area bagian bawah yang mirip dengan desain khas Nokia tipe E71.

Kesan ponsel jadul dapat dilihat pula dari koneksi yang diselipkan pada ponsel Motorola Q CDMA, masih menggunakan infra red yang kini sudah mulai ditinggalkan. Demikian pula dengan jenis kartu memory eksternal, yang masih menggunakan tipe MiniSD. Yang lebih unik lagi, pada sisi kanan ponsel terdapat tombol navigasi yang dinamakan Jog Dial atau istilahnya TrackWheel pada ponsel BlackBerry. Tombol navigasi ini biasanya terdapat pada ponsel rilis tahun-tahun serupa seperti BlackBerry 8700 yang belum mengenal sistem navigasi TrackBall atau Sony Ericsson P series.

Menggunakan ponsel Motorola Q CDMA tidak jauh berbeda rasanya dengan penggunaan ponsel O2 XPhone iim yang secara kebetulan memiliki sistem operasi yang sama. Tidak banyak kesulitan yang saya alami dalam pengoperasiannya. Hanya saja jika disandingkan, ponsel Motorola Q CDMA memiliki kekurangan dan kelebihan terkait thumbboard QWERTY yang disandangkan. Kekurangannya tentu saja pengguna (dalam hal ini saya pribadi) diwajibkan mempelajari kembali lokasi tombol huruf dan angka yang kadang jujur saja agak membingungkan. Walaupun susunannya sama dengan keyboard pc, namun tetap saja terbentur ukuran dan fungsi shift. Sebaliknya menggunakan ponsel Motorola Q CDMA yang sudah mengadopsi thumbboard QWERTY seperti halnya ponsel Blackberry ataupun lokal yaitu, tidak ada waktu tunggu atau jeda yang diperlukan ketika memanfaatkan fitur Messaging-nya.

Terkait kapasitas phonebook yang tempo hari menjadi momok bagi saya sehingga memilih Motorola Q CDMA sebagai salah satu alternatif, rupanya bisa terjawab dengan memuaskan mengingat penggunaan sistem operasi (sebagai satu syarat mutlak sebuah ponsel pintar) yang memiliki satu kelebihan tanpa batas. Tergantung pada sisa memori internal yang ada.

Yang tak kalah menarik adalah persoalan daya tahan batere yang sempat diklaim hanya bertahan sekitar 3 jam oleh seorang Rekan. Setelah mengujinya sendiri, dengan pemakaian normal tentu saja, daya tahannya ternyata mampu mencapai tempo 2 hari. Itupun rata-rata daya yang tersisa masih sekitar 25%-nya. Tak lupa terkait harga yang tergolong murah apabila dibandingkan dengan ponsel dalam rentang harga serupa.

Artinya, untuk sebuah ponsel berjaringan CDMA, bolehlah saya merekomendasikan Motorola Q CDMA sebagai teman baru bagi yang berminat mengganti ponsel saat ini.