Lokasi Terbaik dan Strategis Untuk Menginap di Hotel Singapore

Category : tentang PLeSiran

Singapore telah menjadi destinasi wisata yang terpopuler beberapa tahun belakangan ini. Gak hanya karena harga tiket ke Singapore yang murah, tapi juga karena disana terdapat berbagai macam tempat wisata yang luar biasa. Seperti contohnya Universal Studio Singapore, Merlion Park, Little India dan masih banyak lagi.
Namun, jika anda tidak berhati-hati dalam memilih tempat anda menginap, resikonya liburan anda akan berantakan. Persiapan yang matang sebelum liburan sangat penting disini, mulai dari cari tiket pesawat ke Singapore, lokasi wisata yang akan anda kunjungi, hingga tempat menginap yang nyaman selama anda bermalam disana.

Dari beberapa hotel di Singapore yang terkenal, kami telah merangkum daerah dan hotel yang strategis dan nyaman untuk bermalam. Penasaran apa saja? Ini dia list hotel di Singapore sebagai referensi anda:

Pulau Sentosa (Sentosa Island)

Pulau ini merupakan daerah yang sangat terkenal di Singapore karena disini terdapat tempat wisata yang sangat popular, yaitu Universal Studio Singapore, Maddam Taussad, dan lain-lain. Pulau ini terletak di daerah selatan Singapore.
Karena basicnya pulau ini adalah Resort, maka harga hotel disini juga bisa dibilang cukup mahal. Beberapa hotel di daerah ini adalah Hard Rock Hotel, Le Meridian Hotel, Michael Hotel, Festive Hotel, Amara Sanctuary Resort, dan masih banyak lagi

Kawasan Marina

Pada dasarnya daerah ini merupakan daerah pusat bisnis (Central Business District) yang banyak dipadati oleh penduduk, tapi karena di daerah ini terdapat banyak tempat menarik jadi banyak turis yang lebih memilih menetap di daerah ini.
Terdapat hotel dengan berbagai bintang, mulai dari bintang 3 sampai bintang 5.
Mereka rata-rata menjual lokasi hotel mereka yang strategis dan menghadap ke Marina Bay, sehingga pemandangan yang diberikan memang sangat indah terutama pada malam hari. Pada malam hari, anda bisa melihat cahaya dari bintang-bintang di langit yang berlandaskan penerangan gedung-gedung bercahaya membuat pemandangannya tak terkalahkan.
Beberapa hotel yang terkenal di daerah ini adalah Marina Bay Sands, Marina Mandarin Hotel, Cariton Hotel, Raffles Hotel, dan masih banyak lagi.

Orchard Road

Anda belum afdol kalau ke Singapore tapi gak mampir ke daerah Orchard Road. Tempat ini adalah surganya belanja, jadi buat kalian yang membawa pacar diharapkan hati-hati dompet anda bakal kurang gizi, hehe. Hampir di sepanjang jalan terdapat mall-mall mewah dan toko-toko pernak-pernik yang bisa anda jadikan oleh-oleh.
Tempat ini juga terkenal dengan hotel-hotel di daerah ini karena biasanya orang-orang setelah berbelanja ingin langsung ke hotel tanpa ribet membawa barang-barang mereka ke penginapan. Salah satu tempat yang paling popular di jadikan tempat menginap adalah apartement Lucky Plaza yang bisa disewa perharian.
Beberapa hotel yang paling terkenal di daerah ini adalah Shangri-La Hotel, Holiday Inn Singapore, Mandarin Orchard Singapore, Grand Hyatt Singapore, Singapore Marriot Hotel, dan masih banyak lagi.

Ketiga daerah diatas adalah top 3 daerah yang paling digemari oleh wisatawan untuk menginap. Sebenarnya masih banyak lagi hotel di Singapore dan lokasi yang bisa dijadikan tempat menetap dan biasanya harga hotelnya juga jauh lebih murah dibandingakan daerah diatas, diantaranya adalah : Little India, Chinatown, Bugis, dan lain-lain. Pastikan anda sudah memperkirakan budget untuk hotel di Singapore tempat anda menginap nanti, jadi anda bisa mencari informasi hotel sesuai dengan isi kantong.

Kalau anda gak mau report memilih hotel, tempat wisata dan akomodasi lainnya, mungkin anda bisa menyewa jasa paket tour yang terpercaya. Sekarang banyak sekali penyedia jasa onlive travel yang murah-murah dan berkualitas bagus.

Semoga aritkel ini bisa menjadi referensi bagi anda yang berencana liburan ke Singapore dalam waktu dekat. Jika ada pertanyaan anda bisa comment dibawah, atau ingin sekedar sharing juga silahkan. Selamat berlibur!

Catatan dari Singapura

Category : tentang PLeSiran

Tidak ada kendala yang berarti sebenarnya ketika Petugas Imigrasi yang dihadapi kali ini meminta saya untuk membuka kacamata hitam, lalu memicingkan mata dan meyakinkan bahwa wajah yang ia lihat memang sesuai dengan foto yang ada dalam paspor. Sempat terbersit untuk bertingkah ala mister Bean yang beraksi dengan wajah lucunya, tapi mengingat reaksi yang kemungkinan bisa didapat, sayapun mengurungkannya. Apa daya yang bermasalah bukanlah saya. He…

Pak Nyoman Murdana, salah satu peserta rombongan ditarik ke ruang Interogasi oleh petugas setelah mereka kaget saat melakukan pemeriksaan di gate pertama pasca pendaratan pesawat. Usut punya usut ternyata PakMan salah menjawab formulir Embarkasi yang diisi didalam pesawat tadi dengan pilihan ‘yes’ untuk pertanyaan ‘apakah Anda pernah dilarang masuk ke Singapura ?’ -tentu dalam bahasa Inggris- hehehe… pantesan saja jika ia digiring dan ditanyai. Syukurnya ada petugas yang bisa berbahasa Melayu, karena PakMan gag fasih berbahasa Inggris.

PanDe Baik Singapura 04

Selain kabarnya dilarang menjual permen karet di outlet outlet yang ada diseputaran Singapura, ternyata pada area wilayah tertentu terdapat juga Edaran atau Himbauan kepada para pedagang untuk tidak menjual Beer dan Minuman beralkohol lainnya kepada Konsumen, diatas jam 8 malam pada hari Sabtu dan Minggu. Rencana mentraktir staf pun batal karena usaha untuk mencari Beer di luar area wilayah tersebut pun kandas setelah diinformasikan bahwa dalam Edaran tersebut, dilarang membawa minuman beralkohol dari luar wilayah masuk ke area pada waktu yang sama. Kalau melanggar, cctv siap merekam dan mengeluarkan ‘surat cinta’nya. Ealah…

Kebiasaan Sopir Taksi tembakan yang kami pesan melalui pihak Hotel sebetulnya sudah terbaca saat ia mengatakan bahwa ‘karena kami Turis, maka kami harus membayar dobel dari tarif argo yang dikenakan. Pas mau berargumen lebih jauh dengan mengandalkan bahasa Inggris yang pas-pasan, sang sopirpun menekan satu tombol di Argo Taksi yang menunjukkan nilai dua kali lipat menjadi $ 22 untuk jasa yang ia berikan mengantarkan kami dari hotel menuju Orchard Road. Sialnya, saya lupa minta struk atau notanya. Sehingga uang sebesar $ 11 melayang seiring kepergian Mr.Lee, sopir taksi lokal yang mengaku produk original Singapura.

Menyusuri jalanan di sepanjang Orchard Road menjadi catatan terakhir yang bisa disharing, lumayan memberikan bulir keringat hingga satu setengah jam kemudian baru sampai di hotel yang kami tinggali selama berada di Singapura. Gara-garanya ya aksi tertipu tadi, dan juga keingetan cerita Tour Guide yang menyampaikan bahwa hanya butuh waktu 15 menit perjalanan untuk bisa menggapai hotel. Mungkin waktu dimaksud adalah waktu tempuh dengan kendaraan kali ya ? He…

Sehari di Singapura

Category : tentang PLeSiran

Mungkin ada benarnya akan apa yang dikatakan oleh Tour Guide kami selama menemani perjalanan sehari di Singapura. Bahwa dengan gaji yang sebesar $ 3000 atau sekitar 27 Juta rupiah sebulannya, gag bakalan cukup untuk hidup di Singapura dengan bergaya menengah ke atas, atau minimal berkendaraan roda empat. Mengingat secara harga rata-rata kebutuhan sandang, pangan dan papan disini terpantau sekitar dua tiga kali lipatnya harga di Indonesia. Pantesan saja wisman yang main ke Indonesia adem tentrem meski profesi di daerah asalnya cuma seorang tukang cuci. Mih…

Bayangkan saja. Untuk sebuah air mineral ukuran tanggung ada di kisaran 12ribuan per botolnya. Sedang yang ukuran besar sekitar 22ribu. Untuk minuman teh ukuran tanggung ada di kisaran 45ribuan, harga yang sama dengan sekaleng beer. Dan yang paling bikin kaget beberapa kawan adalah harga sebungkus rokok seratusan ribu. Hihihi… kena deh mereka.

Belum lagi kalo ngomongin soal pajak kendaraan roda empat yang beragam. Dari yang senilai $ 90 hingga $ 1.600 an untuk model sedan. Nilai itu dihitung selama enam bulan. Weleh… tekor maneh dah…

Tapi biarpun begitu, sehari berada di Singapura ternyata cukup bikin mata tercengang, mengingat jenis kendaraan yang bersliweran rata-rata berjenis sedan mewah dari Audi, Porsche hingga Lambho dan Bentley. Sedang kendaraan yang paling mahal yang saya tahu selama berkeliaran di Orchard Road adalah… Toyota Avanza. Karena saya ngeliatnya hanya ada satu biji saja selama liburan di Singapura kemarin. Hehehe… becanda.

PanDe Baik Singapura 1

Sehari berada di Singapura, jadi paham bahwa jadi agak menyesal juga mengapa Bangsa Indonesia dahulu dijajah oleh Belanda, bukan Inggris. Karena meskipun mereka gag punya sumber daya alam yang berlimpah, alam yang memukau dan budaya yang unik, tapi malahan mampu tampil terdepan dari segi jualan Hiburan dan tradisi Shopping-nya itu. katanya juga sih sampai air mineral pun mereka impor dari negara tetangga, Malaysia dengan perjanjian hingga sekian tahun kedepan terkait pasokannya. Juga ikan dan pasir buat nambah-nambah reklamasi *eh

Singapura itu seperti kumpulannya semua objek wisata menarik hati para pengunjungnya. Dikemas dengan serius, menjadikan semua objek itu masuk dalam daftar kunjungan kami dan memaksa setiap pengunjungnya untuk menyumbangkan dollar demi dollar yang dimiliki. Sampe habis jika perlu.

Dari sekedar souvenir baju kaos, gantungan  kunci, selendang, topi, boneka hingga cokelat dan pernak pernik unik lainnya. Baik yang asalnya dari Pasar Bugis, Mustafa atau Kampung India, Kampung Arab hingga Chinatown dan tentu saja Orchard Road dan Universal Studio. Semuanya dijamin bakalan menguras satu persatu lembar dollar yang kalian miliki, dari pecahan $2, $5, $10 hingga $50, bahkan jika perlu pecahan koin $1, 50 sen, 20 sen, 10 bahkan 5 sen pun berarti jika sudah kejepit. He…

Saya pribadi pada akhirnya membeli satu dua oleh oleh yang diperuntukkan bagi kedua putri kecil, istri dan ponakan. Sisanya cukup berupa cokelat. Tanpa gantungan kunci atau pemotong kuku.

PanDe Baik Singapura 2

Sudah begitu seperti halnya perjalanan ke Thailand terdahulu, opsi untuk mengganti kartu sim card lokal selama berada di Singapura, memang masih pilihan yang terbaik. Jauh lebih baik ketimbang ngotot menggunakan kartu sim milik sendiri yang dikenai biaya sms sebesar 5.000 rupiah per sms-nya dan 15.000 rupiah untuk voice call per menitnya. Dengan harga kartu sim lokal dan pulsa sebesar $ 10 Singapura, saya menyisakan beberapa dollar untuk diberikan kepada beberapa kawan agar bisa menghubungi istri tercinta plus menghambur-hamburkan data plan berukuran 1 GB selama berada du Singapura. Jadi Terima Kasih untuk SingTel.

Kemudian soal Hiburan Malam, seingat saya Singapura tidak memiliki lokasi khusus macam Pattaya yang menjual Alcazar Show atau tayangan vulgar Big Eyes, hanya semacam Lokalisasi (semoga informasi yang saya dapatkan ini salah besar) macam Red District yang dinamakan Geylang. Namun karena dalam jadwal yang kami tentukan lokasi tersebut tidak masuk dalam daftar, sepertinya sih mohon maaf jika tidak saya bahas lebih mendalam. *uhuk

Namun jika berbicara soal Hiburannya, saya bersyukur bisa mencicipi salah satu atraksi menantangnya yaitu SkyRide yang sepaket dengan Luge atau go kart mini menuruni bukit dengan tiket sebesar $ 15 sembari menunggu waktu Wings of Time dimulai, sehingga apa yang kami jalani selama di Singapura gag sedatar yang kami kira sebelumnya. Jadi ya…

Kapan kita balik lagi nih, ke Singapura ?

*hayooo nabung lagi kawan

Flight to Singapore with Air Asia GZ 502

Category : tentang PLeSiran

Kali Ini saya kembali menjelajah perjalanan ke luar negeri, setelah sekian lama mandeg untuk tujuan liburan. Kalo gag salah terakhir saya mengunjungi Thailand bersama rombongan teman kantor, selama empat hari tiga malam lamanya. Adapun kesan yang mendalam saat itu adalah Kuliner (laba-laba, babi, buaya dan kelabang), Hiburan Malam Pattaya (kabaret dan Big Eyes), serta durian bangkoknya.

Dengan menggunakan bekal tabungan yang kami kumpulkan sejak tahun lalu, akhirnya weekend terakhir bulan November ini kami menyepakati untuk memilih Tujuan destinasi ke Singapore, negeri Singa.

Terbang bersama Air Asia

Jika dahulu kami menggunakan pedawat Airbus Thai Airways menuju kota Bangkok, kinipun masih sama menggunakan pesawat berjenis Airbus milik Air Asia, namun dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit jumlahnya. Setidaknya baris tengah sekitar 4-5 penumpang tak ada kami lihat di tempat duduk pesawat.

Singapura PanDe Baik 1

Pertama kali menumpangi Air Asia tentu saja banyak kekhawatiran yang hinggap jauh sebelum jadwal keberangkatan ditentukan. Maka itu untuk menenangkan pikiran, sayapun sempat browsing di beberapa halaman hasil rekomendasi Google. Hasilnya tentu gag jauh berbeda.

Soal Jadwal keberangkatan, Air Asia tergolong tepat waktu pada penerbangan dengan menggunakan nomor QZ 502 pagi ini. Pukul 6.15 kami dipanggil, lalu tanpa banyak proses pesawatpun tinggal landas.

Saya pribadi menempati kursi 4B, kursi yang katanya tergolong Premium hingga baris kelima. Ciri khasnya, secara lebar lebih nyaman ketimbang yang lain, demikian pula soal selonjoran. Namun kategori Premium sebagaimana julukan pada seat yang bagian kepalanya dibungkus kulit berwarna merah ini, gag sepadan dengan menu makanan yang rupanya harus dibayarkan. Asem tenan… persis sama dengan pengalaman yang disampaikan para kawan di blog mereka tadi itu. Saya pikir karena ini Premium, maka makanan ya Free of Charge. He… ternyata tidak. Tapi gag masalah sih, lantaran sedari awal sudah berbekal ilmu dan pengalaman dari Google.

Pengalaman pertama ini jadi sedikit lebih unik lantaran beberapa pramugari yang ada di dalam kabin, tak seramah maskapai sebelah saat melayani penumpang yang meminta minum saat mereka menikmati menu edisi terbatas ini. Mungkin karena merasa kesal akibat menunggu penumpang yang terlalu lama merogoh kocek untuk biaya pembelian makanan. Kaget aja bagi yang terbiasa mendapatkan pelayanan maskapai lain.

Tapi ya sudahlah. Dengan biaya murah, tentu pelayanannya pun bakalan sepadan. Jadi jangan harap dapat pelayanan extra selayaknya maskapai nomor satu di Indonesia yah 🙂

Balik ke topik Singapura, soal apa dan bagaimananya, nanti aja deh saya ceritakan lagi. Berhubung ini kali pertama saya berencana mengunjungi negeri singa. Jadi memang belum tahu isinya apa.

So, sampai nanti yah

Singapura, kami Datang

Category : tentang PLeSiran

Berbekal sedikit pengetahuan dari om Benny Rachmadi lewat komik Tiga Manula, rupanya ada beberapa hal yang ingin dicobain selama berada di Singapura. Salah satu diantaranya, Es Potong. 🙂

Jalan-jalan di sepanjang Orchard Road di hari Jumat malam akhirnya memberikan berkah tersebut. Kalo gag salah kami menemukan dua pedagang Es Potong yang dikerubuti pembeli. Bersama lima kawan, Kamipun tak ingin ketinggalan mencobanya.

Namun ketika mereka tahu bahwa yang dimaksud Es Potong mirip dengan Es Lilin yang kerap kami nikmati di masa kecil dahulu, hanya saya yang tetap tertarik mencobanya. Selain penasaran, tujuan lainnya sih untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan sejak sore tadi.

Menikmati Singapura belum lengkap rasanya jika belum shopping alias belanja. Oke, untuk ukuran kami harga di Singapura lumayan memberatkan karena melonjak dua tiga kali lipatnya, sehingga tempat dimana kami mulai menghabiskan satu persatu lembar dollar Singapura adalah Kampung Bugis dan Mustafa Kampung India. Yang dicari pun masih seputaran baju dan asesoris bertuliskan Singapura, atau yang harganya lebih masuk akal untuk ukuran lokal. Sementara sih baru itu saja yang kami tahu. Sedang Orchard Road ? Hmmm… masih pikir-pikir deh.

Seperti biasa, Kuliner adalah satu yang masuk daftar uji saat berkesempatan jalan-jalan atau tugas dinas keluar kota. Tapi sepertinya Singapura gag banyak memiliki makanan khas seperti halnya Bangkok lewat makanan ekstremnya. Selain itu sebagaimana yang dikatakan tadi, harga juga menjadi salah satu perhitungan sebelum memutuskan untuk membelinya. Katakanlah untuk seplastik kecil potongan buah Nangka segar, harganya ditawarkan sekitar $3 atau 28ribuan. Sementara air mineral ukuran tanggung sekitar 10ribuan sementara yang besar sekitar 21ribuan. Pantas saja sopir guide kami mengatakan bahwa dengan gaji $2000 – $3000 rasanya susah untuk bisa hidup mewah dengan kendaraan roda empat di Singapura. Beda dengan Indonesia.

Singapura PanDe Baik 2

Tapi jika dicermati, selain Singapura dikenal sebagai surganya belanja, mungkin lebih tepat diberikan julukan tambahan sebagai surganya mobil mewah. Padahal secara pajak dan bahan bakar rasanya cukup tinggi dikenakan oleh pemerintah setempat. Tapi tetap saja kendaraan Lambo dan Porsche kerap dijumpai di sepanjang jalan, utamanya seputaran Orchard Road itu. Belum lagi Taxi yang berlalu lalang menggunakan standar kendaraan menengah ke atas, pun yang bikin kaget adalah salah satu jenisnya dari branded Bentley. Ya Ampuuun…

dan rasa rasanya lagi, Singapura itu mirip dengan Jepang, kota serba cepat. Dimana orang-orangnya pun seperti terbiasa bergerak mengefisienkan waktu. Beda dengan kami yang masih bisa berjalan santai di tengah keramaian. Makanya kerap mendapat teguran dari yang lainnya.

Ohya, dari tadi saya belum melihat satupun pengemis di kota ini. Entah memang sudah habis ditangkapi oleh Dinas Sosial dan Satpol PP layaknya di kota kami atau memang mereka lebih diberdayakan untuk berusaha sendiri lewat jalan lain. Seperti yang kami lihat di beberapa tempat dekat traffic light. Bapak-bapak yang berada dalam kondisi tidak sehat, entah akibat penyakit, bawaan atau usia, berusaha menjual tissue dan sejenisnya diatas kendaraan roda tiga sambil mengharapkan ‘sedekah’ dari para pejalan kaki yang lalu lalang di sekitarnya. Masih lebih baik dari lingkungan kami. Setidaknya mereka diselubungi dengan usaha menjual sesuatu.

Demikian beberapa catatan awal saya selama seharian kurang berada di Singapura. Mungkin nanti setelah menjelajah di beberapa objek wisata lainnya, baru deh bisa cerita lagi. Jadi, sampai nanti.

Pagi di Singapura

Category : tentang PLeSiran

Matahari belum menampakkan wajahnya saat aku terbangun dari tidur. Padahal Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Di jam yang sama Kota Denpasar sudah terang benderang memaksa semua kepala segera mandi dan berkemas pergi.

Usai membersihkan badan, tampaknya beberapa kawan sudah mulai menceburkan diri ke kolam renang yang kebetulan ada di belakang kamar 401 sampai 405. Di pojokan lantai yang sama terdapat pula ruang kecil berisikan tiga alat Gym dan treadmill. Dan di sisi yang berlawanan terdapat perosotan mini tempat bermain anak-anak.

Singapura PanDe Baik 9

Beberapa Notifikasi Whatsapp masuk. Suara Mirah dan Intan, dua putri kami terdengar nyaring seperti biasanya meminta oleh-oleh dan menanyakan kapan pulang. Lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah dengan diantar Ibunya. Rutinitas yang biasanya aku lakukan bersama Intan.

Kopi Tora Bika sudah habis kuteguk. Waktupun sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Waktunya sarapan.

Mengintip Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura yuk

Category : tentang SKetSa

Cover depannya ‘Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura’ karya Benny Rachmadi dari duo Benny dan Mice

Awal mula kisah ‘Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura’

Noraknya Waluyo dengan Minyak Angin di Pesawat Terbang

Berbagai Tujuan orang berangkat ke Singapura, lengkap dengan kutilan Istri Bupati dan ‘melarikan diri lantaran gag ada Ekstradisi :p

‘Enggak Belanja kok… kan Cuma 2 hari ? :p

Mencicipi Kuliner “KFC” di Singapura

Dan es krim potong ala sandwich-nya

Kisah pe-Rokok yang di-Legal-kan, lumayan mendapat porsi lebih

Dan tentu saja kisah ‘mengembik di kandang Harimau’ lantaran begitu rasa bangganya pada perangkat bernama BlackBerry :p

Mau Jalan-Jalan ke Singapura ? Baca ini dulu :p

2

Category : tentang SKetSa

Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura

Satu lagi komik khas buah karya sang maestro Benny Rachmadi dari duo Benny dan Mice, yang sekiranya dapat menjadi bacaan wajib bagi mereka yang kelak ingin melakukan perjalanan baik itu untuk keperluan berobat, belanja, bisnis pekerjaan atau bahkan melarikan diri menuju negara tetangga nan megah, Singapura.

Mengisahkan tiga tokoh utama bernama tokoh Sanip seorang Manula penyayang Ayam, Waluyo Pemuda masa lalu asal Tingal, sebuah daerah yang tidak ada dalam peta, dan Liem seorang pengusaha keturunan yang memiliki bisnis apa saja yang penting ‘aku senang aku menang’. :p

Berawal dari bisnis Tablet Android mbah Liem yang untung gede, diceritakanlah ia mentraktir dua Manula Sanip dan Waluyo untuk Jalan-Jalan ke Singapura. Maka dengan guyonan khas Benny Rachmadi sejak awal buku-buku sejenis dirilis, sudah bisa ditebak arah alur cerita yang ingin disampaikan. Mulai dari kisah mereka bertiga menjelajahi Singapura dari berbagai sudut hingga fakta-fakta yang ada pula aturan dan larangan yang diterapkan.

Meski sudah bisa ditebak, namun banyolan yang dilontarkan itu pas banget menusuk hati dan jantung para pecinta ‘Singapura’ asal lokal lengkap dengan kelakuannya. Dari penggunaan minyak angin didalam pesawat terbang, hobi shopping barang bermerek padahal kalopun diburu didaerah sendiri dapetnya ya 11-12 lah, berburu kuliner pinggiran, mengembik di kandang harimau lewat ponsel BlackBerry terbaru yang begitu dibanggakan, hingga tawar menawar ala SingLish (Singapura English).

Buku yang dikemas dalam format Landscape khas karya duo Benny dan Mice ini disajikan dalam bentuk komik strip dan full halaman dua warna dan beberapa pula full color. Secara ide yang sudah terlihat asyik sejak awal, makin jadi saat masuk hingga pertengahan dan jelang usai komik. Bagi yang kelak ingin berjalan-jalan ke Singapura, saya rekomendasikan agar menikmati buku ini dahulu untuk merilekskan pikiran disamping memahami pula aturan dan larangan yang diterapkan dalam bentuk kartun yang menggelitik. :p