HaLo, ini siapa yah ?

7

Category : tentang TeKnoLoGi

‘tulat tulit tulalit…’ ponsel saya berbunyi. Nomor yang tak dikenal…

‘HaLo, Pak Sudana ? bagaimana dengan pesanan kami kok blom dikirim ya ?’ ceplas ceplos si penelepon langsung ketika panggilan saya terima. ‘Pak Sudana ? Siapa niy ya ?’ tanya saya…

‘Pak, tolong pesanan saya dikirim segera. Saya tunggu hari ini…’ lanjutnya tanpa mendengar pertanyaan saya. Oke deh… that’s mean si penelepon gak memperhatikan kata-kata saya. Saya pun biasanya milih diam dan menunggu reaksi si penelepon.

‘Pak Sudana ? HaLo… HaLoooo…’ –diam…- hubungan terputus…


He… Kejadian macam begini bukan sekali dua saya alami. Bukan Cuma saya yang mengalami, tapi juga beberapa rekan pernah berkisah sama. Saat rekan saya seorang ibu muda yang gaptek, menghubungi ponsel suaminya, lah, kok ngangkat malahan suara cewek ? bagaimana ini ?

Maka perangpun terkadang tak terelakkan, begitu mereka berdua nyampe rumah dan bertemu. Si Ibu ngotot bahwa sang suami selingkuh, sedang si suami kukuh kalo Istrinya gak ada nelpon kok. Saya yang ditanyakan masalah begituan sih cuman bisa senyum-senyum.

Entah kenapa ya, kok bisa begitu ? padahal jelas-jelas kita menghubungi nomor yang sudah tersimpan dalam memory ponsel, jadi kesalahan bisa jadi minim terjadi, tapi kenapa yang ngangkat kok orang lain ?

Apa ini salah satu efek negatif yang ditimbulkan dari perang tarif ‘paling murah tanpa bayar’ yang digaungkan para operator di negeri ini ? Sehingga masyarakat saling berlomba untuk mengganti kartu perdana mereka dengan yang ‘nelpon berkali-kali, GRATIS !!!’

Apakah tidak ada yang peduli dengan nasib konsumen yang dirugikan ?

Tower Penguasa

Category : tentang Opini

Pernah melintas di jalan Kebo Iwa Utara ? setelah komplek Rumah Jabatan Kepala Dinas maupun Bupati dan jajarannya, trus ke arah Utara, didepan Masjid, lihat kearah timur…
Disitu terpancang tower yang barangkali digunakan untuk kepentingan BaliTV dalam mengudarakan siarannya.
Tower yang begitu tinggi menancap sementara lingkungan sekitarnya masih berupa sawah.

Pernah melintas di Jalan Nangka Selatan ? di tikungan terakhir sebelum Jalan Patimura, di belakang Altara Spa, disamping rumahku ? hehehe…
Ada satu tower sejenis dengan ketinggian 75 meter, dibangun untuk mengudarakan nomor seluler 082~ atau yang lebih dikenal sebagai Telesera.

Awal produk ini muncul, begitu menggebu-gebu dan salah satu kakak sepupu terbujuk untuk membeli telepon ini dan memakai nomor awalan 082~. Namun usianya gak lama, sinyal yang diharapkan gak muncul-muncul sampai dilibas oleh operator lain macam Telkomsel atau Indosat.

Yang aku bicarakan bukanlah teknologi maupun jaringan yang dipakai, namun bagaimana proses kok bisa tower setinggi itu terpancang begitu angkuh ditengah-tengah pemukiman, tanpa tahu kapan tower itu akan dibongkar.

Saat awal pembangunan sebenarnya sudah mengundang kontroversi gara-gara suara berisik pekerja yang lembur malam hari mengganggu keluarga sekitar tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Gak jarang baik batu bata, besi balok maupun benda-benda lainnya meluncur begitu deras secara tiba-tiba kearah pekerja dimalam hari dari arah tetangga sekitarnya tentunya, dan sempat menghentikan pekerjaan untuk ementara waktu.

Yang membuat tercengang tentu saja saat tau kalo yang dibangun adalah tower dengan ketinggian 75 meter tanpa adanya pemberitahuan kepada masyarakat sekitarnya.

Setelah selesai dibangun, protes masyarakat pun melimpah, namun ditanggapi dingin oleh pemilik tower.
Itu berlangsung hingga sampai pemilik tower akhirnya memberanikan diri mencari ijin pembanding dengan masyarakat sekitarnya.
TENTU DENGAN IMING-IMING ASURANSI KEMATIAN.
HWARAKADAH !
Kok begitu ?

Sampai kini, masyarakat sudah lelah bertanya-tanya tentang keberadaan tower tersebut. Mencari tahu ke Tata Kota Denpasar, mereka malah berkata ntu tower gak ada ijinnya.
Tapi kok bisa sampe dibangun selesai ?

Terus, kami harus mengadu kemana ?