iPad dan iPhone Simulator ? Enggak Deh…

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Hanya gara-gara penasaran dengan pengalaman menjajal Simulator Development produk iPad dan iPhone, sayapun kembali berburu kedua aplikasi tersebut di dunia maya. Namun, seperti halnya tulisan saya terdahulu terkait iPhone Simulator yang hanya sekedar animasi, kali ini pun saya kembali menelan pil pahit. Rupanya Simulator yang dimaksudkan disini memang hanya sebuah simulator dengan sekian banyak keterbatasan.

Untuk bisa menjalankan kedua aplikasi ini pada PC, dibutuhkan aplikasi Adobe Air sebagai dasar pijakannya. Adobe Air sendiri bisa didapatkan di halaman web resmi milik Adobe secara Gratis. Untuk Simulator iPad hanya berukuran 1,289 MB saja sedangkan Simulator iPhone sedikit lebih besar sekitar 4,250 MB.

Mengingat ukuran kedua Simulator ini cukup hemat dibandingkan Simulator system operasi atau perangkat lainnya, kemampuannya pun tergolong hemat dan ‘sangat menggemaskan’. Hehehe…

Simulator iPad hanya bisa digunakan pada fitur atau icon Browsernya saja. Itupun fungsi daripada browser ini tidak lebih dari hanya untuk memperlihatkan halaman web secara tampilan iPad. Tidak berlaku untuk aktiftas jari (dalam hal ini mouse) untuk mencubit, typing dan lain sebagainya. Jadi bagi yang penasaran dengan bagaimana tampilan halaman blog www.pandebaik.com dalam layar iPad, silahkan mencobanya langsung. Sayangnya, ketika layar dirotasi menjadi landscape, tampilan halaman tidak ikut berubah rotasinya. Jadi Mengingatkan saya pada video amatir artis Indonesia beberapa waktu lalu. Untuk bisa mengoperasikannya dibutuhkan koneksi internet tentu saja. Bagi saya pribadi, ketimbang dijadikan aplikasi, bukankah sebaiknya dibuatkan dalam bentuk sebuah halaman blog ? lebih mudah, lebih simple dan jelas tidak mengecewakan.

Mengecewakan dalam hal mencoba Simulator iPad, makin menjadi ketika saya mencoba Simulator iPhone. Namun untuk kali ini masih tergolong mending ketimbang animasi iPhone Simulator seperti yang saya tuliskan terdahulu. Hanya saja, untuk mencoba fitur ponsel (calling) yang ada dalam aplikasi Simulator ini, pengguna diwajibkan mendaftar dahulu pada satu layanan Ribbit. Wah, ribet banged.

Selebihnya, hampir tak ada layanan lain yang bisa digunakan seperti halnya App World dalam Simulator BlackBerry 9800 Torch Misalnya atau bahkan fitur Browser yang benar-benar mampu menampilkan Update Status berlogo BlackBerry.

Dua kali kecewa hanya lantaran penasaran ingin mencoba Simulator produk yang kabarnya paling keren sejagat ini, barangkali lebih baik saya mencoba produk aslinya saja langsung. Ada yang berminat meminjamkannya ? iPad 3G ? iPhone 4 ? atau sekalian menghibahkannya juga boleh. :p

Uji penggunaan Nokia C3 lewat SDK S40 6th Edition

4

Category : tentang TeKnoLoGi

Seperti yang pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya perihal Nokia C3 ponsel QWERTY murah yang tidak murahan, sistem operasi yang digunakan dalam ponsel tersebut adalah Symbian S40, yang artinya kurang lebih hanya mendukung aplikasi tambahan berbasis Java saja.

Bagi yang pernah memiliki ponsel Nokia versi jadul berbentuk candybar (baca: batangan), saya kira tidak akan merasakan banyak kesulitan dalam penggunaan ponsel Nokia C3 ini. Hanya perlu sedikit penyesuaian berkaitan dengan barisan keypad dan juga pemakaian simbol serta karakter tertentu. Namun apabila belum juga yakin dengan menu Symbian S40 ini, sebelum memutuskan untuk membeli, bisa mencobanya terlebih dahulu dengan mengunduh aplikasi Emulator SDK S40 6th Edition melalui Forum Nokia. Ukurannya kurang lebih sekitar 122 MB setelah di-extract.

Ada beberapa pembaharuan pengoperasian aplikasi apabila disandingkan dengan Emulator SDK 40 3rd Edition terdahulu (dimana untuk edisi 3rd  ini digunakan pada ponsel Nokia batangan rilis tahun 2008/2009 seperti 5300 atau 6275i), diantaranya yaitu akses layar sentuh pada layar ponsel emulator yang sedianya bakalan dirilis dalam versi resminya yaitu seri X3-02. Hal ini jauh lebih mengasyikkan ketimbang mengakses menu dengan menekan tombol navigasi (melalui perantara tombol kiri pada mouse).

Dibandingkan dengan Menu yang terdapat pada layar Nokia C3, Emulator SDK S40 6th Edition ini hanya menyajikan 8 (delapan) dari 12 (dua belas) icon yang tampil secara default dalam setiap ponsel C3. Adapun 4 (empat) icon yang berkurang mencakup Ovi Mail, Ovi Store, Communities dan Games. Ketika diakses melalui icon Applications/Extras, keempat icon tersebut tidak jua dapat ditemukan. Padahal dalam Menu aslinya (Nokia C3), keempatnya masih dapat diakses melalui jalur yang sama.

Meskipun masih berupa versi Beta Feature Pack 1, beberapa fitur yang terdapat dalam tampilan Menu aplikasi yang Emulator Nokia S40 6th Edition ini dapat dicoba dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Termasuk fitur tetap seperti Calculator, Contact, Calendar dan lainnya. Jadi serasa memegang ponsel Nokia beneran.

Uniknya, fitur Web/Internet yang terdapat dalam tampilan Menu tersebut benar-benar dapat digunakan dengan baik. Ini jelas jauh berbeda dengan Emulator BlackBerry yang dahulu pernah saya coba gunakan. Namun berhasil tidaknya menampilkan halaman web, kembali mengandalkan koneksi Internet yang sedang digunakan.

Update Status FaceBook/Twitter dengan BLackBerry Torch 9800S

28

Category : tentang TeKnoLoGi

Bagaimana caranya membedakan update status via FaceBook for BLackBerry antara yang menggunakan perangkat BLackBerry dengan yang memanfaatkan aplikasi ‘update status via’ seperti yang pernah saya tulis tempo hari ? gampang kok…

Arahkan kursor mouse melalui layar pc atau laptop dan perhatikan alamat url yang dituju oleh tulisan update status via FaceBook for BLackBerry yang biasanya terdapat dibawah status orang yang bersangkutan. Kalau alamat yang dituju adalah facebook.com/mobile/?v=2254487659, itu artinya status di-update melalui perangkat BLackBerry apapun serinya. Namun apabila alamat yang dituju adalah facebook.com/apps/application.php maka bolehlah sedikit curiga dengan update status orang yang dimaksud. Update status model begini biasanya dilakukan hanya untuk gaya-gayaan saja, seperti yang pernah saya lakukan terdahulu. Sisi positifnya adalah, update status bisa dilakukan dengan model via apapun. Mau dengan iPad, iPhone 4, Android, bahkan via mesin ketik, warnet atau kamar mandi pun bisa. Tergantung kreatifitas pikiran.

Trus, kira-kira ada gak ya cara untuk update status via FaceBook for BLackBerry tanpa harus membeli atau memiliki perangkat BLackBerry yang dikenal dengan harganya yang mahal itu ? tapi gak mengundang kecurigaan siapapun ? ada kok. Gunakan saja BLackBerry Torch 9800S. Sekedar informasi bahwa yang dimaksud BLackBerry Torch 9800 itu adalah rilis terkini yang edar dengan kisaran harga 7 juta (resmi) dan 11 juta (BM). Lah, katanya tidak harus membeli atau memiliki ?

Nah, embel-embel S yang saya sematkan pada seri 9800 diatas adalah Simulator alias aplikasi pc yang biasanya digunakan untuk menguji penggunaan handset oleh para pengembang aplikasi berbasis sistem operasi handset yang dimaksud. Modalnya Cuma satu. Koneksi Internet.

Koneksi internet mutlak dibutuhkan untuk mengunduh dan menjalankan aplikasi Simulator BLackBerry Torch 9800 ini dari situs resmi milik BLackBerry, dengan besaran file 105 MB saja. Aplikasi ini fungsinya kurang lebih sama dengan aplikasi simulator BlackBerry Bold 9000 dan Storm 9500 yang pernah saya tulis terdahulu.

Dibandingkan pendahulunya, Simulator BLackBerry Torch 9800 ini tidak memerlukan aplikasi tambahan lagi untuk dapat memfungsikan web browser secara normal (seperti halnya perangkat BLackBerry secara nyata). Disamping itu, ada juga nilai tambah yaitu telah disuntikkannya secara default aplikasi FaceBook, Twitter, My Space, Yahoo Messenger dan aplikasi jejaring sosial lainnya dalam tampilan Menu yang syukurnya bisa digunakan pula dengan baik. Sayangnya yang namanya fitur BLackBerry Messenger, fitur unggulan dan layanan utama tetap tidak dapat digunakan. Hehehe… maunya…

Hebatnya, aplikasi FaceBook atau Twitter yang saya sebutkan diatas, dapat berfungsi pula layaknya ‘memiliki’ sebuah perangkat BLackBerry secara nyata. Yang saya maksudkan disini adalah untuk ‘update status’ yang dilakukan melalui Simulator BLackBerry Torch 9800 ini rupanya menyajikan alamat url yang sama (baca kembali paragraf kedua tulisan ini) dengan update status yang dilakukan melalui perangkat BLackBerry secara nyata. Ini artinya, seandainya ditelusuri oleh orang lain (melalui alamat url yang diperlihatkan dalam keterangan update status) pun update status yang dilakukan melalui aplikasi Simulator BLackBerry Torch 9800 tidak akan ketahuan bahwa sesungguhnya ‘tak satupun perangkat BLackBerry ada di tangan. Huahahahaha…

Dengan memanfaatkan Simulator BLackBerry Torch 9800 inilah, beberapa update status yang saya rilis satu minggu terakhir kelihatannya jadi makin mentereng, lantaran menyematkan update status via FaceBook for BLackBerry yang kalo diperiksa akan mengarah pada alamat url facebook.com/mobile/?v=2254487659. Surprise bukan ?

*

Saya menemukan (lebih tepatnya lagi, mendapatkan) BLackBerry Torch 9800S (simulator) ini saat Pelatihan di kantor LPSE Propinsi hari Jumat lalu, sesaat setelah mendapatkan newsletter dari pihak BLackBerry.  Melalui tulisan diatas pula, (sekali lagi) saya memohon Maaf pada Rekan-rekan yang begitu antusias meminta nomor PIN perangkat BLackBerry Torch 9800 dan juga yang begitu antusias ingin membelinya. Hihihi… *kabur ah…

Nikmatnya Android 1.5 CupCake

1

Category : tentang TeKnoLoGi

Tidak banyak kesulitan yang saya hadapi ketika mencoba sistem operasi Android yang diadopsi Samsung I5700 Galaxy Spica tempo hari. Saya katakan demikian karena sebelum memegang dan meng-explore Samsung Spica tersebut, saya berkesempatan menjajal sistem operasi versi 1.5 atau yang dikenal dengan kode CupCake melalui laptop.

Sistem Operasi Android 1.5 CupCake ini sebenarnya hanyalah sebuah emulator atau software yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin membuat dan mengembangkan aplikasi agar bisa berjalan pada Android. Kurang lebih sama dengan yang saya jajal beberapa waktu lalu saat menjajal Windows Mobile baik bertipe Smartphone maupun PocketPC juga BlackBerry dan tentu saja Symbian.

Android versi 1.5 ini dapat dijalankan melalui sebuah pc atau laptop yang berbasis Windows (saya gunakan Vista) dengan bantuan aplikasi Sun Virtual Box, sebuah aplikasi yang mampu menjalankan sistem operasi yang berbeda diatas sistem operasi yang digunakan. Hanya saja untuk dapat menjalankan aplikasi ini dengan baik, diperlukan space hard disk yang memadai serta memory (RAM) yang kelak akan dibagi secara permanen. Aplikasi bantuan ini sebenarnya saya pergunakan juga untuk menjalankan aplikasi LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) yang berbasis Linux Debian.

Ketika Android versi 1.5 CupCake berhasil dijalankan, pengguna akan mendapati tampilan Homescreen seperti gambar diatas. Perilaku yang pernah saya tuliskan sebelumnyapun dapat dilakukan. Demikian pula saat mengakses tampilan Menu dan tentu saja pengaturannya.

Seperti halnya Software Development lainnya yang pernah saya coba, ada beberapa fitur yang tidak dapat diakses seperti halnya menjajal Samsung Spica tempo hari. Namun secara umum pengoperasian Android tetap sama.

Sapuan jari yang dilakukan pada layar ponsel dapat digantikan dengan mouse, tinggal klik kiri dan geser. Demikian pula halnya dengan tap dan tahan untuk memunculkan shortcut atau menghapus icon aplikasi. Sedikit berbeda dengan tampilan Samsung Spica, layar Homescreen ditampilkan secara mendatar alias landscape. Dalam penggunaannya, telah disertakan dua buah games yang dapat dimainkan.

Android versi 1.5 ini dapat diunduh dari alamat berikut (code google) oleh pengguna awam sekalipun dengan dua tahap pengunduhan untuk dua file, yang nantinya kedua file tersebut dapat disatukan dengan menggunakan aplikasi hjsplit yang juga dapat diunduh dari alamat yang sama. Adapun besaran file setelah digabungkan kurang lebih sekitar 180,8 MB dan berupa file yang terkompresi (format iso). File ini dapat dijalankan melalui cd-rom maupun flash disk dengan bantuan aplikasi Sun Virtual Box tadi.

Sekedar informasi tambahan, aplikasi Sun Virtual Box sendiri dapat diunduh dari alamat berikut atau langsung menuju Sun Microsystem dengan besaran file sekitar 74,2 MB.

Berminat mencobanya ?

Symbian 60 Device Simulator Development

Category : tentang TeKnoLoGi

Kecewa dengan iPhone BT, animasi (bukan aplikasi) simulator iPhone yang diperuntukkan bagi pengguna sistem operasi Windows membuat saya tak lagi begitu penasaran untuk mencoba sistem operasi lain yang biasa digunakan sebagai platform sebuah ponsel. Namun untuk menjaga kontinuitas percobaan, kali ini saya mencoba menjajal Symbian 60 yang identik dengan ponsel Nokia seri smartphone. Adapun Symbian yang berhasil saya unduh (download) adalah Symbian 60 1st Edition dan 2nd Edition.

Symbian 60 1st Edition merupakan sistem operasi rilis pertama yang digunakan oleh ponsel-ponsel Nokia bertipe Smartphone sekitaran tahun 2003 lalu. Nokia 7650, 3650, 3660 dan kedua seri N-Gage merupakan ponsel yang mengadopsi platform tersebut. Ciri-ciri yang paling kentara secara default adalah belum didukung oleh fitur Thema dengan memori internal yang minim. Kisaran 3-4 MB kalo gak salah.

Symbian 2nd Edition merupakan penyempurnaan rilis sebelumnya yang kemudian sudah mendukung fitur Thema sehingga pengguna ponsel yang mengadopsi platform ini sudah mampu mengganti tampilan layar maupun menu ponsel sesuai keinginan mereka. Adapun beberapa seri yang dirilis adalah Nokia 6600, 3230, 6670, 6680, 6681 dan 7610.

Untuk file instalasi Symbian 60 1st Edition Device Simulator Development dapat diunduh dalam bentuk terkompresi berformat zip dengan ukuran 101 MB, sedangkan Symbian 60 2nd Edition berukuran 152 MB dari web site resmi milik Nokia. Setelah instalasi masing-masing akan menghabiskan space hard disk sebesar 300-400 MB per Edition.

Secara pengoperasian Menu dan sub menu yang ada didalamnya apabila dibandingkan dengan BlackBerry Device Simulator Development atau Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, untuk Symbian 60 ini bisa dikatakan kurang memuaskan lantaran ada beberapa Menu yang tidak bisa diakses seperti Tools/Pengaturan yang memegang peranan paling besar dalam sistem operasi ini. Sebaliknya apabila disandingkan dengan iPhone BT, jelas jauh lebih baik.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat kemampuan dasar dari sebuah aplikasi Device Simulator Development adalah untuk melakukan pengujian terhadap aplikasi tambahan yang dibuat oleh para pengembang, apakah dapat berjalan sesuai harapan atau tidak. Kendati demikian beberapa fitur yang dimiliki oleh masing-masing rilisan tetap dapat digunakan sebagaimana biasa seperti Messaging, Notepad hingga Kamera yang kemudian memanfaatkan fitur Web Cam sebagai pengujiannya.

Entah disengaja atau tidak, lemotnya pengoperasian platform ini ternyata terjadi juga saat tindakan untuk mengakses fitur atau menu dilakukan. Mirip device aslinya. Hehehe…

iPhone BT Simulator hanya sekedar Animasi perangkat iPhone

11

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah sukses mencoba menjalankan dan menjajal kemampuan BlackBerry Device Simulator Development dan Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development kini giliran berburu iPhone Device Simulator Development. Tujuannya ya tiada lain hanya ingin tahu seperti apa sih sistem operasi yang ditanamkan pada iPhone tersebut ? Kan tempo hari sudah pernah mencoba langsung menjajal iPhone 3G ? hehehe…

Setelah bolak balik mencari di mbah Google, ternyata apa yang saya harapkan tidak dapat terwujud berhubung iPhone Device Simulator Development yang disediakan hanya dapat dijalankan pada sistem operasi Mac, bukan Windows. Kendati demikian untuk mengobati rasa penasaran pengguna sistem operasi Windows, seorang Shaun Sullivan berkenan membagi sedikit pengetahuannya terkait iPhone Device Simulator yang dinamakan iPhoneBT. Sebuah aplikasi berukuran 8,44 MB yang difungsikan sebagai simulator dari sebuah device iPhone untuk pengguna sistem operasi Windows.

Kecilnya ukuran file (tak sampai 10 MB-bandingkan dengan simulator yang lain minimal 75 MB) membuat saya ragu apakah benar aplikasi ini akan dapat berfungsi sebagaimana layaknya sebuah Device Simulator yang dapat diotak-atik hingga ke sub menu terdalam ataukah hanya sebuah installer seperti halnya Google Earth 5.0 yang kemudian memaksa penggunanya menginstalasi aplikasi secara online ?

Setelah mengeksekusi aplikasi ini barulah keraguan saya terjawab. File ini bukanlah sebuah file installer melainkan sebuah aplikasi yang sudah ‘jadi’ dan pengguna tinggal menggunakannya tanpa perlu menunggu waktu lama. Tidak seperti kedua Simulator Device sebelumnya, iPhone BT tidak memerlukan waktu start-up untuk memulai sistem operasi siap dijalankan.

Kesan pertama dari aplikasi ini adalah ‘this is iPhone’. Tampilan layar aktif atau deretan icon Menu memang sesuai device aslinya, demikian pula saat mencoba kembali ke layar utama dengan menekan satu-satunya tombol yang ada dibawah layar. Tak hanya itu, diberikan pula opsi untuk mengunci dan membuka layar yang dikenal dengan teknologi ‘Slide to Unlock’. Benar-benar seperti memiliki sebuah device iPhone.

Tapi sayang kekaguman saya tidak berjalan lama lantaran ketika mencoba untuk mengakses icon Menu, tampilan layar hanya berubah sampai tampilan dari Menu yang dipilih. Tidak ada pilihan untuk opsi ‘Option’, seperti halnya kedua simulator lainnya, tidak ada area interaktif yang dapat digunakan untuk menulis sms/pesan, menyimpan Contact ataupun membuat Note. Pula tombol back ataupun pilihan meng-customize tampilan. Area layar sentuhnya pun tak berfungsi sebaik Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, hanya mengkhusus berada pada icon Menu dan tombol dibawah layar. Rupanya aplikasi ini hanyalah sebuah animasi tampilan dari sebuah device bernama iPhone.

Jadi kurang lebih aplikasi iPhoneBT ini hanyalah diperuntukkan sebagai pengobat rasa penasaran bagi mereka yang ingin tau bagaimana tampilan awal/aktif iPhone plus tampilan awal masing-masing Menu yang dimiliki. Bukan difungsikan untuk pengembangan aplikasi ataupun menjajal sistem operasi lebih jauh. Yaaaaaahhhh…

Mengeksplorasi Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development

3

Category : tentang TeKnoLoGi

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya perihal Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development, untuk dapat menggunakan aplikasi ini pertama kalinya diperlukan kesabaran dalam menunggu waktu starting operating system. Sama halnya dengan menggunakan device secara real, aplikasi ini membutuhkan waktu sedikitnya 30 detik untuk bisa menampilkan layar today screen pada versi Professional Edition dan 2 menit untuk versi Standard Edition.

Menjajal simulator sistem operasi Windows Mobile ini tidak memerlukan banyak penyesuaian seperti halnya BlackBerry Device Simulator Development. Ini bisa dimaklumi lantaran sebelumnya saya pernah memiliki dan menggunakan 3 (tiga) PDA dan 1 (satu) yang menggunakan sistem operasi sejenis, yaitu T-Mobile MDA II, O2 XDA Atom, Audiovox PPC 6700 CDMA dan O2 Xphone iim Smartphone.

Untuk versi Professional Edition atau PDA dengan layar sentuh, pengoperasiannya dapat memanfaatkan Mouse sebagai pengganti jari tangan. Pemanfaatan ini berlaku juga untuk perilaku tertentu yang biasanya digunakan pada sebuah device berlayar sentuh yaitu pilih dan tahan (hold), geser (drag) dan tentu saja eksekusi. Tak hanya itu, Pengguna dapat juga menggunakan fasilitas tombol yang tersedia yang tentu saja akan berfungsi sesuai peruntukkannya. Untuk melakukan perpindahan Menu pada versi ini cukup gegas kok, berbanding terbalik dengan versi Standard Edition yang memerlukan waktu jeda dalam mengakses perpindahan Menu, itupun sedikit sulit mengingat kecepatan untuk dapat menggerakkan mouse tidak secepat jari tangan.

Pengembangan fitur dari versi sebelumnya ternyata tidak banyak, apalagi kalo dilihat pada versi Standard. Secara default aplikasi yang mendukung office mobile barangkali masih perlu penambahan, berbeda dengan versi Professional yang sudah ada dalam Menu. Office Mobile yang dimaksud pada simulator ini kompatibel dengan Office 2007 yang digunakan pada PC. Demikian pula dengan aplikasi OneNote-nya.

Untuk Browser bawaan pada versi Professionalnya memiliki pilihan yang mirip dengan Browser milik Opera, dapat menampilkan halaman dalam versi mobile ataupun Desktop Computer, bergantung kebutuhan dan koneksi. Sedangkan Windows Media Playernya yang digunakan sebagai player file multimedia secara default sudah dapat menampilkan gambar secara penuh alias fullscreen.

Yang unik disini adalah tampilan layar Today dimana pada saat device dalam keadaan terkunci, terdapat logo gembok yang musti digeser bisa kekiri maupun kanan untuk membuka kunci, satu teknologi yang rupanya telah dipelopori oleh iPhone. Demikian pula saat layar dalam keadaan aktif akan menampilkan berbagai akses shortcut menuju fitur yang sering digunakan. Tampilan ini mirip dengan device milik Samsung yang dikenal dengan sebutan Widget.

Jauh berbeda dengan pengembangan versi Professional, versi Standard-nya nyaris tidak terlihat perbedaannya. Ini bisa dilihat dari fitur File Explorer-nya tetap tidak memiliki Menu ‘Copy to’ atau ‘Move to’ yang mengakibatkan untuk melakukan perpindahan file secara random tetap harus bolak balik dari folder asal ke tujuan. Demikian pula dengan tampilan layarnya, baik secara aktif maupun terkunci.

Sebenarnya untuk menyempurnakan fungsi yang dimiliki oleh masing-masing versi dapat ditambahkan beberapa aplikasi tambahan seperti Resco Explorer (untuk fungsi layaknya PC), Full Screen KeyBoard, Handy Switcher (untuk perpindahan Menu saat multitasking), MortRing (untuk nada panggil yang beragam), Scientific Calculator (untuk fungsi hitung yang lebih lengkap) dan tentu saja SPB mobile Shell (untuk perubahan User Interface).

Pada akhirnya, saat mencoba Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development serasa memiliki device ponsel/PDA beneran meski tidak mampu digunakan untuk melakukan panggilan maupun akses data (browsing). Setidaknya bagi saya pribadi simulator ini sudah cukup mengobati kekangenan saya akan sebuah PDA ber-Windows Mobile. Entah kapan bisa memilikinya kembali…

Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development

16

Category : tentang TeKnoLoGi

Setelah puas menjajal BlackBerry Device Simulator Development baik dalam versi layar sentuh (Storm 9550) maupun tidak (Bold), kini giliran sistem operasi Windows Mobile 6.5 yang bakalan dieksplorasi.

Adapun sebagai informasi awal, sistem operasi yang biasanya digunakan untuk tipe ponsel smartphone atau PDA ini dibagi menjadi 2 (dua) kategori seperti halnya BlackBerry yaitu tipe berlayar sentuh (biasanya digunakan pada sebuah PDA, selanjutnya sistem operasi ini dikembangkan dalam versi Professional Edition dan devicenya sendiri disebut sebagai PocketPC) dan yang tidak berlayar sentuh (digunakan pada ponsel bertipe smartphone, selanjutnya sistem operasi ini dikembangkan dalam versi Standard Edition).

Sebagaimana halnya dengan BlackBerry Device Simulator Development, Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka para pengembang aplikasi tambahan yang nantinya dapat disuntikkan kedalam device yang sebenarnya. Namun oleh awam seperti saya, aplikasi ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi lebih jauh fitur apa saja yang dimiliki oleh sistem operasi terbaru besutan Microsoft ini.

Untuk informasi tambahan selanjutnya dapat saya katakan bahwa sistem operasi Windows Mobile 6.5 ini merupakan lanjutan dari versi sebelumnya yaitu 6.1. Satu penyempurnaan yang dapat dilihat secara visual yaitu penampilan Menu yang tak lagi menampilkan pola grid 3×4 melainkan jauh lebih dinamis. Tujuannya adalah untuk mempermudah Pengguna dalam mengakses Menu dengan menggunakan jari tangan mereka. Satu kemajuan teknologi yang lebih dahulu diperkenalkan oleh iPhone.

Demikian pula dengan halnya User Interface (UI) akses Menu dan pilihan lainnya. Jauh lebih stylish mengingatkan saya pada sebuah aplikasi yang berbasis Windows PC, Stardock Windows Blind. Aplikasi ini kurang lebih berfungsi untuk menyamarkan tampilan kaku yang secara default dimiliki oleh Windows, bergantung pada skin atau thema yang digunakan. Sayangnya perubahan ini hanya berlaku pada versi Professional Edition saja, sedangkan versi Standard masih tetap mengadopsi tampilan Windows Mobile versi lama.

Untuk versi Professional, file instalasinya berukuran sekitar 225 MB yang dapat menampilkan Device Simulator dalam 5 (lima) ukuran layar. QVGA, VGA, WVGA, WQVGA dan Square. Layar QVGA adalah ukuran layar standar ponsel pintar terkini, yaitu 240×320 pixel. Sedangkan VGA adalah ukuran dua kali lipatnya yang sedianya baru beberapa device saja mengadopsi ukuran layar tersebut. WVGA dan WQVGA adalah standar ukuran layar device yang diperuntukkan sebagai pesaing iPhone, bisa dilihat dari diagonal layar yang lebar dan memanjang, misalkan saja Sony eXPeria. Terakhir ukuran Square adalah ukuran layar bujur sangkar. Ukuran layar square biasanya digunakan oleh PDA yang memiliki thumbboard QWERTY langsung dibawah layar seperti Ipaq 6965 atau Samsung i780.

Sebaliknya file instalasi untuk versi Standard Edition hanya berukuran 71,3 MB saja. File ini akan menghasilkan 2 (dua) resolusi layar yang dapat digunakan yaitu QVGA dan Square. Untuk ukuran QVGA ini ada 2 (dua) peruntukkan yaitu device dengan posisi layar Portrait dan posisi Landscape. Posisi Portrait biasanya diadopsi oleh ponsel smartphone dengan keypad biasa dan posisi Landscape diadopsi oleh ponsel dengan thummboard QWERTY, misalkan saja Motorola Q9.

Nah kira-kira fitur apa saja yang dimiliki oleh masing-masing versi ? serta bagaimana cara pengoperasiannya ? Tunggu tulisan saya berikutnya. Mengeksplorasi Windows Mobile 6.5 Device Simulator Development.

Menjajal Blackberry Device Simulator serasa punya Blackberry beneran

36

Category : tentang TeKnoLoGi

Pengen punya Blackberry terkini atau pengen punya Blackberry dari semua tipe seri yang pernah dirilis tapi minim dana ? gampang. Hehehe… Modalnya Cuma satu, koneksi internet.

Dalam situs web resminya BlackBerry, Research In Motion (RIM) selaku pengembang sistem operasi yang digunakan oleh ponsel pintar BlackBerry memperkenalkan aplikasi BlackBerry Device Simulator. Aplikasi ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang merasa mampu mengembangkan aplikasi tambahan untuk disuntikkan kedalam ponsel BlackBerry sehingga dapat menambah berbagai fungsi tertentu.

Adapun aplikasi ini dibagi berdasarkan versi sistem operasi yang pernah dirilis dan digunakan dalam setiap seri BlackBerry. Misalkan versi 4.6.1 BlackBerry Bold dan Javelin atau versi 5.0 BlacBerry Storm CDMA. Ada juga simulator yang khusus dapat digunakan untuk Email dan MDS Service.

Bagi pengguna awam aplikasi BlackBerry Device Simulator ini dapat digunakan untuk mengenal dan mendalami isi jeroan sistem operasi bawaan. Entah itu untuk pemakaian standar (komunikasi, sms atau email), customize (penggantian wallpaper, thema, dering), advanced (setting push email, messenger) dan hal-hal yang barangkali luput dari perhatian seperti Status (melihat data pemakaian handset apakah tergolong barang baru atau second) atau mencari tahu nomor PIN handset. Banyaknya hal yang dapat dilakukan pada aplikasi ini membuat pengguna serasa punya BlackBerry beneran, dalam berbagai seri pula.

Saya mencoba mengunduh dua versi sistem operasi diatas sekedar untuk mengetahui daleman sistem operasi yang digunakan untuk nantinya saya bandingkan dengan sistem operasi yang digunakan ponsel lainnya seperti Symbian, iPhone atau Windows Mobile. Hasilnya sangat mengagumkan. Apa yang saya harapkan sesuai dengan apa yang didapatkan.

Aplikasi ini memiliki interface yang sama satu sama lainnya namun menggunakan tampilan handset yang berbeda, tergantung pada pilihan yang diambil dari masing-masing versi sistem operasi. Untuk versi 4.6.1 saya memilih yang dipergunakan oleh Bold untuk wilayah Asia Timur dan versi 5.0 BlackBerry Storm CDMA (bisa dilihat dari jaringan yang digunakan yaitu EVDO-versi 3G nya CDMA).

Sedari awal penggunaan aplikasi, pengguna disuguhkan tampilan ala handset dalam arti sesungguhnya. Ada waktu start-up hingga tampilan stabil dan dapat digunakan, ada saatnya handset mematikan layar secara perlahan apabila aplikasi tidak digunakan dalam waktu tertentu atau ada juga fungsi Reset untuk me-restart ulang handset.

Untuk operasional, fungsi Trackball dapat digantikan dengan menggunakan mouse sedangkan keypad QWERTY digantikan oleh Keyboard, bisa juga dengan cara menekan tampilan keypad secara langsung. Semua tombol yang ditampilkan dalam interface aplikasi bukanlah hanya sekedar hiasan, namun dapat berfungsi normal. Tombol Menu ketika diklik sekali dari layar awal (today) akan mengakses tampilan Menu secara penuh. Ketika tombol yang sama diklik kembali, akan memunculkan pilihan (softkey) dari tampilan yang sedang aktif. Sebaliknya ketika tombol diklik dan ditahan beberapa saat, layar akan menampilkan ‘switch application atau aplikasi yang terbuka seperti halnya tombol Menu pada ponsel Symbian.

Seperti yang saya katakan tadi bahwa pengguna serasa memiliki BlackBerry beneran, dibuktikan dengan akses menu hingga pengaturan handset entah itu tampilan, tema, nada dering, email, owner dan lain sebagainya. Semua menu dapat diakses dengan baik tanpa cela. Hanya saja aplikasi ini tidak dapat digunakan untuk fungsi yang memanfaatkan jaringan seperti komunikasi data atau voice, sms, email hingga browser. Mengecewakan ? hehehe…

Dalam mendukung fungsi aplikasi sesungguhnya, pihak RIM menyediakan opsi untuk mencoba aplikasi yang dikembangkan oleh masing-masing pengguna dalam handset yang diinginkan, apakah bisa berjalan dengan baik ataukah masih ada kekurangan yang harus disempurnakan.

Bagi yang berminat mencobanya dapat mengunduh aplikasi yang dimaksud melalui alamat berikut :

BlackBerry Device Simulators

Pertama Pengguna disuguhkan menu dropdown, memilih versi sistem operasi mana yang diinginkan, kemudian dilanjutkan dengan memilih seri handset yang mempergunakan sistem operasi tersebut dan terakhir diwajibkan untuk meregistrasi data pengguna sebelum mendapatkan halaman pengunduhan file.

Untuk besaran file instalasinya, sistem operasi versi 4.6.1 yang digunakan oleh BlackBerry Bold Asia Timur mencapai 78,5 MB sedangkan versi 5.0 yang digunakan oleh BlackBerry Storm CDMA mencapai 90,3 MB.